LIFE, story

Yang Paling Baik Prasangkanya Kepada-Ku

Ada sebuah kutipan cerita yang menurut saya dalam sekali maknanya dan itu seketika membuat saya berfikir kemudian makin memahami apa yang perlu dilakukan sebagai hamba dikeseharian. Seperti mendapati pemahaman baru yang makin menguatkan mental spiritual daripada lupa jadi aku tulis di blog hehe, siapa tahu berguna bagi yang membacanya ๐Ÿ™‚๐Ÿ™๐Ÿป.

Sumber foto by google

Dari Buku Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi

Nabi Isa As banyak tertawa, sementara Nabi Yahya As banyak menangis. Yahya kemudian berkata kepada Nabi Isa..

“Kau percaya pada semua tipu muslihat halus ini sehingga kau banyak tertawa?

Isa menjawab..

“Sementara kau telah menutup matamu dari pertolongan dan cinta kasih Tuhan yang subtil, misterius dan agung, sehingga kau banyak menangis?

Seorang wali Allah hadir dalam percakapan tersebut. Ia kemudian bertanya kepada Allah :

“Di antara keduanya, manakah yang memiliki martabat paling tinggi?”

Allah menjawab :

“Yang paling baik prasangkanya kepada-Ku”

ARTINYA :

Aku menurut prasangka hamba-Ku terhadap Ku. Semua hamba memiliki imajinasi dan gambarab tentang diri-Ku. Dalam bentuk apapun dia mengimajinasikan-Ku, Aku tepat sesuai bentuk itu.

AKU BERKESIMPULAN :

Apapun yang dialami, apakah itu mendapati kesenangan atau kesedihan semuanya akan kembali lagi pada hati dan pikiran kita yang terus berprasangka baik ke Allah. Makin yakin karena pengalaman-pengalaman yang sebelumnya juga, pasti ada sesuatu yang baik di balik rasa sedih. Juga ada sebuah ujian dari tidak lupa maupun ujub dari kesenangan yang Allah beri. Intinya selalu berbaik sangka. Aku makin yakin segala yang didapati hari ini adalah yang terbaik, sesuai kesanggupan dan sejauh ini dari apa-apa yang di datangkan Allah itu memang sesuai kapasitas. Mungkin tidak diketahui hari ini saat tengah merasa senang atau berduka, tapi selalu jawabannya adalah hikmah yang baik.

Aku tambahkan hadist untuk memperkaya wawasan. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ : ุฃูŽู†ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุธูŽู†ู‘ู ุนูŽุจู’ุฏููŠ ุจููŠ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ููŠ ููŽุฅูู†ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ููŠ ูููŠ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชูู‡ู ููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ููŠ ูููŠ ู…ูŽู„ุฃู ุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชูู‡ู ูููŠ ู…ูŽู„ุฃู ุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽู‰ู‘ูŽ ุจูุดูุจู’ุฑู ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู’ุชู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽู‰ู‘ูŽ ุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู’ุชู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูŽุงุนู‹ุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุชูŽุงู†ููŠ ูŠูŽู…ู’ุดููŠ ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชูู‡ู ู‡ูŽุฑู’ูˆูŽู„ูŽุฉู‹ย  (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠุŒ ุฑู‚ู…ย  7405 ูˆู…ุณู„ู… ุŒ ุฑู‚ู… 2675 )

โ€œAllah Taโ€™ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu.

Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta.

Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Advertisements
Himalaya, LIFE, Nepal, story, The Journey

Sekendi Air Itu Tentang Menjejak Himalaya

Sekendi air dari sungai Tigris, dibayar mahal.. sekendi air yang tidak akan pernah bisa penuh walau diisi berkali-kali. Meluap dan terus meluap jika diisi lagi. Inilah dahaga duniawi..

Setahun belakangan, saya banyak membaca buku karya Jalaluddin Rumi. Sufi terkenal dengan puisi dan karyanya yaitu Matsnawi dari abad ke-13.

Bukan kebetulan, tapi ada referensi untuk mempelajari tasawuf lebih banyak lagi.. dan tasawuf ini bukan sekedar tentang Islam, bukan sekedar tentang makna-makna terdalam ajaran agama, tapi lebih dalam tentang cinta dari sifat Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan wujud akhlak dan kasih sayang yang bisa diterapkan terhadap sesama makhluk. Paling mengena, buku-buku ini akan sangat dalam untuk hamba yang rindu mendamba terhadap Tuhan nya.

Cinta secara universal memandang perbedaan-perbedaan cara pandang dan sikap orang, kaum, hingga menjadi sadar betul dan mahfum dengan apa yang mungkin tak kita mengerti dari keadaan perilaku orang atau kaum, bahwa segala sesuatu memang diciptakan demikian oleh Sang Khalik. Sehingga tidak ada lagi perasaan menghakimi. *just throw away, anggaplah pedebatan itu warna dunia..

Ada beberapa buku yang saya baca. Pertama kali beli berjudul “Tears of Heart” Ratapan Kerinduan Rumi yang isinya diambil dari Matsnawi karya Jalaluddin Rumi, ditulis oleh Osman Nuri Topbas. Buku kedua “Fihi Ma Fihi” ditulis langsung Jalaluddin Rumi, dan buku ketiga Matsnawi, juga karya Jalaluddin Rumi.

Sumber foto : google

Lalu, apa yang menjadi kesimpulan? Sangat banyak sekali. Mungkin dijelaskan satu per satu pun takan mampu mengupas pembaharuan hati saya memandang dunia. Namun terlebih dari tiap kesimpulan itu perlu mewujud menjadi sikap dan akhlak nyata. Dari tidak banyak mengomentari atau menghakimi, juga soal kesederhanaan, melepaskan sifat cinta pada kebendaan. Hehe, disini mungkin bisa dibilang suka barang bermerek atau branded, walau cuma kelas menengah…

Terlebih lainnya dari itu adalah keinginan saya untuk bisa pergi ke Himalaya. Apakah berlebihan jika saya punya keinginan kesana? Apakah egois bila saya pergi kesana sebelum sempat ber-umroh? Apakah memang “timing” yang harus demikian? Masih ada banyak pertanyaan. Namun bila tidak sekarang, kapan lagi? Kesempatan untuk bisa kesana akan hilang? Rasanya kok, saya harus menerapkan pesannya Paulo Coelho “let’s do it, take a risk and make mistakes”

Rasanya manusia memang tidak akan pernah puas. Dulu saya pikir Kerinci adalah gunung terakhir yang akan saya daki, namun ternyata masih ada keinginan untuk bisa ke Himalaya ๐Ÿ˜…. Ini betul sekendi air dari sungai Tigris (surga) yang akan terus meluap dan meluap lagi bila terisi. Mungkin setelah ini akan ada keinginan buat pergi ke Eropa? Atau kemana lagi? Saya rasa tidak, tapi entahlah…

Dan.. yang terbayarkan itu hanya sekendi air, dibanding betapa luasnya sungai Tigris dari Ilahi ๐Ÿ™๐Ÿป. Entah juga