culinary, Kuliner, Liputan, Malaysia - Asia Tenggara, story, Traveling

Lima Rekomendasi Kuliner Malam di Petaling Street

Setelah enam tahun saat pertama kali ke Malaysia tahun 2013 silam akhirnya aku berkesempatan lagi buat menyambangi Kuala Lumpur (KL)! Sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan Negeri Jiran, jika bukan karena ada business trip alias perjalanan dinas a.k.a liputan 2 hari untuk peluncuran ponsel gaming Black Shark di KL.

Curi-curi waktu setelah liputan beres akhirnya kulineran aja deh malam-malam ke Petaling Street. Aneh juga sih, sebenarnya aku tuh nyari lokasi lain untuk dijelajahi melalui maps karena dulu sudah pernah ke Petaling Street. Mulanya ke Pasar Seni, tapi ternyata lokasi dekat sekali berjalan kaki ke Petaling Street yang juga merupakan kawasan China Town dan masih ramai padahal jam di tangan hampir menujukan pukul 21.00 waktu KL.

Ternyata beda lho atmosfer pagi menuju siang dan malam di Petaling Street. Setelah merasakan suasana yang beda aku malah menyarankan kalian yang pemula banget backpackeran keliling Asia Tenggara buat kulineran malam aja di Petaling Street dan cobain 5 rekomendasi kuliner berikut!

(1) Makan di Restoran Kim Lian Kee

Ini restorannya guys, di luar aja makannya sambil menikmati suasana malam

Teman-teman serombongan liputan dari Jakarta makan di sini, lokasinya gampang banget dicari dari depan plang Petaling Street lurus aja terus lalu belok kanan berdekatan dengan penjual Chesnut Berangan. Menunya ada aneka jenis mi, nasi goreng, jenis-jenis makanan Chinese kebanyakan. Halal apa nggak? Nggak yakin hehe karena buatku kalau restoran Chinese aku nggak berani coba dan pastikan kehalalannya. Rekomendasi aja buat kalian yang non muslim bisa kok makan di sini.

(2) Ngemil Chestnut Berangan

Ini ibu penjualnya dan beginilah bentuk kacangnya

Dari namanya aku penasaran, ini kacang berangan? Nggak banyak mikir langsung beli walau harganya 7,5 MYR kalau dirupiahkan dengan kurs Rp 3600 per 1 Ringgit jadi Rp 30.000 dan itu nggak dibohongin kok karena ada tulisan harganya dipapan. Penjualnya adalah ibu-ibu Melayu campuran Chinese karena matanya sipit. Aku nggak banyak tanya karena keburu penasaran coba, eh ternyata enak.

Jadi kacang berangan ini besar juga ukurannya, kulitnya pun keras makanya diroasted alias dipanggang gitu. Makannya enak selagi panas anget-anget. Agak susah membuka kulitnya dan lumayan capek ngegigitin tapi seru dan rasanya enak, walau lama ngabisinnya sambil keliling cari kulineran lagi habis juga dimakan berdua. Hehe

(3) Beli Air Mata Kucing

Air mata kucing, minum manis pas malem-malem. Ohya kamu bisa pilih dengan es atau tanpa es

Minuman yang serasa nostalgia, karena waktu ke sini 6 tahun yang lalu saat matahari terik dan cuaca panas-panasnya minuman inilah yang benar-benar terasa menyegarkan di tenggorokan. Harganya sekitaran 2,5 MYR atau setara Rp 15.000 saja. Rasanya manis seperti liang teh gitu dengan ada cincangan buah seperti kelengkeng di dalamnya. Mau siang atau malam menurutku tidak masalah minum ini tetap segar. Harus cobain banget selagi jalan-jalan ke Petaling Street dan cari oleh-oleh.

(4) Kim Soya Bean

Kim Soya Bean pasti bikin kenyang

Masih cari minuman? Di Petaling Street ada juga nih es susu kedelai alias Kim Soya Bean yang sudah terkenal itu. Cocok buat yang ingin malem-malem lapar tapi males makan dan ingin tambahan nutrisi dari protein nabati hehe. Menurutku harus banget coba, tapi kalau masih kenyang bisa keliling dulu deh muter-muter biar laper dan haus lagi terus beli Kim Soya Bean.

(5) Beli Sate-Satean

Dipilih-dipilih satenya, ini temen liputanku Galuh yang bisa makan sate babi

Masih laper tapi ya nggak laper banget, bisa nih beli sate-satean di Petaling Street. Nah, selain ada berbagai jenis sosis, kepiting, ayam, temenku di sini juga ambil sate babi merah FYI aja karena dia protestan jadi halal makan itu. Hehe kalo aku nggak boleh, cukup dengerin komentarnya aja gimana rasanya. Katanya ini babi nya manis. Nelen air liur deh kakak hehe.

Saat dateng kamu bakalan dikasih piring buat menaruh sate yang dipilih. Terus penjualnya akan grill satenya tapi ada yang digoreng juga sih dicampur bumbu dan tepung terlebih dahulu. Kelihatannya enak, cuma karena ada babinya aku ga beli. Kan kena minyaknya pula walau nggak makan.

Jadi itulah guys, 5 rekomendasi buat kulineran malam di Petaling Street saat kamu ke Kuala Lumpur. Masih banyak restoran sebenarnya, namun karena waktu terbatas kan.. bisa lho mampir lain kali (kalo ada yang bayarin tiket pesawat sama hotelnya) kwkwkw.

Advertisements
BANGKA BELITUNG - Indonesia, Indonesia, Liputan, Traveling

Berkenalan dengan Tarcius, Primata Purba Pulau Belitung di Bukit Peramun

Setelah delapan tahun, akhirnya kembali menginjakan kaki ke Tanah Belitong. Sungguh penasaran satu windu lamanya, ada perubahan apa di pulau penghasil timah ini?

Penerbangan pagi, setelah subuh pesawatku berangkat dari Jakarta. Perjalanan berkesan atas undangan peliputan dari Kementerian Pariwisata untuk mengikuti rapat koordinasi lintas sektor menuju Belitung menjadi Geopark Dunia oleh UNESCO ini termasuk kunjungan lapangan mendatangi berbagai objek wisata baru di Pulau Belitung.

Nah, aku bakal buat beberapa seri tulisan untuk objek wisata terbaru di Pulau Belitung. Pertama banget yang menurutku paling menarik adalah saat bertemu tarcius, si mahluk purba yang diklaim menjadi primata yang selamat melewati zaman es. Hmmm penasaran kan?

Matanya bulat lebar, dengan hidung yang lucu serta menarik untuk dilihat. Imut-imut, mungkin kalau dipegang hanya segenggaman tangan kita. sekilas kepalanya mirip burung hantu, tapi bukan. Anehnya lagi, kaki dan tangannya ada mirip kekelawar. Si tarcius juga bisa memutar kepalanya hingga 180 derajat, jadi makin gemes rasanya melihat hewan purba ini.

lihat matanya yang bulat, ini cahayanya over ya, karena mode malam

Buat kamu yang belum kenal sama tarcius, yuk kita kenalan dulu. Tarcius Bancanus Saltator atau dalam bahasa lokal Belitung disebut dengan “Pelilean” jenis tarcius yang baru ditemukan dan masuk dalam daftar appendix dunia melengkapi beberapa jenis tarcius yang sudah teridentifikasi sebelumnya. Variasi spesies ini juga ditemukan di Sumatera, Borneo, Sulawesi, serta ada di Pulau Bohor, Samar, Mindanau, dan Lyte (di Filifina).

Tarcius di Belitung ini menurut cerita berbeda dengan jenis tarcius di daerah lain. Gigi-giginya tajam karena hewan purba ini katanya sempat terjebak saat zaman es. Kalo dipikir-pikir kok bisa? iya bisa dong, bila membaca lebih jauh sejarah pulau belitung yang bisa punya batu-batu sebesar raksasa itu juga ada versi cerita kalau batu-batu itu merupakan batu meteor yang jatuh jutaan atau mungkin ratusan tahun yang lalu.

Sebaran tarcius dari zaman purba berkaitan erat dengan masa es akhir Pleistosene di Sundaland kita-kira 22 ribu tahun yang lalu. Pulau Jawa terhubung dengan daratan Kalimantan, Sumatera, dan Asia Tenggara oleh es. Tarcius kemudian berpindah ke tempat lain melalui es beku tersebut. Ketika es mencair hewan ini terjebak di wilayah daratan yang tersisa. Makanya tau-tau ada di Belitung.

Lanjut ke tarcius lagi. Si tarcius yang ada di Belitung juga dibedakan berdasarkan morfologi dengan tipe rambut padat tidak masif, punggung berwarna abu-abu dan tidak adanya duet vokal di pagi hari (Shehell, 2008; Groves and Shekelle, 2010; Fodgen, 1974; Yustian, 2007).

Batu-batu besar nan unik di Kepulauan Belitung jadi latar foto yang menakjubkan kalau berwisata ke Belitung

Makanya aku nggak kaget juga saat berkunjung ke beberapa situs geopark yang sedang dikembangkan pemerintah untuk dijadikan objek wisata Belitung ada beberapa tempat seperti rawa kenozoikum Tebat Rasau yang kondisi ekosistemnya setelah diteliti juga menarik, serta ada spesies ikan purba yang hidup disekitarnya.

Nah si tarcius ini bisa kamu lihat dengan mengunjungi Bukit Peramun, salah satu objek wisata baru yang ada di Belitung. Menurut penduduk sekitar, nama peramun didapat dari kata peramuan yang memang tempat ini merupakan hutan tempat warga mencari tanaman-tanaman obat atau disebut ramuan.

Buat kamu yang ingin ke Belitung bisa mulai mencoba atraksi ini yang sudah mulai ditawarkan agen pariwisata lokal dengan harga Rp 100.000 per orang. Waktu kunjungan untuk tarcius watching ini malam hari pukul 18.30-21.00, tapi sejak siang kita bisa mengunjungi Bukit Peramun dulu yang ada lokasi melihat pemandangan hutan dari atas bukit.

Ada aturan untuk tidak berisik, jumlah orang yang melihat juga dibatasi sekitar 5 orang saja. Karena makhluk malam ini juga perlu dipancing untuk keluar dan kita akan selalu ditemani pemandu. Disarankan tidak memakai lighting saat memotret dan nggak bisa terlalu lama juga kalau kita mau foto-foto. Menurutkku akan kasian si tarcius, matanya pun hampir berair karena melotot terus nggak berkedip.

Ohya beda lagi ya kalau kamu juga ingin mengunjungi Bukit Peramun, bayar lagi Rp 160.000 per orang dengan waktu kunjungan pukul 09.00 – 17.00. Biaya ini sudah termasuk asuransi, 1 botol minuman, makan siang, pemandu. Nggak rugi lho wisata ke Bukit Peramun yang jadi lokasi geosite ini. Kamu bakal dapet pengalaman menjelajah wisata geologi tingkat dunia berupa batu granit TOT dan keanekaragaman hayati, dengan khasiatnya untuk pengobatan.

lihat deh muka lucunya, ekspresi awkward mirip kita kalo lagi tiba-tiba disuruh pidato di depan kelas waktu jaman sekolah. Hahaha

Sekalian ya di artikel ini aku kasih tips kalau mau jalan-jalan ke Belitung:

(1) Menggunakan travel agent. Kamu akan lebih menikmati waktu liburan dan punya koleksi foto yang bagus untuk postingan social media. Penting banget kan zaman sekarang, hehe 🙂

(2) Selain itu sebaiknya pergi dengan rombongan, sekitar minimal 6 orang ya supaya harganya tidak terlalu over budget di kantong kamu. Jadi memang ajaklah keluarga kamu atau bisa juga temen se-gank yang deket banget buat liburan kesini.

(3) Say No to Solo Traveling. Jangan sendiri aja perginya, solo traveling kurang asik sih kalo tujuannya ke Belitung, kamu pun kalau traveling ke Belitung mesti sewa kapal dan mengunjungi banyak pulau. Walaupun bisa sewa motor atau bisa berbaur dengan orang lokal tapi, percaya deh kata aku. Jangan pergi soloing.

culinary, Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story

Mencoba Impossible Foods di Marina Bay Sands Singapura

Patty yang dibuat dari tanaman juga biji-bijian, tapi serius rasanya mirip daging kornet mentah

Yeahhh! Jalan-jalan lagi ke Singapura, diundang lagi untuk nyobain makanan-makanan enak 😜.. Siapa yang bakalan nolak? Kali ini tema besarnya “Sustainable Environment” yang mungkin kita nggak nyangka, nggak tahu, karena hanya melihat sisi modern Marina Bay Sands.

Aku penasaran juga saat diberikan background dan itinerary karena mereka menyebut Impossible Foods. Hmmm, apa itu? Boleh di klik dulu … jadi Impossible Foods ini semacam start up di Amerika sana yang project-nya mengerjakan olahan makanan dengan basis tanaman namun rasanya seperti daging. FYI katanya lagi booming banget untuk mengurangi konsumsi daging merah.

Sebutlah bentuknya patty, rasanya pun mirip seperti halnya sedang makan cincangan daging sapi. Tapi siapa yang bakal nyangka? Aku pun tidak, ternyata isian burger yang ada di restoran CUT by Wolfgang Puck salah satu restoran celebrity chef di Marina Bay Sands Singapura ini berbahan dasar sayuran dan biji-bijian, sama sekali tidak ada unsur daging di dalamnya. Wow. Very awesome!

Impossible food, sebuah kreasi terbaru di Marina Bay Sands Singapura untuk kulinernya bagian highlight program sustainability enviroment. Dengan tiga restoran celebrity chef kenamaan yang ada di tempat ikonik Singapura ini yaitu di Adrift by David Myers, Bread Street Kitchen milik Chef Gordon Ramsay, dan CUT by Wolfgang Puck. Para penikmat kuliner maupun traveler yang singgah di Singapura bisa mencoba sisi lain kelezatan Impossible Food ini. Penasaran banget kan?

Aku beruntung banget bisa coba! Impossible Foods dari tiga restoran yang pertama dari delapan restoran yang akan menggunakan Impossible Foods di Marina Bay Sands Singapura. Plant-based beef dari Impossible 2.0 ini tidak mengandung gluten, kolesterol, dan animal hormone maupun antibiotik. Impossible foods dibuat dari daging nabati yang bersertifikat halal serta protein dan rasa leghemoglobin protein kedelai, suatu molekul yang menghasilkan rasa “daging”, sehingga walaupun sama sekali tidak dibuat dari daging rasanya hampir tak bisa dibedakan dengan daging.

Pertama aku diajak untuk mencoba menu di restoran Bread Street Kitchen (BSK) by Gordon Ramsay. Executive Chef Sabrina Stillhart dari BSK membuat tiga menu salah satunya yaitu The Impossible Flatbreat yang seperti pizza ini menjadi makanan pembuka. Adonan pizza tipis diberi berbagai topping yang terasa seperti daging namun sebenarnya terbuat dari tumbuh-tumbuhan.

“The Impossible Foods kita ciptakan sebagai tambahan untuk menu diet yang ditawarkan disini. Meski dibuat dari bahan dasar tanaman, rasanya tetap seperti daging yang kaya rasa dan tekstur yang tentu akan disuka para pecinta daging,” kata Chef Sabrina, sambil masak.

Tentu buat kamu yang sudah mengenal restoran ternama BSK by Gordon Ramsay, tahu dong kalau disini signature dishes yang terkenal adalah Beef Wellington. Nah, sajian ini kemudian dimodifikasi menggunakan daging patty dari Impossible Foods yang berbasis sayuran. Rasa daging di dalam adonan pastry renyah tetap terasa dalam tiap lapisnya, menu ini pun bisa jadi pilihan untuk vegetarian dan pecinta kuliner yang sedang mengurangi asupan daging merah. Disini ada juga kreasi The Impossible BSK Burger yang patty nya berbasis tanaman, dibandingkan dengan menu The Impossible Wellington tekstur dan rasanya sangat juicy seperti halnya menikmati burger berbasis olahan daging sapi.

The Impossible Sausage Roll sebagai salah satu jenis favourite Aussie comfort food

Karena takut kekenyangan, aku hany makan dua slice saja hehehe.. lalu berlanjut ke restoran Adrift by David Myers yang membuat The Impossible Sausage Roll sebagai salah satu jenis favourite Aussie comfort food. Hidangan sausage roll meski memakai bahan berbasis tanaman tetap terasa enak, bahkan tidak akan ada yang menyangka kalau isiannya bukan dari cincangan daging.

Perpaduan rempah seperti bawang putih, bawang merah, bubuk pala, ikut memberi rasa sedap sausage roll terasa tradisional berpadu lapisan pastry yang dipanggang dengan sempurna. Ini sih menurutku yang bikin beda dibanding The Impossible Wellington di restoran BSK by Gordon Ramsay, rasanya lebih berempah ada harum rosemary bahkan yang bisa aku cium juga bawang putih.

Dipanggang dulu dong patty-nya

Belum kelar nih petualangan kuliner hari itu, lanjut lagi jalan ke restoran CUT by Wolfgang Puck, kamu bisa menemukan burger mini dari Chef Joshua Brown yang mengkreasikan The Impossible Sliders menjadi remake dari signature restoran ini sebelumnya yaitu Mini Kobe Beef Sliders. Tiap gigitan patty terasa lembut dengan rasa dan aroma habis dipanggang yang menggoda pecinta burger. Meski isianya hanya party berbasis tanaman, keju dan saus tomat sederhana tanpa sayuran rasanya tetap sempurna.

Rasanya penasaran dan langsung ingin coba tentunya? Langsung saja kunjungi Marina Bay Sands di Singapura untuk menjawab rasa penasaran kami. Harga tiap menu tadi bisa didapat mulai dari $ 14 – 25 Dollar Singapura.

Ini burger saat masih ditata, btw burgernya mini aja

BALI - Indonesia, Indonesia, Liputan, MOUNTAIN, Traveling

Staycation Plataran Ubud – BALI

” Ladies and Gentlemen, we shortly will be landing at Ngurah Rai Airport, Bali. The local time now is 18.10, time in Bali is 1 hours ahead of Jakarta….. ,” suara pengumuman dari awak kabin

Sekitar beberapa menit sebelum mendarat, di bawah sana tatanan kota yang tak begitu rapih mulai terlihat. Juga air laut pasang yang seperti sedang menari-nari dan hal paling buat aku kaget adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ternyata kelihatan lumayan besar dari atas pesawat. Padahal dulu 2013, waktu pertama kali aku ke Bali patung itu belum sepenuhnya jadi. Aku juga hanya baru dapat berfoto dengan bagian kepalanya saja.

Akhirnya bisa menjejakan kaki lagi di Bali, setelah April 2017 silam solo traveling  hanya di seputaran Kuta dan akhir tahun 2018 ini aku bisa sebentaran “kabur” dari rutinitas dan penatnya ibu kota. Tempatnya di Ubud yeaayy! Ini seperti lagi dikasih Allah me time sejenak setelah berbagai hal terjadi. Warna warni dan jatuh bangun mental kehidupan cinta di tahun 2018.



Sesajian kalau orang Bali habis sembahyang,.. Bali banget ya..duh! Kaki sampai belang karena kebanyakan panasan

Rasanya tuh, Allah baik banget aku dikasih libur lagi walau statusnya sebagai reporter yang lagi “numpang” liburan colongan dengan staycation di Plataran Ubud, Bali. Semoga saja tercapai mimpi aku buat bisa balik lagi ke Ubud, tapi sama pasangan dan bisa explore tempat ini lebih intens.


Apa sih staycation itu? Kalau kamu belum tahu, staycation atau holistay adalah periode di mana seorang individu atau keluarga tinggal di rumah melakukan kegiatan rekreasi dalam jarak tak jauh dari rumah dan tidak memerlukan akomodasi atau waktu yang semalam. Jadi, kamu tinggal dan beraktivitas disekitar tempat menginap nggak jauh-jauh jaraknya ya sekitar 1-2 km dari hotel atau rumah.

Aku dijemput pihak Plataran Ubud jam6 sore di Kuta, soalnya ada lunch sama teman-teman liputan Sampoerna Foundation dan aku niat muterin Mall Beach Walk buat nyari oleh-oleh. Lumayan macet Kuta sore itu, aku saranin buat langsung ke Ubud aja dari Bandara Ngurah Rai. Daripada kan, waktu habis terbuang.. seharusnya aku bisa ikutan cooking class tapi jadi skip huhu 😐.

Jadi ngapain aja nih kegiatan aku selama staycation?

(1) Spa

Aku sudah niat dari Jakarta kalau sesampainya di Bali mau Spa. Masa bodoh bayarnya berapa, kebetulan untuk Spa kan bukan termasuk pelayanan kamar. I spend my money for Spa.. mahal buat gaji jurnalis rasanya tapi worth it aja kalau Spa di hotel biasanya tidak mengecewakan. Biasanya juga harganya paling murah Rp 500.000 per 60-90 menit. Mungkin Spa di Plataran Ubud ini masih kalah enak sama Spa-nya The Westin Jakarta yang pernah ku cobain juga. Tapi ya ini pas dapet diskon 30%, jadi aku cuma perlu bayar Rp 360.000 buat Spa berdurasi 1 jam yang sudah termasuk tax 22%, iya jangan kaget ya kalau tax untuk hiburan rekreasi memang sebesar itu.



Ternyata dari ruangan Spa kelihatan sawah -sawah, aku request supaya backsound musik yang mirip lagu kalo lagi yoga disetel lebih keras biar makin rileks

Rencana mau Spa juga seperti konsep law of attraction, jadi waktu pagi lagi sarapan ada mbak-mbak dari Spa nya Plataran Ubud and Spa yang memberikan gratis trial Spa selama 10 menit. Terus ditawari paket Spa dan diiming-imingi diskon. Ya sudahlah siapa yang bisa menolak diskon hehe. Jadilah aku Spa, tadinya mau malam sebelum tidur tapi melihat cuaca gerimis hujan aku ganti rencana Spa setelah sarapan jam 10 pagi.

(2) Mencoba Balinese Costume

Aku tertarik banget buat mencoba salah satu kegiatan yang free saat staycation di Plataran Ubud dengan foto-foto dengan kostum tradisional Bali. Tapi ya karena aku lagi nggak ada temen, akhirnya ku ajak receptionist hotel buat jadi temen foto soalnya kan garing kalo foto-foto sendiri.

Persawahan hijau khas di Ubud yang bakal aku kangenin

Seketika mood aku berubah, karena bisa ketawa-ketawa waktu kita seru-seruan foto. Niat juga sampai ke belakang persawahan Plataran Ubud buat ngambil foto berlatar belakang pemandangan hijau. Duh! Kalau begini caranya aku mestinya bawa pasangan buat sekalian liburan bareng.

(3) Tea Time

Hampir setiap hari ada free buat tea time di restoran Teras yang ada di Plataran Ubud. Makanan dan minuman untuk tea time kamu juga bisa dibawa ke kamar, tinggal pilih aja terus mintalah buat diantar. Tiba-tiba aku jadi manja banget minta dianterin ke kamar semua snack cemilan sandwich, buah, sama teh.

img_0659

Nggak apa-apa sesekali, soalnya ada pemandangan yang bagus banget dari beranda kamar aku. Bawahnya ada kolam renang dan sawah, pohon kelapa hijau juga menghampar. Makan malam pun juga di kamar, sambil nonton TV.

(4) Jalan-Jalan ke Monkey Forest

Aku penasaran belum pernah ke Monkey Forest. Ternyata lokasinya tidak jauh lho dari Plataran Ubud, hanya sekitar 2-3 KM berjalan. Ah! Kalau masih segitu bisa dong jalan, aku lalu dikasih peta sama mbak-mbak receptionist Plataran Ubud, gampang banget jadinya ke lokasi.

Masuk Monkey Forest kita perlu tiket masuk yang bisa dibeli seharga Rp 50.000, untuk orang asing sama harganya. By the way, aku saranin untuk memakai sepatu yang nyaman buat ke tempat ini. Soalnya kita itu seperti lagi trekking yang cukup jauh. Naik turun, mungkin yang jarang olahraga bakal ngos-ngosan. Beruntungnya orang macam aku suka banget olahraga dan trekking macam ke Monkey Forest, Ubud ini.

Monyet-monyet akur, kita dilarang memberi makan karena mereka sudah makan dari buah-buahan yang ada di hutan tumbuh alami

Seneng deh bisa berada dekat dengan para monyet ini. Soalnya mereka benar-benar berkeliaran di dekat kita dan perlunya kita waspada menjaga jarak aja serta membaca peraturan yang tertera supaya menghindari terjadi hal tidak diinginkan. Tenang aja tapinya kok, ada pawang monyetnya di dalam meskipun mereka berkeliaran. Tempat ini terasa udaranya segar soalnya hutan dengan pohon rerimbun, hal yang agaknya kurang ku suka adalah bau kurang sedap dari kotoran. Ya wajar kan ini hutan monyet, dimana pun mereka mau pup sah sah saja.

(5) Nge-GYM

Seminggu lamanya karena sibuk kerja, jogging pun terlewatkan. Beruntungnya aku masih bisa mengganti waktu berharga untuk ku olahraga dengan nge-Gym waktu staycation di Plataran Ubud. Pokoknya diniatin banget deh, sehabis Magrib dari kecapekan jalan-jalan trekking santai ke Monkey Forest, berlanjut sorenya Balinese Costume dan Tea Time ku sempatkan juga membakar kalori.

Dalam hati aku bilang, pulang ke Jakarta nanti nggak boleh beratku naik kebanyakan. Makan tiada henti dengan aktivitas banyak dan karena dapet cemilan tetap saja aku harus berolah raga. Beruntungnya di Gym hanya aku sendirian, lagi nggak ada yang pakai alat. Soalnya waktu kemarin malamnya sampai sempat melihat ada bule yang lagi jogging di tredmill. Lumayanlah malam itu bakar kalori sekitar 250 kal, malamnya pun ku hanya makan caesar salad dan jus wortel. Kwkwkw, sayang dong kalau olahraga malah percuma karena malamnya makan nasi.

(6) Kalau Mau Sepedaan Bisa

Sepedaan keliling Ubud, seru pastinya.. tapi fasilitas ini bukan bagian dari free pelayanan saat menginap. Kalau mau sepedaan yang harus dengan guide di Ubud kamu harus membayar sekitar Rp 200.000, nanti akan diantar keliling persawahan dan desa sekitar. Kalau mendengar penjelasan receptionist hotel sih worth it ya. Cuma sayangnya aku tidak keburu waktu buat sepedaan, soalnya aktivitas ini dimulai sejak pagi jam 08.00-10.00.

Sepedaannya harus diantar guide

Saranku kalau memang ingin staycation disini, cari tahu dulu jadwal untuk sesi free activity-nya. Ada cooking class, yoga (yang tidak sempat aku coba karena terlalu capek), sekaligus Balinese costume maupun membuat gebongan. Semua ada jadwal per harinya. Saranku juga sebaiknya menginap minimal 3 hari 2 malam supaya semua aktivitasnya tercover.

(7) Ke Pasar Ubud Bisa dengan Shuttel

Sebenarnya kalau jalan nggak jauh lokasinya, tapi ada shuttel atau mobil yang akan mengantar ke beberapa lokasi. Salah satunya kalau mau ke Pasar Ubud disarankan pagi-pagi sekitar jam 10. Shuttel ini ada pada pukul 10.00, 13.00, dan 15.00. Cuma menurutku kalian jangan terpaku sama shuttel buat berpergian kemana-mana. Karena jalan kaki pun dekat kok.

Asia, Liputan, Singapura - Asia Tenggara, Traveling

Menyambangi Art & Science Museum di Singapura

Pintu Masuk Art & Science Museum Future World, lokasinya hanya berapa meter saja berjalan dari Marina Bay Sands

Aku menyebutnya dunia yang futuristik, penggabungan antara seni interaktif dan sains. Future World yang membuatku terkesan saat memasuki dan mencoba berbaur dengan apa yang ada di dalam museum. Satu kesan yang berbeda untuk sebuah museum yang biasanya akan terasa membosankan ketika dikunjungi.

Art & Science Museum Future World yang ada di Marina Bay Sands menurutku sangat modern, seperti kesan yang didapat orang-orang kalau ke Kota Singapura. Aku seperti sedang memasuki dunia futuristik karya seni interaktif berteknologi tinggi Future World yang dibuat bekerja sama dengan teamLab, seni kolektif lintas disiplin yang terkenal. Pokoknya waktu masuk kamu bakalan terpesona dalam dunia seni, sains, sihir, dan metafora melalui koleksi instalasi digital mutakhir.

tiketnya kalau beli langsung di lokasi, harganya bisa di cek via website tapi rata-rata sekitar 15-40 $ Sing

Nah, mulai 1 September 2018, Future World ini diperbarui dengan sederetan lengkap karya seni baru yang menarik. Beruntung banget, aku berkesempatan buat mencobanya dan mengambil moment foto Instagramable di dalamnya.

FYI aja, Future World ini adalah pameran permanen. Instalasi akan berubah dan berkembang seiring waktu untuk menjaga pameran tetap segar dan relevan. Untuk memastikan semua pengunjung memiliki waktu yang cukup dan berkualitas untuk berinteraksi dengan setiap karya seni, waktu kunjungannya diatur. Yaitu pukul 10:00 AM, 11:30 AM, 1:00 PM, 2.30 PM, 4:00 PM dan 5:30 PM (entri terakhir). Aku saranin supaya membeli tiket secara online sebelum kunjungan. Selain Box Office Museum Art Science, tiket juga tersedia di Sands Theatre Box Office (B1, Marina Bay Sands).

Simak apa aja dunia futuristik dan moment Instagramable yang aku alami disana dengan berbagai tema ya…

Nature

Petualangan ku disini diawali dengan perjalanan imersif dan memesona seperti galeri alam yang menampilkan karya seni interaktif dan mendalam, menggunakan seni dan sains untuk membawa kamu ke dalam inti alam yang terdiri dari teknologi digital. Secara bersamaan dan ajaib menurut ku menghubungkan langsung ke dunia alam. Ada suasana ketika bunga-bunga berjatuhan dan kupu-kupu terbang kesana-kemari. Kita juga seperti diajak berinteraksi, waktu menyentuh si kupu-kupu.

Town, ini seperti area bermain untuk anak. Banyak banget sisi untuk cari moment foto yang Instagramable

Town

Perjalanan berlanjut ke sisi ruang lain. Wah tempat selanjutnya banyak diisi anak-anak dan balita yang seru bermain meluncur-luncur di perosotan. Tapi ini bukan Kota biasa, di desain seperti lanskap kota yang ramai dan hidup. Bahkan pengunjung bisa membangun dan mengisi kota-kota virtual. Anak-anak diajak menggambar dan hasil gambarnya bisa kita lihat di sebuah dinding. Pokoknya amazing sih, gambar mobil-mobilan ku bisa muncul danjalan-jalan di semacam video virtual. 

Balok-balok yang bisa jadi background foto Instagramable

Sanctuary

Jauh dari hiruk-pikuk kota, aku diajak untuk memasuki sebuah negeri impian yang untuk sesaat ketenangan. Sanctuary adalah oasis yang tenang di pusat Future World. Agak susah mengartikannya, aku nggak foto dan lama di ruangan ini.

Park

Beranjak dari kesibukan kota yang penuh hiruk pikuk, lalu kita diajak untuk mengunjungi taman rekreasi yang membangkitkan semangat. Pengunjung diundang untuk menghargai ‘permainan’ sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Pengunjung dari segala usia dapat belajar dan bermain menggunakan kombinasi aktivitas fisik dan teknologi digital.

Space

Masuki ke jantung Celestial Space menurutku ini ruangan yang paling seru. Ada lampu-lampu Kristal sebagai ending perjalanan di Future World. Siapa pun bakal terpesona sama keindahan dan besarnya kosmos dan sensasi melihat bentuk alam semesta digital yang dikemas monumental.

lampu-lampu kristal ini bisa berubah-ubah


culinary, Food, Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, SUMATERA SELATAN - PALEMBANG, The Journey, Traveling

Jalan-Jalan Ke Kota Palembang, Bukan Cuma untuk Kulineran Pempek!

Kalau kamu menyimak perhelatan ASIAN Games yang baru saja selesai akhir pertengahan 2018 ini, mungkin kamu pernah bertanya-tanya. Selain di Jakarta kok ada Kota Palembang sih yang jadi tempat penyelenggaraannya? Hmmm.. kenapa ya kira-kira? … *nanti diakhir coba aku jelasin

Nah, kebetulan (padahal di dunia ini semuanya tidak ada yang kebetulan lho). Nggak lama setelah ASIAN Games itu aku dapat kesempatan liputan ke Kota Palembang. Yassss! Sekalian dong kesempatan diajak kulineran.

FYI aku berangkat pagi hari, pesawat take off sekitar pukul 9.30 pagi dari Jakarta dan dengan penerbangan sekitar 1 jam lamanya kami sampai hampir tepat di waktu makan siang. Hufftt! Palembang panas sekali, kalau kalian mau tahu. Cuacanya mirip seperti waktu aku ke Bangka Belitung terik mataharinya hampir 35 derajat di bulan September lalu.

Kali ini aku bakal cerita secara berurutan saja ya, seperti itinerary kalau kamu datang ke Palembang dan enaknya ngapain aja di jam segitu atau cocoknya kulineran apa jam segini. Karena menurutku buat menikmati Kota Palembang itu perlu timing yang tepat. Oke langsung simak yuk!

DAY 1 Tiba Pukul 12:00 Siang

Makan Siang dengan Menu Pindang

1540746224714
(kanan ke kiri) Pindang Tulang dan Pindang Patin pilih mana coba?

Begitu sampai, aku langsung dibawa ke sebuah restoran yang terlihat modern. Hmm, lalu agak curiga apa enak makanannya disini? Skeptis karena biasanya tempat yang makanannya enak itu rame banget. Tapi ini sepertinya masih baru. Bener kan, biasa aja. Tapi aku rekomendasi aja buat kalian untuk makan siang yang cuacanya panas begini atau pun kalau lagi musim hujan. Cocoknya ya kulineran dengan menu pindang.

Pindang adalah masakan berkuah yang begitu terkenal di seantero Sumatera Selatan. Pindang disini ada banyak jenisnya. Nah, yang aku coba adalah Pindang Patin dan Pindang Tulang. Keduanya punya perbedaan citarasa yang menentukan selera lidah kalian juga. Kalau suka masakan berkuah kaldu aku sarankan untuk memilih Pindang Tulang yang memakai daging sapi bertulang. Namun kalau kamu penyuka pedas dan ingin kuah yang terasa segar aku rekomendasikan pilih Pindang Patin yang memakai daging ikan Patin.

Keduanya nggak salah, karena selera orang kan beda-beda. Si menu Pindang ini enaknya dimakan bersama nasi hangat dan ada tambahan sambal manga serta acar. Aku sukanya pada bagian Pindang Patin karena ada daun kemangi yang buat aromanya makin sedap, over all rasanya agak mirip Tom Yam masakan Thailand. Sementara Pindang Tulang menurutku rasanya lebih mirip seperti saat menikmati Sup Iga, sensasinya yang beda sih saat kamu melepas daging dari tulang-tulangnya sambil menyeruput si kuah kaldunya yang terasa light. Itu sih, sedikit cerita nikmatnya kulineran yang aku rasakan di siang hari bolong sebelum sampai ke hotel buat istirahat.

museum-sultan-mahmud
Salah satu sudut di Museum Sultan Mahmud Baddrudin II, foto : Trip Advisor

Pukul 14.00 Siang

Main Ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Ada waktu bebas begitu sampai hotel! Mumpung masih di Kota orang jadi aku ngajak dua reporter lain buat jalan-jalan sekitaran Jembatan Ampera. Kami pesan Grab Car! Hahaha bukan iklan berbayar ya, biar tahu aja kalau ternyata kamu bisa pesan transportasi online. Kota Palembang ya bukan kota kecil kan. Dulu bahkan katanya ini adalah Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya. Di Asia Tenggara dulu merupakan yang tertua. Wah banget aku baru tahu setelah masuk museum dan diterangkan oleh bapak Abi Sofyan, penjaga museum yang menemani kita keliling. Masuk museum ini bayar Rp 5.000 per orang, cukup murah ya. Di dalamnya sebenarnya nggak begitu bagus dan terawat isinya menurutku. Tapi sudah bagus ada museum ini jadi wisatawan lokal seperti aku jadi bisa mengenal sejarah hanya dengan melihat-lihat. Kamu bisa tahu baju adat Palembang, kamar pengantinnya, lalu cerita soal Laksamana Cheng Ho yang ternyata pernah beberapa kali datang dan ikut menyebarkan agama Islam disini. Hingga akhirnya etnis Cina juga percampurannya bisa tersebar di Palembang.

Pempek

Pukul 16.00 Sore

Waktunya Ngemil Pempek dan Beli Oleh-Oleh

Di Palembang ada banyak banget yang jualan Pempek. Di bandara pun ada beberapa brand restoran Pempek. Jadi memang nggak salah kalau disebut “Kota Pempek” haha. Tapi Pempek yang seperti apa dulu nih? Kalau googling pasti kamu bakal banyak banget rekomendasi. Menurutku sih, kembali lagi pada selera.

Nah, saat di Palembang kemarin aku mencoba 2 restoran Pempek berbeda. Untuk ngemil sore hari pertama aku mampir ke Pempek Beringing. Disini sekalian deh, beli oleh-oleh juga, ada Kerupuk Kemplang, Pempek yang versi frozen juga makanan khas Palembang lainnya. Menurut ku Pempek disini ya terasa ikannya, beda di bumbu yang lebih kental dan pekat dengan udang ebi yang sudah ada di dalam bumbu cuko.

IMG_9388
Berlatar pemandangan Jembatan Ampera, Kota Palembang di malam hari

Pukul 19.00 Malam

Makan Malam di River Side Restaurant dengan Latar Jembatan Ampera

Satu moment yang buat aku suka Kota Palembang adalah suasana malamnya dengan keindahan latar megahnya Jembatan Ampera, ikon kota ini yang dibangun sejak 1962 pada era Soekarno. Sambil menunggu menu makan malam siap, disini kamu bisa mengabadikan atmosfer malam Kota Palembang lewat berfoto menangkap dari jauh cahaya lampu terang Jembatan Ampera. Benar kata penduduk lokal yang menasehati saya waktu siang hari bertanya gimana cara ke Jembatan Ampera. Tempat ini memang lebih bagus dilihat saat malam hari.

Makan malam di River Side menurutnya biasa saja rasanya, standart. Namun karena suasananya semua terasa jadi enak, hehe. Aku tetap rekomendasikan tempat ini untuk kamu menghabiskan waktu malam menikmati suasana kota. Jangan lupa supaya pulangnya minta diantar untuk melewati Jembatan Ampera, supaya kamu pun merasakan gimana megahnya (dan menurutku memang terasa megah) jembatan ini. Sementara di siang  hari aku melihat kawasan ini terlihat kumuh ya. Ada pasar di dekatnya dan di kolong jembatan ada pedagang kaki lima berjualan. Bahkan seperti ada pasar kaget orang lokal yang menjual barang bekas. Aku agak kecewa ternyata Palembang kalau siang hari terlihat kumuh di kawasan ini.

Aku sih berharap, Kota Palembang yang merupakan salah satu Kota besar di Nusantara dan yang notabene dulunya ibu kota Kerajaan Sriwijaya bisa lebih bagus tertata. Wah, kemana aja ya dana Anggaran Pembelanjaan Daerah (APBD) kalau kotanya masih kumuh begini. Memang di kota Pempek ini karena beberapa kali sempat jadi tempat perhelatan olahraga skala Internasional, ada stadion besar dan pembangunan LRT hingga ada moda transportasi itu sekarang.

Tapi menurutku sisi latar sejarah Palembang, Kerajaan Sriwijaya, dan katanya dulu dijuluki “Venice From The East” seharusnya tidak begini. Harus banyak perbaikan, seperti yang kulihat dari Kota Semarang yang jauh berbeda ketika tahun 2011 pertama kali aku berkunjung dan di tahun 2018 kemarin Semarang menjadi lebih tertata apik.

Martabak HAR dyahpamelablog
MARTABAK HAR yang terinspirasi kuliner India, harus dicoba kalau ke Palembang

DAY 2 Pukul 15.00

Ngemil Martabak HAR dan Pempek Lagi!

Hari kedua di Kota Palembang yang sembari business trip itu aku menyerah karena sehari saja sudah kekenyangan, tapi belum semua kuliner khas di kota ini aku cobain. Mesti di capslock ya BELUM SEMUA. Akhirnya, pilihlah yang sekiranya buat aku penasaran seperti Martabak HAR yang memang beda dari martabak yang pernah aku cobain.

Martabak HAR diperkenalkan oleh Haji Abdul Rozak tahun 1947, tempat ini menyajikan makanan khas India yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Nggak heran kalau ada kuah kari kental dengan daging sapi dan kentang sebagai pasangan saus untuk si martabaknya yang cenderung tidak berasa karena hanya adonan terigu dengan isian telur tanpa daun bawang seperti martabak kebanyakan. Pokoknya harus coba menurut ku sih di tempat lain di Indonesia nggak ada soalnya, cuma di Palembang.

Menjelang sore akan siap-siap ke bandara, lalu aku diajak makan Pempek lagi. Hahaha, biar eneg deh sama Pempek pokoknya mumpung lagi ada di Palembang. Sekejap aku merasa kalau memang kurang cocok dengan Pempek berkuah asam. Soalnya di hari pertama pun aku sudah nggak enak badan dan upppss tidak perlu disebutkan disini bagaimana gejolak asam lambungku lantas menyebabkan apa. Tapi guys, masih banyak kuliner Palembang lain lho. Ada Mi Celor juga, hahaha maafkan karena perutku sudah nggak sanggup. Mungkin next time ya kalau kesempatan berkunjung ke Palembang lagi.

Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Tujuh Cara Asik Menikmati Kota Singapura ala Turis

shop at marina bay sands
Dari hotel Marina Bay Sands, ada akses masuk untuk bisa langsung ke mall

Sekali-kali jadi turis saat ke Singapura, salah satu kota mahal di dunia. Kali ini aku pergi ala turis, soalnya bawa koper yang biasanya ya naik MRT ala rakyat jelata gendong tas backpack. Terus, menginap di hotel bintang lima dengan segala fasilitasnya yang jelas (belum) mampu aku bayar sendiri. 

Kadang suka khawatir jadi kurang bersyukur, kira-kira kalau sudah biasa ke tempat begini lalu aku jadi merasa biasa saja ketika ada di lingkungan yang sederhana. Ndak boleh nih, nggak boleh melihat ke atas. Justru lagi melatih banget berendah hati, nggak boleh kagum sama dunia. *lho curahan hati kok nih jadinya…

img_8885
pemandangan dari balkon hotel Marina Bay Sands

sekedar sharing pengalaman dari liputan 3 hari di Singapura yang bersponsor itu, ada banyak cara asik buat menikmati Kota Singapura. Apa aja??? Simak ya… jalan-jalan asik ala reporter lifestyle ibu kota yang lagi di endorse 🤣🤣✌🏻

(1) Menginap di Premier Room King Size, Marina Bay Sands

Marina Bay Sands kan salah satu ikon Kota Singapura, nggak salah dong kalau menginap disini menjadi begitu prestisius. Tapi ya, mungkin aku harus punya tabungan berapa dulu buat nginep disini? Sementara aku belum pernah pergi umroh, 😂😂 yang jelas pemandangan di Premier Room King Size beda dengan jenis kamar lainnya. Menghadap ke arah teluk dan Garden by The Bay, cantik dari kejauhan karena keapikan warna Anggrek dan Teratai, ikon bunga khas Singapura. Kamu juga bisa lihat matahari terbit dari balkon hotel. 

img_8882
Pemandangan dari Balkon Hotel kamar Premium

Menurutku kelas Premier Room King Size ini mirip sama hotel bintang 5 lain sekelas Raffles Hotel Singapura yang juga pernah aku cobain. Standart ruangnya ya, tapi yang buat spesial hanya karena pemandangan dari balkon kita aja yang buat harganya jadi kisaran Rp 5 juta per malam (di email bill tagihan harga kamar ini dua malam $ Sing 1224). Kasur, bath up, fasilitas hordeng dengan remote, TV, wifi, layanan kamar, dll standart hotel bintang 5 seperti halnya juga di Jakarta.

(2) Brunch seru di Lavo Restaurant, Lantai 57 Marina Bay Sands

Masih ingin memandangi Kota Singapura yang cantik dari ketinggian? Pas sekali kalau diselingi menikmati brunch hidangan Italia di Lavo Restaurant. Aku rekomendasiin kamu buat pesan menu Avocado Toast dan juga Chicken & Waffle. Disini juga ada namanya dessert 20 Layers Cake, yang jangan dimakan berdua aja tapi perlu satu keluarga karena tinggi banget cake-nya. Kamu bisa ke restoran ini walau tidak menginap, langsung saja naik ke lantai 57 dan bilang mau makan di Lavo Restaurant. 

Kota Singapura kan panas banget tuh, nggak kalah sama Jakarta. Jadi, kalau habis brunch matahari yang terik itu bisa buat hasil foto kamu yang background-nya pemandangan cantik Singapura makin bagus.

Lalu kamu bisa melihat dengam teropong, gedung-gedung diseberang sana. Restoran ini juga punya banyak sudut yang Instagramable, seperti di dekat tangga toilet juga sisi pertama ketika masuk ke dalam restoran. Jadi recomended banget buat kesini, harga makanannya rata-rata Sing $ 20-30 lah, masih bisa kebeli hehe. 

me at marina bay sands
di Lavo Restaurant bisa liat view Kota Singapura

(3) Berenang di Infinity Pool, Marina Bay Sands

Nah, di lantai 57 juga adalah tempat Infinity Pool buat memandangi dengan apik dari atas Kota Singapura sambil berenang. Cuma kalau mau berenang disini ya harus menginap di Marina Bay Sands, karena masuknya pun dengan akses kartu kamar hotel kita. Hmmm.. aku yang punya akses nggak menyempatkan berenang sih, soalnya nggak ada waktu. Tapi sempat masuk dan itu rame banget sama orang.. perhatiin aja kira-kira jam anti sibuk. Kan kurang nyaman juga kalau kolamnya penuh, apalagi kalau long weekend atau high season banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka berlibur.

invinity pool at marina bay sands singapore
invinity pool at Marina Bay Sands Singapore

(4) Mengunjungi Art and Science Museum Future World 

Tak perlu jauh-jauh mencari atraksi yang menarik sampai harus pergi ke Sentosa. Menurutku mengunjungi Art and Science Museum Future World yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki sebentar dari hotel yang punya akses langsung ke mall di Marina Bay Sands itu. Tiket masuknya kisaran Sing $ 20-40 tergantung mana yang mau dimasuki. 

Menurutku menarik sih isinya, apalagi Future World ini punya “wahana” yang baru. Cocok banget tempat ini untuk membawa anak liburan. Aku pun merasa amazing dengan tempat ini, antara teknologi dengan seni yang dikawinkan semuanya terasa indah dan menabjubkan mata serta indra sentuh kita yang lain.

img_9002
ini ruang pertama yang aku masuki di Art & Science Future World

(5) Jogging Pagi di Garden by The Bay

Aku suka banget jogging dan hampir selalu bawa sepatu lari kalau lagi liputan ke luar kota atau luar negeri. Pilihan tepat banget waktu kemarin bawa sepatu jogging, karena sangat beda rasanya pukul 07.00 pagi di Singapura dengan Jakarta. Epic! Waktu disini memang lebih dulu dibanding Jakarta dan jam 07.00 pagi itu masih agak gelap Singapura. 

Aku turun ke lobi lalu cari tahu dimana jalan masuk ke Garden by The Bay, butuh naik tangga dulu dan ternyata indah banget pemandangannya ketika orang-orang kebanyakan masih terlelap tidur tapi justru hawa dingin, segar udara, buat berbeda.. btw siap-siap jaket lari anti angin anti air ya. 

img_8898
pemandangan dari balkon hotel Marina Bay Sands kalau menginap di Premium King Size Room

(6) Naik Gondola ala Venice di Mall Marina Bay Sands

Kebanyakan orang pergi ke Singapura itu ya tujuannya untuk belanja. Terutama yang peminat brand kelas atas, cari ya di Mall Marina Bay Sands, karena di tempat ini koleksi maupun edisi khusus lebid dulu ada. Kalau nunggu di Indonesia koleksi tertentu brand terkenal rilisnya masih harus nunggu lebih lama.

Sekalian kalau memang berniat shopping saat pergi ke Singapura, cobalah atraksi yang satu ini. Sebelum ke Venice buat ngerasain naik gondola, ya cobain aja dulu yang ada di mall Marina Bay Sands hehe. Aku nggak tahu berapa sewanya sih ya, nggak sempat karena harus kesana kemari liputan. Jadi cuma bisa sekilas melihat ada bule atau turis naik gondola.

img_9056
ala ala Venice, ada gondola juga di Mall Marina Bay Sands

(7) Melihat Spectra A Light & Water Show di depan Marina Bay Sands

Kalau malam sekitar jm 20.00-21.00 di Teluk Marina selalu ada pertunjukan bagai di negeri dongeng. Sinar lampu dari laser, permainan warna, mirip kembang api tapi bukan. Yang makin menunjang suasananya adalah musik pengiring dan latar dari kapal-kapal yang lalu lalang di dekat Teluk ini. Aku juga lihat banyak sekali orang dan turis yang berkumpul untuk melihat ini. Tak berbayar sih, cuma kalau harus pulang malam ya enak pas nginep di Marina Bay Sands dong. Nggak perlu lagi cari MRT, agak jauh turun naik tangga dan ke stasiun.

Melihat pertunjukan ini saya jadi teringat saat menonton “Song of The Sea” di Universal Studio, saat ke Sentosa (bagian lain Singapura). Kamu nggak perlu jauh-jauh menikmati itu, cukup ke Marina Bay Sand aja.

futuristik at marina bay sands
Spectacular performance for me, tiap jam 21.00 malam di Marina Bay