Asia · Backpacker · JAVA - Indonesia · MOUNTAIN · The Journey

Pendakian Musim Hujan – Gunung Ceremai Part 1

foto 1 (1)
Bareng Vivi, temen mendaki ke Ceremai yang dulu kita pernah barengan ke Semeru.

Kalau di ibu kota kita biasa disesaki oleh asap kendaraan dan kemacetan. Jauh berbanding terbalik, ketika mengunjungi gunung saya demikian disesaki rimbunan pohon dan oksigen dari hutan yang hijau nan rindang.

Haloooo, gunung akhirnya aku menjelajahi mu kembali 🙂 dan…. Gunung Ceremai menjadi pendakian pertama saya di tahun 2016. Sebenarnya ini random saja, ke Ceremai bukan karena itu gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl). Tapi salah satu gunung yang selalu dibuka meski musim hujan meski di masa pemulihan.

Inisiasi mendaki Ceremai juga nggak sengaja. Di Instagram lewat akun @id_pendaki, @indomountain dan semacam kedua akun ini yang jumlahnya banyak banget suka ada posting-an dengan gambar dan hastag #naikbareng. Nah dari sinilah kita bisa nyari temen barengan naik gunung, nggak perlu ikut open trip kan jadinya, hehehe bisa kurang laku deh open trip 😀

foto 2
Suasana hutan Ceremai, edit stempel Line…hehehe biar fokus sama pemandangan, bukan sama tas carrier atau muka 🙂

Saat lihat komentar dibawah posting saya cari yang kemungkinan waktunya weekend. Kebanyakan yang bisa weekend ya Ceremai atau Guntur. Instagram memudahkan banget ya cari temen pendaki, sejak itu inbox pun lumayan banjir. Dapet kenalan baru juga, follower nambah banyak dan akhirnya tukeran contact yah walau beberapa ada yang batal barengan naik. Tapi kita tetep temenan di Instagram saling mem-posting gambar yang keren-keren saat ke gunung 🙂

Mendaki saat musim hujan itu sangat tidak disarankan, hehehe tapi nekat aja saking sudah kangennya dengan atmosfer gunung. Pergilah kami 24-25 Maret 2016 lalu. Dengan dua orang teman jadi kami bertiga saja, cewe semua dan tanpa potter. Tadinya ada satu teman cowo yang kenal dari Instagram mau bareng kita, tapi saya putusin ganti jalur pendakian Apuy karena ada acara menanam pohon dengan Komunitas Trashbag di jalur Patulungan.

Sejauh ini, Ceremai adalah gunung paling sulit menurutku sih. Malah lebih sulit daripada gunung Rinjani yang lebih tinggi, terlebih berangkat masih musim hujan. Tak ada yang percuma meski itu hujan, walau jalanan licin, walau harus ribet pakai jas hujan, walau sepatu penuh menempel tanah becek. Makin berat saja sepatu. Apalagi tenda, peralatan masak, kompor, bawa sendiri dengan tas carrier 30 L itu. Bedalah dengan pendakian sebelumnya, dimana cuma bawa perlengkapan pribadi yang enteng.

foto (8)
Tempat kemah di Pos V, tinggal 3 jam lagi menuju puncak Ceremai

Seperti apa trekking di Gunung Ceremai? 

  1. Beruntung disini nggak ada hujan badai besar dengan petir seperti yang diceritakan kalau lagi baca review perjalanan ke Gunung Kerinci. Hanya saja licin dan harus hati-hati. Nggak semua trek licin, tergantung semalamnya hujan atau tidak. Karena rimbun hutan saat hujan besar tak langsung terkena, tapi jadi rintik-rintik.
  2. Paling sulit itu pendakian dari Pos 2 ke Pos 3 rasanya jauhnya lebih dari 3 jam. Kok nggak sampai-sampai. Makin berat karena bawa air 2 liter dan perlengkapan masak 😦
  3. Lebih banyak ketemu jalur yang cukup sempit, jarang ketemu trek yang lebar untuk bisa berhenti istirahat. Tapi banyak trek bonus bisa buat istirahat lama berkemah. Buat minuman hangat dulu.
  4. Hampir 95 persen jalur pendakian adalah hutan. Jadi adem rasanya sepanjang perjalanan tanpa paparan sinar matahari berlebihan.
  5. Ada banyak tawon atau lebah yang nguing-nguing selama hampir disetiap perjalanan. Namanya juga hutan. karena itu di gangguin terus, sampai tawon ini juga hobi banget masuk tenda. Tapi walau lembab nggak ada yang namanya pacet atau lintah penghisap darah.
  6. Kami nge-camp di Pos 5, tapi kalau sudah nggak kuat sampai Pos 5 lebih baik kemah saja di tempat yang tanahnya datar bisa kemah.
  7. Selebihnya dari Pos 5 ke Pos 6 (Goa Walet) tempat kemah sebelum summit itu sekitar 3 jam perjalanan. Cukup berat katanya seperti trek dari Pos 2 ke Pos 3.
  8. Summit cukup menempuh waktu 30 menit dari Goa Walet (Pos terakhir)
foto 3
Salah satu jalur yang harus kami lewati, pasti becek kalau hujan. Sempitnya,… beda dengan jalur yang ada di Semeru dan Rinjani. FYI nggak ada savana di Ceremai

How To Get There?

  1. Kami naik Travel Nikko Jl. Raya Bogor 0218741052 atau Travel Nikko Jakarta Barat yang 24 jam 02129038276 yang bisa menjemput dan mengantar langsung ke depan rumah. Serius lagi males capek, naik turun bus jadi naik travel aja. Harganya memang lumayan sih Rp. 150 ribu tapi diantar hampir dekat basecamp pendakian. Bilang Aja mau ke Majalengka, ke Desa Apuy sampai dekat jalur pendakian. 
  2. Sampai di dekat Desa Apuy, kami naik angkot sewa Rp 140 ribu sampai basecamp untuk bertiga orang. Kami diantar sampai balai desa, yang disana ada mobil omprengan untuk mengantar pendaki.
  3. Dengan mobil omprengan bertarif Rp.15.ribu kami diantar hingga basecamp pendakian Apuy. Besoknya mintalah dijemput kembali supaya bisa tawar-menawar lebih murah. Kamu bisa hubungi Kang Tata 085321027504
  4. Sampailah di Pos 1, daftar Simaksi Rp. 50.000 kamu akan mendapatkan souvenir kupluk bertuliskan Ceremai atau pilihannya slayer berwarna hijau. Total biaya kalau ke Ceremai sebenarnya murah, hanya sekitar Rp 300-350 ribu, asal jangan naik travel, tapi naik bus dari Kp. Rambutan atau terminal bus terdekat yang hanya Rp. 50-60 ribu.
foto 4
Suasana jalur yang harus dilewati menuju basecamp di Jalur Apuy. Serius ini hanya bisa di lalui mobil omprengan bak terbuka. Biasanya mereka yang bawa mobil menitipkannya di Balai Desa, karena jalurnya sempit dan dekat jurang.

Saya memang tak summit puncak Ceremai. Hanya sampai Pos 5 karena malamnya hujan, tentu trek makin licin. Haduuuu, nggak muncak aja kaki ini sakit banget selama 2 hari. Kemudian saya jadi berfikir untuk punya strategi agar bisa sampai puncak. Jadi kemungkinan memang tak bawa barang banyak. Fokus summit, harus pakai sepatu nyaman dan bawa bekal makanan lebih banyak untuk 3 hari.

Kalau aja bawa bekal makanan cukup 3 hari, pasti nunggu supaya jalur tak licin dan bisa summit. Walau lama, tapi sampai puncak 🙂

 

Advertisements

7 thoughts on “Pendakian Musim Hujan – Gunung Ceremai Part 1

  1. Eng… kamu suka muncak ya Mbak ._. aku baru sekali muncak, itu aja ke gunung yang nggak tinggi-tinggi amat -_- nggak bisa dibilang gunung malah kayaknya kwkw dan… nggak kuaat :p wkwkwk

    Kayaknya masih belum dapet feel buat nikmatin muncak, atau… kamu bawa aku ke puncak mana gitu ~ *INI APAAN SIH* wkwk

    1. Ke gunung nggak harus muncak kok. Bisa cuma sampai area danau-nya atau sekedar kemping. Puncak bukan segalanya, yang penting keselamatan dan enjoy selama perjalanan.

      Mungkin krn kebiasaan pulang pergi kerja ketemu gedung, keluar masuk mall dan macet-macetan ya jd suka kemping. Gimana kalo minta Pak Jokowi buatin gondola atau helipad biar bisa langsung sampai puncak? Hahahahaha 😀

      1. HEhehehe ya kan gunung identik sama muncak mbak ._. wkwkkw
        Nah, bener nih, yang penting keselamatan dan menikmati aja 😀

        WKwkkw iya mbak -_- di kota mah isinya gedung, macet, asap wkwkwk nyebelin wkwkw

        Yakaliiik minta dibikinin gondola -_- wkwkw 😀

  2. wah trio wanita pendaki tangguh … saya aja belum pernah naik ke ciremai ..
    kebayang deh perjuangannya naik gunung di musim hujan … licin, dingin, basah … laper … kalau banyak ngeluhnya mending ke mall aja ya mba .. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s