Cambodia - Asia Tenggara, The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Menyusun Itinerary – Rencana Perjalanan Kamboja ke Vietnam

untuk blog passport
Itinerary udah siap, jangan lupa passport dibawa kalau jalan-jalannya bukan daerah domestik ūüôā

Sering kali saya ditanya, itinerary atau rencana perjalanan beserta total cost usai berpergian ke sebuah tempat. Sebelum pergi traveling, memang hal pertama dan paling penting untuk dilakukan seorang  traveler adalah menyusun itinerary.

How? kalau saya yang masih terbilang baru dan amatir kalau jalan-jalan sebenarnya belum jago membuat itinerary super lengkap. Dan beberapakali nge-trip biasanya suka gabung dengan itinerary teman, termasuk yang dibawah ini.

Pengalaman saya jalan-jalan belum sampai Timur Tengah dan Eropa sih seperti cita-cita traveling saya di masa mendatang. Tapi basically, itinerary dan cara menulisnya yang cukup dilengkapi beberapa komponen ini bisa jadi acuan. Misalnya point berikut¬†…..

1. Rincian dari awal memulai perjalanan dan waktunya (durasi)

2. Biaya transportasi

3. Harga tiket masuk ke suatu objek wisata

4. Biaya hotel

5. Biaya makan,… sampai oleh-oleh.

Rincian ini penting banget karena dengan adanya itinerary kita punya gambaran berapa biaya yang harus dihabiskan untuk sebuah trip, apalagi bagi traveler budget. Dari sini juga akan ketemu cara untuk menghemat anggaran dan seberapa efektif penggunaan waktu kita. Berhubung bagi sebagian orang termasuk saya mengajukan cuti di kantor merupakan sesuatu yang berharga, pastinya pergi dua hari pun harus efektif.

Riset, riset dan riset itu hal utama banget untuk tahu berapa cost dan tempat-tempat apa aja yang mungkin bisa kita kunjungi. Tanpa dasar pengetahuan dan riset  kita akan seperti pengelana tersesat. Jadi, jangan malas-malas searching internet dan merombak isi itinerary. Saya aja butuh menyusun ulang sampai ketemu jadwal penerbangan yang cocok. Saat ini makin banyak juga loh traveler yang menulis perjalanan mereka, social media, blog, bahkan grup Backpacker Dunia yang ada di Facebook bisa buat satu referensi pencarian.

Oke langsung saja, daripada susah dimengerti saya langsung kasih contoh itinerary waktu trip ke Kamboja dan Vietnam semi backpacker dengan lama pergi 1 minggu. Check this out…..

Hari 1 : (Total pengeluaran hari 1 : Rp 725.000)

– Pergi Minggu sore Pukul 5 sudah cek in di Bandara Soekarno-Hatta : Ongkos ke bandara : Rp. 50.000

– Pajak Bandara : Rp. 150.000

– Tiket Pesawat Jakarta – Singapura – Kamboja dengan maskapai Tiger Air Mandala : Rp. 500.000

– Makan malam dengan bekal yang dibawa di Jakarta (Roti sandwich dan susu beruang) : Rp. 20.000

РBiaya Hotel : Rp. 0 , karena bermalam di  Changi untuk penerbangan kembali di pagi hari

DSCN0189
di atas tuk-tuk di Phenom Phen

Hari 2 : (Total Pengeluaran hari 2 : Rp. 342.500)

РSarapan Laksa (sebaiknya jangan makan Laksa pagi-pagi) di kantin Bandara Changi, Singapura : $ Sing  4,5 atau sekitar setara Rp. 45.000

– Kalau haus minum aja air yang tersedia di bandara : Rp. 0

РKarena waktu terbatas saya nggak mau memaksakan ikut free tour Singapore 

– Pukul 12 siang cek in pagi untuk transfer pesawat di terminal 2 (sebelum boarding sebaiknya jamak solat zuhur dan ashar)

– Sampai bandara Phenom Phen pukul 4 sore Naik tuk-tuk ke shuttel bus : USD$ 7 atau setara Rp. 80.000

– Makan siang dari bekal yang dibawa, biskuit dan susu : Rp. 10.000

– pukul 5 sore naik bus menuju Siem Riep : USD$ 13 Rp. 150.000 (sekitar 6 jam perjalanan)

– Pukul 10 malam sampai di Siem Riep dan dijemput tuk-tuk sewaan yang akan mengantar besok ke Angkor Wat : Rp. 0 (gratis, bayarnya sekalian)

– Tidak makan malam karena saya keburu capek dan kepingin tidur.

– Menginap di Garden Guest House : USD $ 4 , setara Rp. 46.000

– Membeli air mineral : USD $ 1 , setara Rp. 11.500

Catatan : di Kamboja terdapat dua bandara, sebenarnya satu lagi letaknya dekat dengan Siem Riep yang merupakan lokasi Angkor Wat. Tapi berhubung tidak ada jadwal maskapai pesawat Mandala yang singgah di Siem Riep, saya harus ke Phenom Phen terlebih dahulu. Maskapai Air Asia memiliki rute ke bandara Siem Riep, tapi harga tiketnya jauh diatas Rp. 800.000 dan tidak transit di Singapura.

Hari 3 : (Total pengeluaran hari 3 : Rp. 615.000)

РTiket Masuk Angkor Wat untuk satu hari : USD$ 20, atau setara  Rp. 230.000

– Patungan Tuk-tuk : USD$ 6, atau setara Rp. 69.000

– Makan siang dengan menu Ayam Amok, nasi, teh tarik : USD$ 5 , setara Rp. 57.500

– Beli kartu pos dan perangko : USD$ 5 , Rp. 57.500

– Makan malam mie goreng : USD$ 3 , Rp. 34.500

– Beli Souvenir di Night Market : USD$ 2 , Rp. 23.000

РBeli air mineral 0,5 sen  atau Rp  6000

– Beli tiket sleeper bus untuk kembali ke Phenom Phen : USD$ 12 atau Rp. 138.000

DSCN0355
Menuju Padang Pasir Muine pukul 4 pagi

Hari 4 ( Total pengeluaran hari 4 : Rp. 373.500)

РSampai di Phenom Phen jam 7 pagi, cari toilet dan sewaan tuk-tuk ke 3 tempat : USD 5 , setara  Rp. 57.500

– Tiket masuk Killing Field : USD$ atau Rp. 23.000

– Tiket masuk Penjara Tuol Sleng : USD$ atau Rp. 23.000

РPukul 12 makan siang  dan minum bubble ice, snack : USD$ 6 atau Rp. 69.000

– Tiket Bus ke Ho Chi Minh City : USD$ 13 atau setara Rp. 150.000

– Sampai di Saigon, HCMC pukul 9 di Rabu malam, bus turun di sekitar Ben Than Market

– Lokasi Backpacker Hostel 2 cukup berjalan kaki. Biaya Hostel 1 malam USD 4 : Rp. 46.000

– Beli air mineral 1 liter : 8000 Dhong , atau Rp. 5000

Hari 5 (Total Pengeluaran hari 5 : Rp. 125.500)

РSarapan disediakan hostel berupa roti yang mirip roti Prancis yang gurih itu, Pisang, kopi susu (gratis)  Rp. 0

РSejak pagi jam 9 menuju terminal bus ke Chu Chi Tunnel transport ke Chu Chi  18.000 Dhong atau setara Rp. 10.000

– Jajan manisan mangga di bus 15.000 Dhong atau sekitar Rp. 7500

– Tiket masuk Chu Chi Tunnel 90.000 Dhong atau Rp. 50.000

– Makan siang burger king 40.000 Dhong atau sekitar Rp. 25.000

– Makan malam, dan mengunjungi Ben Thanh Market dan Night Market, suasana malam di HCMC, membeli cemilan sotong, kopi, dll Rp. 50.000 Dhong atau Rp. 30.000

– Membeli Air : 5000 Dhong atau Rp. 3000

DSCN0274
Suasana kota Saigon

Hari 6  (Total Pengeluaran hari 6 : Rp. 298.500 )

– Hostel Backpacker malam ke 6 : USD$ 4 atau Rp. 46.000

– Sarapan di hostel for free

– Eksplorasi sekitar Ho Chi Minh City sejak jam 9 pagi : ke museum reunification, kantor pos, dan Gereja Notre Dame, taman dll

– Makan siang buah : 15.000 Dhong, atau Rp. 7.500

– Membeli kartu pos dan perangko : 50.000 Dhong atau Rp. 25.000

– Menuju shuttle bus Sin Tourist jam 2 siang, cari oleh-oleh di sekitarnya

– Souvenir tempelan kulkas 85.000 Dhong atau Rp. 40.000 untuk 10 buah

– Tiket Sleeper Bus ke Padang Pasir Muine sekitar 230.000 Dhong atau Rp. 150.000

РMakan Malam USD$ : 45.000 Dhong berupa  pisang dan sandwich Rp 30.000

– Berangkat jam 9 malam ke Muine dari Saigon, tapi tas besar berisi baju kita tinggal dan titip ke Backpacker Hostel

Hari 7 ( Total Pengeluaran hari 7 : Rp. 456.000)

– Sampai Muine jam 2 dini hari (menunggu jemputan mobil jeep yang mengantar ke padang Muine jam 4 subuh)

– Biaya Jeep USD$ 8 per orang, total sewa USD$ 20 atau setara Rp. 92.000

– Makan Siang dan snack : 50.000 Dhong atau Rp 30.000

– Setelah ke Yellow Sand untuk Sunrise Tour kita juga mengunjungi Fisherman Village

– Sewa mobil untuk kembali ke Saigon : Rp. 253.000 per orang

– Sampai Saigon pukul 9 malam, kembali ke hostel backpacker.

– Sewa hostel malam terakhir USD$ 4 atau Rp. 46.000

– Makan malam sandwich tuna dan ayam 35.000 Dhong atau Rp. 20.000

– Teh Tarik Rp. 15.000

DSCN0319
Dekat Gereja Notre Dame

Hari 8 (Total Pengeluaran Rp. 1.178.500)

– Sarapan free dari hostel

– Tiket pesawat Saigon – Singapura – Jakarta : Rp 975.000

– Airport tax : Rp. O

РTransport ke bandara, pukul 10 sudah di terminal bus :  Rp. 3.500

– Sampai Changi jam 4 sore, makan bihun goreng+sayap ayam di Changi airport : Sing $ 4,5 atau Rp. 50.000

– Ongkos pulang dan biaya tol : Rp. 150.000

 

Total cost perjalanan 8 hari : Rp. 4.114.500 

 

 

Advertisements
Cambodia - Asia Tenggara, Traveling

Penjara Tuol Sleng, Saksi Bisu Kekejaman Khmer

Salah seorang turis sedang memperhatikan tumpukan celana korban kekejaman Khmer Merah di Tuol Sleng
Salah seorang turis sedang memperhatikan tumpukan celana korban kekejaman Khmer Merah

“It’s hard to believe, Cambodian kill Cambodian,” he said (suara narator yang terekam di pemutar suara),…………..

Di era pertengahan tahun 1960-an, pergolakan politik dari pengaruh komunis seperti kejadiaan G30S/PKI tak hanya dialami oleh Indonesia. Hampir seluruh kawasan Asia dan dunia mengalami peristiwa serupa, termasuk di Kamboja.

Bekas-bekas peninggalannya, seperti Penjara Tuol Sleng, di kota Phenom Phen, Kamboja kini menjadi satu site untuk turis mengenang para korban tahanan yang jumlahnya saat itu di tahun 1975-1979 mencapai 17.000 orang.

Pukul 7 pagi, ketika sampai di kota Phenom Phen dengan sleeper bus, saya bersama tiga teman lainnya langsung mencari sewaan tuk-tuk, sebagai kendaraan untuk mencapai beberapa situs bersejarah di Kamboja. Dengan  $20 Dollar akhirnya kami sepakat untuk diantar ke dua tempat killing field sebuah ladang pembantaian di masa Khmer dan penjara Tuol Sleng.

Hari ke-2 perjalanan di Kamboja memang sedikit muram, saya sampai susah senyum selama seharian itu. Atmosfernya menjadi sedih, karena dua tempat yang dikunjungi ini merupakan saksi bisu kekejaman rezim Khmer Merah. Saya hampir selalu merasa mual ketika mendengarkan panduan dan cerita pemandu lewat head set yang diputar dengan bahasa Inggris selama berkeliling Killing Field. Sungguhan, ini saya lagi ada di kuburan masal.

DSCN0224
tempat pemasungan di salah satu kamar penjara Tuol Sleng

Cukup jauh jarak antara Killing Field dan Penjara Tuol Sleng. Makanya saya juga nggak heran kalau driver tuk-tuk kami menerapkan tarif $20 Dollar, malah menurut saya itu sepadan. Jalanannya berdebu, percis seperti ketika berkeliling kota Siem Riep.

Meski atmosfernya menyedihkan, murung tapi turis yang berkunjung ke dua tempat ini relatif tidak sepi. Hanya saya saat memasuki kompleks ini pengunjung diharapkan tenang, tanpa suara dan memang setiap orang hanya sibuk mendengarkan penjelasan cerita narator di headset masing-masing.

“It’s hard to believe Cambodian kill Cambodian,” suara narator yang terekam di pemutar suara.

Di setiap jejak yang bertanda nomor 1 hingga sekitar 30-an tempat ada berbagai cerita yang dikisahkan seorang narator di pemutar suara. Mulai dari tahanan di turunkan dari truk, dipisahkan dari keluarga, sampai ketika mengalami penyiksaan. Oke, mungkin sebaiknya saya tidak cerita lebih jauh, tapi bisa digambarkan bahwa disinilah kuburan masal korban penindasan rezim Khmer Merah. Mereka yang ditahan dan disiksa adalah orang-orang yang berpotensi akan melakukan kudeta terhadap Pol Pot, pimpinan Khmer Merah saat ketika itu.

DSCN0228
Di ruang foto-foto korban kekejaman Khmer

Monumen pembantaian di Killing Field dibangun. Selain ada kuburan masal yang berupa gunungan besar itu, tengkorak para korban dijadikan satu dalam sebuah kaca besar. Saya tidak begitu paham bagaimana mereka bisa mengidentifikasi korban lewat tempurung kepala mereka, tapi lewat tengkorak ini juga bisa diketahui dengan cara apa mereka terbunuh.

Di bagian kaca besar, juga dipajang berbagai alat mematika. Mulai dari penyengat listrik, palu, benda tajam yang runcing, semua cara kejam untuk membunuh. (serius saya yang lagi nulis mulai merasa mual).

Setelah Killing Field, driver tuk-tuk mengantar kami ke penjara Tuol Sleng. Lokasinya dekat pusat Phenom Phen, oh jadi si bapak tuk-tuk memang sengaja antar ke Killing Field dulu soalnya habis ini kita juga minta diantar ke tempat menunggu bus menyebrang perbatasan kota Saigon, Ho Chi Minh City.

Sampai di Tuol Sleng, saya makin mual, karena di penjara ini seluruh tempat penyiksaan dan foto-foto korban diperlihatkan. Bukan takut sama hantu korban Khmer Merah, tapi aura ngeri memang kerasa banget, makanya nggak semua tempat saya lihat. Apalagi setelah foto-foto korban dan bagaimana mereka disiksa itu digambarkan jelas, lalu tiba-tiba jadi terbayang seperti ada bau amis darah, bau busuk mayat. Saya langsung ingin keluar dari ruangan itu. Nggak habis pikir, bagaimana bisa menyiksa dan membunuh saudara sendiri.

DSCN0199
Pintu Masuk Killing Field

 

 

 

 

 

Backpacker, Cambodia - Asia Tenggara, Vietnam - Asia Tenggara

Overland Cambodia to Vietnam. Ini Sleeper Bus atau Rumah Bordir?

 

Ketika pertama kali melewati perbatasan darat dua negara, apa yang terbayang? pasti berpikir, seperti apa kantor imigrasinya? gimana moda transportasinya? nah seperti itu juga yang saya pikirkan, moment yang jarang-jarang saya lewatin. Di negeri orang, pakai bus melewati perbatasan darat.

Dan sampai saat ini saya masih suka ketawa ngikik, kalau ingat perjalanan darat menggunakan sleeper bus dan night bus di perbatasan Vietnam dan Kamboja. Kenapa? soalnya orang lokal disana bisa kreatif banget ngada-ngadain fasilitas buat sleeper bus atau night bus mereka. Di Indonesia nggak ada loh, padahal kan kita juga punya banyak kota besar, orang kita suka mudik. Ini loh dicontoh kreatifnya orang Kamboja dan Vietnam.

Gambar
Sleeper bus dari travel agent The Sinh Tourist, Saigon menuju Muine, perjalanan 6 jam

Kalau naik bus malam itu sudah biasa, so’ sleeper bus akan bikin kamu melongo kaget. Yap! Setelah sehari penuh berada di Siem Riep untuk tour keliling Angkor Wat, heritage site UNESCO kita balik dong menuju Phenom Penh buat tour di Killing Field dan sisah-sisah kekejaman Khamer.

Dekat dengan Night Market lokasi sleeper bus kita, sambil belanja oleh-oleh kita nungguin bis jam 10 malam. Namanya juga sleeper bus, berangkatnya juga malam, dini hari masih ditengah jalan, terus sampai di lokasi pagi. Dari jauh kita udah merhatiin bus penuh lampu-lampu, kedap kedip ala disko. Sumpah norak banget, mungkin ini bus mirip sama angkot-angkot yang ada di Medan yang katanya banyak hiasan-hiasan gitu.

“Seriusan nih bus kita ya buat ke Phenom Phen,” kata saya dalam hati.

Eh betulan, saya sama tiga teman lainnya disuruh naik. Sebelum naik, kita diminta untuk lepas alas kaki, dikasih plastik buat bungkus sendal. Tiap orang udah ditentuin juga dimana nomor tempat tidurnya. Aiiiiih, beruntungnya saya kan pergi berempat, dan perempuan semua, soalnya sleeper bus ini satu tempat tidur untuk dua nomor yang berdekatan. Gimana ya kalau saat itu saya traveling sendiri seperti saat mau ke Siem Riep kemarin? LOL

Gambar
Ika dan Hatni di Sleeper bus yang mirip rumah bordir itu, banyak lampu warna-warni (bikin sakit mata)

Ika sama Hatni, yang barengan sama saya sibuk foto-foto, katanya ini sleeper bus mirip rumah bordir, gara-gara lampu diskonya. Huahahaa, beneran. Tapi saya keburu capek, begitu juga Prita yang batuk-batuk terus sepanjang hari. Beda dengan perjalanan saat menuju Siem Riep yang penuh jalanan berpasir dan rusak parah. Sleeper bus bebas melenggang di jalan raya dengan mulus. Sepertinya bus ini lewat rute berbeda. Soalnya sama sekali tidak terasa ¬†guncangan, seperti waktu saya loncat-loncatan di mini van. fufufufufu, malam itu kita tidur nyenyak. Walaupun kasur kita tipis, tapi kaki kita betul-betul selonjoran, diseberang tempat tidur lainnya cuma dibatasi hordeng. Kepala kita pakai bantal empuk dan dikasih selimut. Cuma AC -nya dingin banget pagi-pagi baru terasa kalau badan kita menggigil. Beruntung lagi saya bawa selimut cadangan ūüėÄ

Oya, di sleeper bus rumah bordir seharga 13 USD ini kita disediain tempat untuk men-charge batere ponsel, ada juga headset buat dengerin musik. Ya tapi jangan tanya deh, headset-nya nggak fungsi. Lagi pula kita udah kecapekan dan dengan pulas beranjak ke alam mimpi.

Kita nggak cuma sekali naik sleeper bus loh, waktu ke Muine buat tour sunset di padang pasir juga. Sleeper bus kali ini nggak se-norak waktu ke Phenom Phen, hehehe. Kita beli tiket via online di Sin Tourist. Kantor The Sinh Tourist deket banget di seputaran Saigon, deket sama Ben Thanh Market dan Terminal Bus. Tapi kita naik percisdi depan kantor The Sinh Tourist. Sebelum berangkat bisa gratis wifi-an disini, toiletnya juga bersih (maklum di negeri orang, maunya cari toilet bersih). Pelayanannya oke, harganya juga dari Saigon ke Muine tarifnya Rp. 132 ribu saja.

Cambodia - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Looking For Sunrise in Cambodia

Behind the temples of Angkor Wat, Cambodia. Behind the sky and clouds. When the sky spitting red streaks. Exotic beauty of Cambodia in Siem Riep, it’s about 6 hours drive from Phenom Penh. Traveling by plane for nearly 3 hours and one transit at Changi Airport. This is the view I get, a red tinge when the sun rises.

Reflection of light from the lake around Angkor Wat. And entered the temple area is rising as the sun rises in the surface. So beautiful experience, can’t forget the moment ūüôā

DSCN0037

Sebelum subuh, aku sudah terbangun. Tidur yang sangat nyenyak sekali saat itu, ketika semalam sebelumnya cukup lelah dengan perjalanan dari Phenom Penh menuju Siem Riep. Sekitar 5 jam menggunakan Mini Van, bertarif 15 USD didalam Van hanya ada aku yang warga negara Indonesia, sementara yang lainnya adalah asli penduduk lokal.

Tak ada pilihan lain untuk menaiki bus malam yang lebih murah sekitar 12 USD, karena saat landing di Phenom Penh ketika sore hari sungguh bukan waktu yang baik untuk berjalan-jalan di kota asing yang belum pernah kamu kunjungi, apalagi saat itu tak ada alasan untuk menunggu.

Ketiga teman yang berencana traveling bersama, sudah mengabari untuk memberi tahu ketika sampai di Siem Riep. Sebuah kota lain berkilo-kilo meter jauhnya tempat kompleks Angkor Wat berada. Beruntungnya, salah satu teman sempat berkenalan dengan supir tuk-tuk baik hati, yang katanya jujur. Safy namanya, kamu bisa mencari dia di Facebook dengan nama Safy Angkor Wat.

DSCN0046
Sukaaaa, nada langit yang seperti ini berkesan romantis

Safy yang mengantar kami berkeliling Angkor Wat dan Candi Bayon, serta seputaran Siem Riep. Membawa saya mengunjungi kantor pos, rumah makan khusus muslim, dan shuttle bus untuk kembali ke Phenom Penh keesokan harinya.

Mengunjungi negara yang lebih kecil dengan perekonomian di bawah Indonesia, memang terkesan biasa-biasa saja? tapi menurutku tidak. Karena bahkan Indonesia yang memiliki Candi Borobudur super megah pun masih harus belajar dari Kamboja untuk mengemas pariwisatanya. Kompleks Angkor Wat yang sangat besar ini, untuk memasukinya tiap turis harus membeli tiket seharga 20 USD untuk satu hari.

Tak banyak kendaraan yang bisa masuk, hanya tuk-tuk yang bisa disewa untuk mengantarkan para pelancong mengunjungi kompleks candi. Tuk-tuk biasa disewa selama sehari dengan tarif sekitar 15-20 USD. Menurutku ini cukup rasional, dengan kondisi perjalanan yang sangat jauh tuk-tuk jadi alat transportasi nyaman dan cukup mura bila kamu pergi bersama beberapa teman. Namun untuk yang backpacker sendirian, rasanya harus mencari partner dadakan, karena akan terasa sangat mahal biaya hidup dan transportasi disini.

Mata uang Dollar lebih mendominasi dibanding mata uang lokal setempat. Baru ketika membayar air mineral yang harganya dibawah satu dolar, kita akan diberi kembalian uang lokal Kamboja. Satu Dollar hampir setara dengan 4000 mata uang lokal mereka. Untuk makan, sebenarnya masih cukup terjangkau, karena kisaran harga untuk satu porsi menu rata-rata 2-5 Dollar USD.

Gambar

 

Sehari saja cukup untuk secara garis besar mengunjungi Angkor Wat. Walaupun mengang kompleks candi ini amat besar dan luas. Permukaan candi relatif sudah banyak goresan maupun usang dimakan waktu, tapi karena itu Angkor Wat dan Bayon misalnya terlihat sangat asli.

Sejak awal memasuki kompleks ini hawa udara pagi sudah terasa, semburat merah matahari terbit yang masih terhalangi awan pun menyiratkan nada tersendiri. pemandangan eksotis dan indah di sebua kota asing. Mungkin juga karena ini para turis yang kebanyakan bule sangat suka, mereka ratusan jumlahnya sudah berkumpul di depan danau tepat menghadap Angkor Wat sejak pukul 5 pagi. Sementara matahari di Siem Riep baru benar-benar naik sekitar pukul 6.30.

unnamed (15)