culinary, Food, Indonesia, JAVA - Indonesia, Kuliner, Liputan, story, The Journey, Traveling

Sehari Kulineran Legendaris di Kota Semarang

Cerita business trip singkat yang cuma sehari semalam di Kota Semarang masih berlanjut guys! Kalau kemarin aku sudah posting tentang bangunan penuh sejarah Lawang Sewu, selanjutnya tidak boleh ketinggalan kalau ke Kota Lumpia adalah jelajah kuliner legendarisnya yang terpengaruh era kolonial Belanda dengan percampuran budaya Jawa dan Cina juga.

Tapi tunggu dulu, masih ada yang bingung kah sama istilah legendaris? Menurut pakar kuliner William Wongso, kuliner bisa dikatakan legendaris bila sudah masuk generasi ke-3, artinya sampai cucu ya diturunkan dan usia kulinernya sekitar 150 tahun. Namun, 5 tempat kuliner ini tetap bisa disebut legendaris kok, rata-rata dimulai sekitar tahun 1920-an hingga tahun 1987-an dan dari awal tempat makan berdiri sampai sekarang rasanya masih sama. Yuk langsung disimak apa aja 🙂

Soto Semarang yang bening, kuahnya kaldu banget

(1) Nasi Pindang Gajah Mada

Begitu sampai Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, aku langsung dijemput tim Public Relation (PR) Ciputra dan tak lama elf kami menuju tempat kuliner legendaris pertama yaitu Nasi Pindang Gajah Mada. Langsung saja terbayang piring dengan alas daun dan nasi yang disiram kuah pindang dari kaldu sapi panas. Slurrpp, rasanya nggak ketulungan ngilernya.

Sampai aku menuliskannya di blog, masih terasa enaknya kuah pindang sapi yang memakai nasi dengan porsinya memang sedikit. Kata Pak Masyudi, pemilik Nasi Pindang Gajah Mada, dulu priyayi di Kesultanan Yogyakarta dan Solo itu kalau disuguhkan makanan ya porsinya kecil segini.

Rasa Nasi Pindang Gajah Mada tidak berubah sejak tahun 1987. Semuanya berkat racikan bumbu menggunakan bawang lanang tunggal yang punya ciri khas aroma berbeda dan ada khasiat menurunkan tekanan darah tinggi. Selain menu andalan Nasi Pindang, sejak tahun 1990-an Pak Masyudi ikut memberikan pilihan menu Soto Semarang, yang cocok rasanya untuk Anda yang suka dengan kuah bening.

Nah, aku juga mencicip Soto Semarang yang bening ini, sesuai selera aku banget memakai tauge yang kecil dan berbagai pelengkap seperti daun seledri. Karena porsinya kecil, setelah nyobain nasi pindang sah sah aja tuh kalau mau nambah seporsi Soto Semarang. Nggak kan bersalah sama perut.

Nasi Pindang Gajah Mada

Alamat : Jl Gajah Mada no 98 B, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 17.000

Jam Buka : 06.00 – 22.00

Bayangkan kepala Ikan Manyung sebesar ini, apalagi badannya?

(2) Warung Kepala Manyung Bu Fat

Kemudian, jelajah kuliner berlanjut agak jauh dari pusat kota yang butuh sekitar 30 menit berkendara. Ada Warung Kepala Manyung Bu Fat yang begitu terkenal dan sangat khas kota Semarang. Kepala Manyung yang berukuran besar itu sebelumnya diasap diberi bumbu pedas khas Bu Fat. Di warung makan ini, ikan manyung didapat dari perairan Jepara, Cirebon, hingga Banyuwangi.

Selain ikan manyung yang khas dan harus dicoba ketika datang, temukan juga macam hidangan lain sebagai pelengkap mulai dari sayur, goreng-gorengan, botok, hingga lalapan. Aku rekomendasi kamu untuk pesan kepala manyung buat makan sharing, hehe. Karena pedesss banget bumbunya ambil nasinya juga mesti banyak hehehe. Cocok buat makan siang, yang agak berat ya.

Warung Manyung Bu Fat

Alamat :

Cabang 1 Jl Sukun Raya No 36, Srondol Wetan, Banyumanik

Cabang 2 Jl Ariloka, Kerobokan Semarang Barat

Harga Per Porsi : Rp 75.000 – 150.000

Jam Buka : 07.00 – 19.00

Pisang plenet yang di Jalan Pemuda

(3) Pisang Plenet

Mendekati sore hari aku diajak tim public relation Ciputra mampir untuk menikmati dessert. Pisang Plenet yang sudah terkenal di Semarang sejak tahun 1960-an tentu cocok jadi makanan kudapan sore. Pisang plenet dibuat dari pisang kepok yang dibakar lalu dipipihkan dan diberi topping aneka rasa.

Sang penjual, Pak Tri telah berjualan pisang plenet dengan gerobak di jalan Pemuda sejak awal. Semula, pisang plenet hanya menggunakan topping nanas, mentega, dan gula putih halus. Namun seiring waktu ada banyak rasa ditambahkan seperti menggunakan keju dan meses cokelat.

Pisang Plenet

Alamat :  Jl. Pemuda, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 8.000

Jam Buka : 10.00 – 22.00

Asem-asem Koh Liem yang seger dan melegenda itu

(4) Asem-Asem Koh Liem

Perut sudah bener-bener kenyang hehe. Sehari rasanya memang nggak cukup buat nyobain semua kuliner legendaris di Semarang. Makanya kapan nanti aku niat banget untuk balik lagi ke Semarang buat liburan. Nah, untuk makan malamnya, aku menyambangi juga warung yang juga legendaris di Semarang yaitu Asem-Asem Koh Liem.

Spesial menu asem-asem disini menggunakan daging dan urat. Dalam semangkuk asem-asem, rasa asem berasal dari tomat, belimbing wuluh, dengan pedas dari cabe merah rawit dan kecap merek Mirama khas produksi Semarang, menjadikan menu asem-asem disini makanan khas yang Semarang banget. Menu di tempat ini berisi berbagai sajian dengan pencampuran Jawa Tiongkok, selain pesan semangkuk asem-asem coba juga telur goreng sum sum yang begitu gurih dan enak.

Asem-Asem Koh Liem

Alamat : Jl. Karang Anyar No. 28 Semarang

Harga Per Porsi : Rp 33.000

Jam Buka : 07.00 – 17.00

Ini es krim jadul di Toko Oen yang aku cobain

(5) Toko Oen

Terakhir, jika ke Semarang jangan lewatkan untuk menyambangi Toko Oen. Kalau memang sudah nggak kuat makan maka kesini ya untuk beli oleh-oleh seperti lumpia. Sudah turun-menurun tempat ini mempertahankan cita rasa makanannya, bahkan interiornya masih bergaya Belanda. Menjadi saksi sejarah penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.

Ada banyak jenis roti jadul seperti roti gandjel rel, tapi katanya juga disini yang enak roti telurnya. Aku bawa pulang ke Jakarta dengan harga rata-rata satuannya Rp 6.500. Rasanya nggak ada roti dengan rasa klasik ini ada di Jakarta.

Toko Oen

Alamat : Jl. Pemuda No.52, Bangunharjo, Semarang Tengah

Harga Per Porsi : Mulai dari Rp 6.500 untuk bakery dan pastry

Jam Buka : 09.30 – 21.30

Kulineran yang aku sambangi ini belum ada apa-apanya lho, tapi lumayan lah sudah mewakili rasa legendaris Kota Semarang. Menurut Irzal, dari Kompas.com, teman media yang seperjalanan diundang sama Ciputra, masih ada Es Krim Cong Lik yang jadul dan mesti dicoba juga. Nah, makin kepingin balik lagi rasanya..

Bersama teman-teman media dari Jakarta dan media lokal di Semarang, serta tim public relation Ciputra
Advertisements
Indonesia, JAVA - Indonesia, Liputan, story, Traveling

Lawang Sewu Tanpa Cerita Seram

Bangunan tua peninggalan zaman dulu, dari era Belanda berabad lalu, sering banget dikait-kaitkan dengan cerita seram. Masih ingat kan sama cerita blog aku soal horor di Benteng Belgica, Terusik Cerita Hantu di Benteng Belgica Banda Neira daerah Pulau Maluku sana kan?

Kamu juga pasti tahu tentang Lawang Sewu di Kota Semarang yang terkenal itu. Pokoknya belum SAH! Datang ke Semarang kalau belum ke Lawang Sewu. Nah.. waktu dulu ke Semarang, tahun 2012 saat liputan ke Demak dan mampir Kota Semarang aku belum sempat masuk ke Lawang Sewu, soalnya lagi trip sendirian. Ndakkk berani sebutlah begitu..

Then.. baru pertengahan Juli 2018 ini, saat media trip aku berkesempatan untuk menyambangi Kota Semarang termasuk di dalam itinerary ada wisata sejarah ke Lawang Sewu. Pucuk dicinta ulan tiba.. akhirnya ke Lawang Sewu juga, tapi jangan berharap cerita blog kali ini ada horornya ya.. ndak ada, karena sekarang Lawang Sewu sudah tanpa cerita seram lagi sejak direnovasi jadi bagus.

foto di bawah pohon yang adem itu
foto di bawah pohon yang adem itu

Lawang Sewu, dahulu merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS yang mengurus soal perkeretaapian di zaman Pemerintahan Belanda. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.

Awal bangunannya itu tidak langsung sebesar itu dengan semua gedungnya, tapi bangunan pertama dan kedua adalah sebuah tempat untuk percetakan karcis dan pos keamanan, baru kemudian dibuat ruang kerja pegawai perkeretaapian.

Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein bangunan ini kan dalam bahasa Jawa artinya pintu seribu ya, tapi sebenarnya pintunya tidak seribu percis jumlahnya, malah kurang, ada 928 pintu.

wajib! foto di balik pintu Lawang Sewu
wajib! foto di balik pintu Lawang Sewu

Menurut Aris, pemandu wisata di Lawang Sewu, kalau orang dulu menyebut 928 kedengarannya kurang enak dalam bahasa Jawa, jadi anggap saja 1000 jumlah pintunya.

Agak membosankan tanpa cerita seram? Hmmm.. mungkin iya, tapi kalau datang kamu bisa belajar sesuatu tentunya. Misalnya tentang bagaimana dulu orang Belanda merancang bangunan agar tetap adem. Btw Lawang Sewu itu didesain dengan atap setinggi 5 meter, sebuah kebiasaan untuk orang Belanda katanya kalau buat bangunan atapnya tinggi biar adem. Tahu sendiri kan Semarang itu panas.

Lalu ada sistem basement di bawah sebagai tempat penampungan air, itu juga yang buat ruangan jadi adem. Dulu kan belum ada AC, dan lantai marmer asli dari Italia juga membuat adem.

Lawang Sewu
Hanya dua lantai saja, tapi karena atapnya dibuat tinggi 5 meter, kelihatan bangunannya menjulang.

Ada sebuah pohon besar di tengah bangunan, itu juga yang membuat adem menurutku. Setidaknya, dibawah pohon itu juga jadi bisa foto ala-ala Instagram 😂🙌🏻. Makanya biarlah walau kaki aku terasa pegal karena pakai high heels 7 cm tiada menyesal pun, padu padan fashion aku yang agak salah kostum soalnya ndak santai itu (blouse putih + high waisted jeans) paling tidak membuahkan hasil foto aku yang kelihatan jenjang. Hahaha

Kalau kesini orang-orang biasanya foto di balik pintu si Lawang Sewu. Menurutku tidak ada salahnya mampir lagi dan lagi ke Lawang Sewu, meski sudah tidak ada cerita seramnya yang justru buat penasaran. Ajak teman atau saudara sepupu yang belum pernah melihat ke dalam museumnya, toh harga tiketnya pun hanya Rp 10.000 untuk orang dewasa maupun mahasiswa.

Lawang Sewu Semarang dyahpamelablog
Foto-foto di Lawang Sewu tetap bisa Instagramable