culinary, Kuliner, Liputan, Malaysia - Asia Tenggara, story, Traveling

Lima Rekomendasi Kuliner Malam di Petaling Street

Setelah enam tahun saat pertama kali ke Malaysia tahun 2013 silam akhirnya aku berkesempatan lagi buat menyambangi Kuala Lumpur (KL)! Sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan Negeri Jiran, jika bukan karena ada business trip alias perjalanan dinas a.k.a liputan 2 hari untuk peluncuran ponsel gaming Black Shark di KL.

Curi-curi waktu setelah liputan beres akhirnya kulineran aja deh malam-malam ke Petaling Street. Aneh juga sih, sebenarnya aku tuh nyari lokasi lain untuk dijelajahi melalui maps karena dulu sudah pernah ke Petaling Street. Mulanya ke Pasar Seni, tapi ternyata lokasi dekat sekali berjalan kaki ke Petaling Street yang juga merupakan kawasan China Town dan masih ramai padahal jam di tangan hampir menujukan pukul 21.00 waktu KL.

Ternyata beda lho atmosfer pagi menuju siang dan malam di Petaling Street. Setelah merasakan suasana yang beda aku malah menyarankan kalian yang pemula banget backpackeran keliling Asia Tenggara buat kulineran malam aja di Petaling Street dan cobain 5 rekomendasi kuliner berikut!

(1) Makan di Restoran Kim Lian Kee

Ini restorannya guys, di luar aja makannya sambil menikmati suasana malam

Teman-teman serombongan liputan dari Jakarta makan di sini, lokasinya gampang banget dicari dari depan plang Petaling Street lurus aja terus lalu belok kanan berdekatan dengan penjual Chesnut Berangan. Menunya ada aneka jenis mi, nasi goreng, jenis-jenis makanan Chinese kebanyakan. Halal apa nggak? Nggak yakin hehe karena buatku kalau restoran Chinese aku nggak berani coba dan pastikan kehalalannya. Rekomendasi aja buat kalian yang non muslim bisa kok makan di sini.

(2) Ngemil Chestnut Berangan

Ini ibu penjualnya dan beginilah bentuk kacangnya

Dari namanya aku penasaran, ini kacang berangan? Nggak banyak mikir langsung beli walau harganya 7,5 MYR kalau dirupiahkan dengan kurs Rp 3600 per 1 Ringgit jadi Rp 30.000 dan itu nggak dibohongin kok karena ada tulisan harganya dipapan. Penjualnya adalah ibu-ibu Melayu campuran Chinese karena matanya sipit. Aku nggak banyak tanya karena keburu penasaran coba, eh ternyata enak.

Jadi kacang berangan ini besar juga ukurannya, kulitnya pun keras makanya diroasted alias dipanggang gitu. Makannya enak selagi panas anget-anget. Agak susah membuka kulitnya dan lumayan capek ngegigitin tapi seru dan rasanya enak, walau lama ngabisinnya sambil keliling cari kulineran lagi habis juga dimakan berdua. Hehe

(3) Beli Air Mata Kucing

Air mata kucing, minum manis pas malem-malem. Ohya kamu bisa pilih dengan es atau tanpa es

Minuman yang serasa nostalgia, karena waktu ke sini 6 tahun yang lalu saat matahari terik dan cuaca panas-panasnya minuman inilah yang benar-benar terasa menyegarkan di tenggorokan. Harganya sekitaran 2,5 MYR atau setara Rp 15.000 saja. Rasanya manis seperti liang teh gitu dengan ada cincangan buah seperti kelengkeng di dalamnya. Mau siang atau malam menurutku tidak masalah minum ini tetap segar. Harus cobain banget selagi jalan-jalan ke Petaling Street dan cari oleh-oleh.

(4) Kim Soya Bean

Kim Soya Bean pasti bikin kenyang

Masih cari minuman? Di Petaling Street ada juga nih es susu kedelai alias Kim Soya Bean yang sudah terkenal itu. Cocok buat yang ingin malem-malem lapar tapi males makan dan ingin tambahan nutrisi dari protein nabati hehe. Menurutku harus banget coba, tapi kalau masih kenyang bisa keliling dulu deh muter-muter biar laper dan haus lagi terus beli Kim Soya Bean.

(5) Beli Sate-Satean

Dipilih-dipilih satenya, ini temen liputanku Galuh yang bisa makan sate babi

Masih laper tapi ya nggak laper banget, bisa nih beli sate-satean di Petaling Street. Nah, selain ada berbagai jenis sosis, kepiting, ayam, temenku di sini juga ambil sate babi merah FYI aja karena dia protestan jadi halal makan itu. Hehe kalo aku nggak boleh, cukup dengerin komentarnya aja gimana rasanya. Katanya ini babi nya manis. Nelen air liur deh kakak hehe.

Saat dateng kamu bakalan dikasih piring buat menaruh sate yang dipilih. Terus penjualnya akan grill satenya tapi ada yang digoreng juga sih dicampur bumbu dan tepung terlebih dahulu. Kelihatannya enak, cuma karena ada babinya aku ga beli. Kan kena minyaknya pula walau nggak makan.

Jadi itulah guys, 5 rekomendasi buat kulineran malam di Petaling Street saat kamu ke Kuala Lumpur. Masih banyak restoran sebenarnya, namun karena waktu terbatas kan.. bisa lho mampir lain kali (kalo ada yang bayarin tiket pesawat sama hotelnya) kwkwkw.

Advertisements
Liputan, Malaysia - Asia Tenggara, story

Tiga Bangunan Bersejarah di Perak, Malaysia

Galeri Sultan Azlan Shah, bagus ya..Kelihatan ada sentuhan Melayu dan Inggris gak sih?

Malaysia bukan tentang Kuala Lumpur (KL) saja. Masih ada Sabah, Kinabalu, dan Perak merupakan salah satu negara bagian Malaysia, nomor 4 terbesar. Nama Perak diberikan karena dulu wilayah ini tempat penghasil timah, adapun timah diasosiasikan berwarna perak.

Kalau 2013 silam saya sempat keliling KL untuk sekedar mengenal kata “Luar Negeri”, karena dapat free ticket Tiger Air Ways, kunjungan kedua ke Malaysia, yang sebenarnya tidak terlalu buat saya tertarik kali ini hanya karena tugas peliputan saja.

Namanya bareng tour operator, saya ikut saja apapun itinerary yang tertera. Mampir ke Perak, yang punya beberapa bangunan bersejarah. Berikut tiga peninggalan sejarah kesultanan Malaysia yang saya rangkum singkat. Selamat menyimak 🙂

IMG_6812
Masuk ke dalam harus lepas alas kaki atau memakai penutup sepatu yang berwarna biru ini. Kebetulan cuaca hujan saat itu takut juga becek

(1) Galeri Sultan Azlan Shah

Bangunan galeri awalnya dibangun pada tahun 1898 dan selesai pada tahun 1903 untuk digunakan sebagai kediaman Sultan Perak Idris Shah I . Penciptaan galeri berasal dari ide Sultan Perak Azlan Shah. Pemerintah Negara Perak menyetujui pembangunan galeri pada tanggal 13 Juni 2001. Pembangunan galeri dimulai pada 30 November 2001 dan diselesaikan pada tanggal 15 April 2003. Galeri ini secara resmi dibuka pada 9 Desember 2003.

Galeri ini bertempat di gedung Ulu Palace. Bangunan terbuat dari ukiran kayu terinspirasi oleh tanaman alami di wilayah sekitarnya. Batu ukiran dibuat oleh pengrajin sesuai dengan persetujuan dari Sultan Idris Shah I. Desain Arsitektur bangunan memiliki fitur-fitur umum dari Istana Nasional , Pengadilan Tinggi Ipoh dan Stasiun Kereta Api Ipoh. Semua informasi lengkap ini ada di dalam galeri.

Isinya memang mengagumkan, sebenarnya ada tiga gedung museum yang ketiganya berisi benda peninggalan, koleksi Sultan Perak. Semacam cendera mata dari tamu negara, mobil yang pernah dipakai saat itu, dan tentu saja foto silsilah keluarga Sultan Perak.

Wisata sejarah seperti ini mungkin memang disukai para bule ya? kalau saya yang petualang banget sebenarnya merasa biasa-biasa saja saat masuk galeri. Meskipun “wah” dengan benda-benda berlapis emas.

IMG_6800

(2) Masjid Ubudiah

Tak jauh dari Galeri Sultan Azlan Shah, ada Masjid Ubudiah sebagai Perak ‘s royal masjid terletak di kota kerajaan Kuala KangsarPerakMalaysia. Meski dekat, tapi kami serombongan tetap naik bus untuk menuju masjid ini.

Ada cerita unik ketika akan masuk ke dalam masjid ini. Jadi turis harus memakai semacam pakaian sopan, dan wanita wajib berkerudung. Tapi karena para bule dan termasuk satu teman saya orang Philifina pakaiannya lumayan terbuka (atasannya you can see), untuk masuk mereka harus memakai baju semacam jubah gitu. Aduh, kalau ingat ini saya masih suka ketawa. Lucu melihat orang-orang berseragam jubah itu, kalau saya kan sudah berpakaian tertutup tinggal jilbab an saja.

Masjid Ubudiah menempati peringkat tinggi dalam daftar masjid paling indah di Malaysia, Masjid Ubudiah berdiri termasuk masjid megah di Kuala Kangsar, dengan kubah dan menaranya yang memiliki pemandangan memukau, dari dekat dan jauh keemasannya pun terlihat.

Masjid ini dirancang oleh Arthur Benison Hubback , arsitek pemerintah yang terutama dikreditkan untuk desain dari stasiun kereta api Ipoh dan stasiun kereta api Kuala Lumpur .

Dibangun pada tahun 1913 pada masa pemerintahan  Sultan Perak 28 , Sultan Idris Murshidul Adzam Shah I Ibni Almarhum Raja Bendahara Alang Iskandar Teja , Masjid Ubudiah terletak di samping Royal Mausoleum di Bukit Chandan. Itu ditugaskan atas perintah Sultan, yang bersumpah bahwa ia akan membangun masjid yang sangat indah sebagai ucapan syukur untuk pemulihan dari sakit yang mengganggunya di hari-hari awal.

Pembangunan masjid itu bukan tanpa kesulitan. Kerja terputus beberapa kali, sekali ketika dua gajah milik sultan dan Raja Chulan berlari dan merusak marmer Italia impor.

IMG_6801
Jadi teman ku yang pakai rok mini dan lengan you can see harus pakai semacam baju berjubah gitu kalau mau masuk hehehe

Masjid itu akhirnya selesai pada akhir 1917 dengan total biaya dari RM200,000 lalu secara resmi dinyatakan terbuka oleh Sultan Abdul Jalil Karamtullah Shah Ibni Almarhum Sultan Idris Murshidul Adzam Shah I Rahmatullah , penerus Sultan Idris. Gedung megah ini sekarang menjadi simbol kebanggaan besar untuk semua Muslim di negara bagian Perak Darul Ridzuan, Tanah Grace.

(3) Bekas Istana Sultan Perak

Saya lupa namanya apa, tapi bangunan yang pertama kali saya lihat justru adalah bekas istana Sultan Perak. Bangunannya masih sederhana, zaman dulu sekali. Saya tidak masuk ke dalamnya, karena harus mengikuti rombongan dan jalan ke arah masjid.

IMG_6803
Istana Sultan Perak dulu sederhana seperti ini

HOW TO GET THERE ????? PERAK, MALAYSIA

Menurut info yang saya dapat (saya paste di bawah buat yang tertarik ke Perak), ada beberapa moda transportasi untuk mencapai Perak. Kalau saya saat jalan kesana tidak memikirkan hal itu, tahu-tahu sampai, semua sudah diurus penyelenggara. Menurut saya, Perak biasa saja, memang bersejarah, tempat Sultan dulu bermukim. Tapi belum ada sesuatu yang greget pemandangannya. Masih indah Indonesia kemana-mana.

Kalau memang penasaran, lebih baik ke Perak sekalian overland buat ke Thailand, Myanmar, bisa sepanjang kota kamu jelajahi dan temukan sendiri keunikannya. Sayang bila tiket hanya untuk ke Perak saja sekali jalan. Jelajahlah sekaligus beberapa kota atau negara sambil lewat.

By bus

There are numerous intercity buses running to Kuala Kangsar. There are very frequent local bus connections between Ipoh and Kuala Kangsar. From Ipoh’s main local bus station (south of the railway station), just hop on the local bus and pay later.

By car

The main gateway to the town is via the North-South Expressway from Kuala Lumpur to the Thai border. From Kuala Lumpur, head northwards towards Ipoh. Kuala Kangsar is just approximately 30km to the north of Ipoh. The old Federal Route One is an alternative for those who want a leisurely drive to Kuala Kangsar.

By train

Keretapi Tanah Melayu operates daily services from Kuala Lumpur and Penang (Butterworth)

Asia, Eastern & Oriental Express Luxury Train, Malaysia - Asia Tenggara, overland by train, Singapura - Asia Tenggara, Thailand - Asia Tenggara, Train, Traveling

Overland Singapore – Bangkok by Train, Perjalanan dengan E&O Express

Everyone ready to savour Jonathan's delicious dinner menu
Hari pertama dinner di kereta. Saya bersama tiga teman media yang ikut berpetualang dengan E & O Express. Ming Teoh dari Malaysia, Stephanie dari Philifina dan Jochelin dari Singapura. Photo dok Asian Food Chanel

Denting peralatan makan dan guncangan kereta menemani sajian makan malam saya. Atmosfer yang tak setiap hari bisa saya temukan. Berada di sebuah gerbong kereta mewah dengan interior klasik sambil menikmati sajian menu fine dinning dari chef andalan, tatanan pemandangan di luar kereta yang tak kalah bagus, ikut membuat takjub.

Di Gerbong Malaya, yang khusus merupakan ruang makan. Ikut bercengkraman dengan sesama tamu lain acara makan malam bernuansa glamor ini mungkin menjadi pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Dalam beberapa menit di sudut sana, Jonathan Phang yang merupakan bintang, pembawa acara di Asian Food Chanel (AFC), melakukan syuting untuk episode perjalanan yang kali ini melintasi Singapura hingga Bangkok, Thailand dengan Eastern & Oriental Express.

Pengalaman menarik dengan kereta mewah yang mirip seperti di film-film Hollywood ketika melintasi berbagai negara di benua Eropa, tentu tak semua orang dapat mengalaminya. Bagaimana bila pengalaman dan atmosfer yang sama berlangsung untuk menikmati sisi lain sebagian kawasan Asia Tenggara?

Di Woodland Station, Singapura
Di Woodland Station, Singapura. Tempat kami boarding pengecekan tiket dan dokumen keimigrasian. Foro dok : Dyah Ayu Pamela

Dalam sebuah perjalanan tiga hari bersama Jonathan Phang inilah, saya bersama 3 jurnalis lain dari Singapura, Malaysia dan Philifina, serta beberapa pemenang kuis dari acara Gourmet With Jonathan Phang berkesempatan merasakan sisi menarik perjalanan kereta mewah Eastern & Oriental Express yang juga beroperasi di Asia Tenggara.

Tak sekedar lewat saja, kereta pun berhenti di berbagai lokasi wisata menarik seperti di Kuala Kangsar, Malaysia dan mengenal sejarah pembangunan rel kereta Thailand-Burma di River Kwai sebelum mencapai Bangkok. Sepanjang perjalanan pemandangan alami khas Asia Tenggara dan pengalaman kuliner di sisi gastronomi menjadi saat-saat memoriable. Terutama setiap harinya kami menikmati lunch dan dinner yang dibuatkan oleh Chef Yannis Martineau dan Jonathan Phang lewat resep rahasia penuh keanekaragaman rempah dari keluarganya.

Day 1 : (Senin, 20 Juli 2015)

Perjalanan dimulai dari Singapura. Setelah berkumpul di Changi Airport, dengan bus besar peserta trip Gourmet with Jonathan Phang diarahkan untuk check in dan melengkapi dokumen di The Raffles Hotel. Bagasi kami dibawa dan tiap penumpang didaftarkan untuk kemudian mendapatkan nomor ruang kompartemen, dimana ini akan menjadi kamar tidur, tempat menikmati pemandangan luar biasa dari jendela kereta dan juga mandi dengan shower layaknya seperti sedang berada di hotel.

E&O Express at the station
Di Stasiun Padang Rangas, Malaysia lalu kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Bangkok. Foto dok : Asian Food Chanel

Saat menunggu kami dihabiskan dengan coffee break dan tea time, saling kenal dengan rombongan peserta trip with E&O Express. Hingga menjelang keberangkatan, kami kembali menuju bus yang akan mengantar ke Woodland Station, tempat kami boarding pukul 13.50 waktu Singapura. Disini ada pengecekan dokumen seperti passport dan tiket di imigrasi. Sekitar pukul 15.15 kereta pun mulai berangkat, melewati wilayah Keluang Malaysia dan beberapa stasiun.

Tak berapa lama, setelah menemukan kompartemen masing-masing seorang pelayan bernama Eakachai yang berkewarganegaraan Thailand masuk dan menawarkan sesi tea time di kompartemen saya. Siang itu adalah waktu beristirahat bagi kami semua peserta dari 4 negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Philifina, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang.

Ruang kompartemen saya dimana ada kursi yang pada malam hari bisa diubah menjadi tempat tidur super nyaman. Lalu ada toilet dan lemari di sisi sebelah kanan.
Ruang kompartemen saya dimana ada kursi yang pada malam hari bisa diubah menjadi tempat tidur super nyaman. Lalu ada toilet dan lemari di sisi sebelah kanan. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dari dalam jendela kompartemen sambil menikmati teh dan berbagai jenis roti serta cheese cake seperti sebuah hadiah. Sesekali masinis memberikan pengumuman lewat pengeras suara. Dan sore itu diberitahukan bahwa waktu makan malam kami akan mulai sekitar pukul 6 sore.

Bukan makan malam biasa, di kereta mewah ini baik pria dan wanita memakai pakaian terbaiknya. Pria, termasuk kameramen yang merekam selama syuting untuk program Tv pun ikut mengenakan jas dan dasi, sementara wanitanya memakai gaun dan menata rambutnya lebih apik, tak ada yang memakai jins ataupun sepatu keds disini, tak terkecuali saya.

Atmosfer makan malam di sebuah kereta mewah sungguh amat berbeda. Goncangan kereta, denting suara gelas dan lampu chalender serta temaran lampu yang terkesan romantis malam itu menambah suasana elegan interior dalam kereta. Menu makan malam kami saat itu Amuse Bouche yang merupakan sejenis cream soup, dengan menu utama saya pilih Medalion Beef dengan sayuran bersama saus Vindaloo dan mustard. Untuk makanan penutup kami disuguhkan Medley of Asian Citrus Fruit yang di lengkapi dengan Yuzu Sorbet dan krim kelapa. Sebuah pengalaman gastronomi yang tak terlupakan, di sebuah gerbong kereta mewah.

Jerk Chicken main menu yang saya pilih di hari ke-2 dinner
Jerk Chicken main menu yang saya pilih di hari ke-2 dinner. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Hari ke-2 : (Selasa, 21 Juli 2015)

Penumpang kereta Eastern & Oriental Express memang sengaja tidak disediakan fasilitas wifi. Karena perjalanan dengan kereta mewah ini dirancang untuk betul-betul menikmati suasana kereta saat melewati berbagai pemandangan eksotik khas Asia Tenggara.

Hari kedua perjalanan bersama Jonathan Phang dimulai dengan aktivitas sarapan di dalam kompartemen tepat pukul 07.00 waktu Malaysia. Ketibaan kami di stasiun Kuala Kangsar, sebagai tempat kami mampir pada malam sebelumnya telah diberitahukan lewat pengeras suara pukul 08.00. Dua buah bus besar menanti di parkiran stasiun, membawa rombongan ke Pasar Kuala Kangsar dimana Jonathan Phang akan melakukan kunjungan dan mencoba kuliner setempat.

Pasar Kuala Kangsar seperti halnya pasar di Indonesia, tak jauh berbeda. Phang pun sempat mencoba Teh Tarik dan Nasi Lemak yang merupakan makanan khas Negeri Jiran. Phang yang bermukim di Inggris juga menghampiri pedagang Duren, membeli buah itu, meminta peserta trip untuk mencobanya.

“Saya selalu suka pasar dan pasar adalah tempat yang menarik meski karena sebelumnya sempat kesini, jadi saya tidak terlalu terkejut,” ungkap Phang.

Guests on the train observatory deck taking in the view
Pemandangan di bagian belakang kereta, ini indah banget bisa menikmati perjalanan dengan cara yang berbeda mengenal sebagian Asia Tenggara. Foto dok : Asian Food Chanel

Selepas dari kunjungan di Pasar Kuala Kangsar, bus membawa kami ke salah satu mesjid termegah di distrik Perak salah satu wilayah Malaysia. Peserta rombongan tak sembarangan untuk masuk ke masjid ini, karena wanita harus berpakaian sopan dan memakai jilbab. Tapi pihak masjid pun menyediakan sejenis pakaian penutup dan scarf untuk pengunjung.

Masjid Ubudiah yang telah selesai di bangun pada 1917 silam didesain dan dibangun oleh Arthur Hubback seorang arsitek Inggris. Di dekat masjid juga ditemukan Bamboo Palace, bangunan yang dibuat pada 1926 merupakan istana sementara.

Tur dilanjutkan dengan mengunjungi Galeri Sultan Azian Shah, Sultan ke-24 yang telah direstorasi dimana sebelumnya merupakan Istana Ulu atau Istana Kota bekas bangunan istana. Di dalam galeri terdapat foto keluarga, tropi, dokumen dan berbagai penghargaan dari negara sahabat termasuk hadiah yang dipersembahkan untuk Sultan.

Pertunjukan tari tradisional Thailand di atas kereta sambil menunggu dinner.
Pertunjukan tari tradisional Thailand di atas kereta sambil menunggu dinner. Foto dok : Asian Food Chanel

Memasuki jam makan siang, pukul 10.15 kami diarahkan kembali ke bus yang kemudian membawa rombongan ke Stasiun Padang Rengas, tempat kereta kami menunggu. Kembali ke kompartemen, ini adalah acara bebas sebelum menunggu sajian makan siang. Tapi tentu tak berlaku untuk saya yang sebelum makan siang punya jadwal wawancara sekitar 25 menit dengan Jonathan Phang. Sesi wawancara one by one ini berlangsung di ruang baca secara bergantian.

Bila pada hari sebelumnya pemandangan di luar jendela berupa pohon kelapa sawit, di hari kedua ini suguhan yang lebih indah yang saya temukan berupa bukit-bukit. Suasana yang berbeda ini menjadi atmosfer selama makan siang. Tepat pukul 15.00 kami tiba di Stasiun Padang Besar, kereta berhenti cukup lama karena disini ada pengecekan dokumen keimigrasian sebagai formalitas. Waktu lokal pun sudah berubah menjadi zona waktu Thailand yang tak berbeda dengan waktu lokal di Indonesia.

Galeri Sultan Azlan Shah, di dalamnya ada berbagai benda seperti foto keluarga hingga tropi dan benda pemberian negara sahabat.
Galeri Sultan Azlan Shah, di dalamnya ada berbagai benda seperti foto keluarga hingga tropi dan benda pemberian negara sahabat. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Usai makan siang menjadi waktu yang panjang untuk beristirahat atau memilih untuk menikmati hiburan yang dijadwalkan sore hingga malam hari itu, termasuk tea time sebelum makan malam pukul 21.00. Ada hiburan di piano bar dimana Jonathan ikut serta. Persembahan tari tradisional juga ikut mengisi waktu kami sebelum menikmati makan malam yang pada hari itu dibuatkan khusus dari resep Jonathan.

Sajian pembuka makan malam kami adalah Salt Fish Cakes dengan Manggo Salsa dan Red Pepper Mayonnaise. Kemudian ada soup, Spiced Pumpkin dan Seafood Soup dengan menu utama Jerk Chicken dilengkapi Nasi Biryani. Sebagai hidangan penutup Coconut Pineapple Crumble Cake dan Vanilla Ice Cream yang manis menjadi penawar rasa pedas makanan pembuka dan utama kami, cita rasa kaya rempah dan bumbu dari Jonathan.

Kembali syuting, ini suasana dinner di hari ke-2 kami bersama Jonathan Phang. Menunya pun kaya rempah dan semuanya pedasssss :D
Kembali syuting, ini suasana dinner di hari ke-2 kami bersama Jonathan Phang. Menunya pun kaya rempah dan semuanya pedasssss 😀 Foto dok : Dyah Ayu Pamela.

Disela acara makan malam itu salah satu pemenang Trip dengan Jonathan Phang dari Singapura, Lim Sepk Ee memberikan cheers untuk Mr. Jonathan karena telah berbagi resep warisan keluarganya. Lalu semua yang hadir di ruang makan itu memberi uplause juga, Jonathan pun mengajak keluar para koki di dapur yang ikut membantunya memperkenalkannya kepada para tamu.

Hari ke-3 (Rabu, 22 Juli 2015)

Guncangan kereta tak hanya menemani saya saat menikmati sajian makan di gerbong Malaya, tapi juga harus saya rasakan ketika tidur. Beberapa teman bercerita sedikit terganggu dengan kondisi ini, namun karena lelah beraktivitas seharian mengikuti agenda trip mulai malam kemarin semuanya telah terbiasa dan bisa tidur nyenyak.

Jonathan Phang mencoba Belimbing Bulu, di Inggris sepertinya dia nggak pernah ketemu buah ini. HHahahaha :D
Jonathan Phang mencoba Belimbing Bulu, di Inggris sepertinya dia nggak pernah ketemu buah ini. HHahahaha 😀 Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Pukul 05.30 kami sudah tiba di Hua Hin dan jadwal sarapan kembali sesuai permintaan saya agar diantar pukul 07.00 di dalam kompartemen. Sekitar pukul 09.00 pagi kereta kembali berhenti di Stasiun Ban Pong, disinilah kami memulai perjalanan kembali dengan bus tempat wisata Thailand, River Kwai bride.

Singkat cerita, perjalanan dengan bus tingkat dari Stasiun Ban Pong menuju lokasi River Kwai bridge yang ditempuh sekitar 40 menit itu berakhir dengan penjelasan panjang dari guide yang memaparkan sejarah River Kwai bridge. Setelah mencapai daratan di seberang sungai, kami kemudian dibawa menuju Thailand-Burma Railway Centre.

River Kwai bride, rombongan menaiki perahu kemudian menerima penjelasan sejarah tentang pembangunan rel kereta di masa Perang Dunia ke II itu.
River Kwai bride, rombongan menaiki perahu kemudian menerima penjelasan sejarah tentang pembangunan rel kereta di masa Perang Dunia ke II itu. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Sebuah museum yang memaparkan sejarah pembangunan jalan kereta di masa Perang Dunia II tahun 1942 – 1945 yang memakan sekian banyak korban. Kunjungan ke makam korban pembangunan Thailand – Burma Railway selanjutnya menjadi akhir dari kunjungan hari itu di Kanchanaburi, Thailand.

Bus pun kembali membawa rombongan ke Stasiun Ban Pong, bersiap makan siang dan mengepak barang-barang kami ke koper karena di pukul 16.45 waktu Thailand kami sudah dijadwalkan sampai di Bangkok.

Suasana Ketibaan di Stasiun Bangkok, setelahnya untuk sampai ke hotel kami kena macet hampir 1,5 jam lebih. Ini hampir mirip Jakarta banget.
Suasana Ketibaan di Stasiun Bangkok, setelahnya untuk sampai ke hotel kami kena macet hampir 1,5 jam lebih. Ini hampir mirip Jakarta banget. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Luar biasa, setelah tiga hari di kami hidup di atas kereta, nggak terasa sudah sampai Bangkok. Kami dijemput agen tur untuk di antar ke Dusit Thani Hotel yang merupakan tempat menginap. Jarak dari stasiun kereta Bangkok ke hotel sih sebenarnya dekat, tapi karena macet sekali kota Bangkok sore itu, kami yang kena macet hampir 1,5 jam sampai hotel ketika langit hampir gelap.

Bangkok sendiri, mirip dengan Jakarta. Yeaaah ini touch down saya pertama kalinya di kota ini. Dulu tahun 2013 agenda traveling saya ke Phuket, bagian Thailand lain. Cukup shock juga ya, karena nggak jauh beda seperti ada di Jakarta (macetnya).

pemandangan kota Bangkok yang mirip seperti di Monas.
pemandangan kota Bangkok yang mirip seperti di Monas. cuma ya nggak ada Monas disana 🙂 Foto, dok : Dyah Ayu Pamela.
Kuliner, Malaysia - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Kuliner Ajiiiib KL – Bukit Bintang – Petaling Street

Traveling it feels incomplete if You do not try regional specialties. Instead of culinary is also include as part of the tourism eksplosure?

tmp_IMG_20130405_170553-1018140710 Big Portion Chiken Tandoori, Not Spicy But Lemonade

Region famous tourist crowds in Malaysia is Bukit Bintang. No wonder that a row of restaurants here, my friends told me culinary at Jalan Alor also must try, because there was a lot of street food, who knows a cheap and tasty. But my hotel is located around Bukit Bintang, so dinner for three nights, i’m choice around here.

Ganti mode. Capek juga ya mikir kosakatanya biar Bahasa Inggris, hehehe. Baru aja cek in hotel, tapi habis itu perut rasanya udah kruyuk-kruyuk minta diisi. Maklumlah kan memang jam makan siang, jalan sekitar 500 meter, sederetan jalan di Bukit Bintang menawarkan berbagai macam restoran. Yang menarik, ada sebuah restoran India bertuliskan Nasi Kandar dan Ayam Tandoori, tanpa pikir panjang langsung pilih makan di sini.

Apa sih sebenarnya kedua menu ini? agak bawel dan skeptis, maklum wartawan 😜.. habis makan saya nanya kenapa ayam Tandoori bisa merah, dari mana warna merah tadi. Mungkin resep rahasia, si bapak Indian berkulit gelap dan tinggi kurus nggak mau kasih tahu. Dia cuma bilang itu dari bumbu khas di India.

tmp_IMG-20130405-00432956293978 I recommend you to visit this restaurant. Restoran Nasi Ayam Hainan yang Favorit Saya Banget di Bukit Bintang

Siapa yang tidak tergoda penampilan Ayam Tandoori warnanya merah, kirain rasanya pedas padahal justru seperti ada campuran resapan lemon, jadi asem gitu. Ayam Tandoori ini juga dilengkapi saus yang nggak pedas, campuran yogurt, rasanya sama asamnya.

Saya kurang paham sih, kenapa kalau ke restoran India pasti dikasih porsi yang besar banget. Mungkin orang India kalau makan bener-bener mirip kuli 😂. Makanya lebih baik beli seporsi untuk berdua biar nggak mubazir.

Setelah ayam tandoori, saya juga memesan Nasi Kandar, sebagai teman makan si ayam. Rasanya mirip dengan nasi kebuli yang suka dibuat mama dirumah. Paduan berbagai rempah-rempah dan rasa kambing.

FYI.. guys, sebelum berangkat ke Jiran saya sudah ancang-ancang mau nyobain Nasi Lemak, salah satu makanan khas nya dan ternyata agak mirip Nasi Uduk kalau di Indonesia. Bedanya, nasi ini nggak direndam dan dimasak dengan santan, tapi hanya daun salam, lalu ada orek-orek kacang, telur mata sapi, dan sambal. Blaaaaah cuma ini ternyata, *penonton kecewa* Oke nggak apa-apa, itu harganya cuma 2 Ringgit dan biasa aja rasanya. No tasty.

image Air Mata Kucing di Petaling Street

Dimana pun kamu berada, kalau nggak mau kecewa, pilihlah tempat yang kelihatannya ramai dikunjungi. Bisa jadi restoran itu memang punya taste yang sesuai. Seperti kalau di Bukit Bintang, malam harinya kita makan di Nasi Ayam Hainan Chee Meng, nggak kecewa deh sama menu disini. Nasi Ayam beserta Lauk Ayamnya ajiiiibbb, gurih tapi nggak seperti pakai MSG. Ayamnya juga juicy.

By the way saking sukanya, malam besoknya saya sama travelmate kesini lagi dan nyoba menu berbeda, Mie Goreng Hokian-nya yang ternyata juga enak. Kalau biasanya makanan dengan taste nggak mengecewakan, pasti mahal. Di restoran ini tuh rasionable banget. Seporsi Nasi Ayam Hainan sekitar Rp 30 ribu atau RM 7 . Menu lain juga rata-rata seharga RM 7-10. Cuma kalau dibandingkan, dengan restoran diluar jalur Bukit Bintang seperti Jalan Alor, harga ini terbilang lebih mahal. Kan disini site nya turis. So, yang pergi ala backpacker lebih baik ke Petaling Street aja atau Jalan Alor.

Bila cuma ingin aman cari makanan pasti enak ya pilihannya restoran India aja, yang di berbagai sudut kota juga ada. Kalau di Indonesia mirip Restoran Padang yang tersebar dan jadi favoritnya orang-orang, termasuk kalau kamu ke Papua sekalipun, restoran nasi padang ada disana. Di dekat Stasiun Komuter, KL Central ada Suriah Teh Tarik yang makan berdua cuma menghabiskan RM 7 padahal porsinya banyak dan sudah termasuk minumnya. Juga Restoran Nasi Kandar dekat Gedung Mydin, meski ada teman yang berkomentar di warteg lebih murah 10 ribu juga dapet (itu kan tapinya cuma sepiring).

tmp_Bandar Kuala Lumpur-20130406-00487-1573114232 Buah Di Petaling Street

Hampir tiap hari makan berlemak atau berkuah santan di restoran India, kasian perut rasanya. Buah adalah menu wajib, carilah ke pasar seputar Petaling Street. Disini tersedia banyak macam buah, tergantung kamu sukanya apa. Oh ya, kalau kesini jangan lupa beli Air Mata Kucing sebagai pelepas dahaga. Unik ya namanya, katanya Air Mata Kucing juga berkhasiat untuk panas dalam. Rasanya mirip-mirip kalau kita minum liang teh.

Sepenggal perjalanan, pertama kali backpacker 2013

(Dyah Ayu Pamela)

Malaysia - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Ini yang katanya “Truly Asia”

Malaysia punya slogan buat pariwisatanya berjudul “Truly Asia”, mari cari tahu dimana karakter yang buat mereka berani mengklaim kalau disana benar-benar Asia?. Daerah seperti Kuala Lumpur (KL), kawasan Bukit Bintang, dan Petaling Street adalah beberapa tempat yang cukup ramai sekaligus disebut dalam buku sakti para traveler, Lonely Planet sebagai must visit place, dari tempat ini kita bisa cari tahu apa pesan dari “Truly Asia” tadi, seperti apa sih?

IMG-20130404-00372
Dibawah Stasiun Pemberhentian Komuter, Imbi. Tak Jauh dari Kawasan Bukit Bintang

Negara yang satu ini, Malaysia, tetangga dekat, yang masih serumpun tapi sempat sering salah paham. Bila diulik lagi konflik wilayah yang merembet sengketa, saling klaim pulau atau kepemilikian kebudayaan antara Indonesia dengan negeri jiran sudah terjadi sejak era Presiden Soekarno di tahun 1960-an. Ada kata “Ganyang Malaysia” di buku-buku sejarah waktu SD hingga SMA. Gimana nggak membekas, dari kecil kita sudah dicekokin sejarah konflik dengan tetangga.

Saya agak apriori karena beberapa yang saya temui kurang ramah. Ditanya surau atau musholla, atau masjid nggak tahu. Bukannya disini muslimnya cukup banyak (kalau ini rasanya agak sensitif, mungkin saja yang saya tanya ternyata non muslim) lalu saat akhirnya ketemu musholla itu cuma ruang sempit di sebuah pusat perbelanjaan yang ala kadarnya. Saat itu juga rasanya langsung bersyukur sama musholla yang lebih baik di Jakarta dan kepingin cepet pulang ke rumah.

IMG-20130405-00423
Suasana Kota di Dekat Berjaya Square

Balik lagi tentang “Truly Asia”, Malaysia demikian menyebut dirinya sebagai yang betul-betul Asia mungkin karena disini kamu bisa melihat wajah-wajah yang “Asia Banget” perwakilan dari etnis India, Cina, Melayu, dan mungkin juga Arab (India yang mirip Arab). Negara dan penduduknya yang lebih kecil berjumlah sekitar 20 juta-an (bandingin dengan Indonesia yang 250 juta) dan 6 juta-an di seputar KL membuat wajah-wajah campuran etnis Asia tadi berbaur. Kesannya jadi lagi ada di Asia, bahkan nggak cuma itu, makanannya juga. Berbagai restoran India, Cina, Arab, Melayu berjejer di kawasan tempat wara-wiri nya turis seperti Bukit Bintang bederetan juga dengan penginapan.

Atmosfer yang paling terasa kental kesan Asia juga bisa dijumpai jika kamu berjalan di  seputar Petaling Street. Waktu itu saya berjalan di kawasan etnis India dan mendengar lagu India lagi disetel kenceng banget, kali lainnya di kawasan toko-toko beretnis Cina lagu mandarin melengking naudzubila. Terus yang nggak kalah lagu-lagu Melayu macam ST12, D’Masive, atau Peterpan juga membahana di toko-toko souvenir (Oh jadi gini selera mereka, langsung gubrakkk).

Percampuran budaya dari Cina, India, Melayu juga ditunjukan dari bangunan kuil-kuil yang ada. Tak jarang bisa dijumpai Kuil India dan Cina berseberangan, terletak di banyak sudut. Tapi kesan Asia menurut saya cuma sebatas wajah dan makanan mereka. Selebihnya seperti keramahtamahan orang Asia, toleransi yang dipunya di negara kita, dan kebersatuan? rasanya jadi bersyukur cuma kita Indonesia yang beragam-ragam suku bangsa tapi tidak sendiri-sendiri dan memiliki rasa persatuan.

Di negeri jiran

(Dyah Ayu Pamela)