culinary, Kuliner, Liputan, Malaysia - Asia Tenggara, story, Traveling

Lima Rekomendasi Kuliner Malam di Petaling Street

Setelah enam tahun saat pertama kali ke Malaysia tahun 2013 silam akhirnya aku berkesempatan lagi buat menyambangi Kuala Lumpur (KL)! Sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan Negeri Jiran, jika bukan karena ada business trip alias perjalanan dinas a.k.a liputan 2 hari untuk peluncuran ponsel gaming Black Shark di KL.

Curi-curi waktu setelah liputan beres akhirnya kulineran aja deh malam-malam ke Petaling Street. Aneh juga sih, sebenarnya aku tuh nyari lokasi lain untuk dijelajahi melalui maps karena dulu sudah pernah ke Petaling Street. Mulanya ke Pasar Seni, tapi ternyata lokasi dekat sekali berjalan kaki ke Petaling Street yang juga merupakan kawasan China Town dan masih ramai padahal jam di tangan hampir menujukan pukul 21.00 waktu KL.

Ternyata beda lho atmosfer pagi menuju siang dan malam di Petaling Street. Setelah merasakan suasana yang beda aku malah menyarankan kalian yang pemula banget backpackeran keliling Asia Tenggara buat kulineran malam aja di Petaling Street dan cobain 5 rekomendasi kuliner berikut!

(1) Makan di Restoran Kim Lian Kee

Ini restorannya guys, di luar aja makannya sambil menikmati suasana malam

Teman-teman serombongan liputan dari Jakarta makan di sini, lokasinya gampang banget dicari dari depan plang Petaling Street lurus aja terus lalu belok kanan berdekatan dengan penjual Chesnut Berangan. Menunya ada aneka jenis mi, nasi goreng, jenis-jenis makanan Chinese kebanyakan. Halal apa nggak? Nggak yakin hehe karena buatku kalau restoran Chinese aku nggak berani coba dan pastikan kehalalannya. Rekomendasi aja buat kalian yang non muslim bisa kok makan di sini.

(2) Ngemil Chestnut Berangan

Ini ibu penjualnya dan beginilah bentuk kacangnya

Dari namanya aku penasaran, ini kacang berangan? Nggak banyak mikir langsung beli walau harganya 7,5 MYR kalau dirupiahkan dengan kurs Rp 3600 per 1 Ringgit jadi Rp 30.000 dan itu nggak dibohongin kok karena ada tulisan harganya dipapan. Penjualnya adalah ibu-ibu Melayu campuran Chinese karena matanya sipit. Aku nggak banyak tanya karena keburu penasaran coba, eh ternyata enak.

Jadi kacang berangan ini besar juga ukurannya, kulitnya pun keras makanya diroasted alias dipanggang gitu. Makannya enak selagi panas anget-anget. Agak susah membuka kulitnya dan lumayan capek ngegigitin tapi seru dan rasanya enak, walau lama ngabisinnya sambil keliling cari kulineran lagi habis juga dimakan berdua. Hehe

(3) Beli Air Mata Kucing

Air mata kucing, minum manis pas malem-malem. Ohya kamu bisa pilih dengan es atau tanpa es

Minuman yang serasa nostalgia, karena waktu ke sini 6 tahun yang lalu saat matahari terik dan cuaca panas-panasnya minuman inilah yang benar-benar terasa menyegarkan di tenggorokan. Harganya sekitaran 2,5 MYR atau setara Rp 15.000 saja. Rasanya manis seperti liang teh gitu dengan ada cincangan buah seperti kelengkeng di dalamnya. Mau siang atau malam menurutku tidak masalah minum ini tetap segar. Harus cobain banget selagi jalan-jalan ke Petaling Street dan cari oleh-oleh.

(4) Kim Soya Bean

Kim Soya Bean pasti bikin kenyang

Masih cari minuman? Di Petaling Street ada juga nih es susu kedelai alias Kim Soya Bean yang sudah terkenal itu. Cocok buat yang ingin malem-malem lapar tapi males makan dan ingin tambahan nutrisi dari protein nabati hehe. Menurutku harus banget coba, tapi kalau masih kenyang bisa keliling dulu deh muter-muter biar laper dan haus lagi terus beli Kim Soya Bean.

(5) Beli Sate-Satean

Dipilih-dipilih satenya, ini temen liputanku Galuh yang bisa makan sate babi

Masih laper tapi ya nggak laper banget, bisa nih beli sate-satean di Petaling Street. Nah, selain ada berbagai jenis sosis, kepiting, ayam, temenku di sini juga ambil sate babi merah FYI aja karena dia protestan jadi halal makan itu. Hehe kalo aku nggak boleh, cukup dengerin komentarnya aja gimana rasanya. Katanya ini babi nya manis. Nelen air liur deh kakak hehe.

Saat dateng kamu bakalan dikasih piring buat menaruh sate yang dipilih. Terus penjualnya akan grill satenya tapi ada yang digoreng juga sih dicampur bumbu dan tepung terlebih dahulu. Kelihatannya enak, cuma karena ada babinya aku ga beli. Kan kena minyaknya pula walau nggak makan.

Jadi itulah guys, 5 rekomendasi buat kulineran malam di Petaling Street saat kamu ke Kuala Lumpur. Masih banyak restoran sebenarnya, namun karena waktu terbatas kan.. bisa lho mampir lain kali (kalo ada yang bayarin tiket pesawat sama hotelnya) kwkwkw.

Advertisements
Kuliner, Malaysia - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Kuliner Ajiiiib KL – Bukit Bintang – Petaling Street

Traveling it feels incomplete if You do not try regional specialties. Instead of culinary is also include as part of the tourism eksplosure?

tmp_IMG_20130405_170553-1018140710 Big Portion Chiken Tandoori, Not Spicy But Lemonade

Region famous tourist crowds in Malaysia is Bukit Bintang. No wonder that a row of restaurants here, my friends told me culinary at Jalan Alor also must try, because there was a lot of street food, who knows a cheap and tasty. But my hotel is located around Bukit Bintang, so dinner for three nights, i’m choice around here.

Ganti mode. Capek juga ya mikir kosakatanya biar Bahasa Inggris, hehehe. Baru aja cek in hotel, tapi habis itu perut rasanya udah kruyuk-kruyuk minta diisi. Maklumlah kan memang jam makan siang, jalan sekitar 500 meter, sederetan jalan di Bukit Bintang menawarkan berbagai macam restoran. Yang menarik, ada sebuah restoran India bertuliskan Nasi Kandar dan Ayam Tandoori, tanpa pikir panjang langsung pilih makan di sini.

Apa sih sebenarnya kedua menu ini? agak bawel dan skeptis, maklum wartawan 😜.. habis makan saya nanya kenapa ayam Tandoori bisa merah, dari mana warna merah tadi. Mungkin resep rahasia, si bapak Indian berkulit gelap dan tinggi kurus nggak mau kasih tahu. Dia cuma bilang itu dari bumbu khas di India.

tmp_IMG-20130405-00432956293978 I recommend you to visit this restaurant. Restoran Nasi Ayam Hainan yang Favorit Saya Banget di Bukit Bintang

Siapa yang tidak tergoda penampilan Ayam Tandoori warnanya merah, kirain rasanya pedas padahal justru seperti ada campuran resapan lemon, jadi asem gitu. Ayam Tandoori ini juga dilengkapi saus yang nggak pedas, campuran yogurt, rasanya sama asamnya.

Saya kurang paham sih, kenapa kalau ke restoran India pasti dikasih porsi yang besar banget. Mungkin orang India kalau makan bener-bener mirip kuli 😂. Makanya lebih baik beli seporsi untuk berdua biar nggak mubazir.

Setelah ayam tandoori, saya juga memesan Nasi Kandar, sebagai teman makan si ayam. Rasanya mirip dengan nasi kebuli yang suka dibuat mama dirumah. Paduan berbagai rempah-rempah dan rasa kambing.

FYI.. guys, sebelum berangkat ke Jiran saya sudah ancang-ancang mau nyobain Nasi Lemak, salah satu makanan khas nya dan ternyata agak mirip Nasi Uduk kalau di Indonesia. Bedanya, nasi ini nggak direndam dan dimasak dengan santan, tapi hanya daun salam, lalu ada orek-orek kacang, telur mata sapi, dan sambal. Blaaaaah cuma ini ternyata, *penonton kecewa* Oke nggak apa-apa, itu harganya cuma 2 Ringgit dan biasa aja rasanya. No tasty.

image Air Mata Kucing di Petaling Street

Dimana pun kamu berada, kalau nggak mau kecewa, pilihlah tempat yang kelihatannya ramai dikunjungi. Bisa jadi restoran itu memang punya taste yang sesuai. Seperti kalau di Bukit Bintang, malam harinya kita makan di Nasi Ayam Hainan Chee Meng, nggak kecewa deh sama menu disini. Nasi Ayam beserta Lauk Ayamnya ajiiiibbb, gurih tapi nggak seperti pakai MSG. Ayamnya juga juicy.

By the way saking sukanya, malam besoknya saya sama travelmate kesini lagi dan nyoba menu berbeda, Mie Goreng Hokian-nya yang ternyata juga enak. Kalau biasanya makanan dengan taste nggak mengecewakan, pasti mahal. Di restoran ini tuh rasionable banget. Seporsi Nasi Ayam Hainan sekitar Rp 30 ribu atau RM 7 . Menu lain juga rata-rata seharga RM 7-10. Cuma kalau dibandingkan, dengan restoran diluar jalur Bukit Bintang seperti Jalan Alor, harga ini terbilang lebih mahal. Kan disini site nya turis. So, yang pergi ala backpacker lebih baik ke Petaling Street aja atau Jalan Alor.

Bila cuma ingin aman cari makanan pasti enak ya pilihannya restoran India aja, yang di berbagai sudut kota juga ada. Kalau di Indonesia mirip Restoran Padang yang tersebar dan jadi favoritnya orang-orang, termasuk kalau kamu ke Papua sekalipun, restoran nasi padang ada disana. Di dekat Stasiun Komuter, KL Central ada Suriah Teh Tarik yang makan berdua cuma menghabiskan RM 7 padahal porsinya banyak dan sudah termasuk minumnya. Juga Restoran Nasi Kandar dekat Gedung Mydin, meski ada teman yang berkomentar di warteg lebih murah 10 ribu juga dapet (itu kan tapinya cuma sepiring).

tmp_Bandar Kuala Lumpur-20130406-00487-1573114232 Buah Di Petaling Street

Hampir tiap hari makan berlemak atau berkuah santan di restoran India, kasian perut rasanya. Buah adalah menu wajib, carilah ke pasar seputar Petaling Street. Disini tersedia banyak macam buah, tergantung kamu sukanya apa. Oh ya, kalau kesini jangan lupa beli Air Mata Kucing sebagai pelepas dahaga. Unik ya namanya, katanya Air Mata Kucing juga berkhasiat untuk panas dalam. Rasanya mirip-mirip kalau kita minum liang teh.

Sepenggal perjalanan, pertama kali backpacker 2013

(Dyah Ayu Pamela)

Malaysia - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Ini yang katanya “Truly Asia”

Malaysia punya slogan buat pariwisatanya berjudul “Truly Asia”, mari cari tahu dimana karakter yang buat mereka berani mengklaim kalau disana benar-benar Asia?. Daerah seperti Kuala Lumpur (KL), kawasan Bukit Bintang, dan Petaling Street adalah beberapa tempat yang cukup ramai sekaligus disebut dalam buku sakti para traveler, Lonely Planet sebagai must visit place, dari tempat ini kita bisa cari tahu apa pesan dari “Truly Asia” tadi, seperti apa sih?

IMG-20130404-00372
Dibawah Stasiun Pemberhentian Komuter, Imbi. Tak Jauh dari Kawasan Bukit Bintang

Negara yang satu ini, Malaysia, tetangga dekat, yang masih serumpun tapi sempat sering salah paham. Bila diulik lagi konflik wilayah yang merembet sengketa, saling klaim pulau atau kepemilikian kebudayaan antara Indonesia dengan negeri jiran sudah terjadi sejak era Presiden Soekarno di tahun 1960-an. Ada kata “Ganyang Malaysia” di buku-buku sejarah waktu SD hingga SMA. Gimana nggak membekas, dari kecil kita sudah dicekokin sejarah konflik dengan tetangga.

Saya agak apriori karena beberapa yang saya temui kurang ramah. Ditanya surau atau musholla, atau masjid nggak tahu. Bukannya disini muslimnya cukup banyak (kalau ini rasanya agak sensitif, mungkin saja yang saya tanya ternyata non muslim) lalu saat akhirnya ketemu musholla itu cuma ruang sempit di sebuah pusat perbelanjaan yang ala kadarnya. Saat itu juga rasanya langsung bersyukur sama musholla yang lebih baik di Jakarta dan kepingin cepet pulang ke rumah.

IMG-20130405-00423
Suasana Kota di Dekat Berjaya Square

Balik lagi tentang “Truly Asia”, Malaysia demikian menyebut dirinya sebagai yang betul-betul Asia mungkin karena disini kamu bisa melihat wajah-wajah yang “Asia Banget” perwakilan dari etnis India, Cina, Melayu, dan mungkin juga Arab (India yang mirip Arab). Negara dan penduduknya yang lebih kecil berjumlah sekitar 20 juta-an (bandingin dengan Indonesia yang 250 juta) dan 6 juta-an di seputar KL membuat wajah-wajah campuran etnis Asia tadi berbaur. Kesannya jadi lagi ada di Asia, bahkan nggak cuma itu, makanannya juga. Berbagai restoran India, Cina, Arab, Melayu berjejer di kawasan tempat wara-wiri nya turis seperti Bukit Bintang bederetan juga dengan penginapan.

Atmosfer yang paling terasa kental kesan Asia juga bisa dijumpai jika kamu berjalan di  seputar Petaling Street. Waktu itu saya berjalan di kawasan etnis India dan mendengar lagu India lagi disetel kenceng banget, kali lainnya di kawasan toko-toko beretnis Cina lagu mandarin melengking naudzubila. Terus yang nggak kalah lagu-lagu Melayu macam ST12, D’Masive, atau Peterpan juga membahana di toko-toko souvenir (Oh jadi gini selera mereka, langsung gubrakkk).

Percampuran budaya dari Cina, India, Melayu juga ditunjukan dari bangunan kuil-kuil yang ada. Tak jarang bisa dijumpai Kuil India dan Cina berseberangan, terletak di banyak sudut. Tapi kesan Asia menurut saya cuma sebatas wajah dan makanan mereka. Selebihnya seperti keramahtamahan orang Asia, toleransi yang dipunya di negara kita, dan kebersatuan? rasanya jadi bersyukur cuma kita Indonesia yang beragam-ragam suku bangsa tapi tidak sendiri-sendiri dan memiliki rasa persatuan.

Di negeri jiran

(Dyah Ayu Pamela)