culinary, Kuliner, Liputan, Malaysia - Asia Tenggara, story, Traveling

Lima Rekomendasi Kuliner Malam di Petaling Street

Setelah enam tahun saat pertama kali ke Malaysia tahun 2013 silam akhirnya aku berkesempatan lagi buat menyambangi Kuala Lumpur (KL)! Sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan Negeri Jiran, jika bukan karena ada business trip alias perjalanan dinas a.k.a liputan 2 hari untuk peluncuran ponsel gaming Black Shark di KL.

Curi-curi waktu setelah liputan beres akhirnya kulineran aja deh malam-malam ke Petaling Street. Aneh juga sih, sebenarnya aku tuh nyari lokasi lain untuk dijelajahi melalui maps karena dulu sudah pernah ke Petaling Street. Mulanya ke Pasar Seni, tapi ternyata lokasi dekat sekali berjalan kaki ke Petaling Street yang juga merupakan kawasan China Town dan masih ramai padahal jam di tangan hampir menujukan pukul 21.00 waktu KL.

Ternyata beda lho atmosfer pagi menuju siang dan malam di Petaling Street. Setelah merasakan suasana yang beda aku malah menyarankan kalian yang pemula banget backpackeran keliling Asia Tenggara buat kulineran malam aja di Petaling Street dan cobain 5 rekomendasi kuliner berikut!

(1) Makan di Restoran Kim Lian Kee

Ini restorannya guys, di luar aja makannya sambil menikmati suasana malam

Teman-teman serombongan liputan dari Jakarta makan di sini, lokasinya gampang banget dicari dari depan plang Petaling Street lurus aja terus lalu belok kanan berdekatan dengan penjual Chesnut Berangan. Menunya ada aneka jenis mi, nasi goreng, jenis-jenis makanan Chinese kebanyakan. Halal apa nggak? Nggak yakin hehe karena buatku kalau restoran Chinese aku nggak berani coba dan pastikan kehalalannya. Rekomendasi aja buat kalian yang non muslim bisa kok makan di sini.

(2) Ngemil Chestnut Berangan

Ini ibu penjualnya dan beginilah bentuk kacangnya

Dari namanya aku penasaran, ini kacang berangan? Nggak banyak mikir langsung beli walau harganya 7,5 MYR kalau dirupiahkan dengan kurs Rp 3600 per 1 Ringgit jadi Rp 30.000 dan itu nggak dibohongin kok karena ada tulisan harganya dipapan. Penjualnya adalah ibu-ibu Melayu campuran Chinese karena matanya sipit. Aku nggak banyak tanya karena keburu penasaran coba, eh ternyata enak.

Jadi kacang berangan ini besar juga ukurannya, kulitnya pun keras makanya diroasted alias dipanggang gitu. Makannya enak selagi panas anget-anget. Agak susah membuka kulitnya dan lumayan capek ngegigitin tapi seru dan rasanya enak, walau lama ngabisinnya sambil keliling cari kulineran lagi habis juga dimakan berdua. Hehe

(3) Beli Air Mata Kucing

Air mata kucing, minum manis pas malem-malem. Ohya kamu bisa pilih dengan es atau tanpa es

Minuman yang serasa nostalgia, karena waktu ke sini 6 tahun yang lalu saat matahari terik dan cuaca panas-panasnya minuman inilah yang benar-benar terasa menyegarkan di tenggorokan. Harganya sekitaran 2,5 MYR atau setara Rp 15.000 saja. Rasanya manis seperti liang teh gitu dengan ada cincangan buah seperti kelengkeng di dalamnya. Mau siang atau malam menurutku tidak masalah minum ini tetap segar. Harus cobain banget selagi jalan-jalan ke Petaling Street dan cari oleh-oleh.

(4) Kim Soya Bean

Kim Soya Bean pasti bikin kenyang

Masih cari minuman? Di Petaling Street ada juga nih es susu kedelai alias Kim Soya Bean yang sudah terkenal itu. Cocok buat yang ingin malem-malem lapar tapi males makan dan ingin tambahan nutrisi dari protein nabati hehe. Menurutku harus banget coba, tapi kalau masih kenyang bisa keliling dulu deh muter-muter biar laper dan haus lagi terus beli Kim Soya Bean.

(5) Beli Sate-Satean

Dipilih-dipilih satenya, ini temen liputanku Galuh yang bisa makan sate babi

Masih laper tapi ya nggak laper banget, bisa nih beli sate-satean di Petaling Street. Nah, selain ada berbagai jenis sosis, kepiting, ayam, temenku di sini juga ambil sate babi merah FYI aja karena dia protestan jadi halal makan itu. Hehe kalo aku nggak boleh, cukup dengerin komentarnya aja gimana rasanya. Katanya ini babi nya manis. Nelen air liur deh kakak hehe.

Saat dateng kamu bakalan dikasih piring buat menaruh sate yang dipilih. Terus penjualnya akan grill satenya tapi ada yang digoreng juga sih dicampur bumbu dan tepung terlebih dahulu. Kelihatannya enak, cuma karena ada babinya aku ga beli. Kan kena minyaknya pula walau nggak makan.

Jadi itulah guys, 5 rekomendasi buat kulineran malam di Petaling Street saat kamu ke Kuala Lumpur. Masih banyak restoran sebenarnya, namun karena waktu terbatas kan.. bisa lho mampir lain kali (kalo ada yang bayarin tiket pesawat sama hotelnya) kwkwkw.

Advertisements
culinary, Food, Indonesia, JAVA - Indonesia, Kuliner, Liputan, story, The Journey, Traveling

Sehari Kulineran Legendaris di Kota Semarang

Cerita business trip singkat yang cuma sehari semalam di Kota Semarang masih berlanjut guys! Kalau kemarin aku sudah posting tentang bangunan penuh sejarah Lawang Sewu, selanjutnya tidak boleh ketinggalan kalau ke Kota Lumpia adalah jelajah kuliner legendarisnya yang terpengaruh era kolonial Belanda dengan percampuran budaya Jawa dan Cina juga.

Tapi tunggu dulu, masih ada yang bingung kah sama istilah legendaris? Menurut pakar kuliner William Wongso, kuliner bisa dikatakan legendaris bila sudah masuk generasi ke-3, artinya sampai cucu ya diturunkan dan usia kulinernya sekitar 150 tahun. Namun, 5 tempat kuliner ini tetap bisa disebut legendaris kok, rata-rata dimulai sekitar tahun 1920-an hingga tahun 1987-an dan dari awal tempat makan berdiri sampai sekarang rasanya masih sama. Yuk langsung disimak apa aja 🙂

Soto Semarang yang bening, kuahnya kaldu banget

(1) Nasi Pindang Gajah Mada

Begitu sampai Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, aku langsung dijemput tim Public Relation (PR) Ciputra dan tak lama elf kami menuju tempat kuliner legendaris pertama yaitu Nasi Pindang Gajah Mada. Langsung saja terbayang piring dengan alas daun dan nasi yang disiram kuah pindang dari kaldu sapi panas. Slurrpp, rasanya nggak ketulungan ngilernya.

Sampai aku menuliskannya di blog, masih terasa enaknya kuah pindang sapi yang memakai nasi dengan porsinya memang sedikit. Kata Pak Masyudi, pemilik Nasi Pindang Gajah Mada, dulu priyayi di Kesultanan Yogyakarta dan Solo itu kalau disuguhkan makanan ya porsinya kecil segini.

Rasa Nasi Pindang Gajah Mada tidak berubah sejak tahun 1987. Semuanya berkat racikan bumbu menggunakan bawang lanang tunggal yang punya ciri khas aroma berbeda dan ada khasiat menurunkan tekanan darah tinggi. Selain menu andalan Nasi Pindang, sejak tahun 1990-an Pak Masyudi ikut memberikan pilihan menu Soto Semarang, yang cocok rasanya untuk Anda yang suka dengan kuah bening.

Nah, aku juga mencicip Soto Semarang yang bening ini, sesuai selera aku banget memakai tauge yang kecil dan berbagai pelengkap seperti daun seledri. Karena porsinya kecil, setelah nyobain nasi pindang sah sah aja tuh kalau mau nambah seporsi Soto Semarang. Nggak kan bersalah sama perut.

Nasi Pindang Gajah Mada

Alamat : Jl Gajah Mada no 98 B, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 17.000

Jam Buka : 06.00 – 22.00

Bayangkan kepala Ikan Manyung sebesar ini, apalagi badannya?

(2) Warung Kepala Manyung Bu Fat

Kemudian, jelajah kuliner berlanjut agak jauh dari pusat kota yang butuh sekitar 30 menit berkendara. Ada Warung Kepala Manyung Bu Fat yang begitu terkenal dan sangat khas kota Semarang. Kepala Manyung yang berukuran besar itu sebelumnya diasap diberi bumbu pedas khas Bu Fat. Di warung makan ini, ikan manyung didapat dari perairan Jepara, Cirebon, hingga Banyuwangi.

Selain ikan manyung yang khas dan harus dicoba ketika datang, temukan juga macam hidangan lain sebagai pelengkap mulai dari sayur, goreng-gorengan, botok, hingga lalapan. Aku rekomendasi kamu untuk pesan kepala manyung buat makan sharing, hehe. Karena pedesss banget bumbunya ambil nasinya juga mesti banyak hehehe. Cocok buat makan siang, yang agak berat ya.

Warung Manyung Bu Fat

Alamat :

Cabang 1 Jl Sukun Raya No 36, Srondol Wetan, Banyumanik

Cabang 2 Jl Ariloka, Kerobokan Semarang Barat

Harga Per Porsi : Rp 75.000 – 150.000

Jam Buka : 07.00 – 19.00

Pisang plenet yang di Jalan Pemuda

(3) Pisang Plenet

Mendekati sore hari aku diajak tim public relation Ciputra mampir untuk menikmati dessert. Pisang Plenet yang sudah terkenal di Semarang sejak tahun 1960-an tentu cocok jadi makanan kudapan sore. Pisang plenet dibuat dari pisang kepok yang dibakar lalu dipipihkan dan diberi topping aneka rasa.

Sang penjual, Pak Tri telah berjualan pisang plenet dengan gerobak di jalan Pemuda sejak awal. Semula, pisang plenet hanya menggunakan topping nanas, mentega, dan gula putih halus. Namun seiring waktu ada banyak rasa ditambahkan seperti menggunakan keju dan meses cokelat.

Pisang Plenet

Alamat :  Jl. Pemuda, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 8.000

Jam Buka : 10.00 – 22.00

Asem-asem Koh Liem yang seger dan melegenda itu

(4) Asem-Asem Koh Liem

Perut sudah bener-bener kenyang hehe. Sehari rasanya memang nggak cukup buat nyobain semua kuliner legendaris di Semarang. Makanya kapan nanti aku niat banget untuk balik lagi ke Semarang buat liburan. Nah, untuk makan malamnya, aku menyambangi juga warung yang juga legendaris di Semarang yaitu Asem-Asem Koh Liem.

Spesial menu asem-asem disini menggunakan daging dan urat. Dalam semangkuk asem-asem, rasa asem berasal dari tomat, belimbing wuluh, dengan pedas dari cabe merah rawit dan kecap merek Mirama khas produksi Semarang, menjadikan menu asem-asem disini makanan khas yang Semarang banget. Menu di tempat ini berisi berbagai sajian dengan pencampuran Jawa Tiongkok, selain pesan semangkuk asem-asem coba juga telur goreng sum sum yang begitu gurih dan enak.

Asem-Asem Koh Liem

Alamat : Jl. Karang Anyar No. 28 Semarang

Harga Per Porsi : Rp 33.000

Jam Buka : 07.00 – 17.00

Ini es krim jadul di Toko Oen yang aku cobain

(5) Toko Oen

Terakhir, jika ke Semarang jangan lewatkan untuk menyambangi Toko Oen. Kalau memang sudah nggak kuat makan maka kesini ya untuk beli oleh-oleh seperti lumpia. Sudah turun-menurun tempat ini mempertahankan cita rasa makanannya, bahkan interiornya masih bergaya Belanda. Menjadi saksi sejarah penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.

Ada banyak jenis roti jadul seperti roti gandjel rel, tapi katanya juga disini yang enak roti telurnya. Aku bawa pulang ke Jakarta dengan harga rata-rata satuannya Rp 6.500. Rasanya nggak ada roti dengan rasa klasik ini ada di Jakarta.

Toko Oen

Alamat : Jl. Pemuda No.52, Bangunharjo, Semarang Tengah

Harga Per Porsi : Mulai dari Rp 6.500 untuk bakery dan pastry

Jam Buka : 09.30 – 21.30

Kulineran yang aku sambangi ini belum ada apa-apanya lho, tapi lumayan lah sudah mewakili rasa legendaris Kota Semarang. Menurut Irzal, dari Kompas.com, teman media yang seperjalanan diundang sama Ciputra, masih ada Es Krim Cong Lik yang jadul dan mesti dicoba juga. Nah, makin kepingin balik lagi rasanya..

Bersama teman-teman media dari Jakarta dan media lokal di Semarang, serta tim public relation Ciputra
Asia, KOREA SELATAN, Kuliner, Liputan, story, The Journey, Traveling

Tak Sengaja Makan Babi Enak di Pulau Jeju

Cara makan BBQ a la Korea dengan daun mint dan ditambah saus kacang fermentasi.

Antara menjadi sebuah pengalaman lucu atau memalukan. Tak sengaja makan babi enak di Pulau Jeju. Sampai sekarang saya masih ngikik ketawa kalau ingat moment itu. Ya Allah dosa banget ya, ketidaksengajaan ini kenapa justru jadi bahan lelucon saya.

Hari itu Kamis (19/10/2017) saya betul-betul exited, soalnya bakal terbang ke Pulau Jeju. Langsung terbayang suasana seperti yang pernah saya lihat di drama Korea Jewel in The Palace dan senengnya ini bukan hal biasa, karena Jeju terkenal punya pemandangan indah dan buat sampai ke Jeju itu perlu biaya mahal. Trip ke Seoul-Jeju 5 hari, bisa habis Rp. 20 juta kali ya, akomodasi yang buat pekerja media seperti saya sayang, mending buat umroh apa ke Himalaya atau tabungan *****.

Hanya butuh satu jam penerbangan dengan pesawat udara dari Bandara Gimpo menuju Pulau Jeju. Dari Lotte Hotel di Seoul rombongan jurnalis berangkat jam 09.00 pagi, soalnya pesawat kami sekitar jam 11.00 siang, nampaknya sengaja supaya sampai di Pulau Jeju tepat di jam makan siang. Begitu sampai bandara Jeju yang terbilang modern untuk ukuran sebuah airport di Pulau, bukan Ibu Kota Negara, bus kami dibawa mampir ke restoran Pinx Biotopia, berlokasi di 863 Sallongnam-ro, Andeok-myeon, Seogwipo-si.

BBQ yang menyesatkan itu, Babi Jeju yang mirip sapi

Tempat ini selain terkenal karena makanannya yang enak, pemandangannya juga bagus. Tampak seperti sebuah resort, tapi memiliki restoran. Senangnya makan kami bentuknya bukan buffet atau prasmanan. Jadi tinggal duduk anteng, pelayan akan membawa per set menu mulai dari makanan pembuka, sampai penutup.. semacam casual fine dining jadinya. Nggak perlu mondar-mandir dari meja buat ambil makan. Ini yang saya suka ☺️.

Nah menu pertama yang disajikan di atas meja sebagai hidangan pembuka adalah jeonbokjuk. Merupakan masakan Jeju yang terdiri dari bubur nasi dengan kerang abalon. Masakan ini memiliki rasa manis dan aroma yang unik. Teksturnya tak terlalu encer dan butiran nasinya masih bisa terlihat. Kaldu berasal dari kerang abalon sebagai rebusannya.

Pada masa lalu Jeonbokjuk disajikan khusus untuk keluarga kerajaan. Langsung, membayangkan lagi setting film Korea era Joseon. Pfffttt mulai lebainya 😂

Bubur abalon, enak banget.. Jangan heran ya kalau abalon sangat khas di Jeju, karena wilayah ini memang dekat dengan laut. Kerang abalon selain dimasak menjadi bubur juga dijadikan menu abalon japchae. Menu ini merupakan soun yang dicampur dengan berbagai jenis sayuran dan daging sapi. Japchae dimakan sebagai lauk, terutama dalam pesta dan kesempatan khusus. Nah saya nyobain abalon japchae sih bukan di Jeju, tapi di Seoul sehari sebelum ke Jeju.

“Kerang Abalon ini harganya mahal, (berapa Dollar gitu cuma dapet berapa buah) karena mendapatkannya juga sulit, besok di Jeju pasti akan ada menu abalon juga karena termasuk yang khas,” kata Yale Kim dalam Bahasa Inggris, tour guide yang menemani saya dan teman-teman media selama di Korea.

Pelengkapnya ada sup rumput laut juga dan ikan teri, kimchi, sayur, sehat banget. Korea terkenal dengan hidangan bakaran atau BBQ, pasti sudah ngeh kan? Biasanya orang Korea juga menyantapnya bersama saus tertentu misalnya saus kacang yang difermentasi dan sayur mentah daun selada, termasuk daun mint. Nah, disini letak ketidaksengajaan memakan babi hitam Jeju.

Kesok-tahuan saya soal makanan, apalagi yang halal-haram lalu runtuh ketika Mbak Tenik dari Majalah Grazia Indonesia bertanya nama menu yang kami makan.

“Ini nama menunya apa ya?,” tukas Mbak Tenik..

Tak lama sebelum penerjemah kami membalas dalam bahasa Indonesia, sedetik ada bengong nggak percaya, karena saya denger kata pork 😂… what??? Dalam hati kok bisa nggak tahu saya, daging pork, minyaknya, dan baunya saya tahu karena memang sering liputan kuliner. Kok ini bisa kecolongan ya? … ZzzZz…

Lantas tawa meledak, meski masih ada rasa tidak percaya. Tapi justru rekan kami meledek, “bukan, ini bukan pork, sini gue cobain lagi,” samber Kiki dari Woolipop.com sambil cuek makan itu babi Jeju lagi 😂

Mending makan dessert deh, ini dessert pas dinner di tenda Dooorrr..

Mana tadi saya makan daging itu cukup banyak, sekitar 5 kali suapan 😂. Soalnya memang enak, teksturnya agak berserat otot mirip sapi. Saya jadi penasaran kenapa babi hitam Jeju rasanya tidak seperti babi kebanyakan?

Disini ada moment saya nanya-nanya ke Yu Meng, Penerjemah yang ikut menjelaskan ini itu selama di Jeju. Katanya disebut babi hitam karena memang memiliki ciri khas tubuh yang kecil dan berbulu hitam. Di Jeju, babi ini telah lama diternakkan dengan cara yang unik yaitu di dalam kandang tradisional yang berhubungan dengan pelimbahan kotoran manusia, sehingga dengan cara ini, berperan sebagai pemakan kotoran tersebut. Cara ini konon membuat daging babi ini memiliki rasa yang unik.

Daging babi Jeju juga ternyata tak seperti kebanyakan, karena teksturnya lebih berserat dan tidak memiliki bau seperti halnya babi biasa, bahkan lebih mirip seperti daging sapi, inilah keunikannya. Menurut Wikipedia semenjak tahun 1960-an, babi ini telah diternakkan dengan cara yang lebih modern. Daging babi jenis ini harganya lebih mahal daripada daging babi biasa. Kini babi khas Jeju ini tidak lagi memakan kotoran manusia.

Food, Indonesia, Kuliner, The Journey, Traveling

Kuliner Jalanan Kota Pasuruan Sebelum Nanjak ke Bromo

Kuliner di tanah Jawa dari sisi Barat hingga ke ujung Timur-nya punya ciri khas yang berbeda. Saya yang orang keturunan Jawa pun masih penasaran buat nyobain kuliner jalanan atau istilah kerennya street food saat family trip ke Jawa Timur libur Lebaran kemarin.

Soalnya jarang banget nyentuh sisi Timur pulau Jawa. Paling sering ke wilayah Jogja aja atau yang deket rumah Bogor. Di tanah Pasundan kalo diperhatiin paling sering nemuin sayuran lalapan lengkap sama sambalnya. Sementara di Jawa Tengah akan banyak makanan bercita rasa manis. Berbeda nih di Jawa Timur, varian makanannya ternyata banyak menyertakan lontong atau ketupat.

Kebetulan, waktu menghabiskan libur Lebaran kemarin saya sama keluarga yang sudah rencana lama buat ke Bromo. Kami berangkat via Pasuruan, salah satu jalur buat mencapai Gunung Bromo.

Sepanjang jalan melewati Pasuruan akhirnya nyobain kuliner Jawa Timur. Dan menariknya benang merah dari kuliner Jawa Timur itu adalah lontong. Makanan apa yang berkuah pakai lontong, bukan nasi. Walau bisa juga dengan pilihan nasi.

Kupang lontong adalah satu dari sekian banyak nama makanan khas dari daerah Jawa Timur. Makanan ini terkenal khususnya di daerah Surabaya, Sidoarjo dan Pasuruan. Di daerah pesisir timur Jawa Timur, lontong kupang yang terkenal adalah kupang keraton.

Nama Keraton ini diambil dari suatu nama daerah atau suatu nama kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Sudah sejak lama penduduk daerah ini mencari dan berdagang kerang kupang. baik dijual mentah ataupun berupa kuliner lontong kupang.

Kupang sendiri merupakan semacam kerang yang bentuknya kecil sebesar biji beras. Kupang yang telah dikupas dan dimasak, ditambahkan lontong dan lentho, kemudian diberi kuah petis dan sedikit perasan jeruk nipis.

Selain tentu saja menambahkan bawang goreng dan bumbu bawang putih dan irisan cabai rawit. Untuk menghidangkan biasanya dipadukan dengan sate kerang, serta minuman air kelapa muda atau degan. Masyarakat setempat mempercayai apabila memakan lontong kupang sambil minum air degan maka siapa pun akan kembali sehat.

Masih dengan bahan utama lontong, sepanjang jalan saya juga melihat banyak warung makan yang menjual lontong kikil. Kuahnya mirip soto. Jika di Jakarta soto dihidangkan dengan nasi, maka kuah yang kuning dan berminyak dari sari daging sapi tersebut dimakan dengan potongan lontong. Tak lupa ada tambahan kerupuk untuk menambah tekstur garing.

Kikil diambil dari kaki sapi bagian bawah yaitu kuku yang dikupas dan sekitarnya, kaki sapi dipanggang dan dihilangkan bulunya dengan jalan di cukur, setelah itu dipotong-potong ukuran kecil dan dimasak dalam kuah yang dicampur dengan bumbu.

Masakan kikil ini agak kental karena kaki sapi banyak mengandung kolagen di mana kolagen ini akan mencair ketika dipanaskan dan akan menjadi seperti gel jika dibiarkan dingin. Lontong kikil banyak dijual keliling, dulu dijajakan dengan dipikul namun sekarang banyak juga yang menjualnya di warung khusus menjual lontong kikil dan gulai. Harga lontong kikil termasuk paling mahal di antara semua jenis makanan lontong yang ada di Jawa Timur, karenakan mahalnya harga kaki sapi.

Masih ada beberapa kuliner lain di Pasuruan, misalnya nasi mawut yang di Jakarta sebenernya ada satu restoran yang jual. Nasi mawut itu nasi goreng yang dihidangkan dengan mie goreng. Hahaha sama-sama karbo! Saya skip soalnya bisa cepet kenyang dan bikin gendut. Makanan lain mirip-mirip sama yang di Jawa Tengah seperti rawon. Belum nemuin yang aneh banget sih.. kira-kira itu saja rekomendasinya yang enak dan unik lontong kupang dan lontong kikil, jangan lupa cobain kalau mampir.

culinary, Kuliner, Liputan, MALUKU - Indonesia, story

Maluku dan Cerita Kuliner Khasnya

 

img_20161130_165847
Pisang Goreng di Maluku, Ambon… bedaaa

Sepanjang liputan di Banda Naira, Maluku, hampir tiap hari ketemu segala macam seafood. Berhubung dekat laut, harga ikan dan kawan-kawanan laut juga lebih murah. Pagi sekali begitu tiba di Bandara Patimura Ambon, mobil jemputan pun cussss cari sarapan di pinggir jalan sebelum sampai Pelabuhan Tulehu.

Tak sekedar ikan saja, disini yang beda adalah ketika makan bersama nasi kelapa. Mirip nasi uduk tapi beda rasa gurihnya, dilengkapi sambal colo colo yang khas Maluku. Sambalnya asam pedas, karena memakai perasan jeruk nipis, potongan tomat dan cabai.

Ikan yang begitu saja dibakar tadi karena masih segar terasa manis dagingnya. Sudah pas pokoknya bila dipadu sambal colo colo yang asam pedas. Semua terasa segar, walau sebenarnya kalau sarapan menu lengkap seperti ini terlalu kebanyakan buat saya.

img_20161126_070800
Ikan batu batu yang cuma dibakar, lalu ada nasi kelapa dengan tambahan potongan ikan tongkol dan bakwan, yang segar juga sambal colo colo dengan tambahan daun kemangi.

Kuliner yang buat saya mikir saat memakannya adalah kue Suami. Mikir aja, ketika tahu itu namanya suami. Kenapa juga ya dikasih nama itu. Unik memang namanya,  makanan ini dibuat dengan bahan dasar kasbi (singkong) yang dicampur dan diolah dengan bumbu-bumbu khas lainnya.

Saya mencicipi saat mampir ke Pulau Banda Besar, di Desa Waer (disini nggak ada sinyal sama sekali) yang untuk kesana perlu naik speed boat 30 menit dari Pulau Naira. Buatnya unik, bukan sekedar singkong tapi ketika memeras airnya dengan cara manual di tindih batu kali.

Selain suami, yang buat saya meleleh sampai sekarang adalah waktu mencicipi kue Cara waktu sarapan di hotel. Nambah dong, nggak ngambil hanya satu. Tapi makan 2 saja sudah kenyang.

Kue Cara ini seperti kue talam atau kue lumpur menurutku, versi gurih tapi. Rasanya perpaduan gurih santan dan taburan ikan tongkol di atasnya yang buat enak. Karena memakai tambahan irisan cabai, kue ini seperti nyelekit pedas walau sebentaran.

img_20161130_165553
Rujak Natsepa, rujaknya beda bumbu kacangnya lebih banyak dan dominan 🙂
img_20161128_142617_1480332241514
Kue suami, yang warna putih. Jadi kalau ditanya kapan punya suami? jejelin aja ini kue ke yang nanya 🙂

Lalu pisang goreng di Ambon juga beda sama pisang yang ada di Jakarta. Rasanya manis matang di pohon dan besar-besar ukurannya. Coba aja kalau lagi di Ambon atau Banda Naira, pisang ambon disini digoreng tepungnya juga seperti dibalut gula jawa, padahal nggak sama sekali. Metode masak orang Maluku yang membuat rasa sama warnanya jadi beda.

Tapi kalau spesialnya, Maluku itu terkenal dengan buah Pala, bahkan sumber penghasil Pala di abad ke-16. Terutama di Kepulauan Banda Naira. Jadi kalau ke Maluku terlebih mengunjungi Banda Naira, harus banget nyicipi aneka olahan buah Pala.

Meski di Pulau Jawa kita biasa menemukan manisan buah pala. Masih banyak olahan Pala, seperti selai Pala, sirup Pala. Kalau di cafe sekitar pulau Naira kamu bisa menemukan yang menjual pancake nutmeg (nutmeg bahasa Inggris Pala). Rasanya beda, ada asam dan aroma pala.

Dan yang terakhir saya coba sebelum take off ke Jakarta .. Rujak Natsepa. Ini rujak buah-buahan sebenarnya, namanya menjadi Natsepa karena dijual di pinggir Pantai Natsepa. Yang membuat rujak ini beda, bumbunya diuleg bersama kacang yang mendominasi bikin gurih. Jadi bayangkan saja, saat panas cocok banget makan Rujak Natsepa ini sambil kepedasan.

kue-cara
Kue Cara, rasanya gurih enak dari kelapa dan taburan ikan tongkol, ada pedas cabenya pula 🙂

BANGKA BELITUNG - Indonesia, culinary, Indonesia, Kuliner, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Sehari Jelajahi Kuliner Khas Bangka

Ibu kota Pangkal Pinang diguyur hujan siang itu, sesaat setelah pesawat mendarat di Bandara Depati Amir. Namun, hujan deras hanya sebentaran lewat karena cuaca kembali panas. Menjelang waktu makan siang sajian menu seafood pun terasa begitu pas dengan panas terik kota yang sempat jadi tempat pengasingan Bung Karno ini.

Cukup dekat dari pusat kota, ada sebuah restoran seafood yang cukup terkenal bagi pendatang dari luar pulau maupun warga lokal. Di restoran seafood Mr. Adox yang berlokasi di Jl. Raya Simpang 4 Kantor Gubernur, bisa ditemui berbagai menu kepiting, olahan laut serta masakan khas Bangka lainnya.

lempah-kuning
Lempah Kuning yang segar dan cocok untuk makan siang di tengah terik matahari

Meski terkenal dengan menu kepitingnya, sajian yang pertama sekali harus dicoba adalah lempah kuning. Ini adalah masakan lempah yang isinya terdiri dari ikan kakap merah atau tenggiri dan ikan katarap dengan kuah yang berbumbu kunyit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, terasi, lengkuas dan belacan.

Lempah ini memiliki kuah berwarna kuning dan biasanya dimasukkan potongan-potongan nanas sehingga disebut juga lempah nanas. Orang Belitung menyebutnya gangan ketarap. Kebetulan untuk lempah yang saya coba memakai ikan katarap. Sebetulnya bisa juga menggunakan ikan kakap yang dapat pula digantikan dengan daging sapi ataupun udang, sehingga lempah memang tak harus selalu berisi ikan.

“Lempah kuning itu makanan keseharian orang Bangka, seperti menu wajib,” ungkap teman saya Rizeki Hardiansyah, seorang warga lokal Bangka.

kepiting-tapal-ketan
Kepitingnya, nyesss…. manis karena segar dari lautan di sekitar Pulau Bangka.

Memang rasanya sangat segar, meski ada campuran bumbu terasi tapi tak terlalu kentara wangi terasi. Justru yang dominan rasa segar berkat tambahan nanas dan ikan segar membuat kuahnya tak amis.

Berlanjut dengan menu kepiting, ternyata bumbunya pun memiliki banyak varian. Biasa dengan kepiting lada hitam? Cobalah mencicipi kepiting tapal ketan, kepiting rebus, kepiting goreng mentega. Melimpahnya kepiting di Pulau Bangka menjadikan olahannya pun lebih variatif, namun tetap hampir sama bercita rasa manis berkat kesegaran kepiting.

Sotong juga banyak ditemui di Pulau Bangka, sehingga untuk lauknya ada sotong crispy yang dibalut dengan tepung garing dan dicocol bersama saus asam manis. Jika masih terasa kurang pedas menyantap lauk atau pesanan ikan bakar dan kepiting, pengunjung bisa meminta tambahan bumbu khas setempat yaitu jeruk kunci, kecap hitam dan potongan cabai merah.

es-kacang-merah
Es Kacang Merah, manis dengan susu kental manis putih dan santan, terus serutan esnya lembut padahal pakai mesin biasa

Usai makan siang dengan segala menu seafood, saya juga mampir ke sebuah kedai es kacang merah, Es Ayong yang masih terletak di pusat kota. Kedai es yang sudah ada sejak tahun 70-an ini dibuat dengan serutan es lembut, dibawahnya ada kacang merah besar dan dipadu sedikit santan serta lelehan susu kental manis.

Es kacang merah tak hanya ada di kedai Es Ayong, saat berkunjung ke warung Otak Otak Amui di Jl. Melintas no 23, Pangkal Pinang juga ditemukan menu es kacang merah. Tentu saja otak-otak cocok dipadankan dengan menyeruput es kacang merah, meski dalam kondisi cuaca hujan. Jika ingin lebih manis gurih bisa juga menambahkan alpukat di dalamnya.

Menjelang sore, jika belum puas mampirlah memesan bakmi Bangka. Terkenal dimana-mana bakmi Bangka ini pun bisa ditemukan di restoran yang ada di Menimbung Heritage Hotel, sebuah tempat yang kini menjadi salah satu ikon Kota Bangka. Di hotel ini, juga bisa ditemukan berbagai menu khas Bangka lain seperti lempah kuning dan jus nanas yang dijadikan minuman coktail.

membuat-martabak-tipis-begini-caranya
cara buat martabak tipis kering, garing gurih, enak banget

Bangka juga memiliki kuliner populer martabak. Nah, malam hari akan sangat cocok bila menjelajahi rasa asli martabaknya. Meskipun di Jakarta pun martabak begitu mudah ditemukan dengan berbagai rasa dan varian, martabak Bangka terbilang belum bisa dikalahkan.Dari segi rasa maupun ketebalan yang pas.

Salah satu kedai martabak manis dan telor halal yang harus dicoba, yaitu Martabak Acau 89 di Jl. Soekarno Hatta no 9. Ada lebih dari 40 varian rasa, mulai dari martabak manis dan kering dengan keju, kismis, jagung, wijen, cokelat, pisang sampai martabak telor bebek polos tanpa daging dengan ayam maupun kornet.

Sudah terbiasa dengan martabak keju, nuttela, atau martabak cokelat tobleron, saya pun penasaran dengan kelezatan martabak manis rasa pandan keju jagung.

dscn7165
bakar otak-otaknya begini ternyata…

Dimakan saat masih hangat, aroma pandan berpadu keju dan jagung manisnya membuat lidah rasanya meleleh. Tak cukup satu, bahkan bisa membuat ketagihan. Begitu juga dengan rasa martabak telur bebek daging ayam, hampir setiap gigitannya mengundang ketagihan.

Ah,…. kenyang mencoba semuanya. Ini serius belum semuanya, kalau mau tahu kuliner khas lain masih banyak, tapi waktu sehari nggak akan cukup. Berhubung turis wisatawan kalau mau ke Pulau ini sekalian nyebrang ke Belitung buat meng-explore wisata pantai yang lebih keren disana. Kuliner Pulau Bangka dan suasana malamnya harus tetap dicobain atmosfernya.

Backpacker, culinary, Food, Indonesia, JAVA - Indonesia, Kuliner, story, The Journey, Traveling

Icip-Icip 7 Kuliner Asik di Dieng

Agenda jalan-jalan tanpa meng-eksplore kuliner setempat, kurang afdol rasanya. Lagi pula siapa sih yang tidak suka makan? Ayo tunjuk tangan. Terlebih kalau lagi traveling pastinya kamu ingin sesuatu yang berbeda untuk dimakan kan. Berhenti dulu diet-nya, makan apa saja yang kamu suka!

Nah, waktu ke Dieng kemarin saya mencoba beberapa kuliner khas di Dieng. Ini dia, tujuh kuliner asik di Daratan Tinggi Dieng. Check this out!

Mie Ongklok 

DSCN9889
Judulnya MIe Ongklok dalam kegelapan, hehehe isinya ada mie, potongan tahu, dan kuah mie yang lengket, serta sate ayam 3 tusuk saja.

Mie ongklok ini bisa harganya murah meriah, cukup Rp. 12 ribu saja satu mangkoknya. Seperti apa sih mie nya? Satu porsi mie ongklok cukup mini bagi saya, cuma buat icip-icip selagi laper dan banyak banget makanan di stand yang ingin dicoba.

Iya waktu Dieng Culture Festifal 2016 kemarin di pinggir lokasi ada aja tukang jualan makanan seru semacam street food. Berhubung lapar mata cobain deh beberapa. Jadi beruntung juga kalau porsi mie ongklok ini tak terlalu banyak.

Menurut penduduk asli penjual mie ongklok. Mie ongklok yang asli itu harganya rata-rata hanya Rp. 12 ribu dan jumlah satenya pasti 5, itu pun harusnya sate sapi bukan sate ayam seperti yang sempat saya cobain.

Mie ongklok juga sebenarnya berasal dari Wonosobo, jaraknya 1 jam dari Dieng. Cukup dekat dan kalau ingin mie ongklok yang asli bisa mencari di kota Wonosobo. Itu wajib banget, karena saya pun belum merasakan betul mie ongklok yang asli.

Kalau kamu perhatikan, kuah mie ongklok itu kan agak berlendir ya? nah itu karena ada campura tepung kanji, sehingga agak kental. Dengan tambahan bumbu kacang dari satenya kamu juga bakal merasakan perpaduan rasa kuah mie dengan bumbu kacang. Gado-gado rasanya.

kentang goreng dieng

Kentang Goreng 

Beda dari kentang goreng yang suka kita beli di restoran cepat saji, kentang goreng di Dieng itu ukurannya lumayan besar. Potongannya pun beda, begitu juga rasanya.

Dipadankan bersama saus cabai ketika memakannya, dicocol sama seperti kalau makan kentang goreng biasa. Selain saus cabai, kadang kamu juga dikasih pilihan bubuk cabai dengan rasa balado, jagung bakar atau BBQ. Sesuai selera aja pesannya dan seporsi kentang goreng yang baru dimasak itu harganya cuma Rp. 5 ribu.

Selama Dieng Culture Festival hampir di setiap jalan akan mudah ditemui kentang goreng khas Dieng ini. Harus coba dan enak dimakan hangat-hangat. Apalagi kalau cuaca dingin dan itu malam hari, sambil nonton acara Jazz Di Atas Awan, buat cemilan seru juga lho. Ibu saya kalau ke Dieng juga pasti beli kentang berkilo-kilo, haha maklum nyokap-nyokap kan gitu.

DSCN9983
Manisan Carica ini seger banget, kalau mau buat sendiri juga bisa tinggal beli buahnya saja.

Manisan Carica

Sebenarnya sudah pernah ke Dieng tahun 2013 sama keluarga dan ibu saya sering banget bolak-balik ke Dieng terus pasti beli buah carica, yang diolah menjadi manisan carica. Di Dieng banyak banget toko yang menjual carica kemasan.

Carica sendiri dibuat dari semacam pepaya mini. Bibit tanaman pepaya yang kalau ditanam di Dieng jadi menciut atau berukuran mini. Pohon-nya sendiri dan daun-nya adalah pepaya, cuma buah yang dihasilkan jadi mikro.

Kalau sudah matang, carica seperti pepaya juga. Buahnya akan kekuningan, nah ini kemudian diolah oleh penduduk setempat di Dieng sebagai manisan carica.

foto (32)
Nasi Megono yang saya cobain waktu di Dieng

Nasi Megono

Orang Indonesia belum makan nasi, belum makan namanya. Nah, di Dieng ada Nasi Megono yang bisa kamu cobain. Asal nasi megono juga dari Wonosobo, ya karena wilayah Dieng terkenal sebagai destinasi wisata dan banyak dikunjungi, warung nasi megono pun bisa ditemukan disini.

Pertama kali tanya ke ibu penjual, dia bilang itu nasi yang dicampur dengan sayuran urap. Langsung mikir sepertinya tak berselera, soalnya ibu syaa juga suka buat di rumah.. Hehehe wong Jowo, tapi setelah melihat dan mencobanya enak kok ternyata.

Saya ketagihan, tapi sudah kenyang. Jadi niat untuk nambah diurungkan. Lagi pula masih ada waktu sampai malam dan besok paginya buat beli cemilan. Sisahkan ruang di rongga perut. Kata Rasullulah SAW nggak baik juga kalau terlalu kenyang kan?

DSCN9908
Kalau lagi ada event besar seperti Dieng Culture Fesival (DCF) ada banyak mbok-mbok yang tiba-tiba jualan sate ayam 🙂

Sate Ayam Lontong

Sebenarnya sate ayam lontong itu bukan kuliner asli Dieng, menurut penduduk sekitar. Tapi karena ada event Dieng Culture Festival jadi banyak pedagang sate ayam lontong bertebaran dimana-mana.

Ini mirip sate ayam yang ada di Jogja, kalau saya lagi mampir ke Jogja kalau lagi mampir ke stasiun dekat Maliobboro itu. Bedanya di Jogja sate ayamnya lebih manis dengan kecap yang lebih banyak dan lebih gosong dipanggangnya. Saya lebih suka yang ada di Jogja. Rasa manisnya nggak nanggung dan entah bagaimana pokoknya beda.

Harga sate lontong di Dieng cukup murah. Rp. 10 ribu saja, ada satenya 6 dan lontong 1 yang cukup buat pengganjal perut di pagi hari. Jangan lupa minta sama mbok-mbok penjualnya untuk menambahkan irisan cabai rawit dan bawang merah supaya rasanya lebih segap.

temoe kemul di Dieng
Tempe/Tau Kemul atau jaket enak kalau hangat

Tempe atau Tahu Kemul A la Dieng

Tempe atau tahu jaket itu sudah biasa, kan di rumah juga suka buat. Tapi ini beda lho yang ada di Dieng, namanya tempe atau tahu kemul. Antara besar tempe dan tepungnya lebih banyak tepungnya dan melebar ke samping.

Dicampur juga dengan irisan daun bawang di adonan tepungnya, tempe kemul jadi makin enak dengan aroma bawang. Bisa dibayangkan bagaimana kalau dimakan saat masih hangat ditambah cabai rawit biar ada sensasi pedas.

Cuma cuaca di Dieng yang dingin minta ampun itu, sangat jarang bisa nemuin tempe atau tahu kemul yang masih hangat. Yang ada saya malah keras banget gigitnya, beku sama cuaca. Kalau bisa tungguin si abang jualan selesai menggoreng, baru deh bisa kamu dapetin tempe atau tahu kemul yang hangat 🙂

DSCN9884
Purwaceng, ada yang original dan dicampur susu.

Purwaceng 

Nah yang satu ini berupa minuman herbal khas dari Dieng, Purwaceng. Termasuk tanaman langka yang ada di Dieng, purwaceng mirip seperti jamu dan khasiatnya memang…. buat stamina.

Purwaceng ada yang rasa original dan dicampur dengan susu. Kalau say asuka yang dicampur dengan susu jadi tidak terlalu jamu banget. Harga segelas lumayan Rp. 12 ribu dan ketika mau beli buat oleh-oleh ukuran kecil tidak sampai 50 gram cukup fantastis untuk sebuah bubuk herbal, Rp. 75 ribu, karena itu tak jadi beli.

Tapi memang khasiat dan kelangkaan nya yang membuat purwaceng ini begitu lumayan harganya. Karena waktu di museum Dieng saya lihat tanaman ini hanya ada di Dieng dan kategorinya langka.