Singapura - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Spectra a Light & Water Show – Pertunjukan Menakjubkan di Teluk Marina Singapura

Ada apa nih kok rame banget? Oh ternyata lagi ngeliatin pesta kembang api. Eh.. tunggu dulu, bukan! Bukan kembang api tapi laser yang menari-nari.. hahaha teringat tahun lalu waktu lagi liputan di Marina Bay Sands, tanpa direncanakan saat mau balik ke kamar hotel melihat kerumunan ramai di depan teluk, dekat Louis Vuitton.

Takjub, norak iya. Seketika buka kamera hp dan merekam dari jauh dan juga jepret berkali-kali pakai mirrorless. Aku nggak menikmati pemandangan ini sedari awal, makanya waktu ke Singapura lagi awal Maret 2019 ini sengaja mantengin dari jam8.30 malam buat dapet spot di depan.

Hahaha! Alhasil jepretan kamera dan rekaman video aku lebih bangus dong. Aku sharing di blog supaya kalian traveler yang belum kesini bisa memasukan agenda melihat “Spectra a Light and Water Show” dalam itinerary. Soalnya dulu waktu 2013 dateng pertama kali ke Singapura belum ada atraksi ini lho.

Lokasinya di 2 Bayfront Ave, Marina Bay Sands (MBS), Singapura. Gampang banget dicarinya, terus bisa sekalian habis muter-muter Mall MBS dipenghujung malam nonton pertunjukan ini. Cuma 15 menit aja sih, tapi seru dan keren. Turis-turis aja nungguin padahal di negara mereka pasti ada yang lebih keren.

Buat yang backpacker-an tetap bisa nonton dan jangan khawatir karena tanpa tiket alias gratis aja. Pulang nonton Spectra a Light & Water Show kamu bisa pulang dengan MRT, kan deket banget stasiun MRT Bayfront di Marina Bay Sands.

Kalau memang berencana untuk melihat Spectra a Light & Water Show mesti tiba sekitar pukul 08.00 malam, soalnya jadwalnya kadang beda-beda. Ada yang mulai jam 08.00 atau jam 09.00 setiap hari, jadi akan lebih aman kamu sudah tiba sekitar jam 08.00. Kalau pas lagi hujan perlu payung, prepare payung dan lihat ramalan cuaca biar datang jauh-jauh kesini tidak kecewa.

Menurutku akan lebih baik membuat itinerary sehari untuk menjelajahi lokasi wisata sekitar Marina Bay Sands seperti Garden By The Bay, keliling mall Marina Bay Sands buat kulineran di restoran yang ada disini, sampai malam nonton Spectra a Light & Water Show. Jadi kamu nggak perlu capek mondar-mandir banyak lokasi.

Advertisements
BALI - Indonesia, Indonesia, Liputan, MOUNTAIN, Traveling

Staycation Plataran Ubud – BALI

” Ladies and Gentlemen, we shortly will be landing at Ngurah Rai Airport, Bali. The local time now is 18.10, time in Bali is 1 hours ahead of Jakarta….. ,” suara pengumuman dari awak kabin

Sekitar beberapa menit sebelum mendarat, di bawah sana tatanan kota yang tak begitu rapih mulai terlihat. Juga air laut pasang yang seperti sedang menari-nari dan hal paling buat aku kaget adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ternyata kelihatan lumayan besar dari atas pesawat. Padahal dulu 2013, waktu pertama kali aku ke Bali patung itu belum sepenuhnya jadi. Aku juga hanya baru dapat berfoto dengan bagian kepalanya saja.

Akhirnya bisa menjejakan kaki lagi di Bali, setelah April 2017 silam solo traveling  hanya di seputaran Kuta dan akhir tahun 2018 ini aku bisa sebentaran “kabur” dari rutinitas dan penatnya ibu kota. Tempatnya di Ubud yeaayy! Ini seperti lagi dikasih Allah me time sejenak setelah berbagai hal terjadi. Warna warni dan jatuh bangun mental kehidupan cinta di tahun 2018.



Sesajian kalau orang Bali habis sembahyang,.. Bali banget ya..duh! Kaki sampai belang karena kebanyakan panasan

Rasanya tuh, Allah baik banget aku dikasih libur lagi walau statusnya sebagai reporter yang lagi “numpang” liburan colongan dengan staycation di Plataran Ubud, Bali. Semoga saja tercapai mimpi aku buat bisa balik lagi ke Ubud, tapi sama pasangan dan bisa explore tempat ini lebih intens.


Apa sih staycation itu? Kalau kamu belum tahu, staycation atau holistay adalah periode di mana seorang individu atau keluarga tinggal di rumah melakukan kegiatan rekreasi dalam jarak tak jauh dari rumah dan tidak memerlukan akomodasi atau waktu yang semalam. Jadi, kamu tinggal dan beraktivitas disekitar tempat menginap nggak jauh-jauh jaraknya ya sekitar 1-2 km dari hotel atau rumah.

Aku dijemput pihak Plataran Ubud jam6 sore di Kuta, soalnya ada lunch sama teman-teman liputan Sampoerna Foundation dan aku niat muterin Mall Beach Walk buat nyari oleh-oleh. Lumayan macet Kuta sore itu, aku saranin buat langsung ke Ubud aja dari Bandara Ngurah Rai. Daripada kan, waktu habis terbuang.. seharusnya aku bisa ikutan cooking class tapi jadi skip huhu 😐.

Jadi ngapain aja nih kegiatan aku selama staycation?

(1) Spa

Aku sudah niat dari Jakarta kalau sesampainya di Bali mau Spa. Masa bodoh bayarnya berapa, kebetulan untuk Spa kan bukan termasuk pelayanan kamar. I spend my money for Spa.. mahal buat gaji jurnalis rasanya tapi worth it aja kalau Spa di hotel biasanya tidak mengecewakan. Biasanya juga harganya paling murah Rp 500.000 per 60-90 menit. Mungkin Spa di Plataran Ubud ini masih kalah enak sama Spa-nya The Westin Jakarta yang pernah ku cobain juga. Tapi ya ini pas dapet diskon 30%, jadi aku cuma perlu bayar Rp 360.000 buat Spa berdurasi 1 jam yang sudah termasuk tax 22%, iya jangan kaget ya kalau tax untuk hiburan rekreasi memang sebesar itu.



Ternyata dari ruangan Spa kelihatan sawah -sawah, aku request supaya backsound musik yang mirip lagu kalo lagi yoga disetel lebih keras biar makin rileks

Rencana mau Spa juga seperti konsep law of attraction, jadi waktu pagi lagi sarapan ada mbak-mbak dari Spa nya Plataran Ubud and Spa yang memberikan gratis trial Spa selama 10 menit. Terus ditawari paket Spa dan diiming-imingi diskon. Ya sudahlah siapa yang bisa menolak diskon hehe. Jadilah aku Spa, tadinya mau malam sebelum tidur tapi melihat cuaca gerimis hujan aku ganti rencana Spa setelah sarapan jam 10 pagi.

(2) Mencoba Balinese Costume

Aku tertarik banget buat mencoba salah satu kegiatan yang free saat staycation di Plataran Ubud dengan foto-foto dengan kostum tradisional Bali. Tapi ya karena aku lagi nggak ada temen, akhirnya ku ajak receptionist hotel buat jadi temen foto soalnya kan garing kalo foto-foto sendiri.

Persawahan hijau khas di Ubud yang bakal aku kangenin

Seketika mood aku berubah, karena bisa ketawa-ketawa waktu kita seru-seruan foto. Niat juga sampai ke belakang persawahan Plataran Ubud buat ngambil foto berlatar belakang pemandangan hijau. Duh! Kalau begini caranya aku mestinya bawa pasangan buat sekalian liburan bareng.

(3) Tea Time

Hampir setiap hari ada free buat tea time di restoran Teras yang ada di Plataran Ubud. Makanan dan minuman untuk tea time kamu juga bisa dibawa ke kamar, tinggal pilih aja terus mintalah buat diantar. Tiba-tiba aku jadi manja banget minta dianterin ke kamar semua snack cemilan sandwich, buah, sama teh.

img_0659

Nggak apa-apa sesekali, soalnya ada pemandangan yang bagus banget dari beranda kamar aku. Bawahnya ada kolam renang dan sawah, pohon kelapa hijau juga menghampar. Makan malam pun juga di kamar, sambil nonton TV.

(4) Jalan-Jalan ke Monkey Forest

Aku penasaran belum pernah ke Monkey Forest. Ternyata lokasinya tidak jauh lho dari Plataran Ubud, hanya sekitar 2-3 KM berjalan. Ah! Kalau masih segitu bisa dong jalan, aku lalu dikasih peta sama mbak-mbak receptionist Plataran Ubud, gampang banget jadinya ke lokasi.

Masuk Monkey Forest kita perlu tiket masuk yang bisa dibeli seharga Rp 50.000, untuk orang asing sama harganya. By the way, aku saranin untuk memakai sepatu yang nyaman buat ke tempat ini. Soalnya kita itu seperti lagi trekking yang cukup jauh. Naik turun, mungkin yang jarang olahraga bakal ngos-ngosan. Beruntungnya orang macam aku suka banget olahraga dan trekking macam ke Monkey Forest, Ubud ini.

Monyet-monyet akur, kita dilarang memberi makan karena mereka sudah makan dari buah-buahan yang ada di hutan tumbuh alami

Seneng deh bisa berada dekat dengan para monyet ini. Soalnya mereka benar-benar berkeliaran di dekat kita dan perlunya kita waspada menjaga jarak aja serta membaca peraturan yang tertera supaya menghindari terjadi hal tidak diinginkan. Tenang aja tapinya kok, ada pawang monyetnya di dalam meskipun mereka berkeliaran. Tempat ini terasa udaranya segar soalnya hutan dengan pohon rerimbun, hal yang agaknya kurang ku suka adalah bau kurang sedap dari kotoran. Ya wajar kan ini hutan monyet, dimana pun mereka mau pup sah sah saja.

(5) Nge-GYM

Seminggu lamanya karena sibuk kerja, jogging pun terlewatkan. Beruntungnya aku masih bisa mengganti waktu berharga untuk ku olahraga dengan nge-Gym waktu staycation di Plataran Ubud. Pokoknya diniatin banget deh, sehabis Magrib dari kecapekan jalan-jalan trekking santai ke Monkey Forest, berlanjut sorenya Balinese Costume dan Tea Time ku sempatkan juga membakar kalori.

Dalam hati aku bilang, pulang ke Jakarta nanti nggak boleh beratku naik kebanyakan. Makan tiada henti dengan aktivitas banyak dan karena dapet cemilan tetap saja aku harus berolah raga. Beruntungnya di Gym hanya aku sendirian, lagi nggak ada yang pakai alat. Soalnya waktu kemarin malamnya sampai sempat melihat ada bule yang lagi jogging di tredmill. Lumayanlah malam itu bakar kalori sekitar 250 kal, malamnya pun ku hanya makan caesar salad dan jus wortel. Kwkwkw, sayang dong kalau olahraga malah percuma karena malamnya makan nasi.

(6) Kalau Mau Sepedaan Bisa

Sepedaan keliling Ubud, seru pastinya.. tapi fasilitas ini bukan bagian dari free pelayanan saat menginap. Kalau mau sepedaan yang harus dengan guide di Ubud kamu harus membayar sekitar Rp 200.000, nanti akan diantar keliling persawahan dan desa sekitar. Kalau mendengar penjelasan receptionist hotel sih worth it ya. Cuma sayangnya aku tidak keburu waktu buat sepedaan, soalnya aktivitas ini dimulai sejak pagi jam 08.00-10.00.

Sepedaannya harus diantar guide

Saranku kalau memang ingin staycation disini, cari tahu dulu jadwal untuk sesi free activity-nya. Ada cooking class, yoga (yang tidak sempat aku coba karena terlalu capek), sekaligus Balinese costume maupun membuat gebongan. Semua ada jadwal per harinya. Saranku juga sebaiknya menginap minimal 3 hari 2 malam supaya semua aktivitasnya tercover.

(7) Ke Pasar Ubud Bisa dengan Shuttel

Sebenarnya kalau jalan nggak jauh lokasinya, tapi ada shuttel atau mobil yang akan mengantar ke beberapa lokasi. Salah satunya kalau mau ke Pasar Ubud disarankan pagi-pagi sekitar jam 10. Shuttel ini ada pada pukul 10.00, 13.00, dan 15.00. Cuma menurutku kalian jangan terpaku sama shuttel buat berpergian kemana-mana. Karena jalan kaki pun dekat kok.

Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Weekend Getaway – Petik Strawberry di Ciwidey Bandung

Long weekend bisa disebut begitu karena ada tanggalan merah di hari Jum’at pekan lalu. Tapi ini perginya Sabtu Minggu, jadinya sebutlah tetap weekend getaway. Niatnya mau kemping ceria ke Rancaupas, Bandung.

Tapi cerita ini bukan tentang kempingnya. Tanpa buat itinerary, saat mau balik ke Pasteur secara spontan mampirlah kami ke kebun strawberry. Tadinya mau makan duren, FYI ada duren juga di sepanjang jalur ke arah Ciwidey itu. Kebayangnya gimana metik strawberry? eh ternyata lucu seru juga. Bisa langsung metik strawberry dan makan buahnya. Masih fresh dan bisa milih sendiri yang sudah merah matang dan rasanya manis atau agak kecut asam karena belum begitu matang.

Petik strawberry dimana? Sepanjang jalan menuju Rancaupas Ciwidey itu ada banyak, jadi tinggal pilih aja mau berhenti dimana. Nah kamu juga jangan khawatir strawberry ini bukan buah musiman, sepanjang tahun ada dan dia panen 2 bulan sekali. Menurut bapak petaninya tanaman strawberry disirami air 2 hari sekali.

Begitu parkir motor, langsung disamperin bapak-bapak yang penunggu kebunnya. Tanya dong berapa harga untuk petik strawberry. Lumayan, Rp 80.000 per kilogram, tidak dihitung per orang tapi per kilogram yang dipetik ya. Kita lalu tawar-menawar dan karena merasa mahal, bukan apa soalnya di jalanan ditulisnya harga strawberry Rp 5.000 (yang kecil). Akhirnya si bapak rekomendasi untuk pergi ke kebun sebelah, boleh dapet Rp 60.000 per kilogramnya.

Cusss.. karena sudah ditawarin yang lebih murah kita mau. Ternyata jarak kebunnya tidak begitu jauh. Begitu sampai dikasih keranjang dan gunting untuk metik strawberry-nya. Sekeranjang itu katanya akan pas timbangan 1 kilogram. Terus kita juga dikasih topi petani gitu yang di cat warna warni gambar strawberry. Jadi serasa lagi bertani strawberry.

Panas banget mataharinya terik, jadi si topi ini memang mesti dipakai. Terus keliling-keliling deh, milih strawberry yang kira-kira matang dan mau dipetik. Langsung makan juga bisa haha, kalo aku kebanyakan petik langsung makan.

Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Serunya Bermain Bersama Tukik di Salangaki

DSCN8864

Gerimis kecil menyambut kami, para petualang laut peserta Meet and Trip 5 saat tiba di Pulau Salangaki.

Hari sudah sangat sore dan Salangaki menjadi pulau terakhir setelah sebelumnya singgah ke Pulau Maratua dan Pulau Kakaban. Dua di antara beberapa daratan indah di seputaran Pulau Derawan, perairan Kalimantan Timur, Indonesia.

Bertemu tukik atau bayi penyu menjadi sangat surprise bagi saya yang sejak awal tidak diberitahu itinerary tertulis perjalanan 4 hari 3 malam di Derawan termasuk extand 2 hari untuk ke Labuan Cermin, Pulau Kaniungan dan Pulau Manimbora.

Kejutan demi kejutan bagi saya karena sengaja tak bertanya-tanya ke panitia akan kemana selanjutnya dan ngapain aja kami kesana. Walau ada briefing malam sebelumnya di hari pertama tiba, membagikan peralatan snorkling, pilih-pilih nomor kaki katak yang pas. Semua terasa sekilas saja, beda dari biasanya saya pergi sharing cost bareng teman dan menyusun itinerary bersama-sama.

Pokoknya liat nanti aja,…. Ternyata penghujung sore itu kami diajak ke penangkaran penyu. Sampai di tepi pantainya, melewati warga yang lagi asik main voli kami berjalan ke dalam hingga menemukan satu bangunan tempat penangkaran penyu.

foto 1 (11)
Sepasang tukik, kejar-kejaran nih… hayo siapa duluan yang sampai ke tepi pantai?? Lalu saya iseng balikin start lomba lari mereka… hihi

Di sebuah kolam cukup besar ada puluhan tukik yang berusaha berenang, seperti ingin merangkak naik dan keluar dari kolam. Tapi,… tentu saja si tukik takan mampu melewati batas genangan air.

“Ihhhh dipegang, boleh dipegang nih?,” sontak komentar saya melihat beberapa teman mulai memotret dan bermain sama si tukik.

“Boleh, nanti tukik-nya juga untuk dilepasin,” sahut salah satu anak muda yang menjaga penangkaran penyu.

Memang tukik atau bayi penyu ini akhirnya akan dilepaskan ke laut, tapi menunggu umurnya jika sudah tiba. Pulau Sangalaki terkenal dengan konservasi penyu hijaunya. Telah berlangsung sekitar 10 tahun, dimana penangkaran penyu mulai digiatkan. Tapi bagaimana hasil dari konservasi tersebut??

foto 2 (8)
Diam-diam, si tukik melirik, dia capek kejar-kejaran ke tepi pantai… guman dalam hati.

Penyu termasuk hewan yang terancam kehidupannya oleh para predator, baik di laut maupun sekitarnya. Saat baru melepas tukik itu saja, burung elang laut sudah mengintai. Ketika tukik-tukik mulai berenang di lautan, elang terbang turun dan mengambil salah satu tukik dengan cakramnya yang kuat.

Bukan hanya elang, masih ada predator laut lainnya. Karena itu biasanya tukik menurut Bang Apoy, warga lokal Pulau Derawan dulu sekali penyu itu dipelihara oleh penduduk setempat bukan oleh LSM seperti WWF ataupun beberapa organisasi lain yang bermaksud memelihara kelangsungan hidup habitat penyu di sekitaran Pulau Derawan, termasuk Salangaki.

Tapi melihat hasilnya, setelah 10 tahun penangkaran penyu diangap belum berhasil. Buktinya saat ini Bang Apoy dan warga lokal lainnya belum melihat penyu kecil atau sedang. Semua penyu yang ada telah berumur sekitar 20-30 tahun. Hasil pemeliharaan penduduk lokal Derawan generasi sebelumnya.

“Dulu saking banyaknya penyu mereka sampai tabrakan,” kenang Bang Apoy dengan masa kecilnya waktu main di laut.

DSCN8871
lagi pada asik, ada yang motret temennya yang main sama tukik, terus saya juga ikutan nih megangin tukik yang maunya ngacir ke tepi pantai.

Sebagai warga lokal asli Derawan, Bang Apoy cuma berharap supaya pemeliharaan penyu bisa seperti dulu. Masyarakat memelihara penyu dan setelah besar baru dilepas. Kekurangan dari program sekarang menurutnya penyu yang masih kecil dilepas ke laut namun LSM atau organisasi yang bersangkutan tidak mengontrol lagi keberadaan penyu tersebut apakah masih hidup atau sudah dimakan predator.

“Karena masyarakat tidak dilibatkan lagi seperti program dulu memelihara penyu, jadi masyarakat kurang peduli dengan penyu yang telah menjadi kewajiban LSM, termasuk soal pencurian telur penyu dan pencurian penyu itu sendiri,” Jelasnya lagi.

Lebih lanjut, menurutnya harapan masyarakat kepulauan derawan hanya sederhana saja. Bagaimana agar nanti anak cucu masih bisa melihat penyu itu bermain-main di laut Derawan dan bukan hanya menjadi cerita saja.

Persoalan penyu ini sebenarnya bahasan penting untuk diungkap, tapi selebihnya saya masih harus mengkonfirmasi dan mewawancarai pihak-pihak terkait supaya lebih berimbang. Di postingan selanjutnya, saya berniat akan membahas tersendiri tentang terancamnya habitat penyu di Derawan… Sebenarnya itu sudah isu yang lama ya, hanya saja yang publik tahu kan sekarang sudah ada penangkaran penyu. Sehingga terkesan sudah ada yang menangani, tanpa tahu pasti di lapangan seperti apa.

DSCN8847
warga Pulau Salangaki lagi asik bermain voli… padahal gerimis.

Setelah gerimis makin besar lagi dan matahari akan tenggelam, akhirnya saya bareng teman-teman harus say good bye sama tukik. Aneh sekali memang, baru tersadar juga mungkin karena semangatnya melihat tukik dan seru main sama mereka, malah lupa mengisi buku tamu. Sebelum pulang kami malah baru isi buku tamu…. Hahahaha 😀

 

culinary, Food, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Tehe-Tehe, Khas dan Unik di Pulau Derawan

 

DSCN8653
Ini lho Tehe-Tehe yang salah satunya sudah kami remukan dan gigit buat dicobain

“Teman-teman, ini Tehe-Tehe makanan khas Derawan. Biasanya susah banget nyarinya, tapi ini pas lagi dibuatin. Karena cuma ada sedikit sharing aja ya,” ucap Bang Daniel pada kami yang lagi asik makan.

Kami lalu penasaran. Dilihat, dipegang, difoto, dicelupin…. (dikira Oreo)…. *gubrak*

Sudah dioper sana sini tapi belum juga dicobain buat dimakan. Sampai hampir semua sudah kebagian sesi memotret rupa si Tehe-Tehe, baru kemudian ada yang berani mencobanya.

Gimana cara memakannya? Pertama harus diremuk dulu cangkang bulu babi sebagai bungkus dari isi Tehe-Tehe. Yasudah setelah itu isinya bisa langsung dimakan.

Tehe-Tehe ini ternyata semacam ketupat ketan. Rasanya juga tak beda dari nasi ketan, tapi uniknya memang cangkang bulu babi sebagai wadahnya. Mendengar kata bulu babi saya pribadi langsung merinding duluan. Sebab yang saya ketahui bulu babi adalah sejenis hewan laut yang berbahaya.

Jika durinya mengenai anggota tubuh bisa mengakibatkan iritasi pada kulit seperti gatal dan perih. Namun di Pulau Derawan, Berau, Kalimantan Timur, bulu babi bisa diolah menjadi makanan yang lezat. Wow amazing sekali rasanya…

foto 5
Belum tentu nanti kalau ke Derawan lagi bisa nyicip Tehe-Tehe..

Karena keasikan makan, saya pun lupa bertanya soal Tehe-Tehe. Tapi sesampainya di Jakarta googling juga dan ternyata sudah banyak yang mengulasnya. Termasuk beberapa situs berita. Ihhh, tapi nyesel.. selain ngerasain kan tanya langsung ke penduduk akan lebih afdol.

Info yang saya temukan di situs okezone.com cara memasak tehe-tehe sangat mudah. Pertama, cuci bersih isi dan cangkang bulu babi dengan kain untuk membersihkan racun- racunnya.

Setelah itu, masukkan beras ketan putih yang sudah dibersihkan ke dalam cangkang bulu babi. Isi ketan yang sudah dicampur santan dan garam setengahnya saja, jangan sampai penuh. Lalu tutup bagian atasnya dengan daun pandan yang diikat.

DSCN8654
Suasana makan malam saat itu, karena kenyang sama sajian lobster sama sate kerang saya cuma sedikit nyicipin Tehe-Tehe. Dan… Tante Evi masih sibuk motret Tehe-Tehe dong.. hihi

Kemudian, masak santan hingga panas, dan masukan tehe-tehe satu persatu kemudian direbus dengan santan kurang lebih satu jam. Cara untuk mengetahui tehe-tehe sudah matang atau belum, bisa dicek dengan membelah tehe-tehe.

Jika salah saat memasaknya, biasanya tehe-tehe menjadi lembek dan tak enak dimakan. Sajikan tehe-tehe selagi hangat. Katanya Tehe-Tehe juga dimakan bersama ikan dan sambal.

 

KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Milky Way di Ujung Dermaga Derawan Fisheries

IMG_4593 (1).jpg
Beruntung banget, selama tiga malam selalu dapet langit penuh bintang-bintang. Bahkan aku sempat melihat bintang jatuh.

Teman-teman meet and trip yang lain lagi asik berada di alam mimpi, tapi pukul 01.00 dini hari sebagian kecil dari kami masih sibuk dengan kamera. Iya! Kapan lagi kan punya kesempatan buat milky way merekam galaksi bintang-bintang dalam bingkai foto.

Yuk kita absen.. Malam hari ke-3 menginap di water villa, Derawan Fisheries, nyariin Kak Aqied yang satu kamar sama aku. Yang alamat blog-nya ini klik blog Aqied https://aqidshohih.wordpress.com/. Dia cewek berjilbab yang aktif nggak bisa betah lama-lama di kamar. Nah, partner jalan-jalan Kak Aqied buat keliling kampung di Pulau Derawan kalau nggak Agnez Felicia, Bang Dee alias Dyan atau ketiganya bareng Bang Riza Firmansyah juga.

Whatsap lah kemudian, iya kami Whatsap-an padahal ini sebuah pulau yang letaknya so far far away dari Jakarta maupun kota besar. Mencapainya harus menyebrang dari daratan Kabupaten Berau. Tiga jam lamanya buat ke dermaga Tanjung Batu dari bandara Kalimarau, Berau. Lalu lanjut naik speedboat sekitar 30 menit.

IMG_4589
“Kak Aqied dimana Kak?” Tanya ku penasaran.

“Milky wan-an,” balesnya

“Gimana?,” whatsap nya lagi..

“Sama siapa, aku juga mau dong. Tapi ga bisa setting,” bales ku lagi

“Om Dee, Om Riza, Mba Aqnez, Kak Vira,” tulisnya lagi

“Ohh,”

“Sini sini sini, bawa tripod kalo ada,” katanya Kak Aqied

“Itu dia ga ada tripod, ga usah deh ya,” bales ku

Yaudah, tanggung kan…. sudah keburu bangun. Jam 22.00 sampai jam 00.00 an tadi juga sempat tidur, jadi ikutan milky way-an aja. Bawa kamera Nikon yang ternyata nggak bisa ke pengaturan tunggu 20 detik. Menyesal tak membawa kamera satunya lagi yang lebih canggih, tapi berat dibawa.

Yah… gagal merekam milky way dari kamera sendiri. Tapi Kak Aqied ngajarin gimana setting-an nya, jadi aku catet biar nanti kalo ke gunung dan pas dapet langit cerah bisa setting sendiri. ISO kamera sekitar 800 atau 1000, lalu setting aperture yang maksimal, dan terakhir setting speed 20-30 detik. Lalu dikoreksi oleh Bang dee, yang benar untuk milky way itu ISO 1000-1600 dan shutter set ke 30 detik, apeture maksimal sudah betul.

Milky way tetep dan itu pakai kamera Kak Vir, Kak Aqied, dan Bang Dee…. pengambilan gambarnya harus tahan nggak bergerak sekitar 20 detik. Kami ganti-gantian pose terus buat yang pose rame-rame juga. Hasilnya, lumayan… kapan lagi bisa merekam galaksi di langit sana…. kami semua beruntung tiga malam langit nggak mendung dan mendukung untuk bisa milky way.

foto (18).JPG
Ini lho ujung dermaganya,…. kalau lagi terang, bisa buat nungguin sunset dan sunrise sambil di tepian-nya penyu lewat..

Sekitar jam 02.00 kami bubaran, mulai ngantuk lagi. FYI beberapa kali kami lihat bintang jatuh, hanya sedetik aja… ihh luar biasa. Diam-diam berdoa juga, semoga bisa dapet kesempatan lihat hamparan bintang-bintang lagi seperti waktu di dermaga ini dan kalau ke gunung kepingin dapet view milky way seperti waktu di Gunung Rinjani atau yang lebih bagus lagi.

 

Asia, culinary, Eastern & Oriental Express Luxury Train, Food, story, The Journey, Train, Traveling

Fine Dining di Atas Kereta Bareng Jonathan Phang dan AFC

Jerk Chicken-1
Jerk Chicken main menu yang saya pilih di hari ke-2 dinner

Pengalaman menyantap makanan di sisi gastronomi dalam konsep fine dining di sebuah restoran mungkin sudah biasa kita temui. Bagaimana jika suasana jamuan makan resmi itu terjadi di atas sebuah kereta mewah?

Dalam sebuah kesempatan perjalanan dengan kereta mewah Eastern & Oriental Express yang melintasi Singapura, Malaysia, dan Thailand belum lama ini, saya sempat mencicipi suasana fine dining berbeda dengan resep dari chef Jonathan Phang yang merupakan koki bintang di acara Gourmet with Jonathan Phang, disiarkan di saluran Asian Food Chanel (AFC).

Denting gelas dan peralatan makan serta guncangan kereta menjadi atmosfer yang begitu dominan terasa saat menikmati suasana fine dining di atas kereta. Breaded Cod Manggo Salsa Red Pepper Mayonnaise atau ikan Cod yang dilapisi tepung dengan padanan irisan mangga dan saus merah lada menjadi sajian pembuka menu makan malam yang khusus dibuat Phang.

Rasa pedas dari berbagai campuran rempah langsung terasa di mulut ketika mencicipi sendok pertama. Cita rasa itu berasal dari lada dan saus mayonnaise berikut tepung yang melapisi ikan Cod.

Harmoni rasa segar mangga dan tomat yang berasal dari Manggo Salsa menjadi penawar rasa pedas tadi sehingga ketika memakannya secara keseluruhan semuanya terasa pas dan tak berlebihan. Hanya saja rasa pedas dan aroma rempahnya terasa dimulut agak lama dan lumer.

Everyone ready to savour Jonathan's delicious dinner menu
Foto favorit pas dinner ❤

Saya mulai merasa kepedasan.. dan itu lumayan lama hilangnya. Sejak hari pertama baru malam terakhir itu, saya dapati masakan dengan dominan bumbu pedas. Dan itu masakan yang diracik oleh Jonathan Phang.

Kalau soal hidangan laut, saya nyerah deh! Kalau bukan karena ikan segar pasti akan terasa amis. Tentu saja untuk sajian makan ini semuanya yang terbaik, jadi saya nggak khawatir dengan ikan amis atau duri sebagaimana selama ini begitu dihindari.

Ikan Cod yang jadi bahan utama menu pertama ini begitu populer dikenal sebagai makanan dengan rasa ringan dan padat, memiliki daging putih bersisik. Di Inggris, Atlantic cod adalah salah satu bahan yang paling umum untuk ikan dan keripik. Hati ikan Cod sendiri biasanya diproses untuk membuat minyak ikan cod, merupakan sumber penting dari vitamin A, vitamin D, vitamin E dan omega-3 asam lemak (EPA dan DHA).

Lanjut dengan hidangan selanjutnya, ada sup yang terasa asing dilidah Indonesia saya. Spiced Pumpkin dan Seafood Soup dengan menu utama Jerk Chicken dilengkapi Nasi Biryani. Rasa pedas begitu mendominasi, tetapi berkat bahan dasar sup yang merupakan labu yang manis, ini menjadi paduan unik ketika dimakan.

“Kuharap semua orang menikmatinya, selamat makan,” ujar Phang saat memberi sambutan sebelum acara makan malam dimulai.

Di pertengahan, menu utama kami datang. Bertambah kuat cita rasa rempah yang pedas di acara makan malam saat itu, Jerk Chicken yang dilengkapi Nasi Biryani masih memiliki nada pedas dari lada hitam. Terutama untuk nasi, terasa sekali bahwa ada banyak tambahan rempah lain sehingga kaya rasa pedas yang menyatu. Untuk ayamnya, rasa pedas itu hanya saya dapatkan dari bumbu, kurang meresap sebagaimana kalau mencicipi masakan Indonesia dengan bumbu kuning.

Sebagai hidangan penutup Coconut Pineapple Crumble Cake dan Vanilla Ice Cream yang manis menjadi penawar rasa pedas makanan pembuka dan utama kami, cita rasa kaya rempah dan bumbu dari Jonathan. (dyah ayu pamela)