BANGKA BELITUNG - Indonesia, Liputan

Belitung, Pesona Pusat Batu Granit Dunia

Negeri Serumpun Sebalai, sebutan Bangka Belitung yang berarti Bangsa serumpun yang duduk dalam balai (tempat kumpul) yg sama. Keduanya merupakan dua pulau terpisah namun memiliki kesamaan akar budaya.

Dua pulau ini belakangan menjadi primadona kunjungan wisata, domestik maupun mancanegara. Terkenal berkat keindahan pantai yang diatasnya terdapat kumpulan batu-batu granit beraneka macam ukuran, mulai dari yang kecil hingga sebesar rumah.

Entah dari mana datangnya batu-batu itu tapi menurut cerita, Bangka Belitung adalah pusat batu granit dunia. Bila melihat lagi puluhan meter ke bawah laut, batu granit  hingga ke atas laut masih menancap lagi, mungkin lebih besar lagi. Menurut penelitian 12 km didasar permukaan belitung dipenuhi dgn batu granit, karena itu pernah akan dibangun bangka nuklir untuk pusat nuklir di indonesia yang pertama-tama dibangun di bangka namun sampai sekarang belum dibangun.

Batu granit di Bangka Belitung sudah ada sejak lama. Berkaitan dengan pusat granit dunia, garisnya sudah dimulai dari Brazil, di Negara-negara Asia, di Lampung di daerah pegunungan, tapi di belitung dimana-mana ada, bahkan digunakan untuk batu pondasi rumah. Menurut penduduk saking banyaknya batu granit, saat menggali sumur juga akan ketemu batu granit.

Banyak wisatawan yang keliru saat akan berkunjung ke tempat ini, kebanyakan mengira Bangka Belitung merupakan satu pulau. Ada pula yang mengira jarak antara Bangka dan Belitung cukup dekat, padahal butuh perjalanan laut lebih dari 4jam menggunakan jet foil untuk mencapai Pulau Belitung dari Bangka, sedangkan bila berangkat dari Jakarta menuju Belitung cukup dengan 45 menit perjalanan udara dari Bandara Soekarno Hatta.

1

Jika dibandingkan antara pantai di Bangka dan Belitung, pantai di Pulau Belitung jauh lebih indah. Seperti Pantai Tanjung Tinggi, pantai ini berjarak 31 KM dari kota Tanjungpandan, panjang garis pantainya mencapai lebih dari 20 KM. Pantai Tanjung Tinggi termasuk salah satu pantai yang indah di Belitung, maka tak heran syuting film Laskar pelangi dari Novel karya Andrea Hirata pun dilakukan disini.

Beberapa tahun belakangan memang Belitung banyak dilirik wisatawan sebagai tempat objek wisata. Menurut Edi Nasapta, salah satu Tourist guide di Belitung sebelum kemunculan film Laskar Pelangi sudah banyak wisatawan yang datang ke Belitung. Komunitas-komunitas tertentu seperti komunitas photografer dari luar negeri contohnya jepang, tapi saat ini sudah jarang. Setelah Film Laskar Pelangi siapa pun datang. Perkembangan pariwisatanya pun melonjak tinggi, mengalami kenaikan ribuan persen, banyak hotel2 bermunculan.

“Sekarang wisatawan domestik pun banyak yang datang terutama dari daerah jawa, jogja, surabaya paling terbanyak terutama jakarta,” ungkapnya.

Berada disebelah Pantai Tanjung Tinggi terdapat pula pantai Penyairan yang nantinya akan dibangun Museum Maritim Indonesia. Di bagian utara belitung, sekian puluh kilo meter hingga ke ujung Mungsang potensi wisatanya sudah digarap dan termasuk tempat tujuan tour pulau di Belitung.

Saat ini wisata di Belitung masih terbatas wisata bahari, seperti wisata pantai, menyelam, dan snorkling. Gugusan  terumbu karangnya memang tidak sebagus yang ada di Papua. Snorkling di sekitar pulau lengkuas masih sepersepuluh dari yang ada di Pulau Mindanau yang khusus untuk diving, hanya saja Belitung untuk alam bawah lautnya yang terbaiknya justru ada di belitung timur, daerah pulau mempaya. Daerah di Belitung Timur ini yang belum digarap. Padahal potensinya besar sekali.

Potensi yang besar itu memang sedang digiatkan pemerintah, salah satunya dengan menyelenggarakan even internasional Sail Belitung dan Sail Wakatobi yang dilakukan secara bersamaan pada 5-12 Oktober 2011 mendatang, pembukaanya dipilih oleh Presiden di Belitung. Ada banyak kegiatan dalam even Sail Belitung, seperti catur bawah laut yang dipersiapkan oleh Persatuan Olah raga Selam Seluruh Indonesia (POSSI).

Diperkirakan akan ada banyak turis asing yang datang untuk berkunjung dalam even Sail Belitung. Tanjung Kelayang sebagai tempat mendarat ratusan kapal-kapal layar dari berbagai penjuru dunia sengaja dipilih karena keindahannya. Tanjung Kelayang dikelilingi pulau-pulau kecil. Disini ada 7 pulau yang dijadikan tujuan kunjungan turis. Seperti Pulau pasir, pulau kepayang, pulau Burung, dan pulau Lengkuas yang ditandai dengan mercusuar yang sudah dibangun sejak tahun 1882.

Potensi pariwisata di Belitung masih tak terhitung jumlahnya, belum semuanya tergali. Masyarakatnya pun hanya sekelumit kecil  yang mengandalkan ekonominya dari sektor pariwisata. Transportasi bagi wisatawan di Belitung pun belum terjangkau. Untuk berkeliling Belitung, wisatawan harus menyewa mobil yang harga sewanya bisa mencapai 500ribu per hari. (Dyah ayu pamela)

Advertisements
story

Belitung, Pesona Pusat Batu Granit Dunia

Negeri Serumpun Sebalai, sebutan Bangka Belitung yang berarti Bangsa serumpun yang duduk dalam balai (tempat kumpul) yg sama. Keduanya merupakan dua pulau terpisah namun memiliki kesamaan akar budaya.

 

Dua pulau ini belakangan menjadi primadona kunjungan wisata, domestik maupun mancanegara. Terkenal berkat keindahan pantai yang diatasnya terdapat kumpulan batu-batu granit beraneka macam ukuran, mulai dari yang kecil hingga sebesar rumah.

 

Entah dari mana datangnya batu-batu itu tapi menurut cerita, Bangka Belitung adalah pusat batu granit dunia. Bila melihat lagi puluhan meter ke bawah laut, batu granit  hingga ke atas laut masih menancap lagi, mungkin lebih besar lagi. Menurut penelitian 12 km didasar permukaan belitung dipenuhi dgn batu granit, karena itu pernah akan dibangun bangka nuklir untuk pusat nuklir di indonesia yang pertama-tama dibangun di bangka namun sampai sekarang belum dibangun.

 

Batu granit di Bangka Belitung sudah ada sejak lama. Berkaitan dengan pusat granit dunia, garisnya sudah dimulai dari Brazil, di Negara-negara Asia, di Lampung di daerah pegunungan, tapi di belitung dimana-mana ada, bahkan digunakan untuk batu pondasi rumah. Menurut penduduk saking banyaknya batu granit, saat menggali sumur juga akan ketemu batu granit.

 

Banyak wisatawan yang keliru saat akan berkunjung ke tempat ini, kebanyakan mengira Bangka Belitung merupakan satu pulau. Ada pula yang mengira jarak antara Bangka dan Belitung cukup dekat, padahal butuh perjalanan laut lebih dari 4jam menggunakan jet foil untuk mencapai Pulau Belitung dari Bangka, sedangkan bila berangkat dari Jakarta menuju Belitung cukup dengan 45 menit perjalanan udara dari Bandara Soekarno Hatta.

 

Jika dibandingkan antara pantai di Bangka dan Belitung, pantai di Pulau Belitung jauh lebih indah. Seperti Pantai Tanjung Tinggi, pantai ini berjarak 31 KM dari kota Tanjungpandan, panjang garis pantainya mencapai lebih dari 20 KM. Pantai Tanjung Tinggi termasuk salah satu pantai yang indah di Belitung, maka tak heran syuting film Laskar pelangi dari Novel karya Andrea Hirata pun dilakukan disini.

 

Beberapa tahun belakangan memang Belitung banyak dilirik wisatawan sebagai tempat objek wisata. Menurut Edi Nasapta, salah satu Tourist guide di Belitung sebelum kemunculan film Laskar Pelangi sudah banyak wisatawan yang datang ke Belitung. Komunitas-komunitas tertentu seperti komunitas photografer dari luar negeri contohnya jepang, tapi saat ini sudah jarang. Setelah Film Laskar Pelangi siapa pun datang. Perkembangan pariwisatanya pun melonjak tinggi, mengalami kenaikan ribuan persen, banyak hotel2 bermunculan.

 

“Sekarang wisatawan domestik pun banyak yang datang terutama dari daerah jawa, jogja, surabaya paling terbanyak terutama jakarta,” ungkapnya.

 

Berada disebelah Pantai Tanjung Tinggi terdapat pula pantai Penyairan yang nantinya akan dibangun Museum Maritim Indonesia. Di bagian utara belitung, sekian puluh kilo meter hingga ke ujung Mungsang potensi wisatanya sudah digarap dan termasuk tempat tujuan tour pulau di Belitung.

 

Saat ini wisata di Belitung masih terbatas wisata bahari, seperti wisata pantai, menyelam, dan snorkling. Gugusan  terumbu karangnya memang tidak sebagus yang ada di Papua. Snorkling di sekitar pulau lengkuas masih sepersepuluh dari yang ada di Pulau Mindanau yang khusus untuk diving, hanya saja Belitung untuk alam bawah lautnya yang terbaiknya justru ada di belitung timur, daerah pulau mempaya. Daerah di Belitung Timur ini yang belum digarap. Padahal potensinya besar sekali.

 

Potensi yang besar itu memang sedang digiatkan pemerintah, salah satunya dengan menyelenggarakan even internasional Sail Belitung dan Sail Wakatobi yang dilakukan secara bersamaan pada 5-12 Oktober 2011 mendatang, pembukaanya dipilih oleh Presiden di Belitung. Ada banyak kegiatan dalam even Sail Belitung, seperti catur bawah laut yang dipersiapkan oleh Persatuan Olah raga Selam Seluruh Indonesia (POSSI).

 

Diperkirakan akan ada banyak turis asing yang datang untuk berkunjung dalam even Sail Belitung. Tanjung Kelayang sebagai tempat mendarat ratusan kapal-kapal layar dari berbagai penjuru dunia sengaja dipilih karena keindahannya. Tanjung Kelayang dikelilingi pulau-pulau kecil. Disini ada 7 pulau yang dijadikan tujuan kunjungan turis. Seperti Pulau pasir, pulau kepayang, pulau Burung, dan pulau Lengkuas yang ditandai dengan mercusuar yang sudah dibangun sejak tahun 1882.

 

Potensi pariwisata di Belitung masih tak terhitung jumlahnya, belum semuanya tergali. Masyarakatnya pun hanya sekelumit kecil  yang mengandalkan ekonominya dari sektor pariwisata. Transportasi bagi wisatawan di Belitung pun belum terjangkau. Untuk berkeliling Belitung, wisatawan harus menyewa mobil yang harga sewanya bisa mencapai 500ribu per hari. (Dyah ayu pamela)

LIFE, Liputan, story, The Journey

Merevitalisasi Ulos Batak Yang Hampir Punah

Bagi Restu Alam Pakpahan (37), deretan kain tenun Ulos di galerinya bukanlah kain tenun biasa. Disetiap detail motif tenunan pengrajin kain Ulos ada makna sejarah peradaban budaya orang Batak, tanah tempat kelahirannya.Penggagas revitalisasi kain Ulos tradisional, kelahiran tahun 1974 ini tergerak hatinya untuk kembali membangkitkan Ulos Batak yang hampir punah.

“Ini motif Ulos Mangiring, diberikan ke anak agar dia punya adik, kalau yang ini motif Ulos Bintang Meratur yang menggambarkan harapan atau pencapaian” kata Restu.
Sementara dia masih memperlihatkan berbagai macam kain Ulos koleksi di galerinya dia juga menerangkan makna dari masing-masing motif Ulos yang berasal dari daratan tanah Batak itu.
Menurut Restu, ada lebih dari 50 jenis motif Ulos, itu pun belum termasuk turunan-turunan motifnya. Setiap motif Ulos memiliki arti tersendiri, Ulos pada jaman dahulu memang merupakan media untuk doa bagi pemberi dari Tuhan kepada sang penerima.
Motif Ulos bagi yang tidak mengenalnya memang terlihat biasa saja, atau bahkan kurang seninya, motifnya hanya berbentuk garis, yang melebar kemudian menyempit. Tapi dibalik motif-motif Ulos ada kekayaan budaya dan peradaban yang penting bagi tanah Batak.
“Kalau yang ini motif Manumpuan, hanya ada tiga orang yang bisa membuatnya di tanah batak tepatnya di Kecamatan Muara, paling sulit membuatnya karena tenun ikat,” Ujarnya lagi.

Setiap daerah tertentu di Batak memiliki khasnya sendiri dalam membuat Ulos. Seperti misalnya di Tarutong tekniknya hebat tapi kimia, di Samosir sejarahnya hebat kalau buat Ulos disana sudah pasti laku karena sejarahnya hebat, sedangkan di Muara tidak ada apa-apa, teknik biasa saja tapi dibuat revitalisasi Ulos dengan kekuatan warna alam.

Restu mengungkapkan, saat ini memang masih ada penenun Ulos tapi banyak yang hanya bisa menenun, tidak bisa membuat tenun ikat, bahan untuk membuat Ulos sendiri adalah katun pada saat sekarang, kalau dulu dibuat dari kapas asli. Pengrajin ulos tradisi sudah sedikit jumlahnya karena tidak laku dipasaran dan perlu waktu lama untuk membuatnya.

Bila kain Ulos dengan warna kimia bisa dikerjakan selama 2 hari, kain Ulos dengan warna alam yang warnanya berasal dari tumbuh-tumbuhan hanya celup benangnya saja bisa menghabiskan waktu sampai 3 minggu, ditambah menenunnya 2 hari.
Artinya usaha untuk menenun kain Ulos tradisional memang sangat tidak sepadan dengan harga penjualan Ulos itu sendiri. Kain Ulos dengan pewarnaan kimia hanya dihargai Rp.250 ribu, itu pun sudah termasuk modalnya semua.
Maka sejak tahun 2010 lalu, Restu mulai melakukan revitalisasi Ulos tradisional Batak. Jiwanya makin terpangil saat seorang antropolog asal Belanda, Alumni Universitas Leiden, Sandra Niessen, memberikan buku hasil penelitian gelar doktornya mengenai tekstil tradisional di tanah Batak, dimana Sandra menginginkan agar hasil penelitiannya tersebut bermanfaat dan bisa dipelajari oleh orang Batak sendiri untuk mengenal dan melestarikan dan kembali membuat Ulos seperti sehebat dulu.
Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera. Dari bahasa asalnya, Ulos berarti kain. Cara membuat Ulos serupa dengan cara membuat songket khas Palembang, yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin. Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak.
Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi, seperti Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakan sebagai pembungkus jenazah), dan Ulos Sibolang, karena motif Ulos yang diminta hanya yang itu-itu saja. Permintaan pasar, pemangkasan-pemangkasan adat, kecintaan generasi muda di tanah Batak sendiri terhadap kain Ulos yang juga semakin berkurang membuat tenun ikat maupun tenun Ulos ini semakin mendekati kepunahannya.
Saat ini ada sekitar 80 penenun yang rata-rata berusia antara 40-50 tahun yang akan dibina, sementara menurut Restu, bagi generasi muda lebih banyak yang tertarik untuk pergi bekerja ke Batam untuk mencari uang.
Dengan bantuan forum anak dan kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, diharapkan akan ada generasi penerus yang sadar untuk lebih mengenal dan melestarikan kekayaan budaya peradabannya.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari mengungkapkan jenis antik dan klasik dari Ulos Batak saat ini memang sudah sangat langka. Sehingga menurut dia budaya menenun Ulos harus dibangkit kembali. “Saat ini perhatian kepada tenun ulos sudah sangat kurang di kampungnya karena dianggap pekerjaan yang tidak terlalu menghasilkan secara ekonomi, padahal secara budaya ini sangat tinggi,” imbuhnya, prihatin.
story, The Journey, Traveling

Nostalgia di Kota Lama Semarang

Roda becak mulai bergerak, dikayuh pelan seorang bapak tua.  Di kanan kiri bahu jalan melintas bangunan-bangunan tua, usang, tak terawat. Beberapa bangunan yang sepertinya sudah direnovasi digunakan sebagai kantor, restoran, toko, maupun rumah tinggal. Ada yang digunakan sebagai pabrik rokok, tapi kebanyakan dibiarkan begitu saja. Inilah sudut yang dulunya adalah pusat pemerintahan dan pusat perdagangan di Kota Semarang.

Seperti Jakarta yang memiliki Kota Tua, Semarang pun punya sudut dimana ada peninggalan bangunan arsitektur sejarah yang dulu merupakan pusat kota pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Di Semarang orang-orang menyebutnya Kota Lama.

Pemandangan bangunan tua bersejarah layaknya nostalgia ke masa lalu menjadi suguhan yang menarik ketika berkunjung ke kawasan ini. Kalau di Kota Tua, Jakarta kita bisa berkeliling menggunakan sepedah ontel, atmosfer masa lalu kian terasa bila mengitari kawasan seluas hampir 25 Hektar ini dengan menyewa becak.

Diantara bangunan tua yang masih terlihat kokoh dan masih digunakan sebagai tempat perkantoran, hotel, toko, dan rumah tinggal ini ada banyak tempat yang bisa dikunjungi. di Kawasan yang berlokasi di utara kota Semarang ini terdapat gereja Blenduk, tempat ibadah yang masih banyak menyimpan alat-alat kono ini sangat terkenal karena bentuk kubahnya yang bundar tidak seperti gereja kebanyakan. Disebelahnya ada taman rindang yang ramai dikunjungi para remaja usia sekolah.

Agak jauh dari lokasi ini ada danau buatan, didepannya terdapat Stasiun Kereta Api Tawang . tempat lain yang juga bisa dikunjungi adalah Gereja Gedangan, Nilmij, Taman Sri Gunting, Marba, Marabunta dan De Spiegel. Cuacanya memang panas jika berkeliling pada siang hari, tentunya suasana akan berbeda jika dikunjungi pada malam hari. Belum banyak pedagang yang berseliweran di tempat ini.

Ada nilai sejarah, arsitektur dan budaya dalam peninggalan bangunan-bangunan kusam ini. Tentunya kawasan ini harus dijaga. Pemerintah Kota Semarang melalui Wali Kota telah menunjuk organisasi sosial Badan Pengelola Kawasan Kota Lama Semarang untuk mempertahankan kawasan ini.

“Karena daerah ini adalah salah satu bagian sejarah bangsa Indonesia, maka harus dirawat lestarikan agar tidak hancur,” sebut Kepala Badan Pengelola Kawasan Kota Lama Semarang, Surahman.

Menurut Surahman, kawasan Kota Lama dulunya adalah pusat pemerintahan juga perdagangan di Semarang. Bahkan kawasan ini juga merupakan tempat rekreasi dan hiburan orang jaman Belanda. Dengan perkembangan revolusi tempat ini adalah penyalur gula terbesar.

Kemudian setelah masa penjajahan Jepang berkuasa di Indonesia dan banyak orang Belanda yang kembali kenegaranya banyak banguna-bangunan di kawasan Kota Lama yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Akhirnya bangunan-bangunan di kawasan Kota Lama ini ada yang dilimpahkan kepada beberapa PT dan CV, ada salah satu gedung yang roboh memang sempat bermasalah karena tidak ada pemiliknya.

Untuk sementara bangunan-bangunan tanpa pemilikan yang jelas ini di tangani oleh Pengelola Kawasan Kota Lama, organisasi social yang ditunjuk Wali Kota sebagai partner. Upaya untuk merenovasi bangunan yang rentan roboh sepertinya akan segera direalisasikan oleh pemerintah tingkat I Jawa Tengah. Harapannya, pada waktu yang akan datang antara Provinsi, Kota dan masyarakat penghuni sekitar kawasan Kota Lama ada greget untuk melestarikan.

“Sesuai perencanaan kerja, kami ikut mengawasi dan memberdayakan, supaya kawasan
ini terjaga,” tutup Surahman. *dyah ayu Pamela*

Liputan, Papua - Indonesia, The Journey

Eksotisme Wisata di Papua

Hamparan biru air laut beriak-riak cukup tenang, pukul empat sore, matahari di Indonesia bagian timur masih tampak terang. Pemandangn eksotik dari dasar laut dangkal.Pasir putih berikut gerombolan ikan dan gugusan terumbu karang terlihat jelas, bersamaan silau mentari yang menembus kedalaman air.
Ada baiknya berangkat lebih pagi untuk mengunjungi pulau-pulau kecil ini, sebab semakin sore ombak semakin besar. Cuaca laut sering berubah-ubah, bisa jadi bagian langit yang satu berwarna muram, bagian langit lainnya terlihat cerah.
Ini baru salah satu gambaran dari lokasi eksotis di Papua. Potensi pariwisata di Papua sebetulnya sangat banyak dan baru sedikit yang diketahui. Mutiara dari timur, sebutan populer ini kiranya tepat untuk menggambarkan kekayaan alam Papua. Untuk yang suka petualangan, berlibur ke Papua merupakan pilihan yang tepat. Kondisi alam yang masih asli inilah yang membuat Papua sangat memesona. Apa saja tempat wisata di Papua yang menarik disambangi?
1.  Raja Ampat, Surga bagi Penyelam
Bagi para pecinta diving, Kepulauan Raja Ampat adalah surganya. Keindahan alam bawah lautnya sudah terkenal sampai mancanegara. Ada sekitar ratusan ribu jenis ikan dan terumbu karang, anda bisa bertemu habitat penyu, dan melihat kumpulan ikan hiu kecil meloncat-loncat di sekitar dermaga. Kumpulan pulau yang tersebar juga memiliki spot untuk diving, seperti disekitar Pulau Gam. Spot yang terkenal indah adalah Mug Rive, Meos con, dan Priwen Bonda.
Tak hanya surga bagi penyelam, eksotisme pemandangan pantai dan gugusan pulau dari atas bukit Wayag sebagai icon Raja Ampat jangan sampai terlewat. Sebelum menuju Wayag, wisatawan harus mengisi buku tamu. Untuk memasuki kawasan Raja Ampat, wisatawan lokal maupun asing dikenakan biaya masuk yakni berupa pembelian Pin yang berlaku untuk satu tahun. Jumlahnya Rp.500 ribu bagi wisatawan asing dan Rp. 250 ribu bagi wisatawan lokal saat sampai di Kota Sorong. Biaya tersebut dialokasikan untuk retribusi daerah dan biaya konservasi alam di Raja Ampat.
Jarak antara Pulau Waisai menuju Wayag dapat ditempuh 2,5 jam dalam keadaan laut normal. Untuk melihat keseluruhan gugusan Kepulauan Raja Ampat, wisatawan harus menaiki salah satu tebing berketinggian 110 Meter yang terletak diantara gugusan pulau tersebut. Untuk menaiki tebing tersebut kita akan ditemani dua orang pemandu.

Biaya Wisata ke Raja Ampat memang terbilang cukup mahal, bahkan biayanya hampir sebanding bila kitaberwisata ke Negara-negara di Eropa. Transportasi masih menjadi kendala, untuk menjangkau gugusan kepulauan Raja Ampat.Perjalanan udara dari Jakarta menuju Sorong, berikut transit di Makasar harus dilalui selama 5 jam. Belum lagi dari Kota Sorong, Ibu Kota Papua Barat, anda harus menempuh sekitar 3 jam perjalanan laut untuk sampai ke pulau Waigeo Selatan (Waisai) sebelum akhirnya bisa mencapai Wayag, titik utama Kepulauan Raja Ampat.Nah, disinilah klimaks perjalanan wisata anda di Raja Ampat. Akhirnya semua usaha anda untuk mencapai tempat eksotis ini tidak akan pernah terlupakan. Dengan pemandangan dari atas bukit Wayag, gugusan pulau Raja Ampat inilah dream land bagi traveler seperti anda.
2.  Danau Sentani
Memiliki 30 jenis species ikan air tawar, Danau Sentani kaya akan beragam biota laut dan sudah dimanfaatkan untuk budidaya air tawar. Danau ini juga dimanfaatkan untuk lokasi wisata seperti berenang, bersampan, menyelam, memancing, skiair, dan wisata kuliner. Merupakan Danau vulkanik, sumber airnya berasal dari 14 sungai besardan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay.
Dalam beberapa catatan disebutkan, dasar perairan danau ini berisikan substrat lumpur berpasir (humus). Pada perairan yang dangkal, ditumbuhi tanaman pandan dan sagu. Luasnya sekitar 9.360 Hektar dengan kedalaman rata-rata 24,5 meter. Disekitar Danau ini terdapat 24 kampung, tersebar di pesisir dan pulau-pulau kecil yang ada ditengah Danau.
Saat ini Danau Sentani sudah dikembangkan perikanan air tawar, sehingga wisatawan bisa menikmati hidangan kuliner sambil menyaksikan keindahan disekitarnya. Berada di lereng pegunungan Cagar Alam Cycloops yang memiliki luas 245.000 hektar. Danau Sentani merupakan Danau terbesar di Papua, terdapat 21 buah pulau kecil yang menghiasi danau indah ini.
Danau ini telah dikelola menjadi objek wisata karena berjarak 50 Km dari Jayapura dan mudah dijangkau. Sebagai pelengkap, di danau ini sudah banyak terdapat perahu wisata untuk berkeliling. Untuk menarik wisatawan, setiap tahun pada pertengahan Bulan Juni penduduk setempat juga rutin mengadakan Festival Danau Sentani, mengekspose seni dan budaya setempat yang sudah menjadi agenda pariwisata utama.
3.  Eksotisme Pantai di Biak, Papua
Biak adalah salah satu Pulau terbesar diantara rantaian pulau kecil di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua Barat Indonesia.  Memiliki banyak pantai dengan keindahan atol dan terumbu karang, Biak merupakan gugusan pulau yang berada di sebelah utara daratan Papua dan bersebrangan langsung dengan Samudera Pasifik.
Perjalanan dari Jakarta menuju Biak ditempuh selama 5 jam melalui pesawat udara, dengan transit terlebih dahulu di Makasar untuk dilanjutkan menuju Bandara Frans Kaiseipo, Biak, Papua. Pantai Bosnik nan eksotis di Biak, Papua adalah tempat wisata favorit masyarakat lokal. Selain itu Pantai Wari yang terletak di Desa Yobdi, Biak Utara juga bagus untuk didatangi.
4.Taman Nasional Lorentz
Kawasan Taman Nasional Lorenz merupakan salah satu kawasan konservasi paling luas di Asia Tenggara (25.000 Km²). Dengan wilayah meliputi Kabupaten Jayawijaya, Mimika, Puncak Jaya, serta Asmat. Taman Nasional yang termasuk situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO ini memiliki persedian mineral dan operasi pertambangan berskala besar yang aktif. Ada juga proyek konservasi Taman Nasional Lorentz dari inisiatif masyarakat untuk konservasi komunal dan ekologi warisan yang berada di kawasan ini.
Sejak 2003 hingga kini, WWF Indonesia Region Sahul Papua sedang melakukan pemetaan wilayah adat dalam Kawasan Taman Nasional Lorenz. Tahun 2003-2006 WWF telah melakukan pemetaan di Distrik (Kecamatan) Kurima Kabupaten Yahukimo dan pada 2006-2007 pemetaan sudah dilakukan di Distrik Sawaerma Kabupaten smat.
Taman Nasional Lorenz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga salah satu diantara tiga kawasan dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang dielimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan laut Arafura. Dalam bentangan ini terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.
Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat beragam, terdapat juga kekhasan dan keunikan gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.
Terdapat sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar atau lereng, hutan karangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak. Jenis satwa yang sudah teridentifikasi sebanyak 630 jenis burung yang merupakan 70% dari burung yang ada di Papua dan 123 jenis mamalia. Bulan Agustus hingga Desember merupakan bulan kunjungan terbaik setiap tahunnya.