culinary, Kuliner, Liputan, Malaysia - Asia Tenggara, story, Traveling

Lima Rekomendasi Kuliner Malam di Petaling Street

Setelah enam tahun saat pertama kali ke Malaysia tahun 2013 silam akhirnya aku berkesempatan lagi buat menyambangi Kuala Lumpur (KL)! Sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan Negeri Jiran, jika bukan karena ada business trip alias perjalanan dinas a.k.a liputan 2 hari untuk peluncuran ponsel gaming Black Shark di KL.

Curi-curi waktu setelah liputan beres akhirnya kulineran aja deh malam-malam ke Petaling Street. Aneh juga sih, sebenarnya aku tuh nyari lokasi lain untuk dijelajahi melalui maps karena dulu sudah pernah ke Petaling Street. Mulanya ke Pasar Seni, tapi ternyata lokasi dekat sekali berjalan kaki ke Petaling Street yang juga merupakan kawasan China Town dan masih ramai padahal jam di tangan hampir menujukan pukul 21.00 waktu KL.

Ternyata beda lho atmosfer pagi menuju siang dan malam di Petaling Street. Setelah merasakan suasana yang beda aku malah menyarankan kalian yang pemula banget backpackeran keliling Asia Tenggara buat kulineran malam aja di Petaling Street dan cobain 5 rekomendasi kuliner berikut!

(1) Makan di Restoran Kim Lian Kee

Ini restorannya guys, di luar aja makannya sambil menikmati suasana malam

Teman-teman serombongan liputan dari Jakarta makan di sini, lokasinya gampang banget dicari dari depan plang Petaling Street lurus aja terus lalu belok kanan berdekatan dengan penjual Chesnut Berangan. Menunya ada aneka jenis mi, nasi goreng, jenis-jenis makanan Chinese kebanyakan. Halal apa nggak? Nggak yakin hehe karena buatku kalau restoran Chinese aku nggak berani coba dan pastikan kehalalannya. Rekomendasi aja buat kalian yang non muslim bisa kok makan di sini.

(2) Ngemil Chestnut Berangan

Ini ibu penjualnya dan beginilah bentuk kacangnya

Dari namanya aku penasaran, ini kacang berangan? Nggak banyak mikir langsung beli walau harganya 7,5 MYR kalau dirupiahkan dengan kurs Rp 3600 per 1 Ringgit jadi Rp 30.000 dan itu nggak dibohongin kok karena ada tulisan harganya dipapan. Penjualnya adalah ibu-ibu Melayu campuran Chinese karena matanya sipit. Aku nggak banyak tanya karena keburu penasaran coba, eh ternyata enak.

Jadi kacang berangan ini besar juga ukurannya, kulitnya pun keras makanya diroasted alias dipanggang gitu. Makannya enak selagi panas anget-anget. Agak susah membuka kulitnya dan lumayan capek ngegigitin tapi seru dan rasanya enak, walau lama ngabisinnya sambil keliling cari kulineran lagi habis juga dimakan berdua. Hehe

(3) Beli Air Mata Kucing

Air mata kucing, minum manis pas malem-malem. Ohya kamu bisa pilih dengan es atau tanpa es

Minuman yang serasa nostalgia, karena waktu ke sini 6 tahun yang lalu saat matahari terik dan cuaca panas-panasnya minuman inilah yang benar-benar terasa menyegarkan di tenggorokan. Harganya sekitaran 2,5 MYR atau setara Rp 15.000 saja. Rasanya manis seperti liang teh gitu dengan ada cincangan buah seperti kelengkeng di dalamnya. Mau siang atau malam menurutku tidak masalah minum ini tetap segar. Harus cobain banget selagi jalan-jalan ke Petaling Street dan cari oleh-oleh.

(4) Kim Soya Bean

Kim Soya Bean pasti bikin kenyang

Masih cari minuman? Di Petaling Street ada juga nih es susu kedelai alias Kim Soya Bean yang sudah terkenal itu. Cocok buat yang ingin malem-malem lapar tapi males makan dan ingin tambahan nutrisi dari protein nabati hehe. Menurutku harus banget coba, tapi kalau masih kenyang bisa keliling dulu deh muter-muter biar laper dan haus lagi terus beli Kim Soya Bean.

(5) Beli Sate-Satean

Dipilih-dipilih satenya, ini temen liputanku Galuh yang bisa makan sate babi

Masih laper tapi ya nggak laper banget, bisa nih beli sate-satean di Petaling Street. Nah, selain ada berbagai jenis sosis, kepiting, ayam, temenku di sini juga ambil sate babi merah FYI aja karena dia protestan jadi halal makan itu. Hehe kalo aku nggak boleh, cukup dengerin komentarnya aja gimana rasanya. Katanya ini babi nya manis. Nelen air liur deh kakak hehe.

Saat dateng kamu bakalan dikasih piring buat menaruh sate yang dipilih. Terus penjualnya akan grill satenya tapi ada yang digoreng juga sih dicampur bumbu dan tepung terlebih dahulu. Kelihatannya enak, cuma karena ada babinya aku ga beli. Kan kena minyaknya pula walau nggak makan.

Jadi itulah guys, 5 rekomendasi buat kulineran malam di Petaling Street saat kamu ke Kuala Lumpur. Masih banyak restoran sebenarnya, namun karena waktu terbatas kan.. bisa lho mampir lain kali (kalo ada yang bayarin tiket pesawat sama hotelnya) kwkwkw.

Advertisements
culinary, Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story

Mencoba Impossible Foods di Marina Bay Sands Singapura

Patty yang dibuat dari tanaman juga biji-bijian, tapi serius rasanya mirip daging kornet mentah

Yeahhh! Jalan-jalan lagi ke Singapura, diundang lagi untuk nyobain makanan-makanan enak 😜.. Siapa yang bakalan nolak? Kali ini tema besarnya “Sustainable Environment” yang mungkin kita nggak nyangka, nggak tahu, karena hanya melihat sisi modern Marina Bay Sands.

Aku penasaran juga saat diberikan background dan itinerary karena mereka menyebut Impossible Foods. Hmmm, apa itu? Boleh di klik dulu … jadi Impossible Foods ini semacam start up di Amerika sana yang project-nya mengerjakan olahan makanan dengan basis tanaman namun rasanya seperti daging. FYI katanya lagi booming banget untuk mengurangi konsumsi daging merah.

Sebutlah bentuknya patty, rasanya pun mirip seperti halnya sedang makan cincangan daging sapi. Tapi siapa yang bakal nyangka? Aku pun tidak, ternyata isian burger yang ada di restoran CUT by Wolfgang Puck salah satu restoran celebrity chef di Marina Bay Sands Singapura ini berbahan dasar sayuran dan biji-bijian, sama sekali tidak ada unsur daging di dalamnya. Wow. Very awesome!

Impossible food, sebuah kreasi terbaru di Marina Bay Sands Singapura untuk kulinernya bagian highlight program sustainability enviroment. Dengan tiga restoran celebrity chef kenamaan yang ada di tempat ikonik Singapura ini yaitu di Adrift by David Myers, Bread Street Kitchen milik Chef Gordon Ramsay, dan CUT by Wolfgang Puck. Para penikmat kuliner maupun traveler yang singgah di Singapura bisa mencoba sisi lain kelezatan Impossible Food ini. Penasaran banget kan?

Aku beruntung banget bisa coba! Impossible Foods dari tiga restoran yang pertama dari delapan restoran yang akan menggunakan Impossible Foods di Marina Bay Sands Singapura. Plant-based beef dari Impossible 2.0 ini tidak mengandung gluten, kolesterol, dan animal hormone maupun antibiotik. Impossible foods dibuat dari daging nabati yang bersertifikat halal serta protein dan rasa leghemoglobin protein kedelai, suatu molekul yang menghasilkan rasa “daging”, sehingga walaupun sama sekali tidak dibuat dari daging rasanya hampir tak bisa dibedakan dengan daging.

Pertama aku diajak untuk mencoba menu di restoran Bread Street Kitchen (BSK) by Gordon Ramsay. Executive Chef Sabrina Stillhart dari BSK membuat tiga menu salah satunya yaitu The Impossible Flatbreat yang seperti pizza ini menjadi makanan pembuka. Adonan pizza tipis diberi berbagai topping yang terasa seperti daging namun sebenarnya terbuat dari tumbuh-tumbuhan.

“The Impossible Foods kita ciptakan sebagai tambahan untuk menu diet yang ditawarkan disini. Meski dibuat dari bahan dasar tanaman, rasanya tetap seperti daging yang kaya rasa dan tekstur yang tentu akan disuka para pecinta daging,” kata Chef Sabrina, sambil masak.

Tentu buat kamu yang sudah mengenal restoran ternama BSK by Gordon Ramsay, tahu dong kalau disini signature dishes yang terkenal adalah Beef Wellington. Nah, sajian ini kemudian dimodifikasi menggunakan daging patty dari Impossible Foods yang berbasis sayuran. Rasa daging di dalam adonan pastry renyah tetap terasa dalam tiap lapisnya, menu ini pun bisa jadi pilihan untuk vegetarian dan pecinta kuliner yang sedang mengurangi asupan daging merah. Disini ada juga kreasi The Impossible BSK Burger yang patty nya berbasis tanaman, dibandingkan dengan menu The Impossible Wellington tekstur dan rasanya sangat juicy seperti halnya menikmati burger berbasis olahan daging sapi.

The Impossible Sausage Roll sebagai salah satu jenis favourite Aussie comfort food

Karena takut kekenyangan, aku hany makan dua slice saja hehehe.. lalu berlanjut ke restoran Adrift by David Myers yang membuat The Impossible Sausage Roll sebagai salah satu jenis favourite Aussie comfort food. Hidangan sausage roll meski memakai bahan berbasis tanaman tetap terasa enak, bahkan tidak akan ada yang menyangka kalau isiannya bukan dari cincangan daging.

Perpaduan rempah seperti bawang putih, bawang merah, bubuk pala, ikut memberi rasa sedap sausage roll terasa tradisional berpadu lapisan pastry yang dipanggang dengan sempurna. Ini sih menurutku yang bikin beda dibanding The Impossible Wellington di restoran BSK by Gordon Ramsay, rasanya lebih berempah ada harum rosemary bahkan yang bisa aku cium juga bawang putih.

Dipanggang dulu dong patty-nya

Belum kelar nih petualangan kuliner hari itu, lanjut lagi jalan ke restoran CUT by Wolfgang Puck, kamu bisa menemukan burger mini dari Chef Joshua Brown yang mengkreasikan The Impossible Sliders menjadi remake dari signature restoran ini sebelumnya yaitu Mini Kobe Beef Sliders. Tiap gigitan patty terasa lembut dengan rasa dan aroma habis dipanggang yang menggoda pecinta burger. Meski isianya hanya party berbasis tanaman, keju dan saus tomat sederhana tanpa sayuran rasanya tetap sempurna.

Rasanya penasaran dan langsung ingin coba tentunya? Langsung saja kunjungi Marina Bay Sands di Singapura untuk menjawab rasa penasaran kami. Harga tiap menu tadi bisa didapat mulai dari $ 14 – 25 Dollar Singapura.

Ini burger saat masih ditata, btw burgernya mini aja
culinary, Food, Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, SUMATERA SELATAN - PALEMBANG, The Journey, Traveling

Jalan-Jalan Ke Kota Palembang, Bukan Cuma untuk Kulineran Pempek!

Kalau kamu menyimak perhelatan ASIAN Games yang baru saja selesai akhir pertengahan 2018 ini, mungkin kamu pernah bertanya-tanya. Selain di Jakarta kok ada Kota Palembang sih yang jadi tempat penyelenggaraannya? Hmmm.. kenapa ya kira-kira? … *nanti diakhir coba aku jelasin

Nah, kebetulan (padahal di dunia ini semuanya tidak ada yang kebetulan lho). Nggak lama setelah ASIAN Games itu aku dapat kesempatan liputan ke Kota Palembang. Yassss! Sekalian dong kesempatan diajak kulineran.

FYI aku berangkat pagi hari, pesawat take off sekitar pukul 9.30 pagi dari Jakarta dan dengan penerbangan sekitar 1 jam lamanya kami sampai hampir tepat di waktu makan siang. Hufftt! Palembang panas sekali, kalau kalian mau tahu. Cuacanya mirip seperti waktu aku ke Bangka Belitung terik mataharinya hampir 35 derajat di bulan September lalu.

Kali ini aku bakal cerita secara berurutan saja ya, seperti itinerary kalau kamu datang ke Palembang dan enaknya ngapain aja di jam segitu atau cocoknya kulineran apa jam segini. Karena menurutku buat menikmati Kota Palembang itu perlu timing yang tepat. Oke langsung simak yuk!

DAY 1 Tiba Pukul 12:00 Siang

Makan Siang dengan Menu Pindang

1540746224714
(kanan ke kiri) Pindang Tulang dan Pindang Patin pilih mana coba?

Begitu sampai, aku langsung dibawa ke sebuah restoran yang terlihat modern. Hmm, lalu agak curiga apa enak makanannya disini? Skeptis karena biasanya tempat yang makanannya enak itu rame banget. Tapi ini sepertinya masih baru. Bener kan, biasa aja. Tapi aku rekomendasi aja buat kalian untuk makan siang yang cuacanya panas begini atau pun kalau lagi musim hujan. Cocoknya ya kulineran dengan menu pindang.

Pindang adalah masakan berkuah yang begitu terkenal di seantero Sumatera Selatan. Pindang disini ada banyak jenisnya. Nah, yang aku coba adalah Pindang Patin dan Pindang Tulang. Keduanya punya perbedaan citarasa yang menentukan selera lidah kalian juga. Kalau suka masakan berkuah kaldu aku sarankan untuk memilih Pindang Tulang yang memakai daging sapi bertulang. Namun kalau kamu penyuka pedas dan ingin kuah yang terasa segar aku rekomendasikan pilih Pindang Patin yang memakai daging ikan Patin.

Keduanya nggak salah, karena selera orang kan beda-beda. Si menu Pindang ini enaknya dimakan bersama nasi hangat dan ada tambahan sambal manga serta acar. Aku sukanya pada bagian Pindang Patin karena ada daun kemangi yang buat aromanya makin sedap, over all rasanya agak mirip Tom Yam masakan Thailand. Sementara Pindang Tulang menurutku rasanya lebih mirip seperti saat menikmati Sup Iga, sensasinya yang beda sih saat kamu melepas daging dari tulang-tulangnya sambil menyeruput si kuah kaldunya yang terasa light. Itu sih, sedikit cerita nikmatnya kulineran yang aku rasakan di siang hari bolong sebelum sampai ke hotel buat istirahat.

museum-sultan-mahmud
Salah satu sudut di Museum Sultan Mahmud Baddrudin II, foto : Trip Advisor

Pukul 14.00 Siang

Main Ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Ada waktu bebas begitu sampai hotel! Mumpung masih di Kota orang jadi aku ngajak dua reporter lain buat jalan-jalan sekitaran Jembatan Ampera. Kami pesan Grab Car! Hahaha bukan iklan berbayar ya, biar tahu aja kalau ternyata kamu bisa pesan transportasi online. Kota Palembang ya bukan kota kecil kan. Dulu bahkan katanya ini adalah Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya. Di Asia Tenggara dulu merupakan yang tertua. Wah banget aku baru tahu setelah masuk museum dan diterangkan oleh bapak Abi Sofyan, penjaga museum yang menemani kita keliling. Masuk museum ini bayar Rp 5.000 per orang, cukup murah ya. Di dalamnya sebenarnya nggak begitu bagus dan terawat isinya menurutku. Tapi sudah bagus ada museum ini jadi wisatawan lokal seperti aku jadi bisa mengenal sejarah hanya dengan melihat-lihat. Kamu bisa tahu baju adat Palembang, kamar pengantinnya, lalu cerita soal Laksamana Cheng Ho yang ternyata pernah beberapa kali datang dan ikut menyebarkan agama Islam disini. Hingga akhirnya etnis Cina juga percampurannya bisa tersebar di Palembang.

Pempek

Pukul 16.00 Sore

Waktunya Ngemil Pempek dan Beli Oleh-Oleh

Di Palembang ada banyak banget yang jualan Pempek. Di bandara pun ada beberapa brand restoran Pempek. Jadi memang nggak salah kalau disebut “Kota Pempek” haha. Tapi Pempek yang seperti apa dulu nih? Kalau googling pasti kamu bakal banyak banget rekomendasi. Menurutku sih, kembali lagi pada selera.

Nah, saat di Palembang kemarin aku mencoba 2 restoran Pempek berbeda. Untuk ngemil sore hari pertama aku mampir ke Pempek Beringing. Disini sekalian deh, beli oleh-oleh juga, ada Kerupuk Kemplang, Pempek yang versi frozen juga makanan khas Palembang lainnya. Menurut ku Pempek disini ya terasa ikannya, beda di bumbu yang lebih kental dan pekat dengan udang ebi yang sudah ada di dalam bumbu cuko.

IMG_9388
Berlatar pemandangan Jembatan Ampera, Kota Palembang di malam hari

Pukul 19.00 Malam

Makan Malam di River Side Restaurant dengan Latar Jembatan Ampera

Satu moment yang buat aku suka Kota Palembang adalah suasana malamnya dengan keindahan latar megahnya Jembatan Ampera, ikon kota ini yang dibangun sejak 1962 pada era Soekarno. Sambil menunggu menu makan malam siap, disini kamu bisa mengabadikan atmosfer malam Kota Palembang lewat berfoto menangkap dari jauh cahaya lampu terang Jembatan Ampera. Benar kata penduduk lokal yang menasehati saya waktu siang hari bertanya gimana cara ke Jembatan Ampera. Tempat ini memang lebih bagus dilihat saat malam hari.

Makan malam di River Side menurutnya biasa saja rasanya, standart. Namun karena suasananya semua terasa jadi enak, hehe. Aku tetap rekomendasikan tempat ini untuk kamu menghabiskan waktu malam menikmati suasana kota. Jangan lupa supaya pulangnya minta diantar untuk melewati Jembatan Ampera, supaya kamu pun merasakan gimana megahnya (dan menurutku memang terasa megah) jembatan ini. Sementara di siang  hari aku melihat kawasan ini terlihat kumuh ya. Ada pasar di dekatnya dan di kolong jembatan ada pedagang kaki lima berjualan. Bahkan seperti ada pasar kaget orang lokal yang menjual barang bekas. Aku agak kecewa ternyata Palembang kalau siang hari terlihat kumuh di kawasan ini.

Aku sih berharap, Kota Palembang yang merupakan salah satu Kota besar di Nusantara dan yang notabene dulunya ibu kota Kerajaan Sriwijaya bisa lebih bagus tertata. Wah, kemana aja ya dana Anggaran Pembelanjaan Daerah (APBD) kalau kotanya masih kumuh begini. Memang di kota Pempek ini karena beberapa kali sempat jadi tempat perhelatan olahraga skala Internasional, ada stadion besar dan pembangunan LRT hingga ada moda transportasi itu sekarang.

Tapi menurutku sisi latar sejarah Palembang, Kerajaan Sriwijaya, dan katanya dulu dijuluki “Venice From The East” seharusnya tidak begini. Harus banyak perbaikan, seperti yang kulihat dari Kota Semarang yang jauh berbeda ketika tahun 2011 pertama kali aku berkunjung dan di tahun 2018 kemarin Semarang menjadi lebih tertata apik.

Martabak HAR dyahpamelablog
MARTABAK HAR yang terinspirasi kuliner India, harus dicoba kalau ke Palembang

DAY 2 Pukul 15.00

Ngemil Martabak HAR dan Pempek Lagi!

Hari kedua di Kota Palembang yang sembari business trip itu aku menyerah karena sehari saja sudah kekenyangan, tapi belum semua kuliner khas di kota ini aku cobain. Mesti di capslock ya BELUM SEMUA. Akhirnya, pilihlah yang sekiranya buat aku penasaran seperti Martabak HAR yang memang beda dari martabak yang pernah aku cobain.

Martabak HAR diperkenalkan oleh Haji Abdul Rozak tahun 1947, tempat ini menyajikan makanan khas India yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Nggak heran kalau ada kuah kari kental dengan daging sapi dan kentang sebagai pasangan saus untuk si martabaknya yang cenderung tidak berasa karena hanya adonan terigu dengan isian telur tanpa daun bawang seperti martabak kebanyakan. Pokoknya harus coba menurut ku sih di tempat lain di Indonesia nggak ada soalnya, cuma di Palembang.

Menjelang sore akan siap-siap ke bandara, lalu aku diajak makan Pempek lagi. Hahaha, biar eneg deh sama Pempek pokoknya mumpung lagi ada di Palembang. Sekejap aku merasa kalau memang kurang cocok dengan Pempek berkuah asam. Soalnya di hari pertama pun aku sudah nggak enak badan dan upppss tidak perlu disebutkan disini bagaimana gejolak asam lambungku lantas menyebabkan apa. Tapi guys, masih banyak kuliner Palembang lain lho. Ada Mi Celor juga, hahaha maafkan karena perutku sudah nggak sanggup. Mungkin next time ya kalau kesempatan berkunjung ke Palembang lagi.

culinary, Food, Indonesia, JAVA - Indonesia, Kuliner, Liputan, story, The Journey, Traveling

Sehari Kulineran Legendaris di Kota Semarang

Cerita business trip singkat yang cuma sehari semalam di Kota Semarang masih berlanjut guys! Kalau kemarin aku sudah posting tentang bangunan penuh sejarah Lawang Sewu, selanjutnya tidak boleh ketinggalan kalau ke Kota Lumpia adalah jelajah kuliner legendarisnya yang terpengaruh era kolonial Belanda dengan percampuran budaya Jawa dan Cina juga.

Tapi tunggu dulu, masih ada yang bingung kah sama istilah legendaris? Menurut pakar kuliner William Wongso, kuliner bisa dikatakan legendaris bila sudah masuk generasi ke-3, artinya sampai cucu ya diturunkan dan usia kulinernya sekitar 150 tahun. Namun, 5 tempat kuliner ini tetap bisa disebut legendaris kok, rata-rata dimulai sekitar tahun 1920-an hingga tahun 1987-an dan dari awal tempat makan berdiri sampai sekarang rasanya masih sama. Yuk langsung disimak apa aja 🙂

Soto Semarang yang bening, kuahnya kaldu banget

(1) Nasi Pindang Gajah Mada

Begitu sampai Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, aku langsung dijemput tim Public Relation (PR) Ciputra dan tak lama elf kami menuju tempat kuliner legendaris pertama yaitu Nasi Pindang Gajah Mada. Langsung saja terbayang piring dengan alas daun dan nasi yang disiram kuah pindang dari kaldu sapi panas. Slurrpp, rasanya nggak ketulungan ngilernya.

Sampai aku menuliskannya di blog, masih terasa enaknya kuah pindang sapi yang memakai nasi dengan porsinya memang sedikit. Kata Pak Masyudi, pemilik Nasi Pindang Gajah Mada, dulu priyayi di Kesultanan Yogyakarta dan Solo itu kalau disuguhkan makanan ya porsinya kecil segini.

Rasa Nasi Pindang Gajah Mada tidak berubah sejak tahun 1987. Semuanya berkat racikan bumbu menggunakan bawang lanang tunggal yang punya ciri khas aroma berbeda dan ada khasiat menurunkan tekanan darah tinggi. Selain menu andalan Nasi Pindang, sejak tahun 1990-an Pak Masyudi ikut memberikan pilihan menu Soto Semarang, yang cocok rasanya untuk Anda yang suka dengan kuah bening.

Nah, aku juga mencicip Soto Semarang yang bening ini, sesuai selera aku banget memakai tauge yang kecil dan berbagai pelengkap seperti daun seledri. Karena porsinya kecil, setelah nyobain nasi pindang sah sah aja tuh kalau mau nambah seporsi Soto Semarang. Nggak kan bersalah sama perut.

Nasi Pindang Gajah Mada

Alamat : Jl Gajah Mada no 98 B, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 17.000

Jam Buka : 06.00 – 22.00

Bayangkan kepala Ikan Manyung sebesar ini, apalagi badannya?

(2) Warung Kepala Manyung Bu Fat

Kemudian, jelajah kuliner berlanjut agak jauh dari pusat kota yang butuh sekitar 30 menit berkendara. Ada Warung Kepala Manyung Bu Fat yang begitu terkenal dan sangat khas kota Semarang. Kepala Manyung yang berukuran besar itu sebelumnya diasap diberi bumbu pedas khas Bu Fat. Di warung makan ini, ikan manyung didapat dari perairan Jepara, Cirebon, hingga Banyuwangi.

Selain ikan manyung yang khas dan harus dicoba ketika datang, temukan juga macam hidangan lain sebagai pelengkap mulai dari sayur, goreng-gorengan, botok, hingga lalapan. Aku rekomendasi kamu untuk pesan kepala manyung buat makan sharing, hehe. Karena pedesss banget bumbunya ambil nasinya juga mesti banyak hehehe. Cocok buat makan siang, yang agak berat ya.

Warung Manyung Bu Fat

Alamat :

Cabang 1 Jl Sukun Raya No 36, Srondol Wetan, Banyumanik

Cabang 2 Jl Ariloka, Kerobokan Semarang Barat

Harga Per Porsi : Rp 75.000 – 150.000

Jam Buka : 07.00 – 19.00

Pisang plenet yang di Jalan Pemuda

(3) Pisang Plenet

Mendekati sore hari aku diajak tim public relation Ciputra mampir untuk menikmati dessert. Pisang Plenet yang sudah terkenal di Semarang sejak tahun 1960-an tentu cocok jadi makanan kudapan sore. Pisang plenet dibuat dari pisang kepok yang dibakar lalu dipipihkan dan diberi topping aneka rasa.

Sang penjual, Pak Tri telah berjualan pisang plenet dengan gerobak di jalan Pemuda sejak awal. Semula, pisang plenet hanya menggunakan topping nanas, mentega, dan gula putih halus. Namun seiring waktu ada banyak rasa ditambahkan seperti menggunakan keju dan meses cokelat.

Pisang Plenet

Alamat :  Jl. Pemuda, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 8.000

Jam Buka : 10.00 – 22.00

Asem-asem Koh Liem yang seger dan melegenda itu

(4) Asem-Asem Koh Liem

Perut sudah bener-bener kenyang hehe. Sehari rasanya memang nggak cukup buat nyobain semua kuliner legendaris di Semarang. Makanya kapan nanti aku niat banget untuk balik lagi ke Semarang buat liburan. Nah, untuk makan malamnya, aku menyambangi juga warung yang juga legendaris di Semarang yaitu Asem-Asem Koh Liem.

Spesial menu asem-asem disini menggunakan daging dan urat. Dalam semangkuk asem-asem, rasa asem berasal dari tomat, belimbing wuluh, dengan pedas dari cabe merah rawit dan kecap merek Mirama khas produksi Semarang, menjadikan menu asem-asem disini makanan khas yang Semarang banget. Menu di tempat ini berisi berbagai sajian dengan pencampuran Jawa Tiongkok, selain pesan semangkuk asem-asem coba juga telur goreng sum sum yang begitu gurih dan enak.

Asem-Asem Koh Liem

Alamat : Jl. Karang Anyar No. 28 Semarang

Harga Per Porsi : Rp 33.000

Jam Buka : 07.00 – 17.00

Ini es krim jadul di Toko Oen yang aku cobain

(5) Toko Oen

Terakhir, jika ke Semarang jangan lewatkan untuk menyambangi Toko Oen. Kalau memang sudah nggak kuat makan maka kesini ya untuk beli oleh-oleh seperti lumpia. Sudah turun-menurun tempat ini mempertahankan cita rasa makanannya, bahkan interiornya masih bergaya Belanda. Menjadi saksi sejarah penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.

Ada banyak jenis roti jadul seperti roti gandjel rel, tapi katanya juga disini yang enak roti telurnya. Aku bawa pulang ke Jakarta dengan harga rata-rata satuannya Rp 6.500. Rasanya nggak ada roti dengan rasa klasik ini ada di Jakarta.

Toko Oen

Alamat : Jl. Pemuda No.52, Bangunharjo, Semarang Tengah

Harga Per Porsi : Mulai dari Rp 6.500 untuk bakery dan pastry

Jam Buka : 09.30 – 21.30

Kulineran yang aku sambangi ini belum ada apa-apanya lho, tapi lumayan lah sudah mewakili rasa legendaris Kota Semarang. Menurut Irzal, dari Kompas.com, teman media yang seperjalanan diundang sama Ciputra, masih ada Es Krim Cong Lik yang jadul dan mesti dicoba juga. Nah, makin kepingin balik lagi rasanya..

Bersama teman-teman media dari Jakarta dan media lokal di Semarang, serta tim public relation Ciputra
Backpacker, culinary, Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (3) Kulineran dan Belanja Oleh-oleh di Kota Thamel

“Ini kok itinerary-nya dua hari di Thamel, ngapain lama-lama. Jalan-jalan di kota habis trekking aja, nanti keburu capek,” saran seorang teman lama yang sebulan lebih dulu pergi trekking ke Himalaya.

Saya tiba malam sekali, pukul 22.30 waktu Khatmandu. Sengaja mengambil pesawat sore dari Jakarta maksud hati tidak ingin berteman kemacetan. Bisa siang dari rumah di saat orang-orang sudah berangkat kerja. Namun, perkiraan itu salah. Rasanya macet Ibu Kota sudah tak kenal waktu lagi.

Ditambah, siangnya sebelum ke bandara saya ke Kawasan Sarinah dulu untuk menukar mata uang Dollar. Celakanya, tak segera sadar, jam di tangan sudah menunjukan pukul 13.00, PANIK iya, lalu langsung membatalkan rencana untuk ke Gambir naik bus Damri, karena perkiraan saya bila menggunakan moda transportasi itu harus menunggu penumpang agak penuh.

Oke judulnya kulineran dan oleh-oleh ya, selingannya banyak banget hehe…

Saya baru keliling Kota Thamel pukul 10.00 pagi. Entah kenapa, hening sekali suasana Kota di jam 07.00 pagi, karena alasan itu juga saya santai-santai saja di dalam hotel. Cuma beres-beres perlengkapan dan mandi, lumayan capek juga baru tiba semalam. Penerbangan lebih dari 6 jam dengan 1 jam transit di KLIA Malaysia dirasa sedikit melelahkan.

So, ada aroma dupa. Thamel penuh jajaran kios-kios rapih beberapa blok yang hampir kesemuanya menjual barang-barang serupa. Kesan saya, negara ini begitu etnik, unik, semua tentang hand crafting berupa rajutan buatan tangan, dan Thamel begitu populer untuk turis.

Hanya agak sedikit terganggu saja ketika membuka kamera lalu ada orang lokal yang menawari menjadi guide atau jasa porter pendakian ke Himalaya.

Ada banyak agen tour disini.. tapi saya tahu dari membaca kalau mendaki Himalaya tanpa guide atau porter itu sangat mungkin, jadi saya yang budget traveler ini meminimalisir biaya tersebut untuk dialihkan ke cost lain seperti oleh-oleh. Toh membawa beban 5-7 kg pun terasa masih sanggup.

Rekomendasi apa saja untuk kuliner di Thamel?

Kalau menginap di sebuah guest house atau hotel, tentunya mereka punya restoran.. sebenarnya tak perlu jauh-jauh pergi, pesan saja di restoran tempat menginap.

(1) Mulailah dengan memesan secangkir Masala Tea

Harganya sekitar 60 Rupee Nepal hingga 100 Ruppe Nepal. Waktu saya kesana kurs-nya 1 U$D adalah 101,5 itu berarti harganya sekitar 1 USD atau kalau dirupiahkan Rp 10.000 – Rp 13.500 untuk harga di Thamel, karena kalau di pedesaan semakin tinggi gunung semakin mahal harga makanan dan minuman.

(2) Makan Siang/Malam Dhal Bhat

Dhal bhat itu wajib banget harus dicoba ketika datang ke Nepal. Namun memang porsinya gede, bisa buat makan 2 orang satu porsinya. Harganya sekitar 300 Rupee atau 3 U$D per porsi dengan nasi biryani yang butirannya panjang-panjang, kari tergantung pesannya chicken curry atau beef curry, lalu ada acar dan kerupuk khas sana juga sayuran yang dimasak dengan curry.

(3) Camilan Khas Mengenyangkan, Momo

Momo semacam dumpling atau dimsum kalau di masakan Cina. Isinya bisa vegetarian berupa sayuran atau juga ayam. Bumbunya kalau di Thamel menggunakan campuran tomat, coriander atau daun ketumbar, dan lada putih. Rasa bumbunya agak asam. Harganya cukup terjangkau 150 Rupee saja atau sekitar 1,5 U$D.

(4) Minuman Lassi

Saya penasaran dengan kata lassi itu apa jadi mencobanya. Ternyata minuman lassi adalah yogurt. Jadi kalau disebut banana lassi itu berarti buah pisang yang di-blender bersama yogurt kebayang kan rasanya seperti apa, ya mirip-mirip milkshake jadinya.

(5) Makanan ala Western

Ada banyak kios yang menjual makanan Western seperti kentang goreng dengan ayam goreng renyah. Lalu sausnya yang agak beda sih, menggunakan yogurt kental yang ditambah potongan bawang merah besar. Terbayang enaknya? Kalau lapar apapun pasti enak.

Rekomendasi Oleh-oleh yang Bisa Dibeli di Thamel :

(1) Masala Tea

Masala tea dikemas sebagai oleh-oleh yang menarik karena sekalian dapet tas kecil. Satuan bungkus masala tea ukuran 100 gram itu harganya sekitar 150 Rupee hingga 200 Rupee atau 1,5-2 U$D, tergantung banyaknya membeli dan pintarnya kamu menawar.

(2) Hand Crafting

Ada banyak hand crafting. Misalnya rajutan kaus kaki, rajutan slayer untuk leher dan penutup kepala juga bandana. Menurutku buatan Nepal cukup rapih, harganya pun masih terjangkau sekitar 100-300 Rupee Nepal atau 1-3 U$D.

(3) Kartu Pos Gambar Pegunungan Himalaya

Ini lumayan murah untuk oleh-oleh, harganya 20 Rupee Nepal saja per satuan, bisa beli banyak atau nge-posting di kantor pos-nya. Tapi lihat lagi, hari apa kamu ada disini, hari libur, tanggal merah atau hari biasa.

(4) Tempelan Kulkas

Kalau benda yang satu ini rasanya umum sekali untuk dibeli sebagai oleh-oleh ya. Ada banyak pilihan, rata-rata harganya hampir 200 Rupee atau 2 U$D, cari tempelan kulkas bertuliskan Bandara Tenzing Hillary atau pegunungan Himalaya yang kamu suka, Everest atau Makalu, Annapurna?

(5) Pasmina dari Wol Yak

Ini termasuk hal unik sebagai oleh-oleh katena di Nepal hewan Yak itu sangat dimanfaatkan sebagai transportasi, juga diternakan untuk diambil dagingnya dan ternyata juga diambil bulunya untuk dibuat pasmina. Harganya bila diskon sekitar 300 Rupee atau 3 U$D.

(6) Bendera Doa

Bendera doa jadi ikon yang sangat kental dengan Nepal. Bahkan ini ditemukan di jembatan, tempat pendakian juga dipasang di jalan-jalan di Kota Thamel. Ada banyak kios yang menjualnya harganya juga murah sekitar 100 Rupee saja atau 1 U$D. Namun saya tak membelinya, karena tidak ingin itu justru menambah barang di kamar saya.

culinary, Food, Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Suatu Siang di Kedai Kopi Piltik, Toba Samosir

Coffee shop di tengah pedesaan, agak mirip lagi di Bandung ya bukan di Toba jadinya 😀

Cerah matahari terasa agak kontras dengan sapuan angin sejuk, aku agak kaget dengan cuaca di Toba yang walau terik tapi sejuk banget. Sepoi angin membuai pipi lembut, saking sejuknya, hampir mirip di ruang ber-AC suhu 23 derajat. Rasanya seperti perpaduan antara sedang berada di pegunungan dan pinggir pantai sekaligus 😀.

Empat jam sebelum keberangkatan pesawat pulang ke Jakarta, aku dan rombongan media kali ini diajak mampir ke sebuah kedai kopi baru di Toba, Siborong-borong. Lokasinya hanya berjarak sekitar 5 Km dari Bandara Silangit.

Sangat kaget awalnya, ada tempat sekeren ini di Toba yang notabene “pedesaan” dan jauh dari hingar bingar kota. Mungkin saya masih merasa biasa saja ketika ke Kota Medan dan menemukan banyak cafe cantik mirip di Jakarta, tapi ini Toba Samosir lho… Bandara Silangit saja hanya punya kantin kecil mirip warung nasi Tegal.. ini ada coffeeshop.. luar biasa rasanya.

Suasananya mirip di Bandung

Lebih luar biasa lagi di depan coffeeshop ini ada pemandangan semacam kebun sawah, tentunya tanpa background gedung pencakar langit kota besar. Satu lagi, tidak disertai bising kemacetan, polusi asap kendaraan, dan jelas ini lokasinya bukan di dalam mall (biasa tempat ku ngopi).

Piltik, sebuah kosakata yang bagi awam terdengar aneh, tapi bagi fotografer kata ini punya makna. Aku pun baru tahu saat itu juga, Piltik diambil dari istilah dalam dunia fotografi. Apalah arti sebuah nama ya.

Tapi nama penting juga, coba aja tanya ortu nama kamu yang bagus itu artinya apa? selain doa ada makna tersembunyi. Mungkin juga ada historinya, seperti Piltik yang menurut pemilik kedai sangat meaning, berhubungan sama hobi sekaligus profesinya sebagai fotografer.

Martabe yang bikin mata melek dalam sekejap

Cuma asing saja dengan kata ini, apalagi saya yang fotogrer amatir (merangkap nulis soalnya). Ohya berhubung kurang mengerti soal kopi. Walau sudah sering dijelasin (mungkin karena tidak ada ketertarikan sama si kopi), makanya saya nggak bahas lebih jauh soal kopi disini. Suasananya aja, yang sampai sekarang pun masih mengena di hati.

Tapi kopi disini tentu beda, karena lokal tumbuh di sekitar Toba. Satu hal yang buat ku berani minum kopi disini juga karena proses penyeduhannya yang katanya nggak akan buat asam lambung. Iya jadi betul-betul dengan air masak mendidih.

Tentang kopi yang aku gak paham bagaimana membedakannya (sama-sama pahit dan agak asam juga).. ya cuma tentang adanya aroma buah tertentu, kalau tanaman kopi itu ditanam dekat pohon buah. Juga berpengaruh dari tanah tempat ditanam.

Pintu masuknya

Disamping soal kopi, justru yang membuat ketagihan disini saya cobain jus Martabe (markisa terong Belanda). Itu seger banget dan seketika buat saya jadi melek.. karena jadwal padat kurang tidur terus selama tiga hari.

Seperti biasa kalau tidur di tempat asing dan worry sama berita yang bakal dikirim. Gitu deh… zzzzZzzz

Btw jangan lupa mampir kalau ke Toba. Berikut saya input nomor kontak dan alamatnya. Hayo kamu sebagai traveler yang sudah banyak pergi ke luar negeri tapi belum ke Toba…

Ini plang coffee shop yang sekaligus ada homestay juga

 

Kedai Kopi Piltik

Buka :

Senin – Sabtu : 08.00 – 21.00

Minggu : 09.00 – 21.00

Alamat :

Jl. Sipahutar No 33, Dusun Parhasioran, Desa Lobusiregar II, Siborongborong, Tapanuli Utara.

Hp/wa : 087767776333

Email : piltikhomestay@yahoo.com

culinary, Food, Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Uniknya Pizza Andaliman di Toba Samosir

Rempah andaliman yang hanya tumbuh di Toba

PIZZA…

khas kuliner dari Italia, tapi bukan berarti tak bisa tampil beda dengan cita rasa lokal. Buktinya di Desa Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, pizza menjadi lebih unik rasanya karena menyertakan rempah lokal andaliman yang hanya tumbuh di wilayah Danau Toba. 

Akan sayang rasanya, jika berkesempatan berlibur ke Danau Toba tanpa mampir dan mencicipi pizza yang ada di gerai Pizza Andaliman. Tepatnya sekitar 15 km dari Bandara Silangit menuju Danau Toba cobalah untuk singgah sebentar ke tempat ini. Terletak di jalan Tanjung No 100 Balige, Pizza Andaliman bukan sekedar kedai pizza biasa, disini kamu akan merasakan pizza dengan rasa rempah khas Batak. 

Imelda, sang pemilik mengungkapkan telah membuka Pizza Andaliman sejak 2015 dengan ide menyertakan ciri khas bumbu rempah Andaliman. “Andaliman itu hanya tumbuh di daerah sekitar Danau Toba, rasanya cukup unik, ada sensasi getir pedas, asam dan membuat lidah sedikit kebas,” sebut Imelda.

Pizza andaliman yang menggunakan saus mayones ditambah andaliman

Pizza diberi saus, ditaburi topping berupa irisan sayur seperti wortel, jagung, keju mozarella, lalu ada sosis, cincangan ayam panggang, serta taburan keju cheedar dan tentu saja taburan cincangan andaliman. Rasa getir pedas dan asam itu utamanya tak sekedar tersaji di atas pizza, namun juga pada bumbu saus mayonese yang dicampur dengan rempah andaliman dan ada saus sambal dengan andaliman yang biasa dimakan orang Batak sebagai sambal cocolan ikan bakar dan lauk lain. 

Ketika mencicipinya, ada sensasi yang berbeda dari rasa pizza ini, terutama semakin terasa pedas unik bila menambahkan cocolan sambal andaliman maupun mayonese yang berpadu merica khas Batak tersebut. Ada aroma khas rempah andaliman yang berbeda ditambah rasa pedas getirnya.

Semua bahan saus maupun isian topping menggunakan bahan yang tumbuh di Toba Samosir. Perbedaan mencolok, pizza khas Batak ini tak menggunakan paprika seperti pizza Italia. Kemudian sausnya berbeda dibuat home made, hasil racikan oleh Imelda. 

Kedai Pizza Andaliman, ada di dekat pinggir jalan dari dan menuju arah Bandara Silangit, sekitar 15 Km jauhnya

Adapun tekstur roti terbilang tidak tebal dan tidak sepenuhnya matang sempurna. Menurut Imelda hal ini sebenarnya tak disengaja, pemakaian alat panggangan yang belum begitu modern, bukan panggangan listrik untuk panggangan pizza menjadikan rotinya tak keras dan gosong. 

Sayangnya untuk rasa, hanya ada satu jenis topping disini. Menurut Imelda memang kreasi topping pizza Batak ini untuk sementara belum dikembangkan lebih lanjut, tetapi masih mengunggulkan penggunaan rempah andaliman yang membuatnya memiliki rasa khas lokal. 

Sebelum akhirnya membuka gerai Pizza Andaliman, tempat ini dulunya dia buka untuk menjual nasi dan ikan bakar. Namun kuliner dengan rasa khas lokal dirasa akan lebih menarik minat wisatawan mencobanya. 

Rasanya unik berkat rempah andaliman, pokoknya beda dari pizza Italia, sayurnya pun beda tanpa paprika

“Awalnya juga tidak sengaja ada ide membuat pizza andaliman, karena saya pikir dengan adanya Bandara Silangit menuju Danau Toba sekarang lebih mudah dan sebagai penduduk lokal pariwisata disini juga akan maju dan siap kedatangan wisatawan dengan kuliner khas Toba,” ungkap Imelda lagi. 

Kalau sudah mencicip pizza andaliman yang unik, coba juga kopi lintong atau jus terong Belanda yang khas ada di Toba Samosir. Gerai Pizza Andaliman juga menjual sambal andaliman botolan home made dari UKM warga setempat dan mango wine yang dibuat dari fermentasi mangga di Tanah Batak.

“Mangga disini saking melimpahnya sering busuk, jatuh dari pohonnya sampai ada ibu warga lokal yang berfikir untuk dibuat menjadi mango wine dengan rasa berbeda dari wine lainnya dan harga jual lebih baik, sekarang cukup banyak peminatnya,” tambah Imelda. 

Wine mangga diolah penduduk lokal karena mangga begitu melimpah di Toba