LIFE, love, story, The Journey

Menjelang Panggilan Adzan Tiba

Hujan masih turun deras, terdengar seperti rintik-rintik besar. Hujan awet namanya. Disisipi suara adzan menggema. Dalam hati diam-diam aku berdoa. Katanya doa saat hujan itu bisa terkabul. Hujan jadi saat yang mustajab buat berdoa.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, mungkin saja sudah hampir enam bulan. Kebiasaan ku berdoa di tengah hujan, di waktu adzan sampai waktu iqomat, saat berbuka puasa, dan di hari Jum’at mendekati waktu magrib.. cuma berharap satu doa terkabulkan, tidak lebih tidak kurang.

Ku syukuri dan ku nikmati suara air langit perlahan berjatuhan. Kadang-kadang aku membayangkan bagaimana cara dia datang dari langit sampai ke bumi. Seperti semua keajaiban-Nya selama ini. Aku belum berubah pikiran. Aku masih yakin bahwa akan terwujud. Kita hanya tidak perlu memikirkannya karena itu di luar dari logika kita, kita cukup mempercayai-Nya karena tiada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Beberapa hal yang ku pelajari dari hujan. Dia rela jatuh, dia bisa jadi bermanfaat, atau dia bisa menjadi musibah. Beberapa pemahaman lainnya yang menenangkan hati. . Bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang kebetulan bagi-Nya. Semua ada artinya. Yang kan jadi milik akan jadi milik, walau tidak mencarinya dia akan datang pada mu. Sementara yang bukan milik walau ku kejar dengan berlari tak akan jadi milik ku walau aku begitu menginginkannya. Berusaha atau tidak, semuanya sudah jadi ketetapan-Nya yang terbaik untuk terjadi. Syukurlah 🙏🏻

Semua hanyalah keinginan-Nya yang terilhami oleh kita.. hati kita yang digenggam oleh-Nya, kita yang bergantung hanya kepada-Nya, satu-satu-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Advertisements
Singapura - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Spectra a Light & Water Show – Pertunjukan Menakjubkan di Teluk Marina Singapura

Ada apa nih kok rame banget? Oh ternyata lagi ngeliatin pesta kembang api. Eh.. tunggu dulu, bukan! Bukan kembang api tapi laser yang menari-nari.. hahaha teringat tahun lalu waktu lagi liputan di Marina Bay Sands, tanpa direncanakan saat mau balik ke kamar hotel melihat kerumunan ramai di depan teluk, dekat Louis Vuitton.

Takjub, norak iya. Seketika buka kamera hp dan merekam dari jauh dan juga jepret berkali-kali pakai mirrorless. Aku nggak menikmati pemandangan ini sedari awal, makanya waktu ke Singapura lagi awal Maret 2019 ini sengaja mantengin dari jam8.30 malam buat dapet spot di depan.

Hahaha! Alhasil jepretan kamera dan rekaman video aku lebih bangus dong. Aku sharing di blog supaya kalian traveler yang belum kesini bisa memasukan agenda melihat “Spectra a Light and Water Show” dalam itinerary. Soalnya dulu waktu 2013 dateng pertama kali ke Singapura belum ada atraksi ini lho.

Lokasinya di 2 Bayfront Ave, Marina Bay Sands (MBS), Singapura. Gampang banget dicarinya, terus bisa sekalian habis muter-muter Mall MBS dipenghujung malam nonton pertunjukan ini. Cuma 15 menit aja sih, tapi seru dan keren. Turis-turis aja nungguin padahal di negara mereka pasti ada yang lebih keren.

Buat yang backpacker-an tetap bisa nonton dan jangan khawatir karena tanpa tiket alias gratis aja. Pulang nonton Spectra a Light & Water Show kamu bisa pulang dengan MRT, kan deket banget stasiun MRT Bayfront di Marina Bay Sands.

Kalau memang berencana untuk melihat Spectra a Light & Water Show mesti tiba sekitar pukul 08.00 malam, soalnya jadwalnya kadang beda-beda. Ada yang mulai jam 08.00 atau jam 09.00 setiap hari, jadi akan lebih aman kamu sudah tiba sekitar jam 08.00. Kalau pas lagi hujan perlu payung, prepare payung dan lihat ramalan cuaca biar datang jauh-jauh kesini tidak kecewa.

Menurutku akan lebih baik membuat itinerary sehari untuk menjelajahi lokasi wisata sekitar Marina Bay Sands seperti Garden By The Bay, keliling mall Marina Bay Sands buat kulineran di restoran yang ada disini, sampai malam nonton Spectra a Light & Water Show. Jadi kamu nggak perlu capek mondar-mandir banyak lokasi.

BALI - Indonesia, Indonesia, story, The Journey, Traveling

Cerita Mitologi di Monkey Forest, Ubud Bali

Monyet pun katanya “no smoking”

Dahulu kala, ada sebuah legenda dari Ramayana. Menceritakan konstruksi besar jembatan panjang bernama Situbanda yang dibuat oleh pasukan monyet di bawah pengawasan langsung Sri Rama yang menurut cerita itu merupakan inkarnasi dari Dewa. Sejak saat itu, monyet bukanlah hewan biasa dan jadi elemen penting berkesenian di Bali.

Tak salah kalau ada sebuah tempat, namanya Monkey Forest yang begitu dijaga dan jadi habitat monyet sekaligus tempat wisata yang bisa kamu kunjungi saat ke Ubud, Bali. Tanpa itinerary, karena hotel ku Plataran Ubud ternyata dekat banget lokasinya dengan Monkey Forest makanya tanpa pikir panjang aku niatkan habis spa buat jalan ke hutan monyet ini.

Menghirup segarnya udara hutan di The Sacred Monkey Forest Sanctuary mengingatkan aku akan saat-saat yang menyenangkan waktu trekking ke gunung. Rasanya paru-paru penuh dengan oksigen yang segar dari hutan ini. Rasanya paru-paru berterima kasih, karena rasanya enak menenangkan hati. Entahlah mungkin berlebihan tapi itu yang aku rasakan.

Berdua aja, lagi makan umbi-umbian

Sejauh mata memandang adalah pepohonan dan lumut hijau yang tampak segar memanjakan indra penglihatan. Si monyet, makhluk lucu yang lompat kesana kemari dan kadang iseng jail mendekat ke wisatawan juga jadi hiburan tersendiri. Kita secara langsung bisa melihat tingkah polah si monyet di habitatnya. Lagi cari kutu, minum, berenang di kolam, dan makan.

Rasanya aku lagi ada di dunia monyet! Makanya nggak salah tempat ini dinamakan Monkey Forest. Jenis monyet yang hidup di dalam kawasan Monkey Forest Ubud dikenal sebagai monyet Bali ekor panjang yang dalam istilah ilmiahnya Macaca fascicularis, tahu nama ini dari fact sheet yang diambil waktu beli tiket masuk.

Ada sekitar 900 ekor monyet yang menghuni kawasan ini, terbagi dalam 6 kelompok ada di Pura Dalem, Michelin, Timur, Tengah, Kuburan dan Selatan. Jangan khawatir kesasar, ada papan petunjuk kok buat balik lagi ke pintu utama. Jalanannya naik turun, makanya aku bilang seperti lagi trekking di hutan. Cuma, bukan di pijakan tanah soalnya sudah disemen semua jalannya.

Pengunung lebih banyak turis asing

Kalau berjalan mengikuti jalur turun ada sungai tempat habitat monyet mandi

Karena jumlahnya cukup banyak, konflik antar monyet tidak dapat dihindari, ehm.. bukan manusia aja yang berkonflik, monyet juga. Seperti misalnya nih, mandi ke sungai di musim kemarau, kelompok tertentu mesti melewati wilayah kekuasaan kelompok lain. Ternyata ada politik juga di dunia monyet.

Monyet di hutan ini terbilang monyet yang aktif di siang hari. Monyet betina mengandung selama 6 bulan dan umumnya melahirkan 1 ekor bayi. Bayi kera biasa bersama induknya kurang lebih 10 bulan dan sesudahnya akan disapih untuk hidup mandiri.

Monyet termasuk binatang omnivora alias makan buah-buahan, di Wenara Suci Wenara Wana sebutan lain Monkey Forest Ubud makanan utamanya adalah ketela rambat, diberikan minimal 3 kali sehari dan setiap hari dikombinasikan dengan pisang, daun, papaya, jagung, mentimun, kelapa, dan buah-buahan lokal lain.

ada monyet yang lagi nyari kutu

Monkey Forest buatku bukan tempat yang biasa-biasa saja. Aku malah lihat kebanyakan turis asing yang jadi pengunjung disini. Buat kamu yang belum kesini, harus banget menjadikan Monkey Forest Ubud salah satu tujuan wisata kalau ke Ubud. Bukan cuma jadi daya tarik wisata di Ubud aja, tapi jadi lokasi penting untuk riset dan penelitian. Khususnya terkait perilaku dan interaksi sosial kera dengan lingkungan sekitarnya.

Hmmmm, satu aja hal yang kurang aku suka bau agak kurang sedap dari kotoran monyet. Wajar sih namanya kan hutan monyet rumah mereka, seperti kalau lagi ke kebun binatang pasti ada bau itu.

Catatan untuk wisatawan:

Monyet tidak akan mendatangi kalau tidak memberi makan atau memegang sesuatu ditangan seperti kacamata

tidak melakukan kontak fisik dengan kera atau memberi makanan tambahan di luar kawasan.

Ada bagian yang tidak boleh dimasuki wisatawan, kecuali oleh mereka yang akan sembahyang dan harus dengan menggunakan pakaian adat Bali yang lengkap.

img_0665
Hutan hijau, pemandangan yang sejuk selama trekking di Monkey Forest

The Sacred Monkey Forest Sanctuary

Telp : +62 361 971304, +62 361 972774

Alamat: Jalan Monkey Forest, Padangtegal, Ubud, 80671, BALI

Harga Tiket Masuk:

Wisatawan lokal dan asing Rp 50.000/orang

Kera yang minum langsung dari keran yang menetes
culinary, Food, Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, SUMATERA SELATAN - PALEMBANG, The Journey, Traveling

Jalan-Jalan Ke Kota Palembang, Bukan Cuma untuk Kulineran Pempek!

Kalau kamu menyimak perhelatan ASIAN Games yang baru saja selesai akhir pertengahan 2018 ini, mungkin kamu pernah bertanya-tanya. Selain di Jakarta kok ada Kota Palembang sih yang jadi tempat penyelenggaraannya? Hmmm.. kenapa ya kira-kira? … *nanti diakhir coba aku jelasin

Nah, kebetulan (padahal di dunia ini semuanya tidak ada yang kebetulan lho). Nggak lama setelah ASIAN Games itu aku dapat kesempatan liputan ke Kota Palembang. Yassss! Sekalian dong kesempatan diajak kulineran.

FYI aku berangkat pagi hari, pesawat take off sekitar pukul 9.30 pagi dari Jakarta dan dengan penerbangan sekitar 1 jam lamanya kami sampai hampir tepat di waktu makan siang. Hufftt! Palembang panas sekali, kalau kalian mau tahu. Cuacanya mirip seperti waktu aku ke Bangka Belitung terik mataharinya hampir 35 derajat di bulan September lalu.

Kali ini aku bakal cerita secara berurutan saja ya, seperti itinerary kalau kamu datang ke Palembang dan enaknya ngapain aja di jam segitu atau cocoknya kulineran apa jam segini. Karena menurutku buat menikmati Kota Palembang itu perlu timing yang tepat. Oke langsung simak yuk!

DAY 1 Tiba Pukul 12:00 Siang

Makan Siang dengan Menu Pindang

1540746224714
(kanan ke kiri) Pindang Tulang dan Pindang Patin pilih mana coba?

Begitu sampai, aku langsung dibawa ke sebuah restoran yang terlihat modern. Hmm, lalu agak curiga apa enak makanannya disini? Skeptis karena biasanya tempat yang makanannya enak itu rame banget. Tapi ini sepertinya masih baru. Bener kan, biasa aja. Tapi aku rekomendasi aja buat kalian untuk makan siang yang cuacanya panas begini atau pun kalau lagi musim hujan. Cocoknya ya kulineran dengan menu pindang.

Pindang adalah masakan berkuah yang begitu terkenal di seantero Sumatera Selatan. Pindang disini ada banyak jenisnya. Nah, yang aku coba adalah Pindang Patin dan Pindang Tulang. Keduanya punya perbedaan citarasa yang menentukan selera lidah kalian juga. Kalau suka masakan berkuah kaldu aku sarankan untuk memilih Pindang Tulang yang memakai daging sapi bertulang. Namun kalau kamu penyuka pedas dan ingin kuah yang terasa segar aku rekomendasikan pilih Pindang Patin yang memakai daging ikan Patin.

Keduanya nggak salah, karena selera orang kan beda-beda. Si menu Pindang ini enaknya dimakan bersama nasi hangat dan ada tambahan sambal manga serta acar. Aku sukanya pada bagian Pindang Patin karena ada daun kemangi yang buat aromanya makin sedap, over all rasanya agak mirip Tom Yam masakan Thailand. Sementara Pindang Tulang menurutku rasanya lebih mirip seperti saat menikmati Sup Iga, sensasinya yang beda sih saat kamu melepas daging dari tulang-tulangnya sambil menyeruput si kuah kaldunya yang terasa light. Itu sih, sedikit cerita nikmatnya kulineran yang aku rasakan di siang hari bolong sebelum sampai ke hotel buat istirahat.

museum-sultan-mahmud
Salah satu sudut di Museum Sultan Mahmud Baddrudin II, foto : Trip Advisor

Pukul 14.00 Siang

Main Ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Ada waktu bebas begitu sampai hotel! Mumpung masih di Kota orang jadi aku ngajak dua reporter lain buat jalan-jalan sekitaran Jembatan Ampera. Kami pesan Grab Car! Hahaha bukan iklan berbayar ya, biar tahu aja kalau ternyata kamu bisa pesan transportasi online. Kota Palembang ya bukan kota kecil kan. Dulu bahkan katanya ini adalah Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya. Di Asia Tenggara dulu merupakan yang tertua. Wah banget aku baru tahu setelah masuk museum dan diterangkan oleh bapak Abi Sofyan, penjaga museum yang menemani kita keliling. Masuk museum ini bayar Rp 5.000 per orang, cukup murah ya. Di dalamnya sebenarnya nggak begitu bagus dan terawat isinya menurutku. Tapi sudah bagus ada museum ini jadi wisatawan lokal seperti aku jadi bisa mengenal sejarah hanya dengan melihat-lihat. Kamu bisa tahu baju adat Palembang, kamar pengantinnya, lalu cerita soal Laksamana Cheng Ho yang ternyata pernah beberapa kali datang dan ikut menyebarkan agama Islam disini. Hingga akhirnya etnis Cina juga percampurannya bisa tersebar di Palembang.

Pempek

Pukul 16.00 Sore

Waktunya Ngemil Pempek dan Beli Oleh-Oleh

Di Palembang ada banyak banget yang jualan Pempek. Di bandara pun ada beberapa brand restoran Pempek. Jadi memang nggak salah kalau disebut “Kota Pempek” haha. Tapi Pempek yang seperti apa dulu nih? Kalau googling pasti kamu bakal banyak banget rekomendasi. Menurutku sih, kembali lagi pada selera.

Nah, saat di Palembang kemarin aku mencoba 2 restoran Pempek berbeda. Untuk ngemil sore hari pertama aku mampir ke Pempek Beringing. Disini sekalian deh, beli oleh-oleh juga, ada Kerupuk Kemplang, Pempek yang versi frozen juga makanan khas Palembang lainnya. Menurut ku Pempek disini ya terasa ikannya, beda di bumbu yang lebih kental dan pekat dengan udang ebi yang sudah ada di dalam bumbu cuko.

IMG_9388
Berlatar pemandangan Jembatan Ampera, Kota Palembang di malam hari

Pukul 19.00 Malam

Makan Malam di River Side Restaurant dengan Latar Jembatan Ampera

Satu moment yang buat aku suka Kota Palembang adalah suasana malamnya dengan keindahan latar megahnya Jembatan Ampera, ikon kota ini yang dibangun sejak 1962 pada era Soekarno. Sambil menunggu menu makan malam siap, disini kamu bisa mengabadikan atmosfer malam Kota Palembang lewat berfoto menangkap dari jauh cahaya lampu terang Jembatan Ampera. Benar kata penduduk lokal yang menasehati saya waktu siang hari bertanya gimana cara ke Jembatan Ampera. Tempat ini memang lebih bagus dilihat saat malam hari.

Makan malam di River Side menurutnya biasa saja rasanya, standart. Namun karena suasananya semua terasa jadi enak, hehe. Aku tetap rekomendasikan tempat ini untuk kamu menghabiskan waktu malam menikmati suasana kota. Jangan lupa supaya pulangnya minta diantar untuk melewati Jembatan Ampera, supaya kamu pun merasakan gimana megahnya (dan menurutku memang terasa megah) jembatan ini. Sementara di siang  hari aku melihat kawasan ini terlihat kumuh ya. Ada pasar di dekatnya dan di kolong jembatan ada pedagang kaki lima berjualan. Bahkan seperti ada pasar kaget orang lokal yang menjual barang bekas. Aku agak kecewa ternyata Palembang kalau siang hari terlihat kumuh di kawasan ini.

Aku sih berharap, Kota Palembang yang merupakan salah satu Kota besar di Nusantara dan yang notabene dulunya ibu kota Kerajaan Sriwijaya bisa lebih bagus tertata. Wah, kemana aja ya dana Anggaran Pembelanjaan Daerah (APBD) kalau kotanya masih kumuh begini. Memang di kota Pempek ini karena beberapa kali sempat jadi tempat perhelatan olahraga skala Internasional, ada stadion besar dan pembangunan LRT hingga ada moda transportasi itu sekarang.

Tapi menurutku sisi latar sejarah Palembang, Kerajaan Sriwijaya, dan katanya dulu dijuluki “Venice From The East” seharusnya tidak begini. Harus banyak perbaikan, seperti yang kulihat dari Kota Semarang yang jauh berbeda ketika tahun 2011 pertama kali aku berkunjung dan di tahun 2018 kemarin Semarang menjadi lebih tertata apik.

Martabak HAR dyahpamelablog
MARTABAK HAR yang terinspirasi kuliner India, harus dicoba kalau ke Palembang

DAY 2 Pukul 15.00

Ngemil Martabak HAR dan Pempek Lagi!

Hari kedua di Kota Palembang yang sembari business trip itu aku menyerah karena sehari saja sudah kekenyangan, tapi belum semua kuliner khas di kota ini aku cobain. Mesti di capslock ya BELUM SEMUA. Akhirnya, pilihlah yang sekiranya buat aku penasaran seperti Martabak HAR yang memang beda dari martabak yang pernah aku cobain.

Martabak HAR diperkenalkan oleh Haji Abdul Rozak tahun 1947, tempat ini menyajikan makanan khas India yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Nggak heran kalau ada kuah kari kental dengan daging sapi dan kentang sebagai pasangan saus untuk si martabaknya yang cenderung tidak berasa karena hanya adonan terigu dengan isian telur tanpa daun bawang seperti martabak kebanyakan. Pokoknya harus coba menurut ku sih di tempat lain di Indonesia nggak ada soalnya, cuma di Palembang.

Menjelang sore akan siap-siap ke bandara, lalu aku diajak makan Pempek lagi. Hahaha, biar eneg deh sama Pempek pokoknya mumpung lagi ada di Palembang. Sekejap aku merasa kalau memang kurang cocok dengan Pempek berkuah asam. Soalnya di hari pertama pun aku sudah nggak enak badan dan upppss tidak perlu disebutkan disini bagaimana gejolak asam lambungku lantas menyebabkan apa. Tapi guys, masih banyak kuliner Palembang lain lho. Ada Mi Celor juga, hahaha maafkan karena perutku sudah nggak sanggup. Mungkin next time ya kalau kesempatan berkunjung ke Palembang lagi.

Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Tujuh Cara Asik Menikmati Kota Singapura ala Turis

shop at marina bay sands
Dari hotel Marina Bay Sands, ada akses masuk untuk bisa langsung ke mall

Sekali-kali jadi turis saat ke Singapura, salah satu kota mahal di dunia. Kali ini aku pergi ala turis, soalnya bawa koper yang biasanya ya naik MRT ala rakyat jelata gendong tas backpack. Terus, menginap di hotel bintang lima dengan segala fasilitasnya yang jelas (belum) mampu aku bayar sendiri. 

Kadang suka khawatir jadi kurang bersyukur, kira-kira kalau sudah biasa ke tempat begini lalu aku jadi merasa biasa saja ketika ada di lingkungan yang sederhana. Ndak boleh nih, nggak boleh melihat ke atas. Justru lagi melatih banget berendah hati, nggak boleh kagum sama dunia. *lho curahan hati kok nih jadinya…

img_8885
pemandangan dari balkon hotel Marina Bay Sands

sekedar sharing pengalaman dari liputan 3 hari di Singapura yang bersponsor itu, ada banyak cara asik buat menikmati Kota Singapura. Apa aja??? Simak ya… jalan-jalan asik ala reporter lifestyle ibu kota yang lagi di endorse 🤣🤣✌🏻

(1) Menginap di Premier Room King Size, Marina Bay Sands

Marina Bay Sands kan salah satu ikon Kota Singapura, nggak salah dong kalau menginap disini menjadi begitu prestisius. Tapi ya, mungkin aku harus punya tabungan berapa dulu buat nginep disini? Sementara aku belum pernah pergi umroh, 😂😂 yang jelas pemandangan di Premier Room King Size beda dengan jenis kamar lainnya. Menghadap ke arah teluk dan Garden by The Bay, cantik dari kejauhan karena keapikan warna Anggrek dan Teratai, ikon bunga khas Singapura. Kamu juga bisa lihat matahari terbit dari balkon hotel. 

img_8882
Pemandangan dari Balkon Hotel kamar Premium

Menurutku kelas Premier Room King Size ini mirip sama hotel bintang 5 lain sekelas Raffles Hotel Singapura yang juga pernah aku cobain. Standart ruangnya ya, tapi yang buat spesial hanya karena pemandangan dari balkon kita aja yang buat harganya jadi kisaran Rp 5 juta per malam (di email bill tagihan harga kamar ini dua malam $ Sing 1224). Kasur, bath up, fasilitas hordeng dengan remote, TV, wifi, layanan kamar, dll standart hotel bintang 5 seperti halnya juga di Jakarta.

(2) Brunch seru di Lavo Restaurant, Lantai 57 Marina Bay Sands

Masih ingin memandangi Kota Singapura yang cantik dari ketinggian? Pas sekali kalau diselingi menikmati brunch hidangan Italia di Lavo Restaurant. Aku rekomendasiin kamu buat pesan menu Avocado Toast dan juga Chicken & Waffle. Disini juga ada namanya dessert 20 Layers Cake, yang jangan dimakan berdua aja tapi perlu satu keluarga karena tinggi banget cake-nya. Kamu bisa ke restoran ini walau tidak menginap, langsung saja naik ke lantai 57 dan bilang mau makan di Lavo Restaurant. 

Kota Singapura kan panas banget tuh, nggak kalah sama Jakarta. Jadi, kalau habis brunch matahari yang terik itu bisa buat hasil foto kamu yang background-nya pemandangan cantik Singapura makin bagus.

Lalu kamu bisa melihat dengam teropong, gedung-gedung diseberang sana. Restoran ini juga punya banyak sudut yang Instagramable, seperti di dekat tangga toilet juga sisi pertama ketika masuk ke dalam restoran. Jadi recomended banget buat kesini, harga makanannya rata-rata Sing $ 20-30 lah, masih bisa kebeli hehe. 

me at marina bay sands
di Lavo Restaurant bisa liat view Kota Singapura

(3) Berenang di Infinity Pool, Marina Bay Sands

Nah, di lantai 57 juga adalah tempat Infinity Pool buat memandangi dengan apik dari atas Kota Singapura sambil berenang. Cuma kalau mau berenang disini ya harus menginap di Marina Bay Sands, karena masuknya pun dengan akses kartu kamar hotel kita. Hmmm.. aku yang punya akses nggak menyempatkan berenang sih, soalnya nggak ada waktu. Tapi sempat masuk dan itu rame banget sama orang.. perhatiin aja kira-kira jam anti sibuk. Kan kurang nyaman juga kalau kolamnya penuh, apalagi kalau long weekend atau high season banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka berlibur.

invinity pool at marina bay sands singapore
invinity pool at Marina Bay Sands Singapore

(4) Mengunjungi Art and Science Museum Future World 

Tak perlu jauh-jauh mencari atraksi yang menarik sampai harus pergi ke Sentosa. Menurutku mengunjungi Art and Science Museum Future World yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki sebentar dari hotel yang punya akses langsung ke mall di Marina Bay Sands itu. Tiket masuknya kisaran Sing $ 20-40 tergantung mana yang mau dimasuki. 

Menurutku menarik sih isinya, apalagi Future World ini punya “wahana” yang baru. Cocok banget tempat ini untuk membawa anak liburan. Aku pun merasa amazing dengan tempat ini, antara teknologi dengan seni yang dikawinkan semuanya terasa indah dan menabjubkan mata serta indra sentuh kita yang lain.

img_9002
ini ruang pertama yang aku masuki di Art & Science Future World

(5) Jogging Pagi di Garden by The Bay

Aku suka banget jogging dan hampir selalu bawa sepatu lari kalau lagi liputan ke luar kota atau luar negeri. Pilihan tepat banget waktu kemarin bawa sepatu jogging, karena sangat beda rasanya pukul 07.00 pagi di Singapura dengan Jakarta. Epic! Waktu disini memang lebih dulu dibanding Jakarta dan jam 07.00 pagi itu masih agak gelap Singapura. 

Aku turun ke lobi lalu cari tahu dimana jalan masuk ke Garden by The Bay, butuh naik tangga dulu dan ternyata indah banget pemandangannya ketika orang-orang kebanyakan masih terlelap tidur tapi justru hawa dingin, segar udara, buat berbeda.. btw siap-siap jaket lari anti angin anti air ya. 

img_8898
pemandangan dari balkon hotel Marina Bay Sands kalau menginap di Premium King Size Room

(6) Naik Gondola ala Venice di Mall Marina Bay Sands

Kebanyakan orang pergi ke Singapura itu ya tujuannya untuk belanja. Terutama yang peminat brand kelas atas, cari ya di Mall Marina Bay Sands, karena di tempat ini koleksi maupun edisi khusus lebid dulu ada. Kalau nunggu di Indonesia koleksi tertentu brand terkenal rilisnya masih harus nunggu lebih lama.

Sekalian kalau memang berniat shopping saat pergi ke Singapura, cobalah atraksi yang satu ini. Sebelum ke Venice buat ngerasain naik gondola, ya cobain aja dulu yang ada di mall Marina Bay Sands hehe. Aku nggak tahu berapa sewanya sih ya, nggak sempat karena harus kesana kemari liputan. Jadi cuma bisa sekilas melihat ada bule atau turis naik gondola.

img_9056
ala ala Venice, ada gondola juga di Mall Marina Bay Sands

(7) Melihat Spectra A Light & Water Show di depan Marina Bay Sands

Kalau malam sekitar jm 20.00-21.00 di Teluk Marina selalu ada pertunjukan bagai di negeri dongeng. Sinar lampu dari laser, permainan warna, mirip kembang api tapi bukan. Yang makin menunjang suasananya adalah musik pengiring dan latar dari kapal-kapal yang lalu lalang di dekat Teluk ini. Aku juga lihat banyak sekali orang dan turis yang berkumpul untuk melihat ini. Tak berbayar sih, cuma kalau harus pulang malam ya enak pas nginep di Marina Bay Sands dong. Nggak perlu lagi cari MRT, agak jauh turun naik tangga dan ke stasiun.

Melihat pertunjukan ini saya jadi teringat saat menonton “Song of The Sea” di Universal Studio, saat ke Sentosa (bagian lain Singapura). Kamu nggak perlu jauh-jauh menikmati itu, cukup ke Marina Bay Sand aja.

futuristik at marina bay sands
Spectacular performance for me, tiap jam 21.00 malam di Marina Bay
Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Cerita kemping Ranca Upas – Ciwidei Bandung

Lama juga nggak kemping, lama nggak main ke gunung- gunung di Indonesia. Rasa kangen itu, buat pecinta alam seperti saya kadang nggak bisa dibendung. Tapi setelah melewati perjalanan panjang 2 minggu trekking ke Pegunungan Himalaya awal tahun 2018 kemarin, “penyakit” kangen naik gunung ini sudah setengahnya terobati. 

Tapi namanya panggilan jiwa, buat nanjak mungkin kadang-kadang kepingin juga.. Paling tidak ikut kemping ceria yang tidak perlu trekking berhari-hari sudah cukup bisa mengatasi kerinduan menjelajah. Anak yang nggak bisa diem ini pun jadi sulit melewatkan ajakan buat kemping. Sebutlah begitu, walau tujuannya nggak sekedar kemping sih 😂, mau mencari jiwa, banyak ngobrol dan lebih mengenal. Tapi mood Cancer saat pergi lagi melow, banyak diem gitu, nggak ngerti deh kadang-kadang.

Gimana cara kesana?

Jadi kami berangkat pagi banget, jam 05.00 dari Cibubur naik travel buat ke Bandung. Kepagian banget ya? Karena memang menghindari macet, tahu sendiri kalau weekend macet Jakarta pindah ke Bandung. Tapi ternyata lancar banget guys, jam 07.00 pagi kita sampai di Pasteur. Dingin banget, Kota Bandung sekitar 20 derajat 😱. Tempat travel kita turun kebetulan ada warung tukang bubur, jadi sekalian aja sarapan disitu. Sambil nunggu temen yang mau nganterin motor sewaan buat ke Ranca Upas. FYI dari Pasteur kita masih harus berkendara dengan motor sekitar 2-3 jam. 

Ranca Upas memang letaknya ke arah Selatan Bandung, searah kalau kita ke Kawah Putih. Udara pagi Kota Bandung yang tadinya dingin, setelah pukul 10.00 berubah jadi panas. Hahaha, padahal kita naik motor dan bermacet-macetan. Bayangin aja gimana kondisi bawa carriel gede ditaruh di depan, terus nyalip-nyalip mobil di pinggir. Berbekal GPS dari GMaps aja, yang tentu saja sudah diubah mode-nya tanpa melintasi jalan tol. Sempet berhenti pas jam makan siang sih, kita laper dan makan di rumah makan Padang hahha. Untung enak makanannya.

Singkat cerita, sampai juga di Ranca Upas. Asli panas terik, tapi udaranya lumayan dingin mirip di puncak. Sampai disana bingung, karena ini tempat ramai sekali. Kempingnya nggak kebayang aja, maunya sih yang bener-bener seperti di gunung yang deket pohon atau di bawah pohon atau di dalam hutan. Kita survei tempat tuh akhirnya, mau dimana kempingnya? Di deket danau kelihatannya adem tapi banyak banget manusia, sementara yang ajak sepi itu di sebuah lapangan luas tanpa pepohonan yang terbayang kalau pagi pasti bakal kepanasan dan mesti buru-buru beresin tenda. Hufft.

Entah gimana. Diem lah dulu di warung. Lumayan lama banget sampai nggak tahu mau ngapain lagi kan habis solat zuhur. Tau-tau ngobrol sama mas-mas disitu, cerita-cerita, eh ternyata anak kampus ISBI lagi ngadain semacam ospek buat anak seni. Tadinya agak bete sih, kita lama banget di warung 😂. Udah kenyang, udah makan, udah solat, mati gaya banget berdua, udah ngetawain lawakan di IG, beruntung rasanya ketemu sama si anak teater ISBI (Institut Seni) ini karena kita dibolehin kemping deketan mereka, yang masuk ke dalam hutan gitu.. “lumayan tenda sama tas kita ada yang jagain kan,”.. “bener juga” dalem hati. 

Dan bener, beruntung banget kita kenal sama si anak-anak kuliah teater ISBI ini. Kempingnya jadi adem, di depan kita juga jadi ada hiburan anak-anak lagi cekakakan gak jelas ngetawain hidup. Pokoknya random, kadang jadi ngaca aja. Dulu pas kuliah saya gini juga gak sih?? Ah nggak, dulu sih fokus belajar biar cepet skripsi dan lulus aja. 

Kemping yang nggak terencana rapih ini not bad lah jadinya. Di sisi lain yang salah tentang kemping ini kita gak bawa gas buat masak, padahal udah bawa kompor dan nesting, juga perbekalan makanan. Mau beli gas juga nggak dapet keliling swalayan dan akhirnya kita mah malah tetep makan nasi goreng sama ke rumah makan Padang 😂✌🏻. Nggak masak sama sekali. Agak mubazir deh berat-berat bawa itu semua. Rasanya kurang prepare.. next time mesti prepare lagi yang rapih dan entah gimana aku sukanya diajak nonton atau makan berdua aja kalau begini, walau ngobrol ceritanya berasa sebentar cuma 2-3 jam tapi kok ada kesan malah quality time dan justru jadi menanti-nanti hari buat ketemu lagi🙂. 

Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Random Walking Singapore – Arab Street dan Haji Lane

Awal September 2018 kemarin karena kesempatan tugas liputan di Singapura, aku menyempatkan waktu mengeksplore beberapa lokasi buat berwisata singkat sebelum balik ke bandara Changi. Beberapa hal random berikut ini mungkin bisa jadi inspirasi mengisi waktu sebelum malamnya jadwal terbang kembali ke Indonesia, yuk guys simak apa aja?

(1) Nemenin Travelmate yang Belum Pernah Coba Naik MRT

Punya waktu hanya selepas jam makan siang hingga sore pukul 5, jadilah aku bareng teman trip media kali ini, Elang dari Metro TV News, random walking ke beberapa site turis yang lagi hits. Mumpung banget dikasih free time, lalu aku ajakin travelmate kali ini untuk cari foto-foto yang Instagramable. Elang yang belum pernah nyobain moda transportasi MRT langsung aku suggest buat coba, eh dia nurut, hehe.

MRT card
MRT tiket sekali jalan

Hotel tempat kita menginap di Marina Bay Sands, jadi lokasi stasiun MRT yang terdekat adalah Bayfront. Lalu dari google kami dapat petunjuk untuk turun di Stasiun Bugis yang cuma berjarak 2 stasiun saja, sebagai tempat terdekat menuju Haji Lane Street. Tarifnya sekitar $ SGD 3 untuk perjalanan bolak balik.

biar tidak pusing naik MRT ya kita hanya perlu mengikuti garis lajur warna yang sesuai aja. Aku sih saran lebih baik jalan kaki daripada naik MRT kalau jaraknya hanya 2 stasiun hehe.. jauhan gitu mestinya jadi terasa lama.

(2) Nyasar Ke Arab Street, Sholat di Masjid Sultan

Perjalanan ke Haji Lane Street ternyata membuat kita sedikit berputar-putar dan justru malah kita menemukan kampung Arab atau Arab Street dan Masjid Sultan yang bisa jadi ide menghabiskan waktu berkuliner asik atau sekedar mampir untuk solat zuhur sejenak. Dengan kota Singapura yang terik mataharinya ketika itu di atas 30 derajat, seketika usapan air wudhu menjadi kesejukan yang didamba-dambakan.

Sultan Masjid di Singapura
Masjid Sultan di seputaran Arab Street

Sempat khawatir tidak boleh masuk masjid, karena aku tidak berkerudung dan saat itu bajuku lengan pendek. Tapi ternyata kali ini tidak ada ibu-ibu India yang ngomel-ngomel nyuruh aku pakai hijab seperti waktu aku ke Malaysia 2013 silam. Justru Masjid sedang ramai-ramainya dengan turis, bahkan juga yang bule.

Mungkin sudah terbiasa kedatangan turis, justru Masjid Sultan di Singapura ini jadi tempat edukatif untuk mengenalkan Islam kepada turis yang non muslim juga. Tahu sendiri kan gimana pakaian ala turis. Disini disediakan jubah gitu lalu malahan masjid ini jadi tempat mereka berfoto-foto.

Alhamdulilah bisa kesempatan solat disini dan ternyata ketemu dengan banyak orang Indonesia lainnya yang memang statusnya kerja di Singapura. Lalu aku tegur setelah dengar percakapan mereka dengan sesama teman. Indonesia yes? Dari daerah mana? Rasanya senang bisa bertemu teman sebangsa saat ada di luar.

(2) Belanja Pasmina di Arab Street

Karena saat berangkat sudah makan siang dalam versi buffet di Rise, Marina Bay Sands sudah bisa ditebak, nggak kuat lagi kalau harus kulineran. Walaupun agak kesel karena sepanjang jalan di Arab Street itu ada banyak kios dan restoran yang menyediakan makanan ala Arab gitu. Sudahlah… elus-elus perut, kepiting Singapore sama mantau sudah dicerna disana, juga cappucino, beserta buntut sapi, menu makan siang tadi.

Akhirnya aku malah tertarik belanja pasmina, niat beliin nyokap aja biar senang hatinya. Banyak pilihan, tapi beberapa yang dijual mirip dengan yang ada di Tanah Abang. Harganya variatif, yang bahannya bagus tentu lebih mahal di atas $ SGD 10. Eh tapi aku menemukan toko yang sedang diskon. Kualitas dan motif pasmina-nya lumayan dan bisa didapat dengan harga $ SGD 3 saja.

(4) Membayar Rasa Penasaran ke Haji Lane Street

Ini tujuan awal kami, buat foto-foto seru disini, eh tapi justru setelah sampai sini males.. hahaha habis orang-orang ngantri buat foto. Saking sudah terkenalnya kawasan ini buat foto Instagramable ya jadi antri buat foto aja 😂🤣.

Sebenarnya Haji Lane hanyalah sebuah gang sempit yang disana ada banyak kafe maupun restoran dan toko. Namun karena ada banyak mural di dinding restoran dan tiap venue ya jadi lucu buat tempat foto-foto. Ada banyak orang kesini sepertinya memang hanya niat untuk foto. Saranku sih mending dateng pas lagi sepi, pagi-pagi. Kalau siang toko dan cafe sudah buka, agak ramai. Setelah dicek lagi, harga barang dan makanan disini juga jadi lebih mahal dibandingkan gang sebelah 😂. So, kalau sudah tahu begini apa kamu masih mau berniat untuk ke Haji Lane?