culinary, Food, Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, SUMATERA SELATAN - PALEMBANG, The Journey, Traveling

Jalan-Jalan Ke Kota Palembang, Bukan Cuma untuk Kulineran Pempek!

Kalau kamu menyimak perhelatan ASIAN Games yang baru saja selesai akhir pertengahan 2018 ini, mungkin kamu pernah bertanya-tanya. Selain di Jakarta kok ada Kota Palembang sih yang jadi tempat penyelenggaraannya? Hmmm.. kenapa ya kira-kira? … *nanti diakhir coba aku jelasin

Nah, kebetulan (padahal di dunia ini semuanya tidak ada yang kebetulan lho). Nggak lama setelah ASIAN Games itu aku dapat kesempatan liputan ke Kota Palembang. Yassss! Sekalian dong kesempatan diajak kulineran.

FYI aku berangkat pagi hari, pesawat take off sekitar pukul 9.30 pagi dari Jakarta dan dengan penerbangan sekitar 1 jam lamanya kami sampai hampir tepat di waktu makan siang. Hufftt! Palembang panas sekali, kalau kalian mau tahu. Cuacanya mirip seperti waktu aku ke Bangka Belitung terik mataharinya hampir 35 derajat di bulan September lalu.

Kali ini aku bakal cerita secara berurutan saja ya, seperti itinerary kalau kamu datang ke Palembang dan enaknya ngapain aja di jam segitu atau cocoknya kulineran apa jam segini. Karena menurutku buat menikmati Kota Palembang itu perlu timing yang tepat. Oke langsung simak yuk!

DAY 1 Tiba Pukul 12:00 Siang

Makan Siang dengan Menu Pindang

1540746224714
(kanan ke kiri) Pindang Tulang dan Pindang Patin pilih mana coba?

Begitu sampai, aku langsung dibawa ke sebuah restoran yang terlihat modern. Hmm, lalu agak curiga apa enak makanannya disini? Skeptis karena biasanya tempat yang makanannya enak itu rame banget. Tapi ini sepertinya masih baru. Bener kan, biasa aja. Tapi aku rekomendasi aja buat kalian untuk makan siang yang cuacanya panas begini atau pun kalau lagi musim hujan. Cocoknya ya kulineran dengan menu pindang.

Pindang adalah masakan berkuah yang begitu terkenal di seantero Sumatera Selatan. Pindang disini ada banyak jenisnya. Nah, yang aku coba adalah Pindang Patin dan Pindang Tulang. Keduanya punya perbedaan citarasa yang menentukan selera lidah kalian juga. Kalau suka masakan berkuah kaldu aku sarankan untuk memilih Pindang Tulang yang memakai daging sapi bertulang. Namun kalau kamu penyuka pedas dan ingin kuah yang terasa segar aku rekomendasikan pilih Pindang Patin yang memakai daging ikan Patin.

Keduanya nggak salah, karena selera orang kan beda-beda. Si menu Pindang ini enaknya dimakan bersama nasi hangat dan ada tambahan sambal manga serta acar. Aku sukanya pada bagian Pindang Patin karena ada daun kemangi yang buat aromanya makin sedap, over all rasanya agak mirip Tom Yam masakan Thailand. Sementara Pindang Tulang menurutku rasanya lebih mirip seperti saat menikmati Sup Iga, sensasinya yang beda sih saat kamu melepas daging dari tulang-tulangnya sambil menyeruput si kuah kaldunya yang terasa light. Itu sih, sedikit cerita nikmatnya kulineran yang aku rasakan di siang hari bolong sebelum sampai ke hotel buat istirahat.

museum-sultan-mahmud
Salah satu sudut di Museum Sultan Mahmud Baddrudin II, foto : Trip Advisor

Pukul 14.00 Siang

Main Ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Ada waktu bebas begitu sampai hotel! Mumpung masih di Kota orang jadi aku ngajak dua reporter lain buat jalan-jalan sekitaran Jembatan Ampera. Kami pesan Grab Car! Hahaha bukan iklan berbayar ya, biar tahu aja kalau ternyata kamu bisa pesan transportasi online. Kota Palembang ya bukan kota kecil kan. Dulu bahkan katanya ini adalah Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya. Di Asia Tenggara dulu merupakan yang tertua. Wah banget aku baru tahu setelah masuk museum dan diterangkan oleh bapak Abi Sofyan, penjaga museum yang menemani kita keliling. Masuk museum ini bayar Rp 5.000 per orang, cukup murah ya. Di dalamnya sebenarnya nggak begitu bagus dan terawat isinya menurutku. Tapi sudah bagus ada museum ini jadi wisatawan lokal seperti aku jadi bisa mengenal sejarah hanya dengan melihat-lihat. Kamu bisa tahu baju adat Palembang, kamar pengantinnya, lalu cerita soal Laksamana Cheng Ho yang ternyata pernah beberapa kali datang dan ikut menyebarkan agama Islam disini. Hingga akhirnya etnis Cina juga percampurannya bisa tersebar di Palembang.

Pempek

Pukul 16.00 Sore

Waktunya Ngemil Pempek dan Beli Oleh-Oleh

Di Palembang ada banyak banget yang jualan Pempek. Di bandara pun ada beberapa brand restoran Pempek. Jadi memang nggak salah kalau disebut “Kota Pempek” haha. Tapi Pempek yang seperti apa dulu nih? Kalau googling pasti kamu bakal banyak banget rekomendasi. Menurutku sih, kembali lagi pada selera.

Nah, saat di Palembang kemarin aku mencoba 2 restoran Pempek berbeda. Untuk ngemil sore hari pertama aku mampir ke Pempek Beringing. Disini sekalian deh, beli oleh-oleh juga, ada Kerupuk Kemplang, Pempek yang versi frozen juga makanan khas Palembang lainnya. Menurut ku Pempek disini ya terasa ikannya, beda di bumbu yang lebih kental dan pekat dengan udang ebi yang sudah ada di dalam bumbu cuko.

IMG_9388
Berlatar pemandangan Jembatan Ampera, Kota Palembang di malam hari

Pukul 19.00 Malam

Makan Malam di River Side Restaurant dengan Latar Jembatan Ampera

Satu moment yang buat aku suka Kota Palembang adalah suasana malamnya dengan keindahan latar megahnya Jembatan Ampera, ikon kota ini yang dibangun sejak 1962 pada era Soekarno. Sambil menunggu menu makan malam siap, disini kamu bisa mengabadikan atmosfer malam Kota Palembang lewat berfoto menangkap dari jauh cahaya lampu terang Jembatan Ampera. Benar kata penduduk lokal yang menasehati saya waktu siang hari bertanya gimana cara ke Jembatan Ampera. Tempat ini memang lebih bagus dilihat saat malam hari.

Makan malam di River Side menurutnya biasa saja rasanya, standart. Namun karena suasananya semua terasa jadi enak, hehe. Aku tetap rekomendasikan tempat ini untuk kamu menghabiskan waktu malam menikmati suasana kota. Jangan lupa supaya pulangnya minta diantar untuk melewati Jembatan Ampera, supaya kamu pun merasakan gimana megahnya (dan menurutku memang terasa megah) jembatan ini. Sementara di siang  hari aku melihat kawasan ini terlihat kumuh ya. Ada pasar di dekatnya dan di kolong jembatan ada pedagang kaki lima berjualan. Bahkan seperti ada pasar kaget orang lokal yang menjual barang bekas. Aku agak kecewa ternyata Palembang kalau siang hari terlihat kumuh di kawasan ini.

Aku sih berharap, Kota Palembang yang merupakan salah satu Kota besar di Nusantara dan yang notabene dulunya ibu kota Kerajaan Sriwijaya bisa lebih bagus tertata. Wah, kemana aja ya dana Anggaran Pembelanjaan Daerah (APBD) kalau kotanya masih kumuh begini. Memang di kota Pempek ini karena beberapa kali sempat jadi tempat perhelatan olahraga skala Internasional, ada stadion besar dan pembangunan LRT hingga ada moda transportasi itu sekarang.

Tapi menurutku sisi latar sejarah Palembang, Kerajaan Sriwijaya, dan katanya dulu dijuluki “Venice From The East” seharusnya tidak begini. Harus banyak perbaikan, seperti yang kulihat dari Kota Semarang yang jauh berbeda ketika tahun 2011 pertama kali aku berkunjung dan di tahun 2018 kemarin Semarang menjadi lebih tertata apik.

Martabak HAR dyahpamelablog
MARTABAK HAR yang terinspirasi kuliner India, harus dicoba kalau ke Palembang

DAY 2 Pukul 15.00

Ngemil Martabak HAR dan Pempek Lagi!

Hari kedua di Kota Palembang yang sembari business trip itu aku menyerah karena sehari saja sudah kekenyangan, tapi belum semua kuliner khas di kota ini aku cobain. Mesti di capslock ya BELUM SEMUA. Akhirnya, pilihlah yang sekiranya buat aku penasaran seperti Martabak HAR yang memang beda dari martabak yang pernah aku cobain.

Martabak HAR diperkenalkan oleh Haji Abdul Rozak tahun 1947, tempat ini menyajikan makanan khas India yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Nggak heran kalau ada kuah kari kental dengan daging sapi dan kentang sebagai pasangan saus untuk si martabaknya yang cenderung tidak berasa karena hanya adonan terigu dengan isian telur tanpa daun bawang seperti martabak kebanyakan. Pokoknya harus coba menurut ku sih di tempat lain di Indonesia nggak ada soalnya, cuma di Palembang.

Menjelang sore akan siap-siap ke bandara, lalu aku diajak makan Pempek lagi. Hahaha, biar eneg deh sama Pempek pokoknya mumpung lagi ada di Palembang. Sekejap aku merasa kalau memang kurang cocok dengan Pempek berkuah asam. Soalnya di hari pertama pun aku sudah nggak enak badan dan upppss tidak perlu disebutkan disini bagaimana gejolak asam lambungku lantas menyebabkan apa. Tapi guys, masih banyak kuliner Palembang lain lho. Ada Mi Celor juga, hahaha maafkan karena perutku sudah nggak sanggup. Mungkin next time ya kalau kesempatan berkunjung ke Palembang lagi.

Advertisements
culinary, Food, Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Suatu Siang di Kedai Kopi Piltik, Toba Samosir

Coffee shop di tengah pedesaan, agak mirip lagi di Bandung ya bukan di Toba jadinya 😀

Cerah matahari terasa agak kontras dengan sapuan angin sejuk, aku agak kaget dengan cuaca di Toba yang walau terik tapi sejuk banget. Sepoi angin membuai pipi lembut, saking sejuknya, hampir mirip di ruang ber-AC suhu 23 derajat. Rasanya seperti perpaduan antara sedang berada di pegunungan dan pinggir pantai sekaligus 😀.

Empat jam sebelum keberangkatan pesawat pulang ke Jakarta, aku dan rombongan media kali ini diajak mampir ke sebuah kedai kopi baru di Toba, Siborong-borong. Lokasinya hanya berjarak sekitar 5 Km dari Bandara Silangit.

Sangat kaget awalnya, ada tempat sekeren ini di Toba yang notabene “pedesaan” dan jauh dari hingar bingar kota. Mungkin saya masih merasa biasa saja ketika ke Kota Medan dan menemukan banyak cafe cantik mirip di Jakarta, tapi ini Toba Samosir lho… Bandara Silangit saja hanya punya kantin kecil mirip warung nasi Tegal.. ini ada coffeeshop.. luar biasa rasanya.

Suasananya mirip di Bandung

Lebih luar biasa lagi di depan coffeeshop ini ada pemandangan semacam kebun sawah, tentunya tanpa background gedung pencakar langit kota besar. Satu lagi, tidak disertai bising kemacetan, polusi asap kendaraan, dan jelas ini lokasinya bukan di dalam mall (biasa tempat ku ngopi).

Piltik, sebuah kosakata yang bagi awam terdengar aneh, tapi bagi fotografer kata ini punya makna. Aku pun baru tahu saat itu juga, Piltik diambil dari istilah dalam dunia fotografi. Apalah arti sebuah nama ya.

Tapi nama penting juga, coba aja tanya ortu nama kamu yang bagus itu artinya apa? selain doa ada makna tersembunyi. Mungkin juga ada historinya, seperti Piltik yang menurut pemilik kedai sangat meaning, berhubungan sama hobi sekaligus profesinya sebagai fotografer.

Martabe yang bikin mata melek dalam sekejap

Cuma asing saja dengan kata ini, apalagi saya yang fotogrer amatir (merangkap nulis soalnya). Ohya berhubung kurang mengerti soal kopi. Walau sudah sering dijelasin (mungkin karena tidak ada ketertarikan sama si kopi), makanya saya nggak bahas lebih jauh soal kopi disini. Suasananya aja, yang sampai sekarang pun masih mengena di hati.

Tapi kopi disini tentu beda, karena lokal tumbuh di sekitar Toba. Satu hal yang buat ku berani minum kopi disini juga karena proses penyeduhannya yang katanya nggak akan buat asam lambung. Iya jadi betul-betul dengan air masak mendidih.

Tentang kopi yang aku gak paham bagaimana membedakannya (sama-sama pahit dan agak asam juga).. ya cuma tentang adanya aroma buah tertentu, kalau tanaman kopi itu ditanam dekat pohon buah. Juga berpengaruh dari tanah tempat ditanam.

Pintu masuknya

Disamping soal kopi, justru yang membuat ketagihan disini saya cobain jus Martabe (markisa terong Belanda). Itu seger banget dan seketika buat saya jadi melek.. karena jadwal padat kurang tidur terus selama tiga hari.

Seperti biasa kalau tidur di tempat asing dan worry sama berita yang bakal dikirim. Gitu deh… zzzzZzzz

Btw jangan lupa mampir kalau ke Toba. Berikut saya input nomor kontak dan alamatnya. Hayo kamu sebagai traveler yang sudah banyak pergi ke luar negeri tapi belum ke Toba…

Ini plang coffee shop yang sekaligus ada homestay juga

 

Kedai Kopi Piltik

Buka :

Senin – Sabtu : 08.00 – 21.00

Minggu : 09.00 – 21.00

Alamat :

Jl. Sipahutar No 33, Dusun Parhasioran, Desa Lobusiregar II, Siborongborong, Tapanuli Utara.

Hp/wa : 087767776333

Email : piltikhomestay@yahoo.com

Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Capture Toba Lake

Kapal yang membawa keliling Danau Toba dan menuju Pulau Samosir

Danau terbesar se-Asia Tenggara itu memang menakjubkan. Selain dengan cerita bagaimana meletus dan membentuk pulau di dalam danau, keistimewaan tempat ini tak lain juga karena sejarahnya bagi orang Batak.

Hmmm… rasanya nyaman dan adem banget memandangi Danau Toba, entah mengapa. Untuk mendapati pemandangan yang menenangkan jiwa itu tak butuh susah naik di ketinggian seperti kalau lagi ke gunung, sebab hotel tempat saya menginap di Inna Parapat langsung menghadap Danau Toba. 

Jadi begitu membuka pintu kamar pemandangan nya adalah kapal feri yang lalu lalang buat keliling sekitar Pulau Samosir. Agak susah memang memotret keseluruhan Danau Toba, soalnya mesti di atas bukit baru kedapatan full pemandangannya.

Pemandangan Danau Toba dari depan pintu kamar
Danau Toba mendung kurang cerah, tanpa kapal lalu lalang seperti tanpa kehidupan

Jepretan ku yang maksimal hanya segini saja, berhubung cuaca mendung dan kamera bukan yang canggih banget. Tapi lumayan tajam pakai Nikon, saat di zoom pun tidak pecah sampai 42x.. akan nge-blur juga bila terlalu maksimal.

Hal yang paling ku suka itu memotret kapal dan rasanya Danau Toba tanpa kapal yang berlalu lalang itu kurang hidup. 

Moment lainnya dari beberapa sudut sebenarnya bukit- bukit yang dari jauh terlihat. Pulau Samosir di tengahnya, termasuk suguhan apik apalagi ada aktivitas anak lokal yang berenang sekedar main-main saja.

Di tengah-tengah perjalanan ke Samosir kita juga bisa merekam berbagai aktivitas. Aku agak kaget karena ada yang ngamen di atas kapal, terus kirain bakal minta recehan.. ternyata ngamen nggak berbayar 😅.

Sepanjang perjalanan berkeliling guide dari Hotel Inna Parapat menjelaskan berbagai tempat bersejarah. Termasuk ada cerita sesosok manusia menggantung di dekat karts. 

Ini sosok manusia yang menggantung di salah satu karts
Menenangkan ini pemandangan yang ku maksud

Juga berapa lama berkeliling Danau Toba dan berkeliling Pulau Samosir yang punya desa-desa wisata dari darat maupun laut. Ini tempat memang benar-benar amazing 😀😁😘.

Kebetulan rombongan ku menyewa satu kapal buat kami aja. Tapi kalau traveling orangnya nggak lebih dari 25 orang kamu bisa naik kapal dari tiga dermaga. Tarifnya berapa? Nggak kesempatan tanya, soalnya agenda padat banget.. sampai tas koper titip dulu ke resepsionis dan kami nggak ke kamar buat istirahat begitu sampai Parapat. 

Hotel Inna Parapat merupakan satu hotel yang punya dermaga sendiri, bisa request kapal juga kalau rombongan. Tapi nggak sulit juga untuk ke dermaga, kapal tersedia banyak dan sering bolak-balik.

Bareng wartawan Tempo, CNN Indonesia dan Majalah Swa.. jarang-jarang liputan luar kota bareng temen desk ekonomi dan megapolitan yang seriusss serius liputannya
culinary, Food, Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Uniknya Pizza Andaliman di Toba Samosir

Rempah andaliman yang hanya tumbuh di Toba

PIZZA…

khas kuliner dari Italia, tapi bukan berarti tak bisa tampil beda dengan cita rasa lokal. Buktinya di Desa Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, pizza menjadi lebih unik rasanya karena menyertakan rempah lokal andaliman yang hanya tumbuh di wilayah Danau Toba. 

Akan sayang rasanya, jika berkesempatan berlibur ke Danau Toba tanpa mampir dan mencicipi pizza yang ada di gerai Pizza Andaliman. Tepatnya sekitar 15 km dari Bandara Silangit menuju Danau Toba cobalah untuk singgah sebentar ke tempat ini. Terletak di jalan Tanjung No 100 Balige, Pizza Andaliman bukan sekedar kedai pizza biasa, disini kamu akan merasakan pizza dengan rasa rempah khas Batak. 

Imelda, sang pemilik mengungkapkan telah membuka Pizza Andaliman sejak 2015 dengan ide menyertakan ciri khas bumbu rempah Andaliman. “Andaliman itu hanya tumbuh di daerah sekitar Danau Toba, rasanya cukup unik, ada sensasi getir pedas, asam dan membuat lidah sedikit kebas,” sebut Imelda.

Pizza andaliman yang menggunakan saus mayones ditambah andaliman

Pizza diberi saus, ditaburi topping berupa irisan sayur seperti wortel, jagung, keju mozarella, lalu ada sosis, cincangan ayam panggang, serta taburan keju cheedar dan tentu saja taburan cincangan andaliman. Rasa getir pedas dan asam itu utamanya tak sekedar tersaji di atas pizza, namun juga pada bumbu saus mayonese yang dicampur dengan rempah andaliman dan ada saus sambal dengan andaliman yang biasa dimakan orang Batak sebagai sambal cocolan ikan bakar dan lauk lain. 

Ketika mencicipinya, ada sensasi yang berbeda dari rasa pizza ini, terutama semakin terasa pedas unik bila menambahkan cocolan sambal andaliman maupun mayonese yang berpadu merica khas Batak tersebut. Ada aroma khas rempah andaliman yang berbeda ditambah rasa pedas getirnya.

Semua bahan saus maupun isian topping menggunakan bahan yang tumbuh di Toba Samosir. Perbedaan mencolok, pizza khas Batak ini tak menggunakan paprika seperti pizza Italia. Kemudian sausnya berbeda dibuat home made, hasil racikan oleh Imelda. 

Kedai Pizza Andaliman, ada di dekat pinggir jalan dari dan menuju arah Bandara Silangit, sekitar 15 Km jauhnya

Adapun tekstur roti terbilang tidak tebal dan tidak sepenuhnya matang sempurna. Menurut Imelda hal ini sebenarnya tak disengaja, pemakaian alat panggangan yang belum begitu modern, bukan panggangan listrik untuk panggangan pizza menjadikan rotinya tak keras dan gosong. 

Sayangnya untuk rasa, hanya ada satu jenis topping disini. Menurut Imelda memang kreasi topping pizza Batak ini untuk sementara belum dikembangkan lebih lanjut, tetapi masih mengunggulkan penggunaan rempah andaliman yang membuatnya memiliki rasa khas lokal. 

Sebelum akhirnya membuka gerai Pizza Andaliman, tempat ini dulunya dia buka untuk menjual nasi dan ikan bakar. Namun kuliner dengan rasa khas lokal dirasa akan lebih menarik minat wisatawan mencobanya. 

Rasanya unik berkat rempah andaliman, pokoknya beda dari pizza Italia, sayurnya pun beda tanpa paprika

“Awalnya juga tidak sengaja ada ide membuat pizza andaliman, karena saya pikir dengan adanya Bandara Silangit menuju Danau Toba sekarang lebih mudah dan sebagai penduduk lokal pariwisata disini juga akan maju dan siap kedatangan wisatawan dengan kuliner khas Toba,” ungkap Imelda lagi. 

Kalau sudah mencicip pizza andaliman yang unik, coba juga kopi lintong atau jus terong Belanda yang khas ada di Toba Samosir. Gerai Pizza Andaliman juga menjual sambal andaliman botolan home made dari UKM warga setempat dan mango wine yang dibuat dari fermentasi mangga di Tanah Batak.

“Mangga disini saking melimpahnya sering busuk, jatuh dari pohonnya sampai ada ibu warga lokal yang berfikir untuk dibuat menjadi mango wine dengan rasa berbeda dari wine lainnya dan harga jual lebih baik, sekarang cukup banyak peminatnya,” tambah Imelda. 

Wine mangga diolah penduduk lokal karena mangga begitu melimpah di Toba


Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Dibalik Kanibalisme Suku Batak di Huta Siallagan, Samosir

Rumah Bolon, khas dari Suku Batak di Samosir.. waktu datang hujan gerimis, bulan April musim penghujan masih berlangsung 

Kapal fery kecil mendarat ditepian Pulau Samosir. Tak lama rintik-rintik gerimis berjatuhan, seolah menyambut kedatangan ku kali itu. Sejak siang langit yang terlihat mendung memang sudah mengirimkan tanda-tanda akan hujan lewat sekawanan awan gelap, bahkan sejak ditengah perjalanan dari dermaga pinggir Danau Toba. 

Sebuah gapura besar dan lorong kios-kios tempat menjual souvenir membawa ku hingga menuju perkampungan yang dibatasi tembok besar setinggi dua meter. Disitulah Huta Siallagan, huta sebutan untuk desa bagi orang Batak, di sini desa Siallagan merupakan tempat bermukim salah satu raja dan keluarganya dahulu. Ada rumah bolon khas Suku Batak berjejer di dalamnya yang kini masih ditinggali kerabat keluarga keturunan raja. Rumah aslinya berukuran 3 kali lipat lebih besar, sebab dulu bagian bawah rumah juga bisa memuat ternak sapi dan kerbau, tak hanya ayam saja. 

Uniknya rumah bolon memiliki seni ukiran dengan cerita filosofinya. Di bagian ujung ada singa sebagai penolak bala yang disertai dengan topeng-topeng. Di bawah ada motif gajah dan cicak boraspati yang dilambangkan sebagai orang Batak. Cicak ini hewan yang bisa menempel dimana saja, di atas dinding, di tembok seperti halnya orang Batak yang bisa beradaptasi hidup dimana saja. Tak heran, dimana berada orang Batak banyak yang berhasil jadi pengacara, jadi ahli hukum, dan profesi lainnya 😀. 

Rumah bolon dengan tanduk itu merupakan tempat tinggal raja, di depannya ada meja batu dan pohon yang katanya bersemayam roh leluhur

Tempat yang kini menjadi cagar budaya dan dikelola keluarga desa setempat ini sempat mengalami kebakaran hingga menghanguskan seluruh rumah di tahun 1940. kemudian perkampungan dibangun kembali namun dengan ukuran rumah lebih kecil. Di dekat salah satu rumah bolon ada pohon besar yang didekatnya ada batu persidangan. Sudah berlumut dan tampak tua, batu persidangan merupakan tempat raja dan penasehatnya mendiskusikan hukuman bagi warganya yang berbuat kejahatan.

Ya, benar. Perkampungan Huta Siallagan yang masih eksis ini memang memelihara cerita dan peninggalan yang menyatakan kebenaran tentang Marcopolo dan para misionaris yang datang ke Indonesia. “Dulu raja disini tidak beragama sampai datang misionaris hingga disini kanibalisme juga berhenti dilakukan,” ungkap Christiani, keturunan ke-18 dari penduduk Siallagan yang menjadi guide saat kunjungan kami.

Kanibalisme, terdengar seram dan ungkapan orang Batak Makan orang itu ternyata benar. Karena di Huta Siallagan ini cerita tersebut memang terjadi. Dahulu bila ada orang di kampung ini berbuat kejahatan besar seperti mencuri atau membunuh maka mereka akan dihukum berat.

Mereka dianggap seperti binatang bukan lagi manusia sehingga tak masalah jika dibunuh lewat suatu prosesi lalu dimakan. Kepala yang terlepas dari leher dibuang ke Danau Toba. Hati jantungnya dimakan para prajurit raja yang kabarnya akan membuat prajurit makin kuat bertarung. 

Sementara tubuhnya dibuang ke hutan agar bisa dimakan anjing atau babi hutan yang kemudian kembali lagi dua hewan ini disembelih dan dimakan warga sekitar yang berburu. Artinya betul bahwa orang “Batak Makan Orang” toh? Ini yang saya dengar langsung dari Christiani, kalau Googling ada versi lain bagian tubuh ikut dimakan juga atau memang dibuang semua ke hutan.

“Tapi jika pelaku adalah perempuan atau ibu, tidak ada hukuman untuk dihukum pancung. Hanya saja perempuan tersebut akan diasingkan dari kampung, tidak boleh tinggal disini lagi,” sebut Christina lagi. 

Alasannya karena ibu bagi orang Batak dianggap sebagai asal muasal manusia,, yang melahirkan anak. Ini penjelasan pemandu kami ketika ada yang bertanya. Menurut cerita juga zaman dahulu wanita Batak melahirkan belasan anak. Orang Batak percaya makin banyak anak makin bagus. Karena itu juga di Batak pria bukan memilih wanita yang cantik untuk dijadikan istri, tapi wanita berdada besar yang menandakan kesuburan. Kalau diperhatikannya lagi di ukiran rumah bolon Batak ada juga lambang wanita dengan empat payudara. Filosofinya seperti yang disebutkan tadi. 

Selama perjalanan dengan fery, akan disuguhi pemandangan cantik Pulau Samosir dari jauh.

Huta Siallagan baru satu dari banyak desa yang ada di Samosir. Selain mengetahui bagaimana sejarah kanibalisme dan kerajaan kecil di Batak, wisatawan juga bisa ikut menari Sigale-gale, sebagai patung yang digerakkan manusia untuk menari dan menghibur raja. 

Untuk mencapai Pulau Samosir, wisatawan dapat menggunakan boat lewat tiga dermaga di bibir Danau Tidak. Sebelum adanya Bandara Silangit, dulu untuk mencapai Parapat menuju Danau Toba dari Medan harus menempuh perjalanan darat sekitar 7 jam lamanya. Presiden Jokowi akhir tahun 2016 lalu sempat mendatangi Danau Toba sehingga fasilitas Bandara Silangit pun dibenahi. Di Parapat ada banyak akomodasi hotel juga homestay. Sepanjang jalan menuju Danau Toba kita akan melewati Tapanuli Utara hingga Desa Balige. Kita juga bisa memilih wisata trekking dan melihat air terjun.

 

Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

A Journey at Toba Samosir, The Land of Batak

Kita lagi memutar untuk prosesi mengulosi saat hampir di akhir menari Sigale-gale

Kali kedua ke Tanah Batak… tak menyangka bahwa saya akan kembali menyambangi Danau Toba di Sumatera Utara. Dan kali kedua ini Alhamdulillah saya punya waktu untuk menyebrang juga ke Pulau Samosir. 

Nah yang berbeda dari kunjungan saya pertama, kali kedua ini waktunya lebih panjang bisa mampir juga ke Huta Siallagan. Kebayang gimana dulu tahun 2012 saya harus melewati 7 jam-an perjalanan darat dari Medan ke Danau Toba. 

Kemarin karena sudah via Bandara Silangit dari Medan, Kualanamu perjalanan relatif lebih singkat sekitar 3 jam-an. Presiden Jokowi akhir tahun 2016 lalu sempat datang ke Danau Toba jadi Bandara Silangit lumayan dibenahi. Walau ya, kantin bandaranya masih ngedusun banget.

Masih dengan tariam Sigale-gale, rombongan wartawan ikut-ikut 😅😅😅

Perjalanan ke Danau Toba ditempuh dari Jakarta dengan singgah ke Medan terlebih dahulu. Lewat bandara Kualanamu, kami melanjutkan perjalanan udara sekitar 1 jam dengan pesawat ATR ke Bandara Silangit, Borong-borong. Dari Silangit masih ada perjalanan darat sekitar 20 km (kurang lebih 1,5 – 2 jam) menuju Parapat, Danau Toba. 

Sepanjang jalan menuju Danau Toba kita akan melewati Tapanuli Utara, hingga Desa Balige.. sebenarnya ada banyak objek wisata di desa-desa ini. Kamu bisa trekking dan ke air terjun, tapi karena waktu lumayan singkat 1 hari di Parapat, jadi kami hanya nyebrang ke Samosir saja. Menurut saya ini sudah lumayan, dengan agenda padat tour bandara dan fasilitas di Kualanamu, liputan saya 3 hari di Medan dan Danau Toba ini dari pagi jam 05.00-21.00 sudah di luar jam kerja banget dan buat tubuh cukup drop.

Cuaca agak mendung, sayang sekali.. so capture kamera saya tidak terlalu membidik danau Toba sebagus aslinya dengan penglihatan mata. Setelah makan siang, agenda lanjut nyebrang ke Pulau Samosir menggunakan kapal feri. Anginnya kencang banget dan ditengah perjalanan sempat hujan gerimis. Bahkan sampai di Huta Siallagan, kami hujan-hujanan. 

Ini moment lucu, kita ngikutin tarian Sigale-gale

Huta Siagallan ini merupakan sebuah desa wisata yang dulunya kerajaan kecil. Lokasinya dibatasi tembok batu 2 meter. Di dalam yang tinggal hanyalah keluarga raja. Rakyat biasa tinggal di luar tembok itu. 

Horas.. horas.. horas (3 kali) sapaan akrab untuk orang Batak. Di Huta Siallagan kita akan menemukan rumah bolon sebagai tempat bermukim suku Batak. Kabarnya rumah aslinya berukuran 3 kali lipat lebih besar. Desa ini dulu sempat kebakaran hingga menghanguskan seluruh rumah di tahun 1940. 

Diceritakan bahwa ada pohon di depan rumah bolon yang umurnya 500 tahun (namun sudah tumbang dulu), pohon yang sekarang ada umurnya baru 80 tahun. Didekatnya ada meja batu tempat diskusi raja dengan penasehatnya. 

Pintu masuk Huta Siallagan

Pohon ini dipercaya sebagai pohon kehidupan yang didalamnya konon bersemayam roh leluhur. Kalau diperhatikan, di antara rumah bolon itu ada satu rumah yang beda, dengan tanduk.. inilah rumah yang ditinggali Raja. 

Orang Batak zaman dahulu percaya pada dukun dan ilmu sihir, mereka tiap kampung bahkan punya datuk atau dukun sendiri. Di Samosir sendiri ada tiga raja, yang lain merupakan raja kecil. Fyi kawasan Huta Siallagan ini sudah masuk cagar budaya lho, tapi pemeliharaan masih dikelola keluarga. 

Cerita menariknya, selain percaya sihir, dulu raja Batak disini tidak punya agama. Raja baru memeluk agama sejak datangnya seorang misionaris dari Eropa ke pulau Samosir di tahun 1865. Sejak misionaris Jerman datang ke sini kanibalisme juga berhenti. Itu terjadi 500 tahun yang lalu.. Raja Henrik itu yang terakhir diakui pada zaman penjajahan… Dengan kebaikan penjajah Belanda, dulu tahun 1920 raja Batak di Samosir sudah punya foto.

BANGKA BELITUNG - Indonesia, culinary, Indonesia, Kuliner, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Sehari Jelajahi Kuliner Khas Bangka

Ibu kota Pangkal Pinang diguyur hujan siang itu, sesaat setelah pesawat mendarat di Bandara Depati Amir. Namun, hujan deras hanya sebentaran lewat karena cuaca kembali panas. Menjelang waktu makan siang sajian menu seafood pun terasa begitu pas dengan panas terik kota yang sempat jadi tempat pengasingan Bung Karno ini.

Cukup dekat dari pusat kota, ada sebuah restoran seafood yang cukup terkenal bagi pendatang dari luar pulau maupun warga lokal. Di restoran seafood Mr. Adox yang berlokasi di Jl. Raya Simpang 4 Kantor Gubernur, bisa ditemui berbagai menu kepiting, olahan laut serta masakan khas Bangka lainnya.

lempah-kuning
Lempah Kuning yang segar dan cocok untuk makan siang di tengah terik matahari

Meski terkenal dengan menu kepitingnya, sajian yang pertama sekali harus dicoba adalah lempah kuning. Ini adalah masakan lempah yang isinya terdiri dari ikan kakap merah atau tenggiri dan ikan katarap dengan kuah yang berbumbu kunyit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, terasi, lengkuas dan belacan.

Lempah ini memiliki kuah berwarna kuning dan biasanya dimasukkan potongan-potongan nanas sehingga disebut juga lempah nanas. Orang Belitung menyebutnya gangan ketarap. Kebetulan untuk lempah yang saya coba memakai ikan katarap. Sebetulnya bisa juga menggunakan ikan kakap yang dapat pula digantikan dengan daging sapi ataupun udang, sehingga lempah memang tak harus selalu berisi ikan.

“Lempah kuning itu makanan keseharian orang Bangka, seperti menu wajib,” ungkap teman saya Rizeki Hardiansyah, seorang warga lokal Bangka.

kepiting-tapal-ketan
Kepitingnya, nyesss…. manis karena segar dari lautan di sekitar Pulau Bangka.

Memang rasanya sangat segar, meski ada campuran bumbu terasi tapi tak terlalu kentara wangi terasi. Justru yang dominan rasa segar berkat tambahan nanas dan ikan segar membuat kuahnya tak amis.

Berlanjut dengan menu kepiting, ternyata bumbunya pun memiliki banyak varian. Biasa dengan kepiting lada hitam? Cobalah mencicipi kepiting tapal ketan, kepiting rebus, kepiting goreng mentega. Melimpahnya kepiting di Pulau Bangka menjadikan olahannya pun lebih variatif, namun tetap hampir sama bercita rasa manis berkat kesegaran kepiting.

Sotong juga banyak ditemui di Pulau Bangka, sehingga untuk lauknya ada sotong crispy yang dibalut dengan tepung garing dan dicocol bersama saus asam manis. Jika masih terasa kurang pedas menyantap lauk atau pesanan ikan bakar dan kepiting, pengunjung bisa meminta tambahan bumbu khas setempat yaitu jeruk kunci, kecap hitam dan potongan cabai merah.

es-kacang-merah
Es Kacang Merah, manis dengan susu kental manis putih dan santan, terus serutan esnya lembut padahal pakai mesin biasa

Usai makan siang dengan segala menu seafood, saya juga mampir ke sebuah kedai es kacang merah, Es Ayong yang masih terletak di pusat kota. Kedai es yang sudah ada sejak tahun 70-an ini dibuat dengan serutan es lembut, dibawahnya ada kacang merah besar dan dipadu sedikit santan serta lelehan susu kental manis.

Es kacang merah tak hanya ada di kedai Es Ayong, saat berkunjung ke warung Otak Otak Amui di Jl. Melintas no 23, Pangkal Pinang juga ditemukan menu es kacang merah. Tentu saja otak-otak cocok dipadankan dengan menyeruput es kacang merah, meski dalam kondisi cuaca hujan. Jika ingin lebih manis gurih bisa juga menambahkan alpukat di dalamnya.

Menjelang sore, jika belum puas mampirlah memesan bakmi Bangka. Terkenal dimana-mana bakmi Bangka ini pun bisa ditemukan di restoran yang ada di Menimbung Heritage Hotel, sebuah tempat yang kini menjadi salah satu ikon Kota Bangka. Di hotel ini, juga bisa ditemukan berbagai menu khas Bangka lain seperti lempah kuning dan jus nanas yang dijadikan minuman coktail.

membuat-martabak-tipis-begini-caranya
cara buat martabak tipis kering, garing gurih, enak banget

Bangka juga memiliki kuliner populer martabak. Nah, malam hari akan sangat cocok bila menjelajahi rasa asli martabaknya. Meskipun di Jakarta pun martabak begitu mudah ditemukan dengan berbagai rasa dan varian, martabak Bangka terbilang belum bisa dikalahkan.Dari segi rasa maupun ketebalan yang pas.

Salah satu kedai martabak manis dan telor halal yang harus dicoba, yaitu Martabak Acau 89 di Jl. Soekarno Hatta no 9. Ada lebih dari 40 varian rasa, mulai dari martabak manis dan kering dengan keju, kismis, jagung, wijen, cokelat, pisang sampai martabak telor bebek polos tanpa daging dengan ayam maupun kornet.

Sudah terbiasa dengan martabak keju, nuttela, atau martabak cokelat tobleron, saya pun penasaran dengan kelezatan martabak manis rasa pandan keju jagung.

dscn7165
bakar otak-otaknya begini ternyata…

Dimakan saat masih hangat, aroma pandan berpadu keju dan jagung manisnya membuat lidah rasanya meleleh. Tak cukup satu, bahkan bisa membuat ketagihan. Begitu juga dengan rasa martabak telur bebek daging ayam, hampir setiap gigitannya mengundang ketagihan.

Ah,…. kenyang mencoba semuanya. Ini serius belum semuanya, kalau mau tahu kuliner khas lain masih banyak, tapi waktu sehari nggak akan cukup. Berhubung turis wisatawan kalau mau ke Pulau ini sekalian nyebrang ke Belitung buat meng-explore wisata pantai yang lebih keren disana. Kuliner Pulau Bangka dan suasana malamnya harus tetap dicobain atmosfernya.