Asia, Backpacker, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, The Journey

Pendakian Musim Hujan – Gunung Ceremai Part 1

Kalau di ibu kota kita biasa disesaki oleh asap kendaraan dan kemacetan. Jauh berbanding terbalik, ketika mengunjungi gunung saya demikian disesaki rimbunan pohon dan oksigen dari hutan yang hijau nan rindang.

Haloooo, gunung akhirnya aku menjelajahi mu kembali 🙂 dan…. Gunung Ceremai menjadi pendakian pertama saya di tahun 2016. Sebenarnya ini random saja, ke Ceremai bukan karena itu gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl). Tapi salah satu gunung yang selalu dibuka meski musim hujan meski di masa pemulihan.

Inisiasi mendaki Ceremai juga nggak sengaja. Di Instagram lewat akun @id_pendaki, @indomountain dan semacam kedua akun ini yang jumlahnya banyak banget suka ada posting-an dengan gambar dan hastag #naikbareng. Nah dari sinilah kita bisa nyari temen barengan naik gunung, nggak perlu ikut open trip kan jadinya, hehehe bisa kurang laku deh open trip 😀

foto 2
Suasana hutan Ceremai, edit stempel Line…hehehe biar fokus sama pemandangan, bukan sama tas carrier atau muka 🙂

Saat lihat komentar dibawah posting saya cari yang kemungkinan waktunya weekend. Kebanyakan yang bisa weekend ya Ceremai atau Guntur. Instagram memudahkan banget ya cari temen pendaki, sejak itu inbox pun lumayan banjir. Dapet kenalan baru juga, follower nambah banyak dan akhirnya tukeran contact yah walau beberapa ada yang batal barengan naik. Tapi kita tetep temenan di Instagram saling mem-posting gambar yang keren-keren saat ke gunung 🙂

Mendaki saat musim hujan itu sangat tidak disarankan, hehehe tapi nekat aja saking sudah kangennya dengan atmosfer gunung. Pergilah kami 24-25 Maret 2016 lalu. Dengan dua orang teman jadi kami bertiga saja, cewe semua dan tanpa potter. Tadinya ada satu teman cowo yang kenal dari Instagram mau bareng kita, tapi saya putusin ganti jalur pendakian Apuy karena ada acara menanam pohon dengan Komunitas Trashbag di jalur Patulungan.

Sejauh ini, Ceremai adalah gunung paling sulit menurutku sih. Malah lebih sulit daripada gunung Rinjani yang lebih tinggi, terlebih berangkat masih musim hujan. Tak ada yang percuma meski itu hujan, walau jalanan licin, walau harus ribet pakai jas hujan, walau sepatu penuh menempel tanah becek. Makin berat saja sepatu. Apalagi tenda, peralatan masak, kompor, bawa sendiri dengan tas carrier 30 L itu. Bedalah dengan pendakian sebelumnya, dimana cuma bawa perlengkapan pribadi yang enteng.

foto (8)
Tempat kemah di Pos V, tinggal 3 jam lagi menuju puncak Ceremai

Seperti apa trekking di Gunung Ceremai? 

  1. Beruntung disini nggak ada hujan badai besar dengan petir seperti yang diceritakan kalau lagi baca review perjalanan ke Gunung Kerinci. Hanya saja licin dan harus hati-hati. Nggak semua trek licin, tergantung semalamnya hujan atau tidak. Karena rimbun hutan saat hujan besar tak langsung terkena, tapi jadi rintik-rintik.
  2. Paling sulit itu pendakian dari Pos 2 ke Pos 3 rasanya jauhnya lebih dari 3 jam. Kok nggak sampai-sampai. Makin berat karena bawa air 2 liter dan perlengkapan masak 😦
  3. Lebih banyak ketemu jalur yang cukup sempit, jarang ketemu trek yang lebar untuk bisa berhenti istirahat. Tapi banyak trek bonus bisa buat istirahat lama berkemah. Buat minuman hangat dulu.
  4. Hampir 95 persen jalur pendakian adalah hutan. Jadi adem rasanya sepanjang perjalanan tanpa paparan sinar matahari berlebihan.
  5. Ada banyak tawon atau lebah yang nguing-nguing selama hampir disetiap perjalanan. Namanya juga hutan. karena itu di gangguin terus, sampai tawon ini juga hobi banget masuk tenda. Tapi walau lembab nggak ada yang namanya pacet atau lintah penghisap darah.
  6. Kami nge-camp di Pos 5, tapi kalau sudah nggak kuat sampai Pos 5 lebih baik kemah saja di tempat yang tanahnya datar bisa kemah.
  7. Selebihnya dari Pos 5 ke Pos 6 (Goa Walet) tempat kemah sebelum summit itu sekitar 3 jam perjalanan. Cukup berat katanya seperti trek dari Pos 2 ke Pos 3.
  8. Summit cukup menempuh waktu 30 menit dari Goa Walet (Pos terakhir)
foto 3
Salah satu jalur yang harus kami lewati, pasti becek kalau hujan. Sempitnya,… beda dengan jalur yang ada di Semeru dan Rinjani. FYI nggak ada savana di Ceremai

How To Get There?

  1. Kami naik Travel Nikko Jl. Raya Bogor 0218741052 atau Travel Nikko Jakarta Barat yang 24 jam 02129038276 yang bisa menjemput dan mengantar langsung ke depan rumah. Serius lagi males capek, naik turun bus jadi naik travel aja. Harganya memang lumayan sih Rp. 150 ribu tapi diantar hampir dekat basecamp pendakian. Bilang Aja mau ke Majalengka, ke Desa Apuy sampai dekat jalur pendakian. 
  2. Sampai di dekat Desa Apuy, kami naik angkot sewa Rp 140 ribu sampai basecamp untuk bertiga orang. Kami diantar sampai balai desa, yang disana ada mobil omprengan untuk mengantar pendaki.
  3. Dengan mobil omprengan bertarif Rp.15.ribu kami diantar hingga basecamp pendakian Apuy. Besoknya mintalah dijemput kembali supaya bisa tawar-menawar lebih murah. Kamu bisa hubungi Kang Tata 085321027504
  4. Sampailah di Pos 1, daftar Simaksi Rp. 50.000 kamu akan mendapatkan souvenir kupluk bertuliskan Ceremai atau pilihannya slayer berwarna hijau. Total biaya kalau ke Ceremai sebenarnya murah, hanya sekitar Rp 300-350 ribu, asal jangan naik travel, tapi naik bus dari Kp. Rambutan atau terminal bus terdekat yang hanya Rp. 50-60 ribu.
foto 4
Suasana jalur yang harus dilewati menuju basecamp di Jalur Apuy. Serius ini hanya bisa di lalui mobil omprengan bak terbuka. Biasanya mereka yang bawa mobil menitipkannya di Balai Desa, karena jalurnya sempit dan dekat jurang.

Saya memang tak summit puncak Ceremai. Hanya sampai Pos 5 karena malamnya hujan, tentu trek makin licin. Haduuuu, nggak muncak aja kaki ini sakit banget selama 2 hari. Kemudian saya jadi berfikir untuk punya strategi agar bisa sampai puncak. Jadi kemungkinan memang tak bawa barang banyak. Fokus summit, harus pakai sepatu nyaman dan bawa bekal makanan lebih banyak untuk 3 hari.

Kalau aja bawa bekal makanan cukup 3 hari, pasti nunggu supaya jalur tak licin dan bisa summit. Walau lama, tapi sampai puncak 🙂

Advertisements
Asia, Eastern & Oriental Express Luxury Train, Liputan, overland by train, Singapura - Asia Tenggara, story, Thailand - Asia Tenggara, The Journey, Train, Traveling

River Kwai Bridge – Wisata Sejarah Thailand Burma Railway

di Death Railway Museum dok dyah ayu pamela.JPG
Pintu masuk Death Railway Museum

Sebenarnya agak aneh, ketika saya pergi traveling dan itu pada masa penugasan liputan (diluar extand). Soalnya semuanya sudah disiapkan panitia dari transportasi, hotel, makan, dan ke mana-mana mengikuti jadwal. Gregetnya beda dengan traveling tapi menyiapkan segala sesuatunya sendiri.

Hufffft! Kabar baiknya saya memang fokus buat report perjalanannya itu, walau disisi lain jadi  serasa ikut open trip yang sudah di atur ini itu. Enaknya semuanya santai karena tanpa bawa backpack super gede dan nggak terlibat susah payah meng-arrange itinerary. Nah ini kejadian saat liputan perjalanan kereta melintasi Singapura – Malaysia – Thailand.

Tiga negara dalam perjalanan 3 hari dan saat menuliskannya seperti terbawa langsung perjalanan ketika itu. Ngebayangin bagaimana saya tidur di kereta Eastern & Oriental Express Luxury.(Kalau cerita itu sudah pernah di post, bisa dibaca-baca dulu) di link ini https://dyahpamelablog.wordpress.com/2015/08/18/overland-singapura-bangkok-by-train-perjalanan-dengan-kereta-mewah-eo-express/

River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
River Kwai Bridge, berapa biayanya ke situs ini? saya lupa bertanya

Kalau bukan karena undangan media mana mungkinlah orang biasa-biasa saja seperti saya bisa naik kereta mewah ini. Iya mewah soalnya kamu harus mengeluarkan budget sekitar U$D 2000 untuk perjalanan ini. Kereta serupa juga ada yang beroperasi di Eropa. Mirip-mirip kereta yang ada di film Harry Potter. Klasik banget.

Rangkaiannya trip ini ada panjang sekali karena itu wajar kalau harganya mahal. Tiap negara mengunjungi destinasi wisatanya. Pelayanan kelas luxury, gerbong kamu private dengan kamar mandi shower dan sofa empuk yang kalau malam bisa diubah menjadi tempat tidur super nyaman selayaknya di hotel berbintang 4. Tiap pagi sarapan diantar, sama pelayannya yang kebanyakan orang berwarga negara Thailand. Lunch maupun dinner sepenuhnya fine dining di salah satu gerbong kereta khusus sebagai restorannya.

Ah sudahlah ini kan cerita soal Burma Railway…. kembali fokus ke cerita apa itu Burma Railway? Burma Railway atau juga dikenal sebagai Death Railway, Burma-Siam Railway, Thailand-Burma Railway merupakan jalur kereta api sepanjang 415 kilometer (258 mil) antara wilayah Ban Pong, Thailand, dan Thanbyuzayat, Burma, yang dibangun oleh Kekaisaran Jepang pada tahun 1943 untuk mendukung pasukan dalam kampanye Burma di Perang Dunia II.

Perjalanan menuju River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
bus tingkat yang membawa saya dari stasiun ke kota Kanchanaburi

Saya melakukan perjalanan ke River Kwai Bridge di hari ke 3 sebelum sampai di kota Bangkok. Sampailah di sebuah stasiun menuju salah satu kota di Thailand, namanya Kanchanaburi. Menuju River Kwai Bridge menempuh waktu sekitar satu jam menggunakan bus tingkat yang disediakan panitia.

Burma Railway sebagai jalur kereta api pada saat itu berhasil selesai hingga dapat menghubungkan antara Bangkok, Thailand dan Rangoon, Burma (sekarang Yangon). Jalur ini ditutup pada 1947, tetapi bagian antara Nong Pla Duk dan Nam Tok dibuka kembali sepuluh tahun kemudian pada 1957.

Kerja paksa digunakan dalam membangun konstruksi. Lebih dari sekitar 180.000 lebih atau mungkin banyak buruh sipil Asia dilibatkan dalam kerja paksa atau Romusha ini dan ada sejumlah 60.000 tawanan perang Sekutu (POW) bekerja pada rel kereta api.

Dari jumlah tersebut, perkiraan kematian akibat Romusha ini sekitar 90.000 orang meninggal. Sebanyak 12.621 orang dari Sekutu POW meninggal selama konstruksi. POW mati termasuk 6.904 personel British, 2.802 warga Australia , 2.782 Belanda, dan 133 orang Amerika.

IMG_6867.JPG
rombongan bersama Jonathan Phang baru menyebrang dari River Kwai Bridge

Makanya di dekat museum setelah mengunjunginya ada lahan yang merupakan kuburan dari korban pembangunan jalur kereta ini. Beruntungnya ya bukan kuburan massal seperti yang ada di Phenom Phen 😀 jadi nggak serem.

Ketika melewati River Kwai Bridge dengan perahu penumpang sepanjang perjalanan, turis yang kebanyakan para bule diberi penjelasan sejarah River Kwai Bridge dan Burma Railway.

Kami termasuk ada 4 media dari Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filifina dengan sisanya yang satu rombongan bersama saya adalah pemenang kuis acara Asian Food Chanel Gourmet with Jonathan Phang. Semuanya skitar 20 orang bersama Public Relation yang mengurus acara, termasuk Jonathan Phang yang ramah luar biasa diajak ngobrol.

Sampai diujung sana, menuju sebuah daratan lagi kami mendapati kuil budha dan anak-anak sekolah Thailand yang lagi piknik. Nggak lama kami naik bus lagi menuju Museum Burma Railway.

IMG_6882.JPG
Celementary yang merupakan kuburan dari korban pembangunan Burma Railway

Ini sebenarnya nggak enaknya ikut trip yang itinerary-nya dibuat orang, kurang leluasa mau ngobrol-ngobrol dulu sama penduduk sekitar.

Pembangunan rel kereta api ini telah menjadi subyek dari sebuah novel dan film pemenang penghargaan, The Bridge at River Kwai yang juga diambil dari novel, The Narrow Road to Deep North oleh Richard Flanagan ditambah sejumlah besar pengalaman pribadi tawanan perang Sekutu.

Baru-baru ini, gambar bergerak The Railway Man (berdasarkan novel dengan nama yang sama) juga memberikan pengetahuan tentang kondisi barbar dan penderitaan yang menimpa para pekerja yang membangun rel kereta api.

Semua keterangan ini ada di dalam museum. Sayangnya saya tidak diperbolehkan memotret ketika di dalam. Saya cuma bisa bilang ini museumnya keren banget, mungkin kamu bisa kesana dengan cara backpacker lewat darat ke kota Kanchanaburi. Ah seru, selain masih ada banyak lagi atraksi di kota Kanchanaburi.

melintasi River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
Nah selama di kapal turis diberi penjelasan soal sejarah pembangunan Thailand – Burma Railway

Ini tak kalah keren dari apa yang dibuat oleh Kamboja dan vietnam untuk wisata perang mereka. Bisa jadi referensi banget. Sebab di dalamnya ada edukasi soal sejarah pembuatan rel kereta api di masa itu, kenapa dibuat, kenapa ada korban jiwa, ada wabah penyakit juga, lalu betapa kurusnya pekerja paksa saat itu, bahkan ada kejadian semacam busung lapar. Ini terjadi di masa Jepang sedang berkuasa dan Sekutu menjadi tawanan perang.

Di museum juga akan diceritakan bahwa proyek Burma Railway merupakan sebuah prestasi mengesankan. Sebagai seorang insinyur Amerika mengatakan setelah melihat proyek, apa yang membuat teknik yang digunakan saat itu sebagai totalitas dilihat dari akumulasi faktor.

IMG_6885.JPG
kuburan korban pembangunan Burma Railway

Total panjang mil, jumlah total jembatan – lebih dari 600 buah, termasuk enam sampai delapan jembatan bentang panjang – jumlah orang yang terlibat (satu-seperempat juta), waktu yang sangat singkat di mana mereka berhasil mencapainya, dan kondisi ekstrim mereka capai di bawah.

Mereka para pekerja juga memiliki sangat sedikit transportasi untuk mendapatkan barang-barang ke dan dari pekerja, mereka hampir tidak ada obat, mereka tidak bisa mendapatkan makanan membiarkan bahan saja.

Mereka tidak memiliki alat untuk bekerja dengan kecuali untuk hal-hal dasar seperti sekop dan palu, dan mereka bekerja di kondisi yang sangat sulit – di hutan dengan panas dan kelembaban. Semua itu membuat kereta api ini merupakan prestasi yang luar biasa.

IMG_6870.JPG
Anak sekolah di Thailand lagi piknik, sayang ya bukan piknik di gunung 😀

 

LIFE, story, The Journey

Cari Alasan Bangun Pagi

IMG_6217.JPG
Bangun pagi demi pemandangan sunrise amazing ini 🙂

Bangun pagi itu rasanya berat banget kalau weekend. Kenapa tiba-tiba kasur dan selimut menjadi begitu posesif melebihi pacar?

Jangan males dong, kan kata mama kalau bangun siang keburu dipatok rezekinya sama ayam. Nah biar nggak malas lagi, ini nih trik nya.. Disini saya baru tulis tiga alasan yang paling kuat banget buat saya bangun di Minggu pagi. Silahkan mencoba!

Ikut Car Free Day (CFD)

Ini trik paling berhasil, kalau CFD entah kenapa semangat aja karena banyak temen yang suka CFD juga. Pernah bahkan hujan juga tetep CFD, kadang sekalian dengan undangan liputan acara tertentu yang diadakannya saat CFD. Kalau ikut CFD biasanya dari rumah habis subuh langsung cusssss, kejar kereta pagi yang isinya rame juga walau itu hari Minggu bukan jam kerja.

CFD itu menjadi semacam lifestyle buat menggairahkan warga ibu kota untuk berolah raga. Walau bagi saya pribadi olahraga ya tidak harus saat CFD saja. Biasanya saya ikut CFD kalau sama tim akan mendaki gunung, kan perlu banget latihan fisik minimal seminggu sebelumnya. Walau juga seminggu 3 kali minimal ada jadwal jogging sendirian.

Belajar Renang dan Free Dive

Ngolam di Senayan, sekarang jadi rutinitas hampir tiap minggu. Kadang kalau malas dan kalau hujan sih suka absen latihan. Mulanya saya belajar renang karena dikompor-komporin temen naik gunung saya yang awalnya nggak bisa berenang terus bisa free dive.

image (5)
Foto yang bikin ngiri, kepingin bisa free dive juga:D

Via obrolan Whatsapp saya dikirimin gambar dia free dive.

“Pamer deh,” tulis saya tanpa disensor  (berhubung kami apa adanya nggak ada jaim-jaiman atau tersinggung ngobrolnya).

“Abis dari nggak bisa berenang terus bisa free dive Pam,” balesnya Vivi.

Entah bagaimana sebenernya nggak begitu tertarik dengan dunia diving, lebih suka gunung pokoknya. Tapi karena jadwal saya free banget dan bosan di rumah akhirnya kebujuk. Niat awal biar rajin bangun pagi dan bisa berenang kalau di laut.

Alhamdulilah ternyata pelatih atau buddy-nya jago ngajarinnya. Dia juga kasih penjelasan secara ilmiah bagaimana tubuh mengambang di air, mekanisme tubuh yang seperti pelampung kalau kita tahan nafas di air. Jadi saya cepet bisa dan pede, padahal itu kolam dalemnya 5 meter.

Traveling Colongan di Weeekend

Selalu berhasil buat saya rajin bangun pagi ketika harus traveling. Masa sudah jauh-jauh pergi malah menghabiskan waktu di kasur atau tenda atau hotel??

Karena traveling saya bela-belain habis subuh nenteng kamera dan mengabadikan moment indah itu. Apalagi kalau ke gunung, pagi banget jam 03.00 sudah jalan buat muncak. Ya kalau puncak cukup jauh dari basecamp sekitar 4-5 jam seperti waktu di Gunung Rinjani saya tidur lebih awal dan bangun jam 00.00 untuk liat sunrise. Memotivasi banget.

Next next next…. Masak Buat Sarapan Pagi, mungkin nanti suatu hari ini jadi alasan kuat saya bangun pagi. Bukan hanya di hari Minggu tapi setiap hari yang penuh energi. 🙂

LIFE, love, story, The Journey

People Come and Go, But The Best Will Stay :)

Kehidupan itu silih berganti. Pernah mendengar istilah “People Come and Go”? Kalau dicermati lagi, kehidupan dari TK, SD, SMP, SMA, Universitas sampai di dunia kerja yang penuh dengan segala upaya survive buat sukses di sekolah, pekerjaan dan di kehidupan pribadi, kamu akan mengerti istilah ini.
Saya belakangan kembali merasakan, akhir tahun 2015 ketika tahu mana teman yang sekedar kenal aja atau menetap jadi best friends. Ya, sebelum-sebelumnya juga sih, 2013, 2014 🙂

Hahaha bagi saya teman itu juga jodoh dan bisa menjadi teman itu karena memang ada sesuatu yang menarik dari pertemanan itu. Ada magnet yang membuat keduanya saling hampir tak bisa dipisahkan. Ciyeeee. Saya percaya banget hal itu berkat pengalaman.

Pada akhirnya temen-temenmu kamu labeli rangking dari 1-10 kenapa (disini saya sebutkan 5 saja) mengapa sebabnya? ya karena pertemanan itu juga ada chemistry. Biasanya kita pun memilih teman yang sejalan atau nyaman untuk berteman.

Peringkat 1 :

Teman sekaligus sahabat dan itu ternyata keluarga kamu. Iya, apa-apa kalau cerita pasti ke nyokap. Pasti tahu saya kenapa di kerjaan dan lagi punya masalah sama teman. Paling tidak dengan cerita ke nyokap dan tukar pikiran itu buat jadi lega. Nyokap bahkan dengan tepat bisa menebak dengan benar pria mana yang lebih baik lho…

Selain mama, adek sama papa itu selalu punya kata-kata yang ngademin hati. Habis dengar pendapat mereka pasti tenang bisa ketemu solusi. Orang yang akan masuk peringkat 1 nanti pastinya juga suami. Teman, sekaligus sahabat partner hidup.

 

IMG_4081
teman-teman se-profesi yang kalau liputan suka ngopi-ngopi bareng

Peringkat 2 :

Kehidupan silih berganti tapi teman yang menetap dan sampai sekarang jadi teman ya hanya sedikit. Dihitung jari, temen terbaik itu ada di saat susah maupun senang kita. Saat sedih kasih solusi.

Temen liputan saya dari sebuah lembaga kantor berita plat merah adalah satu diantara beberapa yang merupakan best friend. Temenan baru 5 tahun, tapi dari susah, dia patah hati, ganti pacar, nikah, saya yang setia dengerin dia. Begitu pun sebaliknya.

Sebenarnya kami berdua sangat bertolak belakang kepribadian. Dia meluap-luap, bawel, berani, tapi super baik. Saya kalem, serius, cocok banget sebagai pendengar. Tapi sebaliknya walau bawel dia juga pendengar yang baik. Berhubung dia 3 tahun di atas saya usianya.. Dia itu seperti kakak tapi tak pernah terkesan menggurui. Saran-sarannya banyak bisa dipertimbangkan lah.

Peringkat 3 :

Mungkin di peringkat ini adalah teman hang out maupun teman main. Tempat curhat saya yang ada banyak banget. Kalau dibilang mirip iklan Tanggo “ratusan”. Kebanyakan itu temen traveling, dulu pernah ngepantai dan ngegunung bareng. Saya sih tetep, sukanya curhat sama cowo sampai sekarang pun. Bukan cuma temen traveling, nara sumber kadang jadi akrab hahaha. Tak terlalu jauh atau bisa jadi dekat umurnya. Pernah hang out bareng, ikut acara musik ini itu.

Dipikir-pikir memang aneh. Teman satu gank saya waktu di SMA justru saat ini hilang kontak dan hampir tak pernah menyapa. Sementara teman traveling dan teman hangout saya justru yang dulu di SMP dan SMA nggak pernah akrab 😀

foto (2)
Baru temenan 5 tahunan, beda karakter dan gaya hidup hahaha. Jangan harap temen yang satu ini duajak susah-susah backpackeran. Tapi klik aja gitu jadi pendengar jadi yang didengar 🙂

Peringkat 4 :

Entah kenapa teman kantor malah jauh. Mungkin karena saya kerjanya di luaran terus anak lapangan jarang ke kantor. Tapi justru banyak temen cukup kenal dekat dari sesama profesi karena sering liputan bareng, ada di satu bidang peliputan yang sama. Karena hampir tiap tahun pindah bidang liputan dari A-Z akhirnya juga temannya beragam. Hanya beberapa yang akrab. Karena berteman di social media saling teguran. Ini lebih ke teman yang untuk have fun.

Peringkat 5 :

Ini teman yang sekedar hubungan karena pekerjaan. Biasanya ya karena dia undang saya liputan, biasanya humas hotel, PR (Public Relation) agency, yang sejenisnya. Cuma beberapa yang klik dan punya kesamaan bahkan jadi teman.

Ada satu teman PR dari agency yang baik banget minta ampun, tulus banget sih menurut saya. Dia juga jadi sumber inspirasi, berhubung usianya di atas saya banget, temenan di social media lama-lama nanya soal kegiatan dia lari. Bikin saya jadi suka jogging terus sharing gimana supaya nggak cedera, pilih sepatu lari yang bagus gimana, bra untuk lari juga khusus penting banget, sampai bajunya. Sayang sekarang sudah almarhum.

IMG_2085
ini gank cumi, dulu juga sering liputan bareng

Walau awalnya karena pekerjaan, kehilangan teman yang menginspirasi seperti dia saya sedih.Terakhir kali ketemu, suatu waktu di mall bilangan Senayan dekat GBK (Gelora Bung Karno). Pas banget saya mau jogging sore dan dia mau fitnes. Tak pernah menyangka kalau itu ternyata pertemuan kami terakhir. Karena sebulan kemudian, dia dikabarkan masuk rumah sakit karena kanker otak dan sudah tidak ada ketika berapa waktu dirawat. 😦

By the way biasanya temen kalau sudah deket banget itu nggak jaim-jaim an. Kalau Whatsap atau Line lama dibales, socmed nggak bales komentar ya santai aja. Nggak ada ngambek-ngambekan, nggak ada pencitraan. Justru kami malah becanda, kata-kataan, saling ejek-mengejek 😀

 

Backpacker, The Journey, Traveling

Budget Traveler, Time, Friends and Money

IMG_6510.JPG
Suatu hari di Lombok, semalamnya baru sampai hotel sehabis nyebrang dari pulau Sumbawa.

Cuti sangat berharga bagi kuli kantoran yang cuma punya jatah 12 hari dalam setahun buat bisa “liburan”. Bukan cuma waktu tapi soal dana, berhubung kan masih dapet transferan belum jadi bos-nya 😀 So, makanya biasanya kalau berencana untuk traveling harus pintar, membuatnya jadi efektif dan efesien.

Semakin sering jalan, semakin paham juga trik mengantisipasinya. Sekedar sharing aja, efektif ketika nge-trip itu seperti apa sih? By the way ini bukan nyontek dari mana-mana, berdasarkan pengalaman pribadi aja.

1. Sebisa Mungkin Tanpa Cuti

Ketika pergi, sebisa mungkin tanpa cuti. Biasanya pergi Jum’at malam dan pulang Minggu pagi. Kalau trip macam ini lokasinya masih yang deket-deket dari Jakarta misalnya seputar Lampung, Jawa Barat, atau cuma pergi sehari aja ke Bandung pulang pergi bisa.

Kalau teman yang lain bisa menggabungkan cuti mereka dengan tanggal merah, jadi hanya ambil cuti 1 hari tapi pergi 4 hari digabung dengan hari libur Sabtu dan Minggu. I’m sorry to say, tanggalan merah tidak berlaku bagi kuli tinta 😦

IMG_7569
Tidur-tiduran di gunung, melepas lelah menikmati atmosfernya 🙂
2. Satu Dua Pulau Terlampaui

Sekali jalan minimal dua destinasi terlampaui. Ini saya terapkan ketika misi traveling ke Indochina. Jadi seminggu bisa dapet 3 kota atau negara tujuan, dimana itu merupakan perbatasan darat. Misalnya Bangkok-Phenom Phen-Saigon (tiga kota tiga negara). Waktunya bisa 5-7 hari waktu trip dan itu pilih-pilih juga site penting, unik, menarik yang dikunjungi.

Saat ke Gunung Rinjani juga, saya sekalian menyebrang ke pulau Sumbawa. Jadi dalam seminggu bepergian ada destinasi gunung, snorkling di laut, nginep di pulau Kenawa, dan pergi ke museum di Kota Sumbawa Besar. Semua bisa didapat dengan budget hanya sekitar kurang dari 4 juta karena sharing cost bareng teman (PP dengan pesawat).

Biasanya trik lain saya cari juga pesawat yang transit di Changi Airport, lalu cari waktu transit yang lebih dari 6 jam, ini biasanya maskapai asal Australia (Jet Star) hahaha lumayan bisa mampir sebentar kemana naik MRT kan. Bagasi bisa dititip di bandara tapi bayar, cuma kalau pergi backpacker kan bawa tas backpack aja jadi dibawa kemana-mana.

3. Pilih Jalur Searah, Jangan Bolak Balik

Pernah saat ke Phenom Phen saya jadi bolak balik, itu karena tidak ada pilihan sebenarnya. Berhubung bareng teman, mereka sampai duluan di Siem Riep, Kamboja dari Bangkok lewat jalur darat. Kami janjian ketemu di Siem Riep karena besok paginya akan ke Angkor Wat. Nah saya dapet pesawat yang bandaranya di Phenom Phen. Tahu sendiri jarak Phenom Phen ke Siem Riep itu sekitar 6 jam perjalanan, jadilah harus naik bus kesana.

Terlanjur, itinerary sudah disepakati keburu beli tiket pesawat, lagi pula penerbangan langsung Jakarta-Siem Riep tidak ada. Hanya saya yang bolak balik begini (Phenom Phen – Siem Riep – Phenom Phen). Padahal di Siem Riep hanya satu hari dan malam hari kami menuju Phenom Phen lagi untuk eksplore situs bersejarah di kota ini, tepatnya Killing Field dan Penjara Tuol Sleng.

IMG_6064.JPG
Yang kaya gini jangan ditiru, bawa barang juga harus ringkas. *Padahal itu tas gendolan biru punya gw yang lagi dibawain* 😀

4. Efektif Juga Barang Bawaan

Bukan cuma waktu dan budget. Dalam hal barang bawaan juga harus ringkas. Jangan sampai mengganggu kamu saat traveling. Saya kapok, kalau ke gunung bawa tentengan tas. Pengalaman, cukup semua dimasukan di dalam backpack ukuran 50L. Kalaupun bawa tas tambahan itu tas gemblok lipat untuk muncak, cuma buat bawa air mineral dan kamera.

Baju dan perlengkapan perempuan memang lebih banyak, tapi sebisa mungkin terapkan konsep mix and match karena yang paling penting juga pakaian dalam. Kamu bisa laundry yang sehari jadi, pas backpack di Vietnam dan Thailand ada banyak tempat laundry sepanjang ruko dan biasanya deket deretan agen travel.

Kalau ke gunung biasanya juga jarang mandi kan (siapa juga mau mandi disana dingin banget gitu). Cuma kalau ketemu air terjun harus banget mandi disana. Pakaian dalam paling penting sehari ganti aja pakaian luar. Sementara jaket outer terbilang dipakai berkali-kali, jadi cuma bawa 1 untuk 4 hari ngegunung.

Nah kalau ke pantai, berdasarkan pengalaman baju pantai cenderung tipis.  Habis basah-basahan biasanya saya jemur lagi. Gitu aja terus, di perahu selama perjalanan laut jemur cardingan. Jadi lucu kalau diingat-ingat.

5. Hemat Waktu Tidur di Perjalanan

Nah, soal waktu tidur juga bisa dipangkas dengan melakukan perjalanan malam. Saat akan ke Muine di Vietnam Selatan, saya naik sleeper bus dari Saigon saat jam malam dan sampai lokasi subuh pas banget dengan waktu jemput mobil Jeep yang dipesan untuk mengantar ke lokasi padang pasir. Selain hemat waktu bisa hemat biaya menginap juga. Jadi inget, pilihannya saya jadi jarang mandi kalau begini.

IMG_6067.JPG
Jangan lupa cari temen buat sharing cost ya, biar lebih hemat dan efektif traveling-nya 🙂

6. Pilih Sharing Cost Bukan Ikut Open Trip

Ikut open trip jelas lebih mahal daripada sharing cost karena pergi bareng teman. Tapi itu juga pilihan, karena ketika pergi solo trip juga kamu tetap bisa sharing cost asal mau modal berani ngajak ngobrol traveler lain aja.

Waktu pertama kali sampai di Phenom Phen, saya terpaksa naik Tuk Tuk tanpa sharing cost dengan traveler lain, karena keburu waktu berangkat  bus ke Siem Riep. Mungkin lain kali harus lebih santai waktunya untuk mencari teman sharing cost. Sudahlah relakan USD$ 4 buat naik tuk tuk sendiri.

Indonesia, LIFE, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Peralatan Penting, Kemping Ke Gunung

IMG_7509.JPG
Siapa yang nggak kangen gunung, semua atmosfernya, udara dan pemandangannya 🙂

Belakangan, setelah beberapa kali naik gunung dan suka. Akhirnya saya memutuskan untuk melengkapi peralatan kemping. Kepikiran punya tenda dan perlengkapan masak sendiri, kebetulan juga ada banyak temen yang suka join-an mendaki bareng.

Karena kalau nggak ikut open trip dipikir-pikir lumayan dananya bisa banyak dipangkas, sebisa mungkin saya sekarang pergi mandiri, tanpa potter. Lagi pula kalau mau punya temen barengan ada banyak di social media betebaran, terutama di Instagram. Be careful aja selama perjalanan.

Sekedar sharing, saya jadi kepikiran untuk menulis di blog peralatan apa aja sih yang perlu kamu bawa kalau ke gunung? Ini daftarnya lengkap dimulai dari body equipment, standart equipment, cleaner equipment, dan general equipment yang penting untuk disiapkan. Intisari daftar ini diambil dari beberapa kali persiapan ikut open trip sebelum ke gunung. Beberapa peralatan mungkit tak diperlukan, nanti di paragraf selanjutnya coba saya jelaskan. Check it out!

No.         Qt           Body Equipment             

1              1              matras

2              1              sleeping bag (pilih sleeping bag berbahan polar)

3              1              jacket inner

4              1              jacket outter

5              1              kaos tidur lengan panjang

6              1              kaos ganti (tergantung lama kemping)

7              1             celana pendek untuk tidur

8           1              celana dalam (tergantung hari)

9           1              kaos kaki sesuaikan hari mendaki

10           1              sarung tangan harian

11          1              sarung tangan dingin

12           1              buff

13           1              handuk kecil

14           1              bantal tiup

15           1              topi

16           1              sajadah

17           1              kacamata

————————-

deuter-aircontact-65+10-review
Benda paling penting dari mendaki gunung itu, tas carrier yang nyaman. Jadi rekomendasinya pilih dari merek yang memang bagus. Kalau saya suka merek Deuters, merek Columbia juga bagus tapi lebih mahal, kalau merek lokal pilihannya Consina.

No.         Qt           Standart Equipment                                      

1              1              lampu tenda

2              1              head lamp

3              1              kompor gas atau kompor parafin

4              1              gas

5              1              korek api

6              2              tracking pole

7              1              power bank

8            1              camera

9            1              kantong plastik sedang

10           1              kantong plastik kecil

11           1              sepatu gunung

12           1              sandal

13           1              tas carriel

14           1              tas kecil

15           1              charger

16           1              tempat telur

17           1              gunting

——————————

DSCN2360.JPG
Nah buat melindungi tas carrier kamu perlu cover bag, harganya sekitar Rp. 50.ooo tapi kalau beli tas baru biasanya sudah termasuk. Terus kamu juga butuh trekking pole untuk membantu berjalan sebagai kaki ketiga kamu.

No.         Qt           Cleaner Equipment                                                                                       

1              1              sabun cuci muka

2              1              sabun mandi

3              1              parfum/body cologne

4              1              lotion

5              1              tissue basah

6              1              tissue kering

7              1              sikat gigi

8              1              pasta gigi

9              1              anti septic

10           1              betadine/hansaplas (P3K)

11           1              minyak kayu putih

————————————-

IMG_7563
Masker perlu banget soalnya debu dimana-mana apalagi pas muncak. Topi, sarung tangan dan kacamata untuk melindungi dari terik matahari tapi bisa pilih yang stylist supaya eyecatching kalau di foto hahaha. Ohya kalau ke gunung harus banget pakai lengan panjang dan celana panjang biar nggak hitam pulang-pulang.

Untuk general equipment di bawah ini kalau ikut open trip biasanya sudah disediakan. Tapi kalau pergi mandiri ya kamu harus nyiapin atau bisa sewa di toko outdoor untuk tenda.

No.       General Equipment                    

1 . Tenda

2.  Flysheet

3 . Tali

4 . Pisau

5 . Nesting

6 . Sendok

7 . Garpu

8  . Gelas

9  . Piring

Buat yang baru mulai mencoba naik gunung, pasti harus mengeluarkan budget lumayan besar untuk melengkapi perlengkapan kemping ini. Kalau ikut open trip peralatan seperti tenda dan alat masak sudah pasti disiapkan penyelenggara ya. Tapi paling utama kamu harus punya…..

  1. Tas carrier ukuran minimal 40L tapi disarankan yang 50 L karena walau pergi sehari kamu perlu bawa barang dan makanan. Jadi bisa sharing tempat juga sama teman untuk bawa peralatan seperti nesting misalnya.
  2. Sleeping bag, buat tidur kan nggak mungkin satu sleeping bag berdua temen. Belilah yang berbahan polar supaya tahan cuaca dingin.
  3. Matras, ini untuk alas di tenda baiknya punya sendiri.
  4. Trekking pole, karena akan sangat membantu saat berjalan.
  5. Sepatu gunung, ini sangat dianjurkan karena akan lebih nyaman memakai sepatu daripada sendal gunung.
  6. Headlamp untuk penerangan di malam hari, saat terpaksa harus tetap jalan malam.
  7. Jaket Inner dan Outer, ini penting untuk menahan cuaca dingin. Kalau siang di gunung enak pakai kaos lengan panjang, karena ketika trekking kita akan banyak berkeringat akan basah.
  8. Kalau mau muncak kamu butuh tas gemblok kecil lipat yang suka dijual di toko sport, sebaiknya bawa untuk tempat minuman kamu dan benda-benda penting seperti handphone dan kamera juga snack.
  9. Geiter, untuk melindungi pasir masuk ke dalam sepatu, bila sepatu kamu pendek. Untuk muncak ke Mahameru yang banyak debunya ini harus bawa.

 

IMG_7324
Kabutnya……. di depan danau Ranukumbolo