Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

“Sakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,” kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. “Sayang duitnya, mending buat makan,” kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

“Mudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi ini”.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. “Almost there (sudah dekat),”… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Advertisements
Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Chemistry dengan Turis Cina

Saya suka perjalanan ke Nepal kemarin, rasanya mendobrak keberanian ke level baru. Nggak canggung lagi berbahasa dan ngobrol dengan orang asing, semacam otomatis aja bisa berbaur, walau pernah ada kondisi di suatu ketika males ngobrol atau negur karena sudah merasa kedinginan atau sakit tapi tetap saat mood beberapa pertemuan dan saling sapa terasa akrab.

Dan itu merupakan pertama kalinya, di perjalanan traveling ke luar negeri saya merasa lebih berbaur dengan lingkungan sekitar. Soalnya dulu-dulu ngobrolnya cuma sama partner barengan dari Indonesia. Mungkin ya, karena diawal saya pergi soloing, walau barengan berdua sama teman tapi saya berangkat dua hari lebih cepat jadi ada banyak moment mengharuskan saya mengurus apa-apa sendiri dan itu membutuhkan komunikasi dengan orang yang baru dikenal.

Yang berbeda di perjalanan saya pergi naik gunung dan traveling ke luar kali ini karena saya berdua partner traveling dari Indonesia bener-bener baru kenal. Kami bukan teman dekat banget, kenal pun dari social media, tapi tujuan kami sama, ingin ke EBC Himalaya. Walau kami barengan disana, walau penginapan pun sama, tapi kadang saat trekking dia duluan di depan dan kadang nungguin sambil istirahat. Saya juga kadang di depan dan sembari istirahat memastikan kami nggak terlalu jauh. Dan di jalan kami pun bisa tetap bebas berbaur dengan traveler lain.

Tinggal di doormitory room membuat saya harus bergaul sama traveler lainnya, dari banyak negara berbeda. Hari pertama saya yang minta dijemputan sama pihak hotel langsung ngobrol sama driver orang lokal Nepal. Terus saya dapet teman sekamar 2 orang dari Swiss yang ke Nepal khusus karena mau puas-puasin yoga. Sementara satu lagi, merupakan traveler asal Jepang yang excited banget saat tahu saya orang Indonesia, soalnya dia pernah ke Indonesia untuk belajar dan punya beberapa teman orang Indonesia.

Karena pingin punya beberapa kesan suasana hostel yang berbeda, di hari kedua saya pindah hostel dan ketemu lagi orang-orang baru. Lagi-lagi menginap di doormitory room menjadikan saya harus mengobrol dengan beberapa traveler lainnya dari beda-beda negara.

Ranjang susun sekamar untuk 8-10 orang, tapi karena low season hanya ada 6 orang.. saya ingat itu, ada traveler dari Cina.. namanya Yang Li, katanya dia dari wilayah Xinjiang. Orangnya cukup bawel bahkan nggak bisa diam, walau di kamar gak duduk atau tiduran di kasur aja tapi dia lebih sering nyamperin teman sekamar lainnya, ngajak ngobrol!. Ini nih, salah satunya saya diajakin ngobrol mulu, ditanya mau kemana, sama siapa, terus obrolan berendet ke hal-hal lainnya.

Sebelahnya ada turis dari Thailand yang selimutan mulu di tempat tidur bahkan sambil makan. Kebanyakan karena tempat tidur mereka berdekatan, keduanya bicara hal-hal nggak penting juga seperti beli buah yang murah dimana. Sampe akhirnya saya jadi keikutan beli buah juga, karena bosan sama makanan berempah Nepal.

Selang agak sore, hampir malam datang penghuni baru, orang India. Pertama dia yang negur nanya saya, “nyalah gak air hangatnya,?”.. terus speak-speak nggak penting akhirnya, nanya lah “ tinggal di bagian India mana,?.. saya kira dia pergi ke Nepal untuk jalan-jalan, seperti yang lainnya, ternyata dia lagi melakukan perjalanan bisnis.

Saya tahu karena kaget waktu liat dia buka laptop. Soalnya habis itu saya ledekin di depan traveler lain.

“Liat dia, jalan-jalan bawa laptop, hehe,” kata saya sambil ketawa..

“Oh gw memang nggak dalam rangka jalan-jalan kok, ini perjalanan bisnis,” balesnya..

Dalam hati saya bilang.. “what???? Perjalanan bisnis?? Nggak salah ya kantornya ngasih dia hostel di doormitory room, pelit banget. Cuma 5 Dollar semalam, walau disini guest house-nya juga nyaman banget, bed cover anget, kamar mandi hot shower 😂🤣.

Entah kenapa sama turis India ini saya lebih bisa mudah memahami pengucapan Bahasa Inggrisnya. Dibandingkan dengan turis Cina yang saat bilang T jadi terdengar seperti S. Bilang Thirteen (13) seperti kedengaran Shirty.. apa itu shirty 😂…

Eh ternyata bukan satu orang Cina saja yang pengucapan T terdengar seperti S, di perjalanan menuju Everest Base Camp (EBC) saya juga ketemu dijalan begitu. Ceritanya lagi kecapekan, istirahat di batu sebentar. Saya nanya gini “Kamu pergi sendiri atau berberapa orang,”.. kata saya penasaran. “Oh kami rombongan, 13 orang,” Si turis Cina jawab.. serius pengucapan T untuk thirteen itu kedengeran seperti S.

Selain turis Swiss, Jepang, Cina, Thailand, India, di lodge maupun perjalanan kebanyakan saya ketemu orang Amerika dan Australia. Mereka dominan muka-muka bule ketahuan lah ya. Bisa dibilang setara banyaknya dengan orang Cina. Jelas lah, Cina kan 1 Milyar lebih penduduknya. Dan entah diantara semua turis itu chemistry yang paling saya dapet memang dengan turis Cina.

Di bandara Lukla saat 2 kali gagal berangkat pulang karena cuaca saya juga sempet ngobrol sama turis Cina tapi kali ini cowok. Nggak nanya nama, tapi saat saya bilang dari Indonesia dia langsung semangat, ngomongin Bali dan betapa negara saya ini banyak pulaunya. Di Lukla juga saya ketemu lagi sama turis Cina rombongan 13 orang itu. Dimana sebelumnya kita ketemu mulu, waktu kemaleman sampai Desa Pherice pun saya merasa aman karena barengan sama mereka. Rasanya jodoh aja ketemu terus dan akhirnya say hello lagi. “Hey you again!,” Hampir nggak ngenalin soalnya pakai kacamata,” kata saya waktu negur di bandara.

Karena sudah sering ngobrol di jalan saya juga jadi nggak sungkan pinjem charger. Kata saya inilah manfaatnya SKSD (sok kenal sok deket) sama orang asing baru dikenal.. 😜. Hai kamu pembaca blog ku, sekali-kali cobain dong solotraveling atau pergi dengan orang asing baru, ini asik banget, menantang diri keluar dari batas yang tidak biasa dilakukan saat kehidupan normal sehari-hari. Be brave!

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Yak, Si Satwa Fotogenic Pegunungan Himalaya

Yak, nama yang terdengar asing untuk sebutan hewan. Namun kalau kamu pernah ke wilayah Tibet atau Asia Selatan seperti di Nepal, tempat pegunungan Himalaya berada maka nama ini akan jadi akrab.

Apa sih hewan yak itu? Tentu saja supaya kenal kamu harus ketemu dulu atau searching namanya di Google. Saya pun baru mengenal hewan ini ketika trekking ke Himalaya. Suka memotret mereka, soalnya di Indonesia nggak ada 😂✌🏻. Menurut saya fotogenic aja, pas lewat jembatan bikin siapa pun memilih minggir atau nunggu biar lewat duluan.

Menurut Wikipedia, yak dalam Bahasa Latin (Bos grunniens) adalah sejenis sapi yang banyak ditemukan di Tibet dan wilayah sekitar Himalaya di Asia Tengah. Kata yak merujuk kepada spesies jantan sedangkan seekor betina disebut dri atau nak.

Yak yang liar mempunyai tinggi sekitar dua meter di pundaknya, sedangkan yang diternak biasanya hanya setengah ketinggian tersebut. Kedua jenis tersebut sama-sama mempunyai bulu yang panjang untuk melindungi mereka dari kedinginan.

Yak liar umumnya berwarna hitam dan cokelat. Yak yang diternakkan juga ada yang berwarna putih. Yak banyak dimanfaatkan untuk susu dan dagingnya. Susunya sendiri berwarna merah jambu. Selain itu, mereka juga digunakan untuk mengangkut barang melewati medan-medan yang berat seperti pegunungan.

Katanya sih banyak hewan yak yang dibunuh sebagai makanan oleh orang-orang Tibet sehingga kini mereka termasuk spesies yang terancam punah. Btw, karen penasaran sama menu steak yak saya juga nyobain waktu aklimatisasi di Desa Namche, walau katanya mending jangan makan daging deh kalo sudah di ketinggian 3400 mdpl-an, daging nggak dijamin segar dan belum tentu tiap lodge punya kulkas.

Tapi agak nyesel juga makan steak yak, soalnya pas trekking dari Dingboche dan menuju Gorak Shep melihat dengan mata kepala sendiri kalo si yak makan kotoran nya yang sudah kering 😂🙈. Memang di Pegunungan Himalaya ketinggian di atas 4900 mdpl-an ya sudah jarang pohon, paling rumput-rumput kecoklatan, vegetasinya beberapa tempat sudah mulai gersang, dan udara dingin sekali. Bbrrrr

Si yak ini jalannya lebih cepet lho daripada manusia, kelihatannya aja pelan. Tiap kali ada suara lonceng kriling kriling, si Yak berarti ada dekat. Yak ini biasanya juga memang dikasih kalung lonceng seperti juga kuda yang dijadikan alat transportasi mengantar barang.

Yang saya ingat tentang yak, juga jejak kotorannya. Pasti dimana-mana, di jalanan sepanjang mendaki. Kebayang gimana baunya? Kecium? 😂 ampun, kalo lagi meleng mata saya keinjek kadang kotorannya.

Sampai sepatu ikut bau kotoran yak, supaya nggak bau biasanya ketemu sungai ada airnya saya cemplungin bagian alas sepatu dan kalau terpaksa pakai tisu basah, soalnya sepatu kan dipakai di dalam lodge. Ditaruh di lantai kamar dan dipakai juga saat lagi diperapian bareng orang-orang, jadi kalau kecium bau nggak enak saya malu juga.

Kadang gemes dan merasa si yak berjasa banget. Yak yang tangguh, naik turun di cuaca dan kondisi pegunungan yang berganti musimnya dengan beban berat dipundaknya. Kalau gak terganggu seperti kuda, kadang saya usap bagian kepalanya kalau lagi papasan. Ciptaan Tuhan yang… harus dikasihi 🙏🏻

Bulu yak lumayan tebal mirip kuda dan agak kasar. Saya tahu karena pernah memegang. Dan tahu gak sih, bulu mereka juga dijadikan wool dan jadi selimut. Saya pun membelinya sebagai oleh-oleh untuk jadi kenang-kenangan. Jadi kalau kangen sama yak, pakai aja selimut dari wool yak itu.

Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (6) – Pertanyaan Seputar Persiapan Pendakian ke Everest Base Camp

Pengalaman harus mempersiapkan banyak hal sebelum pendakian Himalaya ke EBC, dengan segala rincian yang harus dipenuhi. Posting-an blog kali ini saya buat rangkumannya agar pembaca bisa langsung menemukan jawaban. Simak ya… 🙏🏻

URUS VISA NEPAL DIMANA?

Visa Nepal dapat diurus saat tiba di Kathmandu’s Tribhuvan Airport atau disebut mengurus Visa on Arrival (VOA). Dokumen yang dibutuhkan hanya foto 2×3 atau 3×4 dan menulis formulir pengajuan Visa yang sudah disediakan di bandara lalu membayar Visa sesuai masa kunjungan. Untuk Visa selama 15 hari 25 U$D, 30 hari 40 U$D, dan 90 hari. Anak usia di bawah 10 tahun tidak dikenakan biaya Visa.

Kawasan Asia Selatan kecuali India membutuhkan Visa. Pembaharuan ketentuan ini juga bisa berbeda sesuai update peraturan di Nepal. Silahkan di cek saja. Visa Nepal menurut situs Lonely Planet juga bisa didapat ketika memasuki perbatasan Nepal di Nepalganj, Birganj atau Raxaul Bazaar, Sunauli, Kakarbhitta, Mahendranagar, Dhangadhi dan Rasuwagadhi.

img_5705
dokumennya seperti ini untuk Visa On Arrival

Sebaiknya perhatikan betul soal masa kunjungan. Saya sarankan untuk ambil Visa 40 hari bila akan ke Everest Base Camp. Mengingat kadang ada masalah cuaca buruk pesawat tidak bisa fix terbang setiap harinya. Soalnya saat pulang saya ditagih kelebihan waktu tinggal yang 15 hari jadi 17 hari. Denda justru akan membuat boros pengeluaran, jika saja saya ambil Visa yang 30 hari, maka hanya membayar 40 U$D. Sementara kemarin karena denda saya dikenakan tambahan 34 U$D lagi. So pengeluaran Visa saja jadi 25 U$D + 34 U$D jadi 59 U$D.

BAGAIMANA MENGURUS IZIN PENDAKIAN?

Seperti di Indonesia, kalau ingin mendaki gunung di Nepal juga memerlukan surat izin mendaki yang bisa didapat dengan membayar sejumlah uang. Kalau ingin ke Everest Base Camp kamu perlu 2 surat ijin mendaki. Tadinya TIMS yang diurus di kantor Nepal Tourism Board di Khatmandu, lalu Surat ijin mendaki ke kawasan Taman Nasional Sagarmatha di Lukla. Bisa klik disini Info soal izin mendaki Everest

Namun saat Februari 2018 saya kesana ada peraturan dari Pemerintah Nepal yang berubah. Ternyata tidak perlu lagi mengurus Trekkers Information Management Systems Card ( TIMS) di Kathmandu, pendaki bisa mengurusnya ketika sampai di Lukla. Yeayy.. Alhamdulilah. Soalnya Sabtu tadinya kantor TIMS itu libur, nah pas kemarin partner trekking saya tiba Sabtu, jadi ini keberuntungan tidak perlu urus dan repot dengan TIMS.

img_5704
Tiket trekking permit

So, langsung urus sekalian lewat saat tiba di Lukla. Letaknya tidak begitu jauh. Biayanya kalau dirupiahkan totalnya sekitar Rp 550 ribu. Dengan rincian entrance fee . NRP 2.000 atau Rp 200 ribu dan trekking di Sagarmatha Zone yang di urus di dekat desa Monjo NPR 3390 atau sekitar Rp 340 ribu.

PENGINAPAN SELAMA MENDAKI DIMANA?

Sistem yang diambil di Nepal para turis atau pendaki tidak seperti gunung di Indonesia dimana pendaki harus membawa tenda sendiri untuk bermalam. Inilah enaknya menurut saya, jadi kita nggak berat-berat bawa tenda dan justru ikut bisa membaur dengan orang lokal Nepal.

Pemerintah Nepal menerapkan sistem penginapan di lodge atau hotel rumahan seperti homestay yang dikelola penduduk lokal. Jadi kamu sebenarnya ikut memberdayakan orang lokal Nepal dengan menyewa rumah mereka sebagai tempat tinggal, sekaligus restoran. Dan harga lodge disana rata-rata sama sekitar 2 U$D-3 U$D per kamar dengan 2 tempat tidur belum termasuk jika memesan makanan dan membeli minuman.

img_5560-1
ini lodge penginapan saya di Debuche

Harga kamar paling mahal sekitar NPR 400 atau 4 U$D di Lobuche yang memang sudah hampir ketinggian 5000 mdpl. Tapi di Gorak Shep yang akan dekat ke Everest Base Camp saya tetap dapat harga kamar murah, hanya NPR 200 saja atau 2 U$D padahal ketinggian 5100-an mdpl. Tergantung juga, terserah yang punya penginapan kadang. Sementara harga makanan di tempat paling tinggi memang akan semakin mahal. Misalnya sandwich bisa jadi 6 U$D, paling murah honey toast hanya 3 U$D. Kalau minumnya di ketinggian 3000 mdpl an masih sekitar NPR 100 atau 1 U$D, tapi di ketinggian 5000mdpl harganya jadi NPR 350 atau 3,5 U$D.

BERAPA BIAYA HIDUP PER HARI SELAMA PENDAKIAN?

Hampir terjawab diulasan sebelumnya, tentang rincian biaya menginap dan makan. Jadi saya jawab rata-rata kita akan mengeluarkan 10 – 15 U$D itu yang paling hemat, maksimal bisa 20 U$D per hari tergantung makan, minum dan kebutuhan, jika memutuskan mandi dan menggunakan hot shower makan ada tambahan 3-4 U$D untuk itu.

BAGAIMANA SOAL ASURANSI SELAMA PENDAKIAN?

Saya tidak memakai asuransi untuk pendakian yang telah saya lakukan. Ini setelah bertanya dengan pendaki dari Spanyol, dia saja yang bule nggak pakai asuransi. Namun ada teman yang pergi dengan asuransi karena dia pergi dengan open trip. Menurutnya dengan asuransi maka ada covered bila terjadi sesuatu. Misalnya terkena Acute mountain sickness (AMS), perlu helikopter buat pulang dll.

img_5535
cek point, tentara yang jaga juteks

Namun harus ada analisa dari guide yang mendampingi bila betul-betul harus mendatangkan helikopter. Katanya nggak sedikit orang yang gagal ke Everest jadi asuransi ini penting. Namun saya agak sayang mengeluarkan sejumlah uang untuk tambahan biaya asuransi ini. Karena lumayan menguras sekitar 1-2 jutaan. Sewa porter dan guide saja sayang uang apalagi untuk asuransi. Akhirnya saja hanya rajin olahraga, jaga kesehatan, asupan gizi yang cukup dan memeriksakan kesehatan sebelum perjalanan ke Himalaya. Termasuk cek tulang, cek kolesterol, tes darah, dll.

Hanya satu antisipasi saya karena dideteksi hampir masuk dejala ostepenia. Mendekati osteoporosis. Akhirnya saya rutin minum suplemen vitamin D dan kalsium. Persiapannya itu saja dan memastikan peralatan dan jaket saya akan melindungi selama cuaca dingin di Himalaya.

APA ADA ATM DISANA?

Ada bank di Lukla, yang akan tutup sekitar pukul 14.00 siang (kalau hari Jum’at). Kamu bisa tarik via mesin swip dengan kartu debit. Untuk itu kami akan dikenakan biaya 5 % dari jumlah uang yang diambil. Disini juga bisa menukarkan Dollar yang akan dikenakan biaya. Lumayan juga daripada harus tukar uang atau ambil lebih baik pegang uang tunai yang berupa Dollar dari Jakarta dan ditukarkan di Thamel atau bandara Khatmandu saat sampai di Nepal. Kita tidak bisa membawa Rupiah karena tidak laku ditukarkan di Nepal.

foto 1
ini bank di Lukla, deket banget bandara, bisa ambil uang tapi kena casss 5 persen, tukar Dollar juga bisa

Selain bank, ATM bisa kamu temukan di Namche Bazar. Ada beberapa ATM yang menarik uang juga dikenakan biaya. Kalau saya sempat narik ATM di Thamel, itu ada charge NPR 500 atau 5 U$D sekali tarik. Makanya lebih baik ambil sekalian saja.

BAGAIMANA MENGATASI AMS?

Acute mountain sickness (AMS) memang harus diwaspadai saat pendakian berat seperti ini. Saya pernah mengalami soalnya dan itu cukup tidak nyaman. Saya mengalami mual dan ingin muntah, lalu ada perasaan pusing seperti keleyengan karena terik matahari. Puncaknya adalah sakit kepala yang sangat amat nyeri. Belum pernah merasakan sakit kepala seperti ini.

Saya menghindari minum obat-obatan. Paling ya Paramex aja atau Panadol. Katanya obat pencegahan AMS itu minum Diamox yang bisa dibeli di Thamel maupun Namche. Tapi mengingat harganya lumayan juga jadi mahal di Namche, saya nggak jadi beli. Hahaha, pelit cuma 500 Ruppe atau 5 USD tapi mikir lebih baik buat biaya makan.. 3-4 U$D bisa dapat 1 toast atau apel.

Karena nggak bawa bendera, saya tempelin foto aja seperti turis lain

Ternyata juga untuk meredakan gejala AMS hanya perlu tidur saja. Dan minum air teh manis hangat. Sudah setelahnya tidak apa-apa lagi. Biasanya gejala AMS juga disertai tidak nafsu makan. Saya mengalaminya, dan akhirnya karena perjalanan cukup berat, saya yang tidak makan nasi atau karbohidrat lebih banyak minum air hangat ditambahkan dengan madu royal jelly yang di bawa dari Indonesia.

Terbukti ini bisa menjadi energi. Walaupun saya juga terkena flu dan pilek yang tak bisa dihindari. Mungkin karena minum madu, flu pilek saya cepet sembuh. Seminggu setelah pendakian hampir pulih benar. Walau setiap hari harus jadi anak ingus. Tapi cepet sembuh dan lega.

Tips lain katanya bule, kalau kena AMS mungkin karena terlalu cepat melampaui ketinggian, karena seharusnya bertahap mendakinya. Kena AMS ya keliling-keliling desa saja, atau turun lagi ke desa yang lebih rendah ketinggiannya.