Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Morning Glory at Derawan Fisheries

foto 2 (6)
Icha sama Maya asik di atas perahu, seru kan water villa kita? foto by : @indonesia_paradise

There’s something different.. Saya menyebutnya pagi mewah. Morning glory! At Derawan Fisheries. 🙂

Ada sesuatu yang berbeda, ketika saya terbangun di pagi hari, membuka pintu kamar dan di depan sana terbentang hamparan bening air berikut sekawanan ikan yang berenang berkelompok dengan asiknya.

Pagi itu saya berada di sebuah water villa, Derawan Fisheries di Pulau Derawan, menghabiskan waktu liburan musim panas 2016. Kali ini beda, bukan di gunung, bukan padang Sabana.. Di tanggal dan bulan yang sama, tepat setahun lalu ketika perjalanan saya ke Gunung Rinjani hingga Sumbawa menyebrang ke Pulau Moyo dan Pulau Kenawa.

Menyeruput kopi dan berlama-lama di depan teras kamar sebelum akhirnya sarapan menjadi saat-saat mewah. Kemudian salah satu teman kami peserta Meet and Trip ada yang berseru. “Penyu, ada Penyu,” …. (suara kak Vira)

Sebagian berhamburan keluar dan penasaran untuk melihat penyu. Sarapan seketika pindah di teras dermaga. Rupanya, si Penyu memang binatang pemalu. Mungkin melihat kami ribut dia justru menjauh. Di hari-hari berikutnya, sang Penyu masih sering menghampiri kami, mungkin ingin kenalan?

Bukan hanya Penyu, ada juga bulu babi, ikan sori dan teri, bebas terlihat di pandangan mata tanpa perlu menyelam di kedalaman. Ini lho, binatang peliharaan sang pemilik Derawan Fisheries water villa, Harry Gunawan atau yang akrab disapa orang sekampung Bang Apoy.

Tak salah memilih tempat ini untuk bermalam dan menikmati saat pagi sebelum berpetualang ke laut! Yup…. Bangunan yang didesain lewat konstruksi kayu mengesankan sisi eco-friendly. Pondasi teras di depan kamar juga bisa dimanfaatkan untuk memasang hammock.

Jika berjalan-jalan disekitarnya, masih ada lahan luas halaman teras  di sisi paling depan water villa, juga ada bangku tempat bersantai dan sunset point sebuah site untuk berfoto narsis! Pastinya dengan background semburat memerah sang surya, perpaduan gradasi warna mempesona kala langit sore.

Kalau pagi, sunrise tetap terlihat di sisi kiri atau menghadap persis di depan kamar saya. Jalan sekitar 500 meter ke arah timur keluar dari bangunan water villa kamu pun bisa mendapati pantai buat bermanja-manja dengan alam. Namun kalau malas kemana-mana, Derawan Fisheries punya perahu yang bisa kamu kayuh sendiri buat menjamah perairan biru turquoise seputaran water villa.

Saya pun ikut teringat saat-saat malam di penghujung hari. Ketika sapuan desir ombak terdengar amat merdu menjadi penggiring lagu tidur.

Derawan nan menawan saya menyebutnya. Tak berlebihan karena pulau ini memang telah memikat hati. Susah move on, ngangenin! Laut biru turquoise-nya ikut mengingatkan saya akan keindahan lautan di Papua. 🙂

foto 3 (2)
Teras di bagian paling depan Derawan Fisheries yang luas dan tempat sunset point, foto by @eviindrawanto
Nah, jadi kepingin kan menginap di Derawan Fisheries water villa?

Derawan Fisheries juga menyediakan paket tour lengkap lho. Untuk harga dan kondisi boleh kontak Instagram @derawanfisheries
Kamu juga bisa contact ke sini :
Harry Gunawan (Owner)
Water Cottages & Tour Operator
Mobile:  0813 51319338
Email:  derawanfisheries88@yahoo.com

 

Advertisements
Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Yuk, Singgah Ke Pulau Spongebob!

Matahari masih tinggi siang itu, terik cahayanya menyilaukan pandangan mata. Dari kejauhan di atas speedboat yang saya tumpangi, sebuah pulau kecil nampak terlihat seperti Bikini Bottom. Pulau yang ada di cerita film Spongebob Squarepants.

Saya jadi mengerti kenapa Bang Apoy, guide sekaligus pemilik water villa Derawan Fisheries, tempat menginap sejak kepergian saya ke Pulau Derawan menyebut pulau ini sebagai Pulau Spongebob. Nama sebenarnya pulau ini adalah Manimbora. Sebuah pulau kecil di seputaran Pulau Derawan di Kabupaten Berau, perairan Kalimantan Timur. Pulaunya kecil, saking mininya tak sampai 30 menit kamu bisa mengelilingi seluruh pinggiran pantainya.

“Yang kasih nama itu tamu saya orang German, namanya Sina Hammer. Saat itu kita mau ke Labuan Cermin dan saya bawa mampir ke pulau Manimbora dan dia mengatakan pulau ini seperti spongebob island,” cerita Bang Apoy tentang pulau Spongebob.

Menariknya pulau Manimbora digunakan sebagai tempat pemakaman Suku Bajau yang tinggal di Pulau Balikukup. Tak heran ketika saya berkeliling kemudian menemukan satu situs yang dipagari dan ada beberapa tengkorak yang sudah berserakan serta patok kuburan.

Menurut Bang Apoy yang memiliki nama asli Harry Gunawan, kuburan ini sudah ada sejak zaman dulu. Tahun pastinya tidak diketahui, tapi sebelum Bang Apoy lahir sekitar 28 tahun yang lalu tradisi menguburkan di pulau ini bagi Suku Bajau yang ada di Pulau Balikukup sudah berlangsung.

Di Pulau Manimbora setiap tahun sering diadakan acara ritual tahunan oleh warga lokal yang merupakan penduduk Pulau Balikukup. Bekas sesajen ritual seperti berbicara menyisahkan apa yang terjadi sebelumnya.

Hampir tak percaya dengan pandangan mata sendiri, tengkorak yang berserakan di pulau ini awalnya saya kira merupakan benda properti untuk menarik wisatawan. Berhubung tengkorak terlihat bersih dan ada yang tercerai berai. Namun ternyata kondisi kuburan dan pagar makam yang sudah berantakan ini memang akibat abrasi dan terkena sapuan air laut.

Bagi wisatawan yang berniat mengunjungi Danau Labuan Cermin di Biduk-Biduk menggunakan jalur laut atau dengan speedboat dan berniat kembali ke Pulau Derawan, biasanya akan diantar singgah sebentar ke Pulau Spongebob. Jika berjalan berkeliling Pulau Manimbora kamu juga akan menemukan dua pulau yang lebih kecil di seberang kanan dan kiri.

Pulau Manimbora jadi pulau persinggahan terakhir di perjalanan saya ke Derawan, Kalimantan Timur. Melalui blog saya mau ngucapin terima kasih buat kakak kakak yang sudah baik mengantar dan menemani para peserta selama acara Meet and Trip.

Terima kasih buat :

1. Harry Gunawan, as a owner Derawan Fisheries

2. Ringga prayudha pemilik rambut hits gimbalnya
3. Dhaniel Christian yang punya ilmu kwecheng saat difoto levitasi

4. Angga Ata dari Indonesia Paradise
5. Toni as a dive guide buat acara Discovery Diving kemarin
6. Manta Diving Indonesia
7. Erwin and crew dari Manggaran Film
8. Bang Juri and crew as a driver speed boat

 

KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Milky Way di Ujung Dermaga Derawan Fisheries

IMG_4593 (1).jpg
Beruntung banget, selama tiga malam selalu dapet langit penuh bintang-bintang. Bahkan aku sempat melihat bintang jatuh.

Teman-teman meet and trip yang lain lagi asik berada di alam mimpi, tapi pukul 01.00 dini hari sebagian kecil dari kami masih sibuk dengan kamera. Iya! Kapan lagi kan punya kesempatan buat milky way merekam galaksi bintang-bintang dalam bingkai foto.

Yuk kita absen.. Malam hari ke-3 menginap di water villa, Derawan Fisheries, nyariin Kak Aqied yang satu kamar sama aku. Yang alamat blog-nya ini klik blog Aqied https://aqidshohih.wordpress.com/. Dia cewek berjilbab yang aktif nggak bisa betah lama-lama di kamar. Nah, partner jalan-jalan Kak Aqied buat keliling kampung di Pulau Derawan kalau nggak Agnez Felicia, Bang Dee alias Dyan atau ketiganya bareng Bang Riza Firmansyah juga.

Whatsap lah kemudian, iya kami Whatsap-an padahal ini sebuah pulau yang letaknya so far far away dari Jakarta maupun kota besar. Mencapainya harus menyebrang dari daratan Kabupaten Berau. Tiga jam lamanya buat ke dermaga Tanjung Batu dari bandara Kalimarau, Berau. Lalu lanjut naik speedboat sekitar 30 menit.

IMG_4589
“Kak Aqied dimana Kak?” Tanya ku penasaran.

“Milky wan-an,” balesnya

“Gimana?,” whatsap nya lagi..

“Sama siapa, aku juga mau dong. Tapi ga bisa setting,” bales ku lagi

“Om Dee, Om Riza, Mba Aqnez, Kak Vira,” tulisnya lagi

“Ohh,”

“Sini sini sini, bawa tripod kalo ada,” katanya Kak Aqied

“Itu dia ga ada tripod, ga usah deh ya,” bales ku

Yaudah, tanggung kan…. sudah keburu bangun. Jam 22.00 sampai jam 00.00 an tadi juga sempat tidur, jadi ikutan milky way-an aja. Bawa kamera Nikon yang ternyata nggak bisa ke pengaturan tunggu 20 detik. Menyesal tak membawa kamera satunya lagi yang lebih canggih, tapi berat dibawa.

Yah… gagal merekam milky way dari kamera sendiri. Tapi Kak Aqied ngajarin gimana setting-an nya, jadi aku catet biar nanti kalo ke gunung dan pas dapet langit cerah bisa setting sendiri. ISO kamera sekitar 800 atau 1000, lalu setting aperture yang maksimal, dan terakhir setting speed 20-30 detik. Lalu dikoreksi oleh Bang dee, yang benar untuk milky way itu ISO 1000-1600 dan shutter set ke 30 detik, apeture maksimal sudah betul.

Milky way tetep dan itu pakai kamera Kak Vir, Kak Aqied, dan Bang Dee…. pengambilan gambarnya harus tahan nggak bergerak sekitar 20 detik. Kami ganti-gantian pose terus buat yang pose rame-rame juga. Hasilnya, lumayan… kapan lagi bisa merekam galaksi di langit sana…. kami semua beruntung tiga malam langit nggak mendung dan mendukung untuk bisa milky way.

foto (18).JPG
Ini lho ujung dermaganya,…. kalau lagi terang, bisa buat nungguin sunset dan sunrise sambil di tepian-nya penyu lewat..

Sekitar jam 02.00 kami bubaran, mulai ngantuk lagi. FYI beberapa kali kami lihat bintang jatuh, hanya sedetik aja… ihh luar biasa. Diam-diam berdoa juga, semoga bisa dapet kesempatan lihat hamparan bintang-bintang lagi seperti waktu di dermaga ini dan kalau ke gunung kepingin dapet view milky way seperti waktu di Gunung Rinjani atau yang lebih bagus lagi.

 

Asia, culinary, Eastern & Oriental Express Luxury Train, Food, story, The Journey, Train, Traveling

Fine Dining di Atas Kereta Bareng Jonathan Phang dan AFC

Jerk Chicken-1
Jerk Chicken main menu yang saya pilih di hari ke-2 dinner

Pengalaman menyantap makanan di sisi gastronomi dalam konsep fine dining di sebuah restoran mungkin sudah biasa kita temui. Bagaimana jika suasana jamuan makan resmi itu terjadi di atas sebuah kereta mewah?

Dalam sebuah kesempatan perjalanan dengan kereta mewah Eastern & Oriental Express yang melintasi Singapura, Malaysia, dan Thailand belum lama ini, saya sempat mencicipi suasana fine dining berbeda dengan resep dari chef Jonathan Phang yang merupakan koki bintang di acara Gourmet with Jonathan Phang, disiarkan di saluran Asian Food Chanel (AFC).

Denting gelas dan peralatan makan serta guncangan kereta menjadi atmosfer yang begitu dominan terasa saat menikmati suasana fine dining di atas kereta. Breaded Cod Manggo Salsa Red Pepper Mayonnaise atau ikan Cod yang dilapisi tepung dengan padanan irisan mangga dan saus merah lada menjadi sajian pembuka menu makan malam yang khusus dibuat Phang.

Rasa pedas dari berbagai campuran rempah langsung terasa di mulut ketika mencicipi sendok pertama. Cita rasa itu berasal dari lada dan saus mayonnaise berikut tepung yang melapisi ikan Cod.

Harmoni rasa segar mangga dan tomat yang berasal dari Manggo Salsa menjadi penawar rasa pedas tadi sehingga ketika memakannya secara keseluruhan semuanya terasa pas dan tak berlebihan. Hanya saja rasa pedas dan aroma rempahnya terasa dimulut agak lama dan lumer.

Everyone ready to savour Jonathan's delicious dinner menu
Foto favorit pas dinner ❤

Saya mulai merasa kepedasan.. dan itu lumayan lama hilangnya. Sejak hari pertama baru malam terakhir itu, saya dapati masakan dengan dominan bumbu pedas. Dan itu masakan yang diracik oleh Jonathan Phang.

Kalau soal hidangan laut, saya nyerah deh! Kalau bukan karena ikan segar pasti akan terasa amis. Tentu saja untuk sajian makan ini semuanya yang terbaik, jadi saya nggak khawatir dengan ikan amis atau duri sebagaimana selama ini begitu dihindari.

Ikan Cod yang jadi bahan utama menu pertama ini begitu populer dikenal sebagai makanan dengan rasa ringan dan padat, memiliki daging putih bersisik. Di Inggris, Atlantic cod adalah salah satu bahan yang paling umum untuk ikan dan keripik. Hati ikan Cod sendiri biasanya diproses untuk membuat minyak ikan cod, merupakan sumber penting dari vitamin A, vitamin D, vitamin E dan omega-3 asam lemak (EPA dan DHA).

Lanjut dengan hidangan selanjutnya, ada sup yang terasa asing dilidah Indonesia saya. Spiced Pumpkin dan Seafood Soup dengan menu utama Jerk Chicken dilengkapi Nasi Biryani. Rasa pedas begitu mendominasi, tetapi berkat bahan dasar sup yang merupakan labu yang manis, ini menjadi paduan unik ketika dimakan.

“Kuharap semua orang menikmatinya, selamat makan,” ujar Phang saat memberi sambutan sebelum acara makan malam dimulai.

Di pertengahan, menu utama kami datang. Bertambah kuat cita rasa rempah yang pedas di acara makan malam saat itu, Jerk Chicken yang dilengkapi Nasi Biryani masih memiliki nada pedas dari lada hitam. Terutama untuk nasi, terasa sekali bahwa ada banyak tambahan rempah lain sehingga kaya rasa pedas yang menyatu. Untuk ayamnya, rasa pedas itu hanya saya dapatkan dari bumbu, kurang meresap sebagaimana kalau mencicipi masakan Indonesia dengan bumbu kuning.

Sebagai hidangan penutup Coconut Pineapple Crumble Cake dan Vanilla Ice Cream yang manis menjadi penawar rasa pedas makanan pembuka dan utama kami, cita rasa kaya rempah dan bumbu dari Jonathan. (dyah ayu pamela)

LIFE, The Journey, Traveling

Long Weekend Effect…

foto 1 (1)
Tiba-tiba jadi pasar. Ini di gunung Prau, eh tapi kalo weekend di Prau juga mirip pasar katanya. Soalnya nanjak sekitar 2-3 jam aja disini terus pemandangannya indah.

Entah sejak kapan, tapi makin makin kerasa aja, ketika long weekend tiba orang berlomba-lomba buat liburan. Pengaruh social media kah? apa karena makin naiknya tingkat ekonomi golongan kelas menengah orang Indonesia? atau disebabkan virus yang namanya piknik menyebar seperti wabah?… apa…. takut dianggap kurang piknik karena banyak disindir meme-meme itu… hehehe

Kalender tahunan yang isinya tanggal merah jadi incaran, apalagi yang merahnya deket weekend.. sekalian aja bisa traveling kemana yang jauh gitu. Cuma aja buat orang yang mencari kesunyian ketika traveling macam saya ini, justru long weekend itu dihindari banget deh buat pergi. Enak dirumah…. sorry guys i’m not high season vacationer…

Pengecualian kalau destinasi kamu bukan destinasi incaran banyak orang. Luar negeri misalnya (kan tanggal merahnya beda) atau ke gunung yang jauh di Indonesia bagian Timur sana.

foto 3
Ini di Ranu Pani, jalur desa sebelum pendakian Gunung Semeru. Luarrr biasa gila kan?

Cukup menilik via Instagram saya bisa nebak gimana traffic-nya. Tahun lalu kalau long weekend pasti begini dan terjadi juga beberapa hari ini di minggu pertama weekend bulan Mei.

Nah, Gunung Semeru yang baru dibuka setelah masa pemulihan juga luar biasa penuhnya. Pasar pindah ke gunung. Tadinya mau kesunyian, suasana yang jauh beda dari hiruk pikuk kota tetap jadi keramaian.

Lambat laut, harus ada aturan pembatasan jumlah pengunjung. Harus banget dan ini bakal jadi tertib seperti Gunung Gede Pangrango yang sudah lama menerapkannya.

Harus daftar online, buat Simaksi jauh-jauh hari. Agak merepotkan.. tapi efeknya menurut saya membuat pendakian di Gunung Gede nyaman dan aman. Saya ngerasain banget kemarin. Nggak ada yang namanya lagi mendaki lalu ngantri panjang banget jalannya… pendaki dapet yang namanya suasana alam buat menghilangkan penat dari rutinitas. Yang namanya Alun-Alun Surya Kencana seluaaaaassss itu hanya ada sedikit orangnya.

Simaksi penting supaya pihak pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tahu identitas siapa saja pendaki. Meminimalisir kejadian tak terduga seperti pendaki hilang, tersesat, dan yang pastinya mereka yang mendaki sebelumnya dapat petuah-petuah dulu untuk tetap menjaga alam selama di atas sana.

Terus yang paling penting, nggak ada lagi yang namanya gunung jadi tempat sampah. Pendaki beneran sih bakal malu kalo nyampah. Ini ujungnya jadi edukasi juga buat yang awalnya mendaki tapi ikut-ikutan temen aja. (Maaf tapi masih kadang ketemu orang sembrono di gunung soalnya).

Kadang banyak pendaki bandel nggak bawa sleeping bag ataupun benda penting di atas sana. OMG jadi keinget di Ceremai kemarin bareng temen baru sekali kenal dia nggak bawa sleeping bag dan susah disuruh sarapan. Akhirnya sakit dan bikin susah. Makanya besok lagi kalau dapet temen barengan newbe wajib ditanyain dulu perlengkapannya.

Ah sekedar sharing saja kalau ternyata akhirnya Semeru harus seperti TNGGP peraturannya dikelola demikian saya malah senang. Orang harus bersabar dan harus menyisihkan waktunya ke tempat yang seperti ini, betul dan bukan sekedar untuk ngabisin waktu long weekend daripada nggak kemana-mana. Hhahaha wajar aja kalau jadinya begini kan Indonesia 250 juta jiwa 😀

foto 2 (2)
Sikuni juga penuh…. zzZzzZZZzZZZzzz
Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, LIFE, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Philosophy of Mt. Gede

 

SONY DSC
Ini bukan panorama Gunung Gede sih, tapi di Kali Mati Gunung Semeru. Suka aja gradasi langitnya.  Semua gunung itu bikin belajar! Mulai dari Rinjani, Semeru aku selalu ketemu filosofi yang berbeda dari perjalanannya 🙂

Ada banyak hal yang membuatku berubah. Lewat gunung dan kisah-kisah perjalanannya. Dimana seolah Tuhan ikut berbicara lewat apa yang ku alami disana. Tuhan, ikut andil dalam kisah. Aku sangat percaya. Bahkan semakin percaya setelah mengalami semuanya.

“Percayalah. Setiap perjalanan adalah perjalanan hati. Sebagaimana hati hampir selalu menyertai iringan langkah kaki,” kutipan dari seorang teman. Heheh baru kenal, seorang pendaki perempuan yang juga suka mendaki seperti saya.

Walau awalnya, bila perjalanan itu bukan hanya karena hati yang ingin tapi sebuah ajakan. Lambat laut hati pun tetap akan menyertai disana. Sebab mana mungkin kepergian itu bisa terjadi tanpa panggilan hati dan keinginan yang timbul karena bisikan-Nya.

Ketika tuts keyboard hadir dalam wujud huruf ini bukan sebagai memori yang akan diingat saja. Ada satu makna bahwa saat kita meninggalkan satu dimensi waktu kejadian lampau dan bergerak ke pembaharuan waktu, disitu selalu ada pengertian baru. Bahwa Tuhan lebih memahami kita dari siapapun juga di dunia ini.

Kala itu di Gede. Aku membaca, hingga sampai pada memahaminya lewat perjalanan itu. Kemudian aku belajar.. Karena kuasa-Nya aku bisa sampai, sejejak.. dua jejak ketika lelah aku berhenti. Disana aku melihat dan merasakan sejuk dari waktu beristirahat.

Tapi berhenti sejenak tentu takan lama, kaki tetap harus melangkah dan kembali merasakan perjuangannya. Meski rasanya memang ingin sekali terus menikmati kenyamanan ini. Duduk di bawah pohon rindang. Etalase alam.

DSCN8352
Di Gunung Gede itu banyak banget mebel alias furnitur alam yang enak buat duduk, hehehe betah duduk tiduran istirahat mangkanya 🙂

Perjalanan itu harus ada titik temunya, sebuah tempat tujuan. Karena tak pernah lewat jalan itu sebelumnya, tentu kita tidak tahu seberapa jauh lagi, berapa lama lagi. Hanya ada petunjuk jika telah sampai di pos ke 4 tempat berkemah sudah dekat. Petunjuk lain, bertanya teman pendaki yang ingin balik turun lewat jalur kami naik. Ya, itu tapi hanya jadi perkiraan saja, tak sepenuhnya tepat.

Bukan itu intinya, bukan hanya karena tujuan ingin sampai. Tapi sebuah proses.. ketika dalam perjalanan itu kita menikmatinya, bukan terburu-buru ingin sampai. Sesekali berhenti untuk memandangi warna hijau daun tak pernah salah. Sesekali mengistirahatkan kaki yang lelah menjejak pun itu kenikmatan. Bukan ingin berhenti, tapi rehat sejenak dan membaca perjalanan itu. Biarpun tetap ada batas sampai kapan memulai lagi.

Perjalanan seringan atau seberat apapun itu yang kubutuhkan adalah terus melakukan perjalanan itu sendiri. Bukan berbalik badan untuk menyerah. Juga tak terlalu lama tergiur dengan kenyamanan atau terlalu lama beristirahat.  Agar ku bisa sampai pada satu titik telah berada di tujuan. Semua rasa lelah kaki mu pun terbayarkan. Ya,… aku menang Tuhan. Menang dari pertempuran ego diriku sendiri.

(FYI sededar kiasan saja)

 

Backpacker, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, The Journey

Preparing, Derawan Project 2016!

foto 2
Instagram saya bakal diwarnai oleh biru langitnya Derawan! Amiiin, InsyaAllah.

Alhamdulilah,… keisengan berbuah rejeki. Akhir Maret 2016 silam, namanya juga anak Instagrames banget. Dikit-dikit buka Instagram, tahu info acara apa dari Instagram.

Nah saya jadinya ikutan semacam kontes pemilihan peserta ajang namanya Meet & Trip yang tahun ini diadakan oleh @derawanfisheries, @fisheries.eco dan @indonesia_paradise.

Tanpa menunggu lama, dua jam setelah kirim email ke panitia saya dihubungi sebagai salah satu yang berkesempatan ke Derawan, yeayyy! Ini rasanya murni keberuntungan banget, karena syarat-syaratnya cukup bisa saya jangkau.

Hanya dengan me-repost flyer acara Meet & Trip, harus punya blog karena nanti perjalanan mesti ditulis, dan mention 3 teman di Instagram buat ikutan, nggak lupa follow ketiga akun @derawanfisheries, @fisheries.eco dan @indonesia_paradise yang merupakan sponsor acara. Hehehe

Saking kesenengannya, langsung googling dan berspekulasi. Di dekat Derawan atau di Kota Berau ada gunung yang bisa di daki nggak ya? atau ada tempat bagus lainnya yang bisa sekalian disambangi. Kan lumayan tiket Jakarta-Berau-Jakarta PP yang saya beli hampir Rp. 2 juta.

foto (1)
Di dekat Derawan ada berbagai pulau untuk tujuan snorkling dan diving. Nah salah satunya di Maratua…. kamu bisa pose begini…  foto by Instagram.

Biar efektif perginya bahkan kepingin mampir dulu ke Balikpapan sekalian nunggu transit pesawat menuju Berau. Sayangnya di Balikpapan, sebuah tempat seperti hutan yang kelihatannya menarik letaknya cukup jauh. Biaya sewa mobil kalau sendiri juga bisa berat banget.

Kepingin yang dekat dari kota, tapi kok kurang menarik ya setelah di cari tahu foto-fotonya. Taman Mangrove Margo Mulyo, yang di Jakarta Pantai Indah Kapuk aja belum pernah… hehehe, lalu ada Kampung Air Margasari, eh tapi kok rasanya biasa saja di foto-foto yang saya temukan.

Sampai akhirnya berfikir, ya kalau nanti bisa ke Borneo lagi, sekalian aja agak lama. Trip kali ini memang daerah Berau Kalimantan Timur saja, nekad pun akhirnya memilih Labuan Cermin sebagai destinasi tambahan.

foto (6)

FYI buat ke Labuan Cermin itu ternyata jauhhnya… 8 jam lho dari bandara Berau dan ongkos sewa mobil disana nggak nyantai banget bisa hampir Rp. 1 juta PP hehehe.

Satu frekuensi sama saya, beberapa rekan yang kepilih traveling bareng Meet & Trip juga punya tujuan sama, ke Labuan Cermin.

Yesss! ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Sudah ada 6 orang fix ke Labuan Cermin, tapi ternyata panitia Meet & Trip nawarin extand ke Labuan cermin, so….. kami nggak jadi sewa mobil sendiri hehehe semuanya free 🙂

Fasilitas apa saja yang bakal di dapat selama trip ke Derawan 4 hari 3 malam itu???

  1. Liburan gratis 4 hari 3 malam
  2. Mobil transfer Bandara PP
  3. Speedboat selama tour
  4. Mengikuti discovery diving
  5. Makan selama trip
  6. Menginap selama 3 malam di watervilla
  7. Explore Pulau (Kakaban, Maratua, Sangalaki) + Whaleshark point

Lumayan kan guys. Kalau bisa ya,… sampai Danau Labuan cermin,  siangnya bisa menikmati pantai-pantai di sepanjang Biduk-biduk atau menuju Teluk Sulaiman. Hehehehe marukkk 😀