Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, LIFE, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Philosophy of Mt. Gede

 

SONY DSC
Ini bukan panorama Gunung Gede sih, tapi di Kali Mati Gunung Semeru. Suka aja gradasi langitnya.  Semua gunung itu bikin belajar! Mulai dari Rinjani, Semeru aku selalu ketemu filosofi yang berbeda dari perjalanannya 🙂

Ada banyak hal yang membuatku berubah. Lewat gunung dan kisah-kisah perjalanannya. Dimana seolah Tuhan ikut berbicara lewat apa yang ku alami disana. Tuhan, ikut andil dalam kisah. Aku sangat percaya. Bahkan semakin percaya setelah mengalami semuanya.

“Percayalah. Setiap perjalanan adalah perjalanan hati. Sebagaimana hati hampir selalu menyertai iringan langkah kaki,” kutipan dari seorang teman. Heheh baru kenal, seorang pendaki perempuan yang juga suka mendaki seperti saya.

Walau awalnya, bila perjalanan itu bukan hanya karena hati yang ingin tapi sebuah ajakan. Lambat laut hati pun tetap akan menyertai disana. Sebab mana mungkin kepergian itu bisa terjadi tanpa panggilan hati dan keinginan yang timbul karena bisikan-Nya.

Ketika tuts keyboard hadir dalam wujud huruf ini bukan sebagai memori yang akan diingat saja. Ada satu makna bahwa saat kita meninggalkan satu dimensi waktu kejadian lampau dan bergerak ke pembaharuan waktu, disitu selalu ada pengertian baru. Bahwa Tuhan lebih memahami kita dari siapapun juga di dunia ini.

Kala itu di Gede. Aku membaca, hingga sampai pada memahaminya lewat perjalanan itu. Kemudian aku belajar.. Karena kuasa-Nya aku bisa sampai, sejejak.. dua jejak ketika lelah aku berhenti. Disana aku melihat dan merasakan sejuk dari waktu beristirahat.

Tapi berhenti sejenak tentu takan lama, kaki tetap harus melangkah dan kembali merasakan perjuangannya. Meski rasanya memang ingin sekali terus menikmati kenyamanan ini. Duduk di bawah pohon rindang. Etalase alam.

DSCN8352
Di Gunung Gede itu banyak banget mebel alias furnitur alam yang enak buat duduk, hehehe betah duduk tiduran istirahat mangkanya 🙂

Perjalanan itu harus ada titik temunya, sebuah tempat tujuan. Karena tak pernah lewat jalan itu sebelumnya, tentu kita tidak tahu seberapa jauh lagi, berapa lama lagi. Hanya ada petunjuk jika telah sampai di pos ke 4 tempat berkemah sudah dekat. Petunjuk lain, bertanya teman pendaki yang ingin balik turun lewat jalur kami naik. Ya, itu tapi hanya jadi perkiraan saja, tak sepenuhnya tepat.

Bukan itu intinya, bukan hanya karena tujuan ingin sampai. Tapi sebuah proses.. ketika dalam perjalanan itu kita menikmatinya, bukan terburu-buru ingin sampai. Sesekali berhenti untuk memandangi warna hijau daun tak pernah salah. Sesekali mengistirahatkan kaki yang lelah menjejak pun itu kenikmatan. Bukan ingin berhenti, tapi rehat sejenak dan membaca perjalanan itu. Biarpun tetap ada batas sampai kapan memulai lagi.

Perjalanan seringan atau seberat apapun itu yang kubutuhkan adalah terus melakukan perjalanan itu sendiri. Bukan berbalik badan untuk menyerah. Juga tak terlalu lama tergiur dengan kenyamanan atau terlalu lama beristirahat.  Agar ku bisa sampai pada satu titik telah berada di tujuan. Semua rasa lelah kaki mu pun terbayarkan. Ya,… aku menang Tuhan. Menang dari pertempuran ego diriku sendiri.

(FYI sededar kiasan saja)

 

Advertisements
Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Pendakian Para Pendoa – Trekking Gunung Gede

foto (14)
Tim pendakian “Para Pendoa” Esti, Aku, Bonar, dan Uyung (kiri ke kanan). Kami yang kalem-kalem aja, hahaha meski kalem kalau becanda bisa kocak juga.

Hawa dingin masih meresap ke dinding tenda. Pukul 02.00 dini hari, sesuai kesepakatan berempat semuanya bergegas bangun dan menyiapkan perbekalan untuk muncak. Dingin yang tak terlalu menggigil (dibandingkan waktu di Semeru). Di tenda sebelah masih terdengar dengkuran manusia yang nyenyak dengan tidurnya.

Akhir April kemarin, akhirnya kesampaian juga muncak di Gunung Gede. Bahkan sekalinya kesana, kami summit 2 kali dan teman kami, Uyung malah summit 3 kali hahaha. Ceritanya dia nyariin Esti yang nggak sampai-sampai di atas, lalu bikin dia turun lagi.

Ketemu nggak? enggak, soalnya Esti lewat jalan pintas buat ke puncaknya,… Jadilah Uyung summit 3 kali hahaha. Padahal di summit kedua dia sudah sampai adegan “atas nama Bapak Ibu dan Roh Kudus”. Kurang kali summit-nya, kami semua lama ketawa ngakakkk tahu hal itu. Lalu yang diketawain cuma garuk-garuk kepala aja.

DSCN8416
Ternyata Alun-Alun Surya Kencana itu luassss banget, sampai saya pun bisa jogging lari-larian disini tanpa menggangu orang. Dan mereka yang ke Gede kan dibatasi, jadi serasa Gunung Gede ini milik saya banget.

Kalau baca postingan saya yang sebelumnya, kamu sudah tahu dong cerita kepergian ke Gede ini sama siapa aja. Temen-temen alumni pendakian Semeru sama salah satu anggota Geng Trio Kwek-Kwek alias temen liputan saya yang belum pernah ke Gede. Dilihat dari riwayatnya kami semua memang “kalem” serius kalem jauh dari sifat sanguinis yang tukang cari perhatian atau suka jadi pusat perhatian.

Better banget perjalanan trekking saya bareng mereka, dibanding waktu kepergian ke Ceremai. Dan memang dalam satu tim pendakian butuh banget ada cowonya. Lalu perlu banget teman yang satu visi, keukeh buat sampai puncak, nggak patah semangat, barengan temen yang seperti itu asik banget nggak khawatir dengan godaan yang bernama “malas”.

Perjalanan ke Gede dimulai pertemuan kami di pos polisi sebelum naik angkot ke basecamp atau rumah warga sebelum ke pos pendaftaran buat kasih simaksi (surat ijin mendaki) dan foto kopi KTP.

DSCN8441
Sampai puncak setelah Bonar, ini summit kedua. Gunung diseberang sana lebih sering tertutup awan. Hmmm,… kurang beruntung ya, besok di pendakian selanjutnya mungkin dapat cuaca Gunung Gede yang lebih cerah.

Dari Jakarta Esti dan Bonar yang tinggal di wilayah Jakarta Barat naik Transjakarta dengan APTB sampai pemberhentian terakhir Pasar Ciawi.

Setelah itu mereka sambung angkot ke Pasar Cipanas sampai turun di Pos Polisi tempat pemberhentian untuk ke jalur pendakian Gunung Putri (dengan naik angkot lagi ke basecamp).

Sementara saya sama Uyung kebetulan lebih dekat berangkat dari Terminal Kampung Rambutan. Jadi naik bus yang langsung ke Pasar Cipanas, turun tepat di depan pos polisi, sebelum naik angkot bareng Esti dan Bonar.

Hampir pukul 00.00 lho, Sabtu dini hari sepi-sepi aja isi angkot… hahaha mungkin memang capek pulang kerja dan ngantuk. Kami numpang tidur di rumah warga yang merupakan warung.

DSCN8478
Esti ditengah rerimbunan pepohonan, dalam perjalanan turun via jalur Cibodas

Ya kami tidur di atas tikar aja, tapi semuanya mengeluarkan sleeping bag, gratis… baru tahu setelah pagi-pagi semua belanjaan perbekalan itu tanpa biaya sewa tidur semalam. Tapi lumayan juga makan disini, nasi goreng harganya Rp. 10.000 padahal rasanya biasa saja, cuma ada tambahan telor kocok.

Tapi yang paling parah sih harga gorengan di atas sana Rp. 2000 per satuannya sudah gitu cilik-cilik pula. Ya dibanding usaha bawa kompor gas dan gas 3kg yang berat itu ya… anggap saja amal ibadah. Harga makanan di Gunung Gede lumayan mahal, jadi butuh uang jajan yang banyak di kantong.

Salah satu panorama menarik di Gunung Gede itu Alun-Alun Suya Kencana. Itu luaaaaassss bangett, sampai saya bisa lari-larian disana tanpa menggangu orang yang lalu lalang.

Terus padang edelwies-nya cantik, di Alun-Alun Surya Kencana juga banyak sumber air, ya kalau kamu kemah di deket padang edelweis di bawahnya mengalir sumber air.

Sebagian besar pemandangan selama trekking adalah rerimbunan pohon yang menjulang tinggi. Suka banget, adem hati eneng bang…. hehehe terus menurut saya sebaiknya kalau ke Gunung Gede itu lewat jalur Gunung Putri saja.

DSCN8483
Air terjun di jalur Cibodas, sepanjang jalur banyak ditemukan arus air dan air terjun.Nah di jalur Cibodas itu memang lebih variatif dan tak kalah bagus, kamu bisa menemukan air terjun, jembatan yang kalau dilewati saat terang kece banget untuk lokasi foto, dan sumber air panas.. Huaaaaa rasanya tuh seperti lagi sauna melewati sumber air panas ini. MasyaAllah 🙂

Karena buat pemula cukup ringan dibanding jauhnya lewat jalur Cibodas. Kemarin saja naik via Gunung Putri dan turun pulang via Cibodas.

Nah kalau lewat Cibodas kamu akan disuguhi pemandangan yang lebih lengkap. Ada air terjun, jembatan yang bagus buat setting foto, terus sumber air panas. Huuuuaaa rasanya tuh mirip lagi sauna melewati sumber air panas itu. Sayang setelah melewati sumber air panas kami sudah kemalaman, nggak sempat foto disana dan agak rentan untuk mengambil gambar karena jalanan licin dialiri air.

Tapi sebagian besar lewat Gunung Putri pun yang bagi saja cukup ringan dijelajahi (sekitar 6-8jam trekking) kamu sudah mendapatkan pemandangan rerimbunan pohon yang indah. Serasa betul-betul hidup. Feel amazing, I’m Alive!

Next time, kepingin ke Gunung Gede lagi, semoga bisa dapet cuaca cerah dan kondisi tidak hujan. Di atas sana pasti bagus banget kalau langitnya cerah tanpa ditutupi kabut.