Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, LIFE, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Adegan Kocak – Trekking Gunung Gede

DSCN8412
Ceritanya lagi PMS, jadi rada-rada ganas…. sensian (senggol bacok)

Walau perginya dengan orang-orang kalem, bukan berarti trekking kemarin ke Gunung Gede itu nggak seru. Salah banget, kan sudah saya bilang kami ini diam-diam menghanyutkan, bikin tenggelem.

Hehe banyak banget adegan kocak, semua itu kebanyakan lewat bahasa tubuh (berhubung kalem kan). Dan taraaaa…. ada yang terekam dalam kamera saya. Kita lagi jadi anak-anak banget, anak ilang yang lagi kemping ceria di gunung.

Peringkat satu adegan paling kocak adalah waktu lagi istirahat dan ketemu pohon. Tiba-tiba aja Esti berpose candid, lalu cilukkkk baaaa. Hahahahah. Ah serius kok ekspresinya dapet banget pas saya foto.

foto (16)
Ciluuukkkkk, Baaaaaa….. Hahahahhahahahaha 😀

Terus yang paling nyeleneh ya si Uyung itu. Kalem-kalem sekalinya bereskpresi dapet, bikin ketawa dan si Bonar ikut ketularan pakai pose power rangers seolah-olah lagi siap-siap tempur atau ninju. Ketawa sampai berair banget mata.

Ditengah jalan Alun-Alun Surya Kencana, saya mikir. Duh nggak ada yang bisa motret kami ya, sepi banget. Sampai agak keujung akhirnya ketemu sekawanan pendaki yang lagi leha-leha.

Akhirnya minta tolong foto, eh ternyata mas ini baik banget. Dia malah keranjingan buat motretin kami lebih dari 5 pose. Pose cilukkk baaaa di tengah padang edelweis, sampai merekayasa supaya pose jalan beriringan. Tapi ya gagal total, nggak bisa akting.

DSCN8477
Furnitur yang kepingin bikin duduk dan betah berlama-lama. Nah, tadinya kan niat buat motret Esti aja, Uyung ikut-ikutan dan posenya itu lho… bikin ngakak 😀

Diantara kami berempat, cuma saya dan Bonar nih sepertinya yang takut untuk berpose jelek. Hahahahah jadi milih senyum atau jadi datar aja.

Terus setelah ke balik ke puncak dengan membawa tas carrier sekalian menuju pulang lewat jalur Cibodas, kami ketemu lagi pemandangan bagus.

Pepohonan dengan akar dan batang yang indah…. sebagai mebel, furnitur yang rasanya kepingin duduk lama-lama di hutan Gunung Gede ini. Furniturnya alamiah, bukan buatan manusia.

DSCN8479

Masih dengan sisahan cerita di jalur Cibodas, pokoknya dikit-dikit jepret. Dikit-dikit jepret… Saking sukanya sama hutan disana. Gunung Gede itu lebih bagus kemana-mana daripada Gunung Ceremai. Suka banget dan kepingin balik lagi. Pliiiiiissssssss

Ya entah nanti akan kemping bareng siapa, kalau butuh refreshing ke Gunung Gede yang nggak jauh dari ibu kota dan biayanya murah meriah nggak sampai Rp. 200 ribu tapi menyejukan hati dan bikin adem banget.

Advertisements
Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Pendakian Para Pendoa – Trekking Gunung Gede

foto (14)
Tim pendakian “Para Pendoa” Esti, Aku, Bonar, dan Uyung (kiri ke kanan). Kami yang kalem-kalem aja, hahaha meski kalem kalau becanda bisa kocak juga.

Hawa dingin masih meresap ke dinding tenda. Pukul 02.00 dini hari, sesuai kesepakatan berempat semuanya bergegas bangun dan menyiapkan perbekalan untuk muncak. Dingin yang tak terlalu menggigil (dibandingkan waktu di Semeru). Di tenda sebelah masih terdengar dengkuran manusia yang nyenyak dengan tidurnya.

Akhir April kemarin, akhirnya kesampaian juga muncak di Gunung Gede. Bahkan sekalinya kesana, kami summit 2 kali dan teman kami, Uyung malah summit 3 kali hahaha. Ceritanya dia nyariin Esti yang nggak sampai-sampai di atas, lalu bikin dia turun lagi.

Ketemu nggak? enggak, soalnya Esti lewat jalan pintas buat ke puncaknya,… Jadilah Uyung summit 3 kali hahaha. Padahal di summit kedua dia sudah sampai adegan “atas nama Bapak Ibu dan Roh Kudus”. Kurang kali summit-nya, kami semua lama ketawa ngakakkk tahu hal itu. Lalu yang diketawain cuma garuk-garuk kepala aja.

DSCN8416
Ternyata Alun-Alun Surya Kencana itu luassss banget, sampai saya pun bisa jogging lari-larian disini tanpa menggangu orang. Dan mereka yang ke Gede kan dibatasi, jadi serasa Gunung Gede ini milik saya banget.

Kalau baca postingan saya yang sebelumnya, kamu sudah tahu dong cerita kepergian ke Gede ini sama siapa aja. Temen-temen alumni pendakian Semeru sama salah satu anggota Geng Trio Kwek-Kwek alias temen liputan saya yang belum pernah ke Gede. Dilihat dari riwayatnya kami semua memang “kalem” serius kalem jauh dari sifat sanguinis yang tukang cari perhatian atau suka jadi pusat perhatian.

Better banget perjalanan trekking saya bareng mereka, dibanding waktu kepergian ke Ceremai. Dan memang dalam satu tim pendakian butuh banget ada cowonya. Lalu perlu banget teman yang satu visi, keukeh buat sampai puncak, nggak patah semangat, barengan temen yang seperti itu asik banget nggak khawatir dengan godaan yang bernama “malas”.

Perjalanan ke Gede dimulai pertemuan kami di pos polisi sebelum naik angkot ke basecamp atau rumah warga sebelum ke pos pendaftaran buat kasih simaksi (surat ijin mendaki) dan foto kopi KTP.

DSCN8441
Sampai puncak setelah Bonar, ini summit kedua. Gunung diseberang sana lebih sering tertutup awan. Hmmm,… kurang beruntung ya, besok di pendakian selanjutnya mungkin dapat cuaca Gunung Gede yang lebih cerah.

Dari Jakarta Esti dan Bonar yang tinggal di wilayah Jakarta Barat naik Transjakarta dengan APTB sampai pemberhentian terakhir Pasar Ciawi.

Setelah itu mereka sambung angkot ke Pasar Cipanas sampai turun di Pos Polisi tempat pemberhentian untuk ke jalur pendakian Gunung Putri (dengan naik angkot lagi ke basecamp).

Sementara saya sama Uyung kebetulan lebih dekat berangkat dari Terminal Kampung Rambutan. Jadi naik bus yang langsung ke Pasar Cipanas, turun tepat di depan pos polisi, sebelum naik angkot bareng Esti dan Bonar.

Hampir pukul 00.00 lho, Sabtu dini hari sepi-sepi aja isi angkot… hahaha mungkin memang capek pulang kerja dan ngantuk. Kami numpang tidur di rumah warga yang merupakan warung.

DSCN8478
Esti ditengah rerimbunan pepohonan, dalam perjalanan turun via jalur Cibodas

Ya kami tidur di atas tikar aja, tapi semuanya mengeluarkan sleeping bag, gratis… baru tahu setelah pagi-pagi semua belanjaan perbekalan itu tanpa biaya sewa tidur semalam. Tapi lumayan juga makan disini, nasi goreng harganya Rp. 10.000 padahal rasanya biasa saja, cuma ada tambahan telor kocok.

Tapi yang paling parah sih harga gorengan di atas sana Rp. 2000 per satuannya sudah gitu cilik-cilik pula. Ya dibanding usaha bawa kompor gas dan gas 3kg yang berat itu ya… anggap saja amal ibadah. Harga makanan di Gunung Gede lumayan mahal, jadi butuh uang jajan yang banyak di kantong.

Salah satu panorama menarik di Gunung Gede itu Alun-Alun Suya Kencana. Itu luaaaaassss bangett, sampai saya bisa lari-larian disana tanpa menggangu orang yang lalu lalang.

Terus padang edelwies-nya cantik, di Alun-Alun Surya Kencana juga banyak sumber air, ya kalau kamu kemah di deket padang edelweis di bawahnya mengalir sumber air.

Sebagian besar pemandangan selama trekking adalah rerimbunan pohon yang menjulang tinggi. Suka banget, adem hati eneng bang…. hehehe terus menurut saya sebaiknya kalau ke Gunung Gede itu lewat jalur Gunung Putri saja.

DSCN8483
Air terjun di jalur Cibodas, sepanjang jalur banyak ditemukan arus air dan air terjun.Nah di jalur Cibodas itu memang lebih variatif dan tak kalah bagus, kamu bisa menemukan air terjun, jembatan yang kalau dilewati saat terang kece banget untuk lokasi foto, dan sumber air panas.. Huaaaaa rasanya tuh seperti lagi sauna melewati sumber air panas ini. MasyaAllah 🙂

Karena buat pemula cukup ringan dibanding jauhnya lewat jalur Cibodas. Kemarin saja naik via Gunung Putri dan turun pulang via Cibodas.

Nah kalau lewat Cibodas kamu akan disuguhi pemandangan yang lebih lengkap. Ada air terjun, jembatan yang bagus buat setting foto, terus sumber air panas. Huuuuaaa rasanya tuh mirip lagi sauna melewati sumber air panas itu. Sayang setelah melewati sumber air panas kami sudah kemalaman, nggak sempat foto disana dan agak rentan untuk mengambil gambar karena jalanan licin dialiri air.

Tapi sebagian besar lewat Gunung Putri pun yang bagi saja cukup ringan dijelajahi (sekitar 6-8jam trekking) kamu sudah mendapatkan pemandangan rerimbunan pohon yang indah. Serasa betul-betul hidup. Feel amazing, I’m Alive!

Next time, kepingin ke Gunung Gede lagi, semoga bisa dapet cuaca cerah dan kondisi tidak hujan. Di atas sana pasti bagus banget kalau langitnya cerah tanpa ditutupi kabut.