story

Pengalaman Nonton Live Music!

DSCN7064
Elephant Kind waktu manggung di Kota Tua, Jakarta. Pertama kali nonton di Central Park, nggak kenal nggak sengaja.

Dulu, nggak pernah kepikiran buat nonton live music karena cukup lewat pemutar lagu atau youtube aja bisa menikmati lagu atau musisi yang gw suka. Tapi belakangan karena di tempat liputan gw yang lifestyle banget, si penyelenggaranya juga sering ngundang musisi manggung dengan nama-nama ngetop seperti Raisa Andriana, RAN, RIF, Naif bla bla bla gw jadi ketagihan dan menikmati banget ketika dinyanyiin langsung.

Eurofia yang beda! atmosfer dari nonton live music ketika liputan ada event dan saat gw memang menyempatkan datang ke sebuah acara seperti Localfest atau Jazz Goes To Campus (JGTC). Pas acara ngeliput sih nggak pernah desak-desakan, soalnya memang yang datang cuma media. Malah gw mondar mandir, keluar masuk itu venue karena sembari doorstop nara sumber yang adalah bukan si artis yang sedang manggung.

Terus.. terus karena beberapa temen suka jalan, lagi puasa-puasa pertama kalinya banget niatin dateng acara live music yang santai itu karena nge-fans sama Danilla, itu saat bulan puasa Juli 2015 silam. Danilla Riyadi yang akhirnya albumnya full gw dengerin berkat rekomendasi adek gw.

foto 1 (2).JPG
Nonton Danilla di Localfest Grand Indonesia, akhir tahun 2015 lalu. Desek-desekan, telat juga datengnya….

“Nih mbak, lagu-lagunya cocok pas banget buat lo,” kata si adek

Aisshhh, ternyata lagu-lagunya balad bertema orang yang lagi jatuh cinta… zZZzzzzzzz Zzzzzzzzz…..

Gw dengerin di youtube yang live saat Danilla lagi manggung di Java Jazz 2015, langsung sukaaaaa. Ihh, nggak mainstream lirik dan musiknya. Jarang banget ada musisi yang senada sama Danilla, dia pun merilis album indie bukan dari label terkenal. Sama seperti yang dulu dilakuin Maliq D’Essential dan White Shoes And The Couples Company. Kereeeennn lah.

Nah pas nonton langsung Danilla nyanyi di Central Park itu (pas cukup sepi masih bisa dapet nonton paling depan), semakin dan semakin sukalah gw ngikutin dia manggung, kalau itu di Jakarta, kalau itu pas bisa, kalau pas lagi tahu karena diajakin temen dan kalau itu tiketnya masih raisonable ya 🙂

foto 2 (1)
Tiketnya boleh beli di calo karena dadakan, tahun depan semoga bisa nonton JGTC lagi ya…

Makanya kalau ada temen yang ngomporin, Pam ada Danilla… Pam dateng, … terus lagi nggak ada kerjaan dateng deh! Apalagi dikomporin “Ada Payung Teduh juga lho,” ya sudah sekalian.

Kesempatan selanjutnya, dari nungguin Danilla manggung di Central Park (biasanya musisi yang sudah banyak penggemar ditaruh di akhir acara) akhirnya menjadikan sebuah ketidaksengajaan menyukai sebuah grup band belum terkenal terus jadi nyempetin si band indie manggung.

Awalnya sih suka dengan gaya di atas panggung, sambil mainin gitar, rambutnya yang gondrong ala rocker, terlalu atraktif dan eye-catching untuk dilihat. Lalu gw nyeletuk “Eh liat, gitarisnya yang gondrong ganteng juga,” ….. zZZzzzzz

Tapi bukan karena itu juga, lagu-lagunya juga enak didenger kok. Mereka Elephant Kind, asik banget nyanyiinnya. Padahal baru pertama kali nya banget itu lihat mereka nyanyi.

Suatu kali pas Elephant Kind manggung di Kawasan Kota Tua Jakarta, temen-temen gw yang gila hang out Ika, Wendra, Soko, bela-belain dong dateng lagi liat mereka manggung. Bahkan Ika sampe niat nyamperin di backstage buat foto, hahahahha.

DSCN7068.JPG
Abang gondrong, kapan manggung lagi…

Sebenernya Kawasan Kota Tua itu nggak banget buat didatengin pas malam minggu, maaf dan maaf banget yang datang ke sini juga remaja-remaja yang bahkan nggak tahu sama lagu-lagu yang dinyanyiin. Dan dateng cuma dengan slogan “yang penting malem mingguan aja”.

 

Di event yang Kota Tua ini, sembari nonton Elephant Kind manggung ada band indie lainnnya yang juga bagus. Neonomora, si vokalisnya cewe dengan dandanan gothic, monokromatik. Wihhh, banyak lho ternyata musisi yang bagus-bagus, yang nggak mainstream, atau bukan yang biasa kita lihat di televisi.

Dari semua kesempatan nonton live music, yang paling dan paling eurofianya kerasa itu pas di JGTC 2015 kemarin. Dalam sehari gw bisa pindah dari satu stage ke stage lain buat nonton musisi yang berbeda. Bukan cuma itu sih, karena ini event musik jazz yang alirannya sekesukaan gw banget jadi bikin betah. Bisa nonton Lenka, Danilla, Maliq D’ Essential, Indra Lesmana, Dewa Budjana sama Isyana Sarasvati yang sebelumnya gw pikir dia musisi yang lebih nge-pop lagunya tapi ternyata asik juga.

Cuma di acara yang massal macam JGTC kamu harus take venue barisan depan minimal 20 menit sebelum musisinya manggung. Secara jadwal mereka deket-deketan, jadi harus milih juga mau nonton yang mana (nggak bisa semua pingin ditonton). Crowded-nya UI juga buat kamu susah sinyal, jalan ngantri, ke toilet ngantri, makan pun mau beli sesuatu ngantri, hahhaa sekali-kali aja kan nggak tiap hari. Hanya mungkin bagi yang nggak suka keramaian bakalan bete 😀

 

Advertisements
Indonesia, JAVA - Indonesia, MALANG - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Kejadian-kejadian Aneh Di Gunung

IMG_7562
Bekas-bekas kebakaran di Semeru, Oro-Oro Ombo setelah Tanjakan Cinta. Guys, para pecinta alam, ke gunung jangan merusak ya!

Malam minggu kemarin. Obrolan saya sama temen barengan naik gunung ditutup dengan kesimpulan bahwa, sepertinya kemungkinan dia nggak jadi ikutan karena nggak berani ngegunung kalau lagi M alias “datang bulan”.

Saya setuju. Memang sebaiknya jangan ke gunung kalau lagi M. Selain gunung selalu dikatakan sebagai tempat suci. Ada banyak kejadian-kejadian aneh yang absurd banget kalau diceritain.

Semoga tidak bosan sama cerita saya soal gunung. Tenang aja dunia saya juga sebentar lagi beralih dari gunung ke city traveling, terus pantai lagi, bukit, eh gunung juga kalo kangen. Hehe, tapi sepertinya tetap akan jadi pecinta alam sampai kapan pun, suka pantai dan tetap cinta udara atmosfer gunung. *nyengir 5cm*

Soal lagi M dan jangan ke gunung itu sempat saya alami waktu ke Semeru September 2015 lalu. Sejak dari pos pendaftaran lho ini sudah diwanti-wanti sama petugas disana yang galak-galak.

“Bagi yang perempuan kalau lagi halangan jangan muncak. Karena untuk sebagian orang gunung itu tempat yang dianggap suci,” pesan petugas.

IMG_7600
Suasana di Kali Mati, sepi yang nenda disini pada September 2015 lalu. Namanya Kali Mati, karena kali disini sudah tak mengairi air lagi.

Kata-kata ini memang bukan isapan jempol. Pernah temen ada yang nekat muncak disaat sedang M itu, lalu ada teman serombongan yang “digelendoti” makhluk halus hingga makin berat rasanya mendaki. Usut punya usut ternyata teman yang lagi halangan itu sempat ke Kali Mati, cuci dan sekedar mandi-mandi ayam sebentar disana.

Mungkin katanya darahnya sempat mengotori sekitar tempat disana. Terus ada makhluk yang mengikuti, tapi yang kena malah temen barengannya. Nah, kesian kan guys. Nggak bisa muncak, malah ada temen yang diganggu. Makanya mending jangan naik gunung dikondisi seperti itu.

Di Semeru kemarin saya pun anehnya tiba-tiba halangan di hari akan menuju Kali Mati. Setelah Tanjakan Cinta sudah mulai kerasa tuh, makan semangka di bawah pohon dari trekking lewat Oro Oro Ombo kok rasanya ini “dapet”. Sampai di Jambangan, cek cek ternyata iya.. Huhuhu sedih banget nggak bisa ikutan muncak malamnya.

Merelakan teman-teman yang lain bisa muncak. Tapi tok tok tok, jam 01.00-an pagi salah satu teman balik ke tenda dan cerita kejadian aneh. Jadi ada yang manggil namanya sampe 3 kali dan itu dipikir adalah guide kami.

IMG_7261
Atmosfernya melow banget pas saya berjalan menuju Ranukumbolo

Panggilan pertama dia cuekin, karena pikirnya halusinasi, lanjutkan perjalanan lagi kan akhirnya. Panggilan kedua mulai aware, duh duh kok lagi ya? Panggilan ketiga, sudah nggak enak ini tanda-tandanya. Karena perasaan nggak nyaman, akhirnya dia minta balik aja. Di tenda, ceritalah.

Satu tim ke Semeru akhirnya nggak ada yang sampai puncak. Dua teman yang ditinggal sebelumnya, ikutan menyerah, nggak lama sejam kemudian sampai di tenda. Besok paginya saya jadi mikir, ini apa karena saya ya? Masa iya? kan saya hanya sampai Kali Mati dan nggak ikut mereka.

Jadi agak merasa bersalah, tapi saya juga nggak merencanakan “datang bulan” dan sebetulnya tumben banget kok datangnya lebih cepat. Ini sangat aneh sebenarnya semacam nggak ditakdirin buat muncak saat itu atau disuruh kembali lagi kesana??? Entahlah.

IMG_7381
Jangan melakukan hal-hal aneh ketika di gunung, berkata-kata kotor, merusak alam. Keep calm, nikmati alam aja guys.

Sampai sekarang masih absurd aja sama kejadian itu. Jelas bulan itu tumben kecepetan banget jadwal bulanan saya. Terus jadi mikir soal kepergian kami ke Semeru ini yang sejak awal seperti banyak ujiannya.

Kejadian aneh, pas mau ke gunung itu adalah tanggal 13-17 Agustus 2015 ketika di hari H keberangkatan justru ada insiden yang membuat tim nggak bisa berangkat. Ada pendaki hilang. Bukan cuma hilang, beberapa ada yang meninggal. Tepat sehari sebelum jadwal keberangkatan kereta. Ini bikin pendakian ke Semeru ditutup sampai pendaki hilang itu ditemukan. Temen-temen yang mau berangkat ketar ketir, ada yang jadi parno, jadi galau buat berangkat. Keputusan akhirnya kita nggak berangkat.

Absurd masih lho. Yang lebih mengherankan lagi, di jam 12 siang-an pas banget dengan jadwal kereta kita berangkat lalu ada berita bahwa Semeru kembali dibuka. Aseemm banget kan guys?? Jam10-an pagi tim yang mau berangkat kumpul di Stasiun Gambir lalu kita cancel tiket dan ketemuan tanpa bawa carrier yang sudah di packing jauh-jauh hari.

Sejak saat itu, santai banget jadinya kalo mau ngegunung. Kalau ditakdirin berangkat pasti berangkat. Bahkan kalaupun itu mendadak ide buat trekking ke gunung atau kemana pun. Ngambil himahnya aja. Berhubung saya memang pantang menyerah dan lebih sering kekeuh sama sesuatu. Setelah ini lebih menyerahkan apa yang terjadi sama Tuhan lewat semesta tanda-tanda kebesaran-Nya. Santai saja. Rileksss Pam!

IMG_7201.JPG
Jangan serius-serius amat bacanya, hahahaha. Rilekssss nikmati pemandangan bagus 🙂

Kalau ditanya soal hal mistis di gunung sebenernya ada banyak. Tapi bukan saya sendiri yang ngalamin. Karena dari dulu memang nggak bisa lihat hal-hal gaib macam itu. Di Gunung Lembu misalnya, sempat ada teman yang melihat makhluk halus rame kumpul di kuburan dekat jalan menuju trekking selama muncak. Cuma dia yang lihat, itu masalahnya. Cuma dia yang merinding.

Di trek jalur Senaru, Gunung Rinjani yang merupakan hutan juga kejadian. Pas banget kami tiga rombongan pendaki nekat turun, padahal sudah malam. Bapak potter bilang jangan perjalanan malam, tetep namanya ngejar target besok pagi harus sampai pintu Senaru kan.

Kita akhirnya nekat turun dan melakukan perjalanan malam karena ada tiga tim yang bareng sekalian. Kalau cuma tim saya yang ber-4 itu juga nggak bakal berani. Pasti nenda di pos 3 jalur Senaru.

IMG_7522.JPG
Saking dijaganya, sekarang ada batas berkemah di Danau Ranukumbolo. Kami tak boleh lewat lebi dari pembatas garis ini, demi menjaga air danau tetap bersih. Eittts… jangan jadi korban film 5cm juga, boro-boro buat nyemplung. Haram hukumnya, kita semua kan minum dari air di danau ini 😀

Tapi betul juga kata bapak potter yang kita tanyain sepanjang jalan. Jangan turun saat malam, selain gelap dan bahaya juga ada hal mistis atau ketemu makhluk dari alam lain itu. Kan karena saya nggak bisa lihat juga, memang jam hampir pukul 00.00 kita masih lanjutin perjalanan. Ketua rombongan yang paling depan (sepertinya memang sudah sering naik gunung) pakai aba-aba stop dengan tanggan.

Dia bilang jangan berisik. Tolong yang ada bunyi kerencengan jangan bunyi. Terus kita berhenti sebentar hampir 5 menit. Ada suara burung hantu atau perkutut gitu. Besok paginya saya diceritain kan sama temen yang serombongan kalau semalam itu ada kuntilanak terbang di atas kita. Pas  ada suara burung hantu atau perkutut itu. Hiiiiiiiiii, nggak kebayang. Saya beruntung nggak bisa lihat.

Cerita lain dari teman, ada yang akhirnya kapok naik gunung karena ngeliat “makhluk”. Pas ke Merbabu katanya, dia lihat temennya itu tas carrier-nya didudukin sama nenek-nenek yang lagi ketawa-tawa. Terus kakinya lagi dipegangin juga sama “makhluk” dunia lain yang tangan kukunya panjang-panjang dan serem. Hiiiiiiiiiii nggak kebayang. Naudzubilahmindzalik jangan sampe liat.

IMG_7361.JPG
Semoga alam tetap lestari, buat hiburan kalau kita penat dari kesibukan aktivitas kota.

Nah, rencananya kalau lancar dan memang ditakdirin ya. Weekend depan saya mau ke Gunung Ceremai. Random aja, kebetulan dapet jadwal dan cocok jadwalnya ketemu temen-temennya yang mau ke Ceremai. Boleh googling, katanya banyak kejadian aneh juga disana. Cerita diikutin pocong, diikutin kunti, bahkan lagi makan dan berdoa juga ada yang melihat wanita berbaju putih memperlihatkan wajahnya.

Entahlah ya, saya nggak mau mikir macem-macem. Yang jelas kalau ke gunung niatnya yang baik, jangan berkata-kata kotor, merusak, atau melakukan tindakan nggak baik. Usahakan perginya terang benderang. Jangan pas gelap masih trekking nanjak atau turun. Walau ini kondisi bisa jadi tak terprediksi kadang.

Indonesia, Liputan, story, SULAWESI - Indonesia, The Journey

Cerita dari Tanah Poso

DSCN7449.JPG
Suasana di kota Tentena, sekitar 45 menit dari kota Poso. Saat konflik hampir satu dekade silam, Tentena menjadi tempat masyarakat mengungsi.

Kepergian saya ke Poso, Sulawesi Tengah mendadak sekali. Hanya dalam sehari setelah malam dikabari, langsung e-mail konfirmasi ke public relation yang mengundang lalu dibelikan tiket dan besoknya fix berangkat. Jumat (20/11/15) pesawat take off pukul 05.00 pagi, perjalanan 2 jam sampai di bandara Sultan Hasanudin Makassar, lalu perlu tambahan perjalanan udara sekitar 1 jam dengan pesawat kecil menuju bandara Kasiguncu di Poso.

Mendengar kota Poso, semua orang pasti akan mengingat bagaimana ngerinya tempat ini. Sebab dulu sempat terjadi konflik lintas agama dengan cerita pembunuhan dan orang hilang. Itu identitas kota Poso yang belum hilang sampai sekarang, sejarah kelam. Lantas dua cerita ini memang yang saya bawa pulang, tapi tidak seseram yang diberitakan selama ini kok.

Hampir di perjalanan, di mobil atau tiap kali kami singgah untuk makan pasti ceritanya soal pembantaian, pembunuhan, konflik, nggak jauh-jauh. Bahkan nara sumber saya Lian Gogali menunjuk salah satu ibu sambil cerita “Dulu keluarganya ada yang digorok lehernya dan beberapa tahun lalu kalau keluar rumah pasti ketakutan masih keingat peristiwa itu,” hiiiiiiiiiii bagaimana coba. (padahal kita lagi makan diceritain begini)

di Pantai Toini, tak jauh dari bandara Kasiguncu, Poso
pantai toini, tak jauh dari bandara Poso… sebelum lewat jalur lalu lintas Sulawesi

Tapi bukan karena diceritain aja, Mas Dadan humas dari CSR Bintang Nutricia (produk susu balita) dan rombongan wartawan (saya, Bu Nina dari Koran Republika, Fahmi dari Majalah Mix) malah banyak tanya.

Hahaha ya iya lah, tapi awalnya nanya kuliner apa yang menarik dan khas di Poso soalnya kita harus banget coba mumpung lagi disini. Mau coba Sogili, sejenis olahan belut tapi sayang lagi nggak musim, jadi kita makan Kaledo dan ikan-ikanan, juga sayur Gedi yang cuma ada disini.

Waktu akan ditugaskan ke Poso, sebenarnya ditanya editor dulu sih “Dyah kamu mau nggak liputan ke Poso,”. Tentu aja mau, kenapa nggak? Saya langsung jawab oke. Walaupun Poso sempat konflik, tapi kan sekarang sudah aman. Nggak ada kepikiran apa-apa di benak saya, takut pun nggak ada. Malah seneng bisa refreshing tiga hari traveling dan kulineran di luar kota.

Liputan kali ini pun acaranya menarik “Dongeng Damai Di Poso” untuk artikel soal parenting. Untuk liputan ini kami bolak balik dari Poso ke Tentena, karena acaranya di dua kota itu. Tapi lebih banyak menghabiskan waktu di Tentena, karena tempat menginap (losmen, berhubung memang tidak ada hotel) disini. Makanya saat semua liputan beres, juga mampir ke salah satu air terjun kece di Tentena.

Nyatanya saya malah lebih banyak dapat cerita lain soal konflik Poso dari nara sumber dan penduduk lokal. Lian Gogali, aktivis dan pendiri sekolah perempuan Moshintuwu di Tentena cerita banyak soal budaya, wisata, sampai cerita konflik, sekalian jadi cerita riwayat dirinya juga.

“Seluruh kampung tak ada yang tinggal di dekat danau Poso tadinya. Disini dulu daerah pegunungan dan hutan yang sangat berkabut anginnya juga kencang, tapi perubahan aktivitas masyarakatnya merubah juga alamnya,” cerita kak Lian.

DSCN7454.JPG
Ini di dekat Danau Poso, cuacanya agak mendung sekitar pukul 07.00 pagi

Saya salut banget dengan kak Lian. Dia single parents, cara dia menjelaskan sesuatu itu menyeluruh, gampang dimengerti dan kelihatan banget memang kalau dia bukan sekedar pintar tapi cerdas. Dia tokoh dibalik pemberdayaan perempuan di Poso, khususnya Tentena. Lewat tesisnya yang jadi bahan kurikulum sekolah di Moshintuwu Institute, ibu-ibu di Tentena dan Poso jadi bisa mengenyam pendidikan. Istilahnya jadi melek dan lebih berilmu. Cerita yang paling buat terkagum-kagum adalah perempuan disini sudah dilibatkan dan dapat bersuara tentang penganggaran desa.

Dulu katanya ada 10 ribu pengungsi di Tentena dari Poso akibat kejadian konflik. Kemudian karena konflik banyak masyarakat akhirnya kehilangan pekerjaan kan. Nah pengungsi yang dari Poso ini lalu kebanyakan menjadi Penyadap Getah Pinus akhirnya, tapi menjadi konflik lagi oleh penduduk asli sekitar Tentena. Semacam ada klaim profesi, namanya juga situasi panas kan. Padahal dulu warga asli Tentena menurut kak Lian, nggak berprofesi sebagai Penyadap Getah Pinus.

“Sebetulnya bukan konflik agama saja, tapi lebih soal tanah, lahan pekerjaan antara warga lokal dan pengungsi,” cerita kak Lian lagi.

Lalu ceritanya juga beralih soal suku dan desa yang ada di Poso dan Tentena, tentang cerita mistis batu jin yang seolah selalu terlihat seperti habis diasah parang di pagi buta tiap malam Jum’at. Kabarnya nggak semua orang bisa lihat bagaimana ada makhluk di dalam danau Poso yang perwujudan si pengasahnya.

Kota Poso dari atas
Pemandangan sebelum meninggalkan kota Poso, menggunakan pesawat kecil Wings Air (ini ngeri juga lama nggak naik pesawat kecil, suara mesin kedengeran jelas)

Poso dan Tentena juga punya banyak tempat bersejarah, pura tempat menyimpan benda purbakala. Ada juga cerita tentang Tampayau, pahlawan orang Pamora yang tak mau menyerah dengan semangat terkenalnya Tampayau. Dulumai juga jadi salah satu objek wisata menarik.

Ada kebiasaan penduduk disana tradisi Molimbu setelah panen kemudian makan bersama. Kalau trekking ke desa Dulumai kamu bisa makan di kebunnya masyarakat dengan kekayaan tanaman herbal yang jadi kekuatan tempat ini (Dulumai). Dulumai punya cerita tentang naga dimana hanya orang khusus yang bisa melihat dan mendengar suaranya. Desa lainnya Tolambo, desanya begitu panjang dan punya pasir pantai.

Pendolo termasuk kota Kecamatan yang banyak dikunjungi wisatawan. Ada Padang Marari, Taipa sebagai pantai yang bisa disinggahi serta istirahat makan. Disini ada pertanian organik, pantai Siuri, lalu air terjun Saulopa. Belum lagi ada Uedatu sebagai tempat pemandian raja yang tak pernah kering.

“Tentena itu ada banyak tempat yang bisa dieksplore kita juga kaya sejarah, di dekat persimpangan sebuah jalan  ada 12 batu penanda terpecahnya suku-suku. Pengingat bahwa dulu kita itu satu rumpun,” tambah kak Lian.

Sepanjang tiga hari di Poso, yang lebih saya perhatikan memang soal isu agama yang kental disini. Di wilayah pantai dekat bandara hingga ke bagian kota, saya menemukan banyak masjid dan perempuan berjilbab. Saat zuhur, bahkan masjid disana seakan berlomba-lomba memperdengarkan adzan. Cukup banyak masjidnya, setelah masjid dekat pemda, lalu adzan terdengar lagi di masjid lainnya.

Tapi saat mencapai Tentena yang wilayahnya lebih pegunungan, akan lebih banyak ditemukan gereja. Saat pagi subuh pun bukan kumandang adzan yang saya dengar, lapi lonceng gereja. Sesuatu yang jarang sekali di pagi ketika membuka mata.

Indonesia, JAVA - Indonesia, MALANG - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Pendakian Semeru – Dangdutan Pagi, Pakde Angkat dan Semangka Dingin

 

 

IMG_7518
Pemandangan di depan Danau Ranu Kumbolo (dari samping). Berkabut, masih pagi sekitar pukul 07.00 waktu Malang.

Betapa jarangnya pemandangan saat-saat piknik ke gunung. Membawa tas carrier yang menggunung tinggi melewati pundak. Seperti apa orang yang tetap merasa gembira dengan lelahnya membawa beban sambil mendaki? Lalu kesenangan apa yang kerap datang dan membuat diri selalu rindu untuk kembali?

Kereta Ekonomi jurusan Jakarta – Malang baru saja tiba di stasiun sekitar pukul 01.00 dini hari. Hampir hening, tak banyak orang hingga kami rombongan trip ke Gunung Semeru (Gw, Esti, Vivi, Bonar) nggak begitu sempat memperhatikan sekeliling. Kami keluar stasiun, jalan mengekor sampai berhenti di satu sudut trotoar dan menunggu jemputan Angkot.

Menaruh barang bawaan, peralatan semacam trekking pole, bahan makanan dan bla-bla-bla. Ketawa-tawa sama kelakuan diri sendiri bawa tas carrier segede itu. Di dalam angkot, kami mulai ngobrol. Sambil melawan kantuk.

Nggak kebayang kalo kita perginya jadi ber-8 orang seperti di rencana awal ya, sempit banget angkot-nya ini pasti,” ujar Esti sambil ketawa-tawa.

IMG_7559
Istirahat sebentar, Bonar sama Vivi teman seperjalanan ke Gunung Semeru.

lalu celotehan Esti tadi disambut tertawaan oleh kawan yang lain. Jelas sekali seperti apa jadinya kalau kami berdelapan. Berempat saja dengan tas carrier setengah ukuran badan, rata-rata 50 Liter sudah bikin penuh. Bisa jadi tas carrier kami diikat di atas angkot sih, baru muat penumpangnya duduk di dalam kalau perginya berdelapan.

Hahaha, kebayang kalau ada Irol, Mbak Nana, dan Kaput yang akhirnya nggak jadi ikut, setelah satu penundaan. Berkat insiden pendaki hilang tepat sehari sebelum jadwal kereta berangkat. Gagal berangkat di bulan Agustus, tapi setengah rombongan kekeuh berangkat dan re-schedule pendakian di pertengahan September (2015).

Pagi buta, cukup dingin untuk orang Jakarta seperti kami yang lumayan kaget dengan perkiraan cuaca sejuk di Malang. Sekitar 25 menit kemudian sampai juga sewaan angkot di depan guesthouse, rumah tinggal warga sebagai tempat istirahat sebelum mulai mendaki.

Kepalang tanggung, hampir jam 02.00, tapi lumayan kalau sekejap pun dipakai tidur supaya badan lebih fit sebelum pendakian. Rencananya jam 09.00 setelah sarapan, kami dijemput mobil jeep menuju desa Ranupani. Tempat start mendaki, tapi seperti Tuhan tak kehilangan skenario menarik.

Malang itu cuaca dinginnya bikin beku, padahal ini sudah di dalam rumah lho… Esti sama gw berusaha tidur tapi nggak bisa-bisa karena dinginnya nusuk. Ganti posisi tidur menghadap ke samping, sambil ada adegan menggigil seperti orang kena meriang. Terus gw udah buka sleeping bag sama pake selimut tetep aja DINGIN. Hampir setengah jam rasanya bisa tidur lalu kebangun lagi, menggigil.

SONY DSC
Luaaaaaaasss banget Semeru 

Lah yang lain kemana? ternyata mereka ada di ruang tamu depan, tidur di bangku yang suhunya lebih hangat. Kita berdua ikutan pindah tidur disaat-saat adzan subuh sudah lewat (jam 4). Vivi, Bonar nyenyak banget tidurnya sampai tiba-tiba ada suara dangdutan keras banget. Jam 5 pagi, ada apa ini? mencari tahu, semuanya penasaran dan berhamburan keluar.

Jam 05.00-an lho ini tapi langitnya sudah agak terang, ohya ini kan Indonesia bagian tengah. Dan memang di samping ada tenda kawinan. Asoyyyyy…. gagal melanjutkan tidur sebelum pendakian gara-gara dangdutan pagi. Kita ber-lima ketawa-tawa aja terusnya sibuk packing dan ngantri mandi. Daripada kan,… nggak bisa tidur juga gara-gara suara keras dangdutan pagi 😀

Si bapak supir sepertinya memang nggak ingin kami sarapan di tempat yang biasa-biasa saja. Makanya setelah kemas barang bawaan dan jeep datang niat sarapan di warung dekat guesthouse malah keterusan hampir berkilo-kilo jauhnya.

IMG_7516.JPG
Ranu Kombolo, kepingin kesini lagi. Entah kapan tapi mau sampai ke puncak Mahameru.

“Pak ini kita nggak apa-apa sarapan yang deket aja soalnya jam 10 harus sampai Ranupani,” kata salah seorang dari kami, pake penekanan ngomongnya.

Tapi tetep aja lho, si bapak supir ngajak kami sarapannya jauh. Disebuah warung sederhana yang jualan pecel kami berhenti. Huffttt akhirnya, setelah naik turun, lewat sawah, ya … lumayan sih jadi banyak pemandanganya pagi-pagi. Sekalian menghemat waktu akhirnya pesan makanan buat lunch nanti, nasi pecel juga dengan telur dan sambal. Dibungkus.

Acara piknik ke gunung itu selalu ada aja adegan yang tak terduga sebelumnya. Sebetulnya bukan kalo ke gunung aja, traveling kemana pun juga. Bikin ketawa, padahal sebenernya diantara kami berlima yang pergi semuanya itu pembawaannya kalem-kalem. Kali ini kejadian saat tidur kita diganggu dangdutan pagi, terus sepanjang perjalanan bikin kita akrab sama potter dan akhirnya jadi kita panggil “Pakde” hahaha Pakde angkat ini, sampai nama aslinya juga lupa.

IMG_7572.JPG
Lihatlah segede apa tas yang kami bawa 😀

Pakde supperrrr, soalnya sering banget sampai duluan, terus dia naruh barang bawaannya dan balik buat bawain tas gw atau Esti ganti-gantian. Hahahaha. Saking baiknya juga, selesai dari pendakian pas makan malem sama sarapan sebelum pulang ke Jakarta kita masih dimasakin. Padahal udah bukan tanggung jawab dia masakin.

Kita diajak main ke rumahnya, terus nyobain menu gulai kambing (pas banget kan, kami ke Semeru saat libur tanggal merah Idul Adha). Makan di rumah penduduk dan bisa akrab layaknya saudara sendiri yang seperti ini bikin acara traveling lebih berkesan. Beda banget pastinya kalau nginap di hotel. (Nggak cocok juga Pam, naik gunung kok nginep di hotel). Hahahaha 😀

Dan ternyata ya di Semeru itu ada tukang jualan juga, bahkan buah semangka disana dinginnya bukan dari kulkas tapi mengejutkan segar dinginnya karena cuaca pegunungan. Ini jadi tak terlupakan, saat istirahat dari Oro-Oro Ombo terus dibawah pohon kita makan semangka dingin. Berhenti di Jambangan, juga ada mas-mas yang jualan Semangka dan gorengan. Jajan lagi…. untungnya bawa uang recehan di kantong Rp. 5000 dapet dua semangka. Segeeeerrr!!!

Hampir tiap pos pemberhentian pas jalan pulang pun selalu ada yang jual semangka. Tetep dengan rasa dingin pegunungan, jadi kalau haus beli semangka. Kalo laper beli tahu goreng, berkah banget buat penduduk sekitar. Tapi jualan di gunung, datang dan kembalinya jauhnya dari rumah penduduk di sekitar desa Ranupani. Ini mirip dengan pedagang di Gunung Papandayan yang susah payah jualan harus lewatin jalan seperti halnya para pendaki.

IMG_7437
Esti menikmati banget sesi merhatiin embun lebih dekat. Berasa semesta ini cuma milik kami, Semeru di bulan September pas banget lagi sepi.

 

Backpacker, Indonesia, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, SUMBAWA - Indonesia, The Journey, Traveling

Mampir Sebentar ke Istana Dalam Loka, Sumbawa

IMG_6500
Penampakan Istana Dalam Loka, bangunan ini sudah direkonstruksi menjadi lebih baik. Di dalam kita bisa melihat foto-foto raja Sumbawa dulu dan aslinya Istana Dalam Loka dahulu kala.

Istana Dalam Loka sebenarnya tidak ada dalam deretan destinasi yang niat buat dikunjungi saat ke Sumbawa Besar. Tapi ini jadi bonus aja, perjalanan hari terakhir di Sumbawa Besar, sehabis nyebrang dari Pulau Moyo.

Niatnya hanya keliling kota Sumbawa Besar buat beli oleh-oleh macam madu dan kopi. Bang Ian, penduduk asli sana yang secara kebetulan jadi guide dadakan kami (baru kenal 2 hari) bilang bisa mampir sebentar ke Istana Dalam Loka. Ah,… beruntungnya ketemu Bang Ian terus diantar kesana-kesini. Eh kamu bisa contact dia juga kalau mau ke Sumbawa, nanti kukasih info contact-nya pm aja ya.

Dibangun tahun 1885, Istana Dalam Loka dulu merupakan tempat tinggalnya Raja di era kesultanan. Berbentuk rumah panggung dengan luas bangunan 904 M2, Istana Dalam Loka terlihat sangat megah. Istana yang dibangun dengan bahan kayu ini memiliki filosofi “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”, yang berarti semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus bersemangatkan pada syariat Islam.

IMG_6496.JPG
Istana Dalam Loka tampak samping, panas banget lho di Sumbawa itu. Mataharinya ada 5 saudara-saudara, tapi alhamdulilah ya langit cerah awan-nya pun bagus  🙂

Kabarnya Pulau Sumbawa yang terletak di Propinsi NTB, telah didiami manusia sejak zaman glasiasi (1 Juta tahun yang lalu), dan mengawali masa sejarahnya mulai abad 14 Masehi ketika terjadi hubungan politik dengan kerajaan Majapahit yang saat itu berada di bawah kepemimpinan raja Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya yang terkenal, Gajah Mada (1350-1389).

Pada saat itu di Sumbawa di kenal adanya kerajaan Dewa Awan Kruing, yang memiliki vassal (kadipaten) yaitu kerjaan Jereweh, Taliwang, dan Seran. Raja terakhir dari kerajaan Dewa Awan Kuning yang bersifat Hinduistis adalah Dewa Majaruwa, yang kemudian memluk agama Islam. Perubahan agama ini berkaitan dengan adanya hubungan dengan kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni kerajaan Demak (1478-1597).

Kemudian pada tahun 1623 kerjaan Dewa Awan Kuning ini takluk kepada kerajaan Goa dari Sulawesi Selatan. Hubungan dengan kerajaan Goa kemudian diperkuat dengan perkawinan silang. Pernikahan silang antar kerajaan ini dapat dikatakan sebagai perkawinan politik antar kerajaan Goa dengan kerajaan Sumbawa.

Ini keterangan yang saya ambil di situs sultansumbawa.com, berhubung di dalam bangunannya banyak juga dijelaskan informasi yang hampir sama. Jadi kalau kamu kesini, pastinya mirip kalau lagi ke museum yang ada foto-foto raja dan silsilah keluarganya. Nambah pengetahuan, tentang kesultanan yang ternyata sempat ada di Sumbawa.

IMG_6498.JPG
Anak-anak Sumbawa, diluar pintu masuk bangunan Istana Dalam Loka. Masuk ke dalam harus membuka alas kaki, karena lantainya parkit alias kayu bukan ubin keramik.

Adapun Raja Sumbawa yang berkaitan langsung dengan pembangunan Istana Dalam Loka adalah Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III (1883-1931), yang merupakan Sultan ke-16 dari dinasti Dewa Dalam Bawa. Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III ini mendapat peneguhan sebagai penguasa Sumbawa berdasarkan akte Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tanggal 18 Oktober 1885 dan mulai saat itulah penjajahan kerajaan Belanda berlangsung secara efektif di wilayah kerajaan Sumbawa.

Lokasi Istana Dalam Loka padas saat ini terletak di dalam Kota Sumbawa Besar, menunjukkan bahwa kota ini memang sejak dahulu kala merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan perekonomian di wilayah tersebut. Kerajaan Sumbawa telah beberapaa kali berganti istana, antara lain pernah dikenal “Istana Gunung Setia,” “Istana Bala Balong dan Istana Bala Sawo”.

IMG_6497
Bangunannya sudah banyak yang diperbaiki, termasuk pondasi.

Bala Rea (Graha Besar) yang terletak di dalam komplek istana “Dalam loka” berbentuk rumah panggung kembar, disangga 99 tiang jati yang melambangkan 99 sifat Allah (Asma’ul Husna). Istana ini selain untuk menempatkan raja pada posisi yang agung, juga sebagai pengganti Istana Bala Sawo yang hangus terbakar letusan bubuk mesiu logistik kerjaan. Bangunan Bala Rea ini menghadap ke selatan lurus kedepan alun-alun, ke arah bukit Sampar yang merupakan situs makam para leluhur. Disebelah barat alun-alun terdapat Masjid kerajaan, Masjid Nurul Huda yang masih berdiri hingga sekarang, dan di sebelah timur komplek isatana megalir sungai Brang Bara ( sungai di sekitar kandang kuda istana).

Bahan baku pembangunan istana Dalam Loka ini sebagian besar didatangkan dari pelosok-pelosok desa di sekitar istana. Khusus untuk kayu jati ukuran besar didatangkan dari hutan Jati Timung, sedangkan atapnya yang terbuat dari seng didatangkan dari Singapura.

story

Listening To yang Bisa Bikin Salah Paham

Ada satu kalimat dalam bahasa Inggris yang sering gw denger “Just enjoy the music not the lyrics” hahaha kadang itu gw banget sih. Lirik sering nggak nyambung sama dunia nyata tapi karena musiknya bikin enjoy akhirnya didengerin.

Kalau liat playlist gw kalian pasti kaget, soalnya selera musik belakangan randomness banget. Hahahaha. Mungkin nggak bakal nyangka anak yang kalem begini nyimpen lagu-lagu nge-beat yang berisik. Itu pengaruh lingkungan juga, karena di tempat liputan yang ajib-ajib apalagi kalau itu event di bar pasti lagunya berisik.

Tapi jangan salah, aslinya musik sehari-hari yang gw dengerin lebih ke jenis balad dan beraliran jazz macam lagunya Andien, Maliq D’Essential, Payung Teduh, Danilla Riyadi, sampai Sore dan Efek Rumah Kaca yang liriknya ngena banget, ajaib buat gw, seperti berfilosofi kadang!

Itu seringnya, balad dan jazz. Berhubung saat jogging biar semangat seterusnya gw juga dengerin lagu nge-beat. Selain itu nih, lagu-lagu jatuh cinta juga kebanyakan yang selalu ada di playlist. Soalnya menurut law of attraction ini memengaruhi dan bisa mendatangkan apa yang padahal nggak mau datang dihidup gw dengan lagu-lagu sedih perselingkuhan atau sejenisnya.

Jadilah playlist gw dipenuhi lagu cinta yang indah-indah.. Apakah itu cerita dua insan yang lagi jatuh cinta macam lagu lawas berjudul “Cruisin” yang dinyanyiin Huey Lewis berduet dengan Gwyneth Paltrow (lagu zaman gw masih SMP sih ini tapi ada di playlist iPhone gw). Terus yang paling terakhir banget di deretan lagu artis Indonesia ada cerita lirik orang yang baru jadian di judul lagu “Kau Adalah” dinyanyiin sama Isyana Sarasvati dan Ray dari Ran.

foto 2
Masih karena gw kejebak nonton Live di Jazz Goes to Campus bulan lalu..

Ini sebenernya gw mau cerita apa coba? Hahaha minta digetok banget.. kembali ke judul “Listening to yang Bisa Bikin Salah Paham”, di social media kadang kita suka update musik apa yang lagi didengerin Path atau biasanya BBM, tapi BBM sudah nggak zaman lah ya.

Nah di Path, sebenernya kurang kerjaan juga sih gw update lagi listening apa. . Namanya juga buat refreshing kan social media itu tempat berbagi, so jangan dianggep serius-serius amat sih Pam.

Ketika gw update atau sharing video youtube di socmed macam Path, Facebook, ataupun Line nggak peduli juga sih orang-orang mau nyangkain gw kenapa, sedang mood apa, sebel atau jatuh cinta kah?..

foto

Padahal kebanyakan lagu yang gw dengerin itu ya karena pas lagi makan di sebuah restoran, tau-tau ada yang mainin itu lagu terus kalo suka dan kepingin tahu gw cari di youtube dan langsung download. Ini kejadian waktu lagi liputan di Plaza Indonesia terus pas lagi menikmati sajian makannya ada denting piano dengan lagu yang tak asing di telinga gw, lagu zaman nyokap gw muda, lagunya Be Gees yang “How Deep is Your Love”.

Pernah juga gara-gara niatnya nonton Danilla Riyadi dan Maliq D’Essentisl aja di Jazz Goes to Campus 2015 kemarin, tapi gw malah kejebak juga nonton live music di stage Isyana Sarasvati. “Ihhh ternyata enak juga ya lagu-lagu dia,” biasanya gitu sih.

Selera musik itu bisa menggambarkan kepribadian si pendengarnya, setuju nggak? jadi sebenarnya kalau bisa bikin salah paham tentang lo lagi patah hati atau jatuh cinta itu nggak selalu bisa menggambarkan suasana. Tergantung orangnya, karena ada juga temen yang santai-santai aja dengerin lagu berlirik patah hati di kondisi apapun. So ini seringkali nggak ada kaitannya dengan apa sebenarnya yang sedang terjadi di realita. Di gw gitu, karena tiap hari yang gw dengerin hampir semua lagu yang tentang orang jatuh cinta, sealbum Danilla Riyadi atau Maliq D’Essential. Hahahahaha lagi-lagi namanya juga law of attraction guys!

 

love, story, The Journey

Bedanya Curhat Sama Cowo’ atau Cewe’

foto (6)

Suatu hari gw pernah kejebak curhat! Nggak tanggung-tanggung juga sih, curhatnya….

Curhat ke Nara Sumber (narsum) gw.., hahahaha! Simpel penyebabnya, gara-gara update-an status BBM (FYI mulai awal tahun 2016 aplikasi BBM gw hapus). Narsum gw yang satu ini agak ajaib memang, pertama dia cowo, usianya seusia bokap gw, terus sekarang masih aktif bekerja di pemerintahan. Dulunya dia sih pernah jadi nara sumber buat hobi tembak-tembakan airsoft gun.

Ajaib lainnya, yang bagi gw seharusnya tidak umum dilakukan orang seusia bokap gw adalah tiap kali gw aktif di Line, BBM, dia komen, ini akhirnya jadi bukaan topik pembicaraan. Hahaha, sebagai seorang yang tau sopan santun gw jawab sekenanya. Tapi jawaban gw selalu tek tok tek tok lagi, hahaha, nggak udah-udah. Yaudahlah ya, akhirnya jadi temen, selayaknya bokap gw juga. Bagusnya itu, punya temen dari rentang usia berbeda itu nambah pengetahuan juga.

Biasanya kalo curhat ke cowo’ gw curhat soal cinta, karena kan gw hadapin juga kaum mereka. Kan mau solusi, mau pendapat, mau tahu pendapat cowo kalau cewe begini begitu? second opinion aja sih, bukan patokan pendapat mereka, tapi hampir selalu bener lhooo pendapatnya.

Sebelum-sebelumnya gw emang lebih suka deket atau ngobrol dan nyaman nyimpen rahasia ke kaum adam. Itu gw perhatiin, dari kuliah sih menurut gw kalo dideket kaum adam rasanya lebih terlindungi. Seperti mereka mau berkorban buat kita gitu. Tapi sejauh ini temen cowo yang deket biasanya mereka yang udah punya pasangan. Jadi aman lah buat gw, nggak akan ada drama salah satu di antara kita berubah dari pertemanan jadi cinta.

Dari dulu, gw juga belajar dimana perbedaan gender laki-laki dan perempuan yang selalu diperdebatkan itu memang benar adanya. Nggak usah ngomongin soal tugas, kewajiban dan kodrat ya, soalnya ranah ini udah nggak bisa di ganggu gugat. Cewe’ kodratnya ya melahirkan, lalu cowo’ kodratnya mencari nafkah. Tapi bukan berarti cewe’ nggak bisa berkarir dan melakukan hal-hal yang seperti para cowo’ lakukan. Begitu pun para cowo’ tetep bisa melakukan hal-hal feminin seperti memasak dan beres-beres rumah kalau memang dia mau.

So, apa hubungannya dengan curhat?

Karakteristik antara cowo’ dan cewe’ dalam hal menilai atau merespon masalah dan situasi itu berbeda. Intisari gw setelah baca buku “Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps”. Jelas pria dan wanita itu berbeda. Simpelnya wanita terlalu terbawa perasaan tapi kalau pria itu lebih logis.

Nggak cuma itu, cewe’ lebih ember. Jangan harap rahasia lo aman, hahaha. Ya kalo nggak dicurhatin ke temen lain, bisa jadi dia curhat-curhat ke social media, drama banget kan?

Gw juga cewe sih, tapi agaknya setengahnya lebih berjiwa cowo yang menganalisa pasti logis. Walau ada banyak keterlibatan perasaan, tetep aja dominan hati, insting… hahaha jangan curhat ke gw mending, walau nggak kan juga dibocorin secara anaknya pendiem gini.

Kalo cowo, ya… buat gw sih ini pilihan. Secara cowo itu memang bukan super duper pendengar yang baik. Cuma kalo udah temen baik banget pasti didengerin deh, mau dia capek juga. Nasehat-nasehatnya juga cenderung logis dan mengarah pada solusi. Dia bisa seimbang, nggak nyuudutin lo, juga nggak menyudutkan orang lain. Kadang gw berkesimpulan juga kalau kaum adam ini juga nggak terlalu suka ikut campur urusan orang dibanding urusannya sendiri. InsyaAllah rahasia lo aman.

Pada akhirnya, curhat atau nggak curhat ke siapa pun.. itu resiko ya. Hati bisa lega sih kalo curhat, tapi pilih-pilih juga lo curhat sama orang terpercaya nggak?. Darimana tahu teman kita bukan penghianat? ya, tahu dari gimana dia pas nggak ada kita, apa dia sempet ngejelek-jelekin? (kalo kamunya memang jelek toh! haha) ngebelain kamu? Ini bakal ketahuan ada orang lain lagi yang cerita ke lo tentang teman kita itu. Ya namanya juga manusia tanpa cela, tapi mengumbar aib orang lain? ini uhuhuh makan daging saudara sendiri dan bisa habislah semua pahala buat orang yang kita gunjingkan.

Kalo nggak curhat? ..jangan asal update-update di social media (kadang kalau kesel yah suka asal ketik).  Gw membatasi banget ini. Kecuali memang ada tujuannya. Salah-salah banyak yang salah paham. Gw pernah salah beberapa kali lalu tobat! Itu bahaya banget. Bagi yang di kost-an sendirian, kan masih bisa nelpon nyokap atau bokap. Atau yang paling aman, curhat ke Allah 🙂