BANGKA BELITUNG - Indonesia, Indonesia, Liputan, Traveling

Berkenalan dengan Tarcius, Primata Purba Pulau Belitung di Bukit Peramun

Setelah delapan tahun, akhirnya kembali menginjakan kaki ke Tanah Belitong. Sungguh penasaran satu windu lamanya, ada perubahan apa di pulau penghasil timah ini?

Penerbangan pagi, setelah subuh pesawatku berangkat dari Jakarta. Perjalanan berkesan atas undangan peliputan dari Kementerian Pariwisata untuk mengikuti rapat koordinasi lintas sektor menuju Belitung menjadi Geopark Dunia oleh UNESCO ini termasuk kunjungan lapangan mendatangi berbagai objek wisata baru di Pulau Belitung.

Nah, aku bakal buat beberapa seri tulisan untuk objek wisata terbaru di Pulau Belitung. Pertama banget yang menurutku paling menarik adalah saat bertemu tarcius, si mahluk purba yang diklaim menjadi primata yang selamat melewati zaman es. Hmmm penasaran kan?

Matanya bulat lebar, dengan hidung yang lucu serta menarik untuk dilihat. Imut-imut, mungkin kalau dipegang hanya segenggaman tangan kita. sekilas kepalanya mirip burung hantu, tapi bukan. Anehnya lagi, kaki dan tangannya ada mirip kekelawar. Si tarcius juga bisa memutar kepalanya hingga 180 derajat, jadi makin gemes rasanya melihat hewan purba ini.

lihat matanya yang bulat, ini cahayanya over ya, karena mode malam

Buat kamu yang belum kenal sama tarcius, yuk kita kenalan dulu. Tarcius Bancanus Saltator atau dalam bahasa lokal Belitung disebut dengan “Pelilean” jenis tarcius yang baru ditemukan dan masuk dalam daftar appendix dunia melengkapi beberapa jenis tarcius yang sudah teridentifikasi sebelumnya. Variasi spesies ini juga ditemukan di Sumatera, Borneo, Sulawesi, serta ada di Pulau Bohor, Samar, Mindanau, dan Lyte (di Filifina).

Tarcius di Belitung ini menurut cerita berbeda dengan jenis tarcius di daerah lain. Gigi-giginya tajam karena hewan purba ini katanya sempat terjebak saat zaman es. Kalo dipikir-pikir kok bisa? iya bisa dong, bila membaca lebih jauh sejarah pulau belitung yang bisa punya batu-batu sebesar raksasa itu juga ada versi cerita kalau batu-batu itu merupakan batu meteor yang jatuh jutaan atau mungkin ratusan tahun yang lalu.

Sebaran tarcius dari zaman purba berkaitan erat dengan masa es akhir Pleistosene di Sundaland kita-kira 22 ribu tahun yang lalu. Pulau Jawa terhubung dengan daratan Kalimantan, Sumatera, dan Asia Tenggara oleh es. Tarcius kemudian berpindah ke tempat lain melalui es beku tersebut. Ketika es mencair hewan ini terjebak di wilayah daratan yang tersisa. Makanya tau-tau ada di Belitung.

Lanjut ke tarcius lagi. Si tarcius yang ada di Belitung juga dibedakan berdasarkan morfologi dengan tipe rambut padat tidak masif, punggung berwarna abu-abu dan tidak adanya duet vokal di pagi hari (Shehell, 2008; Groves and Shekelle, 2010; Fodgen, 1974; Yustian, 2007).

Batu-batu besar nan unik di Kepulauan Belitung jadi latar foto yang menakjubkan kalau berwisata ke Belitung

Makanya aku nggak kaget juga saat berkunjung ke beberapa situs geopark yang sedang dikembangkan pemerintah untuk dijadikan objek wisata Belitung ada beberapa tempat seperti rawa kenozoikum Tebat Rasau yang kondisi ekosistemnya setelah diteliti juga menarik, serta ada spesies ikan purba yang hidup disekitarnya.

Nah si tarcius ini bisa kamu lihat dengan mengunjungi Bukit Peramun, salah satu objek wisata baru yang ada di Belitung. Menurut penduduk sekitar, nama peramun didapat dari kata peramuan yang memang tempat ini merupakan hutan tempat warga mencari tanaman-tanaman obat atau disebut ramuan.

Buat kamu yang ingin ke Belitung bisa mulai mencoba atraksi ini yang sudah mulai ditawarkan agen pariwisata lokal dengan harga Rp 100.000 per orang. Waktu kunjungan untuk tarcius watching ini malam hari pukul 18.30-21.00, tapi sejak siang kita bisa mengunjungi Bukit Peramun dulu yang ada lokasi melihat pemandangan hutan dari atas bukit.

Ada aturan untuk tidak berisik, jumlah orang yang melihat juga dibatasi sekitar 5 orang saja. Karena makhluk malam ini juga perlu dipancing untuk keluar dan kita akan selalu ditemani pemandu. Disarankan tidak memakai lighting saat memotret dan nggak bisa terlalu lama juga kalau kita mau foto-foto. Menurutkku akan kasian si tarcius, matanya pun hampir berair karena melotot terus nggak berkedip.

Ohya beda lagi ya kalau kamu juga ingin mengunjungi Bukit Peramun, bayar lagi Rp 160.000 per orang dengan waktu kunjungan pukul 09.00 – 17.00. Biaya ini sudah termasuk asuransi, 1 botol minuman, makan siang, pemandu. Nggak rugi lho wisata ke Bukit Peramun yang jadi lokasi geosite ini. Kamu bakal dapet pengalaman menjelajah wisata geologi tingkat dunia berupa batu granit TOT dan keanekaragaman hayati, dengan khasiatnya untuk pengobatan.

lihat deh muka lucunya, ekspresi awkward mirip kita kalo lagi tiba-tiba disuruh pidato di depan kelas waktu jaman sekolah. Hahaha

Sekalian ya di artikel ini aku kasih tips kalau mau jalan-jalan ke Belitung:

(1) Menggunakan travel agent. Kamu akan lebih menikmati waktu liburan dan punya koleksi foto yang bagus untuk postingan social media. Penting banget kan zaman sekarang, hehe 🙂

(2) Selain itu sebaiknya pergi dengan rombongan, sekitar minimal 6 orang ya supaya harganya tidak terlalu over budget di kantong kamu. Jadi memang ajaklah keluarga kamu atau bisa juga temen se-gank yang deket banget buat liburan kesini.

(3) Say No to Solo Traveling. Jangan sendiri aja perginya, solo traveling kurang asik sih kalo tujuannya ke Belitung, kamu pun kalau traveling ke Belitung mesti sewa kapal dan mengunjungi banyak pulau. Walaupun bisa sewa motor atau bisa berbaur dengan orang lokal tapi, percaya deh kata aku. Jangan pergi soloing.

Advertisements
BALI - Indonesia, Indonesia, story, The Journey, Traveling

Cerita Mitologi di Monkey Forest, Ubud Bali

Monyet pun katanya “no smoking”

Dahulu kala, ada sebuah legenda dari Ramayana. Menceritakan konstruksi besar jembatan panjang bernama Situbanda yang dibuat oleh pasukan monyet di bawah pengawasan langsung Sri Rama yang menurut cerita itu merupakan inkarnasi dari Dewa. Sejak saat itu, monyet bukanlah hewan biasa dan jadi elemen penting berkesenian di Bali.

Tak salah kalau ada sebuah tempat, namanya Monkey Forest yang begitu dijaga dan jadi habitat monyet sekaligus tempat wisata yang bisa kamu kunjungi saat ke Ubud, Bali. Tanpa itinerary, karena hotel ku Plataran Ubud ternyata dekat banget lokasinya dengan Monkey Forest makanya tanpa pikir panjang aku niatkan habis spa buat jalan ke hutan monyet ini.

Menghirup segarnya udara hutan di The Sacred Monkey Forest Sanctuary mengingatkan aku akan saat-saat yang menyenangkan waktu trekking ke gunung. Rasanya paru-paru penuh dengan oksigen yang segar dari hutan ini. Rasanya paru-paru berterima kasih, karena rasanya enak menenangkan hati. Entahlah mungkin berlebihan tapi itu yang aku rasakan.

Berdua aja, lagi makan umbi-umbian

Sejauh mata memandang adalah pepohonan dan lumut hijau yang tampak segar memanjakan indra penglihatan. Si monyet, makhluk lucu yang lompat kesana kemari dan kadang iseng jail mendekat ke wisatawan juga jadi hiburan tersendiri. Kita secara langsung bisa melihat tingkah polah si monyet di habitatnya. Lagi cari kutu, minum, berenang di kolam, dan makan.

Rasanya aku lagi ada di dunia monyet! Makanya nggak salah tempat ini dinamakan Monkey Forest. Jenis monyet yang hidup di dalam kawasan Monkey Forest Ubud dikenal sebagai monyet Bali ekor panjang yang dalam istilah ilmiahnya Macaca fascicularis, tahu nama ini dari fact sheet yang diambil waktu beli tiket masuk.

Ada sekitar 900 ekor monyet yang menghuni kawasan ini, terbagi dalam 6 kelompok ada di Pura Dalem, Michelin, Timur, Tengah, Kuburan dan Selatan. Jangan khawatir kesasar, ada papan petunjuk kok buat balik lagi ke pintu utama. Jalanannya naik turun, makanya aku bilang seperti lagi trekking di hutan. Cuma, bukan di pijakan tanah soalnya sudah disemen semua jalannya.

Pengunung lebih banyak turis asing

Kalau berjalan mengikuti jalur turun ada sungai tempat habitat monyet mandi

Karena jumlahnya cukup banyak, konflik antar monyet tidak dapat dihindari, ehm.. bukan manusia aja yang berkonflik, monyet juga. Seperti misalnya nih, mandi ke sungai di musim kemarau, kelompok tertentu mesti melewati wilayah kekuasaan kelompok lain. Ternyata ada politik juga di dunia monyet.

Monyet di hutan ini terbilang monyet yang aktif di siang hari. Monyet betina mengandung selama 6 bulan dan umumnya melahirkan 1 ekor bayi. Bayi kera biasa bersama induknya kurang lebih 10 bulan dan sesudahnya akan disapih untuk hidup mandiri.

Monyet termasuk binatang omnivora alias makan buah-buahan, di Wenara Suci Wenara Wana sebutan lain Monkey Forest Ubud makanan utamanya adalah ketela rambat, diberikan minimal 3 kali sehari dan setiap hari dikombinasikan dengan pisang, daun, papaya, jagung, mentimun, kelapa, dan buah-buahan lokal lain.

ada monyet yang lagi nyari kutu

Monkey Forest buatku bukan tempat yang biasa-biasa saja. Aku malah lihat kebanyakan turis asing yang jadi pengunjung disini. Buat kamu yang belum kesini, harus banget menjadikan Monkey Forest Ubud salah satu tujuan wisata kalau ke Ubud. Bukan cuma jadi daya tarik wisata di Ubud aja, tapi jadi lokasi penting untuk riset dan penelitian. Khususnya terkait perilaku dan interaksi sosial kera dengan lingkungan sekitarnya.

Hmmmm, satu aja hal yang kurang aku suka bau agak kurang sedap dari kotoran monyet. Wajar sih namanya kan hutan monyet rumah mereka, seperti kalau lagi ke kebun binatang pasti ada bau itu.

Catatan untuk wisatawan:

Monyet tidak akan mendatangi kalau tidak memberi makan atau memegang sesuatu ditangan seperti kacamata

tidak melakukan kontak fisik dengan kera atau memberi makanan tambahan di luar kawasan.

Ada bagian yang tidak boleh dimasuki wisatawan, kecuali oleh mereka yang akan sembahyang dan harus dengan menggunakan pakaian adat Bali yang lengkap.

img_0665
Hutan hijau, pemandangan yang sejuk selama trekking di Monkey Forest

The Sacred Monkey Forest Sanctuary

Telp : +62 361 971304, +62 361 972774

Alamat: Jalan Monkey Forest, Padangtegal, Ubud, 80671, BALI

Harga Tiket Masuk:

Wisatawan lokal dan asing Rp 50.000/orang

Kera yang minum langsung dari keran yang menetes

Indonesia, JAVA - Indonesia, story, Traveling

Walking Tour China Town, Glodok Jakarta

Mulanya iseng-iseng aja, lagi scrolling Instagram stories temen jurnalis food & travel dan menemukan posting-an dia yang menarik. Walking tour di Jakarta! Waw, Jakarta nih. Lalu tanpa mikir lagi langsung follow akun jalan-jalan yang di tag si temen, buka website dan lihat schedule tour-nya.

Ada banyak pilihan walking tour. China Town, Pasar Senen, Kota Tua, dan masih beberapa lagi. Karena deket sama Imlek dan aku lagi butuh banget bahan berita kuliner, jadilah pilih untuk ikutan tour yang China Town. Terus aku ngajak Sarah, temen sekantor tempatku freelance sekalian buat perpisahan karena kita selama 8 bulan ber-partner belum pernah trip bareng.

Anyway! Kawasan pecinaan di seluruh dunia selalu menarik, ya nggak sih? Waktu ke kota Palembang, Semarang, bahkan kalo juga saat ke Singapura dan Malaysia kawasan pecinaan itu punya semacam magnet dari simbol bangunannya sama kulinernya. Rasanya kepingin aja tahu seperti apa etnis yang jumlahnya paling banyak di dunia ini menjalani keseharian. Salah satunya dari sisi kehidupan Cina Muslim yang sepertinya jarang ditemui, yang kerasa amazing aja waktu di Chinatown Singapura aku juga bisa menemukan masjid dan sempat sholat magrib disana.

Mampir sebentar buat nyobain teh gratisan di Pantjoran Tea House

Jadi aku bela-belain Sabtu pagi jam 09.00 teng sudah ada di Hotel Novotel Glodok, sebagai meeting point memulai tour. Pagi itu anginnya kenceng banget, tapi Alhamdulilah tetap cerah Jakarta. Dari sini dimulailah walking tour, baru tahu ternyata di belakang Hotel Novotel ini ada rumah bergaya pecinaan yang nyempil di antara coffee shop Kopi Oey.

Lalu masuklah aku ke bangunan Chandranaya itu bareng rombongan tour yang ternyata lumayan banyak dibagi dalam 3 group masing-masing sepuluh orang dengan satu guide. Kita dibawa masuk ke rumah saudagar Cina Khouw Kim An yang kala itu pada masanya tahun 1867 adalah kapiten atau semacam jabatan lurah. Rumah ini sempat nggak keurus, tapi direnovasi dan dirawal lagi tahun 2012, sehingga bisa jadi tempat pameran dan cagar budaya.

Mulai cerita deh guide-nya, tentang arsitektur Cina zaman dulu yang punya status sosial tinggi rumahnya tuh beda dari rumah lain ada banyak ornamennya macam ayam, ikan, udang di genteng. Dulunya tempat yang sekarang jadi Candranaya ini ada di bawah Xinming Association, perkumpulan etnis Tionghoa yang kegiatannya ada badminton, kelas bahasa mandarin, dll. Cuma karena peristiwa 1998 bangunan sempat rusak dan dibakar. Sedih jadinya, keinget waktu itu aku masih SD dan rusuh banget Jakarta saat itu.

Dari Chandranaya, kita lalu diajak jalan ke arah Glodok. Di depan Pasar Glodok yang deket kali kita berhenti dan diceritain kisah pembantaian etnis Cina oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1740-an.Sekitar 5000 – 10.000 orang dibantai pada kejadian yang berlangsung 3 hari itu, mayatnya dibuang di sungai rawa Jakarta. Makanya juga ada daerah dikenal dengan nama Gunung Sahari, itu plesetan dari gunung dalam sehari (mayat etnis Cina yang dibantai) waktu itu katanya darah dan mayat dimana-mana.

“Populasi etnis Cina banyak banget, makanya dibantai, bahkan ada yang dimigrasi ke Srilanka,” kata Guide kami.

Yang lagi ibadah, di Klenteng Dharma Bhakti

Lanjut cerita tadi, kita diajak jalan lagi dan berhenti di sebuah kedai teh di Jalan Pantjoran. Jadi ini kedai teh udah lama banget katanya, sejak zaman Belanda dulu ada dan sekarang tetap jadi kedai teh dan restoran chinese food gitu.

Pantjoran tea house, namanya diambil dari kali dari kata pancuran. Kenapa kita dibawa kesini? Ada sejarahnya nih, kedai teh ini memang unik. Jadi si pemiliknya kapitan dan sang istri selalu menyediakan teh gratis dari pagi hingga sore di depan kedainya. Zaman dulu kan orang sudah mencari minuman, ide si pemilik untuk berbagi teh sampai sekarang juga masih diterusin.

Nggak jauh dari Pantjoran Tea House kita belok ke arah Jalan Petak Sembilan. Dulu katanya disini memang hanya ada rumah besar sembilan petak, makanya dinamakan Petak Sembilan, tapi ya kalau sekarang sih sudah bukan sembilan lagi. Hehehe.. dari situ kita masuk ke pasar dan tujuan perhentian selanjutnya adalah Klenteng Dharma Bakti, salah satu klenteng tertua di Jakarta yang sudah ada sejak 1650. Berkali-kali klenteng juga rusak karena kebakaran, tapi direnovasi lagi. Nah, setiap klenteng biasanya ada dewa sebagai tuan rumahnya, kalau di Dharma Bakti ini Dewi Kwan In, yang nonton Song Go Kong pasti tahu dong.

Serombongan foto di klenteng

Nggak cuma ada satu klenteng di kawasan pecinaan Glodok, makanya kita juga diajak ke Klenteng Cheng Goan Cheng Kun sebelum lewatin Gang kalimati dan Gang Gloria buat kulineran. Disini nih kamu bisa ngocok ramalan yang pakai nomor berhuruf Cina. Cuma bakal bisa dibaca sama Bapak yang nunggu di depan klenteng. Eh, Sarah nyoba dia buat ngocok ramalan. Antara percaya nggak percaya ada cerita aneh disini yang kalau dipikir agak mistis.

Si Sarah agak ragu, mau ngocok atau nggak. Terus katanya sih dia mikir.

Sarah : “ini serius bisa keluar kocokan segitu banyak terus keluar satu? Celoteh si Sarah. Lalu keluar semua dong itu batang kayu yang ada nomornya.

Kakak Guide nya bilang: “harus yakin, sabar dan mau berproses. Emang gitu berproses nggak enak,” komentarnya. Gara-gara kocokan Sarah jatuh semua.Hahahaha.

Dengerin instruksinya si kakak guide terus si Sarah jadi ngocok dengan lebih yakin dari sebelumnya dan keluar deh itu satu kayu dengan nomor bahasa Mandarin. Hehehe.

Ngelewatin pasar, kanan kiri pemandangannya ada babi gelantungan

Singkat cerita jadinya mistis deh, katanya dari awal dia udah liat itu nomor tapi pakai huruf abjad pas belum nanya sama si bapak Cina. Terus pas mau moto si kayu biar diterjemahin nomor berapa masa ga bisa difoto pakai kamera hp selain punyanya si Sarah. Pas kita selesai makan di Kari Lam dan nanya apa arti tulisannya si bapak juga nyebut nomor yang sama dengan yang dilihat Sarah sebelumnya. Jadi, katanya sih nggak boleh dikasih tau temen nomor berapa dan apa isi ramalannya. Lagi pula itu ramalan juga ditulis dalam bahasa kiasan.

Ya begitulah akhir dari walking tour China Town di Glodok. Sebelumnya kita juga ke Gereja Katolik dengan bentuk bangunan Cina juga. Diakhir tour aku agak penasaran sama isi ramalannya Sarah sih, soalnya dia baru resign kerja di awal tahun ini. Kalo aku sengaja nggak mau ikutan ramal-ramal gitu karena khawatir malah terpengaruh sama isi ramalannya. Ya kalau baik, gimana kalau sebaliknya? Dah, percaya aja sama apa yang direncana Allah nantinya.

BALI - Indonesia, Indonesia, Liputan, MOUNTAIN, Traveling

Staycation Plataran Ubud – BALI

” Ladies and Gentlemen, we shortly will be landing at Ngurah Rai Airport, Bali. The local time now is 18.10, time in Bali is 1 hours ahead of Jakarta….. ,” suara pengumuman dari awak kabin

Sekitar beberapa menit sebelum mendarat, di bawah sana tatanan kota yang tak begitu rapih mulai terlihat. Juga air laut pasang yang seperti sedang menari-nari dan hal paling buat aku kaget adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ternyata kelihatan lumayan besar dari atas pesawat. Padahal dulu 2013, waktu pertama kali aku ke Bali patung itu belum sepenuhnya jadi. Aku juga hanya baru dapat berfoto dengan bagian kepalanya saja.

Akhirnya bisa menjejakan kaki lagi di Bali, setelah April 2017 silam solo traveling  hanya di seputaran Kuta dan akhir tahun 2018 ini aku bisa sebentaran “kabur” dari rutinitas dan penatnya ibu kota. Tempatnya di Ubud yeaayy! Ini seperti lagi dikasih Allah me time sejenak setelah berbagai hal terjadi. Warna warni dan jatuh bangun mental kehidupan cinta di tahun 2018.



Sesajian kalau orang Bali habis sembahyang,.. Bali banget ya..duh! Kaki sampai belang karena kebanyakan panasan

Rasanya tuh, Allah baik banget aku dikasih libur lagi walau statusnya sebagai reporter yang lagi “numpang” liburan colongan dengan staycation di Plataran Ubud, Bali. Semoga saja tercapai mimpi aku buat bisa balik lagi ke Ubud, tapi sama pasangan dan bisa explore tempat ini lebih intens.


Apa sih staycation itu? Kalau kamu belum tahu, staycation atau holistay adalah periode di mana seorang individu atau keluarga tinggal di rumah melakukan kegiatan rekreasi dalam jarak tak jauh dari rumah dan tidak memerlukan akomodasi atau waktu yang semalam. Jadi, kamu tinggal dan beraktivitas disekitar tempat menginap nggak jauh-jauh jaraknya ya sekitar 1-2 km dari hotel atau rumah.

Aku dijemput pihak Plataran Ubud jam6 sore di Kuta, soalnya ada lunch sama teman-teman liputan Sampoerna Foundation dan aku niat muterin Mall Beach Walk buat nyari oleh-oleh. Lumayan macet Kuta sore itu, aku saranin buat langsung ke Ubud aja dari Bandara Ngurah Rai. Daripada kan, waktu habis terbuang.. seharusnya aku bisa ikutan cooking class tapi jadi skip huhu 😐.

Jadi ngapain aja nih kegiatan aku selama staycation?

(1) Spa

Aku sudah niat dari Jakarta kalau sesampainya di Bali mau Spa. Masa bodoh bayarnya berapa, kebetulan untuk Spa kan bukan termasuk pelayanan kamar. I spend my money for Spa.. mahal buat gaji jurnalis rasanya tapi worth it aja kalau Spa di hotel biasanya tidak mengecewakan. Biasanya juga harganya paling murah Rp 500.000 per 60-90 menit. Mungkin Spa di Plataran Ubud ini masih kalah enak sama Spa-nya The Westin Jakarta yang pernah ku cobain juga. Tapi ya ini pas dapet diskon 30%, jadi aku cuma perlu bayar Rp 360.000 buat Spa berdurasi 1 jam yang sudah termasuk tax 22%, iya jangan kaget ya kalau tax untuk hiburan rekreasi memang sebesar itu.



Ternyata dari ruangan Spa kelihatan sawah -sawah, aku request supaya backsound musik yang mirip lagu kalo lagi yoga disetel lebih keras biar makin rileks

Rencana mau Spa juga seperti konsep law of attraction, jadi waktu pagi lagi sarapan ada mbak-mbak dari Spa nya Plataran Ubud and Spa yang memberikan gratis trial Spa selama 10 menit. Terus ditawari paket Spa dan diiming-imingi diskon. Ya sudahlah siapa yang bisa menolak diskon hehe. Jadilah aku Spa, tadinya mau malam sebelum tidur tapi melihat cuaca gerimis hujan aku ganti rencana Spa setelah sarapan jam 10 pagi.

(2) Mencoba Balinese Costume

Aku tertarik banget buat mencoba salah satu kegiatan yang free saat staycation di Plataran Ubud dengan foto-foto dengan kostum tradisional Bali. Tapi ya karena aku lagi nggak ada temen, akhirnya ku ajak receptionist hotel buat jadi temen foto soalnya kan garing kalo foto-foto sendiri.

Persawahan hijau khas di Ubud yang bakal aku kangenin

Seketika mood aku berubah, karena bisa ketawa-ketawa waktu kita seru-seruan foto. Niat juga sampai ke belakang persawahan Plataran Ubud buat ngambil foto berlatar belakang pemandangan hijau. Duh! Kalau begini caranya aku mestinya bawa pasangan buat sekalian liburan bareng.

(3) Tea Time

Hampir setiap hari ada free buat tea time di restoran Teras yang ada di Plataran Ubud. Makanan dan minuman untuk tea time kamu juga bisa dibawa ke kamar, tinggal pilih aja terus mintalah buat diantar. Tiba-tiba aku jadi manja banget minta dianterin ke kamar semua snack cemilan sandwich, buah, sama teh.

img_0659

Nggak apa-apa sesekali, soalnya ada pemandangan yang bagus banget dari beranda kamar aku. Bawahnya ada kolam renang dan sawah, pohon kelapa hijau juga menghampar. Makan malam pun juga di kamar, sambil nonton TV.

(4) Jalan-Jalan ke Monkey Forest

Aku penasaran belum pernah ke Monkey Forest. Ternyata lokasinya tidak jauh lho dari Plataran Ubud, hanya sekitar 2-3 KM berjalan. Ah! Kalau masih segitu bisa dong jalan, aku lalu dikasih peta sama mbak-mbak receptionist Plataran Ubud, gampang banget jadinya ke lokasi.

Masuk Monkey Forest kita perlu tiket masuk yang bisa dibeli seharga Rp 50.000, untuk orang asing sama harganya. By the way, aku saranin untuk memakai sepatu yang nyaman buat ke tempat ini. Soalnya kita itu seperti lagi trekking yang cukup jauh. Naik turun, mungkin yang jarang olahraga bakal ngos-ngosan. Beruntungnya orang macam aku suka banget olahraga dan trekking macam ke Monkey Forest, Ubud ini.

Monyet-monyet akur, kita dilarang memberi makan karena mereka sudah makan dari buah-buahan yang ada di hutan tumbuh alami

Seneng deh bisa berada dekat dengan para monyet ini. Soalnya mereka benar-benar berkeliaran di dekat kita dan perlunya kita waspada menjaga jarak aja serta membaca peraturan yang tertera supaya menghindari terjadi hal tidak diinginkan. Tenang aja tapinya kok, ada pawang monyetnya di dalam meskipun mereka berkeliaran. Tempat ini terasa udaranya segar soalnya hutan dengan pohon rerimbun, hal yang agaknya kurang ku suka adalah bau kurang sedap dari kotoran. Ya wajar kan ini hutan monyet, dimana pun mereka mau pup sah sah saja.

(5) Nge-GYM

Seminggu lamanya karena sibuk kerja, jogging pun terlewatkan. Beruntungnya aku masih bisa mengganti waktu berharga untuk ku olahraga dengan nge-Gym waktu staycation di Plataran Ubud. Pokoknya diniatin banget deh, sehabis Magrib dari kecapekan jalan-jalan trekking santai ke Monkey Forest, berlanjut sorenya Balinese Costume dan Tea Time ku sempatkan juga membakar kalori.

Dalam hati aku bilang, pulang ke Jakarta nanti nggak boleh beratku naik kebanyakan. Makan tiada henti dengan aktivitas banyak dan karena dapet cemilan tetap saja aku harus berolah raga. Beruntungnya di Gym hanya aku sendirian, lagi nggak ada yang pakai alat. Soalnya waktu kemarin malamnya sampai sempat melihat ada bule yang lagi jogging di tredmill. Lumayanlah malam itu bakar kalori sekitar 250 kal, malamnya pun ku hanya makan caesar salad dan jus wortel. Kwkwkw, sayang dong kalau olahraga malah percuma karena malamnya makan nasi.

(6) Kalau Mau Sepedaan Bisa

Sepedaan keliling Ubud, seru pastinya.. tapi fasilitas ini bukan bagian dari free pelayanan saat menginap. Kalau mau sepedaan yang harus dengan guide di Ubud kamu harus membayar sekitar Rp 200.000, nanti akan diantar keliling persawahan dan desa sekitar. Kalau mendengar penjelasan receptionist hotel sih worth it ya. Cuma sayangnya aku tidak keburu waktu buat sepedaan, soalnya aktivitas ini dimulai sejak pagi jam 08.00-10.00.

Sepedaannya harus diantar guide

Saranku kalau memang ingin staycation disini, cari tahu dulu jadwal untuk sesi free activity-nya. Ada cooking class, yoga (yang tidak sempat aku coba karena terlalu capek), sekaligus Balinese costume maupun membuat gebongan. Semua ada jadwal per harinya. Saranku juga sebaiknya menginap minimal 3 hari 2 malam supaya semua aktivitasnya tercover.

(7) Ke Pasar Ubud Bisa dengan Shuttel

Sebenarnya kalau jalan nggak jauh lokasinya, tapi ada shuttel atau mobil yang akan mengantar ke beberapa lokasi. Salah satunya kalau mau ke Pasar Ubud disarankan pagi-pagi sekitar jam 10. Shuttel ini ada pada pukul 10.00, 13.00, dan 15.00. Cuma menurutku kalian jangan terpaku sama shuttel buat berpergian kemana-mana. Karena jalan kaki pun dekat kok.

culinary, Food, Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, SUMATERA SELATAN - PALEMBANG, The Journey, Traveling

Jalan-Jalan Ke Kota Palembang, Bukan Cuma untuk Kulineran Pempek!

Kalau kamu menyimak perhelatan ASIAN Games yang baru saja selesai akhir pertengahan 2018 ini, mungkin kamu pernah bertanya-tanya. Selain di Jakarta kok ada Kota Palembang sih yang jadi tempat penyelenggaraannya? Hmmm.. kenapa ya kira-kira? … *nanti diakhir coba aku jelasin

Nah, kebetulan (padahal di dunia ini semuanya tidak ada yang kebetulan lho). Nggak lama setelah ASIAN Games itu aku dapat kesempatan liputan ke Kota Palembang. Yassss! Sekalian dong kesempatan diajak kulineran.

FYI aku berangkat pagi hari, pesawat take off sekitar pukul 9.30 pagi dari Jakarta dan dengan penerbangan sekitar 1 jam lamanya kami sampai hampir tepat di waktu makan siang. Hufftt! Palembang panas sekali, kalau kalian mau tahu. Cuacanya mirip seperti waktu aku ke Bangka Belitung terik mataharinya hampir 35 derajat di bulan September lalu.

Kali ini aku bakal cerita secara berurutan saja ya, seperti itinerary kalau kamu datang ke Palembang dan enaknya ngapain aja di jam segitu atau cocoknya kulineran apa jam segini. Karena menurutku buat menikmati Kota Palembang itu perlu timing yang tepat. Oke langsung simak yuk!

DAY 1 Tiba Pukul 12:00 Siang

Makan Siang dengan Menu Pindang

1540746224714
(kanan ke kiri) Pindang Tulang dan Pindang Patin pilih mana coba?

Begitu sampai, aku langsung dibawa ke sebuah restoran yang terlihat modern. Hmm, lalu agak curiga apa enak makanannya disini? Skeptis karena biasanya tempat yang makanannya enak itu rame banget. Tapi ini sepertinya masih baru. Bener kan, biasa aja. Tapi aku rekomendasi aja buat kalian untuk makan siang yang cuacanya panas begini atau pun kalau lagi musim hujan. Cocoknya ya kulineran dengan menu pindang.

Pindang adalah masakan berkuah yang begitu terkenal di seantero Sumatera Selatan. Pindang disini ada banyak jenisnya. Nah, yang aku coba adalah Pindang Patin dan Pindang Tulang. Keduanya punya perbedaan citarasa yang menentukan selera lidah kalian juga. Kalau suka masakan berkuah kaldu aku sarankan untuk memilih Pindang Tulang yang memakai daging sapi bertulang. Namun kalau kamu penyuka pedas dan ingin kuah yang terasa segar aku rekomendasikan pilih Pindang Patin yang memakai daging ikan Patin.

Keduanya nggak salah, karena selera orang kan beda-beda. Si menu Pindang ini enaknya dimakan bersama nasi hangat dan ada tambahan sambal manga serta acar. Aku sukanya pada bagian Pindang Patin karena ada daun kemangi yang buat aromanya makin sedap, over all rasanya agak mirip Tom Yam masakan Thailand. Sementara Pindang Tulang menurutku rasanya lebih mirip seperti saat menikmati Sup Iga, sensasinya yang beda sih saat kamu melepas daging dari tulang-tulangnya sambil menyeruput si kuah kaldunya yang terasa light. Itu sih, sedikit cerita nikmatnya kulineran yang aku rasakan di siang hari bolong sebelum sampai ke hotel buat istirahat.

museum-sultan-mahmud
Salah satu sudut di Museum Sultan Mahmud Baddrudin II, foto : Trip Advisor

Pukul 14.00 Siang

Main Ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Ada waktu bebas begitu sampai hotel! Mumpung masih di Kota orang jadi aku ngajak dua reporter lain buat jalan-jalan sekitaran Jembatan Ampera. Kami pesan Grab Car! Hahaha bukan iklan berbayar ya, biar tahu aja kalau ternyata kamu bisa pesan transportasi online. Kota Palembang ya bukan kota kecil kan. Dulu bahkan katanya ini adalah Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya. Di Asia Tenggara dulu merupakan yang tertua. Wah banget aku baru tahu setelah masuk museum dan diterangkan oleh bapak Abi Sofyan, penjaga museum yang menemani kita keliling. Masuk museum ini bayar Rp 5.000 per orang, cukup murah ya. Di dalamnya sebenarnya nggak begitu bagus dan terawat isinya menurutku. Tapi sudah bagus ada museum ini jadi wisatawan lokal seperti aku jadi bisa mengenal sejarah hanya dengan melihat-lihat. Kamu bisa tahu baju adat Palembang, kamar pengantinnya, lalu cerita soal Laksamana Cheng Ho yang ternyata pernah beberapa kali datang dan ikut menyebarkan agama Islam disini. Hingga akhirnya etnis Cina juga percampurannya bisa tersebar di Palembang.

Pempek

Pukul 16.00 Sore

Waktunya Ngemil Pempek dan Beli Oleh-Oleh

Di Palembang ada banyak banget yang jualan Pempek. Di bandara pun ada beberapa brand restoran Pempek. Jadi memang nggak salah kalau disebut “Kota Pempek” haha. Tapi Pempek yang seperti apa dulu nih? Kalau googling pasti kamu bakal banyak banget rekomendasi. Menurutku sih, kembali lagi pada selera.

Nah, saat di Palembang kemarin aku mencoba 2 restoran Pempek berbeda. Untuk ngemil sore hari pertama aku mampir ke Pempek Beringing. Disini sekalian deh, beli oleh-oleh juga, ada Kerupuk Kemplang, Pempek yang versi frozen juga makanan khas Palembang lainnya. Menurut ku Pempek disini ya terasa ikannya, beda di bumbu yang lebih kental dan pekat dengan udang ebi yang sudah ada di dalam bumbu cuko.

IMG_9388
Berlatar pemandangan Jembatan Ampera, Kota Palembang di malam hari

Pukul 19.00 Malam

Makan Malam di River Side Restaurant dengan Latar Jembatan Ampera

Satu moment yang buat aku suka Kota Palembang adalah suasana malamnya dengan keindahan latar megahnya Jembatan Ampera, ikon kota ini yang dibangun sejak 1962 pada era Soekarno. Sambil menunggu menu makan malam siap, disini kamu bisa mengabadikan atmosfer malam Kota Palembang lewat berfoto menangkap dari jauh cahaya lampu terang Jembatan Ampera. Benar kata penduduk lokal yang menasehati saya waktu siang hari bertanya gimana cara ke Jembatan Ampera. Tempat ini memang lebih bagus dilihat saat malam hari.

Makan malam di River Side menurutnya biasa saja rasanya, standart. Namun karena suasananya semua terasa jadi enak, hehe. Aku tetap rekomendasikan tempat ini untuk kamu menghabiskan waktu malam menikmati suasana kota. Jangan lupa supaya pulangnya minta diantar untuk melewati Jembatan Ampera, supaya kamu pun merasakan gimana megahnya (dan menurutku memang terasa megah) jembatan ini. Sementara di siang  hari aku melihat kawasan ini terlihat kumuh ya. Ada pasar di dekatnya dan di kolong jembatan ada pedagang kaki lima berjualan. Bahkan seperti ada pasar kaget orang lokal yang menjual barang bekas. Aku agak kecewa ternyata Palembang kalau siang hari terlihat kumuh di kawasan ini.

Aku sih berharap, Kota Palembang yang merupakan salah satu Kota besar di Nusantara dan yang notabene dulunya ibu kota Kerajaan Sriwijaya bisa lebih bagus tertata. Wah, kemana aja ya dana Anggaran Pembelanjaan Daerah (APBD) kalau kotanya masih kumuh begini. Memang di kota Pempek ini karena beberapa kali sempat jadi tempat perhelatan olahraga skala Internasional, ada stadion besar dan pembangunan LRT hingga ada moda transportasi itu sekarang.

Tapi menurutku sisi latar sejarah Palembang, Kerajaan Sriwijaya, dan katanya dulu dijuluki “Venice From The East” seharusnya tidak begini. Harus banyak perbaikan, seperti yang kulihat dari Kota Semarang yang jauh berbeda ketika tahun 2011 pertama kali aku berkunjung dan di tahun 2018 kemarin Semarang menjadi lebih tertata apik.

Martabak HAR dyahpamelablog
MARTABAK HAR yang terinspirasi kuliner India, harus dicoba kalau ke Palembang

DAY 2 Pukul 15.00

Ngemil Martabak HAR dan Pempek Lagi!

Hari kedua di Kota Palembang yang sembari business trip itu aku menyerah karena sehari saja sudah kekenyangan, tapi belum semua kuliner khas di kota ini aku cobain. Mesti di capslock ya BELUM SEMUA. Akhirnya, pilihlah yang sekiranya buat aku penasaran seperti Martabak HAR yang memang beda dari martabak yang pernah aku cobain.

Martabak HAR diperkenalkan oleh Haji Abdul Rozak tahun 1947, tempat ini menyajikan makanan khas India yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Nggak heran kalau ada kuah kari kental dengan daging sapi dan kentang sebagai pasangan saus untuk si martabaknya yang cenderung tidak berasa karena hanya adonan terigu dengan isian telur tanpa daun bawang seperti martabak kebanyakan. Pokoknya harus coba menurut ku sih di tempat lain di Indonesia nggak ada soalnya, cuma di Palembang.

Menjelang sore akan siap-siap ke bandara, lalu aku diajak makan Pempek lagi. Hahaha, biar eneg deh sama Pempek pokoknya mumpung lagi ada di Palembang. Sekejap aku merasa kalau memang kurang cocok dengan Pempek berkuah asam. Soalnya di hari pertama pun aku sudah nggak enak badan dan upppss tidak perlu disebutkan disini bagaimana gejolak asam lambungku lantas menyebabkan apa. Tapi guys, masih banyak kuliner Palembang lain lho. Ada Mi Celor juga, hahaha maafkan karena perutku sudah nggak sanggup. Mungkin next time ya kalau kesempatan berkunjung ke Palembang lagi.

Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Cerita kemping Ranca Upas – Ciwidei Bandung

Lama juga nggak kemping, lama nggak main ke gunung- gunung di Indonesia. Rasa kangen itu, buat pecinta alam seperti saya kadang nggak bisa dibendung. Tapi setelah melewati perjalanan panjang 2 minggu trekking ke Pegunungan Himalaya awal tahun 2018 kemarin, “penyakit” kangen naik gunung ini sudah setengahnya terobati. 

Tapi namanya panggilan jiwa, buat nanjak mungkin kadang-kadang kepingin juga.. Paling tidak ikut kemping ceria yang tidak perlu trekking berhari-hari sudah cukup bisa mengatasi kerinduan menjelajah. Anak yang nggak bisa diem ini pun jadi sulit melewatkan ajakan buat kemping. Sebutlah begitu, walau tujuannya nggak sekedar kemping sih 😂, mau mencari jiwa, banyak ngobrol dan lebih mengenal. Tapi mood Cancer saat pergi lagi melow, banyak diem gitu, nggak ngerti deh kadang-kadang.

Gimana cara kesana?

Jadi kami berangkat pagi banget, jam 05.00 dari Cibubur naik travel buat ke Bandung. Kepagian banget ya? Karena memang menghindari macet, tahu sendiri kalau weekend macet Jakarta pindah ke Bandung. Tapi ternyata lancar banget guys, jam 07.00 pagi kita sampai di Pasteur. Dingin banget, Kota Bandung sekitar 20 derajat 😱. Tempat travel kita turun kebetulan ada warung tukang bubur, jadi sekalian aja sarapan disitu. Sambil nunggu temen yang mau nganterin motor sewaan buat ke Ranca Upas. FYI dari Pasteur kita masih harus berkendara dengan motor sekitar 2-3 jam. 

Ranca Upas memang letaknya ke arah Selatan Bandung, searah kalau kita ke Kawah Putih. Udara pagi Kota Bandung yang tadinya dingin, setelah pukul 10.00 berubah jadi panas. Hahaha, padahal kita naik motor dan bermacet-macetan. Bayangin aja gimana kondisi bawa carriel gede ditaruh di depan, terus nyalip-nyalip mobil di pinggir. Berbekal GPS dari GMaps aja, yang tentu saja sudah diubah mode-nya tanpa melintasi jalan tol. Sempet berhenti pas jam makan siang sih, kita laper dan makan di rumah makan Padang hahha. Untung enak makanannya.

Singkat cerita, sampai juga di Ranca Upas. Asli panas terik, tapi udaranya lumayan dingin mirip di puncak. Sampai disana bingung, karena ini tempat ramai sekali. Kempingnya nggak kebayang aja, maunya sih yang bener-bener seperti di gunung yang deket pohon atau di bawah pohon atau di dalam hutan. Kita survei tempat tuh akhirnya, mau dimana kempingnya? Di deket danau kelihatannya adem tapi banyak banget manusia, sementara yang ajak sepi itu di sebuah lapangan luas tanpa pepohonan yang terbayang kalau pagi pasti bakal kepanasan dan mesti buru-buru beresin tenda. Hufft.

Entah gimana. Diem lah dulu di warung. Lumayan lama banget sampai nggak tahu mau ngapain lagi kan habis solat zuhur. Tau-tau ngobrol sama mas-mas disitu, cerita-cerita, eh ternyata anak kampus ISBI lagi ngadain semacam ospek buat anak seni. Tadinya agak bete sih, kita lama banget di warung 😂. Udah kenyang, udah makan, udah solat, mati gaya banget berdua, udah ngetawain lawakan di IG, beruntung rasanya ketemu sama si anak teater ISBI (Institut Seni) ini karena kita dibolehin kemping deketan mereka, yang masuk ke dalam hutan gitu.. “lumayan tenda sama tas kita ada yang jagain kan,”.. “bener juga” dalem hati. 

Dan bener, beruntung banget kita kenal sama si anak-anak kuliah teater ISBI ini. Kempingnya jadi adem, di depan kita juga jadi ada hiburan anak-anak lagi cekakakan gak jelas ngetawain hidup. Pokoknya random, kadang jadi ngaca aja. Dulu pas kuliah saya gini juga gak sih?? Ah nggak, dulu sih fokus belajar biar cepet skripsi dan lulus aja. 

Kemping yang nggak terencana rapih ini not bad lah jadinya. Di sisi lain yang salah tentang kemping ini kita gak bawa gas buat masak, padahal udah bawa kompor dan nesting, juga perbekalan makanan. Mau beli gas juga nggak dapet keliling swalayan dan akhirnya kita mah malah tetep makan nasi goreng sama ke rumah makan Padang 😂✌🏻. Nggak masak sama sekali. Agak mubazir deh berat-berat bawa itu semua. Rasanya kurang prepare.. next time mesti prepare lagi yang rapih dan entah gimana aku sukanya diajak nonton atau makan berdua aja kalau begini, walau ngobrol ceritanya berasa sebentar cuma 2-3 jam tapi kok ada kesan malah quality time dan justru jadi menanti-nanti hari buat ketemu lagi🙂. 

Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Weekend Getaway – Petik Strawberry di Ciwidey Bandung

Long weekend bisa disebut begitu karena ada tanggalan merah di hari Jum’at pekan lalu. Tapi ini perginya Sabtu Minggu, jadinya sebutlah tetap weekend getaway. Niatnya mau kemping ceria ke Rancaupas, Bandung.

Tapi cerita ini bukan tentang kempingnya. Tanpa buat itinerary, saat mau balik ke Pasteur secara spontan mampirlah kami ke kebun strawberry. Tadinya mau makan duren, FYI ada duren juga di sepanjang jalur ke arah Ciwidey itu. Kebayangnya gimana metik strawberry? eh ternyata lucu seru juga. Bisa langsung metik strawberry dan makan buahnya. Masih fresh dan bisa milih sendiri yang sudah merah matang dan rasanya manis atau agak kecut asam karena belum begitu matang.

Petik strawberry dimana? Sepanjang jalan menuju Rancaupas Ciwidey itu ada banyak, jadi tinggal pilih aja mau berhenti dimana. Nah kamu juga jangan khawatir strawberry ini bukan buah musiman, sepanjang tahun ada dan dia panen 2 bulan sekali. Menurut bapak petaninya tanaman strawberry disirami air 2 hari sekali.

Begitu parkir motor, langsung disamperin bapak-bapak yang penunggu kebunnya. Tanya dong berapa harga untuk petik strawberry. Lumayan, Rp 80.000 per kilogram, tidak dihitung per orang tapi per kilogram yang dipetik ya. Kita lalu tawar-menawar dan karena merasa mahal, bukan apa soalnya di jalanan ditulisnya harga strawberry Rp 5.000 (yang kecil). Akhirnya si bapak rekomendasi untuk pergi ke kebun sebelah, boleh dapet Rp 60.000 per kilogramnya.

Cusss.. karena sudah ditawarin yang lebih murah kita mau. Ternyata jarak kebunnya tidak begitu jauh. Begitu sampai dikasih keranjang dan gunting untuk metik strawberry-nya. Sekeranjang itu katanya akan pas timbangan 1 kilogram. Terus kita juga dikasih topi petani gitu yang di cat warna warni gambar strawberry. Jadi serasa lagi bertani strawberry.

Panas banget mataharinya terik, jadi si topi ini memang mesti dipakai. Terus keliling-keliling deh, milih strawberry yang kira-kira matang dan mau dipetik. Langsung makan juga bisa haha, kalo aku kebanyakan petik langsung makan.