Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

“Sakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,” kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. “Sayang duitnya, mending buat makan,” kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

“Mudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi ini”.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. “Almost there (sudah dekat),”… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

2 Comments Add yours

  1. bersapedahan says:

    ngga kebayang deh kena AMS … bagaimanapun juga tetap “tersiksa” ya
    btw … sertifikatnya kayaknya bisa juga untuk ngelamar kerja 🙂

    1. Semacam jd hrs ngerasain biar afdol di ketinggian lebih dari 5000 mdpl 😂🙏🏻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s