Indonesia, MALUKU - Indonesia, The Journey, Traveling

Panduan Perjalanan Ke Banda Neira – Maluku Tengah

Diย dekatย dermaga, pemandangan kapal lewat

Di tulisan sebelumnya saya sempat cerita berbagai sisi menarik wisata yang ada di Banda Neira atau Banda Naira. Ada Bangunan kuno Rumah Pengasingan Bung Hatta, Sjahrir, dan Terusik Hantu di Benteng Belgica. Untuk wisata pulaunya saya juga sudah menulis tentang Sunset di Pulau Hatta dan Pemandangan Gunung Api Banda.

Kali ini saya akan menuliskan bagaimana cara mencapai Banda Naira, mulai dari booking tiket, pemilihan waktu pesawat sampai jadwal kapal serta nomor contacts yang bisa dihubungi untuk memudahkan kamu traveling. Yuk disimak ๐Ÿ˜€

Paling pertama tentu pesan tiket pesawat. Tapi jangan lupa cari tahu dulu jadwal kapal dari Ambon di Pelabuhan Tulehu menuju ke Banda Naira. Karena kapal hanya ada seminggu dua kali, yaitu keberangkatan dari Ambon ke Banda Naira tiap Sabtu. Sementara jadwal kapal pulang ke Ambon tiap Selasa. Makanya, biasanya di Banda Naira liburan waktunya sekitar 5 hari, beda ceritanya kalau mau pulang di jadwal keberangkatan yang lebih mundur.


Cussss pulang ke Jakarta… Terima kasih atas undangan liputannya di Banda Naira ๐Ÿ˜€

Agar efisien perjalanannya, pilih pesawat dengan jadwal tengah malam pukul 00.30 WIB dari Jakarta yang akan tiba sekitar pukul 06.00 WIT atau 07.00 WIT. Sehingga dari bandara ke Pelabuhan Tulehu kesahnya tak lama, biasanya kapal berangkat sekitar pukul 09.00-10.00 WIT dengan perjalanan di laut sekitar 6 jam lamanya.

Di bandara Pattimura Ambon, tanpa menunggu lama, kamu bisa pesan mobil jemputan, itu cara termudah ya untuk mencapai Pelabuhan Tulehu yang berjarak tempuh sekitar 1,5 jam.

Di perjalanan bisa sekaligus mencari sarapan, tapi hati-hati, walau sarapan hanya di warung pinggir jalan sebaiknya tanya dulu harga, supaya tidak kenal tipu. Karena pengalaman rombongan saya kena Rp. 500.000 buat sarapan ber-7 orang padahal kita cuma makan ikan bakar, nasi, dan teh manis saja dengan beberapa gorengan.

Seperti ini kapal yang akan kamu naiki ke Banda Naira

Pelabuhan Tulehu cukup padat (tapi dibanding antrian loket KRL Commuterline di Tanah Abang ya masih mendingan), beli tiketnya agak tak terkendali antriannya gak tertib. Lumayan ya harga kapal disini Rp. 410.000, tadinya ada penerbangan dengan pesawat kecil namun cuaca sering buruk dan perlunya subsidi harga tiket agar terjangkau masyarakat membuat penerbangan ditutup sementara rute nya. Kapal adalah satu-satunya cara mencapai Banda Naira.

Kapal cepat penumpang Express Bahari hanya ada 2x dalam seminggu. Tulehu – Banda Rabu dan Minggu, Banda – Tulehu Selasa dan Sabtu. Info kapal cepat : 081343292900. Dulu katanya ada pesawat kecil Merpati dan Susi air, dengan tarif Rp. 300-an ribu tapi sekarang yang ingin ke Banda Naira harus menempuh perjalanan laut 6-7 jam dari Pelabuhan Tulehu, Ambon.

Di laut yang tanpa sinyal sedikit pun sekitar 6 jam itu, enaknya apa ya???.Lumayan lama tanpa gadget, enak istirahat, walau bangku begitu tegak . Beruntungnya kapal walau kelas ekonomi tapi ber-AC. Ada tv layar lebar yang bisa digunakan menyetel film maupun DVD lagu, tapi itu sesuka kondekturnya.

Karena capek waktu 4 jam bisa dijadikan moment tidur siang mengganti tidur semalam yang kurang nyenyak di pesawat. Kalau tetap terjaga akan terasa bosan, soalnya yang ada cuma penampakan air sepanjang waktu. Disarankan untuk bawa bekal makan siang dan minum, soalnya tak banyak jajanan yang bisa dibeli di dalam kapal.

Tarian sambutan saat baru tiba di Banda Naira

PerkiraanbiayakeBandaNaira :

(1) Ojek Online dari rumah : Rp. 15.000

(2) DAMRI ke Bandara : Rp. 40.000

(3) Pesawat PP Jakarta-Ambon : Rp. 3 juta

(4) Taxi dari Bandara ke Pelabuhan Tulehu : Rp. 100.000 (perkiraan)

(5) Kapal dari Pelabuhan Tulehu ke Banda Naira PP : Rp. 820.000

(6) Biaya Menginap 3 hari 4 Malam : Rp. 525.000 (share berdua dengan rate rata-rata Rp. 350.000 per kamar) Tentang Penginapan di Banda Neira

(7) Biaya makan : sekitar Rp.500.000 (untuk 4 hari) rata-rata Rp. 50.000 sekali makan.

(8) Biaya Sewa Kapal keliling pulau Banda Naira : sekitar Rp. 1-2 juta tergantung lokasi dan share cost dengan teman.

Total sekitar Rp. 5-6 juta

Advertisements
Indonesia, Liputan, MALUKU - Indonesia, The Journey, Traveling

Mengenang Bung Hatta di Rumah Pengasingan Banda Neira

Di salah satu ruang kerja, ada foto-foto dan mesin tik, lantainya memiliki ubin yang berasal dari masa itu.

Your life isn’t behind you, the memories are behind you. Your life is always ahead you ๐Ÿ˜€ (Quote by me)

Sejarah bukan soal kisah perjuangan kemerdekaan saja, tapi soal sejarah hidup kamu sendiri.

Kali ini tentang Bung Hatta yang saya kenal lewat Rumah Pengasingan selama beliau di Banda Neira, Maluku. Beberapa foto masih di memory card kamera dan belum sempat saya sertakan karena laptop perlu perbaikan. So, beruntungnya beberapa foto untuk artikel ini memang sudah sempat saya edit dan posting di Instagram. 

Rumah pengasingan bung Hatta tampak dari luar

Waktu lagi terombang-ambing selama 5 jam lebih di kapal menuju Banda Naira, saya diberitahu tentang Kepulauan Banda Naira. Ada nama pulau diambil dari tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan yang diasingkan di Banda Naira ini. Ada rumah pengasingan tokoh-tokoh itu juga. Wow! Keren dalam hati, berarti ada banyak bahan tulisan menarik.

Tempat ini memang punya banyak cerita. Tentang penghasil buah pala, tentang pengasingan tokoh-tokoh penting era kemerdekaan, tentang gunung api yang megah, tentang benteng mistis penuh misterinya. Semua cerita yang sudah saya bagi di tulisan blog sebelumnya. Nah, kali ini merupakan dua bagian terakhir sebelum saya bagi juga satu tulisan selanjutnya soal Pulau Sjahrir.

Banda Naira sungguh panas terik, ketika akan berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta. Cukup berjalan kaki saja dari hotel, saya pun hanya bersandal jepit. Maaf bukan tidak menghargai tapi sepatu kasual ketinggalan, tak masuk di dalam backpack. Liputan yang santai saat itu membuat saya urung memakai sepatu sporty yang tak cocok dengan blus atasan.

Ini tempat mengajar dan papan tulis yang dipakai Bung Hatta

Rumah Pengasingan Bung Hatta hanya berjarak sekitar 500 – 700 meter dari Hotel Maulana. Begitu datang kami disambut penjaganya Ibu Emmy Badila. Dia merupakan keponakan dari Des Alwi yang adalah anak angkat Bung Hatta. 

Emmy bercerita tentang rumah pengasingan bagaimana dulu tempat tersebut juga digunakan untuk kegiatan mengajar Bung Hatta. Tak heran juga jika kamu ke halaman belakang ada bangku dan meja tulis. Papan tulisnya pun berdebu, tak diubah dengan tulisan yang dibuat Bung Hatta terakhir kalinya ketika kembali ke tanah Jawa.

“Tulisannya yang dari kapur tulis itu pernah ditembalkan agar tetap jelas dibaca,” kata Emmy.

Ruang mengajar

Wanita berusia sekitar 70 tahun itu pun mempersilahkan kami melihat-lihat. Bangunan awalnya tak sebaik sekarang, menurut Emmy banyak dirapihkan. Diperluas, dibersihkan dan terus dirawat, benda-benda milik Bung Hatta masih ditempatkan dalam lemari seperti kaca matanya yang ikonik itu.

Ada mesin ketik di ruang kerja, banyak foto-foto lama yang menggambarkan sosok Bung Hatta. Ada tabung untuk menyalahkan lampu, yang zaman dahulu memang harus pakai itu. 

Ruang tidurnya memakai kelambu, masih rapih semua. Sumur dan ruang-ruang dekat tempat mengajar yang menurutku gelap agak seram. Lantainya masih asli, bukan ubin keramik tapi seperti dari bata merah yang rapih besar-besar ukuran kotaknya.

Bersama ibu Emmy Badila penjaga rumah pengasingan bung Hatta

Sayang bila ke Banda Naira tak mampir melihat-lihat ke dalam rumah pengasingan. Disini kamu belajar sejarah langsung dan bisa berimajinasi dengan masa lampau ketika yang sudah tidak ada mengalami di zamannya.

Ibu Mutia Hatta yang sempat menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan pernah berkunjung ke Banda Naira dan juga menyambangi rumah tempat dulu ayahnya sempat diasingkan ini.

Liputan, MALUKU - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Pemandangan Gunung Api Banda dari Banyak Sisi

Pemandangan saat kapal hampir mendekat ke Pulau Banda Naira

Pendaki gunung atau sebut saja orang yang suka naik gunung pasti penasaran dengan Gunung Api yang ada di Banda Naira.

Bromo, Semeru, Tambora, atau Rinjani. Ini nama-nama yang familiar, deretan gunung yang ada di sekitar Jawa, Sumbawa, dan Lombok. Tapi Gunung Api yang ada di Banda Naira, siapa sih yang punya cita-cita naik gunung ini?? Tahu saja mungkin tidak. Saya kalau bukan karena undangan liputan juga tidak mungkin bisa sampai sana.

Dari kejauhan Gunung Api jadi pemandangan utama, bahkan sebelum sampai Banda Naira yang pertama-tama terlihat adalah Gunung Api yang disebut Pulau Gunung Api. Megah seperti gunung-gunung lain, menjulang tinggi puncaknya. 

Kawah Gunung Api Banda

Awan-awan bergumul disekitar kawah Gunung Api… Seperti pemandangan di gunung lain di Indonesia. Secara ajaib putih awan bagai kapas-kapas menempel. Mirip cotton candy ya?
Asapnya hanya sesekali terlihat, kalau naik speedboat dan menuju ke lautan di belakang Gunung Api akan lebih terlihat kawahnya seperti apa. Ada gradasi warna bekas letusan terdahulu, seperti warna bata merah maroon dan sisahan pasir yang meluncur ke laut.

Selain itu, dari Benteng Belgica, Gunung Api masih tampak gagah. Begitu pun di dermaga samping tak jauh jika berjalan-jalan mengitari pulau utama Neira.

Pemandangan Gunung Api Banda dari dekat dermaga di hotel Maulana

Paling suka bagian mana? Kalau saya sudah jatuh cinta sejak melihat Gunung Api Banda ini dari kapal. Sebelum mendarat. Dengan awannya di atas.. pemandangan dari jauh ini juga lebih menyeluruh tanpa terganggu background lainnya.

Selain wisata sejarah, lalu explore laut, mendaki Gunung Api Banda sangat direkomendasikan. Hanya perlu 2 jam mendaki saja. Waktu saya kesana sebetulnya bisa saja mendaki, tapi karena teman serombongan urung pergi sebab tanpa persiapan fisik, batal. 

Nekat?? Hehe kan sudah pengalaman. Mendaki gunung itu ibarat rejeki juga. Santai saja, keselamatan lebih penting dan tidak perlu memaksakan ego kita. 


Info dari wikipedia, Gunung Api Banda ini merupakan pulau juga yang ada di Laut Banda. Tinggi nya mencapai 646 meter dari permukaan laut. 

Terdapat 23 jenis burung di Pulau Gunung Api Banda yang merupakan jenis endemik di Kepulauan Banda. Kepulauan ini memang salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat endemik satwa yang tinggi, terutama dari segi jenis burung.

Saya cukup beruntung bisa berkeliling dengan speedboat menuju bagian belakang Gunung Api. Soalnya bensin di kepulauan itu kan mahal dan tak selalu ada ketika dibutuhkan.

Backpacker, MALUKU - Indonesia, The Journey, Traveling

Referensi 3 Penginapan Bagus di Banda Naira

dscn7573
rencana mau nge-dive juga di Banda Naira, bisa ambil paket menginap sekaligus diving di Nutmeg Tree

Banda Naira, katanya lagi jadi destinasi wisata yang naik daun sekarang. Mungkin karena duet bernama sama (karena duo ini dibentuk di Banda Naira) yang belakangan baru bubar? Hahaha tidak juga, mungkin karena tayangan acara jalan-jalan di televisi? Saya pun tahu Banda Naira dari acara jalan-jalan di Tv itu.

Dan… nggak punya cita-cita kesana sebenarnya, tapi ternyata ada penugasan liputan di Banda Naira. Lalu banyak teman yang akhirnya menanyakan atau lebih tepatnya request tulisan bocoran penginapan, transportasi hingga gimana cara kesana. Nah, baru kesampaian sekarang saya menuliskannya. Disini saya buat ringkasan referensi tempat menginap dulu, baru itinerary dan info transportasi disana di tulisan berikutnya.

FYI postingan ini bukan postingan berbayar, isinya sesuai realita saja, hanya sekedar sharing buat yang ingin tahu info penginapan yang kira-kira sesuai budget kamu. Selamat menyimak ๐Ÿ™‚

Yact di depan hotel Maulana

Ada 3 penginapan yang saya tahu dan pernah masuk ke dalamnya. Entah sekedar dinner, pinjam alat snorkling, ketiganya sudah saya cobain (masuk ke dalam) dan tanya-tanya teman serombongan yang sempat menginap disana. Lumayan buat referensi, walau selama 6 hari saya full menginap di hotel Maulana.

(1) Hotel Maulana

Hotel Maulana, ini hotel pertama yang ada di Banda, pemiliknya almarhum Des Alwi (anak angkat Bung Hatta waktu diasingkan di Banda). Dia juga salah satu orang penting, pernah menjadi menteri juga. Lokasi hotel dekat dengan pelabuhan, mungkin hanya 50-200 meter jalan.

hotel-maulana
suasana Hotel Maulana, sumber foto : TripAdvisor

Panorama laut dan Gunung Api di depan hotel ini jadi nilai plus menginap di hotel ini. Gunung Api yang masih aktif itu masih berdiri tegak dan kokoh. Tak heran, para tamu hotel betah duduk berlama-lama di pinggir pantai. Ada banyak kamar karena bertingkat dua dan belum lama dibangun sisi samping yang kamarnya lebih luas. Harga menginap disini mulai dari harga Rp. 300.000-an satu kamarnya.

Sarapan pagi disini berganti-ganti tiap harinya. Sempat disuguhi pisang goreng ambon, kue cara, nasi goreng, mie goreng, tapi yang paling nggak banget ya mie rebus. Iya Indo*** rebus. Sampai teman seperjalanan geleng-geleng dan akhirnya memilih untuk ngemilin pisang goreng aja. Minusnya itu aja sih hotel ini, kalau bedroom, kamar mandi, air panas, AC berfungsi baik walau termasuk hotel tua tapi diregenerasi terus fasilitas utamanya.

Saya pikir ke daerah terpencil seperti Banda Naira akan kesulitan ber-internet ria (soalnya selama 5 jam di atas kapal betul-betul sunyi tanpa sinyal). Tapi ternyata saya salah, disini wifi-nya kenceng banget, bahkan operator seluler saya yang XL tidak bisa diaktifkan sama sekali di pulau ini, jadi terbantu sama wifi buat kirim berita, maupun update social media.

Info contact menurut brosur : telp (62) 910-21022 atau 21023 fax : (62) 910-21024

(2) The Nutmeg Tree Hotel

Tepat berada di samping Hotel Maulana, ada The Nutmeg Tree Hotel. Kamar disini memang cuma sedikit (jumlah pasti kurang tahu), tapi bisa buat yang grup backpacking sharing cost. Menurut saya juga lebih gimana gitu tempat ini, terkesan homey. Serasa di rumah dan serius makan malam disini enak, dibanding di restoran sekitar atau pun di Hotel Cilu Bintang yang relatif lebih modern.

dscn7570
suasana di pinggir dekat laut Nutmeg Tree Hotel, kalau malam ada lampu-lampu menyala dan suka banget makan malam disini

Rahasianya karena sang koki yang dari Bali, belum sempat kenalan tapi pas event dinner kami dibuatin ikan bakar bumbu belimbing. Itu seger enak juga termasuk makanan lain yang saya lupa apa. Semacam nasi goreng atau mie goreng dan masakan lain. FYI disini selain bisa menginap juga tersedia paket dinner buat beberapa orang gitu, harganya per pax. Jangan khawatir dengan sambungan internet, karena juga tersedia wifi.

Suasana malamnya di luar teras juga menyenangkan, ada pohon dengan lampu-lampu. Di sisi depan dekat dengan laut ada kamar juga, bisa request tapi harganya lain dengan view yang bagus juga menghadap laut dan Gunung Api.

Dan… yang paling penting menurut saya disini bisa sewa alat snorkling, walau jumlahnya tidak begitu banyak. Termasuk kalau mau beli paket yang sekalian 5 hari 4 malam di Banda Naira, menginap termasuk paket diving juga ada. Sekitar Rp. 5 juta minus tiket pesawat untuk 5 hari dengan jadwal diving, sewa alat plus serifikat kalau niat ingin cari sertifikat diving.

Coba deh kontak aja, yang suka diving dan niat menjelajah kedalaman laut Maluku mending ikut paket itu. Harganya jauh lebih murah jadinya, menurut wartawan NatGeo yang serombongan sama saya lho ini. Soalnya dia nginep disitu.

info contact : 0823-9919-7798 dan +6282399197798

dscn7571
Suasana homey, seperti di rumah ada banyak buku bacaan tempat bersantai di Nutmeg Tree

(3) Hotel Cilu Bintang

Kalau kedua hotel tadi ternyata penuh, bolehlah sebagai pilihan menginap saja di Hotel Cilu Bintang. Tapi lokasinya agak ke dalam, sekitar 1 KM dari pelabuhan tempat kapal dari Ambon mendarat. Lucu sih, saking nggak mau jalan rombongan yang kedapatan nginep disana jadi dijemput pakai semacam motor gerobak, salah satunya ada kakak Nadine Candrawinata yang naik karena hotelnya disana.

Cilu Bintang, letaknya percis di depan Benteng Belgica, sementara bagian samping sebenarnya agak serem karena dulu bekas tempat pembantaian orang kaya yang dihukum penjajah saat datang ke Banda karena menolak dikuasai VOC.

dscn7305
ini lho, gerobak motor Cilu Bintang… hehehe Nadine aja mau naik ini daripada jalan 1 KM kan

Cilu Bintang termasuk hotel paling modern mungkin ya, fasilitas di dalamnya, termasuk dinner yang prasmanan untuk para tamu hotel. Termasuk ada fasilitas wifi yang kenceng disini, sepertinya itu sudah jadi standart hotel yang ada di Banda Naira… wah salut padahal lumayan pulau pelosok.

Info tentang hotel bisa di cek di web Cilu Bintang ada pilihan akomodasi buat turis di dalamnya jika ingin keliling Banda Naira. Tapi buat pelancong yang budgeting saya pikir kurang pas buat menginap disini. Lebih cocok buat bule bule kompeni yang uangnya tak berseri hehehe ๐Ÿ™‚

Liputan, MALUKU - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Nailaka dan Sunset di Balik Gunung Api

Air dekat pohon ini bakal pasang atau surut

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),
Itu semua hanyalah kulit.

Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan.

(Jalaluddin Rumi, Matsnawi)

Semua akan berakhir dengan kekaguman. Ketika memandang cinta ilahi lebih dekat dari apa-apa yang diciptakan-Nya.

Apa yang saya lihat dari kesetiaan seekor kucing kepada tuannya? Ada kasih sayang Ilahi di dalamnya. Tak bosan-bosannya merayu, sang kucing mengelus kepala pada kaki tuannya, seperti seorang hamba yang menginginkan sesuatu pada Tuhan penciptanya, bangun di sepertiga malam lalu berdoa meminta tak henti-hentinya sebagai bentuk Istiqomah.

Nailaka

Begitu juga satu daratan ini, Nailaka di antara 10 pulau lain di Banda Naira. Laut berhempas membentuk pasir halus. Pantainya pun tak bosan pasang surut karena waktu dengan izin Tuhan menuntunnya pada pola sama, menanti siapa saja yang datang, untuk mengagumi ciptaan indah garis pantai baru.

Nailaka, pulau tak berpenghuni. Bahkan untuk snorkling saja ikannya tak tertarik bersandar pada terumbu karang yang hanya sedikit. Berbeda sekali dengan pulau Hatta yang bisa lebih leluasa memandangi dalam lautnya.

Berenang berenang kecil, menikmati pasir, hingga menyusuri bagian pulau yang sedang pasang, hanya itu yang bisa dilakukan di pulau ini. Panasnya janganlah lagi bertanya, untuk ukuran Timur Indonesia sebentar pun akan membuat kulit belang. Tapi sunyi jadi teman yang setia disini, dengarkan saja nyanyian angin pantai riuh riuh .. mereka bertasbih, dengan caranya.

Sunset di balik gunung api

Semakin sore, air laut semakin pasang. Speedboat pun lalu membawa kami kembali ke Pulau Naira sambil melewati bagian belakang Gunung Api Banda. Ditengah harmoni buih air laut yang menghempas itu, kilat langit berubah senja menjadi penutup sore yang megah.

Dari balik Gunung Api Banda, matahari gagah menampilkan pesonanya. Kuning emas berpadu awan sebagai background permulaan malam.

Tak hanya matahari terbenam saja, kart karts yang cukup unik bisa kita temui di balik Gunung Api Banda ini. Dengan pola indah serpihan bahasa Sang Pencipta. Dia yang menggoreskan pena keindahan taman surgawi di dunia, laut biru dalam yang terlihat karang di dalamnya.

Garis-garis halus karts dan bekas limpahan meletus gunung api di tahun 1988. Sayangnya tak ada waktu untuk menaikinya. Tanda-tanda kebesaran-Mu makin membuat diri ini bersyukur telah dilahirkan dengan Rahmat bisa mencicipi surga kecil ini. Terima kasih, pergantian demi pergantian waktu akan terus ku ingat betapa banyak nikmat yang Kau beri :D.

Karts unik di balik Gunung Api
Liputan, MALUKU - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Mencicip Sunset dan Bawah Laut Pulau Hatta, Maluku Tengah

Balap ketinting, anak lokal di Pulau Hatta

Di Kepulauan Maluku Tengah ini, Banda Naira, cuaca didominasi gradien matahari yang seolah ada tepat di atas kepala kami. Berlebihan. Bagi penduduk kota yang sehari-hari bekerja di Jakarta. Beruntungnya disini tanpa asap dan polusi atau kepadatan jumlah manusia.

Judul tulisan kali ini panjang banget ya… 😄

Hari ke-3 dari 6 hari di Maluku, seusai beres liputan… Agenda lanjutan adalah piknik colongan. Keliling kepulauan Banda Naira. Makasih kepada Bintang Nutricia yang telah mengundang dan menfasilitasi.

We are the pirates

Btw saya belum pernah singgah ke luar wilayah benua Asia, tapi bisa ke pulau-pulau yang ada di negeri sendiri saja sudah merasa beruntung. Impian saya, bahagia saya juga sederhana saja. Memang bukan menjelajah Eropa, Amerika, atau Afrika. Tapi bukan hal yang mudah juga.. oke tak perlu disebut atau dijelaskan di blog. Rahasia.

Banda Naira masih punya cerita. Ada 11 pulau disini, tak semuanya bisa saya singgahi. Cukup beruntung ada beberapa pulau yang saya datangi bersama teman-teman wartawan dari Jakarta Dwina Republika, Adit Liputan 6.com, mas Ricky Jakarta Post teman-teman wartawan Ambon dan Komunitas Ayo Dongeng Indonesia, Maluku Membaca, Sea Soldier.. dan maaf yang belum disebut ya ๐Ÿ˜€

Matahari terbenam memang pemandangan yang apik. Siapa saja kalau lagi traveling pasti mencari pemandangan matahari terbit atau matahari terbenam. Beda-beda lho atmosfer magis dari moment ini.

Sunset yang telat di Pulau Hatta

Nah,.. saya mampir ke Pulau Hatta yang diberi nama demikian dari tokoh perjuangan Indonesia yang pernah diasingkan di Banda Naira, Moh. Hatta. Tadinya nama pulau ini adalah Resungging. Kini jumlah warganya sekitar 600 jiwa. Ternyata lumayan jauh buat kesini, perlu 30-45 menit naik speedboat.

Di Pulau Hatta banyak turis asing Eropa yang menginap. Homestay disini juga lumayan Rp. 250 ribu per malam. Jumlah turisnya banyak, tapi tidak sebanyak Bali juga sih. Ada lah sekitar 50 turis. Padahal disini minus air. Sumber air sangat jauh dan turis itu dilayani pemilik cottage dan guest house yang merupakan penduduk lokal setempat Pulau Hatta dengan membeli air dari pulau lain.

Menurut pak Supri Saidjan, warga lokal Pulau Hatta, sumber air bersih harus diambil di hutan yang tempatnya cukup jauh, ada di daerah kampung baru. No signal. Mungkin itu salah satu ketenangan yang bisa didapat. Selain walau dekat bibir pantai kamu sudah bisa menikmati bawah laut Maluku dengan snorkling.

Anak-anak di Pulau Hatta masih mau main dan minta difotoin

Saya bisa bilang memang unik. Disini 1 meter dari pantai lautnya kelihatan biru dalam. Serius waktu snorkling itu memang dalam dan berarus agak kencang. Biru dalam tapi kamu tetap bisa melihat variasi ikan yang cantik-cantik. Sayang nih saya kan ngga punya kamera underwater jadi nggak bisa pamer dan buktiin.

Terus yang saya suka banyak bocah pantai lagi asik berenang dan main ketinting (semacam perahu kecil). Yang mengejutkan lagi saya ikutan bocah-bocah ini balapan ketinting, saya naik di atas perahu kecil itu dan muat (berarti masih langsing banget ya) terus adek-adek ini yang jadi nahkodanya. Ah seru…

Ditengah capek karena main air, penghujung sore sunset yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Walau agak telat, ha-ha-ha.. keasikan snorkling, main, fotoin anak-anak ini dan nggak terasa waktu hampir gelap. Btw gelap di sini mulai jam 18.30 waktu Indonesia Timur.

Usai sore yang magic! Malam itu pun perjalanan kembali ke Pulau Banda Naira langit bertabur bintang-bintang jadi suguhan menawan. Sukkaaaa banget! Sangat jarang di Jakarta bisa menyaksikan serpihan kilau di langit sana saat malam.

culinary, Kuliner, Liputan, MALUKU - Indonesia, story

Maluku dan Cerita Kuliner Khasnya

 

img_20161130_165847
Pisang Goreng di Maluku, Ambon… bedaaa

Sepanjang liputan di Banda Naira, Maluku, hampir tiap hari ketemu segala macam seafood. Berhubung dekat laut, harga ikan dan kawan-kawanan laut juga lebih murah. Pagi sekali begitu tiba di Bandara Patimura Ambon, mobil jemputan pun cussss cari sarapan di pinggir jalan sebelum sampai Pelabuhan Tulehu.

Tak sekedar ikan saja, disini yang beda adalah ketika makan bersama nasi kelapa. Mirip nasi uduk tapi beda rasa gurihnya, dilengkapi sambal colo colo yang khas Maluku. Sambalnya asam pedas, karena memakai perasan jeruk nipis, potongan tomat dan cabai.

Ikan yang begitu saja dibakar tadi karena masih segar terasa manis dagingnya. Sudah pas pokoknya bila dipadu sambal colo colo yang asam pedas. Semua terasa segar, walau sebenarnya kalau sarapan menu lengkap seperti ini terlalu kebanyakan buat saya.

img_20161126_070800
Ikan batu batu yang cuma dibakar, lalu ada nasi kelapa dengan tambahan potongan ikan tongkol dan bakwan, yang segar juga sambal colo colo dengan tambahan daun kemangi.

Kuliner yang buat saya mikir saat memakannya adalah kue Suami. Mikir aja, ketika tahu itu namanya suami. Kenapa juga ya dikasih nama itu. Unik memang namanya, ย makanan ini dibuat dengan bahan dasar kasbi (singkong) yang dicampur dan diolah dengan bumbu-bumbu khas lainnya.

Saya mencicipi saat mampir ke Pulau Banda Besar, di Desa Waer (disini nggak ada sinyal sama sekali) yang untuk kesana perlu naik speed boat 30 menit dari Pulau Naira. Buatnya unik, bukan sekedar singkong tapi ketika memeras airnya dengan cara manual di tindih batu kali.

Selain suami, yang buat saya meleleh sampai sekarang adalah waktu mencicipi kue Cara waktu sarapan di hotel. Nambah dong, nggak ngambil hanya satu. Tapi makan 2 saja sudah kenyang.

Kue Cara ini seperti kue talam atau kue lumpur menurutku, versi gurih tapi. Rasanya perpaduan gurih santan dan taburan ikan tongkol di atasnya yang buat enak. Karena memakai tambahan irisan cabai, kue ini seperti nyelekit pedas walau sebentaran.

img_20161130_165553
Rujak Natsepa, rujaknya beda bumbu kacangnya lebih banyak dan dominan ๐Ÿ™‚
img_20161128_142617_1480332241514
Kue suami, yang warna putih. Jadi kalau ditanya kapan punya suami? jejelin aja ini kue ke yang nanya ๐Ÿ™‚

Lalu pisang goreng di Ambon juga beda sama pisang yang ada di Jakarta. Rasanya manis matang di pohon dan besar-besar ukurannya. Coba aja kalau lagi di Ambon atau Banda Naira, pisang ambon disini digoreng tepungnya juga seperti dibalut gula jawa, padahal nggak sama sekali. Metode masak orang Maluku yang membuat rasa sama warnanya jadi beda.

Tapi kalau spesialnya, Maluku itu terkenal dengan buah Pala, bahkan sumber penghasil Pala di abad ke-16. Terutama di Kepulauan Banda Naira. Jadi kalau ke Maluku terlebih mengunjungi Banda Naira, harus banget nyicipi aneka olahan buah Pala.

Meski di Pulau Jawa kita biasa menemukan manisan buah pala. Masih banyak olahan Pala, seperti selai Pala, sirup Pala. Kalau di cafe sekitar pulau Naira kamu bisa menemukan yang menjual pancake nutmeg (nutmeg bahasa Inggris Pala). Rasanya beda, ada asam dan aroma pala.

Dan yang terakhir saya coba sebelum take off ke Jakarta .. Rujak Natsepa. Ini rujak buah-buahan sebenarnya, namanya menjadi Natsepa karena dijual di pinggir Pantai Natsepa. Yang membuat rujak ini beda, bumbunya diuleg bersama kacang yang mendominasi bikin gurih. Jadi bayangkan saja, saat panas cocok banget makan Rujak Natsepa ini sambil kepedasan.

kue-cara
Kue Cara, rasanya gurih enak dari kelapa dan taburan ikan tongkol, ada pedas cabenya pula ๐Ÿ™‚