Asia, Liputan, Singapura - Asia Tenggara, Traveling

Menyambangi Art & Science Museum di Singapura

Pintu Masuk Art & Science Museum Future World, lokasinya hanya berapa meter saja berjalan dari Marina Bay Sands

Aku menyebutnya dunia yang futuristik, penggabungan antara seni interaktif dan sains. Future World yang membuatku terkesan saat memasuki dan mencoba berbaur dengan apa yang ada di dalam museum. Satu kesan yang berbeda untuk sebuah museum yang biasanya akan terasa membosankan ketika dikunjungi.

Art & Science Museum Future World yang ada di Marina Bay Sands menurutku sangat modern, seperti kesan yang didapat orang-orang kalau ke Kota Singapura. Aku seperti sedang memasuki dunia futuristik karya seni interaktif berteknologi tinggi Future World yang dibuat bekerja sama dengan teamLab, seni kolektif lintas disiplin yang terkenal. Pokoknya waktu masuk kamu bakalan terpesona dalam dunia seni, sains, sihir, dan metafora melalui koleksi instalasi digital mutakhir.

tiketnya kalau beli langsung di lokasi, harganya bisa di cek via website tapi rata-rata sekitar 15-40 $ Sing

Nah, mulai 1 September 2018, Future World ini diperbarui dengan sederetan lengkap karya seni baru yang menarik. Beruntung banget, aku berkesempatan buat mencobanya dan mengambil moment foto Instagramable di dalamnya.

FYI aja, Future World ini adalah pameran permanen. Instalasi akan berubah dan berkembang seiring waktu untuk menjaga pameran tetap segar dan relevan. Untuk memastikan semua pengunjung memiliki waktu yang cukup dan berkualitas untuk berinteraksi dengan setiap karya seni, waktu kunjungannya diatur. Yaitu pukul 10:00 AM, 11:30 AM, 1:00 PM, 2.30 PM, 4:00 PM dan 5:30 PM (entri terakhir). Aku saranin supaya membeli tiket secara online sebelum kunjungan. Selain Box Office Museum Art Science, tiket juga tersedia di Sands Theatre Box Office (B1, Marina Bay Sands).

Simak apa aja dunia futuristik dan moment Instagramable yang aku alami disana dengan berbagai tema ya…

Nature

Petualangan ku disini diawali dengan perjalanan imersif dan memesona seperti galeri alam yang menampilkan karya seni interaktif dan mendalam, menggunakan seni dan sains untuk membawa kamu ke dalam inti alam yang terdiri dari teknologi digital. Secara bersamaan dan ajaib menurut ku menghubungkan langsung ke dunia alam. Ada suasana ketika bunga-bunga berjatuhan dan kupu-kupu terbang kesana-kemari. Kita juga seperti diajak berinteraksi, waktu menyentuh si kupu-kupu.

Town, ini seperti area bermain untuk anak. Banyak banget sisi untuk cari moment foto yang Instagramable

Town

Perjalanan berlanjut ke sisi ruang lain. Wah tempat selanjutnya banyak diisi anak-anak dan balita yang seru bermain meluncur-luncur di perosotan. Tapi ini bukan Kota biasa, di desain seperti lanskap kota yang ramai dan hidup. Bahkan pengunjung bisa membangun dan mengisi kota-kota virtual. Anak-anak diajak menggambar dan hasil gambarnya bisa kita lihat di sebuah dinding. Pokoknya amazing sih, gambar mobil-mobilan ku bisa muncul danjalan-jalan di semacam video virtual. 

Balok-balok yang bisa jadi background foto Instagramable

Sanctuary

Jauh dari hiruk-pikuk kota, aku diajak untuk memasuki sebuah negeri impian yang untuk sesaat ketenangan. Sanctuary adalah oasis yang tenang di pusat Future World. Agak susah mengartikannya, aku nggak foto dan lama di ruangan ini.

Park

Beranjak dari kesibukan kota yang penuh hiruk pikuk, lalu kita diajak untuk mengunjungi taman rekreasi yang membangkitkan semangat. Pengunjung diundang untuk menghargai ‘permainan’ sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Pengunjung dari segala usia dapat belajar dan bermain menggunakan kombinasi aktivitas fisik dan teknologi digital.

Space

Masuki ke jantung Celestial Space menurutku ini ruangan yang paling seru. Ada lampu-lampu Kristal sebagai ending perjalanan di Future World. Siapa pun bakal terpesona sama keindahan dan besarnya kosmos dan sensasi melihat bentuk alam semesta digital yang dikemas monumental.

lampu-lampu kristal ini bisa berubah-ubah


Advertisements
Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Random Walking Singapore – Arab Street dan Haji Lane

Awal September 2018 kemarin karena kesempatan tugas liputan di Singapura, aku menyempatkan waktu mengeksplore beberapa lokasi buat berwisata singkat sebelum balik ke bandara Changi. Beberapa hal random berikut ini mungkin bisa jadi inspirasi mengisi waktu sebelum malamnya jadwal terbang kembali ke Indonesia, yuk guys simak apa aja?

(1) Nemenin Travelmate yang Belum Pernah Coba Naik MRT

Punya waktu hanya selepas jam makan siang hingga sore pukul 5, jadilah aku bareng teman trip media kali ini, Elang dari Metro TV News, random walking ke beberapa site turis yang lagi hits. Mumpung banget dikasih free time, lalu aku ajakin travelmate kali ini untuk cari foto-foto yang Instagramable. Elang yang belum pernah nyobain moda transportasi MRT langsung aku suggest buat coba, eh dia nurut, hehe.

MRT card
MRT tiket sekali jalan

Hotel tempat kita menginap di Marina Bay Sands, jadi lokasi stasiun MRT yang terdekat adalah Bayfront. Lalu dari google kami dapat petunjuk untuk turun di Stasiun Bugis yang cuma berjarak 2 stasiun saja, sebagai tempat terdekat menuju Haji Lane Street. Tarifnya sekitar $ SGD 3 untuk perjalanan bolak balik.

biar tidak pusing naik MRT ya kita hanya perlu mengikuti garis lajur warna yang sesuai aja. Aku sih saran lebih baik jalan kaki daripada naik MRT kalau jaraknya hanya 2 stasiun hehe.. jauhan gitu mestinya jadi terasa lama.

(2) Nyasar Ke Arab Street, Sholat di Masjid Sultan

Perjalanan ke Haji Lane Street ternyata membuat kita sedikit berputar-putar dan justru malah kita menemukan kampung Arab atau Arab Street dan Masjid Sultan yang bisa jadi ide menghabiskan waktu berkuliner asik atau sekedar mampir untuk solat zuhur sejenak. Dengan kota Singapura yang terik mataharinya ketika itu di atas 30 derajat, seketika usapan air wudhu menjadi kesejukan yang didamba-dambakan.

Sultan Masjid di Singapura
Masjid Sultan di seputaran Arab Street

Sempat khawatir tidak boleh masuk masjid, karena aku tidak berkerudung dan saat itu bajuku lengan pendek. Tapi ternyata kali ini tidak ada ibu-ibu India yang ngomel-ngomel nyuruh aku pakai hijab seperti waktu aku ke Malaysia 2013 silam. Justru Masjid sedang ramai-ramainya dengan turis, bahkan juga yang bule.

Mungkin sudah terbiasa kedatangan turis, justru Masjid Sultan di Singapura ini jadi tempat edukatif untuk mengenalkan Islam kepada turis yang non muslim juga. Tahu sendiri kan gimana pakaian ala turis. Disini disediakan jubah gitu lalu malahan masjid ini jadi tempat mereka berfoto-foto.

Alhamdulilah bisa kesempatan solat disini dan ternyata ketemu dengan banyak orang Indonesia lainnya yang memang statusnya kerja di Singapura. Lalu aku tegur setelah dengar percakapan mereka dengan sesama teman. Indonesia yes? Dari daerah mana? Rasanya senang bisa bertemu teman sebangsa saat ada di luar.

(2) Belanja Pasmina di Arab Street

Karena saat berangkat sudah makan siang dalam versi buffet di Rise, Marina Bay Sands sudah bisa ditebak, nggak kuat lagi kalau harus kulineran. Walaupun agak kesel karena sepanjang jalan di Arab Street itu ada banyak kios dan restoran yang menyediakan makanan ala Arab gitu. Sudahlah… elus-elus perut, kepiting Singapore sama mantau sudah dicerna disana, juga cappucino, beserta buntut sapi, menu makan siang tadi.

Akhirnya aku malah tertarik belanja pasmina, niat beliin nyokap aja biar senang hatinya. Banyak pilihan, tapi beberapa yang dijual mirip dengan yang ada di Tanah Abang. Harganya variatif, yang bahannya bagus tentu lebih mahal di atas $ SGD 10. Eh tapi aku menemukan toko yang sedang diskon. Kualitas dan motif pasmina-nya lumayan dan bisa didapat dengan harga $ SGD 3 saja.

(4) Membayar Rasa Penasaran ke Haji Lane Street

Ini tujuan awal kami, buat foto-foto seru disini, eh tapi justru setelah sampai sini males.. hahaha habis orang-orang ngantri buat foto. Saking sudah terkenalnya kawasan ini buat foto Instagramable ya jadi antri buat foto aja 😂🤣.

Sebenarnya Haji Lane hanyalah sebuah gang sempit yang disana ada banyak kafe maupun restoran dan toko. Namun karena ada banyak mural di dinding restoran dan tiap venue ya jadi lucu buat tempat foto-foto. Ada banyak orang kesini sepertinya memang hanya niat untuk foto. Saranku sih mending dateng pas lagi sepi, pagi-pagi. Kalau siang toko dan cafe sudah buka, agak ramai. Setelah dicek lagi, harga barang dan makanan disini juga jadi lebih mahal dibandingkan gang sebelah 😂. So, kalau sudah tahu begini apa kamu masih mau berniat untuk ke Haji Lane?