Backpacker, Indonesia, JAMBI, MOUNTAIN, PADANG - Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Let’s Go! Pendakian Bersama Gunung Kerinci

My nexy journey…. akhirnya sampai juga pada pendakian ke sebuah Gunung berapi tertinggi di Indonesia. Kerinci! InsyaAllah…. Setelah sebulan yang lalu trip bersama group yang lumayan besar (25 orang) ke Pulau Derawan di Berau, Kalimantan Timur.

Dan kepergian kali ini juga dengan group yang lebih besar. Nggak tanggung-tanggung sekitar ber-38 orang, pendakian bersama Consina. Kalau belum tahu, Consina itu brandoutdoors termasuk alat-alat gunung. Kebetulan ada teman yang ngajakin buat gabung, ah pas banget karena buat ke Kerinci itu perlu tim handal dan tahun depan agendanya beda! Sepertinya sudah nggak memungkinkan pergi seminggu full buat ke gunung.

Sebenarnya sebelum ke Derawan saya juga sudah berencana ke Kerinci di bulan Mei 2016 kemarin, tapi karena sempat ada pemberitaan Kerinci status waspada pada April lalu ya nggak jadi. Menurut panitia sekarang sudah aman nih Kerinci, semoga saja ya… berjodoh dengan Kerinci.

Seperti biasa saya tulis di blog cerita persiapannya sebelum berangkat, gimana dan apa saja rencana-rencananya. Gimana pun ke gunung itu beda, butuh persiapan fisik lebih tentu saja 🙂

Sekilas dulu ya soal kenapa memilih Gunung Kerinci untuk didaki dan dimanakah Gunung Kerinci berada??? Gunung Kerinci, dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura. Sebuah nama untuk gunung tertinggi di pulau Sumatra, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua.

Terletak di Provinsi Jambi yang berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra. Uhuhuhu semoga nggak ketemu Harimau di hutan-hutannya 🙂

foto (8)

Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 mdpl, ini dia bagian yang menantang bagi saya pribadi sebagai seorang pendaki (amatir). Dari ketinggian ini tentu saja kita bisa melihat di kejauhan membentang pemandangan indah Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu.

Bahkan Samudera Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. FYI menurut sumber wikipedia Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh. Hmmmm, keren kan??? lebih keren dari Gunung Rinjani nggak ya?? kita lihat nanti…

Dengan jadwal pendakian sekitar 4 hari naik dan turun (kurang lebih seperti ke Gunung Rinjani), tapi beda juga kali ini transportasi yang akan saya gunakan adalah bus. Kebayang gimana? dua hari perjalanan bus… pulang dan pergi. Tapi tim Consina menurut teman yang merekomendasikan sudah oke banget kalo buat trip pendakian. Terakhir bos-nya temenku itu ikut pendakian bareng ke Rantemario di Sulawesi dan katanya oke banget sudah pengalaman.

Seperti biasa kalau mau pendakian saya jogging lebih rajin, paling tidak seminggu 3-2 kali buat latih stamina. Tapi dari pengalaman sebelumnya menurut saya ya paling penting soal antisipasi cuaca dingin. Jangan lupa jaket bahan polar sebagai jaket anti dingin buat muncak. Buat penghangat juga perlu baju thermal, termasuk kaos kaki tebal, dan sarung tangan thermal biar nyaman saat tidur.

foto (26)
trekking di shelter 3 yang aduhai, menantang dan beda dari gunung lain di Indonesia

Sekedar sharing aja, trip ini mencakup untuk fasilitas :

Bus Pariwisata, medium (31 seat), AC, kursi2-2 (tanpa toilet). Penginapan Home stay Paiman Kersik Tuo, 2 malam. Makan peserta sebanyak 7X selama di homestay. T-shirt PBC Kerinci 2016. Tiket masuk TNKS dan Danau Gunung 7 Wisata Danau Gunung Tujuh,Asuransi perjalanan (Jakarta – Jambi) Pemandu pendakian, Sticker Consina Outdoor Services, Free Jersey Event Consina dan Door prize Consina.

Tapi biaya Rp. 1.750.000 belum termasuk konsumsi diluar yang ditentukan, peralatan camping (tenda, sleeping bag, matras) dan peralatan masak. Hehe kalau yang ini kebetulan sudah punya semua jadi tidak masalah.

Seperti biasa kalau ingin mendaki ada perlengkapan pendakian pribadi yang harus dibawa seperti : carrier 50-80 liter (sesuai kebutuhan), tas 15-20 liter, jaket (bahan polar disarankan), jas hujan atau ponco, sleeping bag, matras, sepatu trekking (lebih dianjurkan), pakaian secukupnya (sekitar 3 pasang), sarung tangan, kupluk atau multifunctional headware, senter atau headlamp dan baterai cadangan, obat-obatan pribadi, kaos kaki secukupnya (sekitar 3 pasang), sandal, trekking pole, kamera dan baterai cadangan, pisau Lipat atau multifungsi, botol air minum (thermos), alat makan (piring, sendok, garpu dan gelas), perlengkapan mandi, sunblok, lip balm, sunglass, topi rimba (jika ada), dan perlengkapan lainnya sesuai kebutuhan.

Sementara untuk perlengkapan pendakian kelompok ada tenda, fly sheet, alat masak dan bahan bakar, konsumsi selama pendakian, tali rafia, tissue basah dan kering, trash bag dan kantong plastik.

DSCN9584
Kalau ini saat sudah hampir puncaknya

Itinerary Gn. kerinci

DAY 1. (Sudah di Jambi) homestay Paimanan

05.00 Bangun, sarapan dan persiapan pendakian (B, L) re packing
06.00 Berangkat menuju Pintu Rimba
07.00 Start Pendakian (Pintu Rimba, pos 1, pos 2, pos 3, shelter 1)
12.00 Makan siang di Shelter 1 (jika memungkinkan)
17.00 Tiba di Shelter 3 dan bermalam
Atau kalau jalannya memang lambat baru sampai jam 19.00 malam

DAY 2

SHELTER 3 – PUNCAK KERINCI – KERSIK TUO
03.00 Bangun, sarapan dan persiapan pendakian
03.30 Start pendakian menuju Puncak Kerinci
06.00 Tiba di Puncak Kerinci, menikmati pemandangan dan foto-foto 07.30 Turun kembali menuju Shelter 3
09.30 Tiba di dishelter 3, Istirahat, makan pagi dan packing
11.00 Turun menuju Pintu Rimba

13.00 tiba di shelter 2, solat zuhur makan siang,

15.00 tiba di pos 3
18.00 tiba di pos rimba
Malam sebelum jam 20.00 sudah di basecamp Paimanan

DAY 3

05.30 Bangun solat dan makan pagi
06.30 Berangkat menuju pos registrasi Danau Gunung Tujuh 07.00 Start
(Pilihan lain ke Danau Kaco)

19.00 Berangkat pulang menuju Jakarta

Ohya, kalau memang tidak tertarik buat ikutan pendakian bareng Consina, kamu bisa pergi sendiri bareng kelompok kamu. Hubungi aja Mas David, kenalan guide lokal saya yang juga saudara (masih keluarga) dari pemilik Homestay Paimanan di Jambi : no telpon 082185335453

Meski pergi dengan group besar ber-38 orang, tapi kami dibagi beberapa kelompok dan tenda supaya teratur dan nyaman dalam pendakian. Satu kelompok terdiri dari 8 orang yang juga bisa mengatur untuk menyewa porter selama pendakian. Tidak ada salahnya pergi dengan banyak orang, buktinya kepergian ke Derawan kemarin justru fun dan makin bisa belajar dari banyak orang dengan perbedaan usia serta karakter.

Advertisements
Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Drama Liburan Naik Pesawat Lion Group

Niat liburan itu kan buat having fun! nah kalau ternyata jadi bad mood gara-gara masalah maskapai penerbangan yang delay delay (gw nulis diulang karena ini maskapai hobi banget buat delay).

Belum lagi delay yang  bisa berakibat ketinggalan pesawat karena tak ada pemberitahuan, bagasi yang buat was was serta keribetan lainnya. Gw cuma mau bilang supaya kalian harus pertimbangkan untuk naik maskapai penerbangan yang  terpercaya jadwal berikut pelayanannya.

Mungkin sudah banyak review tentang delay delay yang kerap terjadi kalau naik pesawat Lion. Sudah jadi keseharian nampaknya. Kalau lagi tugas liputan, gw hampir nggak pernah kedapetan naik Lion sih. Tapi pernah tiga kali dan itu pun sekali gw ditinggal pesawat ke Surabaya, padahal belum boarding. Tadinya gw yang sangat jarang naik Lion masih berpikiran positif pun akhirnya mengalami sendiri dan itu buat liburan nggak nyaman di awal.

Sudah diingetin sama temen-temen trip gw sebelumnya supaya jangan naik Lion Air atau Wings Air yang merupakan satu group perusahaan itu. Tapi kan ya, di hari H saat akan beli tiket Garuda yang sudah diincar ternyata sudah naik harganya. Kalah banyak, gw harus nambah 1 juta kalau tetep mau beli tiket Garuda buat PP ke Bandara Kalimaru, Berau. Yaudah gw ngalah, kan lumayan 1 juta bisa buat beli oleh-oleh kan….

foto (23)

Dua minggu sebelumnya gw sengaja baru beli tiket pesawat karena nunggu persetujuan cuti. Gw pikir masih aman ya naik Lion sama Wings Air, karena terakhir kali ke Pontianak di bulan Februari 2016 nggak ada delay. Waktu dinas luar ke Poso bulan November 2015 dengan pesawat Lion dan Wings Air juga tak ada masalah.

Tetep tuh, ketika issued tiket ke panitia meet and trip, gw yang pilih penerbangan Lion di-cenginnn dong via obrolan group whatsapp, “Mudah-mudahan nggak delay aja,”.. bla bla… hahaha tapi gw masih positif thinking aja saat itu…

Tapi sehari sebelum keberangkatan gw, tanggal 12 Mei 2016. Ketiban sial banget rasanya, sore sehabis nyelesain deadline berita-berita buat cuti, ada sms yang masuk. Memberi tahu kalau pesawat gw yang besok pagi seharusnya pukul 5 diundur keberangkatannya menjadi pukul 6 pagi. Ah nggak apa-apa kata gw dalem hati, malah bisa bangun agak nyantai.

Masalahnya bukan itu, tapi jadwal pesawat yang seharusnya terintergrasi dengan penerbangan selanjutnya dari Balikpapan ke Berau itu tidak juga diubah. Pihak Lion hanya mengubah jadwal pesawat dari Jakarta ke Balikpapan yang tiba sekitar pukul 10.00, tapi tidak ikut merevisi keberangkatan saya dari Balikpapan ke Berau. Aduhhh, gila, gw belum tiba di Balikpapan, tapi pesawat lanjutan nggak diubah jadwalnya juga ke waktu ideal sampai di bandara. Apa jadinya kalau ketinggalan pesawat? rugi lah kalau diminta beli tiket lagi.

Nggak mau itu terjadi mulailah ketidaknyamanan itu terjadi. CS Lion sulit dihubungi, mungkin karena banyak yang menanyakan perihal delay tadi. Yang buat gw tambah kesel saat itu jawaban dari pihak CS Lion yang… ah serius nggak cerdas banget menangani complain. Banyak nggak ngerti dengan apa yang gw minta. “Ubah jadwal pesawat lanjutan saya ke Berau, karena Lion belum merubahnya padahal gw beli yang connected dan soalnya sudah cek in online sebelumnya,”. Akhirnya setelah 3 kali nelpon CS yang berbeda, barulah gw diberitahu kalau pesawat lanjutan sudah diubah. Hufffttttt

Tarik nafas dulu,,… ahh sebel! padahal malam itu harus beresin packing-an dan cek ini itu, tapi jadi nggak bisa tenang gara-gara delay pesawat. Pihak Lion cuma bisa bilang maaf telah membuat tidak nyaman. Kata gw dalem hati “aduh, kalo nggak kepaksa nggak mau naik Lion mapun Wings lagi deh,”. Mereka yang menjawab hanya seorang CS yang menurut gw juga sudah kena omel banyak orang, sudahlah Pam jangan marah-marah, itu nggak ngubah apapun!

Kirain udah selesai nih, bisa tenang cek in di bandara pagi besoknya? ah belum aja…. di depan loket setelah antri 4 orang gw dibilang suruh ke loket khusus CS. Alaamakkkk apa lagi nih? Deg-deg-an, nggak santai, si petugas nyoba nge-print tiket gw ternyata. SETELAH NUNGGU 15 MENIT. BAYANGIN 15 MENIT!!! FYI ternyata Indah sama Detta juga mengalami serupa yang gw alami. Duh! Lion.

Drama maskapai Lion belum selesai lho, pas pulang balik ke Jakarta, beberapa dari teman trip gw juga dapet sms delay. Nah jadi bingung juga, secara jam keberangkatan kami dan pesawat sama, cuma memang kami beli di tiket agen berbeda.

foto (24)
Kloter 4 yang karena delay delay naik Lion…. ah tapi seakan lupa punya problem sama delay, tetep mau foto di transit bandara Balikpapan.

Hufff,… kali ini ternyata pesawat kami nggak delay, pantesan kok gw nggak di sms kalo delay, tapi Aqied sama Agnes di email… Dan justru yang ANEH BANGET!!!!!!!!!! (capslock gede). Petugas bandara maskapai Wings Air ngeburu-buru kita masuk pesawat, padahal belum waktunya boarding dan take off. Yaaammpun.. untungnya gw dan berdua teman yang satu pesawat bareng, Agnes sama Aqied nyampe lebih cepat sekitar 30 menit.

Masih gw inget kejadian itu, kita lagi milih-milih sarung yang warnanya ngegemesin semua. Huhuhuhu, terus si mbak petugas bandara neriakin kita buat cepet masuk pesawat, ihhhh sebel banget kan.

Gw, Aqied, Agnes sampe bingung pas udah duduk di pesawat, karena jam-nya masih lama buat boarding. Yaampun ganggu banget sih Wings Air. (Ngesot-ngesot jalan ke pesawat, kayaknya ya memang agak nggak rela ninggalin Derawan buat balik ke Jakarta). Terus kami sampai di Bandara Sepinggan juga kecepetan ternyata. Haduh drama banget deh naik Lion sama Wings Air.

Menurut gw ini belum seberapa, setelah delay delay yang gw alami sendiri naik pesawat Lion dan Wings makin tertarik aja gw sama berita jelek soal pelayanan lion group. Iya, terakhir gw baca ada penumpang yang protes karena bagasinya ditinggal saat memilih terbang dengan Wings Air. Alasannya karena bagasi harus dikurangi dan ini demi keselamatan penumpang.

What the hell,…. apapun alasannya menurut gw maskapai Lion dan Wings seharusnya bisa sejak awal membatasi bagasi per penumpang supaya tidak melebihi bagasi. Bukan dengan meninggalkan bagasi penumpang, gimana coba kalau kamu yang mengalami. Penting barang yang ada di dalam. Rugi waktu, rugi pikiran dan tenaga menurut gw. Parah sih menejemen Lion Group menurut gw. Belum lagi dulu ada bagasi hilang. Duh!

LIFE, story, The Journey

Ceritanya Biar Semangat Lari!

IMG_0775
Pemandangan kalau lari sore di GBK… jadi tempat favorit GBK itu. Sore agak sepi tapi malah rame kalau jam 10 malam!

Ini lari beneran, bukan lari dari kenyataan lho…

Sudah hampir 2 tahun sejak saya rutin jogging, dimulai tahun 2014 lalu tepatnya bulan Agustus. Tujuan awal memang untuk menurunkan berat badan yang sudah melewati 60 kg. Bayangkan waktu itu bisa tembus angka 61 kg, overweight banget dan jauh dari kata sehat.

Ini gimana ceritanya coba? belum nikah, belum hamil tapi sudah segendut ini. Sungguh sangat tidak menarik. Akhirnya dengan semangat “memantaskan diri” sebelum nikah, semua halangan rintangan itu terlewati.

Dari mulai nggak punya sepatu lari “beneran”, sampai niat beli segala pakaian olah raga yang dry fit. Terus download aplikasi Nike Running, nah makin kebantu catatan harian jogging saya. Terima kasih yang telah membuat aplikasi bermanfaat ini *peluk bahagia*

Hal yang paling saya ingat kenapa akhirnya bertekad buat konsisten dengan olahraga lari ya karena terinspirasi sama seorang teman. Waktu itu lagi liputan luar kota di Jogja dan si mbak PR yang mengundang saya saat itu tetap membawa sepatu lari kesayangannya buat jogging, jadi sedih sebenarnya kalau mengingatnya karena dia sudah almarhum sekarang. FYI dia bisa nurunin berat hingga 30 kg dengan lari yang konsisten.

Kalau dihitung-hitung, ternyata saya perlu meluangkan waktu kurang lebih 60 menit di setiap sesi jogging harian. Iya, walaupun itu hanya untuk lari berjarak 3 km yang biasanya bisa ditempuh dalam 24-27 menit, dengan rata-rata 8 menit per kilometer. Ini dibulatkan waktunya menjadi 60 menit dengan streching sebelum dan setelah lari yang penting supaya tidak mengalami cedera.

Pada akhirnya jarak tercepat saya ya sekitar 7 menit-an per satu kilometer dan itu pun kalau larinya di GBK.. Entah kenapa, bisa lebih cepat waktu tempuh saya kalau lari di Senayan?

image (11)
Kalau lagi keluar kota atau lagi dinas dan traveling ke luar negeri, sengaja banget bawa sepatu jogging biar bisa touch down di Nike Run,,, karena peta nya kan merekam jejak lintasan lari kita.

Pasti pada kesel, ini inti judulnya dimana? kok nulisnya induktif, kesimpulan utama atau inti pembicaraan di akhir.. Ya biar betah bacanya sampai akhir.

Belakangan karena mungkin mulai agak jenuh. Rekor lari saya menurun 5 bulan belakangan. Padahal juga karena baru pindah liputan khusus di food jadi nambah berat 5 kg. Sekarang harus berjuang lagi dari kondisi berat 55 Kg buat balik ke 50 Kg hingga 48 Kg.

Juga punya goal baru pencapaian lari seperti awal lagi bisa sekitar 50-30 Km per bulan, nggak seperti sekarang yang malah dibawah 20 Km. Iya, pertama sepertinya karena saya belum update musik terbaru. Lalu sepatu lari juga belum ganti-ganti, hahaha tapi akhirnya minggu lalu beli juga karena baru menang lomba nulis lagi. Hihi… Alhamdulilah

Kondisi lain yang menghambat lari itu bersifat teknis seperti kaki yang cedera kalau kebanyakan lari dan masalah waktu. Aduh klasik banget.

Nah saya sudah ketemu caranya, supaya semangat lari lagi!

IMG_0997
Jarang banget saya bisa lari bareng temen. Kebanyakan lari sendiri karena temen lari yang diajak konsisten nggak ada.
  • Update musik terbaru yang memotivasi kamu buat semangat lari, aliran nge-beat bakal cocok banget. Senaiknya sih, sering ganti sebulan sekali di rotasi. Rekomendasi ya, saya kemarin memasukan lagunya Naughty Boys yang feat sama Sam Smith, terus lagu Sorry dari Justin Beiber, dan Lacth dari Discloser feat Sam Smith yang iramanya cukup tenang tapi memompa semangat.
  • Harus ada alasan kuat kenapa kamu lari. Itu di awal ya, tapi kalau sudah rutin lari seperti saya pasti bakal ketagihan terus, nggak dibujuk-bujuk pun. Kenapa? soalnya ada perubahan drastis ketika sudah menjadi rutinitas. Tubuh terasa lebih fit, jarang sakit, dan lebih merasa bahagia aja setelah lari. Ya ini sebabnya ketika kita berolah raga tubuh ikut memproduksi hormon endorfin. Habis itu ketagihaaann… coba tanya aja pelari lain.
  • Buat dirimu kangen sama setiap perlengkapan lari kamu. Sepatu jogging kamu yang lucu, warna pink neon misalnya. Ah kalau saya sih kurang suka yang neon neon. Lagi suka warna menenangkan hati seperti biru laut atau hijau daun.
  • foto (7)
    Capaian terakhir Nike Run! aduhhh harus semangat lagi walau puasa…
  • Pakai Nike Running, ini juga yang memacu kamu untuk konsisten lari. Soalnya kalau sudah berteman dan lihat capaian teman kamu lebih unggul itu pasti akan memotivasi. “Waduhhh, aku baru 4 K minggu ini, lari ahh,”
  • Pakai target, segala sesuatu kalau punya tujuan jadi lebih semangat. Nah begitu juga lari. Target kamu apa? Bisa ikut lomba maraton 8 K? atau ingin punya body sekece Agnes Monika? Ya semua sah sah aja, selama membawa ke arah positif kan.

 

culinary, Food, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, Kuliner, Traveling

Santap Lobster Jumbo di Pulau Derawan

DSCN8648
Ini lobster yang dicicip Agnes masih terbilang kecil dibanding lobster lain… Tapi kalo di Jakarta sih ini mungkin sudah paling jumbo ya.. foto by me

Harta karun laut, penuh gizi dan enakkk banget. Memilih lobster sebagai makan malam itu rasanya mewah sekali untuk seorang budget traveler. Tapi ya karena semuanya ditraktir sama pemilik budget cottage Derawan Fisheries jadi sah-sah saja. “Everything lah,” katanya Bang Apoy.

Jadilah makan malam di hari pertama kami, peserta meet & trip 5 special edition penuh dengan kemewahan. Gimana nggak mewah coba? Lobster ukuran jumbo dimasak bersama saus padang… Ih ini lagi di Pulau Derawan kan bukan di Padang padahal. 😀

Seumur-umur, seperempat abad lebih, baru kali ini nih saya ketemu lobster super jumbo. Terlihat menggemaskan untuk difoto dan dimakan. Cuma hati-hati aja dengan kolesterol, tapi masih muda kan? amaaannn.

 

foto 1 (13)
Indah dan Bang Dee, heboh banget sama lobster jumbo.. makan malam di Derawan Fisheries. foto : sharing group meet and trip

Lobster jumbo ini bisa dibilang sebagai buyut-nya lobster, saking guedeeee-nya. Teman-teman yang lain pun heboh buat mengabadikan dalam foto dan berekspresi dengan si lobster jumbo.

Jarang-jarang di Jakarta kamu bisa menemukan lobser jumbo seperti ini, yang kalau beli di restoran seafood pun dihitung per kilo. Mahal banget bisa menembus angka Rp. 400.000 satu lobster aja. Itu kenapa kebanyakan orang-orang kalau mau makan seafood, mesti bawa temen atau keluarga. Supaya bisa sharing dan jauh lebih rasionable.

Karena memang dekat laut, lobster pun lebih mudah ditemui di Pulau Derawan. Ahhh… bisa jadi surga pecinta seafood pastinya. Kalah enak dengan Bandar Jakarta atau restoran Dermaga Makassar.

foto 2 (10)
Gede banget lobsternya Bang Riza… foto by : Khairunnisa Siregar

Nah, mumpung lagi di Pulau Derawan dan semua bebas makan lobster jumbo, nambah boleh asal inget sama temen yang belum makan. Kalap gelap mata pun dimulai.

Rasa lobster-nya sendiri memang mirip-mirip dengan daging udang tapi ini tekstur-nya lebih tebal berisi (karena jumbo). Kami beruntung banget bisa nyicip lobster jumbo… tentu saja dagingnya fresh, baru ditangkap dari lautan sekitar Pulau Derawan.

DSCN8649
Lobster punya Tante Devi juga besarrrr… foto : dyah ayu pamela

 

Food, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, Kuliner, Traveling

Beli Oleh-Oleh Khas Pulau Derawan

DSCN8958

Setelah jelajah Pulau Derawan dari ujung ke ujung, menurut saya ada beberapa makanan yang cocok buat oleh-oleh dan mesti kamu beli buat dibawa pulang ke rumah.

Sekedar menyenangkan hati keluarga,.. (baca; maksudnya supaya kalo besok mau traveling lagi dapet restu gitu). 😀

Walau perginya dibilang backpacker, budgeting atau apalah bukan berarti nggak boleh beli oleh-oleh ya kan? Dari dulu sih begitu, ngakunya backpacker atau budget traveler tapi tetep belanja. Ya spending money minimal sekitar Rp. 200.000 sekedar untuk beli makanan khas boleh dong daripada nanti nyesel.

Ini dia….. Oleh-oleh khas Pulau Derawan yang saya ulas secara tak berurutan…

DSCN8628
kima-kima saat masih dijemur di sekitar rumah warga lokal Pulau Derawan

Kima-Kima :

Kalau jenis olahan laut yang satu ini saya baru betul-betul ketemu di Pulau Derawan. Pertama kali menjejakan kaki dan melewati rumah warga pun saya lihat penduduk lokal menjemurnya. Ternyata kima-kima merupakan kerang laut yang dibuat menjadi seperti ikan asin atau dikeringin.

Tapi tidak dianjurkan untuk ikut menyantap menu makanan laut ini ya, karena yang saya baca kima-kima itu termasuk hewan yang dilindungi tertulis di Undang-Undang. Pantas saja harga nya mahal dan jarang ada. Wah….

Kalau kamu coba ke rumah makan sekitar Pulau Derawan, disana juga bisa ditemukan menu kima-kima yang telah dimasak. Sayangnya aja, makanan di budget cottage Derawan Fisheries sudah enak jadi buat saya nggak kepingin cari jajan di luar (kecuali Indomie).

Harga kima-kima per bungkus sekitar 250 gram itu cukup mahal lho, Rp. 50.000 mahal karena memang dagingnya enak banget katanya. Terus agak susah juga ngambil daging kerang dan sudah mahal dari si nelayan.

foto 1 (12)
Ikan Asin, bawanya dibongkos koran supaya nggak bau di pesawat.. per kilo harganya sekitar Rp 30.000 bisa dapat 3-4 ikan asin

Ikan Asin :

Dimana-mana kalau ke pulau kamu pasti akan menemukan ikan asin. Saya agak menyesal aja waktu ke Papua nggak bawain ibu saya ikan asin. Karena nyokap pas di rumah lalu bilang “Kok nggak bawa ikan asin?”

Makanya saat kesempatan mampir ke pulau, bawa aja deh ikan asih. Lagi pula ikan-nya asli dari pulau setempat, beda dengan ikan asin di Jakarta yang pakai pengawet, selain itu cukup terjangkau harganya 1 kilo bisa dapat sekitar Rp. 30.000.

Kalau di rumah, ikan asin itu diolah dengan bumbu balado yang cabainya banyak banget… Padahal nyokap orang Jawa, tapi kadang tetap masak menu yang pedas secara anaknya suka. Makan dengan nasi panas aja ikan asin balado ini sudah nikmat tanpa tambahan lauk lain.

foto 4 (2)
Terasi harga satuannya sekitar Rp. 25.000

Terasi

Olahan dari laut yang biasanya untuk dibuat sambal ini juga penting dibeli, menurut saya sih ya. Karena penduduk setempat bilang kalau terasi mereka beda dengan yang ada di Jakarta yang biasanya dicambur ubi atau bahan lain. Tak ada tambahan, tapi ikan dan udang yang dijadikan terasi.

Walau nggak suka sambal dengan terasi, beberapa masakan akan cocok dengan terasi misalnya plecing kangkung makanan khas Lombok dan Bali.

foto 3 (4)
Udang kering untuk dimasak bersama bahan lain di rumah, lagi-lagi olahan laut!

Udang Kering

Udang kering juga ada banyak banget di Pulau Derawan, dijual dengan kemasan. Tentunya kalau udang kering harus dimasak bersama bahan lain seperti tahu atau kangkung. Yang jelas kalau cuma dimasak udang saja akan asin banget. Tapi kalau dibuat dengan sambal, bisa jadi sambal udang kering, ihhh endeess banget pasti. Menu lain cocoknya apa ya?

Kulabutan

Sejenis cumi-cumi besar yang dikeringkan. Mungkin bisa dibilang juga seperti sotong yang sering dijumpai di Malaysia dikemas dalam plastik dan dijual dalam aneka rasa buat cemilan iseng.

Kalau di Vietnam, sotong dibumbui lagi dengan cabai dan saus pedas. Nah kalau kulabutan ini bisa diolah jadi menu sesuka kamu juga sih, buat lauk. Berhubung gede banget, saya nggak beli, repot bawanya. Sudah tahu rasanya yang mirip sotong.

foto 2 (9)
Kulabutan, sejenis sotong kalau di Malaysia… tapi di Pulau Derawan ini sih jumbo banget ukurannya.

Semua yang saya pilih sebagai oleh-oleh memang berupa makanan atau olahan makanan, meski sebenarnya ada juga toko souvenir di Pulau Derawan. Mereka menjual T-Shirt bertuliskan Derawan dengan gambar penyu, kain-kain yang mirip kain Bali.

Sedikit ngobrol  ke penjual, ternyata pasokan barang-barang ini dari Bali,… ya nggak salah juga jadinya mirip-mirip. Tapi dengan kualitas kaos yang nggak terlalu bagus, termasuk dengan sablon, berikut warnanya saya jadi males.

So, beli di bandara aja, walau lebih mahal. Di Batik Keris Bandara Balikpapan juga harganya masih sekitar Rp 100.000 kok, cuma ya nggak ada yang tulisan Derawan ya. Daripada kesian juga kalau bawain oleh-oleh tapi kaos-nya bikin gerah dan nggak bagus dipakainya.

 

.

Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Serunya Bermain Bersama Tukik di Salangaki

DSCN8864

Gerimis kecil menyambut kami, para petualang laut peserta Meet and Trip 5 saat tiba di Pulau Salangaki.

Hari sudah sangat sore dan Salangaki menjadi pulau terakhir setelah sebelumnya singgah ke Pulau Maratua dan Pulau Kakaban. Dua di antara beberapa daratan indah di seputaran Pulau Derawan, perairan Kalimantan Timur, Indonesia.

Bertemu tukik atau bayi penyu menjadi sangat surprise bagi saya yang sejak awal tidak diberitahu itinerary tertulis perjalanan 4 hari 3 malam di Derawan termasuk extand 2 hari untuk ke Labuan Cermin, Pulau Kaniungan dan Pulau Manimbora.

Kejutan demi kejutan bagi saya karena sengaja tak bertanya-tanya ke panitia akan kemana selanjutnya dan ngapain aja kami kesana. Walau ada briefing malam sebelumnya di hari pertama tiba, membagikan peralatan snorkling, pilih-pilih nomor kaki katak yang pas. Semua terasa sekilas saja, beda dari biasanya saya pergi sharing cost bareng teman dan menyusun itinerary bersama-sama.

Pokoknya liat nanti aja,…. Ternyata penghujung sore itu kami diajak ke penangkaran penyu. Sampai di tepi pantainya, melewati warga yang lagi asik main voli kami berjalan ke dalam hingga menemukan satu bangunan tempat penangkaran penyu.

foto 1 (11)
Sepasang tukik, kejar-kejaran nih… hayo siapa duluan yang sampai ke tepi pantai?? Lalu saya iseng balikin start lomba lari mereka… hihi

Di sebuah kolam cukup besar ada puluhan tukik yang berusaha berenang, seperti ingin merangkak naik dan keluar dari kolam. Tapi,… tentu saja si tukik takan mampu melewati batas genangan air.

“Ihhhh dipegang, boleh dipegang nih?,” sontak komentar saya melihat beberapa teman mulai memotret dan bermain sama si tukik.

“Boleh, nanti tukik-nya juga untuk dilepasin,” sahut salah satu anak muda yang menjaga penangkaran penyu.

Memang tukik atau bayi penyu ini akhirnya akan dilepaskan ke laut, tapi menunggu umurnya jika sudah tiba. Pulau Sangalaki terkenal dengan konservasi penyu hijaunya. Telah berlangsung sekitar 10 tahun, dimana penangkaran penyu mulai digiatkan. Tapi bagaimana hasil dari konservasi tersebut??

foto 2 (8)
Diam-diam, si tukik melirik, dia capek kejar-kejaran ke tepi pantai… guman dalam hati.

Penyu termasuk hewan yang terancam kehidupannya oleh para predator, baik di laut maupun sekitarnya. Saat baru melepas tukik itu saja, burung elang laut sudah mengintai. Ketika tukik-tukik mulai berenang di lautan, elang terbang turun dan mengambil salah satu tukik dengan cakramnya yang kuat.

Bukan hanya elang, masih ada predator laut lainnya. Karena itu biasanya tukik menurut Bang Apoy, warga lokal Pulau Derawan dulu sekali penyu itu dipelihara oleh penduduk setempat bukan oleh LSM seperti WWF ataupun beberapa organisasi lain yang bermaksud memelihara kelangsungan hidup habitat penyu di sekitaran Pulau Derawan, termasuk Salangaki.

Tapi melihat hasilnya, setelah 10 tahun penangkaran penyu diangap belum berhasil. Buktinya saat ini Bang Apoy dan warga lokal lainnya belum melihat penyu kecil atau sedang. Semua penyu yang ada telah berumur sekitar 20-30 tahun. Hasil pemeliharaan penduduk lokal Derawan generasi sebelumnya.

“Dulu saking banyaknya penyu mereka sampai tabrakan,” kenang Bang Apoy dengan masa kecilnya waktu main di laut.

DSCN8871
lagi pada asik, ada yang motret temennya yang main sama tukik, terus saya juga ikutan nih megangin tukik yang maunya ngacir ke tepi pantai.

Sebagai warga lokal asli Derawan, Bang Apoy cuma berharap supaya pemeliharaan penyu bisa seperti dulu. Masyarakat memelihara penyu dan setelah besar baru dilepas. Kekurangan dari program sekarang menurutnya penyu yang masih kecil dilepas ke laut namun LSM atau organisasi yang bersangkutan tidak mengontrol lagi keberadaan penyu tersebut apakah masih hidup atau sudah dimakan predator.

“Karena masyarakat tidak dilibatkan lagi seperti program dulu memelihara penyu, jadi masyarakat kurang peduli dengan penyu yang telah menjadi kewajiban LSM, termasuk soal pencurian telur penyu dan pencurian penyu itu sendiri,” Jelasnya lagi.

Lebih lanjut, menurutnya harapan masyarakat kepulauan derawan hanya sederhana saja. Bagaimana agar nanti anak cucu masih bisa melihat penyu itu bermain-main di laut Derawan dan bukan hanya menjadi cerita saja.

Persoalan penyu ini sebenarnya bahasan penting untuk diungkap, tapi selebihnya saya masih harus mengkonfirmasi dan mewawancarai pihak-pihak terkait supaya lebih berimbang. Di postingan selanjutnya, saya berniat akan membahas tersendiri tentang terancamnya habitat penyu di Derawan… Sebenarnya itu sudah isu yang lama ya, hanya saja yang publik tahu kan sekarang sudah ada penangkaran penyu. Sehingga terkesan sudah ada yang menangani, tanpa tahu pasti di lapangan seperti apa.

DSCN8847
warga Pulau Salangaki lagi asik bermain voli… padahal gerimis.

Setelah gerimis makin besar lagi dan matahari akan tenggelam, akhirnya saya bareng teman-teman harus say good bye sama tukik. Aneh sekali memang, baru tersadar juga mungkin karena semangatnya melihat tukik dan seru main sama mereka, malah lupa mengisi buku tamu. Sebelum pulang kami malah baru isi buku tamu…. Hahahaha 😀

 

culinary, Food, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Tehe-Tehe, Khas dan Unik di Pulau Derawan

 

DSCN8653
Ini lho Tehe-Tehe yang salah satunya sudah kami remukan dan gigit buat dicobain

“Teman-teman, ini Tehe-Tehe makanan khas Derawan. Biasanya susah banget nyarinya, tapi ini pas lagi dibuatin. Karena cuma ada sedikit sharing aja ya,” ucap Bang Daniel pada kami yang lagi asik makan.

Kami lalu penasaran. Dilihat, dipegang, difoto, dicelupin…. (dikira Oreo)…. *gubrak*

Sudah dioper sana sini tapi belum juga dicobain buat dimakan. Sampai hampir semua sudah kebagian sesi memotret rupa si Tehe-Tehe, baru kemudian ada yang berani mencobanya.

Gimana cara memakannya? Pertama harus diremuk dulu cangkang bulu babi sebagai bungkus dari isi Tehe-Tehe. Yasudah setelah itu isinya bisa langsung dimakan.

Tehe-Tehe ini ternyata semacam ketupat ketan. Rasanya juga tak beda dari nasi ketan, tapi uniknya memang cangkang bulu babi sebagai wadahnya. Mendengar kata bulu babi saya pribadi langsung merinding duluan. Sebab yang saya ketahui bulu babi adalah sejenis hewan laut yang berbahaya.

Jika durinya mengenai anggota tubuh bisa mengakibatkan iritasi pada kulit seperti gatal dan perih. Namun di Pulau Derawan, Berau, Kalimantan Timur, bulu babi bisa diolah menjadi makanan yang lezat. Wow amazing sekali rasanya…

foto 5
Belum tentu nanti kalau ke Derawan lagi bisa nyicip Tehe-Tehe..

Karena keasikan makan, saya pun lupa bertanya soal Tehe-Tehe. Tapi sesampainya di Jakarta googling juga dan ternyata sudah banyak yang mengulasnya. Termasuk beberapa situs berita. Ihhh, tapi nyesel.. selain ngerasain kan tanya langsung ke penduduk akan lebih afdol.

Info yang saya temukan di situs okezone.com cara memasak tehe-tehe sangat mudah. Pertama, cuci bersih isi dan cangkang bulu babi dengan kain untuk membersihkan racun- racunnya.

Setelah itu, masukkan beras ketan putih yang sudah dibersihkan ke dalam cangkang bulu babi. Isi ketan yang sudah dicampur santan dan garam setengahnya saja, jangan sampai penuh. Lalu tutup bagian atasnya dengan daun pandan yang diikat.

DSCN8654
Suasana makan malam saat itu, karena kenyang sama sajian lobster sama sate kerang saya cuma sedikit nyicipin Tehe-Tehe. Dan… Tante Evi masih sibuk motret Tehe-Tehe dong.. hihi

Kemudian, masak santan hingga panas, dan masukan tehe-tehe satu persatu kemudian direbus dengan santan kurang lebih satu jam. Cara untuk mengetahui tehe-tehe sudah matang atau belum, bisa dicek dengan membelah tehe-tehe.

Jika salah saat memasaknya, biasanya tehe-tehe menjadi lembek dan tak enak dimakan. Sajikan tehe-tehe selagi hangat. Katanya Tehe-Tehe juga dimakan bersama ikan dan sambal.