Asia, Eastern & Oriental Express Luxury Train, Liputan, overland by train, Singapura - Asia Tenggara, story, Thailand - Asia Tenggara, The Journey, Train, Traveling

River Kwai Bridge – Wisata Sejarah Thailand Burma Railway

di Death Railway Museum dok dyah ayu pamela.JPG
Pintu masuk Death Railway Museum

Sebenarnya agak aneh, ketika saya pergi traveling dan itu pada masa penugasan liputan (diluar extand). Soalnya semuanya sudah disiapkan panitia dari transportasi, hotel, makan, dan ke mana-mana mengikuti jadwal. Gregetnya beda dengan traveling tapi menyiapkan segala sesuatunya sendiri.

Hufffft! Kabar baiknya saya memang fokus buat report perjalanannya itu, walau disisi lain jadi  serasa ikut open trip yang sudah di atur ini itu. Enaknya semuanya santai karena tanpa bawa backpack super gede dan nggak terlibat susah payah meng-arrange itinerary. Nah ini kejadian saat liputan perjalanan kereta melintasi Singapura – Malaysia – Thailand.

Tiga negara dalam perjalanan 3 hari dan saat menuliskannya seperti terbawa langsung perjalanan ketika itu. Ngebayangin bagaimana saya tidur di kereta Eastern & Oriental Express Luxury.(Kalau cerita itu sudah pernah di post, bisa dibaca-baca dulu) di link ini https://dyahpamelablog.wordpress.com/2015/08/18/overland-singapura-bangkok-by-train-perjalanan-dengan-kereta-mewah-eo-express/

River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
River Kwai Bridge, berapa biayanya ke situs ini? saya lupa bertanya

Kalau bukan karena undangan media mana mungkinlah orang biasa-biasa saja seperti saya bisa naik kereta mewah ini. Iya mewah soalnya kamu harus mengeluarkan budget sekitar U$D 2000 untuk perjalanan ini. Kereta serupa juga ada yang beroperasi di Eropa. Mirip-mirip kereta yang ada di film Harry Potter. Klasik banget.

Rangkaiannya trip ini ada panjang sekali karena itu wajar kalau harganya mahal. Tiap negara mengunjungi destinasi wisatanya. Pelayanan kelas luxury, gerbong kamu private dengan kamar mandi shower dan sofa empuk yang kalau malam bisa diubah menjadi tempat tidur super nyaman selayaknya di hotel berbintang 4. Tiap pagi sarapan diantar, sama pelayannya yang kebanyakan orang berwarga negara Thailand. Lunch maupun dinner sepenuhnya fine dining di salah satu gerbong kereta khusus sebagai restorannya.

Ah sudahlah ini kan cerita soal Burma Railway…. kembali fokus ke cerita apa itu Burma Railway? Burma Railway atau juga dikenal sebagai Death Railway, Burma-Siam Railway, Thailand-Burma Railway merupakan jalur kereta api sepanjang 415 kilometer (258 mil) antara wilayah Ban Pong, Thailand, dan Thanbyuzayat, Burma, yang dibangun oleh Kekaisaran Jepang pada tahun 1943 untuk mendukung pasukan dalam kampanye Burma di Perang Dunia II.

Perjalanan menuju River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
bus tingkat yang membawa saya dari stasiun ke kota Kanchanaburi

Saya melakukan perjalanan ke River Kwai Bridge di hari ke 3 sebelum sampai di kota Bangkok. Sampailah di sebuah stasiun menuju salah satu kota di Thailand, namanya Kanchanaburi. Menuju River Kwai Bridge menempuh waktu sekitar satu jam menggunakan bus tingkat yang disediakan panitia.

Burma Railway sebagai jalur kereta api pada saat itu berhasil selesai hingga dapat menghubungkan antara Bangkok, Thailand dan Rangoon, Burma (sekarang Yangon). Jalur ini ditutup pada 1947, tetapi bagian antara Nong Pla Duk dan Nam Tok dibuka kembali sepuluh tahun kemudian pada 1957.

Kerja paksa digunakan dalam membangun konstruksi. Lebih dari sekitar 180.000 lebih atau mungkin banyak buruh sipil Asia dilibatkan dalam kerja paksa atau Romusha ini dan ada sejumlah 60.000 tawanan perang Sekutu (POW) bekerja pada rel kereta api.

Dari jumlah tersebut, perkiraan kematian akibat Romusha ini sekitar 90.000 orang meninggal. Sebanyak 12.621 orang dari Sekutu POW meninggal selama konstruksi. POW mati termasuk 6.904 personel British, 2.802 warga Australia , 2.782 Belanda, dan 133 orang Amerika.

IMG_6867.JPG
rombongan bersama Jonathan Phang baru menyebrang dari River Kwai Bridge

Makanya di dekat museum setelah mengunjunginya ada lahan yang merupakan kuburan dari korban pembangunan jalur kereta ini. Beruntungnya ya bukan kuburan massal seperti yang ada di Phenom Phen 😀 jadi nggak serem.

Ketika melewati River Kwai Bridge dengan perahu penumpang sepanjang perjalanan, turis yang kebanyakan para bule diberi penjelasan sejarah River Kwai Bridge dan Burma Railway.

Kami termasuk ada 4 media dari Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filifina dengan sisanya yang satu rombongan bersama saya adalah pemenang kuis acara Asian Food Chanel Gourmet with Jonathan Phang. Semuanya skitar 20 orang bersama Public Relation yang mengurus acara, termasuk Jonathan Phang yang ramah luar biasa diajak ngobrol.

Sampai diujung sana, menuju sebuah daratan lagi kami mendapati kuil budha dan anak-anak sekolah Thailand yang lagi piknik. Nggak lama kami naik bus lagi menuju Museum Burma Railway.

IMG_6882.JPG
Celementary yang merupakan kuburan dari korban pembangunan Burma Railway

Ini sebenarnya nggak enaknya ikut trip yang itinerary-nya dibuat orang, kurang leluasa mau ngobrol-ngobrol dulu sama penduduk sekitar.

Pembangunan rel kereta api ini telah menjadi subyek dari sebuah novel dan film pemenang penghargaan, The Bridge at River Kwai yang juga diambil dari novel, The Narrow Road to Deep North oleh Richard Flanagan ditambah sejumlah besar pengalaman pribadi tawanan perang Sekutu.

Baru-baru ini, gambar bergerak The Railway Man (berdasarkan novel dengan nama yang sama) juga memberikan pengetahuan tentang kondisi barbar dan penderitaan yang menimpa para pekerja yang membangun rel kereta api.

Semua keterangan ini ada di dalam museum. Sayangnya saya tidak diperbolehkan memotret ketika di dalam. Saya cuma bisa bilang ini museumnya keren banget, mungkin kamu bisa kesana dengan cara backpacker lewat darat ke kota Kanchanaburi. Ah seru, selain masih ada banyak lagi atraksi di kota Kanchanaburi.

melintasi River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
Nah selama di kapal turis diberi penjelasan soal sejarah pembangunan Thailand – Burma Railway

Ini tak kalah keren dari apa yang dibuat oleh Kamboja dan vietnam untuk wisata perang mereka. Bisa jadi referensi banget. Sebab di dalamnya ada edukasi soal sejarah pembuatan rel kereta api di masa itu, kenapa dibuat, kenapa ada korban jiwa, ada wabah penyakit juga, lalu betapa kurusnya pekerja paksa saat itu, bahkan ada kejadian semacam busung lapar. Ini terjadi di masa Jepang sedang berkuasa dan Sekutu menjadi tawanan perang.

Di museum juga akan diceritakan bahwa proyek Burma Railway merupakan sebuah prestasi mengesankan. Sebagai seorang insinyur Amerika mengatakan setelah melihat proyek, apa yang membuat teknik yang digunakan saat itu sebagai totalitas dilihat dari akumulasi faktor.

IMG_6885.JPG
kuburan korban pembangunan Burma Railway

Total panjang mil, jumlah total jembatan – lebih dari 600 buah, termasuk enam sampai delapan jembatan bentang panjang – jumlah orang yang terlibat (satu-seperempat juta), waktu yang sangat singkat di mana mereka berhasil mencapainya, dan kondisi ekstrim mereka capai di bawah.

Mereka para pekerja juga memiliki sangat sedikit transportasi untuk mendapatkan barang-barang ke dan dari pekerja, mereka hampir tidak ada obat, mereka tidak bisa mendapatkan makanan membiarkan bahan saja.

Mereka tidak memiliki alat untuk bekerja dengan kecuali untuk hal-hal dasar seperti sekop dan palu, dan mereka bekerja di kondisi yang sangat sulit – di hutan dengan panas dan kelembaban. Semua itu membuat kereta api ini merupakan prestasi yang luar biasa.

IMG_6870.JPG
Anak sekolah di Thailand lagi piknik, sayang ya bukan piknik di gunung 😀

 

Advertisements
Asia, Eastern & Oriental Express Luxury Train, Malaysia - Asia Tenggara, overland by train, Singapura - Asia Tenggara, Thailand - Asia Tenggara, Train, Traveling

Overland Singapore – Bangkok by Train, Perjalanan dengan E&O Express

Everyone ready to savour Jonathan's delicious dinner menu
Hari pertama dinner di kereta. Saya bersama tiga teman media yang ikut berpetualang dengan E & O Express. Ming Teoh dari Malaysia, Stephanie dari Philifina dan Jochelin dari Singapura. Photo dok Asian Food Chanel

Denting peralatan makan dan guncangan kereta menemani sajian makan malam saya. Atmosfer yang tak setiap hari bisa saya temukan. Berada di sebuah gerbong kereta mewah dengan interior klasik sambil menikmati sajian menu fine dinning dari chef andalan, tatanan pemandangan di luar kereta yang tak kalah bagus, ikut membuat takjub.

Di Gerbong Malaya, yang khusus merupakan ruang makan. Ikut bercengkraman dengan sesama tamu lain acara makan malam bernuansa glamor ini mungkin menjadi pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Dalam beberapa menit di sudut sana, Jonathan Phang yang merupakan bintang, pembawa acara di Asian Food Chanel (AFC), melakukan syuting untuk episode perjalanan yang kali ini melintasi Singapura hingga Bangkok, Thailand dengan Eastern & Oriental Express.

Pengalaman menarik dengan kereta mewah yang mirip seperti di film-film Hollywood ketika melintasi berbagai negara di benua Eropa, tentu tak semua orang dapat mengalaminya. Bagaimana bila pengalaman dan atmosfer yang sama berlangsung untuk menikmati sisi lain sebagian kawasan Asia Tenggara?

Di Woodland Station, Singapura
Di Woodland Station, Singapura. Tempat kami boarding pengecekan tiket dan dokumen keimigrasian. Foro dok : Dyah Ayu Pamela

Dalam sebuah perjalanan tiga hari bersama Jonathan Phang inilah, saya bersama 3 jurnalis lain dari Singapura, Malaysia dan Philifina, serta beberapa pemenang kuis dari acara Gourmet With Jonathan Phang berkesempatan merasakan sisi menarik perjalanan kereta mewah Eastern & Oriental Express yang juga beroperasi di Asia Tenggara.

Tak sekedar lewat saja, kereta pun berhenti di berbagai lokasi wisata menarik seperti di Kuala Kangsar, Malaysia dan mengenal sejarah pembangunan rel kereta Thailand-Burma di River Kwai sebelum mencapai Bangkok. Sepanjang perjalanan pemandangan alami khas Asia Tenggara dan pengalaman kuliner di sisi gastronomi menjadi saat-saat memoriable. Terutama setiap harinya kami menikmati lunch dan dinner yang dibuatkan oleh Chef Yannis Martineau dan Jonathan Phang lewat resep rahasia penuh keanekaragaman rempah dari keluarganya.

Day 1 : (Senin, 20 Juli 2015)

Perjalanan dimulai dari Singapura. Setelah berkumpul di Changi Airport, dengan bus besar peserta trip Gourmet with Jonathan Phang diarahkan untuk check in dan melengkapi dokumen di The Raffles Hotel. Bagasi kami dibawa dan tiap penumpang didaftarkan untuk kemudian mendapatkan nomor ruang kompartemen, dimana ini akan menjadi kamar tidur, tempat menikmati pemandangan luar biasa dari jendela kereta dan juga mandi dengan shower layaknya seperti sedang berada di hotel.

E&O Express at the station
Di Stasiun Padang Rangas, Malaysia lalu kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Bangkok. Foto dok : Asian Food Chanel

Saat menunggu kami dihabiskan dengan coffee break dan tea time, saling kenal dengan rombongan peserta trip with E&O Express. Hingga menjelang keberangkatan, kami kembali menuju bus yang akan mengantar ke Woodland Station, tempat kami boarding pukul 13.50 waktu Singapura. Disini ada pengecekan dokumen seperti passport dan tiket di imigrasi. Sekitar pukul 15.15 kereta pun mulai berangkat, melewati wilayah Keluang Malaysia dan beberapa stasiun.

Tak berapa lama, setelah menemukan kompartemen masing-masing seorang pelayan bernama Eakachai yang berkewarganegaraan Thailand masuk dan menawarkan sesi tea time di kompartemen saya. Siang itu adalah waktu beristirahat bagi kami semua peserta dari 4 negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Philifina, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang.

Ruang kompartemen saya dimana ada kursi yang pada malam hari bisa diubah menjadi tempat tidur super nyaman. Lalu ada toilet dan lemari di sisi sebelah kanan.
Ruang kompartemen saya dimana ada kursi yang pada malam hari bisa diubah menjadi tempat tidur super nyaman. Lalu ada toilet dan lemari di sisi sebelah kanan. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dari dalam jendela kompartemen sambil menikmati teh dan berbagai jenis roti serta cheese cake seperti sebuah hadiah. Sesekali masinis memberikan pengumuman lewat pengeras suara. Dan sore itu diberitahukan bahwa waktu makan malam kami akan mulai sekitar pukul 6 sore.

Bukan makan malam biasa, di kereta mewah ini baik pria dan wanita memakai pakaian terbaiknya. Pria, termasuk kameramen yang merekam selama syuting untuk program Tv pun ikut mengenakan jas dan dasi, sementara wanitanya memakai gaun dan menata rambutnya lebih apik, tak ada yang memakai jins ataupun sepatu keds disini, tak terkecuali saya.

Atmosfer makan malam di sebuah kereta mewah sungguh amat berbeda. Goncangan kereta, denting suara gelas dan lampu chalender serta temaran lampu yang terkesan romantis malam itu menambah suasana elegan interior dalam kereta. Menu makan malam kami saat itu Amuse Bouche yang merupakan sejenis cream soup, dengan menu utama saya pilih Medalion Beef dengan sayuran bersama saus Vindaloo dan mustard. Untuk makanan penutup kami disuguhkan Medley of Asian Citrus Fruit yang di lengkapi dengan Yuzu Sorbet dan krim kelapa. Sebuah pengalaman gastronomi yang tak terlupakan, di sebuah gerbong kereta mewah.

Jerk Chicken main menu yang saya pilih di hari ke-2 dinner
Jerk Chicken main menu yang saya pilih di hari ke-2 dinner. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Hari ke-2 : (Selasa, 21 Juli 2015)

Penumpang kereta Eastern & Oriental Express memang sengaja tidak disediakan fasilitas wifi. Karena perjalanan dengan kereta mewah ini dirancang untuk betul-betul menikmati suasana kereta saat melewati berbagai pemandangan eksotik khas Asia Tenggara.

Hari kedua perjalanan bersama Jonathan Phang dimulai dengan aktivitas sarapan di dalam kompartemen tepat pukul 07.00 waktu Malaysia. Ketibaan kami di stasiun Kuala Kangsar, sebagai tempat kami mampir pada malam sebelumnya telah diberitahukan lewat pengeras suara pukul 08.00. Dua buah bus besar menanti di parkiran stasiun, membawa rombongan ke Pasar Kuala Kangsar dimana Jonathan Phang akan melakukan kunjungan dan mencoba kuliner setempat.

Pasar Kuala Kangsar seperti halnya pasar di Indonesia, tak jauh berbeda. Phang pun sempat mencoba Teh Tarik dan Nasi Lemak yang merupakan makanan khas Negeri Jiran. Phang yang bermukim di Inggris juga menghampiri pedagang Duren, membeli buah itu, meminta peserta trip untuk mencobanya.

“Saya selalu suka pasar dan pasar adalah tempat yang menarik meski karena sebelumnya sempat kesini, jadi saya tidak terlalu terkejut,” ungkap Phang.

Guests on the train observatory deck taking in the view
Pemandangan di bagian belakang kereta, ini indah banget bisa menikmati perjalanan dengan cara yang berbeda mengenal sebagian Asia Tenggara. Foto dok : Asian Food Chanel

Selepas dari kunjungan di Pasar Kuala Kangsar, bus membawa kami ke salah satu mesjid termegah di distrik Perak salah satu wilayah Malaysia. Peserta rombongan tak sembarangan untuk masuk ke masjid ini, karena wanita harus berpakaian sopan dan memakai jilbab. Tapi pihak masjid pun menyediakan sejenis pakaian penutup dan scarf untuk pengunjung.

Masjid Ubudiah yang telah selesai di bangun pada 1917 silam didesain dan dibangun oleh Arthur Hubback seorang arsitek Inggris. Di dekat masjid juga ditemukan Bamboo Palace, bangunan yang dibuat pada 1926 merupakan istana sementara.

Tur dilanjutkan dengan mengunjungi Galeri Sultan Azian Shah, Sultan ke-24 yang telah direstorasi dimana sebelumnya merupakan Istana Ulu atau Istana Kota bekas bangunan istana. Di dalam galeri terdapat foto keluarga, tropi, dokumen dan berbagai penghargaan dari negara sahabat termasuk hadiah yang dipersembahkan untuk Sultan.

Pertunjukan tari tradisional Thailand di atas kereta sambil menunggu dinner.
Pertunjukan tari tradisional Thailand di atas kereta sambil menunggu dinner. Foto dok : Asian Food Chanel

Memasuki jam makan siang, pukul 10.15 kami diarahkan kembali ke bus yang kemudian membawa rombongan ke Stasiun Padang Rengas, tempat kereta kami menunggu. Kembali ke kompartemen, ini adalah acara bebas sebelum menunggu sajian makan siang. Tapi tentu tak berlaku untuk saya yang sebelum makan siang punya jadwal wawancara sekitar 25 menit dengan Jonathan Phang. Sesi wawancara one by one ini berlangsung di ruang baca secara bergantian.

Bila pada hari sebelumnya pemandangan di luar jendela berupa pohon kelapa sawit, di hari kedua ini suguhan yang lebih indah yang saya temukan berupa bukit-bukit. Suasana yang berbeda ini menjadi atmosfer selama makan siang. Tepat pukul 15.00 kami tiba di Stasiun Padang Besar, kereta berhenti cukup lama karena disini ada pengecekan dokumen keimigrasian sebagai formalitas. Waktu lokal pun sudah berubah menjadi zona waktu Thailand yang tak berbeda dengan waktu lokal di Indonesia.

Galeri Sultan Azlan Shah, di dalamnya ada berbagai benda seperti foto keluarga hingga tropi dan benda pemberian negara sahabat.
Galeri Sultan Azlan Shah, di dalamnya ada berbagai benda seperti foto keluarga hingga tropi dan benda pemberian negara sahabat. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Usai makan siang menjadi waktu yang panjang untuk beristirahat atau memilih untuk menikmati hiburan yang dijadwalkan sore hingga malam hari itu, termasuk tea time sebelum makan malam pukul 21.00. Ada hiburan di piano bar dimana Jonathan ikut serta. Persembahan tari tradisional juga ikut mengisi waktu kami sebelum menikmati makan malam yang pada hari itu dibuatkan khusus dari resep Jonathan.

Sajian pembuka makan malam kami adalah Salt Fish Cakes dengan Manggo Salsa dan Red Pepper Mayonnaise. Kemudian ada soup, Spiced Pumpkin dan Seafood Soup dengan menu utama Jerk Chicken dilengkapi Nasi Biryani. Sebagai hidangan penutup Coconut Pineapple Crumble Cake dan Vanilla Ice Cream yang manis menjadi penawar rasa pedas makanan pembuka dan utama kami, cita rasa kaya rempah dan bumbu dari Jonathan.

Kembali syuting, ini suasana dinner di hari ke-2 kami bersama Jonathan Phang. Menunya pun kaya rempah dan semuanya pedasssss :D
Kembali syuting, ini suasana dinner di hari ke-2 kami bersama Jonathan Phang. Menunya pun kaya rempah dan semuanya pedasssss 😀 Foto dok : Dyah Ayu Pamela.

Disela acara makan malam itu salah satu pemenang Trip dengan Jonathan Phang dari Singapura, Lim Sepk Ee memberikan cheers untuk Mr. Jonathan karena telah berbagi resep warisan keluarganya. Lalu semua yang hadir di ruang makan itu memberi uplause juga, Jonathan pun mengajak keluar para koki di dapur yang ikut membantunya memperkenalkannya kepada para tamu.

Hari ke-3 (Rabu, 22 Juli 2015)

Guncangan kereta tak hanya menemani saya saat menikmati sajian makan di gerbong Malaya, tapi juga harus saya rasakan ketika tidur. Beberapa teman bercerita sedikit terganggu dengan kondisi ini, namun karena lelah beraktivitas seharian mengikuti agenda trip mulai malam kemarin semuanya telah terbiasa dan bisa tidur nyenyak.

Jonathan Phang mencoba Belimbing Bulu, di Inggris sepertinya dia nggak pernah ketemu buah ini. HHahahaha :D
Jonathan Phang mencoba Belimbing Bulu, di Inggris sepertinya dia nggak pernah ketemu buah ini. HHahahaha 😀 Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Pukul 05.30 kami sudah tiba di Hua Hin dan jadwal sarapan kembali sesuai permintaan saya agar diantar pukul 07.00 di dalam kompartemen. Sekitar pukul 09.00 pagi kereta kembali berhenti di Stasiun Ban Pong, disinilah kami memulai perjalanan kembali dengan bus tempat wisata Thailand, River Kwai bride.

Singkat cerita, perjalanan dengan bus tingkat dari Stasiun Ban Pong menuju lokasi River Kwai bridge yang ditempuh sekitar 40 menit itu berakhir dengan penjelasan panjang dari guide yang memaparkan sejarah River Kwai bridge. Setelah mencapai daratan di seberang sungai, kami kemudian dibawa menuju Thailand-Burma Railway Centre.

River Kwai bride, rombongan menaiki perahu kemudian menerima penjelasan sejarah tentang pembangunan rel kereta di masa Perang Dunia ke II itu.
River Kwai bride, rombongan menaiki perahu kemudian menerima penjelasan sejarah tentang pembangunan rel kereta di masa Perang Dunia ke II itu. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Sebuah museum yang memaparkan sejarah pembangunan jalan kereta di masa Perang Dunia II tahun 1942 – 1945 yang memakan sekian banyak korban. Kunjungan ke makam korban pembangunan Thailand – Burma Railway selanjutnya menjadi akhir dari kunjungan hari itu di Kanchanaburi, Thailand.

Bus pun kembali membawa rombongan ke Stasiun Ban Pong, bersiap makan siang dan mengepak barang-barang kami ke koper karena di pukul 16.45 waktu Thailand kami sudah dijadwalkan sampai di Bangkok.

Suasana Ketibaan di Stasiun Bangkok, setelahnya untuk sampai ke hotel kami kena macet hampir 1,5 jam lebih. Ini hampir mirip Jakarta banget.
Suasana Ketibaan di Stasiun Bangkok, setelahnya untuk sampai ke hotel kami kena macet hampir 1,5 jam lebih. Ini hampir mirip Jakarta banget. Foto dok : Dyah Ayu Pamela

Luar biasa, setelah tiga hari di kami hidup di atas kereta, nggak terasa sudah sampai Bangkok. Kami dijemput agen tur untuk di antar ke Dusit Thani Hotel yang merupakan tempat menginap. Jarak dari stasiun kereta Bangkok ke hotel sih sebenarnya dekat, tapi karena macet sekali kota Bangkok sore itu, kami yang kena macet hampir 1,5 jam sampai hotel ketika langit hampir gelap.

Bangkok sendiri, mirip dengan Jakarta. Yeaaah ini touch down saya pertama kalinya di kota ini. Dulu tahun 2013 agenda traveling saya ke Phuket, bagian Thailand lain. Cukup shock juga ya, karena nggak jauh beda seperti ada di Jakarta (macetnya).

pemandangan kota Bangkok yang mirip seperti di Monas.
pemandangan kota Bangkok yang mirip seperti di Monas. cuma ya nggak ada Monas disana 🙂 Foto, dok : Dyah Ayu Pamela.
Asia, story, Thailand - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Menyelami Phuket, Mutiara Laut Andaman

Sekumpulan pulau di antara biru dan hijau turquoise laut yang terbentang, seolah saya selalu ditemani oleh warna cerah matahari. Berkeliling pulau-pulau kecil, bertemu ikan cantik berwarna-warni, memori saat berkunjung ke Raja Ampat, Papua Barat, menjadi pengalaman yang nggak bisa lepas dalam ingatan.

Inilah yang mengilhami saya pergi ke Phuket, satu lokasi di Thailand yang di kalangan wisatawan asing sangat terkenal wisata baharinya. Berbekal selancar di internet, saya juga jatuh hati dengan hampir semua cerita dan objek foto orang-orang yang pernah ke tempat yang pernah menjadi lokasi syuting film The Beach itu. Jadilah awal Januari 2013 lalu bersama beberapa teman pecinta traveling, membeli tiket pesawat  tujuan Jakarta-Phuket.

Dengan jadwal pergi yang cukup lama, pertengahan April dan memilih untuk pergi saat low season, bukan musim liburan atau perayaan hari besar. Trik yang biasa digunakan traveler budget untuk melancong. Biaya sewa hotel jelas lebih murah, karena ada potongan diskon melalui situs http://www.agoda.com .

Hari itu akhirnya tiba, dengan rencana matang bersama 5 teman lainnya kami akan memesan jasa travel agent untuk 2 hari menyambangi berbagai pulau dan pantai di Phuket. Kami tidak pergi kerbarengan dari Jakarta, tapi janjian untuk ketemu di Patong. Karena masing-masing punya agenda sendiri sebelumnya. Seperti Prita dan Ido yang lebih dahulu pergi ke Bangkok, juga dua teman lainnya. Sementara Tiara sehari lebih dahulu sampai di Patong, Phuket daripada saya, berhubung jadwal cuti kami berbeda.

Setibanya di Bandara Internasional Phuket, saya memilih untuk naik minivan yang mirip dengan kendaraan travel. Harganya cukup terjangkau sekitar Rp.50 ribu, tapi harus menunggu penumpang hingga 7 orang. Menurut saya ini kendaraan yang paling aman dan nyaman untuk sampai ke hotel karena luas dan dilengkapi AC, selain itu turis juga tidak perlu khawatir tersasar, driver akan mengantar sampai depan hotel. Berdoa saja agar diantar paling awal.

Seperti yang saya baca sebelumnya memang penunpang van pasti akan diantar ke travel agent dan ditawari berbagai macam paket wisata. Kalau sudah begitu sebagai pelancong cerdik, baik-baiklah menolak karena banyak turis tertipu harga yang lebih mahal. Kisaran harga untuk seharian diantar ke berbagai lokasi satu paket dengan makan siang dan peralatan snorkling biasanya 800 – 1500 bath atau setara Rp. 290 ribu sampai Rp. 540 ribu (rate 1 bath Rp.360) tergantung seberapa jauh dan kapal yang dipilih. Seperti turis lainnya, kami memilih hotel yang agak dekat ke pantai, cukup berjalan 500 meter sudah sampai ke Patong Beach, Bangla Road, dan Jungceylon Mall tempat yang akan memanjakan wisatawan dengan pusat kuliner, oleh-oleh dan hiburan.

IMG-20130427-WA002
canoeing dan masuk ke dalam goa-goa karts itu pengalaman yang menarik banget

Adapun Pantai Patong terletak 20 kilometer dari kota Phuket dengan lama perjalanan kurang lebih 30 menit atau 45 menit dari Bandara Internasional Phuket. Pukul 7 pagi kami sudah bersiap di hotel menunggu dijemput minivan dari travel agent. Kami sangat beruntung, karena akan menggunakan speedboat yang hanya akan membawa tidak lebih dari 20 wisatawan. Cukup private dan lebih cepat sampai dibandingkan menyewa kapal besar.

Tour guide kami sangat ramah, memang tidak terlalu fasih berbahasa inggris, pengucapannya pun agak aneh, saya bisa maklum, apalagi saat menyebut James Bond Island, salah satu pulau di Taman Nasional Khao Ping Kan yang dipilih sebagai tempat persembunyian salah satu musuh James Bond, Fransisco Scaramanga di film Bond berjudul The Man With The Golden Gun (1974).

Saya kira Thailand memang sangat baik dalam menejemen pariwisatanya. Pelancong tak perlu bingung untuk menuju berbagai tempat, karena sejak sampai bandara sistem transportasinya pun seperti sudah memanjakan mereka. Para turis akan di antar dan dijemput di depan hotel, bahkan bila pergi dengan rombongan bisa memesan minivan sehari sebelumnya dan dijemput juga diantar ke bandara, betapa mudahnya. Saya dan teman-teman sempat berkenalan dengan seorang ibu petugas travel agent di dekat hotel dan karena sebelumnya membeli paket travel kami mendapat diskon 20 bath untuk biaya minivan ke bandara.

Jauh dari perasaan khawatir, kami juga diberitahu agar berangkat lebih awal 3 jam meski take off pagi. Karena kepulangan kami saat itu weekend sungguh ramai dengan wisatawan. Selain mudah untuk sarana transportasi, penduduknya juga lebih ramah. Kalau di Phuket ini masyarakatnya cukup banyak yang memeluk agama Islam. Saya menemukan ada 1 mesjid yang cukup besar, yah meski tidak sebagus yang ada di Jakarta.

Di Phuket, juga ada satu perkampungan muslim terapung yang ternyata nenek moyangnya orang Indonesia. Kabarnya asalnya merupakan nelayan-nelayan Indonesia dari wilayah Sumatera. Ini lokasi pertama yang saya datangi, saya dan rombongan berkesempatan makan siang disini, sebelum akhirnya ke Viking Cave dan Pileh Cave, mengunjungi Pantai Monyet kemudian mampir ke Ao Phang Nga dan James Bond Island.

Sebenarnya di Kota Phuket sendiri ada banyak tempat wisata sejarah yang juga layak dikunjungi. Misalnya kawasan kota tua layaknya di Jakarta dengan gaya bangunan Chino-Portugis, Taman Saphan Hin. Masih berhubungan dengan laut ada Perkampungan Laut Gypsy, Pantai Rawai, dan Tanjung Promthep.

Menurut wisatawan lain yang sempat kami ajak ngobrol, sebenarnya tempat yang harus dikunjungi Phi Phi Lay (Teluk Maya dan Teluk loh Samah) lokasi syuting The Beach yang dibintangi Leonardo Dicaprio. Tapi kabarnya ada lokasi yang lebih cantik lagi, namun tidak mungkin ditempuh hanya dalam satu hari, harus dengan menginap.

Bagian paling menarik di hari pertama itu adalah kegiatan canoeing. Satu kano diisi 2 turis dan 1 guide yang akan mengayuh dan membawa kami ke dalam goa-goa dan dinding karts. Satu kata menurut saya “Amazing” karena kelihaian guide kami untuk masuk ke dalam goa-goa yang sempit. kemudian pada suatu waktu kami berhimpun didalam goa itu yang ternyata adalah sebuah ruang besar dan terhubung dengan bagian lain, hingga kami menemukan Pulau James Bond yang kedua.

Sesekali kami harus membujurkan badan dan telentang agar kepala kami tidak menyentuh dinding karts. Saya berpikiran betapa kreatifnya pemerintah Thailand membuat semacam tour seperti ini, sangat berkesan. Dalam benak saya muncul banyak sekali pertanyaan. Sejak kapan goa-goa karts ini menjadi objek wisata dan sejak kapan ditemukan. Namun kendala bahasa membuat saya menyimpan pertanyaan tadi, karena guide saya ini sama sekali tidak mengerti bahasa inggris.

IMG-20130419-00634
Di dekat dermaga Pulau Phi-Phi

Hari semakin sore dan perjalanan dilanjutkan ke sebuah pulau lain, cukup jauh dari Viking Cave tadi. Speedboat yang membawa kami menaikan laju kecepatannya. Sepanjang perjalanan gugusan pulang tadi menjadi pemandangan menawan dari jauh. Mirip dengan gugusan pulau di Raja Ampat, namun dengan keriuhan dari turis yang berseliweran datang ke tempat ini. Semacam ada perasaan kurang eksklusif karena tak hanya satu atau dua kapal yang akan mencapai ke penghujung kumpulan pulau di Phuket.

Ada berbagai macam jenis kapal dari perusahaan- perusahaan travel agent. Mulai dari perahu kecil long boat, speed boat, big boat, sampai kapal pesiar. Begitu banyak turis dan pundi-pundi uang yang dihasilkan dari satu tempat yang dijuluki sebagai mutiara laut Andaman ini. Itulah yang saya ungkapkan sejak awal, bahwa Pemerintah Thailand sudah cukup baik mengelola pariwisatanya.

Meski begitu saya sangat bersyukur, Raja Ampat tidak menjadi seperti Phuket. Raja Ampat tetaplah akan menjadi Raja Ampat yang sulit dijangkau dan terkesan eksklusif. Seperti kepulauan di Phuket yang juga merupakan taman nasional, dengan minimnya fasilitas mencapai gugusan pulau akan membuat Raja Ampat tetap terjaga dari sampah dan tangan jahil manusia. Guide kami sering mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Untuk penduduk Thailand, mungkin mereka sangat menghargai dan merasa kepulauan ini sebagai salah satu sumber nafkah mereka.

Namun saya meragukan masyarakat di negara saya sendiri yang kurang peduli dengan kepunyaannya. Cukup beralasan bagi saya, sebab Raja Ampat sendiri pun pada beberapa lokasi telah dikelola asing. Saat saya mengunjungi salah satu dermaga tempat diving, yang menjajahkan barang-barang souvenir khas Papua pun diberi label harga mata uang Euro. Seperti menelan pil pahit saat mengetahuinya.

IMG_20130420_175819
Di sebuah pantai yang cantik banget tapi jelek isi habitat di dalamnya

Hari berikutnya, ternyata kami harus menumpang big boat, jenis kapal yang jauh lebih besar dan mengangkut 100 orang lebih. harganya pun jauh lebih murah 1000 bath. Kendati begitu, tetap terasa nyaman. Tak ingin melewatkan pemandangan spektakuler di depan kami, barisan depan didekat ujung kapal kami pilih sebagai tempat memanjakan mata. Makan siang disediakan di kapal, dengan menu prasmanan, terlihat berbeda dengan hari pertama saat kami makan di restoran di perkampungan muslim. Selain itu tidak ada tour guide yang akan bercerita mengenai apapun informasi dari tempat yang kami kunjungi.

Kali ini tanpa canoeing namun kami sempat snorkling di sebuah pantai yang cantik sekali. Saya cuma heran, kenapa pantai secantik ini tidak memiliki pemandangan bawah laut yang juga menawan. Saya kecewa, tidak menemukan apapun dibawah laut sana kecuali ikan belang-belang dan terumbu karang dan bulu babi jauh di dasarnya, saya juga menemukan kaleng coca cola. Sangat berbeda dengan salah satu pulau di Raja Ampat yang di bibir pantai pun dapat ditemui ikan berwarna-warni.

Tak perlu merasa lelah berenang dengan pelampung seperti yang saya lakukan di Phuket, hingga berkali-kali saya terbawa ombak terlampau jauh dari rombongan. Saya sempat membaca ada banyak berita yang menyebutkan untuk berhati-hati saat snorkling di Phuket. Mungkin untuk jenis big boat petugas travel tidak bisa memperhatikan satu-persatu turis. Pernah ada insiden dimana wisatawan yang meninggal karena terbentur bagian kapal saat snorkling.