Backpacker, culinary, Food, Kuliner, MOUNTAIN, story

Makanan Yang Bikin Kangen Ke Gunung

Cuma disaat-saat traveling saya bisa bebas makan apa aja, tanpa memikirkan berapa kalori yang tertera di label makanan ūüôā .. Bahkan Indomie yang saya jarang makan (hanya semangkok mie instan itu 360 kalori, kan harus dibales lari 1 jam!). Kalo inget beberapa makanan ini, saya jadi inget gunung, apa aja coba?????

1. Mie Instant

Mie instant yang mereknya Indomie,… dan terkenal sampai mancanegara, nggak boleh lewat jadi logistik. Walaupun cuma bawa 1 aja… jelas makanan ini nggak sehat sih, karena bergluten, yang susah dicerna lambung kita. FYI, baru tiga hari mie instant bisa dicerna tubuh, oke tapi berhubung jarang-jarang kan,,, selamat datang konstipasi.

Walau wujudnya pas disaji nggak begini sih, mie instant favoritnya semua orang. Dokumen foto : indomie.com

2.Coki-Coki 

Bukan cuma jadi jajanan masa kecil, coki-coki ini juga cemilan iseng waktu di gunung. Tau kan gimana efek cokelat itu buat mood kita??? karena ketika mengkonsumsi cokelat tubuh pun menghasilkan hormon endorfin yang memunculkan rasa bahagia. Diemut-emut perjalanan di gunung jadinya nggak terasa.

Ngemut Coki-Coki itu ya inget masa kecil.
Ngemut Coki-Coki itu ya inget masa kecil.

3. Silverqueen Bites

Sebenarnya saya kurang suka makan cokelat yang kandungan kakao-nya dibawah 50%. Saya suka cokelat yang pait dengan kandungan kakao diatas 60%. Tapi tumben banget waktu terakhir ke gunung kemarin bawa cemilan Silverqueen Bites ini dan langsung suka. Pertama karena makannya nggak ribet, kedua karena bisa diemut, terus ketika di dalam cokelatnya ada kacang. Terutama kacang Almond saya suka banget, yang katanya juga menghasilkan hormon endorfin.

Kalau aku lebiih suka yang kacang Almond dan diketahui kacang Almond itu juga menghasilkan hormon endorfin.
Kalau aku lebih suka yang kacang Almond dan diketahui kacang Almond itu juga menghasilkan hormon endorfin.

4. Bubur Kacang Hijau + Roti Tawar

Merasa nggak sehat dengan menu mie instant?? ide lain bisa coba buat sarapan dengan bubur kacang hijau. Enak banget, pagi-pagi hangat di cuaca gunung yang dingin. Jangan lupa bawa roti tawar juga sebagai sumber karbohidrat penguat, walaupun roti tawar termasuk makanan bergluten, yang susah dicerna lambung, better lah daripada mie instant yang 3 hari baru bisa diproses tubuh.

aku suka kacang hijau yang hangat di pagi hari, terus dicelup roti tawar. nyummm
aku suka kacang hijau yang hangat di pagi hari, terus dicelup roti tawar. nyummm

5. Lauk Kering

Lauk kering seperti kering tempe dan kering kentang dipedesin atau dikecapin itu awet banget loh kalo dibawa ke gunung sebagai campuran nasi dan mie. Jadi inget pas ke Rinjani, hampir seminggu makan campuran nasi dan mie dengan kering tempe, kering kentang, bahkan ayam kering, dan daging kering serundeng. Tiada terkira bosennya…… (tapi tetep dimakan dan bisa buat di sharing ke tetangga kemping)

6. Pisang

Bagi saya buah yang awet, cepet bikin kenyang dan gampang dibawa itu Pisang. Hobi banget makan Pisang, apalagi buat pengganjal perut di waktu sarapan. Pagi-pagi itu enaknya makan dulu Pisang, terus setengah jam setelahnya disusul makan nasi. Pisang buah yang terjangkau, terus kalau bosen dimakan gitu aja, bisa juga dibuat jadi Pisang cokelat keju bakar. Nyum…nyummm

Selain bisa jadi buah di pagi hari, bisa juga dibuat Pisang Cokelat bakar :)
Selain bisa jadi buah di pagi hari, bisa juga dibuat Pisang Cokelat bakar ūüôā

Ide makanan di gunung itu sebenarnya masih banyak lho…. bisa buat sarden ikan, kornet, dll. Kalau saya pasti prepare bawa kurma dan madu juga (tetep pilih yang sehat). Cuma ada yang heboh lagi waktu ke Rinjani, soalnya pendaki juga bawa sosis, nugget, bahkan niat bikin tempe atau bakwan.

Abis dari gunung dengan persediaan makanan di atas tadi saya tetep kangen dan histeris (dalam hati) kalau ketemu supermarket macam Indomeret atau Alfamart. Hehehehe, bukan apa-apa sih, saya cuma kanget makan ice cream ūüėÄ ūüėÄ

Advertisements
Indonesia, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia

Traveling With My Soul – Rinjani!

Sampai juga di perhentian gerbang pintu Senaru. Setelah masa kritis semalaman hingga sekitar jam 02.00 dini hari baru bisa tidur di sebuah balai bambu terbuka.
Di perhentian gerbang pintu Senaru. Setelah masa kritis semalaman hingga sekitar jam 02.00 dini hari baru bisa tidur di sebuah balai bambu terbuka.

Teaser :

Terbangun sebelum alarm berbunyi adalah kebiasaan baru, dengan refleks pertama bergegas melihat jam yang melekat di pergelangan kanan tanganku (jam tangan yang tak pernah kulepas sejak hari pertama di Rinjani). ¬†Aku beringsutan, melawan kantuk dan hanya mampu tersadar bahwa ini waktu untuk kembali mendaki. Detik itu pendakian yang sebenarnya dimulai…

Ketika itu hari masih gelap, walau sebenarnya terang karena dihiasi cahaya bintang-bintang yang jarang sekali bisa kulihat. Hampir pukul 01.00 dini hari meski dengan cuaca yang tak terlalu dingin buatku (sekitar dibawah 20 derajat Celcius). Mungkin tak menjadi dingin karena dua lapis baju beserta jaket outer, tiga lapis kaos kaki, dan dua lapis kaos tangan yang ku kenakan.

Ini bukan pendakian biasa pikirku waktu itu. Sebelum berangkat di hari H, banyak rekan yang berujar, tentang medan pendakian, membagi pengetahuannya tentang gunung yang menurut masyarakat Lombok setempat dan penganut Hindu Budha merupakan tempat suci. Satu dari tiga gunung yang disucikan. Pengetahuan yang baru kudapat sebelum beberapa jam take off penerbangan kembali ke Jakarta.

Di perhentian Pos 1 Gerbang Sembalun, jalan cukup jauh 3 jam lebih tapi banyak istirahatnya. Inilah pemandangan pertama setelah sempat melewati hutan, rerumputan dan savana :D :)
Di perhentian Pos 1 Gerbang Sembalun, jalan cukup jauh 3 jam lebih tapi banyak istirahatnya. Inilah pemandangan pertama setelah sempat melewati hutan, rerumputan dan savana ūüėÄ ūüôā

——————————————————————————-

Bisa mencapai Gunung Rinjani itu seperti sebuah mimpi yang jadi nyata. Sebab hasrat untuk bisa kesana sebetulnya telah ada sejak masih kuliah dulu. Semuanya terpengaruh karena tayangan Tv apalah namanya Jejak Petualang (tahun 2004-an). Siapa sih presenternya, 2006 udah bukan Riyani Djangkaru sih….¬†Ah,… keren banget ini presenter Tv dan keren banget ini pemandangannya, gunung berapi tertinggi ke-2 di Indonesia¬†(3726 mdpl)

Bukit-bukit yang terlihat dari kejauhan, hari ke-2 pendakian melewati bukit penyesalan. Nanjak terus.... and at the time i think it's never ending
Bukit-bukit yang terlihat dari kejauhan, hari ke-2 pendakian melewati bukit penyesalan. Nanjak terus…. and at the time i think it’s never ending. photo By: Dyah Ayu Pamela

Saya bukan anak gunung, nggak paham soal gunung, bahkan waktu itu sama sekali nggak kebayang seperti apa peralatan orang naik gunung, tapi bisa-bisanya punya keinginan susah macam begini (lalu pegang kening). Dan masih ingat banget tahun 2012 saya udah nanya-nanya ke Backpacker Store via twitter, via email dapet itinerary juga buat ikutan trip-nya, tapi kemudian masih pikir-pikir. Sibuk liputan sana-sini di desk lama dan nggak sempat cuti juga, saya melupakan keinginan itu…

Dan kalau diceritain bagaimana saya bisa kenal ketiga partner buat pergi ke Rinjani ini bakal lebih panjang lagi ceritanya. Tapi semuanya berjalan mengalir begitu aja (and i know, everything in life is pre written) mulai dari kepergian ke Pahawang, gunung Papandayan dan traveling ke tempat-tempat sebelumnya. Lalu jadi teringat kutipan salah satu penulis favorit saya.

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it,” Paulo Coeho – The Alchemist.

Plawangan Sembalun, lihat bukitnya..... amazing, saya kecil banget, hanya sebuah titik dibanding pemandangan bukit dan gunung itu.
Plawangan Sembalun, lihat bukitnya….. amazing, saya kecil banget, hanya sebuah titik dibanding pemandangan bukit dan gunung itu. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 1 :

Kami berempat pergi dengan pesawat yang take off jam 05.00 pagi, Sabtu (9/5) 2015, supaya siang harinya bisa langsung trekking pendakian. Start sekitar jam 12.30 selepas Zuhur, perjalanan dimulai dari Gerbang Sembalun, melewati pemukiman warga, sawah dan ladang. Setelah tentunya melakukan pendaftaran, Zuhur-an, membeli makan siang, packing ulang tas carrier, welfie, dan ngabisin seloyang brownies :D. Ohya masing-masing  membawa 3 liter air untuk persediaan.

Rute-nya masih datar, ada jalan menurun dan naik sedikit, lalu baru 40 menit jalan kami istirahat di bawah pohon. Sempat melewati hutan tapi sebentar, jalur Sembalun ini memiliki hamparan landscape rumput hijau kuning memerah, padang savana, bukit-bukit, pohon dan ada sungai dengan jembatan.

Menjelang sore, sampai juga di Pos 1 kembali istirahat (banyak istirahatnya ya) yang belum makan kemudian makan, terus foto-foto lagi ūüėÄ habis landscape-nya nggak ada yang nggak bagus, semuanya bagus….. mengejar sunset pendakian pun dipercepat tanpa banyak berhenti. Sepertinya kami sudah mulai terbiasa mendaki di tahap ini.

Beruntungnya, langit malam itu cerah. Kami dapat hadiah hamparan bintang-bintang yang tak terhalang gedung-gedung tinggi ataupun pepohonan. :)
Beruntungnya, langit malam itu cerah. Kami dapat hadiah hamparan bintang-bintang yang tak terhalang gedung-gedung tinggi ataupun pepohonan. Aslinya lebih amazing dan nggak seperti ketombe, hehehe ūüôā Photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 2 :

Pukul 09.00 pagi setelah beres-beres tenda, mengambil persediaan air di pos 2 (yang tak terlalu banyak di sumber airnya) kami kembali mengemas carrier, bergegas. Ohhh… ini menjadi hari yang panjang. Pendakian harus dilalui selama hampir 7 jam. Sepanjang perjalanan dan tetep ya banyak berenti untuk mengabadikan landscape, hamparan gunung, pohon-pohon, semua suguhan alam yang buat pandangan mata saya nggak berhenti terpesona. Asli saya beruntung banget bisa sampai Rinjani.

Tapi mendaki Rinjani bukan soal keindahannya saja. Di gunung itu kami harus memperkirakan waktu, kami mengejar agar jangan sampai melakukan perjalanan ketika hari gelap (sebisa mungkin) untuk keamanan. Juga mengejar waktu sesuai jadwal dan target traveling lanjutan kami ke Sumbawa juga sih sebenarnya. Dan hari ke-2 itu setelah magrib dan makan malam seharusnya kami langsung tidur untuk persiapan summit esok harinya (sebab penting banget buat jaga stamina).

Ahhh nice, bentuk pohon di dekat jembatan ini
Ahhh nice, kira-kira hampir seringan melihat bentuk pohon seperti di dekat jembatan ini. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Kami harus bangun sebelum jam 01.00 pagi dan mendaki sekitar 4 jam lebih mencapai titik tertinggi Gunung Rinjani. Sayangnya, ada something happend di pencarian lokasi kemping saat mencapai Pelawangan Sembalun. Tempat-tempat strategis ternyata sudah di tag sama para potter. Jadi potter itu sudah sampai sebelum pendakinya, terus mereka siapin makan dan tenda hingga si pendaki sampai, semua sudah siap.

Beda dengan kami ber-4 yang tanpa potter, semua dikerjakan sendiri. Mencari sumber air, menggangkat barang bawaan, bongkar pasang tenda dan memasak, termasuk jadi harus speak-speak dengan rekan seperjalanan a.k.a tetangga kemping. Tapi ini jadi betul-betul pengalaman naik gunung yang sebenarnya. Hebat ya kami bisa survive.

Saya sih cuma ngiler dan wow banget di Pelawangan Sembalun ini. Lihat tenda besar dimana potter lagi goreng tempe dan bakwan (sumpah niat banget ya ini, bawa penggorengan besar, bawa kompor gas). Lalu di jalan sempit yang hanya muat satu tenda pun, lokasi yang pas buat melihat sunset dan sunrise disitu para bule dan pendaki yang wisman lagi enak duduk dibangku sambil menyantap makanan… early dinner buat mereka sambil memandangi sunset cantik Rinjani sebelum summit besok subuh.

Sementara kami lagi jalan nyari tempat buat dirikan tenda.¬†Cari lokasi buat berkemah, supaya dekat dengan sumber air kami pindah. Padahal tenda sudah jadi. Debi ketemu lokasi yang lebih strategis, lalu kami jadi tetanggan sama teman sekotanya, Semarang. (Gara-gara satu kota aja bisa akrab begini. Oke… dan memang kesamaan selalu punya cara untuk mendekatkan).¬†

Hufffttt. Lama di tempat tetangga, sambil sharing perbekalan, ngeteh, ngobrol dsb, kami agak khawatir, karena Harry nggak muncul-muncul juga bawa tenda. Tadi masih belum gelap, apa bawa headlamp atau nggak kami bertiga yang menunggu juga nggak tahu,… Akhirnya Debi menyusul. Kita khawatir juga karena kelihatannya tadi sore dia sangat lelah. (Disini saya mikir, kalau kami berempat ini satu tim. Kalau salah satunya ada yang bermasalah yang lain pasti mikirin)

Day 3 :

Berbekal penerangan headlamp, pukul 01.00 dini hari pendakian yang sebenarnya dimulai. Sehari sebelumnya dijalan banyak pendaki yang mengingatkan untuk berjaga-jaga dengan tenda, perbekalan, barang bawaan ketika ditinggal untuk summit Rinjani. Karena kan nggak memungkinkan membawa carrier, hanya kamera saja serta bekal air minum secukupnya. Sementara beberapa kasus pernah ada rombongan pendaki yang kehilangan barang bawaan bahkan persediaan makanan yang dicuri. Kalau tim kami sih lucu, persediaan gula justru dicuri sama monyet liar di Plawangan Sembalun saat siang bolong yang ternyata jumlahnya ada sekawanan.

“Sampai sekarang kita belum tahu siapa pelakunya, tapi saya saranin untuk tidak meninggalkan barang berharganya. Saya prihatin kenapa hal seperti ini bisa kejadian di gunung,” kata seorang pendaki yang ngajak ngobrol duluan.

Medan yang ditemui setelah Pelawangan Sembalun adalah pasir, bebatuan, tanah, dan memang lengkap dengan kanan kiri jurang. Kondisi gelap pendakian dini hari membuat semua itu nggak terlihat, tapi saya merasakannya, kaki kami terperosok, harus melangkah lagi. Tapi medan terjal ini katanya terbilang lebih mudah dibanding menaklukan gunung Semeru yang dua langkah mundur satu.

Di perjalanan kami sesekali berhenti untuk istirahat dan minum. Debu pasir agak masuk ke sistem pernafasan, kembali saya merasakannya. Sejak pertama di Rinjani sih, tapi memang disini saya yang paling amatir dalam pendakian.

Gimana rasanya summit Rinjani??? sejujurnya pertama kali sampai atas sana saya cuma bengong. Semua tampak tidak nyata, hanya nggak percaya bisa sampai sejauh ini, nggak kepikiran dan surprise. Mau nangis nggak bisa (serius udah lama nggak bisa nangis) mau meluk temen-temen saya yang barengan dari Jakarta berjuang, tapi muhrim saya cuma Kak Put. Hehehe yaudah habis itu sibuk foto-foto….. gantian sama pendaki lain yang juga antri foto.

Setelah sunrise Rinjani yang amaze, saya baru “ngeh” lagi, kalau jalan menurun itu juga perlu perjuangan. Bahkan lebih harus berhati-hati. Disini karena langitnya sudah terang dan matahari rasanya dekat¬†di atas saya jadi,,,,, hangat di jam 6-7 an lalu jadi panas. Tak¬†menyangka juga, kalau jalur yang saya lalui dini hari tadi di kegelapan sebenarnya amat sangat panjang dan sulit. Ckckckckckckck masih surprise¬†turun pun sedikit ngedumel kok nggak nyampe-nyampe.

“Mengingat lagi detik-detik di saat summit Rinjani, dalam kondisi gelap dini hari untuk meraih matahari terbit yang pertama. Hanya dengan penerangan headlamp saja, hanyalah satu tujuan saat itu,…untuk bisa sampai di atas puncak sana. Tak peduli bagaimana kondisi jalanan saat itu, dengan batu-batu, kerikil, terjal, berpasir atau di kiri kanannya ada jurang yang bisa membuatku terperosok atau terjatuh. Yang kutahu saat itu aku tetap harus melangkah dan mencapai tujuan itu (puncak Rinjani).

Dan di kenyataan, sama seperti menjalani kehidupan, yang ketika kamu merasa dalam kondisi gelap.. bimbang, ragu, atau takut. Sebenarnya ada satu cahaya terang seperti headlamp tadi yaitu hati. Jadi ikuti kata hati melangkah dalam hal apapun, ikuti insting dan kecenderungan hati nurani karena biasanya disitulah ada Allah yang memberi¬†penerangan dan petunjuk untuk melangkah ke tujuan,”

*seperti quotation favorit saya juga : “Remember, wherever your heart is, you’ll find your treasure,” Paulo Coelho – The Alchemist

Kerikil, batu-batu kasar, debu, pasir, jalan bertanah, bekas-bekas material vulkanik letusan dulu dan tentunya kanan kiri jurang, semuanya ada…. lalu turis pendaki bule yang lebih dahulu sampai, yang padahal beberapa cuma pakai legging tipis saat pendakian, asik memainkan ritme kaki, turun dengan cara merosot-merosot. Ini tuh layaknya taman bermain buat mereka.

Medan menurun sulit, sekaligus menjadi uji kemampuan sepatu gunung yang ternyata paten banget, walau tetap kaki bagian depan ikut sakit karena terlalu menekan dan bagian kaki yang melentung semakin menjadi-jadi. Disini moment yang paling lucu justru waktu minta bantuan para pendaki buat motretin saya, ganti berbagai pose sampai minta tolong tiga pendaki ūüėÄ . Saya udah asik tinggal turun tapi malah ngerepotin yang lagi berjuang sampai puncak, ngegemesin.. tapi anak gunung kan terkenal dengan sikap penolongnya ya … ūüôā

Medan terjal bebatuan halus yang harus dilalui pendaki menjelang summit
Medan terjal bebatuan, kerikil dan pasir halus yang harus dilalui pendaki menjelang summit. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Dibawah,… setelah terpisah jauh ketemu juga dengan dua temen lain, berjuang sama-sama untuk turun sampai Plawangan Sembalun. Merosot dan merosot adalah acara paling gampang dan Debi yang jago dalam hal ini sudah duluan sampai.

Ngantuk….Zzzzz.zzzzzz tak terelakan, cuma cuacanya panas nauzubillah apalagi di dalam tenda, tetep aja itu nggak terlalu memengaruhi (saya), sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak, saya sempat tidur sekitar 30 menit. Ganti tidur semalam yang cuma sekitar 2 jam. I’m a zombie at the moment,… gara-gara goreng bakwan, yang lama matengnya (api gas dan hawa panasnya redup sama angin di gunung) ūüė¶ Bayangin dengan kondisi tidur yang demikian kami harus kembali trekking yang walau menurun tapi ini nggak bisa diremehin lho.

Start trekking ke Danau Segara Anak sekitar pukul 2 siang. Sekedar pemberitahuan¬†ya di hari ke-3 ini saya belum juga BAB. Di Plawangan Sembalun padahal bisa keramas dan BAB karena dekat dengan sumber air. Dan teman kita yang berkarakter sanguinis a.k.a Debi dengan cueknya info “Aku udah keramas dan BAB loh,” ….. terus pas udah sampai di Segara Anak dan mandi di air terjun, Debi juga dengan cueknya info “Tadi tuh BAB paling dan paling……. buatku,” sambil pasang muka nggak bersalah ngomongnya. ūüėĀ

Kak Put mungkin yang paling beda ya, hari ke-4 sesampai di Plawangan Senaru nggak juga BAB, kata dokternya sih ritme BAB-nya yang nggak setiap hari itu normal dengan pola makan versi dia. (iyain aja deh)

Hari ke-2 Minggu (10/5/15) pendakian Rinjani, agak ramai. Tapi seramai-ramainya Rinjani ya masih puluhan aja jumlahnya.
Seramai-ramainya pendakian di Rinjani ya masih puluhan aja jumlahnya…. photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 4 :<
idur yang lumayan cukup terbayar, sampai di Segara Anak sekitar jam 8 malam, ternyata kami kembali berjodoh dengan tetangga kemping yang di Plawangan Sembalun, tenda kita deketan lagi. Masak air, makan secukupnya, beres-beres tenda dan persiapan tidur jam 10 malam terbangun subuh dan jam 6 walau masih di dalam tenda kami agak santai. Dan seperti biasa yang tidurnya bunyi terus (ngorok) dan paling susah bangun adalah Cadas (cah dangdut Semarang) a.k.a Debi. ūüėÄ

Di gunung saya belajar kalau tipikal pendaki itu mau direpotin dan care sama pendaki lain, jadi kalau minta apa-apa insa Allah dibantu, setiap kali ketemu di jalan padahal nggak kenal ya sapa aja. Nah kamu kalau lewat tenda dan kehausan, coba nanya-nanya aja mereka pasti nawarin air teh manis hangat. Kak Put….. tau banget, sembari nanya dapet info terus ditawarin teh… iya ternyata berbaur dengan pendaki lain itu harus. Cuma bagi orang yang independent itu gimana ya…. (tetep harus)

IMG_6090
Ini pendaki dari mancanegara (yang lagi natap puncak). Mereka aja sudah sesepuh gitu masih mau naik Rinjani, saya juga mau punya semangat yang sama sampai tua nanti. Tapi bawa porter lah ya, kan doanya udah tajir nti ūüėÄ Photo by : Dyah Ayu Pamela

<

i dekat Danau Segara Anak, ada sumber air yang untuk ke tempat itu jalan sekitar 1 KM. Lewat semak-semak, rumput tinggi, genangan air, dan tolong lihat-lihat ke bawah kalau jalan karena suka ada ranjau darat. Nggak jauh dari sini kami ketemu yang namanya air terjun, akhirnya bisa mandi dan keramas… yeayyyyy airnya juga hangat, terus tempatnya sepi.

Hari ke-4 adalah perjalanan turun melewati jalur Senaru. Ini memang perjalanan menurun, tapi trekking yang kami hadapi tetap nanjak… bahkan kaki ketemu kepala, bukan dengkul ketemu kaki lagi dan ini hampir tiada henti. Perjalanan hampir lebih 10 jam lebih setelah keliling pemandangan danau, lihat orang mancing (di Segara Anak kamu bisa mancing terus goreng ikan-nya). Ada pemandangan turis yang lagi duduk dibangku sambil menikmati brunch yang dibuatin sama sang potter. Mungkin itu brunch paling sedap karena sambil menikmati pemandangan indah Danau Segara Anak dengan landscape gunung Barujari (anak gunung Rinjani, hasil letusan vulkanik sebelumnya). Sambil sering awan dan kabut menghalangi.

IMG_6278
Di dekat air terjun, sumber air panas tempat saya mandi…. enak mandi disini sepi ūüôā Photo by : Dyah Ayu Pamela

<

erjalanan yang paling mendebarkan justru bukan detik-detik summit tapi ketika turun di malam gelap. Lepas dari Plawangan Senaru, hampir jam 5 sore,… bergegas kami ke Pos 3, oke jalannya betul-betul menurun sekarang. Disini lagi-lagi ketemu bule yang lagi nyari sunset, bolak balik layaknya rumah sendiri nggak ada beban untuk naik turun gunung, lari-larian (jelas aja mereka cuma gemblok tas enteng) semua peralatan dibawa porter.

Lagi-lagi jalan harus terhenti, karena view sunset yang tentu saja nggak ingin terlewat (foto-foto lagi). Singkat cerita menuju pos 3 banyak jalanan berpasir dan krikil yang justru buat perjalanan saya melambat. Sementara yang lain justru trek ini dianggap lebih mudah. Hari mulai gelap kan, seperti dugaan kami hanya punya pilihan kembali melanjutkan perjalanan jika ada tim rombongan lain yang ikut turun. Atau kami istirahat bermalam dan baru pagi besok melanjutkan perjalanan.

Kebetulan ada dua rombongan lain yang juga berniat turun, (dan….berjodoh lagi sama tetangga kemping Semarang) jadi kami lanjutkan sisah-sisa lelah hari iitu. Ahhhh…. ini bukan cuma lelah tapi juga kantuk, tapi keputusannya kami ikut dalam rombongan melewati perjalanan malam lebih dari 4 jam menuju pintu gerbang Senaru. Rombongan berjumlah sekitar ber-15, dimana hanya ada saya dan Kak Put yang perempuan. Satu pelajaran lagi yang di dapat ketika di gunung. Disamping melihat diri sendiri, kali ¬†ini kita sedang ber-tim lawan segala hal individualis¬†dan meski sesakit apapun kaki rasanya saat itu, masih bisa jalan kan???

Apakah kamu akan memperlambat tim? sekali lagi, tak hanya soal mencapai summit, mengalahkan diri sendiri ternyata berlaku juga dalam perjalanan turun. Dan aneh rasanya, tak ada lagi beban, seperti ada perasaan lega ketika semua itu terlewati. Perih-perih yang terlupakan, yang ada hanya seutas senyum dan sapa hangat di pagi hari, sepanjang melewati gerbang Senaru dan bertemu dengan mereka yang baru akan mendaki lewat jalur ini. ThanksGod. ūüôā

Di perjalanan mencari sumber air. Hati-hati kalau jalan, karena banyak ranjau darat.
Di perjalanan mencari sumber air. Hati-hati kalau jalan, karena banyak ranjau darat. (Kali ini modelnya Kak Put dan Debi) Photo by : Dyah Ayu Pamela

NOTE :<
aat akan menuliskan cerita ini, saya sempat wawancara dengan traveler¬†untuk sebuah artikel “Traveling With Style”. Ngobrol panjang lebar, si mbak Khairiyyah Sari yang jadi nara sumber saya ini ternyata punya kesamaan pemikiran tentang “Traveling With My Soul” hingga akhirnya saya jadikan judul. Hehe ūüėÄ

“Kalau saya traveling tuh bukan buat pamer atau gaya-gaya tapi lebih ke traveling untuk jiwa saya, dengan jiwa saya,” kata mbak Sari yang sekarang berprofesi sebagai Style Consultan ini.

Traveling with my soul ini saya diartikan bahwa kita belajar dari perjalanan itu, misalnya membaur dengan sesama pejalan, dengan orang lokal, belajar toleransi dengan teman yang barengan sama kita dan banyak hal lain yang bisa dipelajari hingga kamu lebih mengenal diri sendiri dan menemukan jati diri yang asli. Ketemu ilham baru, inspirasi baru serta memaknai kehidupan lebih dalam lagi.

Terlebih di Rinjani kemarin, secara naik gunung itu bukan hal yang semua orang bisa dan mau lakukan. Pengalaman yang tidak semua orang bisa punyai. Dengan medan yang berat (i think Rinjani it’s difficult battlefield). Menurut saya ini perjalanan yang harus dengan jiwa dan keinginan. Niat yang baik, entah karena panggilan jiwa petualang kamu. Dan itu bukan karena ikut-ikutan tren naik gunung.

Ohya buat menambah referensi kamu bisa lihat-lihat cerita traveling mbak Sari di situs http://www.thestyletravelista.com tapi kalau mbak Sari gaya traveling-nya bukan backpacker atau semi backpacker seperti saya.

Danau Segara Anak dan pemandangan Gunung Barujari
Danau Segara Anak dan pemandangan Gunung Barujari photo by : Dyah Ayu Pamela

<

B : Disini saya sertain foto-foto indahnya aja ya, trekking yang kepala ketemu kaki disimpan aja supaya nggak bikin parno buat ke Rinjani. Mungkin yang saya tulis juga tidak begitu detail tapi kamu bisa buka link ini FYI Rinjani dari Wikipedia

Backpacker, Indonesia, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN

Berbagi Itinerary – Pendakian Gunung Rinjani, Lombok

Sunrise di Rinjani 3726 MDPL
Cakrawala, serasa ada di dunia yang lain….. seperti sedang berada dalam lukisan paling indah…. Sunrise di Rinjani sekitar pukul 05.30 WIT ketinggian 3726 MDPL

Merasakan keasikan dari nge-trip yang didesain sendiri lewat pengumpulan informasi di internet atau by googling, dibanding dengan ikut open trip lewat travel agent itu membuat kita jadi pejalan yang mandiri. Deg-deg an jelas iya! kalau-kalau dijalan nggak sesuai dengan rencana, tapi belakangan justru ini lebih seru lho….

Dan ketika akan nge-trip ke suatu tempat yang belum kita kunjungi, pengalaman atau cerita orang-orang yang pernah kesana dari blog atau web selalu jadi informasi yang bermanfaat banget. Makanya, melalui blog juga saya yang suka nulis akhirnya sharing. Kali ini sharing itinerary pendakian ke Gunung Rinjani di Lombok, Indonesia.

Buat yang kepingin banget ke Gunung Rinjani, tapi nggak mau nunggu open trip yang biasanya harus ber-20 an orang, bisa juga memberanikan diri untuk pergi dengan sedikit teman. Asalkan bisa bangun tenda aja dan punya pengalaman mendaki gunung sebelumnya. Kalau belum bisa belajar ya di youtube, terus pemanasan dulu ke Papandayan atau kemana yang deket-deket. Soalnya lumayan banget trek disana, perlu juga bahkan persiapan jogging minimal sebulan sebelum berangkat supaya body fit.

IMG_6007.JPG
Istirahat makan siang, masih jauh guys perjalanannya ke Pos 1, butuh 3 jam dari Desa Sembalun.

Baiklah tak perlu lama-lama, ini dia itinerary pendakian ke Rinjani. Saya tulis dalam perjalanan sekitar 4 hari. Ohya sebetulnya dari Rinjani kamu bisa sekalian ke Sumbawa berhubung hanya perlu menyebrang Selat Alas sekitar 2 jam menggunakan kapal. Next di ulasan blog selanjutnya ya ūüôā

DAY 1 (Sabtu, 9 Mei 2015)    

03.00¬†¬†¬†¬† 04.00¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Debi house ‚Äď Bandara, Taxi Rp. 200.000 ¬†@ Rp 50.000 per orang (kami ber-4) berhubung kalau naik Bus Damri sama terhitungnya per orang, jadi kita ber-4 naik taxi dan jemput di titik-titik satu jalur menuju bandara. Terhitung lebih hemat tenaga dan waktu.

04.00                                    Check in, Soekarno РHatta Rp. 40.000  Tax Bandara @40.000

05.00                                    Take off, Bandara Soekarno Hatta

08.00                                    Landing at Lombok, Praya Airport

08.00     08.40                    Antri Bagasi dan out from Praya Airport

08.50     10.00                    Perjalanan melengkapi perbekalan, Rental mobil Rp. 550.000, @ Rp. 137.500

10.00     10.30                    Belanja Perbekalan, beli makanan dan minuman

10.30     11.30                     Perjalanan menuju Gerbang Sembalun

11.30     12.30                     Pendaftaran, ISOMA @Rp. 25.000 per orang

12.30                                    Berangkat (Dari Sembalun, ketinggian 1156 mdpl)

12.30     15.30                     Sembalun menuju POS 1 (Pos Pemantauan) savana mendaki, menurun, menyeberangi sungai kecil. Perjalanan perlu 3 jam, ini buat pemanasan sebelum besoknya hari ke-2 akan menempuh lebih dari 5 jam perjalanan melewati 9 bukit.

15.30     16.00                     Istirahat sekitar 30 menit di POS 1 (1300 mdpl) tidak ada sumber air.

16.00     17.30     90           POS 1 menuju POS 2 (Pos Tangengean) dengan trek savana mendaki, menurun, menyeberangi sungai kecil, bekas aliran lahar, dilalui sekitar 1,5 jam perjalanan.

17.30                                     Istirahat POS 2 (1500 mdpl), Camp. Disini ada sumber mata air tapi tak terlalu banyak.

IMG_6011.JPG
Cuaca menjelang sore, disaat itu hampir sampai Pos 2 untuk mendirikan tenda. Ini adalah hadiah pemandangan langit dan rumputnya.

DAY 2 (Minggu, 10 Mei 2015)  

05.00     08.00                    Bangun pagi, sholat, foto-foto, sarapan, persiapan berangkat.

08.00     11.00                    Perjalanan menuju POS 3, sekitar 2,5 jam menemui jalan persimpangan, Bukit Penyesalam di sebelah kanan & Bukin Penderitaan di sebelah kiri.

11.00     11.30                     Istirahat POS 3 (2000 mdpl) istirahat sekitar 30 menit dan mengambil persediaan air.

11.30     13.30                     Perjalanan sejauh 2 jam menuju Plawangan Sembalun (sesi 1) tanjakan bukit 9, dibutuhkan daya tahan tubuh dan mental yang prima, jarak jauh.

13.30     14.30                     ISOMA, sekitar 1 jam

14.30     16.30                     Perjalanan 2 jam menuju Plawangan Sembalun (sesi 2) melewati tanjakan bukit 9, dibutuhkan daya tahan tubuh dan mental yang prima, jarak jauh.

16.30                                     Tiba di Plawangan Sembalun, Disini kita nge-camp (2639 mdpl) melihat puncak sembalun, segara anak, area datar cukup luas, sumber air, toilet, ada banyak monyet, hati-hati karena monyet sering merebut makanan.

16.30     19.00     180         Foto-foto, mendirikan tenda, persiapan dinner, istirahat sambil menunggu sunset.

19.00                                     Tidur, tapi kenyataannya masih beres-beres hingga jam 9 malam.

IMG_6158
Belum sampai puncak nih, tapi keburu mataharinya mulai muncul. Bagus banget dan terasa dingin hangat di atas sana dengan angin berhembus menampar-nampar saja juga.

DAY 3 (Senin, 11 Mei 2015)  

00.30     01.00                    Bangun dini hari, persiapan summit sekitar 30 menit

01.00     05.00                    Perjalanan menuju puncak, sekitar 4 jam

05.00     07.00                    Enjoy summit sekitar 2 jam

07.00     10.00                    Puncak kembali ke camp di Plawangan Sembalun, sekitar 4 jam

10.00     13.00                     ISOMA

13.00     15.00                     Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak (sesi 1)

15.00     15.30                     Istirahat, sekitar 30 menit.

15.30     17.30                     Plawangan Sembalun menuju Segara Anak (sesi 2)

17.30                                     Segara anak, nge-camp, bersih-bersih, dinner 

IMG_6302
Di dekat Danau Segara Anak, ada yang lagi mancing. Kalau kami nggak sempat karena harus melanjutkan perjalan pulang menuju Plawangan Senaru.

DAY 4 (Selasa, 12 Mei 2015)

05.00     10.00                     Bangun pagi, sholat, foto-foto, sarapan, persiapan berangkat

10.00¬†¬†¬†¬† 17.00¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Segara Anak ‚Äď Plawangan Senaru. Trek melewati hutan, padang edelweis, jalan kecil berbatuan terjal, jurang.

17.00 ¬† ¬† ¬†02.00 ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬†Kami masih berusaha untuk sampai di Pos 3 setelah sampai Plawangan Senaru, tapi memaksakan diri untuk terus melanjutkan perjalanan, berhubung ada dua tim lain yang bisa bareng. Melewati malam gelap, ketemu kuntilanak, tapi akhirnya sampai jam 02.00 di Gerbang Senaru… Huffttt hufff.

Kami nggak menginap di guest house, bahkan juga nggak nenda, karena bareng teman-teman yang berjumlah sekitar 15 orang tidur di semacam balai bambu terbuka. Hemat kan, hehe sudah nggak punya tenaga juga buat diriin tenda. Beruntung juga di depan balai bambu ada warung, jadi pagi-pagi udah ada pisang goreng aja sama cemilan, nggak perlu masak.

Berapa sih biaya untuk ke Rinjani?

Kalau ini agak sulit dikalkulasi, soalnya saya sekaligus mengunjungi Pulau Sumbawa, termasuk Kenawa dan Moyo. Kalau total dengan tiket pesawat sekitar Rp. 5 juta. Tapi kalau hanya niat ke Rinjani aja bisa diperkirakan biayanya bisa cukup dengan budget Rp. 3,5 juta.

Tergantung apakah naik pesawat seperti saya yang PP dengan Lion dan Batik Air termasuk airport tax Rp. 1,8 juta. Tentunya biayanya akan lebih murah kalau naik kereta, tapi konsekuensinya harus meluangkan waktu cuti lebih banyak, jadi kurang efektif dan lebih lelah berhubung mendaki gunung perlu stamina saya sarankan agar naik pesawat saja.

Ini diluar dari biaya beli peralatan gunung loh ya. Karena peralatan gunung macam senter, sarung tangan dingin, jaket kadang harus beli lagi kan bagi yang belum punya.

_DSC5574.JPG
Temen barengan pas turun, hahaha gila sih ini malem-malem nggak tidur, ketemu kuntilanak, terus sedingin itu tapi tidur di balai bambu terbuka.
LIFE, Liputan, story, The Journey, Traveling

Traveling With Style? Apa itu….

photo 2
Ke India??? nggak harus foto di depan Taj Mahal untuk buat foto kamu terkesan memang di India. Ini nih salah satu tips dari Mbak Sari, berpakaian seperti orang lokal, terus ini matching ya ikat kepala merah-nya. (kompak) Foto : Dokumen Pribadi Khairiyyah Sari

Teaser :

Beberapa waktu yang lalu, selepas liburan saya ke Lombok dan Sumbawa, ada assigment dari redaksi¬†untuk buat tulisan tentang “Traveling With Style”. Hore! saya suka banget dikasih tugas yang hubungannya nulis-nulis tentang traveling. Bisa sharing dengan sesama traveler dan dapat ilmu baru. Dan memang saya belajar lagi dunia traveling dari sudut pandang yang beda. Btw…. Karena nulisnya kali ini juga untuk di publish jadi bahasanya agak serius-serius santai ya… boleh disimak. Thank u ‚̧

——————-

Liburan jadi saat-saat memoriable bagi pecandu jalan-jalan. Moment tak terlupakan ini pun ingin terus dikenang lewat foto dan fashionable saat mengunjungi tempat-tempat keren jadi keharusan.

Khairiyyah Sari (39) sejak kecil sudah terbiasa traveling, tapi tak¬†seperti traveler kebanyakan, wanita yang berprofesi sebagai Style¬†Consultant ini begitu memerhatikan penampilannya saat liburan.¬†“Sejak SD saya sudah kepikiran untuk fashionable saat traveling,¬†misalnya sweater warna ini¬† kayaknya bagus kalau difoto,” ungkap Sari¬†saat berbincang dengan KORAN SINDO belum lama ini.

Traveling yang bagi Sari juga menjadi memorial seumur hidup turut membuat dirinya tak ingin asal-asalan dalam berpakaian. Walau diakui wanita yang pernah menjadi juara None Jakarta di era 90-an tersebut, traveling cukup menguras energi dan rentan menjadi capek. Dress up atau berdandan kece tetap menjadi poin penting apalagi untuk keperluan dokumentasi foto pribadi.

“Saya suka gemes sama mereka yang traveling tapi kurang memerhatikan¬†penampilan. Apa nggak sayang pergi jauh-jauh lalu dapat landmark bagus¬†tapi ketika foto pakaiannya lusuh. Padahal nantinya foto itu akan¬†dipajang,” imbuh Sari lagi.

Jadi Sari pun tak keberatan untuk mempersiapkan hal-hal berbau fashion saat akan melancong. Tetapi dirinya sendiri sudah menekankan bahwa saat traveling jangan sampai barang bawaan menjadi overpack. Karena menurutnya bukan seorang traveler bila tak bisa mengatur apa saja yang dibawa dan disitulah letak tantangannya.

foto
Pas hari terbit dan dikabarin, ternyata langsung dia posting di web, hehehe.

Berpakaian sebagaimana orang lokal, jadi satu trik tersendiri dan pilihan fashion di negara atau tempat tujuan, sebab kata Sari, dengan begitu sebagai traveler akan bisa lebih membaur. Selain, tak terlihat mencolok di antara penduduk lokal akan menghindarkan diri dari tindak kejahatan.

Pernah dirinya memakai kain sari waktu ke India, termasuk mengenakan aksesoris tutupan kepala seperti sorban. Begitupun ketika ke Jepang, Sari memakai outwear berupa Kimono, tapi dia membuat styling yang menarik karena dipadu dengan rok lebar dan baju basic, kemudian menambahkan ikat pinggang bernafas kontemporer.

Riset sebelum pergi ke destinasi menjadi hal pertama yang dilakukan Sari. Saat pergi ke Amerika Serikat yang kebetulan sedang musim dingin dirinya membawa 2 koper besar. Tak lupa dia menyisihkan ruang untuk barang belanjaan yang kebanyakan juga merupakan benda fashion.

Pernah dirinya traveling di AS selama 2 bulan, mengandalkan kekuatan styling untuk sweater, mix and match baju, setiap hari penampilannya tak pernah terlihat sama. Tapi diutarakan Sari sebelum menentukan memakai baju apa, justru pilihan awal yang dilakukannya adalah menetapkan sepatu yang akan dibawa. Sari akan membawa dua sepatu boots untuk siang dan malam hari di negara musim dingin. Selebihnya dia lebih suka memakai sepatu flat berhubung kakinya juga sudah cukup jenjang.

Nazrya Octora, traveler lainnya yang juga suka tampil eyecatching saat¬†traveling, dalam pemilihan sepatu mengungkapkan masih menyertakan satu¬†jenis heels sebagai persiapannya ketika traveling. “Saya pernah¬†tiba-tiba diajak ke restoran yang agak formal untuk makan malam.¬†Untungnya memang selalu bawa satu heels. Tapi untuk itu saya akan¬†pilih warna heels yang netral seperti cokelat atau hitam supaya cocok¬†dengan baju apapun,” kemuka wanita yang akrab disapa Rya ini.

Wardrobe yang jadi andalan Rya pun bukan yang aneh-aneh. Tetapi untuk tampil eyecatching di depan kamera dia banyak bermain dengan warna. Kemudian trik lain styling saat mengenakan item fashion yang sebenarnya mendasar atau bagaimana cara memakainya. Misalnya sweater yang dipadu dengan kemeja berkerah bisa tampil berbeda saat sebelumnya sweater dipadu dengan terusan babydoll.

“Saya juga suka pakai batik, kalau di luar negeri jadi unik. Batik¬†Cirebon yang punya motif dan warna cerah seperti merah atau biru itu¬†membuat penampilan lebih berwarna,” tambah Rya.

Tips lainnya : Bergaya layaknya orang lokal seperti memakai Kimono sebagai outwear, tetapi dipadu dengan rok yang kontemporer ini plus ikat pinggang kece. Foto : Dokumen pribadi Khairiyyah Sari

Meski nampaknya perlu waktu memikirkan bagaimana styling saat traveling, baik Sari maupun Rya merasa, tetap keren saat traveling itu merupakan kesenangan pribadi dan tak pernah ada beban untuk menerapkannya.

Hampir senada diungkapkan Dewi Utari yang tak pernah membawa lebih dari satu koper untuk berpergian. Isi kopernya hanya seputar busana dan aksesoris esensial yang sebelumnya sudah dia rancang padu padannya
dipakai sesuai lamanya traveling.

Membawa jaket kulit bagi Dewi satu keharusan, karena menurutnya biker jacket warna hitam dapat membuat tampilan kita menjadi menarik, meskipun jaket tersebut memiliki bobot tersendiri. Selama lebih dari 8 tahun menjalani hobi travelingnya, Dewi biasa membawa 1 koper untuk seminggu, 3 sepatu dimana sepatu pertama untuk sehari-hari , sepatu pesta, dan sepatu olah raga.

“Yang pasti flats, tapi utk kondisi tertentu saya selalu sedia hak
tinggi di dalam tas saya,” imbuhnya kemudian.

(dyah ayu pamela)

Tips tampil keren dan nyaman saat traveling

1. Berbusana seperti halnya masyarakat lokal setempat, ini membuat kita tak terlalu mencolok dan menghindari kita dari tindak kejahatan atau penipuan.

2. Padu padan busana dan membeli baju saat traveling juga bisa menjadi pilihan

3. Bermain pada warna saat styling, pikirkan bagaimana busana kita agar tampak keren saat di foto

4. Penyuka aksesoris dapat tetap mengenakannya tanpa harus ribet dengan menempatkan aksesoris pada satu box khusus di koper.

5. Pilihan pertama tetapkan dulu sepatu yang ingin dibawa untuk mencocokan dengan berbagai jenis padu padan busana.

6. Pilih bahan baju yang tak mudah lecek.

7. Yang tak pede dengan sepatu flat masih tetap bisa menggunakan wedges, tapi pilih yang heels-nya dari bahan ringan seperti gabus.

8. Jika ingin berbelanja jadilah smart shopper, beli busana atau item fashion yang memang memungkinkan bisa dipakai kembali di Indonesia.