Backpacker, Indonesia, SUMBAWA - Indonesia

Rasa Unik Kuliner Sumbawa

IMG_6502
Maksud hati mau motret itu jagung ketan aja, tapi dasar punya temen iseng digangguin mulu, minta difoto juga si Debong 😀

Meski bukan tukang makan tapi kalau pergi ke sebuah tempat baru, hal pertama yang saya tanya ke orang lokal adalah soal makanan. Selalu bikin penasaran buat nyoba, alesannya itu… karena tiap daerah kan pasti punya kuliner unik, apalagi traveling kali ini Indonesia bagian tengah, beda sama saya yang ada di barat dan walau Jakarta apa sih yang nggak ada?.

Memang saya cuma sebentaran di Sumbawa, sekitar 3 hari. Setelah logistik kami a.k.a makanan gunung yang super kreatif itu hampir habis, pilihannya biar nggak bosen tentu kulineran nyobain makanan lokal.

Dan… makanan unik pertama yang saya dan teman-teman cobain saat traveling ke Sumbawa pada pertengahan Mei 2015 silam justru kita temukan tidak sengaja di sela-sela bus berhenti. Waktu perjalanan kami dari Pelabuhan Pato Tano menuju Sumbawa Besar yang dua jam perjalanan itu.

Jagung Ketan : 

Ini bukan jagung biasa, karena warna kuningnya pudar dan rasanya berbeda dengan yang biasa saya makan. Jagung ketan sesuai namanya rasanya juga mirip kalau kita makan ketan.

Teksturnya bagi saya lebih lembut. Saking kepingin lagi makan jagung ketan pulang dari Pulau Moyo, sekalian perjalanan kembali pulang menyebrang Lombok, kami sengaja berhenti untuk makan lagi yang namanya jagung ketan. (Iya kan mumpung banget masih ada di Sumbawa).

Harganya murah cuma Rp 1000 – Rp.2.000 saja per satuan. Kebetulan ini jagung direbus bukan di bakar, jadi rasanya asli nggak ditambah apapun. Jadi guys kalau ke Sumbawa jangan lupa cobain jagung ketan ya…

Warung Singgang tempat kami makan, di pinggir jalan seputaran kota Sumbawa Besar.
Warung Singgang tempat kami makan, di pinggir jalan seputaran kota Sumbawa Besar.

Singgang :

Namanya begitu asing di telinga, mungkin ini penciptaan dari bahasa lokal setempat. Info dari kenalan teman di Sumbawa yang merekomendasikan untuk mencoba kuliner ini, Senggang itu unik di rasa kuah-nya yang asam pakai bumbu kuning. hehehe, tapi saat saya coba, letak bumbu kuningnya dimana ya? nggak ada warna kuningnya, mikirnya seperti kuah kunyit dan malah rasa asam itu yang saya perkirakan di dapat dari perasan belimbing bulu dan jeruk. Saya yang kurang suka makan ikan, cuma makan karena penasaran mau coba.

“Singgang itu ikan dengan kuah sup pakai bumbu kuning dan diberi taburan daun aru di atasnya,” kata Echi, kenalan baru di Sumbawa.

Jadi intinya memang ada pada kuah, kalau ikannya sendiri ya cuma dibakar saja. Jenis ikan pun macam-macam terserah kita tinggal pilih aja. Penyajiannya juga dilengkapi lalapan seperti terong, kemangi, kol, dan tak lupa ada sambal mentahnya.

ini yang namanya Singgang, Ikan bakar yang dimakan dengan kuah bumbu kuning. Kuah juga ditaburi daun aru di atasnya.
ini Singang (di foto hanya kuah dan lalapannya saja), Singgang adalah menu Ikan bakar yang dimakan dengan kuah bumbu kuning. Kuah juga ditaburi daun aru di atasnya.

Warung Singgang  yang kami kunjungi ada di pinggir jalan kota Sumbawa Besar. Yang punya warung galak. Hahaha pas mau pesen, dia wanti-wanti…. “Jadi berapa ikannya? saya nggak mau nanti bakar-bakar-in lagi,” tukasnya….

Bukan kali ini aja sihh ada penjual galak banget sama pembelinya, agak ilfeel terus tapi ya sudah mungkin karena beda budaya dan beda kebiasaan orang disini bicaranya agak keras aja.

Ohya di Sumbawa sebenarnya kami masih mencoba makanan lain, tapi itu bukan kuliner khas. Seperti masakan di rumah aja, ayam cabe rica-rica yang suka dibuat nyokap di rumah, terus ada martabak mie yang kami cobain di Polak, pinggir dermaga gitu tempat ngumpulnya anak muda di Sumbawa Besar.

Lalu saat kami perjalanan pulang kembali ke Lombok, dimana warung makan sepanjang jalan itu nggak ketemu juga ada yang buka, kami makan pecel ayam kampung. Biasa banget kan, hehehe.  Ya tapi ayam kampung disana cukup empuk loh, daripada siang itu kami kelaperan juga.

Pecel Ayam versi Sumbawa, sama aja sih yang ada di Jakarta cuma ayamnya ayam kampung sini. Hhahaha
Pecel Ayam versi Sumbawa, sama aja sih yang ada di Jakarta cuma ayamnya ayam kampung sini. Hhahaha
Advertisements
JAVA - Indonesia

Good Morning Bandung – Dusun Bambu

DSCN4006
Pemandangan sawah seperti di desa, pagi yang masih berkabut di Dusun Bambu

Hanya tiga jam dari kota Jakarta, Bandung sering menjadi tempat pelarian melepas penat. Weekend di Bandung sudah pasti macet, itu resiko. Melawan kantuk dan rasa lelah, pagi itu sekitar pukul 7 sampai juga kami di sekitaran Bandung atas. Melewati jalan meliuk-liuk yang saya tak hafal rute-nya, here we are Dusun Bambu….

Dusun Bambu punya banyak pemandangan pohon, menjulang tinggi. Disini kamu juga bisa melihat restoran dengan konsep unik, yang romantis buat dinner. Kantinnya seperti halnya kalau lagi ke Eat and Eat di Mall Jakarta, tapi mereka punya mata uang sendiri yang bisa ditukarkan. Makan di kantin ini harus nunggu jam 10 pagi dulu baru buka 🙂 🙂 secara aku dan kawan-kawan datang kepagian jadi kami foto-foto dulu.

ini restonya yang tersendiri dan harus pesan tempat dulu... unik
ini restonya yang tersendiri dan harus pesan tempat dulu… unik

Sambil menikmati hawa dingin Bandung bagian atas, ngopi-ngopi cantik, cobain kulinerannya yang beragam dari makanan tradisional sampai ice cream Singapura (ngapain jauh-jauh ke Bandung nyobain ice cream uncle)…Cobain makanan khas Betawi seperti kerak telor atau Mie Kocok Bandung.

SONY DSC
Ini yang kubilang semacam bungalo untuk dinner itu…

Sedapppp….. mereka sudah punya standart rasa enak yang sama, jadi nggak khawatir soal rasa ya…. Kuliner memang nggak ada matinya, tapi entah mengapa saya lebih tertarik dengan street food di jalan-jalan seputaran Bandung.

Batagor atau ketupat tahu, yang kalau tanya ke lambung mereka pasti teriak kalau nggak muat semua itu untuk dicerna dalam sekejap. Di mobil aja saya sama Ika (salah satu temen barengan trip kali ini), sudah janjian mau nyobain ini itu, tapi karena berdua makan-nya sedikit kita sepakat untuk ngabisi sepiring berdua aja 😀

Di Dusun Bambu kamu juga bisa beli oleh-oleh khas Bandung… (kalau saya lagi nggak mood beli) dan lebih sibuk dengan pemandangan taman bunga-bunga ….. zzzZzZzzzzzz terus ngopi-ngopi sambil bengong duduk.

Bunga-bunganya bagus
Bunga-bunganya bagus

Sambil ngantuk juga soalnya semalaman nggak tidur… mata sembab banget. Bandung walau bagaimanapun selalu jadi tempat pelarian yang tak membosankan, sekedar tancap gas aja lewat Tol Cipularang.

Kalau saya bilang Dusun Bambu ini cocoknya dikunjungi untuk family gathering, karena fasilitasnya ada taman-taman dan area permainan bagi anak. Mungkin cuma area bungalow untuk dinner yang pas buat acara makan malam romantis…. (lalu jadi kepingin)

How to Get There??? Konsentrasi saya kabur. Jalan ke Dusun Bambu cukup ditempuh sekitar 30 menit dari pintu Tol keluar. rutenya….. lupa…. bisa googling mungkin. (Lalu ditimpuk pembaca. hehehe :D).

Tapi kamu yang betul-betul mau kesini merasakan udara segar Bandung patut bela-belain… googling ya, pakai aplikasi Waze buat instruksi mencapai tempat itu, rute-nya akan mudah.

Taman bunga-bunga dimana-mana, kesini lagi yuk ……..

Kuliner, Malaysia - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Kuliner Ajiiiib KL – Bukit Bintang – Petaling Street

Traveling it feels incomplete if You do not try regional specialties. Instead of culinary is also include as part of the tourism eksplosure?

tmp_IMG_20130405_170553-1018140710 Big Portion Chiken Tandoori, Not Spicy But Lemonade

Region famous tourist crowds in Malaysia is Bukit Bintang. No wonder that a row of restaurants here, my friends told me culinary at Jalan Alor also must try, because there was a lot of street food, who knows a cheap and tasty. But my hotel is located around Bukit Bintang, so dinner for three nights, i’m choice around here.

Ganti mode. Capek juga ya mikir kosakatanya biar Bahasa Inggris, hehehe. Baru aja cek in hotel, tapi habis itu perut rasanya udah kruyuk-kruyuk minta diisi. Maklumlah kan memang jam makan siang, jalan sekitar 500 meter, sederetan jalan di Bukit Bintang menawarkan berbagai macam restoran. Yang menarik, ada sebuah restoran India bertuliskan Nasi Kandar dan Ayam Tandoori, tanpa pikir panjang langsung pilih makan di sini.

Apa sih sebenarnya kedua menu ini? agak bawel dan skeptis, maklum wartawan 😜.. habis makan saya nanya kenapa ayam Tandoori bisa merah, dari mana warna merah tadi. Mungkin resep rahasia, si bapak Indian berkulit gelap dan tinggi kurus nggak mau kasih tahu. Dia cuma bilang itu dari bumbu khas di India.

tmp_IMG-20130405-00432956293978 I recommend you to visit this restaurant. Restoran Nasi Ayam Hainan yang Favorit Saya Banget di Bukit Bintang

Siapa yang tidak tergoda penampilan Ayam Tandoori warnanya merah, kirain rasanya pedas padahal justru seperti ada campuran resapan lemon, jadi asem gitu. Ayam Tandoori ini juga dilengkapi saus yang nggak pedas, campuran yogurt, rasanya sama asamnya.

Saya kurang paham sih, kenapa kalau ke restoran India pasti dikasih porsi yang besar banget. Mungkin orang India kalau makan bener-bener mirip kuli 😂. Makanya lebih baik beli seporsi untuk berdua biar nggak mubazir.

Setelah ayam tandoori, saya juga memesan Nasi Kandar, sebagai teman makan si ayam. Rasanya mirip dengan nasi kebuli yang suka dibuat mama dirumah. Paduan berbagai rempah-rempah dan rasa kambing.

FYI.. guys, sebelum berangkat ke Jiran saya sudah ancang-ancang mau nyobain Nasi Lemak, salah satu makanan khas nya dan ternyata agak mirip Nasi Uduk kalau di Indonesia. Bedanya, nasi ini nggak direndam dan dimasak dengan santan, tapi hanya daun salam, lalu ada orek-orek kacang, telur mata sapi, dan sambal. Blaaaaah cuma ini ternyata, *penonton kecewa* Oke nggak apa-apa, itu harganya cuma 2 Ringgit dan biasa aja rasanya. No tasty.

image Air Mata Kucing di Petaling Street

Dimana pun kamu berada, kalau nggak mau kecewa, pilihlah tempat yang kelihatannya ramai dikunjungi. Bisa jadi restoran itu memang punya taste yang sesuai. Seperti kalau di Bukit Bintang, malam harinya kita makan di Nasi Ayam Hainan Chee Meng, nggak kecewa deh sama menu disini. Nasi Ayam beserta Lauk Ayamnya ajiiiibbb, gurih tapi nggak seperti pakai MSG. Ayamnya juga juicy.

By the way saking sukanya, malam besoknya saya sama travelmate kesini lagi dan nyoba menu berbeda, Mie Goreng Hokian-nya yang ternyata juga enak. Kalau biasanya makanan dengan taste nggak mengecewakan, pasti mahal. Di restoran ini tuh rasionable banget. Seporsi Nasi Ayam Hainan sekitar Rp 30 ribu atau RM 7 . Menu lain juga rata-rata seharga RM 7-10. Cuma kalau dibandingkan, dengan restoran diluar jalur Bukit Bintang seperti Jalan Alor, harga ini terbilang lebih mahal. Kan disini site nya turis. So, yang pergi ala backpacker lebih baik ke Petaling Street aja atau Jalan Alor.

Bila cuma ingin aman cari makanan pasti enak ya pilihannya restoran India aja, yang di berbagai sudut kota juga ada. Kalau di Indonesia mirip Restoran Padang yang tersebar dan jadi favoritnya orang-orang, termasuk kalau kamu ke Papua sekalipun, restoran nasi padang ada disana. Di dekat Stasiun Komuter, KL Central ada Suriah Teh Tarik yang makan berdua cuma menghabiskan RM 7 padahal porsinya banyak dan sudah termasuk minumnya. Juga Restoran Nasi Kandar dekat Gedung Mydin, meski ada teman yang berkomentar di warteg lebih murah 10 ribu juga dapet (itu kan tapinya cuma sepiring).

tmp_Bandar Kuala Lumpur-20130406-00487-1573114232 Buah Di Petaling Street

Hampir tiap hari makan berlemak atau berkuah santan di restoran India, kasian perut rasanya. Buah adalah menu wajib, carilah ke pasar seputar Petaling Street. Disini tersedia banyak macam buah, tergantung kamu sukanya apa. Oh ya, kalau kesini jangan lupa beli Air Mata Kucing sebagai pelepas dahaga. Unik ya namanya, katanya Air Mata Kucing juga berkhasiat untuk panas dalam. Rasanya mirip-mirip kalau kita minum liang teh.

Sepenggal perjalanan, pertama kali backpacker 2013

(Dyah Ayu Pamela)