Indonesia, JAVA - Indonesia

Piknik! Batu Secret Zoo, Malang

DSCN0669
i like to move it move it

Dari kecil saya sudah familiar banget sama yang namanya piknik. Kalau ulang tahun agendanya piknik, libur sekolah juga piknik. Kecuali pas kuliah, sekeluarga jarang banget piknik. Sampai sekarang ibu saya selalu nanya “kamu piknik kemana lagi,”? Saya suka ketawa aja jawabnya. “Traveling mah, bukan piknik,” zzzzZzzzzz

Soalnya piknik itu kan identik banget sama liburan keluarga. Bawa bekal sendiri dari rumah, terus sekeluarga duduk santai diatas rumput yang dialas dengan tikar sambil makan. Lokasinya juga family trip banget semisal kebun binatang, kebun raya, atau taman bunga dan buah.

Nah itu juga yang saya rasain waktu ke Batu Secret Zoo, Malang. Suasana piknik di sebuah kebun binatang wilayah Batu, Malang, Jawa Timur, sekitar 2 jam dari kota Surabaya. Perginya kali ini bukan dengan keluarga, tapi media trip alias liputan a.k.a kerja sambil jalan-jalan.

Awalnya skeptis, kalau kebun binatang di daerah pasti lebih jelek daripada Taman Safari atau Kebun Binatang Ragunan yang ada di Jakarta. Eh…. ternyata saya salah, justru ini kebun binatang bagus dan terawat. Senangnya … bisa piknik di tengah cuaca Malang yang panas tapi berudara sejuk.

DSCN0691
ihhh kamu kerjanya tidur siang melulu…. zZzzz zZzzzz

Ada apa aja sih di Batu Secret Zoo? Begitu melewati pintu masuk, pengunjung akan disambut dengan tikus raksasa, hewan ini besarnya berkali-kali lipat dari tikus biasanya. Jelas aja, bobotnya itu 10 kg, sementara tikus biasa cuma 0,5 kg. Tikus raksasa dengan nama latin Myocastor Coypus ini asalnya dari Amerika Selatan.

Antrean yang mengular membuat saya hanya bisa sebentar melihat si tikus raksasa, kemudian setelahnya ada sekawanan burung dan monyet di dalam sangkar besar dengan berbagai familinya. Kandang dibuat cukup tinggi tapi jaring-jaring mereka didesain begitu rapat, mungkin ini maksudnya supaya tidak ada pengunjung yang bisa melempar dan memberi makanan.

Squirrel Monkey salah satu jenisnya, asalnya dari Amerika Selatan dan Tengah. Habitat aslinya ada di hutan hujan tropis dan hutan kering tropis. Makanan mereka seputar buah, bunga, nektar, atau serangga.

Yang menarik, Squirrel Monkey ini punya suara peringatan khusus yang bisa memberitahukan kalau ada predator berbahaya. Monyet jenis ini sangat pintar mendaki dan memanjat pohon (ya iyalah kan monkey). Ekor panjang Squirrel Monkey lebih panjang dari tubuhnya karena menjadi fungsi keseimbangan dia, meski ekornya ini nggak bisa jadi tepat berpegangan di dahan.

Di depan sana, setelah sekawanan familia burung kita akan masuk ke bagian sarang Lemur, itu lho … salah satu hewan yang ada di film Madagaskar. Lemur cenderung tak bisa diam, saya aja susah buat motret mereka dengan angle yang tepat.

Jalur yang melingkar nampak sengaja dibuat  agar pengunjung mengikuti alur dan tak terlewatkan satupun hewan-hewan lucu ngegemesin ini.
Tapi ada yang nggak ngegemesin, hewan buaya, yang letak kandangnya di bawah air terjun buatan. Lalu setelahnya ada sejenis kancil, kanguru, onta, yang nggak bisa saya ingat semua.

Kandang hewan jenis ini cenderung terbuka jadi bebas fotoin mereka, cuma lagi-lagi kan semuanya pecicilan banget. Si kanguru sepertinya tahu kalau lensa kamera kami lagi menjepret aksinya, hewan berkantung ini tampak membelakangi sih, tapi sudut matanya tetep ngawasin. Pemalu nih kangurunya….

Namanya kebun binatang pasti ada bau-bau kurang sedap, jelaslah… beruntungnya masih cukup terawat dan bersih Batu Secret Zoo itu, bahkan kabarnya kebun binatang ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai Taman Satwa Favorit di Asia dan di urutan ke-5 di Asia sebagai kebun binatang terbaik pilihan jutaan wisatawan TripAdvisor.. Wihhhh…. saya nggak meragukan, soalnya secara pribadi kebun binatang seluas 14 hektar ini memang begitu nyaman dan menarik.

Kenapa? Fasilitasnya cukup memanjakan. Ada semacam sepedah-sepedahan yang bis disew buat berkeliling. Kendati pengunjung yang katanya nggak pernah sepi pasti akan menyulitkan mereka yang sewa sepedah. Lalu, tiket masuknya cukup terjangkau Rp. 100.000 untuk masuk ke Batu Secret Zoo dan Museum Satwa. Untuk bisa ke satu tempat lainnya Eco Green Park yang juga merupakan bagian Jawa Timur Park kita tinggal nambah Rp. 20.000- Rp. 50.000 aja.

DSCN0688
Kura-Kura raksasa, porsi makannya juga raksasa

Koleksi binatang, diklasifikasikan berdasarkan familia. Cukup lengkap dari unggas, sampai melata. Nah, .. setelah melewati bagian Aquarium besar di bawah yang merupakan hewan-hewan laut dan melata di penghujung akhir kumpulan kuda zebra ada baby zoo juga. Cuma sayang hanya sedikit kumpulan hewan baby yang besarnya rata-rata seperti kelinci.

Di samping baby zoo saya lihat ada rumah hantu. Kelihatannya memang aneh sih, kok di kebun binatang ada rumah hantunya? saya yang penakut sama sekali nggak berani masuk, dari luar aja serem. Macam ada kuburan,,, vampier,, hantu ala barat, takutnya di dalam sana malah ada hantu jadi-jadian yang nguber atau pegang-pegang kita buat ngegetin. hiiiiiiiii

Mereka yang kesini lebih cocok para keluarga muda, dengan anak-anaknya yang masih seumuran SD. Kalau bagi traveler macam saya, tampak kurang menantang dan cuma mengambil sisi fun aja bisa lihat dari dekat satwa yang imut-imut.

Di deretan hewan terakhir, ada sekumpulan singa, macan, jaguar, sejenis satwa beringas,kemudian jerapah berleher panjang itu tingginya… seperti yang ada di Afrika. Kandang mereka dibatasi oleh kaca besar, dengan luas kandang hampir 6 kali lipat dan pohon di dalamnya. Kecuali jerapahnya yang memiliki kandang terbuka.

Ohya di Batu Secret Zoo, pengunjung bisa berfoto dengan para hewan lhoo, hanya dengan membayar Rp. 5 ribu saja. Kamu bisa foto sama burung, bayi singa, dan banyak binatang jinak.

DSCN0702
ini spesies yang mirip onta ya?

Bagi orang dewasa atau mahasiswa dan pelajar yang sedang study tour di kebun binatang, Museum Satwa satu site yang benar-benar nggak boleh lewat. Di dalamnya kita seakan lagi berada di setting film Night at Museum, ngeri juga nih kalau pas malam mereka hidup semua (nggak mungkin banget). Sayang baterai kamera saya habis, moment di dalam museum terpaksa nggak bisa saya foto. Kendati ada banyak koleksi kupu-kupu lucu. huuuu

Kamu yang tinggal di Surabaya dan belum pernah ke Batu Secret Zoo harus ke sini ya, kebun binatangnya bagus banget. Saya kurang tahu siapa yang mendesain kebun binatang ini, tapi saya bangga Jawa Timur, Indonesia ternyata punya kebun binatang yang semenarik ini.

DSCN0638
museum satwa yang isinya bagus banget ada koleksi kupu-kupu cantik di dalamnya
Advertisements
Traveling

Berkirim Postcard, Souvenir Kala Traveling

IMG_0712-0.PNG

Postcard dan hobi traveling berkorelasi positif ketika di zaman sekarang ini, generasi kita rindu sama yang namanya berkirim-kirim benda pos. Entah itu surat, kartu ucapan, dan postcard yang ada gambarnya. Kan seru!

Di antara kita pasti sudah jarang kan yang pergi ke kantor pos kalau cuma untuk kirim surat?. . padahal dulu zaman SD saya suka banget nulis surat dengan sepupu yang tinggal di daerah ataupun kenalan teman di luar kota. Bahkan saya nggak cuma punya satu atau dua sahabat pena.

Bisa dikatakan, anak-anak yang lahir di era setelah teknologi sudah maju seperti sekarang, nggak pernah merasakan gimana deg-deg an dan antusiasnya ketika dapat kiriman surat dari teman. Yey selamat, kamu yang masih sempat tau rasanya nerima kiriman pos di rumah. . . 😀

Seperti sebuah masa yang kembali lagi, ketika berada di dunia yang penuh kecanggihan komunikasi lalu saya menemukan lagi perasaan yang sama deg-deg an dan antusiasnya menerima kiriman dari pak pos. Ya, bukan surat sih, tapi postcard. Terus terang ini saya alami lagi saat berada dalam komunitas traveler, baik melalui social media dan temanan secara nyata.

IMG_0716.JPG

Sekedar say hello aja touch down di suatu negara. Postcard juga jadi cara paling berkesan untuk ngasih oleh-oleh ke temen yang samaan hobinya, “melancong”…. ZzzZzzzzzz

Pernah beberapa kali gagal ngirim postcard, karena nggak punya kenalan orang lokal yang mau nganter atau nunjukin lokasi kantor pos. Memang, penuh perjuangan banget lah buat ngirim postcard di negara orang, kan kita bukan orang sana. Itu dia tantangannya dan asiknya….

So, how?

1. Pastiin kita sudah beli postcard nya dulu pas ketemu toko yang jual jangan nunggu beli di kantor pos. Karena belum tentu ada, ini kejadian sama saya waktu di kantor pos di sebuah Mall di Orchard. Postcard yang udah dibeli ketinggal di apartemen temen plus alamat temen yang mau dikirimin.

IMG_0731.JPG

2. Kita harus cari tahu lokasi kantor pos lewat orang lokal. Orang lokal bisa berarti kenalan baru, teman, atau driver taksi, tuk-tuk. Saya pernah pakai petunjuk peta tapi nggak juga ketemu.

3. Rata-rata harga postcard murah kok kalau di rupiahkan Rp.5000 per satuan dan kamu bisa bayar lebih murah kalau beli banyak. Asal jangan beli di bandara aja.

4. Siapin uang perangko, ada minimal tertentu misalnya tidak kurang dari 25.000 Dhong untuk negara Asia, lokasi negara nentuin banget.

5. Siapin alamat teman yang ingin dituju. Ini penting, sayang banget kalau udah sampai kantor pos tapi alamatnya nggak tahu atau kertas catatannya ketinggalan.

6. Pilih gambar atau foto menarik dari negara tersebut. Ini loh yang buat postcard lucu dan seru, sekalian juga prangkonya pilih yang unik.

7. Bagi saya memberi postcard ke teman sebagai souvenir bikin teman kita terinspirasi juga untuk berkunjung ke tempat tersebut.

JAVA - Indonesia, Traveling

The Parade, Malioboro Street, Yogyakarta

Sore itu, awalnya saya hanya berniat untuk berbelanja di seputaran jalan Malioboro. Tak disangka-sangka, sepanjang jalan yang biasanya untuk lalu lintas kendaraan seketika dipenuhi warga dan turis lokal maupun asing yang melipir di bibir jalan dan menantikan pertunjukan parade Kesultanan Keraton Yogyakarta. Beruntungnya, sebelum itu saya sudah sempat ke beberapa toko dan menemukan beberapa batik untuk oleh-oleh.

??????????

Semuanya antusias, merekam saat-saat parade berlangsung, termasuk ikut berfoto bersama penari dan pasukan pengawal Keraton Yogyakarta. Mereka menggunakan kostum menarik, sangat tradisionil dan mengenakan pakaian adat Jawa Tengah. Tentu saja salah satunya itu merupakan kebaya dan blangkon.

Beberapa kali pergi ke Jogja secara terencana dan ini kali pertamanya punya kesempatan untuk menonton karnaval dari Keraton Yogyakarta. Parade berlangsung sekitar satu jam lebih. Tapi karena harus ikut rombongan bus pulang ke hotel, saya hanya sempat nonton sebentar.

Sambil menenteng barang belanjaan, berebut lihat dengan warga dan turis, ini kesannya klise banget ya. Cukup sulit mengambil gambar terbaik di setiap sequence. Soalnya, mereka menghalangi pemandangan, kadang karena berfoto bareng, capture yang sudah cukup baik jadi gagal. Begitu juga dengan mengambil video. Cuma fotografer yang jago lah, yang bisa dapet foto bagus.

Pakaian mereka unik-unik, semuanya tradisional dan desain kostum ini seperti kombinasi dari bahan batik dan ornamen khas Keraton tapi ada yang bergaya Romawi campuran Keraton (maksudnya apa sih?). Tambahan elemen khusus untuk aksesoris di kepala ikut menarik perhatian saya. Sebenarnya ini parade apa ya? saya pun saking keasikan motret dan merekam gambar justru lupa bertanya. 🙂

??????????
Selain prajurit dari pasukan Keraton, Parade juga diisi oleh penari dan musisi yang membawa alat musik seperti ini.

Lalu saya jadi teringat parade yang sama ketika berada di salah satu jalan di Patong, Thailand. Tapi bedanya, di Patong isinya kebanyakan para “Lady Boy”, dan jalanannya memang lebih lebar daripada Maioboro. Karnaval dengan kostum unik juga tidak mencerminkan kebudayaan daerah disana. Mereka tampil dalam baju peri dan para puteri ala Disney. Parade juga dilakukan malam hari dengan lampu-lampu kemerlapan. (Tahu sendiri kan, seperti apa Malioboro kalau malam hari?, penuh warung lesehan sego kucing).

Entah sampai mana ujung parade berlangsung, yang jelas pertunjukan lumayan lama dan sampai jam 5 sore belum juga kelar. Sementara jam 4.30 sore saya langsung balik ke statsiun bus, kan sebelumnya udah ngidam beli sate khas buatan orang sini.

Lain kali kalau ke Jogja, saya pasti akan lihat jadwal event dan lebih rajin googling supaya bisa sekalian merasakan atmosfer liburan sebenarnya. Ada banyak museum dan site tourist menarik yang belum pernah saya datangi ternyata. Di bus, saya cuma bisa gigit jari. Ada pemandian puteri keraton, sebuah pasar souvenir di dekat Alun-Alun dan tempat lain. Padahal waktu itu sudah keliling dengan becak.

??????????
Para penari, pakai kostum lurik.

Never bored traveling to Yogyakarta. Disini dekat sama rumah nenek, 2-3 jam lagi ke Purworejo. Yogyakarta juga dekat dengan Dieng. Kalau mau merasakan atmosfer kotanya, sewalah becak atau andong a.k.a dukar, minta diantar tanpa pergi ke toko oleh-oleh.

Pas kembali ke arah parkiran bus, baru “ngeh” sama tempat yang bernama Kampung Ketandan. Aiihhhhh…. sayang nggak mungkin, saya udah dicariin sama panitia buat balik ke hotel…..

??????????
Baru “Ngeh” dengan lokasi ini, Kampung Ketandan. Di seputaran Malioboro.
DSCN2058
Naik dukar, keliling kota…. sekitar Rp 40 ribu
LAMPUNG - Indonesia

Pahawang Trip – Pak Lurah, Selfie, dan Kancut yang Hilang

IMG_0488-1.JPG
cakep banget kan laut-nya

Perjalanan ke pulau-pulau terpencil di Indonesia, selalu bikin saya kangen. Termasuk ketika diajak dalam satu rombongan trip bareng teman-teman baru ke pulau Pahawang di Lampung. Kebetulan juga bagi saya, ini pertama kalinya naik kapal ferry segede itu melintasi selat Sunda. (Duh, noraknya)

Mencapai Pahawang, membutuhkan waktu 18 jam pulang pergi. Menurut hitungan saya begitu, dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak butuh 3 jam perjalanan dengan bus. Selanjutnya kita perlu menyeberang selat Sunda dengan Kapal Ferry sekitar 3 jam juga untuk mencapai Pelabuhan Bakahueni, Lampung.

Kemudian dengan perjalanan darat masih harus ada rentang waktu 3 jam menggunakan bus menuju Pelabuhan Ketapang. Sebuah pelabuhan kecil, tempat kita naik kapal-kapal kecil menuju pulau-pulau yang tersebar banyak sepanjang lautan di ujung selatan pulau Sumatera ini.

Kelihatannya melelahkan ya, tapi memang dasar traveler, kita pergi nggak pakai waktu cuti (kecuali saya, yang cuti sehari karena jaga-jaga kalau ada liputan mendadak di hari Sabtu). Kami berangkat Jumat malam, sampai Bakahueni hari Sabtu waktu Subuh, terus Minggu siang udah berangkat pulang supaya jam 12 malam udah sampai lagi di Jakarta.

IMG_0322.JPG
selfie sukaesih di Pulau Pahawang

Tidur dan istirahat hanya sempat beberapa jam di ruang lesehan kapal dan saat di bus. Seriusan lho ada Lesehan Class di kapal Ferry, kamu harus bayar Rp. 6000 untuk itu. Bahkan kalau pinjam bantal dan selimut. Jadi kebanyang kan gimana kita ber-29 ditumpuk jadi satu di dua sisi ruang lesehan. Saya aja susah tidur, kan lantainya cuma carpet. Tapi uupss diantara kita ada Caroline a.k.a Olin yang susah banget dibangunin padahal kapal hampir mendarat di dermaga. Sampai besoknya di cottage di bilang niat mau bangun lebih cepet, sebelum dibangunin orang-orang. Dalam hati saya bilang “nggak apa-apa kok, kan ini kita lagi liburan,”

Walau semi backpacker, liburanny tetep puas, kita sempet mampir di Pulau Kelagian, Pulau Pahawang, Pahawang Kecil. Terus sisahnya feeding fish aja di depan “cottage”. Hanya dengan Rp.490 ribu (tambah Rp.40 ribu per hari buat sewa alat snorkling) sambil di perjalanan dengan perahu kecil kita juga disuguhi pemandangan bagus melewati sekian banyak pulau lho, liburan singkat yang nyenengin.

Yeeaaaay Indonesia, i love u muaaah. Yang nggak nyenengin itu ya, kalau kejadiannya seperti kak Putri yang ketibanan bambu perahu. I’m sorry to say kak, mungkin karena perahunya masih baru jadi perlu dipatenin dulu.

Sejak sampai di Pelabuhan Ketapang, kita ber-29 orang udah ganti baju berenang buat sesi snorkling of the day. Menumpang di sebuah rumah warga, ada juga toilet umum di sana. Jangan lupa siapin uang receh, soalnya ganti baju dan numpang ke toilet bayar Rp. 3000.

Oya disini kita juga ketemu sama “Pak Lurah” sebut aja begitu. Dia pemandu selama di Pahawang. Kenapa akhirnya dipanggil Pak Lurah, soalnya semua yang cewe-cewe dipanggil Bu Lurah yang cowo juga sahut Pak Lurah. Yaudah deh terserah aja, si pemandu yang jago renang dan sama baiknya sama Kokoh pemilik “cottage” tempat kita nginep. Yang nggak bisa berenang jangan takut, pasti diajarin. Kita semua juga seperti dianggap anak sama Kokoh pemilik cottage.

IMG_0314-1.JPG
lagi-lagi selfie sukaesih 😀 😀

Makan indomie dimana-mana ngehits banget lah kalo barengan Prita. Dan Freddy sepertinya juga ceesssan sama Prita kalau soal Indomie. Kita semua laper, tapi kan cuma dapet jatah makan 4 kali. Laku lah Kokoh jualan indomie yang cuma Rp. 4 ribu dan Rp. 5 ribu kalo pake telor. Terus karena saya menghindari banyak makan mie, padahal keburu laper di Ketapang belilah gado-gado di perhentian bus, nggak makan di tempat tapi dibungkus sambil pinjem sendok sama ibu penjualnya.

Sebut aja disini Made sama Hatni pagi-pagi laper beli gorengan. Terus bang Setian ngikut-ngikut beli gado-gado yang sampe di kapal nggak dimakan-makan. Lalu Lina, Selfi, sama temen-temennya punya banyak camilan, minta aja. Hehehe siangnya di Pulau Kelagian kita baru disediain makan siang dengan lauk ikan, kerupuk dan sayur.

Oya di Kelagian ada yang jual pop ice, lucunya blender ya nggak pake listrik. Kata si ibu penjual disini listrik cuma ada pas malem aja, jadi potongan-potongan es di aduk, diancurin sama alat pemutar blender tanpa listrik. Kemudian ada yang nyeletuk “eh ada chat time” …. *ngoooookk

IMG_0392.JPG
kan kan… selfie sukaesih mulu

Selfie jadi agenda yang menghibur setelah nyelem-nyeleman di air. Dimana saja dan kapan saja. Terus yang paling aneh dari dua hari snorkling main air, canoeing, main ke pulau adalah sosok misterius yang ngambil kancut si Hary. Bukan cuma kancut aja lho, tapi juga kacamata. Memang sih di depan kamar kita punya jemuran pakaian. Kancut yang hilang masih jadi misteri dan bahan becandaan di grup whatsap kita.

IMG_0428.PNG

Minat buat traveling bareng??? yuk kapannnnnnnn…. Hehehehe ke pulau mana gitu yang nggak mainstream. Next kepinginnya ke daerah Banyuwangi di Jawa Timur, perlu naik pesawat dulu ke Surabaya terus cusss dengan bus.

IMG_0406.JPG

Asia, Backpacker, The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Pasir Berbisik di Mui Ne Sands, Vietnam Selatan

 

Padang Pasir Muine untuk blog 1
Payahnya, batere kamera saya di detik-detik nyawa,, padahal banyak moment yang belum saya capture. Hanya beberapa foto termasuk matahari sebelum naik tinggi
Saya belum pernah ke wilayah padang pasir, makanya waktu tahu kalau di daftar itinerary selama 5 hari di Vietnam juga termasuk mengeksplore Padang Pasir Mui Ne, langsung excited banget. Ujuk-ujuk cussss buka youtube dan cari tahu lokasinya seperti apa….. rekaman video kan gambarnya terasa lebih nyata. Hmmmmm.

Ternyata nggak banyak yang posting soal Mui Ne di youtube maupun blog dan memang tempatnya jauh bermil-mil dari kota Saigon. Saya aja harus 6 jam menggunakan slepper bus, belum lagi mesti menyewa mobil Jeep sebab medannya yang cukup sulit, walau ada berkilo-kilo jalan beraspal setelahnya merupakan jalanan berdebu, berpasir, turunan, tanjakan, berbatu. Ini mirip dengan jalanan yang saya lewati ketika 6 jam melalui darat dari Phenom Phen ke Siem Riep, Kamboja…. debu dimana-mana.

Memang perginya kan ala backpacker, nggak nginep di hostel atau guest house (lagi tanggung juga, kan tujuan utamanya juga mau liat sunset). Slepper bus sampai di Muine sekitar jam 2 pagi. Ngapain coba??? untungnya batere handphone masih menyala, modal iseng pencarian wifi di tempat pemberhentian bus yang dekat restoran itu ternyata jaringan tanpa password. *langsung joget* nge-Path lah ketibaan di Mui Ne…. mondar-mandir sambil dengerin lagu. Sementara temen-temen (Ika, Wendra, Hatni, Prita) masih bisa tidur dalam kondisi duduk di perhentian bus Sinh Tourist. ZZZzz zZZZZzzz puk-puk-puk baru dijemput sama driver jam 4 subuh. Syalala banget.

Padang Pasir Muine untuk blog 2
Jalan di pasir memang butuh usaha lebih, lebih baik nyeker atau naik ini….. Zzzzz (backpacker nyeker aja)
Sambil nunggu, di pemberhentian bus yang ada restorannya ini (yang udah tutup) kita juga bisa numpang ke toilet, sekedar cuci muka (nggak mandi), ada satpamnya sih tapi aman nggak ditanya-tanya. Yang lebih seneng toiletnya bersih, terus gratis!!! huahaha *tawa pahlawan bertopeng*. Masih berasa lama, ada kejadian unik. Selama nunggu Jeep datang, beberapa kali bule lewat sambil ketawa cekikikan. Kirain di Mui Ne juga ada kunti…. ada lagi dua bule naik sepedahan, sambil ketawa-tawa, terus tiba-tiba jatoh. Kayanya dia mabokk deh,,, Zzzzzzzz.

Akhirnya Jeep tiba, langit masih gelap pas kita dijemput kendati jarak ke padang pasirnya sendiri lumayan. Nyatanya kita agak melewatkan moment sunrise, sebelum sampai di puncak padang pasir. Dari kejauhan nampak sekumpulan titik-titik kecil (tentu saja itu orang diatas gundukan pasir yang lagi menantikan sunrise) dan kami masih berada dekat danau. Yasudahlah, lanjut motret dulu moment kemunculan mataharinya yang bulat besar dari kejauhan.

Nggak lama kita sampai di gerbang, sedaratan sekitar lokasi ini memang terlihat tandus. Pepohonan yang tumbuh juga jenis yang mungkin hanya hidup di daerah bertipikal kering. Yellow Sands, mereka menyebutnya karena pasir cenderung berwarna kuning, bukan kecokelatan. Kalau dari dekat mirip pasir di pantai tapi yang ini kebangetan halusnya, lalu kalau diperhatikan baik-baik tampak bening.

Seketika saya membayangkan seperti apa padang pasir di Mesir, yang di baliknya ada Piramida dan Sphinx terkenal itu. Pasti yang membuat indah adalah background kedua bangunan bersejarah ini. Sementara Mui Ne hanya memiliki pemandangan lain berupa danau. Melihat sunrise di Mui Ne adalah satu rasa takjub yang lain. Beruntunglah mereka yang rajin bangun pagi. 🙂

Padang Pasir Muine 1
Sisi lain diantara kumpulan pasir yang hidup pepohonan diatasnya
Pasir lalu berbisik, lewat hembusan.. kalau wilayah sejenis padang pasir dengan angin kencang, entah karena masih pagi, di Mui Ne anginnya tidak terlalu kencang. Sayang cuacanya juga agak mendung, potret yang saya dapat jadi terkesan melow. Nggak bagus juga….

Diatas sana, ngapain lagi kalau bukan selfie??? saya bertiga Prita dan Hatni jadi bahan tertawaan turis di ujung sana, yang ajaib dengan tongkat narsis. Pas dekat rombongan orang asing disebelah sana, mereka penasaran dari mana kami. Lagi-lagi kita dikira turis dari Malaysia. Dan mereka yang wajahnya mirip China kebanyakan adalah orang lokal di bagian Vietnam lain. Tak berapa lama, kita bisa melihat beberapa orang juga menyewa kendaraan khusus mengelilingi gundukan pasir. *Iri mode on*

Jadi inget masa kecil yang suka main-mainan di lapangan pasir, atau pas ketemu gundukan tanah. Silahkan disini kamu bebas main perosotan. (Kalau urat malunya nggak putus sih). Tadinya yang kebayang saya mau guling-gulingan di pasir *ehhhh….

DSCN0378
Jeep yang mogok, untungnya ini bukan Jeep yang mengantar kami ke Muine
Saya sudah merasa kesiangan untuk melihat sunrise, tapi ternyata ada gerombolan yang lebih telat datang. Kelihatannya bukan backpacker, soalnya penampilannya seperti turis.

Perjalanan lanjut ke site Yellow Sands lainnya, lalu ke Fisherman Village yang bagi saya mirip dengan kampung nelayan di Pantai Pangandaran. Seolah dekat dengan kehidupan masyarakat nelayan, hamparan perahu dipinggirannya itu jadi pemandangan cantik. Sambil numpang nge-cas batere handphone, saya perhatiin aja mereka bapak-bapak dan ibu muda yang lagi sibuk cari pengisi perut alias sarapan. Makanannya, saya nggak berani coba, aneh sih mirip serabi tapi dicelupin di kuah sayur, takut itu pork juga.

Fisherman Village
Fisherman Village mirip sama yang di Pangandaran, Jawa Barat 😀
Lalu yang anehnya dan nggak saya tahu sebelumnya kalau ada di itinerary kita juga melewati aliran air, yang kalau di Indonesia mirip luapan banjir 😀 bernama fairy spring (kalo nggak salah itu namanya). Semacam aliran sungai yang diatasnya juga terdapat gundukan pasir merah.

Jalannya panjang banget, ada mungkin 2 kilo meter. Sebelum turun ke aliran airnya, yang melewati rumah warga (mirip di kampung-kampung) kita bakal dimintai retribusi tanpa karcis, 2 ribu Dhong sama ibu-ibu yang jaga. Lucunya penjaga di sini punya doggy lucu yang lagi mainan pasir.

Saya jadi tahu kenapa tidak banyak traveler yang mengulas soal Mui Ne. Soalnya untuk kesini butuh usaha yang lebih, waktu yang lebih. Biayanya juga ekstra, dengan menyewa Jeep $20 yang bisa patungan lalu sewa mobil untuk kembali ke Saigon yang harganya hampir Rp.1 juta (meski patungan ber-5). Tapi nggak rugi kok, sebelum ke Mesir yang keren dengan Piramida dan Sphinx-nya. Kapan ya bisa kesana??? *** TANYAKAN SAYA PADA PASIR, Hembusannya apakah mereka benar berbisik :’p