Kuliner, The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Jajanan Halal di Saigon, Vietnam Selatan

 

Olahan ringan dari singkong, mirip getuk dan cenil yang ada di Yogyakarta, bisa kamu temukan di Night Market

Bukan traveling namanya kalau nggak mencoba hal-hal yang berbau lokal, termasuk di dalamnya soal makanan. Dan,… perjalanan teranyar saat awal bulan ini menyambangi Ho Chi Minh City atau biasa disingkat HCMC, pusat kota di Vietnam Selatan jadi satu pencarian kuliner yang cukup unik. So so lah masih seputar Asia Tenggara.

Tepatnya di Saigon, yang dekat dengan pusat pasar, terminal, dan jantung lain aktivitas penduduk lokal Vietnam. Ada Benh Thanh Market yang buka sejak pagi, tapi kalau malam jalan besar disebelahnya juga tiba-tiba berubah jadi Night Market. Di seputaran jalan inilah kita bisa menemukan pedagang makanan lokal. Berhubung pilah-pilih makanan yang halal, disini nggak semua makanan lokalnya bisa saya coba.

Hari pertama di Saigon, dan sejak menyebrang wilayah perbatasan Kamboja – Vietnam di sekitaran terminal saya sudah melihat sandwich yang tampaknya menggiurkan. Rotinya lonjong besar, didalamnya ada mentimun, potongan daging, dan saus. Penduduk lokal menyebutnya Banh Mi Pate. Sayangnya kebanyakan juga memakai daging pork atau baccon alias babi. Tapi malam terakhir di Saigon, saya ketemu loh penjual Banh Mi berlabel halal.

Gambar
Penjual Sotong atau di HCMC disebut Muc Chien Nuoc Mam memakai sepedah berkeliling Saigon

Ketemunya nggak sengaja, setelah teman-teman makan malam di warung nasi Malaysia. Tak jauh dari gang Night Market yang mengarah pulang ke Hostel di jalan Le Lai, mata saya berkaca-kaca dengan tulisan halal di depan kios Banh Mi (Lebaii isshh). Si bapak penjual Banh Mi mengira saya Malaysian (nggak sudi dikira Malay mulu), abis itu dia berseloroh this chicken, halal oke? harganya sama dengan Banh Mi yang memakai daging pork, 35 ribu Dhong. Kalau dirupiahkan Rp. 21 ribu.

Rasanya enak, karena rotinya garing diluar, mirip roti baguette Prancis, terus sayuran didalamnya seperti ketimun dan letucce bikin segar. Si bapak nggak cuma ngasih chicken di dalam roti tapi juga ikan tuna. Bergizi banget deh makan malam terakhir di Saigon. Minumnya, saya beli teh tarik di warung Malaysia, dan rasanya kurang kental. Mungkin karena ini Vietnam bukan Malaysia.

Kuliner lain yang saya coba di seputaran Night Market adalah macam olahan singkong seperti kalau di Indonesia itu getuk, yang dicampur kacang hitam, taburan santan dan susu. Jadi inget kalau pulang ke Jogja, tapi ternyata di Vietnam olahan singkong itu sudah membudaya sejak zaman perang loh.

Waktu ke Chu Chi Tunnel, banker tempat persembunyian perang Vietnam dulu guide disana bilang singkong rebus yang ditaburi bumbu kacang, gula, dan garam sebagai panganan saat itu. Kita pun disediain disana, usai diajak masuk ke banker persembunyian. Hosh hosh,… cape cape bersembunyi di banker cuma disediain singkong rebus.

Kulineran Vietnam memang masih mirip-mirip Indonesia dan Malaysia, kecuali olahan pork ya. Di Saigon saya nemuin juga cemilan Sotong, atau semacam cumi-cumi tapi ini besar ukurannya. Kalau di Malaysia Sotong dijual di supermarket dibumbui pedas atau manis. Nah di Saigon, Sotong lebih fresh karena baru diolah saat kita membelinya.

unnamed (2)
pedagang kembang tahu di Saigon

Muc Chien Nuoc Mam atau Sotong di Saigon pertama di bakar dulu, lalu digiling menggunakan alat penggiling, diserut, dan dibumbui dengan saus dan kecap. Rasanya enak buat cemilan iseng, lebih baik daripada beli Sotong yang ada di supermarket. Harga Sotong antara 30 ribu Dhong. Jenis makanan halal lainnya, semacam kembang tahu. Ini saya nggak sempat beli karena sudah kenyang, tapi teman-teman group backpacking saya nyobain. Katanya enak, murah lagi cuma 5 ribu Dhong atau sekitaran Rp. 3 ribu. Oya jangan lupa kalau menyebut nilai uang dengan pedagang lebih baik kalau pakai kalkulator, soalnya lafalz mereka suka nipu.

Beberapa jenis kuliner lain ada lagi yang unik, di Muine 8  jam perjalanan dari kota Saigon, saya ketemu makanan yang mirip Dim Sum. Kenapa saya sebut Sum? soalnya bahan dasar makanan itu dari sagu, tapi tidak digoreng melainkan direbus. Didalamnya ada bagian kuning telur dan udang. Penyajian ditempatkan didalam tupperware transparant dibumbui kecap asin, taburan bawang goreng beserta daun bawang. Rasanya? kenyal-kenyal dimulut, lalu saya sebel soalnya si penjual nggak mengupas kulit udang sebagai isiannya.

Lalu ketika pergi ke fisherman village, ketemu lagi sarapan orang setempat yang unik. Penampakannya terlihat seperti kue serabi yang suka kita temui di Indonesia, tapi kok ini ditaburi sama ayam cincang dan sayuran toge diatasnya? nggak cuma itu, penyajiannya pun dimasukan dalam kuah sambal, yang kelihatannya sangat pedas. Mau mual-mual saya ngeliatnya. Tadinya kepingin beli, tapi takut itu daging pork bukan ayam, meski kelihatannya seperti daging ayam yang putih. Selain itu sudah keburu kekenyangan dengan Dim Sum KW tadi.

DSCN0283
Sotong setelah dibumbui

Meski jauh dari ibu kotanya Hanoi yang terletak menjorok ke wilayah utara, Saigon yang di Selatan cukup ramai, apalagi turis-turisnya. Kan mata uang Vietnam jatoh dibawah kurs Dollar termasuk Rupiah. Satu Dhong (mata uang Vietnam) setara dengan 0,6 Rupiah. Surga buat budget traveler seperti saya. Tapi tetep aja, pengalaman walau uang Dhong murah, pedagangnya juga licik abissss.

Mereka ada yang menghargai dengan Dollar, juga naikin dua hingga tiga kali lipat dari harga aslinya. Bukan cuma itu, kebanyakan pedagang disana juga jutek dan sadis. Pertama mereka nggak paham Bahasa Inggris, tapi habis itu ditawar ngomel-ngomel nggak jelas. Bikin pembeli jadi kabur.

Coba perhatikan deh, kalau kamu ke Saigon. Penduduk lokalnya, nggak ingat weekday atau weekend. Mereka tetep loh kumpul-kumpul di warung kopi yang letaknya dekat jalan raya. Mereka duduk di bangku kecil, ditengahnya ada meja tempat menaruh makanan dan minuman mereka. Mereka asik mengobrol, baik itu keluarga maupun muda mudinya. Nggak cuma ngopi mereka juga membeli buah-buahan sebagai camilan, sambil menikmati keramaian kota Saigon penuh lalu lalang kendaraan bermotor.

???????????????????????????????
Ini yang saya bilang mirip Dim Sum, harganya 20 ribu Dhong

Masih ada banyak lagi kuliner di Saigon, tapi unsur tidak halal membatasi pencarian makanan lokal buat saya disini. Lainnya ada lumpia, Pho yang dengan kuah pork, ataupun macam olahan pork lain. Selebihnya, kalau lapar pilih aja buah. Di Night Market ada banyak macam buah yang dijual. Rentang harganya sekitaran 30 ribu Dhong untuk mangga, jeruk Bali, sampai Durian. Di bus ketika kamu mau pergi agak menjauh dari kota juga bisa ditemui pedagang camilan. Jangan lupa cobain juga kopi di Vietnam, sayang karena ada bawaan asam lambung saya nggak mencobanya.

unnamed (3)
Serabi, tapi kok ada togenya, bahkan ada taburan daging ayam juga?

Advertisements
BALI - Indonesia, The Journey, Traveling

Menikmati Semilir Angin Pantai Pandawa – Bali

 

Di Bali, pantai itu ada banyak banget. Salah satunya, Pandawa ini, terletak di Kuta Selatan.  Pantainya terbilang sepi, karena lumayan jauh dari pusat Kuta. Meski lumayan perlu usaha untuk bisa kemari, tetep banyak kok wisatawan asing yang bela-belain menyambangi. Malah aku jarang ketemu sesama orang Indonesia disini kecuali penduduk lokal. Kebanyakan yang aku temui banyak dari Jepang, ternyata benar ya turis Jepang itu suka sama Bali.  Di bandara pun ketika pulang ketemu dengan banyak Japanese lainnya.

Kebetulan juga untuk mencapai Pandawa Beach beserta pemandangan tebing, juga patung-patung buatannya aku memakai shuttle bus dari Harris Hotel yang free untuk tamunya. Dalam sehari mereka punya dua kali bus yang akan mengantar turis ke Pandawa Beach dan satu lagi ke Uluwatu. Shuttle bus ini cukup memudahkan, soalnya kan bingung juga bagaimana cara ke Pantai tanpa menyewa taxi atau motor. Karena shuttle bus ini kita tinggal duduk manis disetirin sama driver Harris Hotel 🙂

Gambar

Pasir pantainya putih, tapi tidak terlalu halus. Kalau kamu berkeinginan menikmati sunset disini, mungkin bukan disini tempatnya, karena sunset disini terlihat menyamping dari laut. Jadi kalau kamu lagi asik berjemur, maka matahari tenggelam itu menyamping dari arah laut yang kamu lihat.

Disekitar pantai kita bisa jumpai kios-kios penjual makanan ringan. Kamu bisa menemukan rujak, buah, minuman ringan. Jangan lupa sebelum pulang, belilah oleh-oleh khas Pandawa berupa kerupuk rumput laut, atau olahan rumput laut lainnya. Hitung-hitung kamu juga turut memberdayakan petani rumput laut setempat.

Disekitar Pandawa aku nggak menemukan hotel terdekat dengan pantai, hanya ada tebing kapur tinggi yang dibentuk dan dihiasi patung-patung buatan.  Selebihnya sebuah suguhan alam yang belum banyak berubah.

Berdiam diri sambil menikmati semilir udara pantai itu menyenangkan banget, tapi sayangnya shuttle bus sudah menunggu. Hanya bisa berkeliling dan menikmati alam Pandawa dan pantainya dua jam saja. Pukul 5 sore kami kembali ke hotel bersama turis lainnya. Sedikit nggak enak ketika aku dan travelmate sampai di shhuttle bus, karena kelihatannya, para turis Jepang yang barengan dengan kami ternyata sudah menunggu. Ternyata mereka menunggu kita berdua yang keasikan main dan menikmati Pantai Pandawa. Ah,…sedari dulu aku memang sudah jatuh cinta pada pantai, dimana pun juga pantai itu berada. Baunya, bau laut dan matahari, pasirnya yang menyentuh permukaan telapak kaki. Bau pantai itu akan selalu membuat rindu, seperti halnya juga selalu rindu untuk mengunjungi lagi Bali.

 

Gambar

 

 

The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Dimana Pho Halal? Sluuuurppppp, Kulineran HCMC – Vietnam

Vietnam terkenal dengan kuliner mi kuah yang mereka sebut Pho. Penampilan mie Pho, mirip mie bakso (tanpa bakso), waduuu… bisa-bisa diomelin sama orang sana nyama-nyamain Pho dengan Bakso. Pho ini banyak banget tambahan daun-daunan, mie bihun putih tipis yang lembut itu… dicampur dengan kuah dan irisan daging diatasnya. Rasanya ajaib, kamu harus coba. slurrrrrrp

Ah,….. ke Vietnam tapi belum pernah coba Pho pasti rugi rasanya. Daun ajaib, basil yang bikin rasanya juga asing di mulut gue karena memang belum pernah coba. slurrrrrp, slurrrppp.

Gambar
Penampakan Beef Pho yang bagi gue halal karena dimasak di panci berbeda

Bagi muslim seperti saya, daging pork atau bacon alias pig yang seringkali jadi bahan baku Pho juga kuah Pho jelas nggak bisa dimakan. Ampun Tuhan, lebih cinta mana, makan atau pencipta makanan?? tapi….tapi ternyata ada Pho halal, dimasak beda panci dengan Beef Pho atau Chicken Pho dan Pork Pho. Temen traveling bareng saya, @akichi2212 ketemu kedai Pho halal di deket Backpacker 2 Hostel, tempat kita menginap. Warungnya sampingan juga sama Hoa Sen University di sekitaran Jalan Le Lai, 500 meter dari Ben Thanh Market. Saya nggak bisa bilang ini 100% halal karena mereka memang nggak mencantumkan label halal, tapi ya paling nggak si penjual memakai panci berbeda untuk memasaknya.

By the way ini kita lagi ngomongin Pho halal yang di Vietnam lho ya, bukan restoran Pho 24 yang juga ada di Indonesia. Menurut saya sih, pasti beda Pho lokal sama Pho yang tersebar di banyak negara. Pho halal lainnya, kamu bisa temukan di sekitar pasar malam Ben Thanh Market. Melipir sedikit ke arah gang besar dekat warung yang sederetannya juga bisa ditemui makanan asal Jiran.

Kedai-kedai yang menjual nasi lemak dan teh tarik, tapi mungkin karena penjualnya orang Malaysia, rasa Pho- nya kurang sedap, kurang ajaib dari yang saya coba di deket Hostel Backpacker 2. Harganya juga lebih mahal sekitar 45.000-an dhong Vietnam sementara Pho pertama yang saya coba cuma 35.000 dhong Vietnam. Murah, lumayan buat pengisi perut kosong meski tanpa nasi.

Mari kita samakan dulu konsep soal makanan halal. Penting nih buat muslim, haiiii sesama muslim yuk perhatikan makanan kita. Suatu ketika waktu tahun lalu traveling ke Phuket Thailand saya kecolongan makan makanan yang kena minyak babi. Street food yang menggoda dan menurut saya halal karena merasa membeli ayam bukan pork atau nama lainnya bacon, atau pig itu. Tapi perhatiin lagi deh, tempat memanggang makanan di street food, kan satu panggangan. Kenalah unsur tidak halal disana, meski yang saya makan bukan babi. Pelajaran nih, pantes aja agak mual.

Gambar
irisan cabai dan jeruk nipis yang buat tambah sedap

Jadi akhirnya setelah itu gue cari tahu konsep makanan halal itu apa aja?

1. Jangan digoreng dengan minyak, panggangan, atau panci yang sama dengan pork

2. Tempat makan sampai garpu sendok juga nggak boleh sama

3. Jadi bukan soal kita makan pork atau nggak

Cuma buat lebih yakinnya carilah tempat makan yang punya sertifikat halal, itu kalau di Singapura susah banget tapi ada. Dulu waktu liputan di Singapura, public relation yang mengurus wartawan bilang gitu. So, trik-nya lihat tempat masaknya apakah dimasak bersamaan? *agak susah ini*

Kadang buat cari aman saat traveling ke negara aneh saya lebih milih makan buah aja, sarapan pisang atau makan roti aja. Makan buah atau jenis makanan yang kira-kira tanpa pork seperti kembang tahu atau pilih sea food.

 

Cambodia - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Looking For Sunrise in Cambodia

Behind the temples of Angkor Wat, Cambodia. Behind the sky and clouds. When the sky spitting red streaks. Exotic beauty of Cambodia in Siem Riep, it’s about 6 hours drive from Phenom Penh. Traveling by plane for nearly 3 hours and one transit at Changi Airport. This is the view I get, a red tinge when the sun rises.

Reflection of light from the lake around Angkor Wat. And entered the temple area is rising as the sun rises in the surface. So beautiful experience, can’t forget the moment 🙂

DSCN0037

Sebelum subuh, aku sudah terbangun. Tidur yang sangat nyenyak sekali saat itu, ketika semalam sebelumnya cukup lelah dengan perjalanan dari Phenom Penh menuju Siem Riep. Sekitar 5 jam menggunakan Mini Van, bertarif 15 USD didalam Van hanya ada aku yang warga negara Indonesia, sementara yang lainnya adalah asli penduduk lokal.

Tak ada pilihan lain untuk menaiki bus malam yang lebih murah sekitar 12 USD, karena saat landing di Phenom Penh ketika sore hari sungguh bukan waktu yang baik untuk berjalan-jalan di kota asing yang belum pernah kamu kunjungi, apalagi saat itu tak ada alasan untuk menunggu.

Ketiga teman yang berencana traveling bersama, sudah mengabari untuk memberi tahu ketika sampai di Siem Riep. Sebuah kota lain berkilo-kilo meter jauhnya tempat kompleks Angkor Wat berada. Beruntungnya, salah satu teman sempat berkenalan dengan supir tuk-tuk baik hati, yang katanya jujur. Safy namanya, kamu bisa mencari dia di Facebook dengan nama Safy Angkor Wat.

DSCN0046
Sukaaaa, nada langit yang seperti ini berkesan romantis

Safy yang mengantar kami berkeliling Angkor Wat dan Candi Bayon, serta seputaran Siem Riep. Membawa saya mengunjungi kantor pos, rumah makan khusus muslim, dan shuttle bus untuk kembali ke Phenom Penh keesokan harinya.

Mengunjungi negara yang lebih kecil dengan perekonomian di bawah Indonesia, memang terkesan biasa-biasa saja? tapi menurutku tidak. Karena bahkan Indonesia yang memiliki Candi Borobudur super megah pun masih harus belajar dari Kamboja untuk mengemas pariwisatanya. Kompleks Angkor Wat yang sangat besar ini, untuk memasukinya tiap turis harus membeli tiket seharga 20 USD untuk satu hari.

Tak banyak kendaraan yang bisa masuk, hanya tuk-tuk yang bisa disewa untuk mengantarkan para pelancong mengunjungi kompleks candi. Tuk-tuk biasa disewa selama sehari dengan tarif sekitar 15-20 USD. Menurutku ini cukup rasional, dengan kondisi perjalanan yang sangat jauh tuk-tuk jadi alat transportasi nyaman dan cukup mura bila kamu pergi bersama beberapa teman. Namun untuk yang backpacker sendirian, rasanya harus mencari partner dadakan, karena akan terasa sangat mahal biaya hidup dan transportasi disini.

Mata uang Dollar lebih mendominasi dibanding mata uang lokal setempat. Baru ketika membayar air mineral yang harganya dibawah satu dolar, kita akan diberi kembalian uang lokal Kamboja. Satu Dollar hampir setara dengan 4000 mata uang lokal mereka. Untuk makan, sebenarnya masih cukup terjangkau, karena kisaran harga untuk satu porsi menu rata-rata 2-5 Dollar USD.

Gambar

 

Sehari saja cukup untuk secara garis besar mengunjungi Angkor Wat. Walaupun mengang kompleks candi ini amat besar dan luas. Permukaan candi relatif sudah banyak goresan maupun usang dimakan waktu, tapi karena itu Angkor Wat dan Bayon misalnya terlihat sangat asli.

Sejak awal memasuki kompleks ini hawa udara pagi sudah terasa, semburat merah matahari terbit yang masih terhalangi awan pun menyiratkan nada tersendiri. pemandangan eksotis dan indah di sebua kota asing. Mungkin juga karena ini para turis yang kebanyakan bule sangat suka, mereka ratusan jumlahnya sudah berkumpul di depan danau tepat menghadap Angkor Wat sejak pukul 5 pagi. Sementara matahari di Siem Riep baru benar-benar naik sekitar pukul 6.30.

unnamed (15)