Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN

Ketika Puncak Bukan Lagi Tujuan,.. di Mahameru

Di dalam Jeep, duduk di sebelah pak supir. Butuh waktu sekitar satu jam perjalanan menuju tempat pendakian dari lokasi menginap.
Di dalam Jeep, duduk di sebelah pak supir. Butuh waktu sekitar satu jam perjalanan menuju tempat pendakian dari lokasi menginap. Capture by : Dyah Ayu Pamela

Philosofi gunung, mungkin ini namanya. Entahlah, lama-kelamaan yang lebih aku suka adalah gunung bukan lagi pantai. Aku menemukan sedemikian banyak makna-makna baru dalam perjalanan ke gunung. Dan di kali keempat rasanya amat sangat berbeda, ketika menapaki Semeru, Gunung tertinggi di Jawa. Alasan awalnya karena predikat itu kepingin banget kesana.

Ada galau sedikit sebenarnya sejak awal rencana kepergian ke Semeru. Waktu itu kan selepas dari Rinjani, sekitar bulan Juni ada janji di hati untuk sementara berhenti nge-trip. Bulan puasa terus lebaran jadi fokus sama planing lain yang lebih penting. Tapi tahun 2015 ini, memang tahun penuh kejutan, aku di rolling liputan terus beberapa kejadian nggak terduga lainnya yang mengubah keadaan menjadi lebih baik. Dan sepertinya planning itu pun akan tercapai dalam waktu dekat walaupun tetap pergi trip. Insya Allah

Rencana awal berangkat di bulan Agustus, tapi ternyata yang Maha Pencipta baru ngizinin ke sana pas September kemarin. Dari awalnya delapan peserta, akhirnya jadi berempat. Penuh drama bisa dibilang, kepergian di bulan Agustus itu harus batal karena ada kejadian pendaki hilang. Oke, sisa peserta trip banyak yang galau, tapi iya kalau tetap pergi pasti akan bikin perasaan jadi nggak enak ketika disana. Yang mengesalkan, di detik-detik keberangkatan jadwal kereta, ada kabar pendakian dibuka lagi. Fuiiihhhh… sempat nggak nafsu makan seminggu karena kejadian ini. Nyesss aja rasanya.. zZzZ

Apa ya? nge-down aja rasanya, kenapa sebegitunya, kok bisa?? iya ini lagi-lagi, apa-apa yang sudah tertulis maka itulah yang terjadi. Memang kalau kita merencanakan sesuatu harus bilang Insya Allah, sebab nggak kan tau yang terbaik seperti apa… mungkin inilah yang terbaik, pergi di bulan September dan saat itu lagi sepi pendakian! yeayyyy…. dan sejujurnya pergi dengan sedikit orang itu lebih enak buat ku 😀

IMG_7380
Beruntungnya Semeru lagi sepi, dan di gunung saya selalu merasa kecil dibandingkan bukit, langit, dan semua keindahaan ciptaan Allah ini. Tak tahu apakah selanjutnya masih ada kesempatan pergi?

Ke gunung memang nggak semudah seperti pergi ke pantai. Jarang dan hampir nggak pernah ke pantai ngalamin kejadian aneh-aneh. Paling apa ya? waktu di Phuket nggak bisa mampir ke Maya Bay karena ombak. Jadi keingat juga waktu mau ke Gunung Gede, batal sampai dua kali dan akhirnya berubah haluan pergi ke Gunung Lembu.

Teringat juga Debi, teman yang suka naik gunung dengan santainya via BBM kira-kira bilang gini “Aku mah nanti kalau waktunya ke Semeru ya akan kesana,”. Iya sesantai itu aja,… mungkin memang karena pengalaman sebelum-sebelumnya perjalanan dia.

Apa ya?? gunung itu seperti halnya jodoh, kalau di saat-nya berangkat ya berangkat! hahaha. Ada saatnya, gunung itu jodoh kita, seperti waktu aku ke Rinjani, tanpa hambatan. Atau bisa jadi waktunya bukan saatnya gunung itu tepat kita datangi. Lain kali kan bisa, gunungnya pun nggak kemana-mana. Makanya lebih enak kalau mengalir saja,… toh tiap detik, menit apa yang kita jalani pun sudah dituliskan-Nya.

edisi anak SMP pertama kali piknik ke gunung :D
edisi anak SMP pertama kali piknik ke gunung 😀

Nggak tau kenapa juga Tuhan seperti berbicara lebih banyak ketika aku ke gunung. Semacam ada komunikasi yang intens dan jangan bilang ataupun mengira ini berlebihan. Di Semeru kemarin terjadi, saat ternyata walau sudah sampai sana pun aku nggak bisa ke puncak tertingginya, Mahameru karena “tamu bulanan”.

Gunung tempat yang suci, ada kepercayaan juga kalau gunung itu puncaknya para dewa. Menghormati kepercayaan itu juga, akhirnya nggak muncak. Sedih pasti, bahkan saat malam semua teman-teman persiapan muncak pun perasaan itu hampir membuat genangan air dipelupuk mata jatuh. Belajar satu hal lagi, dan itu membuat semua terasa lapang sejak itu.

Mungkin saja sempat sebelumnya ada perasaan ego kalau aku bisa menaklukan Mahameru ini. Walau katanya berat, dengan mendengarnya saja, melangkah di pasir yang butuh sekitar 7 jam perjalanan. Entah rasa sombongkah ini? walau rasanya fisik pun mampu, tapi aku sempat melupakan. Bahwa semua kekuatan, kepunyaan-Nya.

IMG_7459
Bangun pagi, saat kemping di Danau Ranu Kumbolo yang saat itu berkabut banget… jalan-jalan ke bukit sebelumnya.. indah banget.

Sejak itu hal yang paling ku ingat pun pemahaman bahwa tak pernah boleh, merasa aku bisa, aku kuat, dan aku ini sanggup karena ketegaranku. Karena sebenarnya semua kekuatan itu datang dari Allah. Jleeebb banget rasanya.

Malam itu pun hampir tak bisa tidur, karena dingin. Dingin yang juga mungkin agak kuremehkan, dan tak diduga bahwa di Semeru jauh lebih dingin daripada Rinjani. Bisa tidur nyenyak di hari kedua bermalam di gunung pun karena dipinjami sleeping bag tebal punya Esthi!. Serius keluar tenda di waktu menjelang Isya tangan sudah mulai dingin gemetaran.

Beberapa hal lagi, karena di gunung yang dengan berbagai keterbatasan, semakin lama kita pun semakin mengenal diri sendiri dan apa yang butuh untuk diperbaiki. Contoh sederhananya saat packing, apakah kita dapat menentukan prioritas barang bawaan kita? bagaimana juga saat kamu menatanya di dalam tas. Terus nggak usah lagi bawa carrier diatas 50 L, mau yang ramping aja tapi muat banyak (karena serius nggak feminin banget). Dari situ kelihatan, ahhh serius tersadar (kebanyakan bawa baju ganti)… ya walau bukan cuma karena ke gunung, tapi traveling kemana pun harus punya prioritas.

Dari kejauhan Oro-Oro Ombo yang seharunya di bulan Mei hingga Agustus warna bunganya ungu cantik.
Dari kejauhan Oro-Oro Ombo yang seharunya di bulan Mei hingga Agustus warna bunganya ungu cantik.

Kesabaran juga diuji karena berangkatnya harus barengan sama teman-teman baru. Kepingin cerita sih rentetan keseruan, cerita-cerita selama di tenda bareng Esthi, Vivi, dkk. Terus kita yang dapet pakde angkat (potter kita), terus gimana pagi-pagi di rumah tempat kita nginep tiba-tiba ada musik dangdutan. Dan cerita agak mistis pengalaman teman yang mau muncak.

Tapi ya,… sudah biasa banget buat alur cerita blog ku begitu. Next time, di penulisan dengan angle berbeda…Dan lewat tulisan ini kumaknai, bahwa saat ke gunung puncak bukan lagi tujuan utama ku. Kembali dengan selamat dan semakin belajar dari bahasa yang Tuhan kasih ke aku selama perjalanan, itulah makna sebenar-benarnya. Entahlah, apakah ada kesempatan lagi melakukan perjalanan, ke Semeru atau gunung lain?. Meskipun ingin sampai usia terjauh nanti, semasa tua nanti … tak ada yang pernah tau (kecuali Dia) apa yang kan terjadi di masa mendatang.

Revisi :

Sepanjang 2017 sudah tak terpikir lagi tentang ingin menjelajahi gunung hingga usia terjauh. Terbayang lelahnya jika masih harus seperti itu. Ada apa gerangan ya? Hati keinginan ternyata memang berubah, pola pikir dan prioritas ternyata lebih mendewasa dari sekedar pergi piknik dan filosofis gunung. I think it’s enough cukup sampai Everest Base Camp (EBC).

Advertisements
Backpacker, Indonesia, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN

Berbagi Itinerary – Pendakian Gunung Rinjani, Lombok

Sunrise di Rinjani 3726 MDPL
Cakrawala, serasa ada di dunia yang lain….. seperti sedang berada dalam lukisan paling indah…. Sunrise di Rinjani sekitar pukul 05.30 WIT ketinggian 3726 MDPL

Merasakan keasikan dari nge-trip yang didesain sendiri lewat pengumpulan informasi di internet atau by googling, dibanding dengan ikut open trip lewat travel agent itu membuat kita jadi pejalan yang mandiri. Deg-deg an jelas iya! kalau-kalau dijalan nggak sesuai dengan rencana, tapi belakangan justru ini lebih seru lho….

Dan ketika akan nge-trip ke suatu tempat yang belum kita kunjungi, pengalaman atau cerita orang-orang yang pernah kesana dari blog atau web selalu jadi informasi yang bermanfaat banget. Makanya, melalui blog juga saya yang suka nulis akhirnya sharing. Kali ini sharing itinerary pendakian ke Gunung Rinjani di Lombok, Indonesia.

Buat yang kepingin banget ke Gunung Rinjani, tapi nggak mau nunggu open trip yang biasanya harus ber-20 an orang, bisa juga memberanikan diri untuk pergi dengan sedikit teman. Asalkan bisa bangun tenda aja dan punya pengalaman mendaki gunung sebelumnya. Kalau belum bisa belajar ya di youtube, terus pemanasan dulu ke Papandayan atau kemana yang deket-deket. Soalnya lumayan banget trek disana, perlu juga bahkan persiapan jogging minimal sebulan sebelum berangkat supaya body fit.

IMG_6007.JPG
Istirahat makan siang, masih jauh guys perjalanannya ke Pos 1, butuh 3 jam dari Desa Sembalun.

Baiklah tak perlu lama-lama, ini dia itinerary pendakian ke Rinjani. Saya tulis dalam perjalanan sekitar 4 hari. Ohya sebetulnya dari Rinjani kamu bisa sekalian ke Sumbawa berhubung hanya perlu menyebrang Selat Alas sekitar 2 jam menggunakan kapal. Next di ulasan blog selanjutnya ya 🙂

DAY 1 (Sabtu, 9 Mei 2015)    

03.00     04.00                     Debi house – Bandara, Taxi Rp. 200.000  @ Rp 50.000 per orang (kami ber-4) berhubung kalau naik Bus Damri sama terhitungnya per orang, jadi kita ber-4 naik taxi dan jemput di titik-titik satu jalur menuju bandara. Terhitung lebih hemat tenaga dan waktu.

04.00                                    Check in, Soekarno – Hatta Rp. 40.000  Tax Bandara @40.000

05.00                                    Take off, Bandara Soekarno Hatta

08.00                                    Landing at Lombok, Praya Airport

08.00     08.40                    Antri Bagasi dan out from Praya Airport

08.50     10.00                    Perjalanan melengkapi perbekalan, Rental mobil Rp. 550.000, @ Rp. 137.500

10.00     10.30                    Belanja Perbekalan, beli makanan dan minuman

10.30     11.30                     Perjalanan menuju Gerbang Sembalun

11.30     12.30                     Pendaftaran, ISOMA @Rp. 25.000 per orang

12.30                                    Berangkat (Dari Sembalun, ketinggian 1156 mdpl)

12.30     15.30                     Sembalun menuju POS 1 (Pos Pemantauan) savana mendaki, menurun, menyeberangi sungai kecil. Perjalanan perlu 3 jam, ini buat pemanasan sebelum besoknya hari ke-2 akan menempuh lebih dari 5 jam perjalanan melewati 9 bukit.

15.30     16.00                     Istirahat sekitar 30 menit di POS 1 (1300 mdpl) tidak ada sumber air.

16.00     17.30     90           POS 1 menuju POS 2 (Pos Tangengean) dengan trek savana mendaki, menurun, menyeberangi sungai kecil, bekas aliran lahar, dilalui sekitar 1,5 jam perjalanan.

17.30                                     Istirahat POS 2 (1500 mdpl), Camp. Disini ada sumber mata air tapi tak terlalu banyak.

IMG_6011.JPG
Cuaca menjelang sore, disaat itu hampir sampai Pos 2 untuk mendirikan tenda. Ini adalah hadiah pemandangan langit dan rumputnya.

DAY 2 (Minggu, 10 Mei 2015)  

05.00     08.00                    Bangun pagi, sholat, foto-foto, sarapan, persiapan berangkat.

08.00     11.00                    Perjalanan menuju POS 3, sekitar 2,5 jam menemui jalan persimpangan, Bukit Penyesalam di sebelah kanan & Bukin Penderitaan di sebelah kiri.

11.00     11.30                     Istirahat POS 3 (2000 mdpl) istirahat sekitar 30 menit dan mengambil persediaan air.

11.30     13.30                     Perjalanan sejauh 2 jam menuju Plawangan Sembalun (sesi 1) tanjakan bukit 9, dibutuhkan daya tahan tubuh dan mental yang prima, jarak jauh.

13.30     14.30                     ISOMA, sekitar 1 jam

14.30     16.30                     Perjalanan 2 jam menuju Plawangan Sembalun (sesi 2) melewati tanjakan bukit 9, dibutuhkan daya tahan tubuh dan mental yang prima, jarak jauh.

16.30                                     Tiba di Plawangan Sembalun, Disini kita nge-camp (2639 mdpl) melihat puncak sembalun, segara anak, area datar cukup luas, sumber air, toilet, ada banyak monyet, hati-hati karena monyet sering merebut makanan.

16.30     19.00     180         Foto-foto, mendirikan tenda, persiapan dinner, istirahat sambil menunggu sunset.

19.00                                     Tidur, tapi kenyataannya masih beres-beres hingga jam 9 malam.

IMG_6158
Belum sampai puncak nih, tapi keburu mataharinya mulai muncul. Bagus banget dan terasa dingin hangat di atas sana dengan angin berhembus menampar-nampar saja juga.

DAY 3 (Senin, 11 Mei 2015)  

00.30     01.00                    Bangun dini hari, persiapan summit sekitar 30 menit

01.00     05.00                    Perjalanan menuju puncak, sekitar 4 jam

05.00     07.00                    Enjoy summit sekitar 2 jam

07.00     10.00                    Puncak kembali ke camp di Plawangan Sembalun, sekitar 4 jam

10.00     13.00                     ISOMA

13.00     15.00                     Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak (sesi 1)

15.00     15.30                     Istirahat, sekitar 30 menit.

15.30     17.30                     Plawangan Sembalun menuju Segara Anak (sesi 2)

17.30                                     Segara anak, nge-camp, bersih-bersih, dinner 

IMG_6302
Di dekat Danau Segara Anak, ada yang lagi mancing. Kalau kami nggak sempat karena harus melanjutkan perjalan pulang menuju Plawangan Senaru.

DAY 4 (Selasa, 12 Mei 2015)

05.00     10.00                     Bangun pagi, sholat, foto-foto, sarapan, persiapan berangkat

10.00     17.00                     Segara Anak – Plawangan Senaru. Trek melewati hutan, padang edelweis, jalan kecil berbatuan terjal, jurang.

17.00      02.00                    Kami masih berusaha untuk sampai di Pos 3 setelah sampai Plawangan Senaru, tapi memaksakan diri untuk terus melanjutkan perjalanan, berhubung ada dua tim lain yang bisa bareng. Melewati malam gelap, ketemu kuntilanak, tapi akhirnya sampai jam 02.00 di Gerbang Senaru… Huffttt hufff.

Kami nggak menginap di guest house, bahkan juga nggak nenda, karena bareng teman-teman yang berjumlah sekitar 15 orang tidur di semacam balai bambu terbuka. Hemat kan, hehe sudah nggak punya tenaga juga buat diriin tenda. Beruntung juga di depan balai bambu ada warung, jadi pagi-pagi udah ada pisang goreng aja sama cemilan, nggak perlu masak.

Berapa sih biaya untuk ke Rinjani?

Kalau ini agak sulit dikalkulasi, soalnya saya sekaligus mengunjungi Pulau Sumbawa, termasuk Kenawa dan Moyo. Kalau total dengan tiket pesawat sekitar Rp. 5 juta. Tapi kalau hanya niat ke Rinjani aja bisa diperkirakan biayanya bisa cukup dengan budget Rp. 3,5 juta.

Tergantung apakah naik pesawat seperti saya yang PP dengan Lion dan Batik Air termasuk airport tax Rp. 1,8 juta. Tentunya biayanya akan lebih murah kalau naik kereta, tapi konsekuensinya harus meluangkan waktu cuti lebih banyak, jadi kurang efektif dan lebih lelah berhubung mendaki gunung perlu stamina saya sarankan agar naik pesawat saja.

Ini diluar dari biaya beli peralatan gunung loh ya. Karena peralatan gunung macam senter, sarung tangan dingin, jaket kadang harus beli lagi kan bagi yang belum punya.

_DSC5574.JPG
Temen barengan pas turun, hahaha gila sih ini malem-malem nggak tidur, ketemu kuntilanak, terus sedingin itu tapi tidur di balai bambu terbuka.