Cambodia - Asia Tenggara, Traveling

Penjara Tuol Sleng, Saksi Bisu Kekejaman Khmer

Salah seorang turis sedang memperhatikan tumpukan celana korban kekejaman Khmer Merah di Tuol Sleng
Salah seorang turis sedang memperhatikan tumpukan celana korban kekejaman Khmer Merah

“It’s hard to believe, Cambodian kill Cambodian,” he said (suara narator yang terekam di pemutar suara),…………..

Di era pertengahan tahun 1960-an, pergolakan politik dari pengaruh komunis seperti kejadiaan G30S/PKI tak hanya dialami oleh Indonesia. Hampir seluruh kawasan Asia dan dunia mengalami peristiwa serupa, termasuk di Kamboja.

Bekas-bekas peninggalannya, seperti Penjara Tuol Sleng, di kota Phenom Phen, Kamboja kini menjadi satu site untuk turis mengenang para korban tahanan yang jumlahnya saat itu di tahun 1975-1979 mencapai 17.000 orang.

Pukul 7 pagi, ketika sampai di kota Phenom Phen dengan sleeper bus, saya bersama tiga teman lainnya langsung mencari sewaan tuk-tuk, sebagai kendaraan untuk mencapai beberapa situs bersejarah di Kamboja. Dengan  $20 Dollar akhirnya kami sepakat untuk diantar ke dua tempat killing field sebuah ladang pembantaian di masa Khmer dan penjara Tuol Sleng.

Hari ke-2 perjalanan di Kamboja memang sedikit muram, saya sampai susah senyum selama seharian itu. Atmosfernya menjadi sedih, karena dua tempat yang dikunjungi ini merupakan saksi bisu kekejaman rezim Khmer Merah. Saya hampir selalu merasa mual ketika mendengarkan panduan dan cerita pemandu lewat head set yang diputar dengan bahasa Inggris selama berkeliling Killing Field. Sungguhan, ini saya lagi ada di kuburan masal.

DSCN0224
tempat pemasungan di salah satu kamar penjara Tuol Sleng

Cukup jauh jarak antara Killing Field dan Penjara Tuol Sleng. Makanya saya juga nggak heran kalau driver tuk-tuk kami menerapkan tarif $20 Dollar, malah menurut saya itu sepadan. Jalanannya berdebu, percis seperti ketika berkeliling kota Siem Riep.

Meski atmosfernya menyedihkan, murung tapi turis yang berkunjung ke dua tempat ini relatif tidak sepi. Hanya saya saat memasuki kompleks ini pengunjung diharapkan tenang, tanpa suara dan memang setiap orang hanya sibuk mendengarkan penjelasan cerita narator di headset masing-masing.

“It’s hard to believe Cambodian kill Cambodian,” suara narator yang terekam di pemutar suara.

Di setiap jejak yang bertanda nomor 1 hingga sekitar 30-an tempat ada berbagai cerita yang dikisahkan seorang narator di pemutar suara. Mulai dari tahanan di turunkan dari truk, dipisahkan dari keluarga, sampai ketika mengalami penyiksaan. Oke, mungkin sebaiknya saya tidak cerita lebih jauh, tapi bisa digambarkan bahwa disinilah kuburan masal korban penindasan rezim Khmer Merah. Mereka yang ditahan dan disiksa adalah orang-orang yang berpotensi akan melakukan kudeta terhadap Pol Pot, pimpinan Khmer Merah saat ketika itu.

DSCN0228
Di ruang foto-foto korban kekejaman Khmer

Monumen pembantaian di Killing Field dibangun. Selain ada kuburan masal yang berupa gunungan besar itu, tengkorak para korban dijadikan satu dalam sebuah kaca besar. Saya tidak begitu paham bagaimana mereka bisa mengidentifikasi korban lewat tempurung kepala mereka, tapi lewat tengkorak ini juga bisa diketahui dengan cara apa mereka terbunuh.

Di bagian kaca besar, juga dipajang berbagai alat mematika. Mulai dari penyengat listrik, palu, benda tajam yang runcing, semua cara kejam untuk membunuh. (serius saya yang lagi nulis mulai merasa mual).

Setelah Killing Field, driver tuk-tuk mengantar kami ke penjara Tuol Sleng. Lokasinya dekat pusat Phenom Phen, oh jadi si bapak tuk-tuk memang sengaja antar ke Killing Field dulu soalnya habis ini kita juga minta diantar ke tempat menunggu bus menyebrang perbatasan kota Saigon, Ho Chi Minh City.

Sampai di Tuol Sleng, saya makin mual, karena di penjara ini seluruh tempat penyiksaan dan foto-foto korban diperlihatkan. Bukan takut sama hantu korban Khmer Merah, tapi aura ngeri memang kerasa banget, makanya nggak semua tempat saya lihat. Apalagi setelah foto-foto korban dan bagaimana mereka disiksa itu digambarkan jelas, lalu tiba-tiba jadi terbayang seperti ada bau amis darah, bau busuk mayat. Saya langsung ingin keluar dari ruangan itu. Nggak habis pikir, bagaimana bisa menyiksa dan membunuh saudara sendiri.

DSCN0199
Pintu Masuk Killing Field

 

 

 

 

 

Advertisements
Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Travel to Chu Chi Tunnels, Wisata Perang Vietnam

DSCN0246
Patung tentara wanita di masa perang Vietnam

Bagi kamu yang sudah sering traveling ke pantai atau gunung, saatnya mencoba sesuatu yang berbeda! kalau mengenal sejarah lewat museum itu terkesan konvensional, so…. wisata perang ke sebuah lokasi persembunyian markas perang Vietnam di tahun 1960-an ini akan menarik banget.

Berhubung saya berniat untuk menamatkan misi perjalanan traveling ke Asia Tenggara, salah satu kota di Vietnam, Saigon, Ho Chi Minh City sudah lama jadi incaran saya. Selama hampir 4 hari disana, saya sempat ke Chu Chi Tunnel sebuah banker persembunyian, lorong bawah tanah. Ini ceritanya,….

Lokasinya yang lumayan jauh dari pusat kota Saigon, jadi hiburan tersendiri. Enjoy banget, karena jauh dari kemacetan, polusi yang berlebihan, meski masih harus pergi ke terminal bus. Yang saya juga suka, sebagai traveler bisa berinteraksi dengan penduduk lokal, plus pemandangan asri seperti melihat sawah ladang disepanjang perjalanan bersama bus.

Di bus secara absurd saya merasa nyaman walau sedang berada tempat asing, sambil ngedengerin lagu dengan bahasa yang tidak saya kenal. Musisi di Indonesia tampaknya memang jauh lebih baik dalam menciptakan nada-nada. Musik disana mirip-mirip lagu mandarin 😀

Lubang kecil yang merupakan pintu masuk banker, pemandu kami yang jahil mengagetkan kami semua dengan bunyi ledakan ketika membuka banker
Lubang kecil yang merupakan pintu masuk banker, pemandu yang jahil mengagetkan kami semua dengan bunyi ledakan ketika membuka banker

Seperti apa Chu Chi Tunnels?

Terowongan sepanjang 75 mil (121 km) ini berhasil bikin saya takjub. Karena saya pun sebagai orang yang lahir di era pasca perang bisa merasakan seperti apa ketika itu tentara perang Vietnam mengalami masa-masa hidup di terowongan bawah tanah. Tinggi terowongan jelas setengah dari tinggi badan orang Asia rata-rata.

Saat berjalan disepanjangnya kita harus merunduk hingga pundak pastinya pegal-pegal. Belum lagi dengan gangguan serangga atau binatang seperti kekelawar, bahkan kata sang pemandu sempat terjadi wabah malaria ketika itu. Hmmm bisa dibayangkan, nyamuk malaria di tengah hutan Chu Chi dan di dalam terowongan sangat suka tempat gelap, minim penerangan dan lembab seperti ini.

Seorang bule dengan postur besar tinggi agak kesulitan melewati terowongan itu, jelas aja. Tapi ajaibnya, si bule muat juga masuk ke dalam pintu banker yang ukurannya minimalis itu. Terus dengan iseng, pemandu kita ngagetin soalnya muncul di pintu banker lain, sekitar 100 meter jauhnya…. walah

Buat yang punya penyakit jantung atau takut kegelapan dan ruang sempit nggak diperbolehkan mengikuti tour ini. Saya merasakannya, itu memang akan berbahaya, soalnya keluar masuk terowongan itu melelahkan, nggak boleh kagetan juga kan pemandunya suka ngagetin kita. Beberapa kali kita teriak entah karena si pemandu pura-pura jadi patung atau ngilang dan muncul dengan bunyi ledakan. fuuuuiiih, kamu yang penakut jangan coba-coba.

Ohya sebelum menjalani tour dengan penjelasan dan keliling tempat-tempat di banker, kita akan diputarin sebuah film berdurasi 20 menit tentang kondisi perang Vietnam saat itu. Luar biasa bagi saya, bangsa Vietnam bisa membuat kuwalahan pasukan Amerika karena sistem banker yang mereka ciptakan ini.

Banker mereka canggih, jangan salah di lokasi hutan itu mereka buat sirkulasi udara supaya walau di dalam terowongan masih bisa ada oksigen masuk. Mereka punya ruangan senjata, ruang operasi seperti di rumah sakit, dapur umum untuk menyuplai makanan, bahkan terowongan ini juga terhubung dengan sumber air untuk mereka mandi dan memasak.

Seperti halnya perang, ada banyak ranjau dan jebakan yang disiapkan untuk musuh. Senjata mereka mungkin tidak secanggih Amerika, sama seperti Indonesia yang masih tradisional pakai bambu runcing, tapi ampuh. Dari sini kita jadi tahu, bangsa Vietnam cerdik juga dalam menghadapi musuh.

DSCN0244
Suasana hutan di Chu Chi

Hal yang lebih luar biasa lagi dari itu semua, menurut saya bangsa Vietnam secara unik mengemasnya menjadi wisata perang, yang buat orang-orang diseluruh dunia juga penasaran melihatnya. Ini catatan sejarah yang menarik, dari sini saya juga berpikir kalau orang Vietnam itu pemberani, bahkan para wanitanya juga ikut berperang.

Di akhir Tour, setelah pemandu berhasil membuat semua orang keringetan, kita diajak ke sebuah dapur. Di dekat dapur itu ada sistem pengairan tempat kita mencuci tangan. Disana kita juga diminta untuk mencicipi singkong rebus dengan bumbu kacang, taburan garam dan gula. Singkong rebus ternyata salah satu panganan mereka saat itu. Nyam-nyam, saya ketagihan nyobain singkongnya, karena laper habis ikutan perang a.k.a bersembunyi di dalam terowongan  🙂

How to get there?

1. Kalau kamu menginap di sekitar Ben Tahn Market, maka untuk sampai ke Chu Chi Tunnel bukan hal sulit. Terminal  bus yang dekat dari Ben Tanh Market (cek google maps) bisa ditempuh dengan berjalan kaki 10-15 menit. Pilih bus nomor 13 dengan tujuan Chu Chi, tarifnya 6000 Dong atau Rp.3500 dengan perjalanan sekitar 1 jam.

banker 1

Di salah satu banker yang merupakan tempat tentara Vietnam rapat. Patungnya seolah beneran ya?

2. Perhentian Bus akan sampai di sebuah terminal lain, lalu kita akan ganti menaiki bus bernomor 79 ke lokasi tunnels, tarifnya 4000 Dong saja (Jangan lupa kita bilang ke bapak kenek kalau mau ke Chu Chi Tunnel supaya diberhentikan di tempat yang tepat).

3. Yes, kita sampai di sebuah jalan besar. Dari jauh sudah kelihatan plang masuk kawasan Chu Chi Tunnel. Jalan sekitar 15 menit kita harus membeli tiket masuk seharga 90.000 Dong atau sekitar Rp.50.000.

By the way dari lokasi pembelian tiket, jalannya masih cukup jauh 500 meter masuk hutan yang pohonnya tinggi-tinggi menjulang ke langit. Untuk pulangnya ke Saigon Ho Chi Minh City, kita masih menggunakan bus yang sama, jadi nggak akan tersasar.

Terowongan yang gelap dengan bantuan penerangan senter
Terowongan yang gelap dengan bantuan penerangan senter. Karena sambil berjalan jadi shaging.