Backpacker, Himalaya, Nepal, story

Rekomendasi Penginapan di Nepal Selama Pendakian ke Himalaya

Mendaki gunung kan biasanya bawa tenda ya, beda cerita kalau kamu ke Nepal, pegunungan Himalaya. Disini kamu bakal nginep di semacam tea house atau guest house milik penduduk lokal.

Kenapa? Soalnya pemerintah Nepal menganut sistem yang memberdayakan orang lokal untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat menginap yang sekaligus menjadi tempat wisatawan berinteraksi, mengenal budaya, dan dengan begitu menjadi sumber ekonomi bagi penduduk yang tinggal di sepanjang jalur pendakian Himalaya.

Tidak ada hotel kelas internasional disini. Tapi bukan berarti tidak nyaman. Justru aku menemukan kenyamanan lain dari keramahan warga lokal. Asiknya, rumah penduduk yang juga sekaligus menjadi restoran, memberi kesan yang beda saat aku di Nepal. Saat aku nonton tv bareng mereka aku merasa heran, kok siaran tv mereka film India Bollywood gitu. Ternyata orang Nepal juga bisa sedikit bahasa India lho.

Ada banyak perbincangan sama orang lokal, kita sebagai wisatawan juga jadi bisa langsung tanya-tanya seputar kehidupan disini dan aku jadi tahu kalau anak-anak Nepal ternyata belajar Bahasa Inggris juga sejak SD. Rata-rata porter maupun penduduknya sudah fasih dengan Bahasa Inggris, ya karena disini daerah wisata dengan turis dari seluruh penjuru dunia yang penasaran dengan jalur pendakian Himalaya.

Oke. Intro-nya cukup panjang ya, langsung saja aku rangkum tea house atau guest house yang jadi tempat menginap aku sepanjang jalur pendakian Everest. Tapi point 1 dan 2 aku tulis dulu rekomendasi hostel di Kathmandu sebelum terbang ke Lukla. FYI kebanyakan turis asal aja pilih guesthouse sekenanya, soalnya tidak tentu juga berhenti di desa mana.

(1) Hotel Himalaya Yoga – Kathmandu (nilai 7,5)

Tahu hotel ini karena lihat review yang bagus di booking.com maupun agoda. Harga per bed itu sekitar U$D 5 dengan kamar tipe asrama atau doormitory. Enaknya kalau menginap disini itu bisa sekalian yoga gratis setiap pagi. Hotel ini juga menerima antar jemput bandara dengan tambahan biaya sekitar 1000 Ruppe Nepal atau setara U$D 10, yang kalau kamu di bandara nyari sendiri taxi bisa nawar sekitar 700 Ruppe Nepal atau setara U$D 7. Lokasi strategis di Thamel, dengan kamar mandi bersih, hot shower juga. Pemiliknya ramah dan staf juga membantu, bahkan kamu bisa nitip barang selama mendaki dan ketika balik ke Kathmandu bisa diambil lagi.

(2) 327 Thamel Hotel (nilai 8)

Kalau suka lingkungan yang hijau dengan taman, tempat bersih dengan toilet dan shower termasuk air hangat, sekaligus budget murah, bolehlah aku rekomendasikan 327 Thamel. Lokasinya juga dekat kemana-mana, kalau mau jalan-jalan ke Thamel. Disini juga ada restoran, jadi kalau malas kemana-mana bisa turun aja dari kamar. Tempat penyimpanan dengan kunci dan fentilasi cukup terang bikin kamu seperti di rumah. Aku merasa seperti lagi di garden house gitu. Tipe kamar doormitory dengan harga sekitar U$D 5 per bed.

(3) Himalayan Lodge (nilai 8)

Lokasinya di Desa Namche, atau dikenak dengan nama Namche Bazar. Disini tepat di ketinggian sekitar 3000 kaki, tempat pendaki beristirahat untuk aklimatisasi membiasakan tubuh di ketinggian dengannoksigen tipis, sebelum menuju jalur Everest.

Tahu tempat ini karena buka Tripadvisor dan review-nya bagus. Kaget juga, kok murah banget nginep disini cuma Rp. 45.000 per malam. Sampai niat untuk booking lewat online supaya bisa dapet tempat.

Ternyata saat sampai sana kamarnya masih banyak tersedia soalnya memang bukan musim pendakian. Lalu harga kamarnya cuma 200 Ruppe Nepal setara U$D 2, murah banget yesss? Walau harga makanan ya beda lagi, kalau mau mandi hot shower bayar U$D 3 lagi, charger baterai bayar U$D 2 lagi, hahaha dan wifi juga bayar lagi. Akhirnya ya dihitung-hitung U$D 10 juga budget-nya.

Yang aku suka disini itu pemiliknya ramah banget. Seperti ibu sendiri, dia yang beberes kamar dan masak buat tamu, dibantu sama seorang anak perempuan dan entah ada suaminya juga atau nggak disitu. Tapi tiap kali minta tolong dan memesan dia ramah banget, ngebantu banget apalagi saat saya butuh komputer buat booking tiket pulang pun dia mau ngedengerin permintaan tolong padahal lagi repot masak pas disamperin di dapur.

(4) Budha Family Lodge

Di gorak Shep, ketinggian sekitar 5000 mdpl, tempat sebelum pendaki menuju Everest Base Camp (EBC) kamu mesti aklimatisasi dulu disini. Aku pun karena sempat mengalami yang namanya AMS atau penyakit ketinggian yang pening pusing luar biasa itu sampai harus nginep 2 hari disini. Harga kamar disini masih U$D 2 dengan makanan yang melambung harganya sekitar U$D 5-7 karena kan makin tinggi. Bahkan apel aja satu buah saja U$D 2,5 alias satunya Rp 30.000 😂

Lodge ini menurutku masih baru makanya bersih. Terlihat dari teriplek rumah yang kelihatan baru. Jadi kamar mandinya bersih, soalnya pemiliknya ibu perempuan dan suaminya suka bersih-bersih. Jam 8-9 pagi mereka sudah sibuk masak air dan menyapu.

Dibanding lodge yang rumah sebelahnya, aku rekomendasi menginap disini karena lodge sebelah, lantainya aja licin sampai buat aku mau kepeleset saking nggak bersih ngepel-nya. Berhubung pemilik dan penjaganya laki-laki mungkin, aku perhatiin begitu. Tiap kali menginap di lodge yang diurus sama orang lokal yang tidak ada perempuannya, kurang terurus terutama kamar mandinya yang kurang bersih.

(5) Rivendell Lodge

Ini lodge saat bermalam di Debuche. Kenapa rekomended? Soalnya pemandangan dari lodge ini tuh bagus banget. Dari restorannya kamu bisa melihat pemandangan hamparan gunung es. Intinya itu aja, halaman luarnya juga luas langsung menghadap pemandangan yang amazed, kalo kamar standart kebersihannya sama dengan lodge umumnya yang termasuk selimut bedcover.

Cuma memang kamar mandi disini nggak begitu banyak air. Saking dinginnya juga sudah jadi es di suhu minus 5-10. Ketinggian lebih dari 4000 mdpl jangan ditanya ya 😂. Harga semalam masih 200 Ruppe Nepal atau setara U$D 2 dengan makanan dan charger maupun hot shower yang masih harus bayar lagi. Mulai di ketinggian ini kita akan kesulitan listrik. Mereka masih menyimpan listrik dari tenaga matahari juga.

Advertisements
Himalaya, Nepal, story, Traveling

Kenapa Himalaya? Sebuah Alasan Khusus Memilih Destinasi Liburan

Ada sebuah obrolan absurd. Di penghujung perjalanan saya ke Himalaya kemarin. Putus asa (agak lebay padahal gak segitu banget perasaannya), jadwal pulang ketunda karena pesawat kami nggak bisa terbang dengan alasan “cuaca buruk”, menyebabkan saya nginep 2 malam lagi di Lukla.

Habis mandi dan keramas tentunya, melepas penat setelah sedari pagi (pukul 06.30) di bandara, dalam ketidakpastian menunggu flight sekitar 5 jam dan ternyata dikabari gagal terbang (lagi) untuk kedua kalinya, . Kami angkat bagasi. Nenteng lagi 6-13 kg backpack yang supergede itu 😂.

Pasrah, jelas. Saya juga jadi berfikir. Tuhan, kok waktu berangkat mudah, pulangnya agak terhambat, semacam Tuhan lagi bilang “jangan pulang dulu” atau saya dikasih teguran. Menilik dalam lagi, ohya solat saya bolong-bolong., magrib terlewat, biasanya nggak pernah menjamak, lalu jadi menjamak. Selagi ada air seharusnya berwudhu dengan air, tapi karena merasa tak tahan dingin saya ganti tayamum. Apakah saya begitu menggampangkan?

“Haduh, lagi banyak-banyak berdoa nih, biar bisa pulang,” kata Kobo Chan waktu buka pintu.

“Doa? Solat aja enggak..,” kata saya cuek, bodo kalo dianya marah (abis jarang lihat dia solat😂)

“Eh jangan salah, gw solat, tapi sehari 3 kali, dijamak,” balesnya..

Habis itu saya diam dan mikir saya juga gitu, selama 2 pekan ada beberapa solat yang ketinggalan. Apalagi pas saya kena AMS, seketika ketiduran mau pingsan. Lalu Zuhur dan Ashar bablasss.

Banyak yang dipikirin waktu agendanya harus pulang malah stuck di Lukla. Ngapain coba? Akhirnya baca buku ke ruang tengah dekat perapian, terus kalo nggak makan ya di kamar tidur. Di Lukla saya dapet sinyal lumayan kenceng, disaat itulah what’sApp dari kantor, email kerjaan mulai masuk bertubi-tubi. Termasuk omelan-omelan karena cuti saya melebihi yang diijinin.

“Chan, SP 1 tuh prosedurnya gimana sih? Tanya saya sambil selimutan.

“Ya kayak diomongin aja, cuma dipanggil terus dikasih peringatan. Kenapa lo?, Tanya Kobo Chan diujung sana.

“Engga… (Nggak terus ngadu ngomong kalo abis dikasih SP 1),” bales saya..

Lalu entah kenapa saya malah nanya hal lain. Ya dasar orangnya random kan, nggak pernah ngerencanain kalo ngobrol nanyain apa, sama halnya kalo wawancara narsum mengalir aja, tanpa buat daftar pertanyaan.

“Eh gw nanya dong. Menurut lo apa benang merah dari perjalanan ke EBC, ke Himalaya?” Tanya saya (masih dari balik selimut, karena kedinginan, suhunya di Lukla masih sekitar 1 derajat celcius).

“Oh ternyata fisik nggak sekuat dulu ya. Ini lho, sudah kesini.. tabungan nggak habis begitu aja tapi dipakai buat perjalanan kesini,” jawab Kobo Chan

“Sesimpel itu doang nih,? Tanya saya sedikit mendelik.

Yaampun saya inget ini lagi ngobrol ceritanya, tapi nggak saling liat muka. Selimutan di kamar. Sepanjang jalan mau ke kaki Everest dingin brrbbrrr

“Ya tadinya kan mau ke India, budget nyampe kesana, terus ganti mau ke Cina. Eh searching baca tulisan orang jadi tertarik ke Nepal, yaudah.. tadinya city tour aja, eh malah mau sampai ke basecamp Annapurna. Tapi malah jadi ke Everest biar nggak nanggung,” Sambung Kobo Chan lagi.. (yang alesan ini sudah pernah diceritain ke saya sebelumnya).

“Nah lo kenapa Himalaya,” balik nanya dia

“Karena gw suka gunung,” singkat jawab haha.. lagian sudah pernah saya jelasin juga ke dia, masa diulang. (Panjang… bukan sekedar karena suka gunung atau mau naklukin dan ngejadiin ini the best of the best pendakian).

Namun akhirnya saya ngomong gini… meluapkan isi pikiran soal perjalanan ke Himalaya.

“Gw kan lagi baca buku ya, bukunya Jalaludin Rumi. Jadi salah satu nya ada kata-kata di buku. Saya lanjut bilang kurang lebih seperti yang di buku..

Di dunia ini ada satu hal yang tak boleh dilupakan. Jika kau lupa banyak hal, tapi masih ingat satu hal tersebut, maka tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Namun jika kau mengerjakan banyak hal, tapi lupa satu hal tersebut, berarti engkau dianggap tidak mengerjakan apapun. Demikian sejatinya manusia datang ke dunia ini untuk mengerjakan tugas tertentu.. dari buku Fihi Ma Fihi – Jalaludin Rumi.

“lah nggak ada yang nyuruh ke Himalaya kok, nggak kesini juga nggak apa-apa,” kata saya.. 😂 serius banget ya

Cuma intinya saat itu jadi inget, saya orang yang penasaran sama Kaki Everest seperti apa lalu nekad pergi.. akhirnya mendapati jawaban dari Allah seperti ini.. saya malah beberapa kali ninggalin solat dan semacam lagi ditegur tapi lewat cara lain. Entah itu tegurannya termasuk pesawat yang delay karena gangguan cuaca.

Tahu dan sadar itu tapinya sampai sekarang rasanya tidak menyesal sudah nekad pernah pergi. Bahkan ngorbanin uang tabungan cukup banyak. Rasanya puas. Paling gak penasaran sudah terjawab.

Mungkin saya terlalu serius. Perjalanan, yang proses bagi setiap orang itu berbeda-beda, ada hujan, badai, terkena terik matahari, sampai ibaratnya yang terkecil pun dihempasan angin. Traveling itu personal. Tapi alasannya paling tidak mencakup karena kamu suka destinasi itu. Bukan sesimpel alesannya Kobo Chan ke Himalaya, saya agaknya terlalu mendalam.

Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

“Sakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,” kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. “Sayang duitnya, mending buat makan,” kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

“Mudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi ini”.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. “Almost there (sudah dekat),”… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Chemistry dengan Turis Cina

Saya suka perjalanan ke Nepal kemarin, rasanya mendobrak keberanian ke level baru. Nggak canggung lagi berbahasa dan ngobrol dengan orang asing, semacam otomatis aja bisa berbaur, walau pernah ada kondisi di suatu ketika males ngobrol atau negur karena sudah merasa kedinginan atau sakit tapi tetap saat mood beberapa pertemuan dan saling sapa terasa akrab.

Dan itu merupakan pertama kalinya, di perjalanan traveling ke luar negeri saya merasa lebih berbaur dengan lingkungan sekitar. Soalnya dulu-dulu ngobrolnya cuma sama partner barengan dari Indonesia. Mungkin ya, karena diawal saya pergi soloing, walau barengan berdua sama teman tapi saya berangkat dua hari lebih cepat jadi ada banyak moment mengharuskan saya mengurus apa-apa sendiri dan itu membutuhkan komunikasi dengan orang yang baru dikenal.

Yang berbeda di perjalanan saya pergi naik gunung dan traveling ke luar kali ini karena saya berdua partner traveling dari Indonesia bener-bener baru kenal. Kami bukan teman dekat banget, kenal pun dari social media, tapi tujuan kami sama, ingin ke EBC Himalaya. Walau kami barengan disana, walau penginapan pun sama, tapi kadang saat trekking dia duluan di depan dan kadang nungguin sambil istirahat. Saya juga kadang di depan dan sembari istirahat memastikan kami nggak terlalu jauh. Dan di jalan kami pun bisa tetap bebas berbaur dengan traveler lain.

Tinggal di doormitory room membuat saya harus bergaul sama traveler lainnya, dari banyak negara berbeda. Hari pertama saya yang minta dijemputan sama pihak hotel langsung ngobrol sama driver orang lokal Nepal. Terus saya dapet teman sekamar 2 orang dari Swiss yang ke Nepal khusus karena mau puas-puasin yoga. Sementara satu lagi, merupakan traveler asal Jepang yang excited banget saat tahu saya orang Indonesia, soalnya dia pernah ke Indonesia untuk belajar dan punya beberapa teman orang Indonesia.

Karena pingin punya beberapa kesan suasana hostel yang berbeda, di hari kedua saya pindah hostel dan ketemu lagi orang-orang baru. Lagi-lagi menginap di doormitory room menjadikan saya harus mengobrol dengan beberapa traveler lainnya dari beda-beda negara.

Ranjang susun sekamar untuk 8-10 orang, tapi karena low season hanya ada 6 orang.. saya ingat itu, ada traveler dari Cina.. namanya Yang Li, katanya dia dari wilayah Xinjiang. Orangnya cukup bawel bahkan nggak bisa diam, walau di kamar gak duduk atau tiduran di kasur aja tapi dia lebih sering nyamperin teman sekamar lainnya, ngajak ngobrol!. Ini nih, salah satunya saya diajakin ngobrol mulu, ditanya mau kemana, sama siapa, terus obrolan berendet ke hal-hal lainnya.

Sebelahnya ada turis dari Thailand yang selimutan mulu di tempat tidur bahkan sambil makan. Kebanyakan karena tempat tidur mereka berdekatan, keduanya bicara hal-hal nggak penting juga seperti beli buah yang murah dimana. Sampe akhirnya saya jadi keikutan beli buah juga, karena bosan sama makanan berempah Nepal.

Selang agak sore, hampir malam datang penghuni baru, orang India. Pertama dia yang negur nanya saya, “nyalah gak air hangatnya,?”.. terus speak-speak nggak penting akhirnya, nanya lah “ tinggal di bagian India mana,?.. saya kira dia pergi ke Nepal untuk jalan-jalan, seperti yang lainnya, ternyata dia lagi melakukan perjalanan bisnis.

Saya tahu karena kaget waktu liat dia buka laptop. Soalnya habis itu saya ledekin di depan traveler lain.

“Liat dia, jalan-jalan bawa laptop, hehe,” kata saya sambil ketawa..

“Oh gw memang nggak dalam rangka jalan-jalan kok, ini perjalanan bisnis,” balesnya..

Dalam hati saya bilang.. “what???? Perjalanan bisnis?? Nggak salah ya kantornya ngasih dia hostel di doormitory room, pelit banget. Cuma 5 Dollar semalam, walau disini guest house-nya juga nyaman banget, bed cover anget, kamar mandi hot shower 😂🤣.

Entah kenapa sama turis India ini saya lebih bisa mudah memahami pengucapan Bahasa Inggrisnya. Dibandingkan dengan turis Cina yang saat bilang T jadi terdengar seperti S. Bilang Thirteen (13) seperti kedengaran Shirty.. apa itu shirty 😂…

Eh ternyata bukan satu orang Cina saja yang pengucapan T terdengar seperti S, di perjalanan menuju Everest Base Camp (EBC) saya juga ketemu dijalan begitu. Ceritanya lagi kecapekan, istirahat di batu sebentar. Saya nanya gini “Kamu pergi sendiri atau berberapa orang,”.. kata saya penasaran. “Oh kami rombongan, 13 orang,” Si turis Cina jawab.. serius pengucapan T untuk thirteen itu kedengeran seperti S.

Selain turis Swiss, Jepang, Cina, Thailand, India, di lodge maupun perjalanan kebanyakan saya ketemu orang Amerika dan Australia. Mereka dominan muka-muka bule ketahuan lah ya. Bisa dibilang setara banyaknya dengan orang Cina. Jelas lah, Cina kan 1 Milyar lebih penduduknya. Dan entah diantara semua turis itu chemistry yang paling saya dapet memang dengan turis Cina.

Di bandara Lukla saat 2 kali gagal berangkat pulang karena cuaca saya juga sempet ngobrol sama turis Cina tapi kali ini cowok. Nggak nanya nama, tapi saat saya bilang dari Indonesia dia langsung semangat, ngomongin Bali dan betapa negara saya ini banyak pulaunya. Di Lukla juga saya ketemu lagi sama turis Cina rombongan 13 orang itu. Dimana sebelumnya kita ketemu mulu, waktu kemaleman sampai Desa Pherice pun saya merasa aman karena barengan sama mereka. Rasanya jodoh aja ketemu terus dan akhirnya say hello lagi. “Hey you again!,” Hampir nggak ngenalin soalnya pakai kacamata,” kata saya waktu negur di bandara.

Karena sudah sering ngobrol di jalan saya juga jadi nggak sungkan pinjem charger. Kata saya inilah manfaatnya SKSD (sok kenal sok deket) sama orang asing baru dikenal.. 😜. Hai kamu pembaca blog ku, sekali-kali cobain dong solotraveling atau pergi dengan orang asing baru, ini asik banget, menantang diri keluar dari batas yang tidak biasa dilakukan saat kehidupan normal sehari-hari. Be brave!

Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (6) – Pertanyaan Seputar Persiapan Pendakian ke Everest Base Camp

Pengalaman harus mempersiapkan banyak hal sebelum pendakian Himalaya ke EBC, dengan segala rincian yang harus dipenuhi. Posting-an blog kali ini saya buat rangkumannya agar pembaca bisa langsung menemukan jawaban. Simak ya… 🙏🏻

URUS VISA NEPAL DIMANA?

Visa Nepal dapat diurus saat tiba di Kathmandu’s Tribhuvan Airport atau disebut mengurus Visa on Arrival (VOA). Dokumen yang dibutuhkan hanya foto 2×3 atau 3×4 dan menulis formulir pengajuan Visa yang sudah disediakan di bandara lalu membayar Visa sesuai masa kunjungan. Untuk Visa selama 15 hari 25 U$D, 30 hari 40 U$D, dan 90 hari. Anak usia di bawah 10 tahun tidak dikenakan biaya Visa.

Kawasan Asia Selatan kecuali India membutuhkan Visa. Pembaharuan ketentuan ini juga bisa berbeda sesuai update peraturan di Nepal. Silahkan di cek saja. Visa Nepal menurut situs Lonely Planet juga bisa didapat ketika memasuki perbatasan Nepal di Nepalganj, Birganj atau Raxaul Bazaar, Sunauli, Kakarbhitta, Mahendranagar, Dhangadhi dan Rasuwagadhi.

img_5705
dokumennya seperti ini untuk Visa On Arrival

Sebaiknya perhatikan betul soal masa kunjungan. Saya sarankan untuk ambil Visa 40 hari bila akan ke Everest Base Camp. Mengingat kadang ada masalah cuaca buruk pesawat tidak bisa fix terbang setiap harinya. Soalnya saat pulang saya ditagih kelebihan waktu tinggal yang 15 hari jadi 17 hari. Denda justru akan membuat boros pengeluaran, jika saja saya ambil Visa yang 30 hari, maka hanya membayar 40 U$D. Sementara kemarin karena denda saya dikenakan tambahan 34 U$D lagi. So pengeluaran Visa saja jadi 25 U$D + 34 U$D jadi 59 U$D.

BAGAIMANA MENGURUS IZIN PENDAKIAN?

Seperti di Indonesia, kalau ingin mendaki gunung di Nepal juga memerlukan surat izin mendaki yang bisa didapat dengan membayar sejumlah uang. Kalau ingin ke Everest Base Camp kamu perlu 2 surat ijin mendaki. Tadinya TIMS yang diurus di kantor Nepal Tourism Board di Khatmandu, lalu Surat ijin mendaki ke kawasan Taman Nasional Sagarmatha di Lukla. Bisa klik disini Info soal izin mendaki Everest

Namun saat Februari 2018 saya kesana ada peraturan dari Pemerintah Nepal yang berubah. Ternyata tidak perlu lagi mengurus Trekkers Information Management Systems Card ( TIMS) di Kathmandu, pendaki bisa mengurusnya ketika sampai di Lukla. Yeayy.. Alhamdulilah. Soalnya Sabtu tadinya kantor TIMS itu libur, nah pas kemarin partner trekking saya tiba Sabtu, jadi ini keberuntungan tidak perlu urus dan repot dengan TIMS.

img_5704
Tiket trekking permit

So, langsung urus sekalian lewat saat tiba di Lukla. Letaknya tidak begitu jauh. Biayanya kalau dirupiahkan totalnya sekitar Rp 550 ribu. Dengan rincian entrance fee . NRP 2.000 atau Rp 200 ribu dan trekking di Sagarmatha Zone yang di urus di dekat desa Monjo NPR 3390 atau sekitar Rp 340 ribu.

PENGINAPAN SELAMA MENDAKI DIMANA?

Sistem yang diambil di Nepal para turis atau pendaki tidak seperti gunung di Indonesia dimana pendaki harus membawa tenda sendiri untuk bermalam. Inilah enaknya menurut saya, jadi kita nggak berat-berat bawa tenda dan justru ikut bisa membaur dengan orang lokal Nepal.

Pemerintah Nepal menerapkan sistem penginapan di lodge atau hotel rumahan seperti homestay yang dikelola penduduk lokal. Jadi kamu sebenarnya ikut memberdayakan orang lokal Nepal dengan menyewa rumah mereka sebagai tempat tinggal, sekaligus restoran. Dan harga lodge disana rata-rata sama sekitar 2 U$D-3 U$D per kamar dengan 2 tempat tidur belum termasuk jika memesan makanan dan membeli minuman.

img_5560-1
ini lodge penginapan saya di Debuche

Harga kamar paling mahal sekitar NPR 400 atau 4 U$D di Lobuche yang memang sudah hampir ketinggian 5000 mdpl. Tapi di Gorak Shep yang akan dekat ke Everest Base Camp saya tetap dapat harga kamar murah, hanya NPR 200 saja atau 2 U$D padahal ketinggian 5100-an mdpl. Tergantung juga, terserah yang punya penginapan kadang. Sementara harga makanan di tempat paling tinggi memang akan semakin mahal. Misalnya sandwich bisa jadi 6 U$D, paling murah honey toast hanya 3 U$D. Kalau minumnya di ketinggian 3000 mdpl an masih sekitar NPR 100 atau 1 U$D, tapi di ketinggian 5000mdpl harganya jadi NPR 350 atau 3,5 U$D.

BERAPA BIAYA HIDUP PER HARI SELAMA PENDAKIAN?

Hampir terjawab diulasan sebelumnya, tentang rincian biaya menginap dan makan. Jadi saya jawab rata-rata kita akan mengeluarkan 10 – 15 U$D itu yang paling hemat, maksimal bisa 20 U$D per hari tergantung makan, minum dan kebutuhan, jika memutuskan mandi dan menggunakan hot shower makan ada tambahan 3-4 U$D untuk itu.

BAGAIMANA SOAL ASURANSI SELAMA PENDAKIAN?

Saya tidak memakai asuransi untuk pendakian yang telah saya lakukan. Ini setelah bertanya dengan pendaki dari Spanyol, dia saja yang bule nggak pakai asuransi. Namun ada teman yang pergi dengan asuransi karena dia pergi dengan open trip. Menurutnya dengan asuransi maka ada covered bila terjadi sesuatu. Misalnya terkena Acute mountain sickness (AMS), perlu helikopter buat pulang dll.

img_5535
cek point, tentara yang jaga juteks

Namun harus ada analisa dari guide yang mendampingi bila betul-betul harus mendatangkan helikopter. Katanya nggak sedikit orang yang gagal ke Everest jadi asuransi ini penting. Namun saya agak sayang mengeluarkan sejumlah uang untuk tambahan biaya asuransi ini. Karena lumayan menguras sekitar 1-2 jutaan. Sewa porter dan guide saja sayang uang apalagi untuk asuransi. Akhirnya saja hanya rajin olahraga, jaga kesehatan, asupan gizi yang cukup dan memeriksakan kesehatan sebelum perjalanan ke Himalaya. Termasuk cek tulang, cek kolesterol, tes darah, dll.

Hanya satu antisipasi saya karena dideteksi hampir masuk dejala ostepenia. Mendekati osteoporosis. Akhirnya saya rutin minum suplemen vitamin D dan kalsium. Persiapannya itu saja dan memastikan peralatan dan jaket saya akan melindungi selama cuaca dingin di Himalaya.

APA ADA ATM DISANA?

Ada bank di Lukla, yang akan tutup sekitar pukul 14.00 siang (kalau hari Jum’at). Kamu bisa tarik via mesin swip dengan kartu debit. Untuk itu kami akan dikenakan biaya 5 % dari jumlah uang yang diambil. Disini juga bisa menukarkan Dollar yang akan dikenakan biaya. Lumayan juga daripada harus tukar uang atau ambil lebih baik pegang uang tunai yang berupa Dollar dari Jakarta dan ditukarkan di Thamel atau bandara Khatmandu saat sampai di Nepal. Kita tidak bisa membawa Rupiah karena tidak laku ditukarkan di Nepal.

foto 1
ini bank di Lukla, deket banget bandara, bisa ambil uang tapi kena casss 5 persen, tukar Dollar juga bisa

Selain bank, ATM bisa kamu temukan di Namche Bazar. Ada beberapa ATM yang menarik uang juga dikenakan biaya. Kalau saya sempat narik ATM di Thamel, itu ada charge NPR 500 atau 5 U$D sekali tarik. Makanya lebih baik ambil sekalian saja.

BAGAIMANA MENGATASI AMS?

Acute mountain sickness (AMS) memang harus diwaspadai saat pendakian berat seperti ini. Saya pernah mengalami soalnya dan itu cukup tidak nyaman. Saya mengalami mual dan ingin muntah, lalu ada perasaan pusing seperti keleyengan karena terik matahari. Puncaknya adalah sakit kepala yang sangat amat nyeri. Belum pernah merasakan sakit kepala seperti ini.

Saya menghindari minum obat-obatan. Paling ya Paramex aja atau Panadol. Katanya obat pencegahan AMS itu minum Diamox yang bisa dibeli di Thamel maupun Namche. Tapi mengingat harganya lumayan juga jadi mahal di Namche, saya nggak jadi beli. Hahaha, pelit cuma 500 Ruppe atau 5 USD tapi mikir lebih baik buat biaya makan.. 3-4 U$D bisa dapat 1 toast atau apel.

Karena nggak bawa bendera, saya tempelin foto aja seperti turis lain

Ternyata juga untuk meredakan gejala AMS hanya perlu tidur saja. Dan minum air teh manis hangat. Sudah setelahnya tidak apa-apa lagi. Biasanya gejala AMS juga disertai tidak nafsu makan. Saya mengalaminya, dan akhirnya karena perjalanan cukup berat, saya yang tidak makan nasi atau karbohidrat lebih banyak minum air hangat ditambahkan dengan madu royal jelly yang di bawa dari Indonesia.

Terbukti ini bisa menjadi energi. Walaupun saya juga terkena flu dan pilek yang tak bisa dihindari. Mungkin karena minum madu, flu pilek saya cepet sembuh. Seminggu setelah pendakian hampir pulih benar. Walau setiap hari harus jadi anak ingus. Tapi cepet sembuh dan lega.

Tips lain katanya bule, kalau kena AMS mungkin karena terlalu cepat melampaui ketinggian, karena seharusnya bertahap mendakinya. Kena AMS ya keliling-keliling desa saja, atau turun lagi ke desa yang lebih rendah ketinggiannya.

Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (4) – Tenzing Hillary, Pengalaman Terbang ke Bandara Paling Extreme di Dunia

Beruntung soal terbang dengan pesawat, saya tidak punya fobia. Pernah sih, dulu karena tiba-tiba turbulensi hebat saat penerbangan pulang dari Medan-Jakarta yang rasanya pesawat mendadak jatuh cukup kentara bikin trauma. Belum lagi setelahnya saya malah main wahana menyeramkan di Dufan. Rrrrrr….

Nah di Nepal kemarin, untuk trekking ke Everest Base Camp (EBC), saya mesti naik pesawat dari Kathmandu ke Lukla. Mendarat di Tenzing Hillary Airport yang katanya merupakan salah satu bandara paling bahaya di dunia. Tahu kenapa? Karena landasannya dan memang saat terbang sudah agak mendekat ke wilayah itu dengan pesawat kecil hanya berpenumpang sekitar 15 orang, membuat jantung cukup deg deg an.

Tahu kan kalau Airport ini diberi nama Tenzing Hillary dari nama sang sherpa, Tenzing, (porter/guide yang menemani orang pertama penakluk Gunung Everest) dan pendaki pertama Everest, Hillary. Entah gimana raut wajah saya waktu turbulensi, guncangan angin.. bayangkan saja., saya cuma bisa nutup mata saat ada adegan itu. Tapi curi-curi lihat jendela juga karena sayang sama pemandangan bagus hamparan gunung saljunya.

Pesawat ke Lukla terbilang cukup mahal, bahkan buat bule Eropa (yang backpacker). Terbang berdurasi 30 menit itu tiketnya 167 U$D sekali jalan yang artinya saya butuh sekitar 324 U$D untuk PP dari Kathmandu – Lukla – Kathmandu (menguras budget sekali). Meski demikian sebenarnya ada alternatif lain, bila tidak ingin menggunakan pesawat bisa via darat dengan bus, namun itu mesti ditempuh cukup lama berhari-hari. Jelas untuk cuti saja sulit, ditambah perjalanan EBC cukup berat, pilihan menggunakan pesawat adalah yang paling mungkin.

Selain itu ada beberapa kendala mengingat bandara ini bandara mungil di pedesaan. Tentu saja radar dan sistemnya beda, makanya seringkali bandara akhirnya ditutup dan penerbangan dari dan ke Lukla dibatalkan saat cuaca buruk, bahkan hanya karena kabut.

Makanya, memang pergi ke Everest mesti extra ambil resiko, salah satunya kalau mengalami cuaca buruk. Dan, dapat ditebak pula saya mengalaminya, .. kebetulan disaat perjalanan pulang, jadi perlu 3-4 hari untuk balik ke Kathmandu dengan 1 hari re-schedule penerbangan karena kami belum bisa sampai Lukla, 2 hari gagal terbang, baru seharinya berhasil terbang dengan jadwal antrian penumpang yang jadinya menumpuk 4-6 kali terbang dalam sehari.

Hufffttt, rasanya tuh antara gondok nunggu aja tapi mesti pasrah.. bayangin aja ngangkut carrier, bagasiin, eh batal terbang ambil lagi, angkut lagi, akhirnya check in ke lodge lagi, gitu terus…

Juga antara seneng jadi nggak pulang-pulang, jadi ada cerita di Lukla 3 malam (kesempetan makan kari Nepal), kehabisan uang cash dan jadi tahu ada Bank di Lukla, punya pengalaman kena hujan juga disana selain salju, jadi bisa lebih lama bergaul sama orang lokal Nepal soalnya mampir ke rumah orang lokal dan minta dibuatin mie gitu, padahal itu bukan restoran haha rumah biasa karena ada warung kelontong aja, rekomendasi seorang bule Amrik

Then.. makan camilan ciki yang aneh-aneh rasa masala buatan Nepal dan antara kecewa dengan planning yang mestinya Visa saya pas 15 hari di Nepal, jadi kena denda Visa di imigrasi ketika akan keluar Nepal. Tapi semua ada hikmahnya,.. ya intinya let it go saja, lewati apapun yang memang harus terjadi.

Ohya untuk maskapai menuju Lukla, Tenzing Hillary Airport sebenarnya ada beberapa. Namun kebanyakan memakai Tara Air atau Yeti Air yang merupakan satu perusahaan. Mereka juga punya fasilitas sistem jemput dan antar dari ke bandara yang dikenakan biaya 10 U$D untuk maksimal 3 penumpang. Kebetulan karena tidak ingin pusing cari taxi, saya sama partner trekking ke EBC memutuskan pesan kendaraan dari Tara air. Jadi kami dijemput dari hotel di Kathmandu ke Bandara, soalnya penerbangan kami jam 6.15, terbilang pagi sekali. Riweh dan mager cari taxi sendiri..

Hanya saja pihak Tara Air terlambat menjemput, sampai bandara pun kami telat, tapi saat akan check in kami diperbolehkan naik pesawat berikutnya yang terbang pukul 07.45. Not bad lah, selain dijemputnya pun dengan mobil sedan hehehe. Saya baru tahu kalau di Nepal itu orangnya gak kaku-kaku amat, kalau di Indonesia kan telat dikit ditinggal pesawat. (Saya pernah ditinggal pesawat soalnya, padahal itu baru akan boarding).

Disini mungkin karena penerbangan yang biasa tidak tentu khusus dari dan ke Lulka, maka soal re-schedule jadwal penerbangan, penerbangan ditunda, dll itu dimaklumkan. Ohya selain Tara Air atau Yeti Air, ada juga Maskapai.. lain seperti Summit Air, coba saja cek.

Tips penerbangan ke Lukla :

(1). Pesan Online saja via website Tara Air atau Yeti Air, harga cenderung sama. Waktu di Kathmandu pihak hotel nanyain saya, sudah pesan tiket belum? Katanya kalau pesan di dia bisa dapat 160 U$D. Hhmm.. tapi saran saya lebih baik pesan online sendiri karena kita bisa mengubah jadwal penerbangan sendiri jadinya. Mengingat penerbangan juga tergantung cuaca.

(2). Banyak saran, pilih penerbangan paling pagi soalnya khawatir bakal re-schedule atau gagal terbang karena cuaca.

(3) Kalau pergi ber-3 enak pesan kendaraan juga kan jadi hemat 10 U$D buat bertiga. Kalau pesan taxi, mesti cari taxi dan berdebat harga, walau akan dapat 700-800 Rupee Nepal rata-rata. Ya suka-suka Anda saja baiknya bagaimana.

(4) Sediakan cemilan buat nunggu jadwal penerbangan atau bahan bacaan, buku, bisa juga siapin earphone untuk mendengarkan musik daripada mati gaya nunggu.

(5) Kalau tujuan ke Lukla pilih sisi kiri untuk melihat atau memotret pemandangan pegunungan Himalaya. Penerbangan pulang ke Kathmandu pilih kursi sebelah kanan. Karena kalau sebaliknya nggak akan dapet itu.

(6) Saran saya lainnya, jangan merem .. doa saja kalaupun takut, hadapi aja, hidup dan mati kan sudah ditentuin, soalnya sayang banget deretan pegunungan Himalaya bila tidak dilihat atau diabadikan.

Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (2) : Absurd – Unknown Feelings After 17th Days

Sampai sekarang semuanya terasa seperti mimpi.. perjalanan di Himalaya seperti tidur sekejap.. Ada perasaan aneh dalam hati, tapi tidak tahu itu apa..

Pada jam seperti ini biasanya aku sudah ada di alam mimpi. Pukul 8-9 malam, sesudah makan malam biasanya aku telah tertidur karena tidak ada televisi, mungkin efek kecapekan juga.. trekking seharian, sebab fisik yang memang butuh istirahat.

Sejujurnya aku senang sudah ada di rumah (sekarang). Merasakan tiap hari trekking itu rasanya, semacam derita sekaligus kesenangan tapi bukan masokis ya hehe. Aku nggak bisa mendefinisikan secara tepat perasaan seperti apa ini. Ada rasa riang hati memandangi deretan pegunungan indah, ada rasa puas telah melampau mimpi, karena telah jadi nyata.

bridge at Everest Base Camp (EBC)
Kamu akan banyak melewati jembatan seperti ini di sepanjang pendakian ke Everest Base Camp (EBC)

Trekking hari pertama setelah penerbangan extreme 30 menit dari Kathmandu, Ibu Kota Nepal. Langitnya ketika itu biru, perjalanan dari Lukla ke Monjo memakan waktu sekitar 5-6 jam trekking. Melewati jembatan yang ku pikir akan seram karena takut ketinggian ternyata tidak. Hari selanjutnya juga, dari Desa Monjo ke Namche Bazar sekitar 3 jam trekking. Lalu ada salju di saat satu hari aklimatisasi di Namche Bazar. Trekking ke landasan helikopter, yang walaupun sebenarnya karena kami mencari museum sherpa, siangnya nonton film sherpa di sebuah Cafe sambil memesan cappucino, makan, bengong, tidur lagi, sambil ada sedikit khawatir bahwa cuacanya memang sangat dingin.

Ada experience makan steak yak, tanpa pikir panjang saat makan malam pesan menu itu. Termasuk sup bawang putih, sup ayam yang ternyata encer tapi kaldunya asli, lalu nyobain sandwich dengan keju khumbu, asli dari Nepal sini. Ohya setelah tidak mandi saat menginap di Monjo, akhirnya bisa mandi di Namche dengan membayar 400 Rupee Nepal atau setara 4 U$D. Aku menginap di Himalayan Lodge, sesuai dengan keinginan banget, ternyata lodge-nya memang recomended.

Di Namche aku juga memutuskan untuk membeli sarung tangan yang lebih hangat, termasuk untuk leher. Sayang sekali harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar 10 U$D untuk 2 benda itu, untung saja tidak jadi membeli sleeping bag yang ternyata di Namche harganya bisa mencapai 100 U$D.

Jembatan lagi, di awal trekking menuju Desa Monjo 

Di suatu waktu nafas yang terengah-engah juga perasaan lelah muncul. Terlebih dingin yang lebih daripada perkiraan. Belum pernah ku rasakan sedingin ini. Minus 5 hingga minus 7 derajat celcius. Betul-betul beku saat akan ber-wudhu, hingga aku menyerah di Dingboche, aku memutuskan untuk bertayamum saja. Karena suhunya semakin mendekati minus 10 derajat.

Fase kedua dari pendakian yang sulit memang terasa sekali setelah melewati Dingboche (ketinggian sekitar 4000). Perjalanan dilanjutkan masih dengan padang savana berhampar pegunungan Himalaya disekeliling, Tabuche 4620 adalah titik barunya dimana sepanjang perjalanan anginnya kencang sekali bahkan aku perlu memakai penutup kepala bandana.

Disini kami melewati sungai yang sebagian juga sudah menjadi gletser. Airnya begitu mencapai titik beku tapi aku tetap mengambil air minum disini untuk bekal perjalanan, daripada harus membeli air kemasan yang harganya mencapai 350 Rupee Nepal atau 3,5 U$D di Lobuche.

Everest Base Camp Trek
Terik cuacanya, tapi ini hampir sekitar 5 derajat celcius lho… bahkan sudah hampir ke atas turun salju rintik

Rasanya berat sekali, rasanya ujung perjalanan tak nampak di pelupuk mata. Dimensi yang buyar, kepala terasa pening, perut begitu mual, nafas agak tersengal, sejak kemarin aku juga batuk dan pilek. Hampir tiap berapa menit harus berurusan dengan ingus. Pagi itu sarapan ku hanya roti toast, entah rasanya memang kurang nafsu makan. Dan,.. minum ku hanya sekitar 1-2 liter saja. Yang ku tahu, ini gejala Acute mountain sickness (AMS).

Aku tak ingat tanggal maupun hari, apalagi kapan pulang. Yang ada dibenak hanya “Apapun itu jangan menjadi lemah, sedikit lagi sampai, di depan sana sudah dekat desa selanjutnya,”. Benar saja, seperti sayup sayup fatamorgana ada suara seorang bule menyebut kata “almost there”. Tak jauh, agak turun ke bawah memang kelihatan ada atap rumah. Disanalah, seolah tenaga yang tersisa, tak menghiraukan lagi terik sekaligus terpaan angin dingin pegunungan tak kenal ampun. Kali itu tak mampu lagi untuk tak berbagi keluhan dengan teman seperjalanan. Aku sampai di Gorak Shep. (Ketinggian sekitar 5164 mdpl). Selangkah lagi dalam sehari 3 jam trekking ke Everest Base Camp (ketinggian 5364 mdpl).

Rasa mual makin menjadi-jadi. Kami duduk di sebuah restoran yang ada di dalam lodge paling pertama di Gorak Shep. Namun aku memutuskan tak jadi menginap di lodge ini karena melihat toiletnya makin membuatku ingin muntah. Sudahlah jangan ditanyakan lagi.

Ku putuskan untuk jalan beberapa ratus meter lagi, walau tenaga yang tersisa hampir habis. Di seberang sisi kanan jalan sana terlihat ada dua penginapan lodge lagi. “Chan aja deh yang pilih lodge-nya,” sahutku agak putus asa setelah sampai di depan penginapan.

Akhirnya kami memilih Budha Family Lodge. Kelihatan lebih bersih, pikirku setidaknya untuk toiletnya tak basah lantainya dan tak begitu bau. Meski air di gentong besar tetaplah beku. Sambil merasa kedinginan tak sempat membereskan barang, aku tidur cukup lelap menghilang bersama rasa sakit kepala yang amat sangat. Sorenya aku baru terbangun, bersama hilangnya AMS. Ternyata ini saja obatnya. Tidur…

Karena tak ingin malamnya sulit tidur, aku pun bangun. Mengambil buku bacaan dan membacanya di ruang restoran, di perapian tempat berkumpulnya orang-orang yang menginap. Mereka memesan makanan, makan, berbincang satu sama lain walau tadinya tidak saling kenal. Tak ada perbedaan ras, mata sipit, rambut pirang, kulit sawo atau pucat seperti bule, kami yang sama-sama kedinginan berkumpul di perapian.

Baru tersadar, teman seperjalanan tidak ada, ternyata dia trekking ke Kalapathar yang letaknya lebih tinggi dari Everest Base Camp (EBC). Katanya begitu kepayahan untuk menjangkaunya. Bahkan pendaki lain menyarankan untuk turun. Sakit kepala, nafas terengah-engah. AMS.. sangat ingin berteman dengan kami.

Aku minum air hangat untuk meredakan sakit. Rasanya itu adalah teh paling enak, padahal itu kantung teh yang ku bawa dari rumah. Memang sisah teh waktu perjalanan ke Korea Oktober silam. Namun di Gorak Shep ini, dengan tambahan gula, kebekuan cuaca itu sedikit mencair. Aku merasa baikan…

Besok adalah tiga jam trekking menujuEBC. InsyaAllah bisa dilalui. Benar. Entahlah, rasanya biasa saja ketika sampai tempat itu. Hening saja. Ada gletser dimana-mana. Tak berlama-lama, hanya 10-15 menit begitu sampai, aku memutuskan turun lagi. Teriknya matahari di luar jangkauan ku, bukan hanya itu, angin menerpa sangat kencang, dingin membeku.

Aku memilih hanya meminum larutan madu dengan air hangat. Tidak ingin makan sama sekali setelah malam sebelum memesan vegetable roll dan honey toast. Tapi ternyata semua makanan itu harus keluar secara paksa diperjalanan setelah turun dari EBC.

Gorak Shep masih jauh, aku tahu itu. Setidaknya 1,5 jam lagi jaraknya, melewati kerikil besar batu, meski menurun. Lalu ada jalanan mendaki dan turun lagi, sampai pada padang luas, dari kejauhan genteng rumah penduduk menyambut. Aku masih linglung, ingin pingsan rasanya, tapi tidak boleh, ku tahan dan ku simpan tenaga tersisah sampai di lodge aku membaringkan diri, tak berdaya.

…. BERSAMBUNG dengan cerita di tiap desa dan bagian tersendiri berbelanja dan kuliner di Kota Thamel 😊