BALI - Indonesia, Indonesia, Liputan, MOUNTAIN, Traveling

Staycation Plataran Ubud – BALI

” Ladies and Gentlemen, we shortly will be landing at Ngurah Rai Airport, Bali. The local time now is 18.10, time in Bali is 1 hours ahead of Jakarta….. ,” suara pengumuman dari awak kabin

Sekitar beberapa menit sebelum mendarat, di bawah sana tatanan kota yang tak begitu rapih mulai terlihat. Juga air laut pasang yang seperti sedang menari-nari dan hal paling buat aku kaget adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ternyata kelihatan lumayan besar dari atas pesawat. Padahal dulu 2013, waktu pertama kali aku ke Bali patung itu belum sepenuhnya jadi. Aku juga hanya baru dapat berfoto dengan bagian kepalanya saja.

Akhirnya bisa menjejakan kaki lagi di Bali, setelah April 2017 silam solo traveling  hanya di seputaran Kuta dan akhir tahun 2018 ini aku bisa sebentaran “kabur” dari rutinitas dan penatnya ibu kota. Tempatnya di Ubud yeaayy! Ini seperti lagi dikasih Allah me time sejenak setelah berbagai hal terjadi. Warna warni dan jatuh bangun mental kehidupan cinta di tahun 2018.



Sesajian kalau orang Bali habis sembahyang,.. Bali banget ya..duh! Kaki sampai belang karena kebanyakan panasan

Rasanya tuh, Allah baik banget aku dikasih libur lagi walau statusnya sebagai reporter yang lagi “numpang” liburan colongan dengan staycation di Plataran Ubud, Bali. Semoga saja tercapai mimpi aku buat bisa balik lagi ke Ubud, tapi sama pasangan dan bisa explore tempat ini lebih intens.


Apa sih staycation itu? Kalau kamu belum tahu, staycation atau holistay adalah periode di mana seorang individu atau keluarga tinggal di rumah melakukan kegiatan rekreasi dalam jarak tak jauh dari rumah dan tidak memerlukan akomodasi atau waktu yang semalam. Jadi, kamu tinggal dan beraktivitas disekitar tempat menginap nggak jauh-jauh jaraknya ya sekitar 1-2 km dari hotel atau rumah.

Aku dijemput pihak Plataran Ubud jam6 sore di Kuta, soalnya ada lunch sama teman-teman liputan Sampoerna Foundation dan aku niat muterin Mall Beach Walk buat nyari oleh-oleh. Lumayan macet Kuta sore itu, aku saranin buat langsung ke Ubud aja dari Bandara Ngurah Rai. Daripada kan, waktu habis terbuang.. seharusnya aku bisa ikutan cooking class tapi jadi skip huhu 😐.

Jadi ngapain aja nih kegiatan aku selama staycation?

(1) Spa

Aku sudah niat dari Jakarta kalau sesampainya di Bali mau Spa. Masa bodoh bayarnya berapa, kebetulan untuk Spa kan bukan termasuk pelayanan kamar. I spend my money for Spa.. mahal buat gaji jurnalis rasanya tapi worth it aja kalau Spa di hotel biasanya tidak mengecewakan. Biasanya juga harganya paling murah Rp 500.000 per 60-90 menit. Mungkin Spa di Plataran Ubud ini masih kalah enak sama Spa-nya The Westin Jakarta yang pernah ku cobain juga. Tapi ya ini pas dapet diskon 30%, jadi aku cuma perlu bayar Rp 360.000 buat Spa berdurasi 1 jam yang sudah termasuk tax 22%, iya jangan kaget ya kalau tax untuk hiburan rekreasi memang sebesar itu.



Ternyata dari ruangan Spa kelihatan sawah -sawah, aku request supaya backsound musik yang mirip lagu kalo lagi yoga disetel lebih keras biar makin rileks

Rencana mau Spa juga seperti konsep law of attraction, jadi waktu pagi lagi sarapan ada mbak-mbak dari Spa nya Plataran Ubud and Spa yang memberikan gratis trial Spa selama 10 menit. Terus ditawari paket Spa dan diiming-imingi diskon. Ya sudahlah siapa yang bisa menolak diskon hehe. Jadilah aku Spa, tadinya mau malam sebelum tidur tapi melihat cuaca gerimis hujan aku ganti rencana Spa setelah sarapan jam 10 pagi.

(2) Mencoba Balinese Costume

Aku tertarik banget buat mencoba salah satu kegiatan yang free saat staycation di Plataran Ubud dengan foto-foto dengan kostum tradisional Bali. Tapi ya karena aku lagi nggak ada temen, akhirnya ku ajak receptionist hotel buat jadi temen foto soalnya kan garing kalo foto-foto sendiri.

Persawahan hijau khas di Ubud yang bakal aku kangenin

Seketika mood aku berubah, karena bisa ketawa-ketawa waktu kita seru-seruan foto. Niat juga sampai ke belakang persawahan Plataran Ubud buat ngambil foto berlatar belakang pemandangan hijau. Duh! Kalau begini caranya aku mestinya bawa pasangan buat sekalian liburan bareng.

(3) Tea Time

Hampir setiap hari ada free buat tea time di restoran Teras yang ada di Plataran Ubud. Makanan dan minuman untuk tea time kamu juga bisa dibawa ke kamar, tinggal pilih aja terus mintalah buat diantar. Tiba-tiba aku jadi manja banget minta dianterin ke kamar semua snack cemilan sandwich, buah, sama teh.

img_0659

Nggak apa-apa sesekali, soalnya ada pemandangan yang bagus banget dari beranda kamar aku. Bawahnya ada kolam renang dan sawah, pohon kelapa hijau juga menghampar. Makan malam pun juga di kamar, sambil nonton TV.

(4) Jalan-Jalan ke Monkey Forest

Aku penasaran belum pernah ke Monkey Forest. Ternyata lokasinya tidak jauh lho dari Plataran Ubud, hanya sekitar 2-3 KM berjalan. Ah! Kalau masih segitu bisa dong jalan, aku lalu dikasih peta sama mbak-mbak receptionist Plataran Ubud, gampang banget jadinya ke lokasi.

Masuk Monkey Forest kita perlu tiket masuk yang bisa dibeli seharga Rp 50.000, untuk orang asing sama harganya. By the way, aku saranin untuk memakai sepatu yang nyaman buat ke tempat ini. Soalnya kita itu seperti lagi trekking yang cukup jauh. Naik turun, mungkin yang jarang olahraga bakal ngos-ngosan. Beruntungnya orang macam aku suka banget olahraga dan trekking macam ke Monkey Forest, Ubud ini.

Monyet-monyet akur, kita dilarang memberi makan karena mereka sudah makan dari buah-buahan yang ada di hutan tumbuh alami

Seneng deh bisa berada dekat dengan para monyet ini. Soalnya mereka benar-benar berkeliaran di dekat kita dan perlunya kita waspada menjaga jarak aja serta membaca peraturan yang tertera supaya menghindari terjadi hal tidak diinginkan. Tenang aja tapinya kok, ada pawang monyetnya di dalam meskipun mereka berkeliaran. Tempat ini terasa udaranya segar soalnya hutan dengan pohon rerimbun, hal yang agaknya kurang ku suka adalah bau kurang sedap dari kotoran. Ya wajar kan ini hutan monyet, dimana pun mereka mau pup sah sah saja.

(5) Nge-GYM

Seminggu lamanya karena sibuk kerja, jogging pun terlewatkan. Beruntungnya aku masih bisa mengganti waktu berharga untuk ku olahraga dengan nge-Gym waktu staycation di Plataran Ubud. Pokoknya diniatin banget deh, sehabis Magrib dari kecapekan jalan-jalan trekking santai ke Monkey Forest, berlanjut sorenya Balinese Costume dan Tea Time ku sempatkan juga membakar kalori.

Dalam hati aku bilang, pulang ke Jakarta nanti nggak boleh beratku naik kebanyakan. Makan tiada henti dengan aktivitas banyak dan karena dapet cemilan tetap saja aku harus berolah raga. Beruntungnya di Gym hanya aku sendirian, lagi nggak ada yang pakai alat. Soalnya waktu kemarin malamnya sampai sempat melihat ada bule yang lagi jogging di tredmill. Lumayanlah malam itu bakar kalori sekitar 250 kal, malamnya pun ku hanya makan caesar salad dan jus wortel. Kwkwkw, sayang dong kalau olahraga malah percuma karena malamnya makan nasi.

(6) Kalau Mau Sepedaan Bisa

Sepedaan keliling Ubud, seru pastinya.. tapi fasilitas ini bukan bagian dari free pelayanan saat menginap. Kalau mau sepedaan yang harus dengan guide di Ubud kamu harus membayar sekitar Rp 200.000, nanti akan diantar keliling persawahan dan desa sekitar. Kalau mendengar penjelasan receptionist hotel sih worth it ya. Cuma sayangnya aku tidak keburu waktu buat sepedaan, soalnya aktivitas ini dimulai sejak pagi jam 08.00-10.00.

Sepedaannya harus diantar guide

Saranku kalau memang ingin staycation disini, cari tahu dulu jadwal untuk sesi free activity-nya. Ada cooking class, yoga (yang tidak sempat aku coba karena terlalu capek), sekaligus Balinese costume maupun membuat gebongan. Semua ada jadwal per harinya. Saranku juga sebaiknya menginap minimal 3 hari 2 malam supaya semua aktivitasnya tercover.

(7) Ke Pasar Ubud Bisa dengan Shuttel

Sebenarnya kalau jalan nggak jauh lokasinya, tapi ada shuttel atau mobil yang akan mengantar ke beberapa lokasi. Salah satunya kalau mau ke Pasar Ubud disarankan pagi-pagi sekitar jam 10. Shuttel ini ada pada pukul 10.00, 13.00, dan 15.00. Cuma menurutku kalian jangan terpaku sama shuttel buat berpergian kemana-mana. Karena jalan kaki pun dekat kok.

Advertisements
Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Cerita kemping Ranca Upas – Ciwidei Bandung

Lama juga nggak kemping, lama nggak main ke gunung- gunung di Indonesia. Rasa kangen itu, buat pecinta alam seperti saya kadang nggak bisa dibendung. Tapi setelah melewati perjalanan panjang 2 minggu trekking ke Pegunungan Himalaya awal tahun 2018 kemarin, “penyakit” kangen naik gunung ini sudah setengahnya terobati. 

Tapi namanya panggilan jiwa, buat nanjak mungkin kadang-kadang kepingin juga.. Paling tidak ikut kemping ceria yang tidak perlu trekking berhari-hari sudah cukup bisa mengatasi kerinduan menjelajah. Anak yang nggak bisa diem ini pun jadi sulit melewatkan ajakan buat kemping. Sebutlah begitu, walau tujuannya nggak sekedar kemping sih 😂, mau mencari jiwa, banyak ngobrol dan lebih mengenal. Tapi mood Cancer saat pergi lagi melow, banyak diem gitu, nggak ngerti deh kadang-kadang.

Gimana cara kesana?

Jadi kami berangkat pagi banget, jam 05.00 dari Cibubur naik travel buat ke Bandung. Kepagian banget ya? Karena memang menghindari macet, tahu sendiri kalau weekend macet Jakarta pindah ke Bandung. Tapi ternyata lancar banget guys, jam 07.00 pagi kita sampai di Pasteur. Dingin banget, Kota Bandung sekitar 20 derajat 😱. Tempat travel kita turun kebetulan ada warung tukang bubur, jadi sekalian aja sarapan disitu. Sambil nunggu temen yang mau nganterin motor sewaan buat ke Ranca Upas. FYI dari Pasteur kita masih harus berkendara dengan motor sekitar 2-3 jam. 

Ranca Upas memang letaknya ke arah Selatan Bandung, searah kalau kita ke Kawah Putih. Udara pagi Kota Bandung yang tadinya dingin, setelah pukul 10.00 berubah jadi panas. Hahaha, padahal kita naik motor dan bermacet-macetan. Bayangin aja gimana kondisi bawa carriel gede ditaruh di depan, terus nyalip-nyalip mobil di pinggir. Berbekal GPS dari GMaps aja, yang tentu saja sudah diubah mode-nya tanpa melintasi jalan tol. Sempet berhenti pas jam makan siang sih, kita laper dan makan di rumah makan Padang hahha. Untung enak makanannya.

Singkat cerita, sampai juga di Ranca Upas. Asli panas terik, tapi udaranya lumayan dingin mirip di puncak. Sampai disana bingung, karena ini tempat ramai sekali. Kempingnya nggak kebayang aja, maunya sih yang bener-bener seperti di gunung yang deket pohon atau di bawah pohon atau di dalam hutan. Kita survei tempat tuh akhirnya, mau dimana kempingnya? Di deket danau kelihatannya adem tapi banyak banget manusia, sementara yang ajak sepi itu di sebuah lapangan luas tanpa pepohonan yang terbayang kalau pagi pasti bakal kepanasan dan mesti buru-buru beresin tenda. Hufft.

Entah gimana. Diem lah dulu di warung. Lumayan lama banget sampai nggak tahu mau ngapain lagi kan habis solat zuhur. Tau-tau ngobrol sama mas-mas disitu, cerita-cerita, eh ternyata anak kampus ISBI lagi ngadain semacam ospek buat anak seni. Tadinya agak bete sih, kita lama banget di warung 😂. Udah kenyang, udah makan, udah solat, mati gaya banget berdua, udah ngetawain lawakan di IG, beruntung rasanya ketemu sama si anak teater ISBI (Institut Seni) ini karena kita dibolehin kemping deketan mereka, yang masuk ke dalam hutan gitu.. “lumayan tenda sama tas kita ada yang jagain kan,”.. “bener juga” dalem hati. 

Dan bener, beruntung banget kita kenal sama si anak-anak kuliah teater ISBI ini. Kempingnya jadi adem, di depan kita juga jadi ada hiburan anak-anak lagi cekakakan gak jelas ngetawain hidup. Pokoknya random, kadang jadi ngaca aja. Dulu pas kuliah saya gini juga gak sih?? Ah nggak, dulu sih fokus belajar biar cepet skripsi dan lulus aja. 

Kemping yang nggak terencana rapih ini not bad lah jadinya. Di sisi lain yang salah tentang kemping ini kita gak bawa gas buat masak, padahal udah bawa kompor dan nesting, juga perbekalan makanan. Mau beli gas juga nggak dapet keliling swalayan dan akhirnya kita mah malah tetep makan nasi goreng sama ke rumah makan Padang 😂✌🏻. Nggak masak sama sekali. Agak mubazir deh berat-berat bawa itu semua. Rasanya kurang prepare.. next time mesti prepare lagi yang rapih dan entah gimana aku sukanya diajak nonton atau makan berdua aja kalau begini, walau ngobrol ceritanya berasa sebentar cuma 2-3 jam tapi kok ada kesan malah quality time dan justru jadi menanti-nanti hari buat ketemu lagi🙂. 

Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

“Sakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,” kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. “Sayang duitnya, mending buat makan,” kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

“Mudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi ini”.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. “Almost there (sudah dekat),”… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Hikmah-Hikmah Selepas Perjalanan ke Himalaya

Kali ini saya mau cerita.. tentang perjalanan jiwa saya setelah kepergian ke Himalaya. Kalau sudah baca blog saya ditulisan sebelumnya kamu juga pasti tahu cerita naik gunung yang bukan sekedar traveling biasa, . . Bahkan tiap gunung yang saya jelajahi di perjalanannya ada filosofi tersendiri.

Begitu juga perjalanan ke Everest Base Camp (EBC).. nggak kan kelupa dan ada banyak rasa syukur yang saya dapat ketika dan sepulang dari sana. Dalam hati juga saya janji beberapa hal sama diri sendiri, semuanya membuat saya ingin jadi pribadi yang lebih baik lagi.

(1) Lebih Bersyukur Karena Tinggal di Negara Tropis

Namanya gunung pasti dingin! Indonesia yang negara tropis aja gunungnya juga dingin, ya iya lah di atas ketinggian 2500 mdpl. Angin gunung yang kencang di atas Rinjani padahal baru 3470 mdpl-an itu bukan apa-apa deh, waktu sampai Dingboche di EBC yang mulai 4900 mdpl badan saya mulai goyah. Angin bukan cuma nampar-nampar pipi, leher bahkan kepala badan rasanya bisa terbang 😂✌🏻.

Sedingin-dinginya Indonesia yang saya rasakan itu ya paling 13 derajat waktu ke Bromo. Tapi di Himalaya? Ibu Kota Kathmandu saja pada musim dingin suhunya paling tidak 5-7 derajat. Lalu masuk ke ketinggian 2500 mdpl mulai 1 derajat. Manusia tropis mana yang tahan? Panas terik tapi dingin dan anginnya nggak nahan. Saya lihat pegawai bank di Lukla pun pakai down jacket saat berkantor.

Percaya sama saya, lebih enak tinggal di negara tropis seperti di Indonesia. Nggak perlu pakai jaket tebal, nggak perlu jadi males solat karena air dingin banget buat wudhu, bahkan karena dingin saya nggak bisa lama-lama banget mau doa mau khusyuk, dingin banget itu nggak enak banget. Mau lama-lama duduk di restoran lodge liat pemandangan dari jendela pun masih kedinginan banget. Yang ada selimutan bed cover di kamar mulu kakak 😭. Mungkin karena ini desa tidak ada penghangat ruangan modern. Untuk merasa terus hangat saya mesti ke ruang tengah restoran dan duduk di perapian.

Ditengah meringkuk selimutan di kamar terus saya berguman dalam hati. “Janji kalau sampai rumah mau lebih khusyuk solatnya, disini nggak konsen banget kedinginan”. Di Jakarta sesekali mungkin kita pernah ngeluh, panas banget. Alhamdulilah sampai di Jakarta rasanya tuh saya benar-benar diberkahi, cinta banget sama cuaca Jakarta yang jadinya kerasa justru hangat, bukan panas lagi ☺️.

(2) Makin Percaya, Semua Hal Terbaik Sudah Allah yang Mengaturnya, Tenang dan Santai Saja. Jadilah Pasrah dan Lebih Ikhlas Menerima 🙏🏻

Mungkin saya terlalu serius atau mendalami perasaan yang saya dapat dari perjalanan di gunung. Tapi bener lho, ini nyata. Saya merasa apa-apa yang terjadi dalam hidup memang sudah Allah yang atur, bahkan hal sekecil apapun itu.

Saya mengalami sendiri keanehan-keanehan itu. Kadang kita suka merasa kecewa dan gagal akan sesuatu yang tidak sesuai rencana. Padahal di balik itu Tuhan sebenarnya justru menjawab kekecewaan atau kegagalan itu dengan sesuatu yang memang lebih baik untuk terjadi bagi seseorang.

Kadang kita suka menyalahkan diri sendiri. Hanya contoh saja ya, kenapa kamu sulit sekali lulus ujian CPNS? Padahal sudah bekerja keras belajar, jungkir balik atau apalah usaha terbaik. Jangan salah, di balik itu mana pernah tahu bila sebenarnya ada pekerjaan yang lebih cocok buat kamu dan lingkungan yang lebih tepat buat kamu.

Di Himalaya saya mengalami sesuatu yang kesannya sepele saja. Saya kesulitan untuk booking tiket pesawat pulang ke Jakarta. Problem pertama charger saya hilang ketinggalan di Dingboche… mau nangis rasanya karena itu charger asli iPhone, yang kalo beli original mahal. Problemkedua, setelahnya, alhasil handphone saya mati total walau ketemu listrik pun nggak bisa charger baterai. Sangat sering saya mengandalkan ketemu seseorang yang juga pakai hp dengan merek sama. Untungnya saja saya bawa hp satu cadangan yang jadul dan lemot. Problem ketiga, sinyal di pegunungan tidak selalu ada. Walau ada itu berbayar 2-4 Dollar per jam. Lumayan terbilang murah sih sebenarnya.

Singkat cerita hal absurd yang terjadi adalah walau ada hp cadangan tapi 2-3kali saya gagal terus untuk booking tiket pulang. Entah koneksi internet gagal, password salah ketik, atau kartu Jenius saya tidak merespon. Padahal sudah oke sama harga tiket yang kisaran Rp 2,9- Rp 3 juta.

Mencoba lagi untuk booking tiket, kali ke 4 dan 5 di Lukla saat nunggu pesawat pulang. Juga gagal, padahal saya susah payah bisa charger hp sampai cukup penuh. Gagal koneksi atau pembayaran. Bikin capek betul rasanya masalah booking tiket ini. Maunya beli 2 hari atau sehari sebelum pulang supaya lebih murah harganya dan lebih tenang nggak mendadak booking di hari H kepulangan. NAMUN… tahukah? Ternyata saya justru bersyukur, gagal booking tiket. Soalnya saya pun 3 hari gak bisa balik pulang sampai Kathmandu karena pesawat nggak bisa terbang kendala cuaca. Hufff.. bayangkan kalau saya bisa booking?? Hanguskah tiket saya yang lumayan harganya itu..

Di Kathmandu, setelah fix sampai penginapan, barulah saya booking tiket. Ya, walaupun harganya lantas melambung jadi Rp 4,1 juta pantas saja soalnya beli sore malamnya berangkat pulang. Cari tiket setelah 1-2 hari pun sama harganya sekitar Rp 4 juta jauh dari ekspektasi Rp 3-3,5 juta. Rugi dan kemahalan banget intinya untuk pesawat Malindo kelas ekonomi.

Cuma daripada nggak pulang juga kan? Lagi pula Tuhan sangat baik sama saya, tiket tidak hangus karena semesta sudah menggagalkan upaya booking tiket pulang yang akan sia-sia dan merugikan itu. Dipikir lagi nggak begitu rugi juga, kan saya dapet tiket promo naik Malaysia Airlines cuma Rp 2,7 juta saja untuk pesawat ke Kathmandu.

(3) Siapkan Lebih dari 1 Debit ATM Berlogo Visa atau Master Card

Kalau berpergian ke luar negeri, akan aman bawa mata uang Dollar. Tapi risih juga kalau kebanyakan bawa cash khawatir bakal kecopetan atau malah boros. Jangan salah nggak juga kok, asal hitung budget yang betul, lalu lebihkan sekitar 50 Dollar sebagai cadangan di dompet. Soalnya ngambil uang di ATM luar negeri itu lumayan kena biaya ATM sekali tarik 5 Dollar. Hehehehe, sudah begitu ada maksimal ngambilnya berapa puluh ribu uang lokal. Coba aja kalau berkali-kali, tahu-tahu di rekening potongannya banyak sekali.

Selain itu menghindari kejadian tidak terduga, sebaiknya punya lebih dari 1 debit ATM berlogo Master Card atau Visa. Ya jaga-jaga kalau ternyata nggak bisa kartu satunya ada cadangan. Seperti pelajaran buat saya karena masa visa saya habis dan kelebihan masa tinggal kena denda, di imigrasi saya dijegat untuk bayar denda sebesar 34 Dollar. Mau nangis rasanya, soalnya debit ATM berlogo Visa ternyata hanya satu-satunya (si Jenius) yang khusus memang saya buat untuk transaksi pengganti Credit Card (CC) di luar negeri. Hehe saya anti banget punya kartu kredit soalnya.

Sementara debit saya yang lain seperti BCA dan MNC bank itu tidak ada logo Visa maupun Master Card. Hehehe… dimana saya tidak bisa mengambil uang dari sana walau ada uangnya berapa milyar pun 😂. Panik?? Jelas iya, pesawat 1,5 jam lagi berangkat tapi saya ditahan. Untungnya ada m-banking, saya pun minta tolong adik yang punya akun m-banking untuk bisa transfer ke si Jenius yang full uangnya sudah saya belikan tiket.. sudah saya tarik tunai juga di Kathmandu, jadi sisa hanya recehan berapa ratus ribu saja. Ya untungnya masih ada m-banking yang dalam hitungan detik sampai 5 menitan langsung terkirim uangnya. Huff.. besok pastiin lagi debit ATM kamu ada logo Visa ya.

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Chemistry dengan Turis Cina

Saya suka perjalanan ke Nepal kemarin, rasanya mendobrak keberanian ke level baru. Nggak canggung lagi berbahasa dan ngobrol dengan orang asing, semacam otomatis aja bisa berbaur, walau pernah ada kondisi di suatu ketika males ngobrol atau negur karena sudah merasa kedinginan atau sakit tapi tetap saat mood beberapa pertemuan dan saling sapa terasa akrab.

Dan itu merupakan pertama kalinya, di perjalanan traveling ke luar negeri saya merasa lebih berbaur dengan lingkungan sekitar. Soalnya dulu-dulu ngobrolnya cuma sama partner barengan dari Indonesia. Mungkin ya, karena diawal saya pergi soloing, walau barengan berdua sama teman tapi saya berangkat dua hari lebih cepat jadi ada banyak moment mengharuskan saya mengurus apa-apa sendiri dan itu membutuhkan komunikasi dengan orang yang baru dikenal.

Yang berbeda di perjalanan saya pergi naik gunung dan traveling ke luar kali ini karena saya berdua partner traveling dari Indonesia bener-bener baru kenal. Kami bukan teman dekat banget, kenal pun dari social media, tapi tujuan kami sama, ingin ke EBC Himalaya. Walau kami barengan disana, walau penginapan pun sama, tapi kadang saat trekking dia duluan di depan dan kadang nungguin sambil istirahat. Saya juga kadang di depan dan sembari istirahat memastikan kami nggak terlalu jauh. Dan di jalan kami pun bisa tetap bebas berbaur dengan traveler lain.

Tinggal di doormitory room membuat saya harus bergaul sama traveler lainnya, dari banyak negara berbeda. Hari pertama saya yang minta dijemputan sama pihak hotel langsung ngobrol sama driver orang lokal Nepal. Terus saya dapet teman sekamar 2 orang dari Swiss yang ke Nepal khusus karena mau puas-puasin yoga. Sementara satu lagi, merupakan traveler asal Jepang yang excited banget saat tahu saya orang Indonesia, soalnya dia pernah ke Indonesia untuk belajar dan punya beberapa teman orang Indonesia.

Karena pingin punya beberapa kesan suasana hostel yang berbeda, di hari kedua saya pindah hostel dan ketemu lagi orang-orang baru. Lagi-lagi menginap di doormitory room menjadikan saya harus mengobrol dengan beberapa traveler lainnya dari beda-beda negara.

Ranjang susun sekamar untuk 8-10 orang, tapi karena low season hanya ada 6 orang.. saya ingat itu, ada traveler dari Cina.. namanya Yang Li, katanya dia dari wilayah Xinjiang. Orangnya cukup bawel bahkan nggak bisa diam, walau di kamar gak duduk atau tiduran di kasur aja tapi dia lebih sering nyamperin teman sekamar lainnya, ngajak ngobrol!. Ini nih, salah satunya saya diajakin ngobrol mulu, ditanya mau kemana, sama siapa, terus obrolan berendet ke hal-hal lainnya.

Sebelahnya ada turis dari Thailand yang selimutan mulu di tempat tidur bahkan sambil makan. Kebanyakan karena tempat tidur mereka berdekatan, keduanya bicara hal-hal nggak penting juga seperti beli buah yang murah dimana. Sampe akhirnya saya jadi keikutan beli buah juga, karena bosan sama makanan berempah Nepal.

Selang agak sore, hampir malam datang penghuni baru, orang India. Pertama dia yang negur nanya saya, “nyalah gak air hangatnya,?”.. terus speak-speak nggak penting akhirnya, nanya lah “ tinggal di bagian India mana,?.. saya kira dia pergi ke Nepal untuk jalan-jalan, seperti yang lainnya, ternyata dia lagi melakukan perjalanan bisnis.

Saya tahu karena kaget waktu liat dia buka laptop. Soalnya habis itu saya ledekin di depan traveler lain.

“Liat dia, jalan-jalan bawa laptop, hehe,” kata saya sambil ketawa..

“Oh gw memang nggak dalam rangka jalan-jalan kok, ini perjalanan bisnis,” balesnya..

Dalam hati saya bilang.. “what???? Perjalanan bisnis?? Nggak salah ya kantornya ngasih dia hostel di doormitory room, pelit banget. Cuma 5 Dollar semalam, walau disini guest house-nya juga nyaman banget, bed cover anget, kamar mandi hot shower 😂🤣.

Entah kenapa sama turis India ini saya lebih bisa mudah memahami pengucapan Bahasa Inggrisnya. Dibandingkan dengan turis Cina yang saat bilang T jadi terdengar seperti S. Bilang Thirteen (13) seperti kedengaran Shirty.. apa itu shirty 😂…

Eh ternyata bukan satu orang Cina saja yang pengucapan T terdengar seperti S, di perjalanan menuju Everest Base Camp (EBC) saya juga ketemu dijalan begitu. Ceritanya lagi kecapekan, istirahat di batu sebentar. Saya nanya gini “Kamu pergi sendiri atau berberapa orang,”.. kata saya penasaran. “Oh kami rombongan, 13 orang,” Si turis Cina jawab.. serius pengucapan T untuk thirteen itu kedengeran seperti S.

Selain turis Swiss, Jepang, Cina, Thailand, India, di lodge maupun perjalanan kebanyakan saya ketemu orang Amerika dan Australia. Mereka dominan muka-muka bule ketahuan lah ya. Bisa dibilang setara banyaknya dengan orang Cina. Jelas lah, Cina kan 1 Milyar lebih penduduknya. Dan entah diantara semua turis itu chemistry yang paling saya dapet memang dengan turis Cina.

Di bandara Lukla saat 2 kali gagal berangkat pulang karena cuaca saya juga sempet ngobrol sama turis Cina tapi kali ini cowok. Nggak nanya nama, tapi saat saya bilang dari Indonesia dia langsung semangat, ngomongin Bali dan betapa negara saya ini banyak pulaunya. Di Lukla juga saya ketemu lagi sama turis Cina rombongan 13 orang itu. Dimana sebelumnya kita ketemu mulu, waktu kemaleman sampai Desa Pherice pun saya merasa aman karena barengan sama mereka. Rasanya jodoh aja ketemu terus dan akhirnya say hello lagi. “Hey you again!,” Hampir nggak ngenalin soalnya pakai kacamata,” kata saya waktu negur di bandara.

Karena sudah sering ngobrol di jalan saya juga jadi nggak sungkan pinjem charger. Kata saya inilah manfaatnya SKSD (sok kenal sok deket) sama orang asing baru dikenal.. 😜. Hai kamu pembaca blog ku, sekali-kali cobain dong solotraveling atau pergi dengan orang asing baru, ini asik banget, menantang diri keluar dari batas yang tidak biasa dilakukan saat kehidupan normal sehari-hari. Be brave!

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Tips Packing Saat Traveling atau Mendaki Gunung

Kebanyakan orang mungkin berfikir, males mendaki gunung karena masalah barang bawaan yang berat. Jangankan bawa backpack maupun carriel yang menjulang melebihi tinggi kepala.. bawa diri aja susah 😂..

Sebenarnya inti persoalan bukan itu, bagi seseorang yang memang hobinya naik gunung semua karena niat dan kegigihan. Namanya suka, . . seneng ya semua jadi terasa bukan beban.. meski kenyataannya berat tas bakal mempengaruhi. Bakal capek, bakal membebani perjalanan.. tapi dibanding indahnya pemandangan itu sih patut diperjuangkan.

Cuma saya juga mengalami, dan sependapat bahwa akan lebih baik jika tidak ada begitu banyak bawaan atau beban dipunggung. Makanya, dari situ juga semacam ada pelajaran sebagai traveler untuk bisa memilah mana barang penting dan tidak penting untuk dibawa. Sebisa mungkin bawa barang yang memang diperlukan, yang multifungsi kalau bisa.

Sedikit sharing aja, dengan jarak tempuh sekitar 72 jam trekking, 15 hari lamannya melintasi Pegunungan Himalaya kemarin saya juga sangat meminimalisir barang bawaan. Pokoknya yang penting aja, bahkan sampai buat subtitusi cari barang yang ringan daripada harus bawa buntelan gede benda yang ngabisin muatan tas.

Ini nih, rahasianya biar barang bawaan ke gunung jadi ringan…

(1) Ganti jaket tebal dengan jaket bertekhnologi blocktech dan heatech.

Jadi down jacket yang tebel dan juga buat body terlihat macam buntelan sosis itu bisa diganti dengan jaket agak tipis dengan tekhnologi heatech dan blocktech, sekaligus windproff. Bukan iklan, tapi salah satunya label yang jual ya Uniqlo. Kalau harganya kemahalan buat kamu, beli nunggu pas diskon aja jadinya lumayan hemat hehe.

Ada satu pengalaman kemarin di Desa Lobuche ketinggian 4900-an hampir 5000 mdpl. Saya ditegur orang lokal pemilik penginapan. “Your jacket is too tight, it’s mountain,” .. katanya sambil merhatiin jaket saya yang memang tipis dibanding turis lain.

emergency bag
emergency bag ini bisa kamu beli di toko online

Saya jawab :“Yes, hehehe.. but it’s with technology. Heatech blocktech technology, do you know?.. it’s make your body still warm,” kata saya sambil nunjukin megang bahan dalemnya seperti apa. Orang lokal tadi lalu pasang wajah heran aja.. tapi ngerti sih kayaknya dia.

(2) Dalaman kaos juga beli yang heatech

Karena dingin gila, dibawah nol derajat, tentu saja bawaan saya kebayang mesti berapa jaket tebal? So, jangan kebanyakan bawa jaket. Paling banyak bawa 2, satunya cadangan kalau misal basah apa terlalu kotor. Yang penting itu baju dalaman kamu juga harus yang hangat, belilah kaos heatech juga. Levelnya beda-beda untuk heatech ini, ada yang heatech biasa untuk sehari-hari biasa saja pakai kerja juga sebagai dalaman di ruang ber-AC.

Ditengah itu lebih terasa hangat extrawarm. Ini saya beli beberapa dan memang anget, di cuaca minus 5 tetep bakal kedinginan sih kalo cuma pakai ini, paling tidak tapinya kan luaran jaket nggak ketebelan. Nah di atas extra warm ada ultra warm yang cocok buat lingkungan bersalju dibawah nol. Perbedaan tingkat kehangatan ini juga membedakan harga. Saya ngicernya kalau diskon. Walau hanya dikurangi 100-150 ribu itu rasanya menghemat, lumayan.

uniqlo discount

Ohya perlu diingat karena harganya lumayan, perawatan cara cucinya harus bener juga. Jangan dipakaikan pengering baju dan jangan diputar kelamaan. Walau Uniqlo tetap aja pencucian yang nggak sesuai bisa buat baju nggak awet.

(3) Ganti Sleeping Bag dengan Weather Emergency Bag

Sleeping bag buat saya paling menuhin tas, bahkan tas setengahnya itu cuma buat sleeping bag. Saya dilema, ditinggal apa nggak nih? Tapi serius ini mesti tetep bawa tas gede 50L dan itu kelihatan tidak seimbang dengan tinggi saya. Jadi saya tinggal aja deh itu sleeping bag. Tadinya berfikir tanpa sleeping bag saya bakal tetep kedinginan karena subtitusinya akan tidur pakai jaket tebal cadangan (yang bukan down jacket, hanya bahan thermal).

Namun kenyataannya, tetep kedinginan di suhu minus. Padahal juga di lodge ada selimut bed cover. Ajaib, saya baru merasa hangat saat memakai emergency bag yang dibeliin temen. Berbahan semacam alumunium foil berbentuk plastik besar seukuran tubuh yang bisa dilipat. Ini merupakan penghantar panas tubuh yang buat tubuh tetap hangat. Dipakainya seperti sarung, jadi kita masuk ke dalam kantong itu.

Kekhawatiran saya soal tidur kedinginan teratasi dengan emergency bag ini. Cuma ada kekurangannya juga, hehe. Jadi si kantong yang menghantarkan panas tubuh ini menjadikan tubuh kita berkeringat, mirip kalau lagi sauna. Alhasil saat pakai itu memang hangat tapi sekaligus ada basah keringat. Cuma ya di Himalaya keringat saya jadi es di dalemnya hehehe. Ya sudah, pagi-pagi keringat yang jadi es itu tinggal ditebas-tebas aja. Malah gampang bersihinnya.

(4) Pakai Vacum Bag, Biar Isi Tas Kempes

Satu lagi yang lumayan buat muatan tas jadi kempes, hehehe. Beli vacum bag, bisa dicari di online macam Tokopedia. Harganya dibawah 50 ribu, untuk 4 plastik vacum. Jangan lupa pilih vacum bag yang tanpa vacum penyedot. Jadi tidak pakai pompa, cukup diplintir aja, ditenet sampai udaranya keluar mengempis.

(5) Beli Daleman Sekali Pakai Lalu Buang

Karena tidak ingin banyak barang bawaan kotor, saya beli CD yang sekali pakai lalu buang. Ini lebih praktis dibanding bawa pulang baju dalaman yang kotor lagi ke rumah. Cuma untuk wanita tetap harus bawa bra yang bener. Tapi saya nggak saranin kamu buang sampah di gunung ya. Kalau ini kan beda, di Himalaya saya menginap di lodge yang punya tempat sampah dan sistem pembuangan sampah. Disana sih bersih, hampir tidak ada sampah karena ada tempat khusus buat buang sampah. Tidak seperti di gunung Indonesia.

extra warm uniqlo

 

(6) Sepatu Multifungsi dan Ringan

Karena ke daerah bersalju saya mesti pakai yang tahan air. Lalu perhatikan fungsinya, desainnya yang masih bisa digunakan buat jalan di kota, nggak sekedar di gunung aja. Jadi nggak perlu banyak bawa sepatu. Cukup 1 dan satunya sandal jepit, walau kalau di daerah dingin sandal jepit nggak terpakai secara dingin nauzubillaaahh..

Ohya sepatu juga pilih yang ringan, pengalaman punya sepatu trekking berat itu menyiksa. Siksaan untuk membawanya juga saat memakainya, langkah kaki terasa lebih berat dan luka-luka di bagian dalam jika sol sepatu penyanggah tidak bagus. Mahal sedikit nggak apa yang penting nyaman dan ringan menurutku.

Cukup nih 6 tips aja?? Mungkin ada yang ingin menambahkan??? Lihat foto pertama di atas kan? Saya hanya membawa carriel 32 L hehe, bisa kelihatan sebagaimana tingginya tidak melebihi kepala dan beratnya 5-7 kg saja (dibanding temen sampai 12kg). Saya tambahin lagi, kalau masih merasa tetap berat bawaannya dipunggung, sewa porter aja kak hehe 😂✌🏻.

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Itinerary Pendakian ke Everest Base Camp (EBC)

Sekedar sharing, untuk kamu yang penasaran dengan itinerary selama 2 pekan pendakian ke Everest Base Camp (EBC) naik dan turun. Ohya, sebaiknya pilih visa 30 hari karena penerbangan menuju dan dari Lukla tidak dapat diketahui kondisi pastinya disebabkan cuaca.

ITINERARY EVEREST BASE CAMP (EBC)Disesuaikan Visa: maksimal permit 30 hari $USD 40 : sekitar Rp 540 ribu.

Day to Day Itinerary

Day 1 : Sabtu, 10 Februari 2018

Departure /Arrival in Kathmandu-flight to kath 04.35 – 11.40-Mengurus VOA di Bandara. Day 2 : Minggu, 11 Februari 2018

Flight from Kathmandu to Lukla, penerbangan pagi,-pilihannya dua planning bisa didiskusikan lagi. Jika tiba pagi langsung trekking dan saran saya hari itu targetnya Desa Monjo agar perjalanan selanjutnya tidak terlalu berat. Melewati desa Phakding (2652m): durasi sekitar 3-4 jam, istirahat makan. Akan tiba sebelum jam5 sore atau jangan sampai hari gelap sebisa mungkin sudah ketemu tea house atau lodge di Monjo.

Day 3 : Senin, 12 Februari 2018

Trekking from Monjo to Namche Bazaar (3440m): durasi 4-5 JamIni trekking 5 jam sebenernya terbilang standart santai banget. Bisa dikondisikan lagi.

Day 4 : Selasa, 13 Februari 2018

At Namche Village : Acclimatization and Rest Day (istirahat) Bazzar di Namche ada tiap Sabtu. Di Namche bisa nonton film sherpa, jalan- jalan keliling desa, ke museum dll.Day 5 : Rabu, 14 Februari 2018

Trekkingfrom Namche to Tengboche (3800m): 5 jam Rencana awalnya begitu, tapi karena masih siang, kami meneruskan ke Debuche, tiba sekitar pukul 3 sore dan menginap disana.

Day 6 : Kamis, 15 Februari 2018

Trekking from Debuche Village to Dingboche (4360m): 6-7 JamPemandangan jembatan, sungai, dan vegetasi datar.

Day 7 : Jumat, 16 Februari 2018

Trekking from Dingboche to Tabuche (4600m): 3-4 Hours.. istirahat bisa lanjut trekking dari Tabuche to Lobuche (4940m) sekitar 2-4 jam (lihat kondisi) mulai rentan terkena AMS karena angin kencang.Day 8 : Sabtu, 17 Februari 2018

Trekking from Lobuche to Gorakshep (5150m) jaraknya cukup dekat sepertinya tapi matahari terik dan angin serta penyakit ketinggian bisa memengaruhi fisik.

Day 9 : Minggu, 18 Februari 2018

Trekking from Gorakshep to Everest Base Camp (5364m), back to Gorakshep: 7-8 jam Kalapatthar (5545m)karena kecapekan menginap semalam lagi di Gorak Shep.

Day 10 : Senin, 19 Februari 2018

Gorak Shep to Pheriche (4280m): 7-8 Jam btw biasanya trekking turun lebih kerasa cepet kan… tapi nggak juga. Trekking from Pheriche (3440m): sampai jm6 sore.

Day 11 : Selasa, 20 Februari 2018

Trekking from Pherice to Namche: 8 Jam jauh terasa, walau turun.Day 12 : Rabu, 21 Februari 2018

Namche to Lukla hampir 12 jam trekking, yang seharusnya dicicil Lukla to Phakding, kami pun sampai jm8 malam. Karena harus mengejar pesawat.

Day 14 : Kamis, 22 Februari 2018

Lukla to Kathmandu pesawat pagi, tapi penerbangan cancle 3 kali hehehe cuaca buruk.Extra day (untuk antisipasi kondisi penerbangan)

Day 15 : Jum’at, 23 Februari 2018

Extra day (untuk antisipasi kondisi penerbangan)

Day 16 : Sabtu, 24 Februari 2018

Jalan-jalan terakhir di Thamel dan pulang dari Kathmandu jam 9 malam.Day 17 : Minggu, 25 Februari 2018Transit KL dan departure to CGK, Indonesia ✈️✈️✈️Sumber Wikipedia : From Lukla, climbers trek upward to the Sherpa capital of Namche Bazaar, 3,440 metres (11,290 ft), following the valley of the Dudh Kosiriver. It takes about two days to reach the village, which is a central hub of the area. Typically at this point, climbers allow a day of rest for acclimatization. They then trek another two days to Dingboche, 4,260 metres (13,980 ft) before resting for another day for further acclimatization. Another two days takes them to Everest Base Camp via Gorakshep, the flat field below Kala Patthar, 5,545 metres (18,192 ft) and Mt. Pumori.On 25 April 2015 an earthquake measuring 7.8Mw struck Nepal and triggered an avalanche on Pumori that swept through the South Base Camp.[6] At least 19 people were said to have been killed as a result. Just over two weeks later, on May 12, a second quake struck measuring 7.3 on the moment magnitude scale. [7] Some of the trails leading to Everest Base Camp were damaged by these earthquakes.

Di bawah ada capture itinerary awalnya, sekaligus dengan rincian biaya yang bisa di print. Tapi fix kondisi lapangan itinerary di atas merupakan rangkaian kejadian aslinya.