Backpacker, Himalaya, Nepal, story

Rekomendasi Penginapan di Nepal Selama Pendakian ke Himalaya

Mendaki gunung kan biasanya bawa tenda ya, beda cerita kalau kamu ke Nepal, pegunungan Himalaya. Disini kamu bakal nginep di semacam tea house atau guest house milik penduduk lokal.

Kenapa? Soalnya pemerintah Nepal menganut sistem yang memberdayakan orang lokal untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat menginap yang sekaligus menjadi tempat wisatawan berinteraksi, mengenal budaya, dan dengan begitu menjadi sumber ekonomi bagi penduduk yang tinggal di sepanjang jalur pendakian Himalaya.

Tidak ada hotel kelas internasional disini. Tapi bukan berarti tidak nyaman. Justru aku menemukan kenyamanan lain dari keramahan warga lokal. Asiknya, rumah penduduk yang juga sekaligus menjadi restoran, memberi kesan yang beda saat aku di Nepal. Saat aku nonton tv bareng mereka aku merasa heran, kok siaran tv mereka film India Bollywood gitu. Ternyata orang Nepal juga bisa sedikit bahasa India lho.

Ada banyak perbincangan sama orang lokal, kita sebagai wisatawan juga jadi bisa langsung tanya-tanya seputar kehidupan disini dan aku jadi tahu kalau anak-anak Nepal ternyata belajar Bahasa Inggris juga sejak SD. Rata-rata porter maupun penduduknya sudah fasih dengan Bahasa Inggris, ya karena disini daerah wisata dengan turis dari seluruh penjuru dunia yang penasaran dengan jalur pendakian Himalaya.

Oke. Intro-nya cukup panjang ya, langsung saja aku rangkum tea house atau guest house yang jadi tempat menginap aku sepanjang jalur pendakian Everest. Tapi point 1 dan 2 aku tulis dulu rekomendasi hostel di Kathmandu sebelum terbang ke Lukla. FYI kebanyakan turis asal aja pilih guesthouse sekenanya, soalnya tidak tentu juga berhenti di desa mana.

(1) Hotel Himalaya Yoga – Kathmandu (nilai 7,5)

Tahu hotel ini karena lihat review yang bagus di booking.com maupun agoda. Harga per bed itu sekitar U$D 5 dengan kamar tipe asrama atau doormitory. Enaknya kalau menginap disini itu bisa sekalian yoga gratis setiap pagi. Hotel ini juga menerima antar jemput bandara dengan tambahan biaya sekitar 1000 Ruppe Nepal atau setara U$D 10, yang kalau kamu di bandara nyari sendiri taxi bisa nawar sekitar 700 Ruppe Nepal atau setara U$D 7. Lokasi strategis di Thamel, dengan kamar mandi bersih, hot shower juga. Pemiliknya ramah dan staf juga membantu, bahkan kamu bisa nitip barang selama mendaki dan ketika balik ke Kathmandu bisa diambil lagi.

(2) 327 Thamel Hotel (nilai 8)

Kalau suka lingkungan yang hijau dengan taman, tempat bersih dengan toilet dan shower termasuk air hangat, sekaligus budget murah, bolehlah aku rekomendasikan 327 Thamel. Lokasinya juga dekat kemana-mana, kalau mau jalan-jalan ke Thamel. Disini juga ada restoran, jadi kalau malas kemana-mana bisa turun aja dari kamar. Tempat penyimpanan dengan kunci dan fentilasi cukup terang bikin kamu seperti di rumah. Aku merasa seperti lagi di garden house gitu. Tipe kamar doormitory dengan harga sekitar U$D 5 per bed.

(3) Himalayan Lodge (nilai 8)

Lokasinya di Desa Namche, atau dikenak dengan nama Namche Bazar. Disini tepat di ketinggian sekitar 3000 kaki, tempat pendaki beristirahat untuk aklimatisasi membiasakan tubuh di ketinggian dengannoksigen tipis, sebelum menuju jalur Everest.

Tahu tempat ini karena buka Tripadvisor dan review-nya bagus. Kaget juga, kok murah banget nginep disini cuma Rp. 45.000 per malam. Sampai niat untuk booking lewat online supaya bisa dapet tempat.

Ternyata saat sampai sana kamarnya masih banyak tersedia soalnya memang bukan musim pendakian. Lalu harga kamarnya cuma 200 Ruppe Nepal setara U$D 2, murah banget yesss? Walau harga makanan ya beda lagi, kalau mau mandi hot shower bayar U$D 3 lagi, charger baterai bayar U$D 2 lagi, hahaha dan wifi juga bayar lagi. Akhirnya ya dihitung-hitung U$D 10 juga budget-nya.

Yang aku suka disini itu pemiliknya ramah banget. Seperti ibu sendiri, dia yang beberes kamar dan masak buat tamu, dibantu sama seorang anak perempuan dan entah ada suaminya juga atau nggak disitu. Tapi tiap kali minta tolong dan memesan dia ramah banget, ngebantu banget apalagi saat saya butuh komputer buat booking tiket pulang pun dia mau ngedengerin permintaan tolong padahal lagi repot masak pas disamperin di dapur.

(4) Budha Family Lodge

Di gorak Shep, ketinggian sekitar 5000 mdpl, tempat sebelum pendaki menuju Everest Base Camp (EBC) kamu mesti aklimatisasi dulu disini. Aku pun karena sempat mengalami yang namanya AMS atau penyakit ketinggian yang pening pusing luar biasa itu sampai harus nginep 2 hari disini. Harga kamar disini masih U$D 2 dengan makanan yang melambung harganya sekitar U$D 5-7 karena kan makin tinggi. Bahkan apel aja satu buah saja U$D 2,5 alias satunya Rp 30.000 ­čśé

Lodge ini menurutku masih baru makanya bersih. Terlihat dari teriplek rumah yang kelihatan baru. Jadi kamar mandinya bersih, soalnya pemiliknya ibu perempuan dan suaminya suka bersih-bersih. Jam 8-9 pagi mereka sudah sibuk masak air dan menyapu.

Dibanding lodge yang rumah sebelahnya, aku rekomendasi menginap disini karena lodge sebelah, lantainya aja licin sampai buat aku mau kepeleset saking nggak bersih ngepel-nya. Berhubung pemilik dan penjaganya laki-laki mungkin, aku perhatiin begitu. Tiap kali menginap di lodge yang diurus sama orang lokal yang tidak ada perempuannya, kurang terurus terutama kamar mandinya yang kurang bersih.

(5) Rivendell Lodge

Ini lodge saat bermalam di Debuche. Kenapa rekomended? Soalnya pemandangan dari lodge ini tuh bagus banget. Dari restorannya kamu bisa melihat pemandangan hamparan gunung es. Intinya itu aja, halaman luarnya juga luas langsung menghadap pemandangan yang amazed, kalo kamar standart kebersihannya sama dengan lodge umumnya yang termasuk selimut bedcover.

Cuma memang kamar mandi disini nggak begitu banyak air. Saking dinginnya juga sudah jadi es di suhu minus 5-10. Ketinggian lebih dari 4000 mdpl jangan ditanya ya ­čśé. Harga semalam masih 200 Ruppe Nepal atau setara U$D 2 dengan makanan dan charger maupun hot shower yang masih harus bayar lagi. Mulai di ketinggian ini kita akan kesulitan listrik. Mereka masih menyimpan listrik dari tenaga matahari juga.

Advertisements
Himalaya, Nepal, story, Traveling

Kenapa Himalaya? Sebuah Alasan Khusus Memilih Destinasi Liburan

Ada sebuah obrolan absurd. Di penghujung perjalanan saya ke Himalaya kemarin. Putus asa (agak lebay padahal gak segitu banget perasaannya), jadwal pulang ketunda karena pesawat kami nggak bisa terbang dengan alasan “cuaca buruk”, menyebabkan saya nginep 2 malam lagi di Lukla.

Habis mandi dan keramas tentunya, melepas penat setelah sedari pagi (pukul 06.30) di bandara, dalam ketidakpastian menunggu flight sekitar 5 jam dan ternyata dikabari gagal terbang (lagi) untuk kedua kalinya, . Kami angkat bagasi. Nenteng lagi 6-13 kg backpack yang supergede itu ­čśé.

Pasrah, jelas. Saya juga jadi berfikir. Tuhan, kok waktu berangkat mudah, pulangnya agak terhambat, semacam Tuhan lagi bilang “jangan pulang dulu” atau saya dikasih teguran. Menilik dalam lagi, ohya solat saya bolong-bolong., magrib terlewat, biasanya nggak pernah menjamak, lalu jadi menjamak. Selagi ada air seharusnya berwudhu dengan air, tapi karena merasa tak tahan dingin saya ganti tayamum. Apakah saya begitu menggampangkan?

“Haduh, lagi banyak-banyak berdoa nih, biar bisa pulang,” kata Kobo Chan waktu buka pintu.

“Doa? Solat aja enggak..,” kata saya cuek, bodo kalo dianya marah (abis jarang lihat dia solat­čśé)

“Eh jangan salah, gw solat, tapi sehari 3 kali, dijamak,” balesnya..

Habis itu saya diam dan mikir saya juga gitu, selama 2 pekan ada beberapa solat yang ketinggalan. Apalagi pas saya kena AMS, seketika ketiduran mau pingsan. Lalu Zuhur dan Ashar bablasss.

Banyak yang dipikirin waktu agendanya harus pulang malah stuck di Lukla. Ngapain coba? Akhirnya baca buku ke ruang tengah dekat perapian, terus kalo nggak makan ya di kamar tidur. Di Lukla saya dapet sinyal lumayan kenceng, disaat itulah what’sApp dari kantor, email kerjaan mulai masuk bertubi-tubi. Termasuk omelan-omelan karena cuti saya melebihi yang diijinin.

“Chan, SP 1 tuh prosedurnya gimana sih? Tanya saya sambil selimutan.

“Ya kayak diomongin aja, cuma dipanggil terus dikasih peringatan. Kenapa lo?, Tanya Kobo Chan diujung sana.

“Engga… (Nggak terus ngadu ngomong kalo abis dikasih SP 1),” bales saya..

Lalu entah kenapa saya malah nanya hal lain. Ya dasar orangnya random kan, nggak pernah ngerencanain kalo ngobrol nanyain apa, sama halnya kalo wawancara narsum mengalir aja, tanpa buat daftar pertanyaan.

“Eh gw nanya dong. Menurut lo apa benang merah dari perjalanan ke EBC, ke Himalaya?” Tanya saya (masih dari balik selimut, karena kedinginan, suhunya di Lukla masih sekitar 1 derajat celcius).

“Oh ternyata fisik nggak sekuat dulu ya. Ini lho, sudah kesini.. tabungan nggak habis begitu aja tapi dipakai buat perjalanan kesini,” jawab Kobo Chan

“Sesimpel itu doang nih,? Tanya saya sedikit mendelik.

Yaampun saya inget ini lagi ngobrol ceritanya, tapi nggak saling liat muka. Selimutan di kamar. Sepanjang jalan mau ke kaki Everest dingin brrbbrrr

“Ya tadinya kan mau ke India, budget nyampe kesana, terus ganti mau ke Cina. Eh searching baca tulisan orang jadi tertarik ke Nepal, yaudah.. tadinya city tour aja, eh malah mau sampai ke basecamp Annapurna. Tapi malah jadi ke Everest biar nggak nanggung,” Sambung Kobo Chan lagi.. (yang alesan ini sudah pernah diceritain ke saya sebelumnya).

“Nah lo kenapa Himalaya,” balik nanya dia

“Karena gw suka gunung,” singkat jawab haha.. lagian sudah pernah saya jelasin juga ke dia, masa diulang. (Panjang… bukan sekedar karena suka gunung atau mau naklukin dan ngejadiin ini the best of the best pendakian).

Namun akhirnya saya ngomong gini… meluapkan isi pikiran soal perjalanan ke Himalaya.

“Gw kan lagi baca buku ya, bukunya Jalaludin Rumi. Jadi salah satu nya ada kata-kata di buku. Saya lanjut bilang kurang lebih seperti yang di buku..

Di dunia ini ada satu hal yang tak boleh dilupakan. Jika kau lupa banyak hal, tapi masih ingat satu hal tersebut, maka tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Namun jika kau mengerjakan banyak hal, tapi lupa satu hal tersebut, berarti engkau dianggap tidak mengerjakan apapun. Demikian sejatinya manusia datang ke dunia ini untuk mengerjakan tugas tertentu.. dari buku Fihi Ma Fihi – Jalaludin Rumi.

“lah nggak ada yang nyuruh ke Himalaya kok, nggak kesini juga nggak apa-apa,” kata saya.. ­čśé serius banget ya

Cuma intinya saat itu jadi inget, saya orang yang penasaran sama Kaki Everest seperti apa lalu nekad pergi.. akhirnya mendapati jawaban dari Allah seperti ini.. saya malah beberapa kali ninggalin solat dan semacam lagi ditegur tapi lewat cara lain. Entah itu tegurannya termasuk pesawat yang delay karena gangguan cuaca.

Tahu dan sadar itu tapinya sampai sekarang rasanya tidak menyesal sudah nekad pernah pergi. Bahkan ngorbanin uang tabungan cukup banyak. Rasanya puas. Paling gak penasaran sudah terjawab.

Mungkin saya terlalu serius. Perjalanan, yang proses bagi setiap orang itu berbeda-beda, ada hujan, badai, terkena terik matahari, sampai ibaratnya yang terkecil pun dihempasan angin. Traveling itu personal. Tapi alasannya paling tidak mencakup karena kamu suka destinasi itu. Bukan sesimpel alesannya Kobo Chan ke Himalaya, saya agaknya terlalu mendalam.

Backpacker, story, The Journey, Traveling

Travelmate Paling Ideal Itu…

Milih teman seperjalanan itu seperti milih jodoh. Diseleksi, harus milih banget, bukan sembarangan, bukan asal comot. Pada awalnya kita kira seorang teman itu oke buat diajak seru-seruan, eh ternyata… ternyata… mirip jodoh juga toh?

Karena saat traveling bareng, sifat asli bakal keluar. Kamu jadi apa adanya, kadang nggak bisa toleransi lagi, sering kali nggak bisa menahan kesal atau marah. Kenapa? Ya kondisi orang berpergian yang seringnya  unexpected juga bertemu kondisi situasi tak nyaman.

Kadang walau cocok di cara berpergian, misal a la kadarnya.. sama sifat pun nggak bisa toleran. Kadang enak kalau ketemu travelmate yang juga tetep inget solat 5 waktu meski lagi happy… happy bisa buat lupa (jangan ya). Ya semua orang punya kekurangan kelebihan disini belajar lagi tentang memahami orang lain dan berinteraksi, punya kecerdasan secara kehidupan sosial.

Nah, akhirnya saya jadi orang yang makin selektif buat pergi jalan,.. makin punya yang namanya daftar kriteria travelmate paling ideal. Dulu memang sempat ada postingan tentang travelmate, tapi guys kali ini pembaharuannya yang sudah ditingkat menuju perfect lah.. soalnya kesini-sini saya justru malah diketemuin sama orang yang tulus beneran, bukan cuma mau seneng bareng dan entah besoknya dadah-dadah ngomongin apa entah dibelakang.

wpid-img_20140317_154756.jpg

 

Travelmate ideal menurut saya itu….(di luar kamu traveling terus sama pacar atau suami)

  1. Se-Tipe Destinasi Favoritnya┬á: Bisa itu hobi dengan satu destinasi tertentu, misalnya sama-sama suka trekking ke gunung. Belakangan saya malah memang lebih enjoy sama mereka yang suka trekking juga. Kita kebanyakan ternyata punya selera musik yang sama dan tingkat toleransi berteman yang sama. sama-sama sabar, sama-sama pejuang ketika menghadapi, tolong-menolong yang di level paling atas.┬áBukan berarti anak pantai nggak asik. Banyak temen anak pantai yang asik,… buktinya waktu ke Phuket walau baru kenal sekali itu langsung cocok, tapi ya mungkin karena kami semua ber-5 sama-sama alumni pekerja di media yang bertipikal orang fleksibel, dinamis dan asik-asik aja.. anak fakultas komunikasi yang open minded.
  2. Satu Tipe Cara Berlibur : Ini juga penting, soal apakah kamu budget traveler, pergi a la backpacker, atau mau yang setengah koper? Jangan jadi malah keberatan pas jalan, karena travelmate kamu beda kasta. Biasanya terkait dengan gaya hidup seseorang, cuma pastikan dari awal aja sejak awal biar klop. Nggak lucu kalau makan siang pisah karena kamu suka yang jajan murah street food tapi travelmate kamu a la fine dining.
  3. Kamu Sama-Sama Bisa Toleransi Sama Sifatnya : Ini bagian penting juga, karena tidak ada orang yang betul-betul cocok. Tapi semua berkat saling pengertian aja.. Cuma kasian juga kalau hanya satu pihak yang pengertian sementara pihak lain cuma nyusahin dan sulit di ajak kerja sama. Perlu waktu buat tahu sifat karakter teman, pakai feeling sebenernya… temen kamu memang pelit? temen kamu si tipe boros? temen kamu yang nggak bisa susah dikit? ya kenali dulu baiknya. Susahnya, kalau kamu dapet travelmate dari online karena kenalan di social media, mesti diajak chat dulu. Tipe yang menghargai orang kah? lihat dari caranya membalas pesan kamu dan lain-lain, lagi-lagi pakai intuisi… apalagi baru kenal sebentar.
  4. Pinter Fotografi atau Paling Nggak Suka Motret Juga : Tapi jadi catatan juga, dengan senang hati juga nggak masalah kalau dimintai tolong motret gantian. Soalnya sering juga ketemu traveler yang nggak gape ambil foto, padahal kita sudah oke ambil foto dia. Artinya nggak tulus motret-nya… hehe padahal itu sisi artistik seseorang, semacam dia jatuhnya sama sekali mungkin kurang rasa seni ngambil angle foto atau kurang mengerti pengambilan komposisi gambar padahal itu ilmu dasar aja menurutku.
  5. Bisa Diajak Bercanda : Ini kriteria penting juga, alangkah menyenangkannya kalau jalan sama orang yang lucu, nggak dikit-dikit suka ngeluh atau pemarah… atau terlalu serius menanggapi sesuatu yang buat hal remeh kok jadi besar ya…. Saya udah ketemu sih banyak temen lucu, anak gunung beberapa banyak yang setipe sanguinis demikian, membuat lelucon tapi cerdas, enak diajak diskusi, bisa saling melengkapi, dinamis, dan bisa menempatkan diri… (lha… ini bener lagi ngomongin kriteria jodoh?? ­čÖé )
  6. Respect… respect : lagi-lagi respect buat saya penting, kalau ketemu satu hal tidak respect semisal tak bisa diajak kerja sama di perjalanan atau lama membalas pesan dan itu keseringan terjadi, say good bye saja,… besoknya udahan, putus aja. Saya pilih solo traveling dan jadi tanpa beban bisa berbaur dengan traveler dadakan yang bisa ditemui di jalan.

Kesimpulan :

Buat traveling, saya lebih suka pergi ke gunung, enjoy sama orang-orang yang seru, lucu, nggak lupa jepret sana sini selama perjalanan buat mengabadikan moment dan pemandangannya, bisa bagi tugas, saling respect dan dinamis, fleksibel aja bisa menempatkan diri ditengah suasana nge-trip yang sama-sama ingin fun! Satu hal lagi tiap berpergian itu harus punya makna. Nambah saudara dan nambah ilmu apa saja yang saya lihat selama perjalanan.

LIFE, story, The Journey, Traveling

Travelmate oh travelmate ….

SONY DSC
Punya partner narsis foto-foto-an, itu jadi lain soal… hahaha. ┬áLocation : Dusun Bambu, capture by : Harry Iswahyudi

Ketika punya rencana pergi ke suatu tempat kita suka ragu buat berangkat kalau nggak punya temen barengan. Apa kamu juga mengalaminya?……Bukan karena takut pergi sendirian, tapi saya ini jenis pejalan yang lebih suka kalau ada partner┬ájalan alias travelmate. Apalagi kalau bisa group perginya (maksimal sih 4-5 orang). Seru, rame, pasti berisik, pasti nggak bosen.

Selain itu bisa sharing cost, jatuhnya lebih murah dong (teori ekonomi nih). Terus kita juga merasa nggak akan mati gaya kemana-mana. Tapi… ada juga loh yang sampai berantem dan bete gara-gara beda pendapat sama group trip atau travelmate. By the way saya pun pernah mengalaminya, bisa bikin bete saat-saat liburan. Beruntunglah saya ini kan tipe plegmatis si┬ápencari damai┬ábukan tipikal emosional dan pemarah.

Si damai … saya mungkin akan lebih banyak ngalah, tapi bukan karena lemah, hanya saja hal-hal kecil kenapa mereka berhak merusak mood┬ásaya ya (malah curhat). Syukur-syukur saya suka banget dan merasa dihargai kalau travelmate┬ángajak diskusi dulu kalau mau buat sebuah decision.

SONY DSC
Enak kalo pergi sama partner yang juga hobi traveling. Lokasi : Goa Pawon, Capture by : Harry Iswahyudi

Kasus 1 begini misalnya :

Travelmate : “Kita nanti ketemu temen gw ya, di Beach Walk, di Marina Bay, di Patong…. bla…bla ”

Saya : “Oh gitu, baiklah ……..” (cuma ngebatin) ┬ápas di Jakarta nggak ngomong mau ketemu sama temennya.

Tapi abis itu dilupain aja, kan saya asik-asik aja nggak masalahin lagi. Kebetulan ya ketemu temen baru bukan suatu masalah, tapi hal nyenengin.

Kasus 2 misalnya :

Saya : “Gw mau belanja, nyokap nitip kain Bali. Gue juga mau beliin sobat gw daster, sendal, sama oleh-oleh buat kantor,”

Travelmate : kalo gw nggak belanja, paling beli cemilan dikit. (Ini namanya belanja juga kan). Taxi kita ntar susah parkirnya, terus kan mahal nanti nungguin.

Saya : gw belanja bentar, kan udah tau yang mau dibeli. Sepuluh lima belas menit kelar.

(Seriusan belanjanya cuma 10-15 menitan sama antri di kasir, tapi terus ada yang kelupaan dibeli) and by the way, sampai bandara kecepetan dong bosen. Hampir 5 jam nungguin pesawat karena delay.

Kasus 3 misalnya :

Suka banget sama fotografi. Sampai rela berat-berat bawa kamera DSLR. Nggak mau dong kehilangan moment foto-foto cantik. Pemandangan cantik. Lalu suka ketemu travelmate yang nggak pengertian, merasa terganggu karena sebentar-sebentar berhenti buat ambil angle foto doang. Fuiiiihhhhh

Gw : “eh elo sini gw fotoin,” pake bunyi ceklak ceklek.

(Hening maksudnya biar gantian difotoin juga) gubrak…. Tapi kita sulit berharap kalau semua travelmate kita punya cita rasa dalam pengambilan angle fotografi, ya walaupun dulu mata kuliah fotografi gw cuma dapet C (ini standart dosennya tinggi banget sih). Memotret itu gimana juga perlu banget hati (menurut gw).

Asik kalo travelmate kita itu sepenuh hati ngambil fotonya. Dan belakangan gw mikir, mereka yang suka traveling pasti suka fotografi juga, jadi kalo pergi sama mereka yang nggak suka-suka banget traveling mungkin cuek sama pentingnya mengambil moment. Oke liburan besok sepertinya butuh jasa fotografer buat bikin foto-foto keren. (Dikira lagi liputan) -__-

Kasus 4 misalnya :

Dalam sebuah group baru, yang tidak pernah kita kenali sebelumnya orang-orang di dalamnya, kadang kita suka ketemu hal-hal menyebalkan. Misal teman baru itu kekanak-kanakan, pelit hanya karena recehan 5000 perak misalnya. Jangan jadi traveler yang juga bertipikal demikian. Bila kita bersikap sama, tidak ada jauh bedanya kita dengan dia yang perhitungan.

Dari pengalaman saya belajar sih, kalau memang lebih enakan trip dengan group atau jumlah orang sekitar 4 hingga 5 orang. Kenapa? Entahlah saya cuma merasa lebih berbaur, lebih lepas, dan asik dan nggak bosan ngobrol dengan orang yang sama. Ya mungkin beda cerita kalau someday pergi sama suami… berdua saja (lagunya Payung Teduh dong ini)

Ohya satu lagi, ketika pergi dengan group apalagi mereka yang backpacker. Jangan tanya, jenis keluhan apa bagi seorang pejalan? Mereka akan lebih tahan banting, kuat, mau diajak susah sedikit, nggak manja, nggak tukang ngomel, terlebih kebanyakan lebih humble. Biasanya mereka juga nggak banyak maunya, jarang ngeluh, atau kepingin sesuatu yang terlalu menghabiskan isi dompet. Misalnya, mikir juga lah buat mengeluarkan Rp.100 ribu buat makan doang.

Pengalaman dulu-dulu saya punya travelmate yang nggak bisa diajak backpacker. Harus nginep di hotel atau naik taxi kemana-mana. Ohya dulu temen-temen saya memang nggak ada yang bisa diajak susah.