BALI - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Kuta Beach Bali, In Frame

Foto favorit aku bareng temen-temen sehabis piknik, kita sengaja kembaran pakai baju warna putih dan kain khas Bali

Yeayyy! Mampir lagi ke Bali dan masih di seputar Kuta dan Legian aja. Kali ini bareng teman-teman jurnalis dan blogger dan kita ke Pantai Kuta untuk piknik sore sambil menunggu datangnya warna keemasan matahari tenggelam ke ujung samudera sana (kesannya).

Kuta, pantai yang paling mudah terjangkau dari pusat kota Denpasar. Yup! Kalau nongkrong di Bali, biasanya saya ke Beach Walk buat sekedar cari tempat ngopi atau shopping mirip di Jakarta. 

Tapi seriusan, saya sebetulnya lebih suka untuk cari street food dekat dari pusat beli souvenir di dekat Jalan Kartika yang nggak jauh dari Hotel tempat saya menginap di Yan’s House Hotel Bali.

Sukaaa atmosfernya yang sendu


Kata salah satu temen blogger cobain soto sapi. Kaget dong saya dengernya,, soalnya kan sapi binatang yang dianggap suci bagi umat Hindu/Budha (lupa yang mana). Tapi ternyata ada cerita dibaliknya. Bukan nggak boleh makan, hanya.. katanya masa sih sapi yang sudah berjasa membajak sawah dan memberi susu itu masih mau dimakan juga? Gitu katanya.

Kuta Beach itu bukan pantai yang bersih. Jangan harap kalau kesini bakal tenggelam sama sapuan ombak dan pasir putihnya. No no no, pasirnya jelek. Lebih ke warna abu-abu hitam dan masih ada sampah. Bahkan katanya sempat ber-ton-ton sampah mampir ke pantai ini. 

Bukan karena ada yang sengaja nyampahin. Tapi menurut temen blogger yang orang lokal Bali, sampah itu berasal dari orang yang nyampah di laut, terus pusaran air membawa sampahnya hingga ke Kuta.

Masih sekitar jam 5 sore, masih terik

Ambience penikmat matahari senja

Menurut tulisan di web Wikipedia. Kuta beach itu juga dikenal sebagai Sunset beach, soalnya sunset disini memang menawan hati. Rasanya sayang kalau nggak mengabadikan sunset ini dengan kamera saya. Apalagi saya suka banget motret, suka banget nature fotografi. Menikmati banget sesi motret saat sunset.

Dan kamera Nikon saya lumayan bisa zoom 24x jauhnya. Jadi ketangkap semua moment magis saat sinar bola keemasan itu yang seolah tertelan samudera lautan. Termasuk aktivitas orang-orang yang lalu lalang.

Para pecinta matahari senja, peselancar, atau mereka yang lagi kasmaran berduaan menghabiskan waktu di Pantai Kuta. Entahlah, berbicara sejauh apa potret yang saya unggah ini. Hanya rasanya sayang kalau cuma diposting di Instagram. Butuh dokumentasi yang meng-capture secara utuh, moment demi moment. 

Sang peselancar hendak berpisah dengan ombak
Di antara saat bola merah tenggelam, beberapa perahu nelayan masih asik berada di peraduannya.

Advertisements
culinary, Food, Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Suatu Siang di Kedai Kopi Piltik, Toba Samosir

Coffee shop di tengah pedesaan, agak mirip lagi di Bandung ya bukan di Toba jadinya πŸ˜€

Cerah matahari terasa agak kontras dengan sapuan angin sejuk, aku agak kaget dengan cuaca di Toba yang walau terik tapi sejuk banget. Sepoi angin membuai pipi lembut, saking sejuknya, hampir mirip di ruang ber-AC suhu 23 derajat. Rasanya seperti perpaduan antara sedang berada di pegunungan dan pinggir pantai sekaligus πŸ˜€.

Empat jam sebelum keberangkatan pesawat pulang ke Jakarta, aku dan rombongan media kali ini diajak mampir ke sebuah kedai kopi baru di Toba, Siborong-borong. Lokasinya hanya berjarak sekitar 5 Km dari Bandara Silangit.

Sangat kaget awalnya, ada tempat sekeren ini di Toba yang notabene “pedesaan” dan jauh dari hingar bingar kota. Mungkin saya masih merasa biasa saja ketika ke Kota Medan dan menemukan banyak cafe cantik mirip di Jakarta, tapi ini Toba Samosir lho… Bandara Silangit saja hanya punya kantin kecil mirip warung nasi Tegal.. ini ada coffeeshop.. luar biasa rasanya.

Suasananya mirip di Bandung

Lebih luar biasa lagi di depan coffeeshop ini ada pemandangan semacam kebun sawah, tentunya tanpa background gedung pencakar langit kota besar. Satu lagi, tidak disertai bising kemacetan, polusi asap kendaraan, dan jelas ini lokasinya bukan di dalam mall (biasa tempat ku ngopi).

Piltik, sebuah kosakata yang bagi awam terdengar aneh, tapi bagi fotografer kata ini punya makna. Aku pun baru tahu saat itu juga, Piltik diambil dari istilah dalam dunia fotografi. Apalah arti sebuah nama ya.

Tapi nama penting juga, coba aja tanya ortu nama kamu yang bagus itu artinya apa? selain doa ada makna tersembunyi. Mungkin juga ada historinya, seperti Piltik yang menurut pemilik kedai sangat meaning, berhubungan sama hobi sekaligus profesinya sebagai fotografer.

Martabe yang bikin mata melek dalam sekejap

Cuma asing saja dengan kata ini, apalagi saya yang fotogrer amatir (merangkap nulis soalnya). Ohya berhubung kurang mengerti soal kopi. Walau sudah sering dijelasin (mungkin karena tidak ada ketertarikan sama si kopi), makanya saya nggak bahas lebih jauh soal kopi disini. Suasananya aja, yang sampai sekarang pun masih mengena di hati.

Tapi kopi disini tentu beda, karena lokal tumbuh di sekitar Toba. Satu hal yang buat ku berani minum kopi disini juga karena proses penyeduhannya yang katanya nggak akan buat asam lambung. Iya jadi betul-betul dengan air masak mendidih.

Tentang kopi yang aku gak paham bagaimana membedakannya (sama-sama pahit dan agak asam juga).. ya cuma tentang adanya aroma buah tertentu, kalau tanaman kopi itu ditanam dekat pohon buah. Juga berpengaruh dari tanah tempat ditanam.

Pintu masuknya

Disamping soal kopi, justru yang membuat ketagihan disini saya cobain jus Martabe (markisa terong Belanda). Itu seger banget dan seketika buat saya jadi melek.. karena jadwal padat kurang tidur terus selama tiga hari.

Seperti biasa kalau tidur di tempat asing dan worry sama berita yang bakal dikirim. Gitu deh… zzzzZzzz

Btw jangan lupa mampir kalau ke Toba. Berikut saya input nomor kontak dan alamatnya. Hayo kamu sebagai travelerΒ yang sudah banyak pergi ke luar negeri tapi belum ke Toba…

Ini plang coffee shop yang sekaligus ada homestay juga

 

Kedai Kopi Piltik

Buka :

Senin – Sabtu : 08.00 – 21.00

Minggu : 09.00 – 21.00

Alamat :

Jl. Sipahutar No 33, Dusun Parhasioran, Desa Lobusiregar II, Siborongborong, Tapanuli Utara.

Hp/wa : 087767776333

Email : piltikhomestay@yahoo.com

Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Capture Toba Lake

Kapal yang membawa keliling Danau Toba dan menuju Pulau Samosir

Danau terbesar se-Asia Tenggara itu memang menakjubkan. Selain dengan cerita bagaimana meletus dan membentuk pulau di dalam danau, keistimewaan tempat ini tak lain juga karena sejarahnya bagi orang Batak.

Hmmm… rasanya nyaman dan adem banget memandangi Danau Toba, entah mengapa. Untuk mendapati pemandangan yang menenangkan jiwa itu tak butuh susah naik di ketinggian seperti kalau lagi ke gunung, sebab hotel tempat saya menginap di Inna Parapat langsung menghadap Danau Toba. 

Jadi begitu membuka pintu kamar pemandangan nya adalah kapal feri yang lalu lalang buat keliling sekitar Pulau Samosir. Agak susah memang memotret keseluruhan Danau Toba, soalnya mesti di atas bukit baru kedapatan full pemandangannya.

Pemandangan Danau Toba dari depan pintu kamar
Danau Toba mendung kurang cerah, tanpa kapal lalu lalang seperti tanpa kehidupan

Jepretan ku yang maksimal hanya segini saja, berhubung cuaca mendung dan kamera bukan yang canggih banget. Tapi lumayan tajam pakai Nikon, saat di zoom pun tidak pecah sampai 42x.. akan nge-blur juga bila terlalu maksimal.

Hal yang paling ku suka itu memotret kapal dan rasanya Danau Toba tanpa kapal yang berlalu lalang itu kurang hidup. 

Moment lainnya dari beberapa sudut sebenarnya bukit- bukit yang dari jauh terlihat. Pulau Samosir di tengahnya, termasuk suguhan apik apalagi ada aktivitas anak lokal yang berenang sekedar main-main saja.

Di tengah-tengah perjalanan ke Samosir kita juga bisa merekam berbagai aktivitas. Aku agak kaget karena ada yang ngamen di atas kapal, terus kirain bakal minta recehan.. ternyata ngamen nggak berbayar πŸ˜….

Sepanjang perjalanan berkeliling guide dari Hotel Inna Parapat menjelaskan berbagai tempat bersejarah. Termasuk ada cerita sesosok manusia menggantung di dekat karts. 

Ini sosok manusia yang menggantung di salah satu karts
Menenangkan ini pemandangan yang ku maksud

Juga berapa lama berkeliling Danau Toba dan berkeliling Pulau Samosir yang punya desa-desa wisata dari darat maupun laut. Ini tempat memang benar-benar amazing πŸ˜€πŸ˜πŸ˜˜.

Kebetulan rombongan ku menyewa satu kapal buat kami aja. Tapi kalau traveling orangnya nggak lebih dari 25 orang kamu bisa naik kapal dari tiga dermaga. Tarifnya berapa? Nggak kesempatan tanya, soalnya agenda padat banget.. sampai tas koper titip dulu ke resepsionis dan kami nggak ke kamar buat istirahat begitu sampai Parapat. 

Hotel Inna Parapat merupakan satu hotel yang punya dermaga sendiri, bisa request kapal juga kalau rombongan. Tapi nggak sulit juga untuk ke dermaga, kapal tersedia banyak dan sering bolak-balik.

Bareng wartawan Tempo, CNN Indonesia dan Majalah Swa.. jarang-jarang liputan luar kota bareng temen desk ekonomi dan megapolitan yang seriusss serius liputannya
culinary, Food, Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Uniknya Pizza Andaliman di Toba Samosir

Rempah andaliman yang hanya tumbuh di Toba

PIZZA…

khas kuliner dari Italia, tapi bukan berarti tak bisa tampil beda dengan cita rasa lokal. Buktinya di Desa Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, pizza menjadi lebih unik rasanya karena menyertakan rempah lokal andaliman yang hanya tumbuh di wilayah Danau Toba. 

Akan sayang rasanya, jika berkesempatan berlibur ke Danau Toba tanpa mampir dan mencicipi pizza yang ada di gerai Pizza Andaliman. Tepatnya sekitar 15 km dari Bandara Silangit menuju Danau Toba cobalah untuk singgah sebentar ke tempat ini. Terletak di jalan Tanjung No 100 Balige, Pizza Andaliman bukan sekedar kedai pizza biasa, disini kamu akan merasakan pizza dengan rasa rempah khas Batak. 

Imelda, sang pemilik mengungkapkan telah membuka Pizza Andaliman sejak 2015 dengan ide menyertakan ciri khas bumbu rempah Andaliman. “Andaliman itu hanya tumbuh di daerah sekitar Danau Toba, rasanya cukup unik, ada sensasi getir pedas, asam dan membuat lidah sedikit kebas,” sebut Imelda.

Pizza andaliman yang menggunakan saus mayones ditambah andaliman

Pizza diberi saus, ditaburi topping berupa irisan sayur seperti wortel, jagung, keju mozarella, lalu ada sosis, cincangan ayam panggang, serta taburan keju cheedar dan tentu saja taburan cincangan andaliman. Rasa getir pedas dan asam itu utamanya tak sekedar tersaji di atas pizza, namun juga pada bumbu saus mayonese yang dicampur dengan rempah andaliman dan ada saus sambal dengan andaliman yang biasa dimakan orang Batak sebagai sambal cocolan ikan bakar dan lauk lain. 

Ketika mencicipinya, ada sensasi yang berbeda dari rasa pizza ini, terutama semakin terasa pedas unik bila menambahkan cocolan sambal andaliman maupun mayonese yang berpadu merica khas Batak tersebut. Ada aroma khas rempah andaliman yang berbeda ditambah rasa pedas getirnya.

Semua bahan saus maupun isian topping menggunakan bahan yang tumbuh di Toba Samosir. Perbedaan mencolok, pizza khas Batak ini tak menggunakan paprika seperti pizza Italia. Kemudian sausnya berbeda dibuat home made, hasil racikan oleh Imelda. 

Kedai Pizza Andaliman, ada di dekat pinggir jalan dari dan menuju arah Bandara Silangit, sekitar 15 Km jauhnya

Adapun tekstur roti terbilang tidak tebal dan tidak sepenuhnya matang sempurna. Menurut Imelda hal ini sebenarnya tak disengaja, pemakaian alat panggangan yang belum begitu modern, bukan panggangan listrik untuk panggangan pizza menjadikan rotinya tak keras dan gosong. 

Sayangnya untuk rasa, hanya ada satu jenis topping disini. Menurut Imelda memang kreasi topping pizza Batak ini untuk sementara belum dikembangkan lebih lanjut, tetapi masih mengunggulkan penggunaan rempah andaliman yang membuatnya memiliki rasa khas lokal. 

Sebelum akhirnya membuka gerai Pizza Andaliman, tempat ini dulunya dia buka untuk menjual nasi dan ikan bakar. Namun kuliner dengan rasa khas lokal dirasa akan lebih menarik minat wisatawan mencobanya. 

Rasanya unik berkat rempah andaliman, pokoknya beda dari pizza Italia, sayurnya pun beda tanpa paprika

“Awalnya juga tidak sengaja ada ide membuat pizza andaliman, karena saya pikir dengan adanya Bandara Silangit menuju Danau Toba sekarang lebih mudah dan sebagai penduduk lokal pariwisata disini juga akan maju dan siap kedatangan wisatawan dengan kuliner khas Toba,” ungkap Imelda lagi. 

Kalau sudah mencicip pizza andaliman yang unik, coba juga kopi lintong atau jus terong Belanda yang khas ada di Toba Samosir. Gerai Pizza Andaliman juga menjual sambal andaliman botolan home made dari UKM warga setempat dan mango wine yang dibuat dari fermentasi mangga di Tanah Batak.

“Mangga disini saking melimpahnya sering busuk, jatuh dari pohonnya sampai ada ibu warga lokal yang berfikir untuk dibuat menjadi mango wine dengan rasa berbeda dari wine lainnya dan harga jual lebih baik, sekarang cukup banyak peminatnya,” tambah Imelda. 

Wine mangga diolah penduduk lokal karena mangga begitu melimpah di Toba


Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Dibalik Kanibalisme Suku Batak di Huta Siallagan, Samosir

Rumah Bolon, khas dari Suku Batak di Samosir.. waktu datang hujan gerimis, bulan April musim penghujan masih berlangsung 

Kapal fery kecil mendarat ditepian Pulau Samosir. Tak lama rintik-rintik gerimis berjatuhan, seolah menyambut kedatangan ku kali itu. Sejak siang langit yang terlihat mendung memang sudah mengirimkan tanda-tanda akan hujan lewat sekawanan awan gelap, bahkan sejak ditengah perjalanan dari dermaga pinggir Danau Toba. 

Sebuah gapura besar dan lorong kios-kios tempat menjual souvenir membawa ku hingga menuju perkampungan yang dibatasi tembok besar setinggi dua meter. Disitulah Huta Siallagan, huta sebutan untuk desa bagi orang Batak, di sini desa Siallagan merupakan tempat bermukim salah satu raja dan keluarganya dahulu. Ada rumah bolon khas Suku Batak berjejer di dalamnya yang kini masih ditinggali kerabat keluarga keturunan raja. Rumah aslinya berukuran 3 kali lipat lebih besar, sebab dulu bagian bawah rumah juga bisa memuat ternak sapi dan kerbau, tak hanya ayam saja. 

Uniknya rumah bolon memiliki seni ukiran dengan cerita filosofinya. Di bagian ujung ada singa sebagai penolak bala yang disertai dengan topeng-topeng. Di bawah ada motif gajah dan cicak boraspati yang dilambangkan sebagai orang Batak. Cicak ini hewan yang bisa menempel dimana saja, di atas dinding, di tembok seperti halnya orang Batak yang bisa beradaptasi hidup dimana saja. Tak heran, dimana berada orang Batak banyak yang berhasil jadi pengacara, jadi ahli hukum, dan profesi lainnya πŸ˜€. 

Rumah bolon dengan tanduk itu merupakan tempat tinggal raja, di depannya ada meja batu dan pohon yang katanya bersemayam roh leluhur

Tempat yang kini menjadi cagar budaya dan dikelola keluarga desa setempat ini sempat mengalami kebakaran hingga menghanguskan seluruh rumah di tahun 1940. kemudian perkampungan dibangun kembali namun dengan ukuran rumah lebih kecil. Di dekat salah satu rumah bolon ada pohon besar yang didekatnya ada batu persidangan. Sudah berlumut dan tampak tua, batu persidangan merupakan tempat raja dan penasehatnya mendiskusikan hukuman bagi warganya yang berbuat kejahatan.

Ya, benar. Perkampungan Huta Siallagan yang masih eksis ini memang memelihara cerita dan peninggalan yang menyatakan kebenaran tentang Marcopolo dan para misionaris yang datang ke Indonesia. “Dulu raja disini tidak beragama sampai datang misionaris hingga disini kanibalisme juga berhenti dilakukan,” ungkap Christiani, keturunan ke-18 dari penduduk Siallagan yang menjadi guide saat kunjungan kami.

Kanibalisme, terdengar seram dan ungkapan orang Batak Makan orang itu ternyata benar. Karena di Huta Siallagan ini cerita tersebut memang terjadi. Dahulu bila ada orang di kampung ini berbuat kejahatan besar seperti mencuri atau membunuh maka mereka akan dihukum berat.

Mereka dianggap seperti binatang bukan lagi manusia sehingga tak masalah jika dibunuh lewat suatu prosesi lalu dimakan. Kepala yang terlepas dari leher dibuang ke Danau Toba. Hati jantungnya dimakan para prajurit raja yang kabarnya akan membuat prajurit makin kuat bertarung. 

Sementara tubuhnya dibuang ke hutan agar bisa dimakan anjing atau babi hutan yang kemudian kembali lagi dua hewan ini disembelih dan dimakan warga sekitar yang berburu. Artinya betul bahwa orang “Batak Makan Orang” toh? Ini yang saya dengar langsung dari Christiani, kalau Googling ada versi lain bagian tubuh ikut dimakan juga atau memang dibuang semua ke hutan.

“Tapi jika pelaku adalah perempuan atau ibu, tidak ada hukuman untuk dihukum pancung. Hanya saja perempuan tersebut akan diasingkan dari kampung, tidak boleh tinggal disini lagi,” sebut Christina lagi. 

Alasannya karena ibu bagi orang Batak dianggap sebagai asal muasal manusia,, yang melahirkan anak. Ini penjelasan pemandu kami ketika ada yang bertanya. Menurut cerita juga zaman dahulu wanita Batak melahirkan belasan anak. Orang Batak percaya makin banyak anak makin bagus. Karena itu juga di Batak pria bukan memilih wanita yang cantik untuk dijadikan istri, tapi wanita berdada besar yang menandakan kesuburan. Kalau diperhatikannya lagi di ukiran rumah bolon Batak ada juga lambang wanita dengan empat payudara. Filosofinya seperti yang disebutkan tadi. 

Selama perjalanan dengan fery, akan disuguhi pemandangan cantik Pulau Samosir dari jauh.

Huta Siallagan baru satu dari banyak desa yang ada di Samosir. Selain mengetahui bagaimana sejarah kanibalisme dan kerajaan kecil di Batak, wisatawan juga bisa ikut menari Sigale-gale, sebagai patung yang digerakkan manusia untuk menari dan menghibur raja. 

Untuk mencapai Pulau Samosir, wisatawan dapat menggunakan boat lewat tiga dermaga di bibir Danau Tidak. Sebelum adanya Bandara Silangit, dulu untuk mencapai Parapat menuju Danau Toba dari Medan harus menempuh perjalanan darat sekitar 7 jam lamanya. Presiden Jokowi akhir tahun 2016 lalu sempat mendatangi Danau Toba sehingga fasilitas Bandara Silangit pun dibenahi. Di Parapat ada banyak akomodasi hotel juga homestay. Sepanjang jalan menuju Danau Toba kita akan melewati Tapanuli Utara hingga Desa Balige. Kita juga bisa memilih wisata trekking dan melihat air terjun.

 

LIFE, story

Si Gemini atau Memang Bukan Cancer lagi???

Pernahkah kamu mengalami perubahan tentang pribadi yang agak lain dari sebelumnya??? Belakangan kok aku makin menyadari ada bagian personality yang berubah.

Ini berhubungan sama rasi bintang ku karena 21 Juni ada di pertengahan kedua rasi bintang itu. Posting-an ini bukan lagi ngobrolin ramalan bintang lho, tapi soal karakter berdasarkan tanggal lahir yang biasa dideteksi lewat rasi bintang. Jelas beda sama ramal-meramal, fyi sejak masuk dunia kerja aku 100% nggak mau baca ramalan bintang di majalah karena memang nggak percaya.

Apa kabar Pak Jokowi atau Pangeran Williams?? Mereka merasa sebagai cancer atau Gemini?

Dulu 100% aku yakin kalau aku seorang cancer. Yang setia (setia kalau udah suka sama satu brand, nggak mau ganti), Makin kesini makin yakin 90% didominasi sifat Gemini πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Lambang gemini simbolnya sosok kembar

Sifat Gemini yang sekarang aku banget :

(1) Komunikasi dan bahasa sangat penting bagi mereka.

(2) umumnya para Gemini tidak stabil, reaksi terhadap situasi ditentukan oleh mood mereka.

(3) Bagi Gemini, keragaman adalah penyedap kehidupan.

(4) Gemini tidak menyukai rutinitas. Pengetahuan, pikiran yang cepat dan kepKamuian jelas terlihat pada zodiak ini.

(5) Mereka mudah berubah-ubah.

(6) Mereka cenderung cepat bosan jika berada di sekitar orang yang tidak dapat mengikuti jalan pikiran mereka, dan cepat berpindah ke suatu tempat dimana orang di sekitarnya dapat mengikuti jalan pikirannya.

(7) Gemini dikenal dengan spontanitasnya

(8) Gemini menyukai perubahan, mereka senantiasa mencari sesuatu yang lain.

Diri Gemini Yang Dalam: Sekali berusaha mencari tempat, petualangan atau orang baru yang menarik untuk merangsang otak yang tidak pernah beristirahat. Gemini ingin terlibat dengan apapun, dan benci ditinggal sendirian.

THEN :

Kalau dibaca ulang sifat-sifat cancer, justru sekarang hampir cuma 30% yang cocok. Sifat bawaan seperti setia dan sulit memaafkan masih ada, cuma dua hal itu aja juga sekarang sudah kompromi. Hehe, cuma tetep aja aku tuh sampai sekarang merasa sebagai setengah cancer dan setengah gemini.

Apalah postingan kali ini, nggak penting banget ya πŸ˜€πŸ˜…