LIFE, LOMBOK - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Mengunjungi Lombok, Desa Sade – Indonesia

Potret perjalanan ini, sebenarnya hanya sekilas dari perjalanan yang telah lalu di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar 2 tahun silam. Desa Sade, di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, merupakan salah satu dusun yang dikenal masih mempertahankan adat suku Sasak.

Kesan sangat tradisional sudah terasa sejak memasuki perkampungan ini. Di tempat ini berdiri kumpulan rumah Suku Sasak, karena unik kemudian Desa ini dijadikan Desa Wisata dan masuk dalam binaan pemerintah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri (Kalau nggak salah sejak tahun 2010)

simbah di Desa Sade, nggak ngerti Bahasa Indonesia

Waktu datang kesini, ternyata tak hanya wisatawan dari Indonesia saja, banyak juga turis asing yang ikut tertarik melihat-lihat. Perkampungan Desa Sade memang tak sulit ditemukan, karena pintu masuknya dekat sekali dengan jalan raya.

Yang unik, memang bentuk rumah tradisional dengan atap ijuk, bambu, dan tembok dari anyaman yang beralaskan tanah. Mirip kalau lagi ketempat eyang di Jawa =)

Tapi ada kegiatan para lansia disana yang juga cukup menarik, mereka menenun, membuat kain, bahkan penduduk Desa Sade juga menjual hasil kerajinan mereka disini. Cukup banyak penduduk yang tinggal, ada sekitar 150 kepala keluarga.

image

Hal yang agak aneh, warga desa punya kebiasaan khas yaitu mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Jaman dahulu ketika belum ada plester semen, orang Sasak di Desa Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. Ya kalau sekarang sih, sebagian dari warganya sudah membuat plester semen dulu, baru kemudian diolesi kotoran kerbau. Kebiasaan ini, kata penduduk setempat supaya lantai rumah menjadi lebih hangat dan dijauhi nyamuk, hehehe *nyengir*.

Kotoran kerbau itu, nggak mereka campur dengan apapun hanya cukup sedikit air, yang anehnya pas aku masuk ke dalam rumah sama sekali nggak ada bau kotoran kerbau. Pertanyaanya, kok bisa ya?

image

baru belajar fotografi anglenya biasa saja, ibu-ibu yang menenun ini tekun banget

Selain sibuk berinteraksi sama penduduk disana, kalau ke Desa Sade kita juga akan disuguhi pertunjukan tari. Ada banyak tarian (dan maaf sekali lupa dengan nama tarian itu). Tapi lagi-lagi yang menepuk gendang dan menari adalah beberapa penari usia lanjut alias lansia. Tapi banyak juga anak-anak disini, mereka buat pernak pernik seperti gelang, gantungan kunci, aksesoris, dan segala macam souvenir.

Di Lombok, memang masyarakatnya sangat “sadar wisata”. Dimana-mana mereka semangat 45 buat nawarin wisatawan biar mau beli dagangannya. Mulai dari mutiara (FYI Lombok itu terkenal banget mutiaranya), T-shirt, sampai kain-kain khas Lombok. Dari nenek-nenek sampai anak usia sekolah, semua jualan, apalagi kalau ke daerah pantainya.

image

Tapi yang menyenangkan, sama seperti Bali, kalau beli oleh-oleh disini murah. Ya tapi jangan tanya kualitasnya, harus jeli memilih dan jangan terlalu tega menawar, apalagi kalau mau beli kain khas Lombok. Kasihan kalau kain yang ditenun berbulan lamanya itu ditawar murah.

Oh ya, disini penganut Islam terbilang mayoritas, bahkan disebut negeri seribu masjid, walau banyak kuil bekas peninggalan kerajaan hindu budha. Di pantai kita bisa menemukan musholla kecil, tapi wudhunya dengan air asin. Betul-betul payau, karena dekat sekali dengan pantai.

Lombok, menurutku masih sangat alami . Dibanding Bali, Lombok masih ketinggalan dalam hal pariwisata. Saat baru sampai di Lombok, pemandu wisata yang juga sekaligus driver bilang kalau anda ke Lombok, anda bisa melihat Bali. Tapi kalau anda ke Bali, anda tidak bisa melihat Lombok. (Yaiyalah, kan ke Lombok pesawatnya ngelewatin Bali)

image

image

*Kangen Lombok*

Advertisements
LIFE, Liputan, story

Dulu & Sekarang

wpid-2013-10-19-18-42-20_deco.jpgDulu ya waktu awal-awal jadi reporter suratkabar begini nih….

1. Tiap kali wawancara direkam lewat tape recorder (tape recorder mahal yang dibeli dengan sallary pertama) terus ketika akan nulis jadi berita di dengerin lagi rekamannya. By the way kerja dua kali dong, itulah terus kerjanya lama kan padahal deadline tiap hari. Blahhh!

Pernah suatu ketika, konfrensi pers pun direkam, bukan apa-apa tapi ketakutan salah. Padahal sih kalau baca-baca dulu rilis atau background pasti udah paham dan ngerti. Tinggal di kepala ada berderet pertanyaan.

Terus, terus sekarang, mungkin udah males atau kelewat praktis, efisien, hemat waktu? Jarang merekam, kecuali wawancara eksklusif, bahasa inggris. Konpres atau doorstop langsung aja dong diketik di tablet atau BB dikolom draf email atau memo. Bisa langsung jadi berita, tinggal dipulas ala bahasa feature, copy paste ke email. Beres!! (Gila kenapa engga dari dulu aja begini)

And FYI, ketika tape recorder mahal itu hilang setelah 2 tahun kepake, gw sengaja nggak beli lagi, karena kan di playstore android udah ada aplikasi recorder, tinggal download aja =)

2. Dulu bodyku tak begini, sekarang baju tak cukup lagi. . . Lebih berat 10 kilo, selama tiga tahun berkelana, liputan ini dan itu…..dan agak sulit kembali ke berat semula, karena engga stabil. Kenapa? Karena setiap kali deadline aku bawaannya jadi laper. Dan coba liat para wartawan itu, jarang yang kurus, karena dimanjain sih, apalagi kalau keluar kota. Waktu acara liputan tiga hari sampai seminggu keluar kota aja panitianya nyusun jadwal dari sarapan, makan siang, sampai makan malam, dan itu dengan dessert. Blahhh!

Terus pernah gw diomelin gara-gara nggak mau makan malem, sampai disamperin ke kamar, dibujuk-bujuk makan. “Harus makan mbak, nanti kena malaria kalau kurang makan,” *duhh apa sebab musabab deh itu* *tapi terus yang dibujuk nurut*

Suatu kali pernah hampir berhasil turun 3 kilo, berkat metode akupuntur, terus naik lagi dong -__-” . Terus sekarang naik turun dan tahun ini harus sehat, harus sehat, menghindari kopi dan teh karena takut efeknya ginjal nanti. Terus nggak makan junk food, mie instan, kalau lagi kepingin banget itu paling 1 bulan sekali.

Harus sehat ke tubuh semula 48 kilo, jadi sekarang sarapannya tiap hari minum jus tomat, dicampur madu dan lemon, terus baru makan jam 12 siang, sore boleh ngemil buah, malamnya minum jus tomat mixed tadi lagi. Kadang jus tomat diganti jus jambu merah, atau makan pepaya yang kemungkinan tidak pakai pestisida.

3. Dulu juga lebih sering dikejar-kejar deadline dan harus rela nggak libur saat tanggal merah. Masih inget banget waktu itu, natal dan tahun baru engga libur tanggal merah, terus harus buat berita pula. Pas itulah baru paham harus punya stok berita. Oke, jadi kalau mendekati tanggalan merah saya sementara jadi wartel (wartawan telpon) jleeebbb.

Sekarang, duuuuiilaaaa. Tetep kirim berita kalau memang jadwal terbit, tapi agak mending tidak perlu ke kantor, yihaaaa!!!! Cuma, kalau cuti tetep aja harus nyetok tulisan sebelum liburan. *Duh, gimana kalau cuti nikah, cuti haji, cuti umroh, atau cuti keliling Eropa* *mikir*

4. Wanita jalanan yang kesana-kesini liputan nyetir motor sendiri, kucel,jarang bedakan, pakai eyeliner pun berantakan, . Bahkan pernah disangka sakit karena kunyu sekali OMG, …

Now, kemana-mana naik kereta dan bus, atau angkot, walau pengeluaran bertambah, tapi kan liputan tidak seekstrim dulu. Kalau jauh banget liputannya juga lebih baik pakai driver kantor.

5. Ngetik dimana pun, kapan pun, ngeper di lantai (mirip-mirip nge gembel) tapi nikmatin banget masa-masa ini apalagi saat di liputan news, waktu nungguin rapat kerja pemerintah sama DPR, doorstop ngejar-ngejar menteri dan mendengaran pemaparan mereka. Hitung-hitung banyak ilmu yang didapat dari cuma mendengar. Banyak yang setuju pasti, kalau nggak semua anggota DPR itu intelek atau cerdas. Bahkan justrunya kita akan tertawa dengan pertanyaan bodoh mereka. Kadang wartawan lebih tahu background dan apa-apa yang mereka (DPR) tanya diulang-ulang. OMG.

Yang paling seneng, sama temen-temen di DPR, kalau lagi ikut kunjungan kerja ke daerah kita kompak, mau nanya apa nih nanti, isu apa, terus kita semua serius liputannya, ngikutin ketua lembaga seperti DPD, waktu itu Irman Gusman, orasi di Universitas Lampung, kunjungan ke pasar, bla bla.Tapi ya beda kalau sama teman-teman di kesra yang kalau ke luar sempet-sempet karaoke. Malah sampai ngajak bu menteri ikut karaoke 😛

wpid-IMG_20131019_144717.jpg

Sekarang, saat liputan di lifestyle lebih sering ngetik manis di depan komputer, kadang di tablet dan bb juga, tapi jarang. Rindu deh masa-masa itu, waktu bener-bener jadi wartawan.

6. Dulu suka kebanyakan liputan tapi kurang pilih-pilih mana yang penting banget diliput. Ya, karena masih baru, pingin semua diliput, pingin tahu ini itu, serasa punya banyak tenaga buat ngeliput. And now, ya kalo cuma launching store terbaru males juga jauh-jauh ke Jakarta Barat.