culinary, Food, Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, SUMATERA SELATAN - PALEMBANG, The Journey, Traveling

Jalan-Jalan Ke Kota Palembang, Bukan Cuma untuk Kulineran Pempek!

Kalau kamu menyimak perhelatan ASIAN Games yang baru saja selesai akhir pertengahan 2018 ini, mungkin kamu pernah bertanya-tanya. Selain di Jakarta kok ada Kota Palembang sih yang jadi tempat penyelenggaraannya? Hmmm.. kenapa ya kira-kira? … *nanti diakhir coba aku jelasin

Nah, kebetulan (padahal di dunia ini semuanya tidak ada yang kebetulan lho). Nggak lama setelah ASIAN Games itu aku dapat kesempatan liputan ke Kota Palembang. Yassss! Sekalian dong kesempatan diajak kulineran.

FYI aku berangkat pagi hari, pesawat take off sekitar pukul 9.30 pagi dari Jakarta dan dengan penerbangan sekitar 1 jam lamanya kami sampai hampir tepat di waktu makan siang. Hufftt! Palembang panas sekali, kalau kalian mau tahu. Cuacanya mirip seperti waktu aku ke Bangka Belitung terik mataharinya hampir 35 derajat di bulan September lalu.

Kali ini aku bakal cerita secara berurutan saja ya, seperti itinerary kalau kamu datang ke Palembang dan enaknya ngapain aja di jam segitu atau cocoknya kulineran apa jam segini. Karena menurutku buat menikmati Kota Palembang itu perlu timing yang tepat. Oke langsung simak yuk!

DAY 1 Tiba Pukul 12:00 Siang

Makan Siang dengan Menu Pindang

1540746224714
(kanan ke kiri) Pindang Tulang dan Pindang Patin pilih mana coba?

Begitu sampai, aku langsung dibawa ke sebuah restoran yang terlihat modern. Hmm, lalu agak curiga apa enak makanannya disini? Skeptis karena biasanya tempat yang makanannya enak itu rame banget. Tapi ini sepertinya masih baru. Bener kan, biasa aja. Tapi aku rekomendasi aja buat kalian untuk makan siang yang cuacanya panas begini atau pun kalau lagi musim hujan. Cocoknya ya kulineran dengan menu pindang.

Pindang adalah masakan berkuah yang begitu terkenal di seantero Sumatera Selatan. Pindang disini ada banyak jenisnya. Nah, yang aku coba adalah Pindang Patin dan Pindang Tulang. Keduanya punya perbedaan citarasa yang menentukan selera lidah kalian juga. Kalau suka masakan berkuah kaldu aku sarankan untuk memilih Pindang Tulang yang memakai daging sapi bertulang. Namun kalau kamu penyuka pedas dan ingin kuah yang terasa segar aku rekomendasikan pilih Pindang Patin yang memakai daging ikan Patin.

Keduanya nggak salah, karena selera orang kan beda-beda. Si menu Pindang ini enaknya dimakan bersama nasi hangat dan ada tambahan sambal manga serta acar. Aku sukanya pada bagian Pindang Patin karena ada daun kemangi yang buat aromanya makin sedap, over all rasanya agak mirip Tom Yam masakan Thailand. Sementara Pindang Tulang menurutku rasanya lebih mirip seperti saat menikmati Sup Iga, sensasinya yang beda sih saat kamu melepas daging dari tulang-tulangnya sambil menyeruput si kuah kaldunya yang terasa light. Itu sih, sedikit cerita nikmatnya kulineran yang aku rasakan di siang hari bolong sebelum sampai ke hotel buat istirahat.

museum-sultan-mahmud
Salah satu sudut di Museum Sultan Mahmud Baddrudin II, foto : Trip Advisor

Pukul 14.00 Siang

Main Ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Ada waktu bebas begitu sampai hotel! Mumpung masih di Kota orang jadi aku ngajak dua reporter lain buat jalan-jalan sekitaran Jembatan Ampera. Kami pesan Grab Car! Hahaha bukan iklan berbayar ya, biar tahu aja kalau ternyata kamu bisa pesan transportasi online. Kota Palembang ya bukan kota kecil kan. Dulu bahkan katanya ini adalah Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya. Di Asia Tenggara dulu merupakan yang tertua. Wah banget aku baru tahu setelah masuk museum dan diterangkan oleh bapak Abi Sofyan, penjaga museum yang menemani kita keliling. Masuk museum ini bayar Rp 5.000 per orang, cukup murah ya. Di dalamnya sebenarnya nggak begitu bagus dan terawat isinya menurutku. Tapi sudah bagus ada museum ini jadi wisatawan lokal seperti aku jadi bisa mengenal sejarah hanya dengan melihat-lihat. Kamu bisa tahu baju adat Palembang, kamar pengantinnya, lalu cerita soal Laksamana Cheng Ho yang ternyata pernah beberapa kali datang dan ikut menyebarkan agama Islam disini. Hingga akhirnya etnis Cina juga percampurannya bisa tersebar di Palembang.

Pempek

Pukul 16.00 Sore

Waktunya Ngemil Pempek dan Beli Oleh-Oleh

Di Palembang ada banyak banget yang jualan Pempek. Di bandara pun ada beberapa brand restoran Pempek. Jadi memang nggak salah kalau disebut “Kota Pempek” haha. Tapi Pempek yang seperti apa dulu nih? Kalau googling pasti kamu bakal banyak banget rekomendasi. Menurutku sih, kembali lagi pada selera.

Nah, saat di Palembang kemarin aku mencoba 2 restoran Pempek berbeda. Untuk ngemil sore hari pertama aku mampir ke Pempek Beringing. Disini sekalian deh, beli oleh-oleh juga, ada Kerupuk Kemplang, Pempek yang versi frozen juga makanan khas Palembang lainnya. Menurut ku Pempek disini ya terasa ikannya, beda di bumbu yang lebih kental dan pekat dengan udang ebi yang sudah ada di dalam bumbu cuko.

IMG_9388
Berlatar pemandangan Jembatan Ampera, Kota Palembang di malam hari

Pukul 19.00 Malam

Makan Malam di River Side Restaurant dengan Latar Jembatan Ampera

Satu moment yang buat aku suka Kota Palembang adalah suasana malamnya dengan keindahan latar megahnya Jembatan Ampera, ikon kota ini yang dibangun sejak 1962 pada era Soekarno. Sambil menunggu menu makan malam siap, disini kamu bisa mengabadikan atmosfer malam Kota Palembang lewat berfoto menangkap dari jauh cahaya lampu terang Jembatan Ampera. Benar kata penduduk lokal yang menasehati saya waktu siang hari bertanya gimana cara ke Jembatan Ampera. Tempat ini memang lebih bagus dilihat saat malam hari.

Makan malam di River Side menurutnya biasa saja rasanya, standart. Namun karena suasananya semua terasa jadi enak, hehe. Aku tetap rekomendasikan tempat ini untuk kamu menghabiskan waktu malam menikmati suasana kota. Jangan lupa supaya pulangnya minta diantar untuk melewati Jembatan Ampera, supaya kamu pun merasakan gimana megahnya (dan menurutku memang terasa megah) jembatan ini. Sementara di siang  hari aku melihat kawasan ini terlihat kumuh ya. Ada pasar di dekatnya dan di kolong jembatan ada pedagang kaki lima berjualan. Bahkan seperti ada pasar kaget orang lokal yang menjual barang bekas. Aku agak kecewa ternyata Palembang kalau siang hari terlihat kumuh di kawasan ini.

Aku sih berharap, Kota Palembang yang merupakan salah satu Kota besar di Nusantara dan yang notabene dulunya ibu kota Kerajaan Sriwijaya bisa lebih bagus tertata. Wah, kemana aja ya dana Anggaran Pembelanjaan Daerah (APBD) kalau kotanya masih kumuh begini. Memang di kota Pempek ini karena beberapa kali sempat jadi tempat perhelatan olahraga skala Internasional, ada stadion besar dan pembangunan LRT hingga ada moda transportasi itu sekarang.

Tapi menurutku sisi latar sejarah Palembang, Kerajaan Sriwijaya, dan katanya dulu dijuluki “Venice From The East” seharusnya tidak begini. Harus banyak perbaikan, seperti yang kulihat dari Kota Semarang yang jauh berbeda ketika tahun 2011 pertama kali aku berkunjung dan di tahun 2018 kemarin Semarang menjadi lebih tertata apik.

Martabak HAR dyahpamelablog
MARTABAK HAR yang terinspirasi kuliner India, harus dicoba kalau ke Palembang

DAY 2 Pukul 15.00

Ngemil Martabak HAR dan Pempek Lagi!

Hari kedua di Kota Palembang yang sembari business trip itu aku menyerah karena sehari saja sudah kekenyangan, tapi belum semua kuliner khas di kota ini aku cobain. Mesti di capslock ya BELUM SEMUA. Akhirnya, pilihlah yang sekiranya buat aku penasaran seperti Martabak HAR yang memang beda dari martabak yang pernah aku cobain.

Martabak HAR diperkenalkan oleh Haji Abdul Rozak tahun 1947, tempat ini menyajikan makanan khas India yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Nggak heran kalau ada kuah kari kental dengan daging sapi dan kentang sebagai pasangan saus untuk si martabaknya yang cenderung tidak berasa karena hanya adonan terigu dengan isian telur tanpa daun bawang seperti martabak kebanyakan. Pokoknya harus coba menurut ku sih di tempat lain di Indonesia nggak ada soalnya, cuma di Palembang.

Menjelang sore akan siap-siap ke bandara, lalu aku diajak makan Pempek lagi. Hahaha, biar eneg deh sama Pempek pokoknya mumpung lagi ada di Palembang. Sekejap aku merasa kalau memang kurang cocok dengan Pempek berkuah asam. Soalnya di hari pertama pun aku sudah nggak enak badan dan upppss tidak perlu disebutkan disini bagaimana gejolak asam lambungku lantas menyebabkan apa. Tapi guys, masih banyak kuliner Palembang lain lho. Ada Mi Celor juga, hahaha maafkan karena perutku sudah nggak sanggup. Mungkin next time ya kalau kesempatan berkunjung ke Palembang lagi.

Advertisements
culinary, Food, Indonesia, JAVA - Indonesia, Kuliner, Liputan, story, The Journey, Traveling

Sehari Kulineran Legendaris di Kota Semarang

Cerita business trip singkat yang cuma sehari semalam di Kota Semarang masih berlanjut guys! Kalau kemarin aku sudah posting tentang bangunan penuh sejarah Lawang Sewu, selanjutnya tidak boleh ketinggalan kalau ke Kota Lumpia adalah jelajah kuliner legendarisnya yang terpengaruh era kolonial Belanda dengan percampuran budaya Jawa dan Cina juga.

Tapi tunggu dulu, masih ada yang bingung kah sama istilah legendaris? Menurut pakar kuliner William Wongso, kuliner bisa dikatakan legendaris bila sudah masuk generasi ke-3, artinya sampai cucu ya diturunkan dan usia kulinernya sekitar 150 tahun. Namun, 5 tempat kuliner ini tetap bisa disebut legendaris kok, rata-rata dimulai sekitar tahun 1920-an hingga tahun 1987-an dan dari awal tempat makan berdiri sampai sekarang rasanya masih sama. Yuk langsung disimak apa aja 🙂

Soto Semarang yang bening, kuahnya kaldu banget

(1) Nasi Pindang Gajah Mada

Begitu sampai Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, aku langsung dijemput tim Public Relation (PR) Ciputra dan tak lama elf kami menuju tempat kuliner legendaris pertama yaitu Nasi Pindang Gajah Mada. Langsung saja terbayang piring dengan alas daun dan nasi yang disiram kuah pindang dari kaldu sapi panas. Slurrpp, rasanya nggak ketulungan ngilernya.

Sampai aku menuliskannya di blog, masih terasa enaknya kuah pindang sapi yang memakai nasi dengan porsinya memang sedikit. Kata Pak Masyudi, pemilik Nasi Pindang Gajah Mada, dulu priyayi di Kesultanan Yogyakarta dan Solo itu kalau disuguhkan makanan ya porsinya kecil segini.

Rasa Nasi Pindang Gajah Mada tidak berubah sejak tahun 1987. Semuanya berkat racikan bumbu menggunakan bawang lanang tunggal yang punya ciri khas aroma berbeda dan ada khasiat menurunkan tekanan darah tinggi. Selain menu andalan Nasi Pindang, sejak tahun 1990-an Pak Masyudi ikut memberikan pilihan menu Soto Semarang, yang cocok rasanya untuk Anda yang suka dengan kuah bening.

Nah, aku juga mencicip Soto Semarang yang bening ini, sesuai selera aku banget memakai tauge yang kecil dan berbagai pelengkap seperti daun seledri. Karena porsinya kecil, setelah nyobain nasi pindang sah sah aja tuh kalau mau nambah seporsi Soto Semarang. Nggak kan bersalah sama perut.

Nasi Pindang Gajah Mada

Alamat : Jl Gajah Mada no 98 B, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 17.000

Jam Buka : 06.00 – 22.00

Bayangkan kepala Ikan Manyung sebesar ini, apalagi badannya?

(2) Warung Kepala Manyung Bu Fat

Kemudian, jelajah kuliner berlanjut agak jauh dari pusat kota yang butuh sekitar 30 menit berkendara. Ada Warung Kepala Manyung Bu Fat yang begitu terkenal dan sangat khas kota Semarang. Kepala Manyung yang berukuran besar itu sebelumnya diasap diberi bumbu pedas khas Bu Fat. Di warung makan ini, ikan manyung didapat dari perairan Jepara, Cirebon, hingga Banyuwangi.

Selain ikan manyung yang khas dan harus dicoba ketika datang, temukan juga macam hidangan lain sebagai pelengkap mulai dari sayur, goreng-gorengan, botok, hingga lalapan. Aku rekomendasi kamu untuk pesan kepala manyung buat makan sharing, hehe. Karena pedesss banget bumbunya ambil nasinya juga mesti banyak hehehe. Cocok buat makan siang, yang agak berat ya.

Warung Manyung Bu Fat

Alamat :

Cabang 1 Jl Sukun Raya No 36, Srondol Wetan, Banyumanik

Cabang 2 Jl Ariloka, Kerobokan Semarang Barat

Harga Per Porsi : Rp 75.000 – 150.000

Jam Buka : 07.00 – 19.00

Pisang plenet yang di Jalan Pemuda

(3) Pisang Plenet

Mendekati sore hari aku diajak tim public relation Ciputra mampir untuk menikmati dessert. Pisang Plenet yang sudah terkenal di Semarang sejak tahun 1960-an tentu cocok jadi makanan kudapan sore. Pisang plenet dibuat dari pisang kepok yang dibakar lalu dipipihkan dan diberi topping aneka rasa.

Sang penjual, Pak Tri telah berjualan pisang plenet dengan gerobak di jalan Pemuda sejak awal. Semula, pisang plenet hanya menggunakan topping nanas, mentega, dan gula putih halus. Namun seiring waktu ada banyak rasa ditambahkan seperti menggunakan keju dan meses cokelat.

Pisang Plenet

Alamat :  Jl. Pemuda, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 8.000

Jam Buka : 10.00 – 22.00

Asem-asem Koh Liem yang seger dan melegenda itu

(4) Asem-Asem Koh Liem

Perut sudah bener-bener kenyang hehe. Sehari rasanya memang nggak cukup buat nyobain semua kuliner legendaris di Semarang. Makanya kapan nanti aku niat banget untuk balik lagi ke Semarang buat liburan. Nah, untuk makan malamnya, aku menyambangi juga warung yang juga legendaris di Semarang yaitu Asem-Asem Koh Liem.

Spesial menu asem-asem disini menggunakan daging dan urat. Dalam semangkuk asem-asem, rasa asem berasal dari tomat, belimbing wuluh, dengan pedas dari cabe merah rawit dan kecap merek Mirama khas produksi Semarang, menjadikan menu asem-asem disini makanan khas yang Semarang banget. Menu di tempat ini berisi berbagai sajian dengan pencampuran Jawa Tiongkok, selain pesan semangkuk asem-asem coba juga telur goreng sum sum yang begitu gurih dan enak.

Asem-Asem Koh Liem

Alamat : Jl. Karang Anyar No. 28 Semarang

Harga Per Porsi : Rp 33.000

Jam Buka : 07.00 – 17.00

Ini es krim jadul di Toko Oen yang aku cobain

(5) Toko Oen

Terakhir, jika ke Semarang jangan lewatkan untuk menyambangi Toko Oen. Kalau memang sudah nggak kuat makan maka kesini ya untuk beli oleh-oleh seperti lumpia. Sudah turun-menurun tempat ini mempertahankan cita rasa makanannya, bahkan interiornya masih bergaya Belanda. Menjadi saksi sejarah penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.

Ada banyak jenis roti jadul seperti roti gandjel rel, tapi katanya juga disini yang enak roti telurnya. Aku bawa pulang ke Jakarta dengan harga rata-rata satuannya Rp 6.500. Rasanya nggak ada roti dengan rasa klasik ini ada di Jakarta.

Toko Oen

Alamat : Jl. Pemuda No.52, Bangunharjo, Semarang Tengah

Harga Per Porsi : Mulai dari Rp 6.500 untuk bakery dan pastry

Jam Buka : 09.30 – 21.30

Kulineran yang aku sambangi ini belum ada apa-apanya lho, tapi lumayan lah sudah mewakili rasa legendaris Kota Semarang. Menurut Irzal, dari Kompas.com, teman media yang seperjalanan diundang sama Ciputra, masih ada Es Krim Cong Lik yang jadul dan mesti dicoba juga. Nah, makin kepingin balik lagi rasanya..

Bersama teman-teman media dari Jakarta dan media lokal di Semarang, serta tim public relation Ciputra
Food, Indonesia, Kuliner, The Journey, Traveling

Kuliner Jalanan Kota Pasuruan Sebelum Nanjak ke Bromo

Kuliner di tanah Jawa dari sisi Barat hingga ke ujung Timur-nya punya ciri khas yang berbeda. Saya yang orang keturunan Jawa pun masih penasaran buat nyobain kuliner jalanan atau istilah kerennya street food saat family trip ke Jawa Timur libur Lebaran kemarin.

Soalnya jarang banget nyentuh sisi Timur pulau Jawa. Paling sering ke wilayah Jogja aja atau yang deket rumah Bogor. Di tanah Pasundan kalo diperhatiin paling sering nemuin sayuran lalapan lengkap sama sambalnya. Sementara di Jawa Tengah akan banyak makanan bercita rasa manis. Berbeda nih di Jawa Timur, varian makanannya ternyata banyak menyertakan lontong atau ketupat.

Kebetulan, waktu menghabiskan libur Lebaran kemarin saya sama keluarga yang sudah rencana lama buat ke Bromo. Kami berangkat via Pasuruan, salah satu jalur buat mencapai Gunung Bromo.

Sepanjang jalan melewati Pasuruan akhirnya nyobain kuliner Jawa Timur. Dan menariknya benang merah dari kuliner Jawa Timur itu adalah lontong. Makanan apa yang berkuah pakai lontong, bukan nasi. Walau bisa juga dengan pilihan nasi.

Kupang lontong adalah satu dari sekian banyak nama makanan khas dari daerah Jawa Timur. Makanan ini terkenal khususnya di daerah Surabaya, Sidoarjo dan Pasuruan. Di daerah pesisir timur Jawa Timur, lontong kupang yang terkenal adalah kupang keraton.

Nama Keraton ini diambil dari suatu nama daerah atau suatu nama kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Sudah sejak lama penduduk daerah ini mencari dan berdagang kerang kupang. baik dijual mentah ataupun berupa kuliner lontong kupang.

Kupang sendiri merupakan semacam kerang yang bentuknya kecil sebesar biji beras. Kupang yang telah dikupas dan dimasak, ditambahkan lontong dan lentho, kemudian diberi kuah petis dan sedikit perasan jeruk nipis.

Selain tentu saja menambahkan bawang goreng dan bumbu bawang putih dan irisan cabai rawit. Untuk menghidangkan biasanya dipadukan dengan sate kerang, serta minuman air kelapa muda atau degan. Masyarakat setempat mempercayai apabila memakan lontong kupang sambil minum air degan maka siapa pun akan kembali sehat.

Masih dengan bahan utama lontong, sepanjang jalan saya juga melihat banyak warung makan yang menjual lontong kikil. Kuahnya mirip soto. Jika di Jakarta soto dihidangkan dengan nasi, maka kuah yang kuning dan berminyak dari sari daging sapi tersebut dimakan dengan potongan lontong. Tak lupa ada tambahan kerupuk untuk menambah tekstur garing.

Kikil diambil dari kaki sapi bagian bawah yaitu kuku yang dikupas dan sekitarnya, kaki sapi dipanggang dan dihilangkan bulunya dengan jalan di cukur, setelah itu dipotong-potong ukuran kecil dan dimasak dalam kuah yang dicampur dengan bumbu.

Masakan kikil ini agak kental karena kaki sapi banyak mengandung kolagen di mana kolagen ini akan mencair ketika dipanaskan dan akan menjadi seperti gel jika dibiarkan dingin. Lontong kikil banyak dijual keliling, dulu dijajakan dengan dipikul namun sekarang banyak juga yang menjualnya di warung khusus menjual lontong kikil dan gulai. Harga lontong kikil termasuk paling mahal di antara semua jenis makanan lontong yang ada di Jawa Timur, karenakan mahalnya harga kaki sapi.

Masih ada beberapa kuliner lain di Pasuruan, misalnya nasi mawut yang di Jakarta sebenernya ada satu restoran yang jual. Nasi mawut itu nasi goreng yang dihidangkan dengan mie goreng. Hahaha sama-sama karbo! Saya skip soalnya bisa cepet kenyang dan bikin gendut. Makanan lain mirip-mirip sama yang di Jawa Tengah seperti rawon. Belum nemuin yang aneh banget sih.. kira-kira itu saja rekomendasinya yang enak dan unik lontong kupang dan lontong kikil, jangan lupa cobain kalau mampir.

culinary, Food, Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Suatu Siang di Kedai Kopi Piltik, Toba Samosir

Coffee shop di tengah pedesaan, agak mirip lagi di Bandung ya bukan di Toba jadinya 😀

Cerah matahari terasa agak kontras dengan sapuan angin sejuk, aku agak kaget dengan cuaca di Toba yang walau terik tapi sejuk banget. Sepoi angin membuai pipi lembut, saking sejuknya, hampir mirip di ruang ber-AC suhu 23 derajat. Rasanya seperti perpaduan antara sedang berada di pegunungan dan pinggir pantai sekaligus 😀.

Empat jam sebelum keberangkatan pesawat pulang ke Jakarta, aku dan rombongan media kali ini diajak mampir ke sebuah kedai kopi baru di Toba, Siborong-borong. Lokasinya hanya berjarak sekitar 5 Km dari Bandara Silangit.

Sangat kaget awalnya, ada tempat sekeren ini di Toba yang notabene “pedesaan” dan jauh dari hingar bingar kota. Mungkin saya masih merasa biasa saja ketika ke Kota Medan dan menemukan banyak cafe cantik mirip di Jakarta, tapi ini Toba Samosir lho… Bandara Silangit saja hanya punya kantin kecil mirip warung nasi Tegal.. ini ada coffeeshop.. luar biasa rasanya.

Suasananya mirip di Bandung

Lebih luar biasa lagi di depan coffeeshop ini ada pemandangan semacam kebun sawah, tentunya tanpa background gedung pencakar langit kota besar. Satu lagi, tidak disertai bising kemacetan, polusi asap kendaraan, dan jelas ini lokasinya bukan di dalam mall (biasa tempat ku ngopi).

Piltik, sebuah kosakata yang bagi awam terdengar aneh, tapi bagi fotografer kata ini punya makna. Aku pun baru tahu saat itu juga, Piltik diambil dari istilah dalam dunia fotografi. Apalah arti sebuah nama ya.

Tapi nama penting juga, coba aja tanya ortu nama kamu yang bagus itu artinya apa? selain doa ada makna tersembunyi. Mungkin juga ada historinya, seperti Piltik yang menurut pemilik kedai sangat meaning, berhubungan sama hobi sekaligus profesinya sebagai fotografer.

Martabe yang bikin mata melek dalam sekejap

Cuma asing saja dengan kata ini, apalagi saya yang fotogrer amatir (merangkap nulis soalnya). Ohya berhubung kurang mengerti soal kopi. Walau sudah sering dijelasin (mungkin karena tidak ada ketertarikan sama si kopi), makanya saya nggak bahas lebih jauh soal kopi disini. Suasananya aja, yang sampai sekarang pun masih mengena di hati.

Tapi kopi disini tentu beda, karena lokal tumbuh di sekitar Toba. Satu hal yang buat ku berani minum kopi disini juga karena proses penyeduhannya yang katanya nggak akan buat asam lambung. Iya jadi betul-betul dengan air masak mendidih.

Tentang kopi yang aku gak paham bagaimana membedakannya (sama-sama pahit dan agak asam juga).. ya cuma tentang adanya aroma buah tertentu, kalau tanaman kopi itu ditanam dekat pohon buah. Juga berpengaruh dari tanah tempat ditanam.

Pintu masuknya

Disamping soal kopi, justru yang membuat ketagihan disini saya cobain jus Martabe (markisa terong Belanda). Itu seger banget dan seketika buat saya jadi melek.. karena jadwal padat kurang tidur terus selama tiga hari.

Seperti biasa kalau tidur di tempat asing dan worry sama berita yang bakal dikirim. Gitu deh… zzzzZzzz

Btw jangan lupa mampir kalau ke Toba. Berikut saya input nomor kontak dan alamatnya. Hayo kamu sebagai traveler yang sudah banyak pergi ke luar negeri tapi belum ke Toba…

Ini plang coffee shop yang sekaligus ada homestay juga

 

Kedai Kopi Piltik

Buka :

Senin – Sabtu : 08.00 – 21.00

Minggu : 09.00 – 21.00

Alamat :

Jl. Sipahutar No 33, Dusun Parhasioran, Desa Lobusiregar II, Siborongborong, Tapanuli Utara.

Hp/wa : 087767776333

Email : piltikhomestay@yahoo.com

culinary, Food, Indonesia, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Uniknya Pizza Andaliman di Toba Samosir

Rempah andaliman yang hanya tumbuh di Toba

PIZZA…

khas kuliner dari Italia, tapi bukan berarti tak bisa tampil beda dengan cita rasa lokal. Buktinya di Desa Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, pizza menjadi lebih unik rasanya karena menyertakan rempah lokal andaliman yang hanya tumbuh di wilayah Danau Toba. 

Akan sayang rasanya, jika berkesempatan berlibur ke Danau Toba tanpa mampir dan mencicipi pizza yang ada di gerai Pizza Andaliman. Tepatnya sekitar 15 km dari Bandara Silangit menuju Danau Toba cobalah untuk singgah sebentar ke tempat ini. Terletak di jalan Tanjung No 100 Balige, Pizza Andaliman bukan sekedar kedai pizza biasa, disini kamu akan merasakan pizza dengan rasa rempah khas Batak. 

Imelda, sang pemilik mengungkapkan telah membuka Pizza Andaliman sejak 2015 dengan ide menyertakan ciri khas bumbu rempah Andaliman. “Andaliman itu hanya tumbuh di daerah sekitar Danau Toba, rasanya cukup unik, ada sensasi getir pedas, asam dan membuat lidah sedikit kebas,” sebut Imelda.

Pizza andaliman yang menggunakan saus mayones ditambah andaliman

Pizza diberi saus, ditaburi topping berupa irisan sayur seperti wortel, jagung, keju mozarella, lalu ada sosis, cincangan ayam panggang, serta taburan keju cheedar dan tentu saja taburan cincangan andaliman. Rasa getir pedas dan asam itu utamanya tak sekedar tersaji di atas pizza, namun juga pada bumbu saus mayonese yang dicampur dengan rempah andaliman dan ada saus sambal dengan andaliman yang biasa dimakan orang Batak sebagai sambal cocolan ikan bakar dan lauk lain. 

Ketika mencicipinya, ada sensasi yang berbeda dari rasa pizza ini, terutama semakin terasa pedas unik bila menambahkan cocolan sambal andaliman maupun mayonese yang berpadu merica khas Batak tersebut. Ada aroma khas rempah andaliman yang berbeda ditambah rasa pedas getirnya.

Semua bahan saus maupun isian topping menggunakan bahan yang tumbuh di Toba Samosir. Perbedaan mencolok, pizza khas Batak ini tak menggunakan paprika seperti pizza Italia. Kemudian sausnya berbeda dibuat home made, hasil racikan oleh Imelda. 

Kedai Pizza Andaliman, ada di dekat pinggir jalan dari dan menuju arah Bandara Silangit, sekitar 15 Km jauhnya

Adapun tekstur roti terbilang tidak tebal dan tidak sepenuhnya matang sempurna. Menurut Imelda hal ini sebenarnya tak disengaja, pemakaian alat panggangan yang belum begitu modern, bukan panggangan listrik untuk panggangan pizza menjadikan rotinya tak keras dan gosong. 

Sayangnya untuk rasa, hanya ada satu jenis topping disini. Menurut Imelda memang kreasi topping pizza Batak ini untuk sementara belum dikembangkan lebih lanjut, tetapi masih mengunggulkan penggunaan rempah andaliman yang membuatnya memiliki rasa khas lokal. 

Sebelum akhirnya membuka gerai Pizza Andaliman, tempat ini dulunya dia buka untuk menjual nasi dan ikan bakar. Namun kuliner dengan rasa khas lokal dirasa akan lebih menarik minat wisatawan mencobanya. 

Rasanya unik berkat rempah andaliman, pokoknya beda dari pizza Italia, sayurnya pun beda tanpa paprika

“Awalnya juga tidak sengaja ada ide membuat pizza andaliman, karena saya pikir dengan adanya Bandara Silangit menuju Danau Toba sekarang lebih mudah dan sebagai penduduk lokal pariwisata disini juga akan maju dan siap kedatangan wisatawan dengan kuliner khas Toba,” ungkap Imelda lagi. 

Kalau sudah mencicip pizza andaliman yang unik, coba juga kopi lintong atau jus terong Belanda yang khas ada di Toba Samosir. Gerai Pizza Andaliman juga menjual sambal andaliman botolan home made dari UKM warga setempat dan mango wine yang dibuat dari fermentasi mangga di Tanah Batak.

“Mangga disini saking melimpahnya sering busuk, jatuh dari pohonnya sampai ada ibu warga lokal yang berfikir untuk dibuat menjadi mango wine dengan rasa berbeda dari wine lainnya dan harga jual lebih baik, sekarang cukup banyak peminatnya,” tambah Imelda. 

Wine mangga diolah penduduk lokal karena mangga begitu melimpah di Toba


Backpacker, culinary, Food, Indonesia, JAVA - Indonesia, Kuliner, story, The Journey, Traveling

Icip-Icip 7 Kuliner Asik di Dieng

Agenda jalan-jalan tanpa meng-eksplore kuliner setempat, kurang afdol rasanya. Lagi pula siapa sih yang tidak suka makan? Ayo tunjuk tangan. Terlebih kalau lagi traveling pastinya kamu ingin sesuatu yang berbeda untuk dimakan kan. Berhenti dulu diet-nya, makan apa saja yang kamu suka!

Nah, waktu ke Dieng kemarin saya mencoba beberapa kuliner khas di Dieng. Ini dia, tujuh kuliner asik di Daratan Tinggi Dieng. Check this out!

Mie Ongklok 

DSCN9889
Judulnya MIe Ongklok dalam kegelapan, hehehe isinya ada mie, potongan tahu, dan kuah mie yang lengket, serta sate ayam 3 tusuk saja.

Mie ongklok ini bisa harganya murah meriah, cukup Rp. 12 ribu saja satu mangkoknya. Seperti apa sih mie nya? Satu porsi mie ongklok cukup mini bagi saya, cuma buat icip-icip selagi laper dan banyak banget makanan di stand yang ingin dicoba.

Iya waktu Dieng Culture Festifal 2016 kemarin di pinggir lokasi ada aja tukang jualan makanan seru semacam street food. Berhubung lapar mata cobain deh beberapa. Jadi beruntung juga kalau porsi mie ongklok ini tak terlalu banyak.

Menurut penduduk asli penjual mie ongklok. Mie ongklok yang asli itu harganya rata-rata hanya Rp. 12 ribu dan jumlah satenya pasti 5, itu pun harusnya sate sapi bukan sate ayam seperti yang sempat saya cobain.

Mie ongklok juga sebenarnya berasal dari Wonosobo, jaraknya 1 jam dari Dieng. Cukup dekat dan kalau ingin mie ongklok yang asli bisa mencari di kota Wonosobo. Itu wajib banget, karena saya pun belum merasakan betul mie ongklok yang asli.

Kalau kamu perhatikan, kuah mie ongklok itu kan agak berlendir ya? nah itu karena ada campura tepung kanji, sehingga agak kental. Dengan tambahan bumbu kacang dari satenya kamu juga bakal merasakan perpaduan rasa kuah mie dengan bumbu kacang. Gado-gado rasanya.

kentang goreng dieng

Kentang Goreng 

Beda dari kentang goreng yang suka kita beli di restoran cepat saji, kentang goreng di Dieng itu ukurannya lumayan besar. Potongannya pun beda, begitu juga rasanya.

Dipadankan bersama saus cabai ketika memakannya, dicocol sama seperti kalau makan kentang goreng biasa. Selain saus cabai, kadang kamu juga dikasih pilihan bubuk cabai dengan rasa balado, jagung bakar atau BBQ. Sesuai selera aja pesannya dan seporsi kentang goreng yang baru dimasak itu harganya cuma Rp. 5 ribu.

Selama Dieng Culture Festival hampir di setiap jalan akan mudah ditemui kentang goreng khas Dieng ini. Harus coba dan enak dimakan hangat-hangat. Apalagi kalau cuaca dingin dan itu malam hari, sambil nonton acara Jazz Di Atas Awan, buat cemilan seru juga lho. Ibu saya kalau ke Dieng juga pasti beli kentang berkilo-kilo, haha maklum nyokap-nyokap kan gitu.

DSCN9983
Manisan Carica ini seger banget, kalau mau buat sendiri juga bisa tinggal beli buahnya saja.

Manisan Carica

Sebenarnya sudah pernah ke Dieng tahun 2013 sama keluarga dan ibu saya sering banget bolak-balik ke Dieng terus pasti beli buah carica, yang diolah menjadi manisan carica. Di Dieng banyak banget toko yang menjual carica kemasan.

Carica sendiri dibuat dari semacam pepaya mini. Bibit tanaman pepaya yang kalau ditanam di Dieng jadi menciut atau berukuran mini. Pohon-nya sendiri dan daun-nya adalah pepaya, cuma buah yang dihasilkan jadi mikro.

Kalau sudah matang, carica seperti pepaya juga. Buahnya akan kekuningan, nah ini kemudian diolah oleh penduduk setempat di Dieng sebagai manisan carica.

foto (32)
Nasi Megono yang saya cobain waktu di Dieng

Nasi Megono

Orang Indonesia belum makan nasi, belum makan namanya. Nah, di Dieng ada Nasi Megono yang bisa kamu cobain. Asal nasi megono juga dari Wonosobo, ya karena wilayah Dieng terkenal sebagai destinasi wisata dan banyak dikunjungi, warung nasi megono pun bisa ditemukan disini.

Pertama kali tanya ke ibu penjual, dia bilang itu nasi yang dicampur dengan sayuran urap. Langsung mikir sepertinya tak berselera, soalnya ibu syaa juga suka buat di rumah.. Hehehe wong Jowo, tapi setelah melihat dan mencobanya enak kok ternyata.

Saya ketagihan, tapi sudah kenyang. Jadi niat untuk nambah diurungkan. Lagi pula masih ada waktu sampai malam dan besok paginya buat beli cemilan. Sisahkan ruang di rongga perut. Kata Rasullulah SAW nggak baik juga kalau terlalu kenyang kan?

DSCN9908
Kalau lagi ada event besar seperti Dieng Culture Fesival (DCF) ada banyak mbok-mbok yang tiba-tiba jualan sate ayam 🙂

Sate Ayam Lontong

Sebenarnya sate ayam lontong itu bukan kuliner asli Dieng, menurut penduduk sekitar. Tapi karena ada event Dieng Culture Festival jadi banyak pedagang sate ayam lontong bertebaran dimana-mana.

Ini mirip sate ayam yang ada di Jogja, kalau saya lagi mampir ke Jogja kalau lagi mampir ke stasiun dekat Maliobboro itu. Bedanya di Jogja sate ayamnya lebih manis dengan kecap yang lebih banyak dan lebih gosong dipanggangnya. Saya lebih suka yang ada di Jogja. Rasa manisnya nggak nanggung dan entah bagaimana pokoknya beda.

Harga sate lontong di Dieng cukup murah. Rp. 10 ribu saja, ada satenya 6 dan lontong 1 yang cukup buat pengganjal perut di pagi hari. Jangan lupa minta sama mbok-mbok penjualnya untuk menambahkan irisan cabai rawit dan bawang merah supaya rasanya lebih segap.

temoe kemul di Dieng
Tempe/Tau Kemul atau jaket enak kalau hangat

Tempe atau Tahu Kemul A la Dieng

Tempe atau tahu jaket itu sudah biasa, kan di rumah juga suka buat. Tapi ini beda lho yang ada di Dieng, namanya tempe atau tahu kemul. Antara besar tempe dan tepungnya lebih banyak tepungnya dan melebar ke samping.

Dicampur juga dengan irisan daun bawang di adonan tepungnya, tempe kemul jadi makin enak dengan aroma bawang. Bisa dibayangkan bagaimana kalau dimakan saat masih hangat ditambah cabai rawit biar ada sensasi pedas.

Cuma cuaca di Dieng yang dingin minta ampun itu, sangat jarang bisa nemuin tempe atau tahu kemul yang masih hangat. Yang ada saya malah keras banget gigitnya, beku sama cuaca. Kalau bisa tungguin si abang jualan selesai menggoreng, baru deh bisa kamu dapetin tempe atau tahu kemul yang hangat 🙂

DSCN9884
Purwaceng, ada yang original dan dicampur susu.

Purwaceng 

Nah yang satu ini berupa minuman herbal khas dari Dieng, Purwaceng. Termasuk tanaman langka yang ada di Dieng, purwaceng mirip seperti jamu dan khasiatnya memang…. buat stamina.

Purwaceng ada yang rasa original dan dicampur dengan susu. Kalau say asuka yang dicampur dengan susu jadi tidak terlalu jamu banget. Harga segelas lumayan Rp. 12 ribu dan ketika mau beli buat oleh-oleh ukuran kecil tidak sampai 50 gram cukup fantastis untuk sebuah bubuk herbal, Rp. 75 ribu, karena itu tak jadi beli.

Tapi memang khasiat dan kelangkaan nya yang membuat purwaceng ini begitu lumayan harganya. Karena waktu di museum Dieng saya lihat tanaman ini hanya ada di Dieng dan kategorinya langka.

culinary, Food, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, Kuliner, Traveling

Santap Lobster Jumbo di Pulau Derawan

DSCN8648
Ini lobster yang dicicip Agnes masih terbilang kecil dibanding lobster lain… Tapi kalo di Jakarta sih ini mungkin sudah paling jumbo ya.. foto by me

Harta karun laut, penuh gizi dan enakkk banget. Memilih lobster sebagai makan malam itu rasanya mewah sekali untuk seorang budget traveler. Tapi ya karena semuanya ditraktir sama pemilik budget cottage Derawan Fisheries jadi sah-sah saja. “Everything lah,” katanya Bang Apoy.

Jadilah makan malam di hari pertama kami, peserta meet & trip 5 special edition penuh dengan kemewahan. Gimana nggak mewah coba? Lobster ukuran jumbo dimasak bersama saus padang… Ih ini lagi di Pulau Derawan kan bukan di Padang padahal. 😀

Seumur-umur, seperempat abad lebih, baru kali ini nih saya ketemu lobster super jumbo. Terlihat menggemaskan untuk difoto dan dimakan. Cuma hati-hati aja dengan kolesterol, tapi masih muda kan? amaaannn.

 

foto 1 (13)
Indah dan Bang Dee, heboh banget sama lobster jumbo.. makan malam di Derawan Fisheries. foto : sharing group meet and trip

Lobster jumbo ini bisa dibilang sebagai buyut-nya lobster, saking guedeeee-nya. Teman-teman yang lain pun heboh buat mengabadikan dalam foto dan berekspresi dengan si lobster jumbo.

Jarang-jarang di Jakarta kamu bisa menemukan lobser jumbo seperti ini, yang kalau beli di restoran seafood pun dihitung per kilo. Mahal banget bisa menembus angka Rp. 400.000 satu lobster aja. Itu kenapa kebanyakan orang-orang kalau mau makan seafood, mesti bawa temen atau keluarga. Supaya bisa sharing dan jauh lebih rasionable.

Karena memang dekat laut, lobster pun lebih mudah ditemui di Pulau Derawan. Ahhh… bisa jadi surga pecinta seafood pastinya. Kalah enak dengan Bandar Jakarta atau restoran Dermaga Makassar.

foto 2 (10)
Gede banget lobsternya Bang Riza… foto by : Khairunnisa Siregar

Nah, mumpung lagi di Pulau Derawan dan semua bebas makan lobster jumbo, nambah boleh asal inget sama temen yang belum makan. Kalap gelap mata pun dimulai.

Rasa lobster-nya sendiri memang mirip-mirip dengan daging udang tapi ini tekstur-nya lebih tebal berisi (karena jumbo). Kami beruntung banget bisa nyicip lobster jumbo… tentu saja dagingnya fresh, baru ditangkap dari lautan sekitar Pulau Derawan.

DSCN8649
Lobster punya Tante Devi juga besarrrr… foto : dyah ayu pamela