Backpacker, Indonesia, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, SUMBAWA - Indonesia, The Journey, Traveling

Mampir Sebentar ke Istana Dalam Loka, Sumbawa

IMG_6500
Penampakan Istana Dalam Loka, bangunan ini sudah direkonstruksi menjadi lebih baik. Di dalam kita bisa melihat foto-foto raja Sumbawa dulu dan aslinya Istana Dalam Loka dahulu kala.

Istana Dalam Loka sebenarnya tidak ada dalam deretan destinasi yang niat buat dikunjungi saat ke Sumbawa Besar. Tapi ini jadi bonus aja, perjalanan hari terakhir di Sumbawa Besar, sehabis nyebrang dari Pulau Moyo.

Niatnya hanya keliling kota Sumbawa Besar buat beli oleh-oleh macam madu dan kopi. Bang Ian, penduduk asli sana yang secara kebetulan jadi guide dadakan kami (baru kenal 2 hari) bilang bisa mampir sebentar ke Istana Dalam Loka. Ah,… beruntungnya ketemu Bang Ian terus diantar kesana-kesini. Eh kamu bisa contact dia juga kalau mau ke Sumbawa, nanti kukasih info contact-nya pm aja ya.

Dibangun tahun 1885, Istana Dalam Loka dulu merupakan tempat tinggalnya Raja di era kesultanan. Berbentuk rumah panggung dengan luas bangunan 904 M2, Istana Dalam Loka terlihat sangat megah. Istana yang dibangun dengan bahan kayu ini memiliki filosofi “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”, yang berarti semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus bersemangatkan pada syariat Islam.

IMG_6496.JPG
Istana Dalam Loka tampak samping, panas banget lho di Sumbawa itu. Mataharinya ada 5 saudara-saudara, tapi alhamdulilah ya langit cerah awan-nya pun bagus  🙂

Kabarnya Pulau Sumbawa yang terletak di Propinsi NTB, telah didiami manusia sejak zaman glasiasi (1 Juta tahun yang lalu), dan mengawali masa sejarahnya mulai abad 14 Masehi ketika terjadi hubungan politik dengan kerajaan Majapahit yang saat itu berada di bawah kepemimpinan raja Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya yang terkenal, Gajah Mada (1350-1389).

Pada saat itu di Sumbawa di kenal adanya kerajaan Dewa Awan Kruing, yang memiliki vassal (kadipaten) yaitu kerjaan Jereweh, Taliwang, dan Seran. Raja terakhir dari kerajaan Dewa Awan Kuning yang bersifat Hinduistis adalah Dewa Majaruwa, yang kemudian memluk agama Islam. Perubahan agama ini berkaitan dengan adanya hubungan dengan kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni kerajaan Demak (1478-1597).

Kemudian pada tahun 1623 kerjaan Dewa Awan Kuning ini takluk kepada kerajaan Goa dari Sulawesi Selatan. Hubungan dengan kerajaan Goa kemudian diperkuat dengan perkawinan silang. Pernikahan silang antar kerajaan ini dapat dikatakan sebagai perkawinan politik antar kerajaan Goa dengan kerajaan Sumbawa.

Ini keterangan yang saya ambil di situs sultansumbawa.com, berhubung di dalam bangunannya banyak juga dijelaskan informasi yang hampir sama. Jadi kalau kamu kesini, pastinya mirip kalau lagi ke museum yang ada foto-foto raja dan silsilah keluarganya. Nambah pengetahuan, tentang kesultanan yang ternyata sempat ada di Sumbawa.

IMG_6498.JPG
Anak-anak Sumbawa, diluar pintu masuk bangunan Istana Dalam Loka. Masuk ke dalam harus membuka alas kaki, karena lantainya parkit alias kayu bukan ubin keramik.

Adapun Raja Sumbawa yang berkaitan langsung dengan pembangunan Istana Dalam Loka adalah Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III (1883-1931), yang merupakan Sultan ke-16 dari dinasti Dewa Dalam Bawa. Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III ini mendapat peneguhan sebagai penguasa Sumbawa berdasarkan akte Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tanggal 18 Oktober 1885 dan mulai saat itulah penjajahan kerajaan Belanda berlangsung secara efektif di wilayah kerajaan Sumbawa.

Lokasi Istana Dalam Loka padas saat ini terletak di dalam Kota Sumbawa Besar, menunjukkan bahwa kota ini memang sejak dahulu kala merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan perekonomian di wilayah tersebut. Kerajaan Sumbawa telah beberapaa kali berganti istana, antara lain pernah dikenal “Istana Gunung Setia,” “Istana Bala Balong dan Istana Bala Sawo”.

IMG_6497
Bangunannya sudah banyak yang diperbaiki, termasuk pondasi.

Bala Rea (Graha Besar) yang terletak di dalam komplek istana “Dalam loka” berbentuk rumah panggung kembar, disangga 99 tiang jati yang melambangkan 99 sifat Allah (Asma’ul Husna). Istana ini selain untuk menempatkan raja pada posisi yang agung, juga sebagai pengganti Istana Bala Sawo yang hangus terbakar letusan bubuk mesiu logistik kerjaan. Bangunan Bala Rea ini menghadap ke selatan lurus kedepan alun-alun, ke arah bukit Sampar yang merupakan situs makam para leluhur. Disebelah barat alun-alun terdapat Masjid kerajaan, Masjid Nurul Huda yang masih berdiri hingga sekarang, dan di sebelah timur komplek isatana megalir sungai Brang Bara ( sungai di sekitar kandang kuda istana).

Bahan baku pembangunan istana Dalam Loka ini sebagian besar didatangkan dari pelosok-pelosok desa di sekitar istana. Khusus untuk kayu jati ukuran besar didatangkan dari hutan Jati Timung, sedangkan atapnya yang terbuat dari seng didatangkan dari Singapura.

Advertisements
Backpacker, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, Traveling

Hello “Dewi Anjani”

IMG_3750
Riang banget,  tertawa yang renyah setelah summit… love a lot this picture

The journey is start from Sembalun Village, a trip taken about 6 hours to the first camp. Passing through savannah, forests, and hills… all the beautiful sights. Green trees, golden yellow color of the grass.. thats under the blazing sun decorated white clouds. Hmmm, i still can feel the atmosphere ❤

Don’t know why, . .  just feel happy when i’m look again the memories at Rinjani mountain. Is always wants to show off all the atmosphere, how do I look at the journey. The place, people, and all… beautiful memory for me.

This is one of story in my life,.. yeahhh <3. The third mountain thai i climb, after Papandayan and Lembu, 3726 highness MDPL. The most beautiful mountain in Indonesia.

Imagine how many times I took every picture :D…. after that, I’m always longing to return. Someday maybe…. This mountain that I missed ❤

One memorable occasion, when pursuing every inch of the rocks and soil. And one day, will i come again? Anjani Goddess…. hey you, let me to know, do you miss me too??

Closed in 2015, I was praying to get back. Rinjani…. the beauty of “Dewi Anjani”

Fell in love with you Rinjani, . . ❤

IMG_3584About Rinjani mountain : (From wikipedia)

Mount Rinjani or Gunung Rinjani is an active volcano in Indonesia on the island of Lombok. Administratively the mountain is in the Regency of North Lombok, West Nusa Tenggara (Indonesian: Nusa Tenggara Barat, NTB). It rises to 3,726 metres (12,224 ft), making it the second highest volcano in Indonesia.

On the top of the volcano is a 6-by-8.5-kilometre (3.7 by 5.3 mi) caldera, which is filled partially by the crater lake known as Segara Anak or Anak Laut (Child of the Sea) due to blue color of water lake as Laut (Sea). This lake is approximately 2,000 metres (6,600 ft) above sea level and estimated to be about 200 metres (660 ft) deep; the caldera also contains hot springs. Sasak tribe and Hindu people assume the lake and the mount are sacred and some religious activities are occasionally done in the two areas. On 31 October 2015, Mount Rinjani started erupting again

On the basis of plate tectonics theory, Rinjani is one of the series of volcanoes built in the Lesser Sunda Islands due to the subduction of Indo-Australian oceanic crust beneath the Lesser Sunda Islands, and it is interpreted that the source of melted magma is about 165–200 kilometres (103–124 mi) depth.

IMG_4058

The geology and tectonic setting of Lombok (and nearby Sumbawa) are described as being in the central portion of the Sunda Arc. The oldest exposed rocks are Miocene, suggesting that subduction and volcanism began considerably later than in Java and Sumatra to the west, where there are abundant volcanic and intrusive rocks of Late Mesozoic age. The islands are located on the eastern edge of the Sunda shelf, in a zone where crustal thickness is apparently rapidly diminishing, from west to east.

The seismic velocity structure of the crust in this region is transitional between typical oceanic and continental profiles and the Mohorovičić discontinuity (Moho) appears to lie at about 20 kilometres (12 mi) depth.[13] These factors tend to suggest that there has been limited opportunity for crustal contamination of magmas erupted on the islands of Lombok and Sumbawa. In addition, these islands lie to the west of those parts of the eastern-most Sunda and west Banda arcs where collision with the Australian plate is apparently progressing.

 

 

 

Indonesia, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia

Traveling With My Soul – Rinjani!

Sampai juga di perhentian gerbang pintu Senaru. Setelah masa kritis semalaman hingga sekitar jam 02.00 dini hari baru bisa tidur di sebuah balai bambu terbuka.
Di perhentian gerbang pintu Senaru. Setelah masa kritis semalaman hingga sekitar jam 02.00 dini hari baru bisa tidur di sebuah balai bambu terbuka.

Teaser :

Terbangun sebelum alarm berbunyi adalah kebiasaan baru, dengan refleks pertama bergegas melihat jam yang melekat di pergelangan kanan tanganku (jam tangan yang tak pernah kulepas sejak hari pertama di Rinjani).  Aku beringsutan, melawan kantuk dan hanya mampu tersadar bahwa ini waktu untuk kembali mendaki. Detik itu pendakian yang sebenarnya dimulai…

Ketika itu hari masih gelap, walau sebenarnya terang karena dihiasi cahaya bintang-bintang yang jarang sekali bisa kulihat. Hampir pukul 01.00 dini hari meski dengan cuaca yang tak terlalu dingin buatku (sekitar dibawah 20 derajat Celcius). Mungkin tak menjadi dingin karena dua lapis baju beserta jaket outer, tiga lapis kaos kaki, dan dua lapis kaos tangan yang ku kenakan.

Ini bukan pendakian biasa pikirku waktu itu. Sebelum berangkat di hari H, banyak rekan yang berujar, tentang medan pendakian, membagi pengetahuannya tentang gunung yang menurut masyarakat Lombok setempat dan penganut Hindu Budha merupakan tempat suci. Satu dari tiga gunung yang disucikan. Pengetahuan yang baru kudapat sebelum beberapa jam take off penerbangan kembali ke Jakarta.

Di perhentian Pos 1 Gerbang Sembalun, jalan cukup jauh 3 jam lebih tapi banyak istirahatnya. Inilah pemandangan pertama setelah sempat melewati hutan, rerumputan dan savana :D :)
Di perhentian Pos 1 Gerbang Sembalun, jalan cukup jauh 3 jam lebih tapi banyak istirahatnya. Inilah pemandangan pertama setelah sempat melewati hutan, rerumputan dan savana 😀 🙂

——————————————————————————-

Bisa mencapai Gunung Rinjani itu seperti sebuah mimpi yang jadi nyata. Sebab hasrat untuk bisa kesana sebetulnya telah ada sejak masih kuliah dulu. Semuanya terpengaruh karena tayangan Tv apalah namanya Jejak Petualang (tahun 2004-an). Siapa sih presenternya, 2006 udah bukan Riyani Djangkaru sih…. Ah,… keren banget ini presenter Tv dan keren banget ini pemandangannya, gunung berapi tertinggi ke-2 di Indonesia (3726 mdpl)

Bukit-bukit yang terlihat dari kejauhan, hari ke-2 pendakian melewati bukit penyesalan. Nanjak terus.... and at the time i think it's never ending
Bukit-bukit yang terlihat dari kejauhan, hari ke-2 pendakian melewati bukit penyesalan. Nanjak terus…. and at the time i think it’s never ending. photo By: Dyah Ayu Pamela

Saya bukan anak gunung, nggak paham soal gunung, bahkan waktu itu sama sekali nggak kebayang seperti apa peralatan orang naik gunung, tapi bisa-bisanya punya keinginan susah macam begini (lalu pegang kening). Dan masih ingat banget tahun 2012 saya udah nanya-nanya ke Backpacker Store via twitter, via email dapet itinerary juga buat ikutan trip-nya, tapi kemudian masih pikir-pikir. Sibuk liputan sana-sini di desk lama dan nggak sempat cuti juga, saya melupakan keinginan itu…

Dan kalau diceritain bagaimana saya bisa kenal ketiga partner buat pergi ke Rinjani ini bakal lebih panjang lagi ceritanya. Tapi semuanya berjalan mengalir begitu aja (and i know, everything in life is pre written) mulai dari kepergian ke Pahawang, gunung Papandayan dan traveling ke tempat-tempat sebelumnya. Lalu jadi teringat kutipan salah satu penulis favorit saya.

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it,” Paulo Coeho – The Alchemist.

Plawangan Sembalun, lihat bukitnya..... amazing, saya kecil banget, hanya sebuah titik dibanding pemandangan bukit dan gunung itu.
Plawangan Sembalun, lihat bukitnya….. amazing, saya kecil banget, hanya sebuah titik dibanding pemandangan bukit dan gunung itu. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 1 :

Kami berempat pergi dengan pesawat yang take off jam 05.00 pagi, Sabtu (9/5) 2015, supaya siang harinya bisa langsung trekking pendakian. Start sekitar jam 12.30 selepas Zuhur, perjalanan dimulai dari Gerbang Sembalun, melewati pemukiman warga, sawah dan ladang. Setelah tentunya melakukan pendaftaran, Zuhur-an, membeli makan siang, packing ulang tas carrier, welfie, dan ngabisin seloyang brownies :D. Ohya masing-masing  membawa 3 liter air untuk persediaan.

Rute-nya masih datar, ada jalan menurun dan naik sedikit, lalu baru 40 menit jalan kami istirahat di bawah pohon. Sempat melewati hutan tapi sebentar, jalur Sembalun ini memiliki hamparan landscape rumput hijau kuning memerah, padang savana, bukit-bukit, pohon dan ada sungai dengan jembatan.

Menjelang sore, sampai juga di Pos 1 kembali istirahat (banyak istirahatnya ya) yang belum makan kemudian makan, terus foto-foto lagi 😀 habis landscape-nya nggak ada yang nggak bagus, semuanya bagus….. mengejar sunset pendakian pun dipercepat tanpa banyak berhenti. Sepertinya kami sudah mulai terbiasa mendaki di tahap ini.

Beruntungnya, langit malam itu cerah. Kami dapat hadiah hamparan bintang-bintang yang tak terhalang gedung-gedung tinggi ataupun pepohonan. :)
Beruntungnya, langit malam itu cerah. Kami dapat hadiah hamparan bintang-bintang yang tak terhalang gedung-gedung tinggi ataupun pepohonan. Aslinya lebih amazing dan nggak seperti ketombe, hehehe 🙂 Photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 2 :

Pukul 09.00 pagi setelah beres-beres tenda, mengambil persediaan air di pos 2 (yang tak terlalu banyak di sumber airnya) kami kembali mengemas carrier, bergegas. Ohhh… ini menjadi hari yang panjang. Pendakian harus dilalui selama hampir 7 jam. Sepanjang perjalanan dan tetep ya banyak berenti untuk mengabadikan landscape, hamparan gunung, pohon-pohon, semua suguhan alam yang buat pandangan mata saya nggak berhenti terpesona. Asli saya beruntung banget bisa sampai Rinjani.

Tapi mendaki Rinjani bukan soal keindahannya saja. Di gunung itu kami harus memperkirakan waktu, kami mengejar agar jangan sampai melakukan perjalanan ketika hari gelap (sebisa mungkin) untuk keamanan. Juga mengejar waktu sesuai jadwal dan target traveling lanjutan kami ke Sumbawa juga sih sebenarnya. Dan hari ke-2 itu setelah magrib dan makan malam seharusnya kami langsung tidur untuk persiapan summit esok harinya (sebab penting banget buat jaga stamina).

Ahhh nice, bentuk pohon di dekat jembatan ini
Ahhh nice, kira-kira hampir seringan melihat bentuk pohon seperti di dekat jembatan ini. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Kami harus bangun sebelum jam 01.00 pagi dan mendaki sekitar 4 jam lebih mencapai titik tertinggi Gunung Rinjani. Sayangnya, ada something happend di pencarian lokasi kemping saat mencapai Pelawangan Sembalun. Tempat-tempat strategis ternyata sudah di tag sama para potter. Jadi potter itu sudah sampai sebelum pendakinya, terus mereka siapin makan dan tenda hingga si pendaki sampai, semua sudah siap.

Beda dengan kami ber-4 yang tanpa potter, semua dikerjakan sendiri. Mencari sumber air, menggangkat barang bawaan, bongkar pasang tenda dan memasak, termasuk jadi harus speak-speak dengan rekan seperjalanan a.k.a tetangga kemping. Tapi ini jadi betul-betul pengalaman naik gunung yang sebenarnya. Hebat ya kami bisa survive.

Saya sih cuma ngiler dan wow banget di Pelawangan Sembalun ini. Lihat tenda besar dimana potter lagi goreng tempe dan bakwan (sumpah niat banget ya ini, bawa penggorengan besar, bawa kompor gas). Lalu di jalan sempit yang hanya muat satu tenda pun, lokasi yang pas buat melihat sunset dan sunrise disitu para bule dan pendaki yang wisman lagi enak duduk dibangku sambil menyantap makanan… early dinner buat mereka sambil memandangi sunset cantik Rinjani sebelum summit besok subuh.

Sementara kami lagi jalan nyari tempat buat dirikan tenda. Cari lokasi buat berkemah, supaya dekat dengan sumber air kami pindah. Padahal tenda sudah jadi. Debi ketemu lokasi yang lebih strategis, lalu kami jadi tetanggan sama teman sekotanya, Semarang. (Gara-gara satu kota aja bisa akrab begini. Oke… dan memang kesamaan selalu punya cara untuk mendekatkan). 

Hufffttt. Lama di tempat tetangga, sambil sharing perbekalan, ngeteh, ngobrol dsb, kami agak khawatir, karena Harry nggak muncul-muncul juga bawa tenda. Tadi masih belum gelap, apa bawa headlamp atau nggak kami bertiga yang menunggu juga nggak tahu,… Akhirnya Debi menyusul. Kita khawatir juga karena kelihatannya tadi sore dia sangat lelah. (Disini saya mikir, kalau kami berempat ini satu tim. Kalau salah satunya ada yang bermasalah yang lain pasti mikirin)

Day 3 :

Berbekal penerangan headlamp, pukul 01.00 dini hari pendakian yang sebenarnya dimulai. Sehari sebelumnya dijalan banyak pendaki yang mengingatkan untuk berjaga-jaga dengan tenda, perbekalan, barang bawaan ketika ditinggal untuk summit Rinjani. Karena kan nggak memungkinkan membawa carrier, hanya kamera saja serta bekal air minum secukupnya. Sementara beberapa kasus pernah ada rombongan pendaki yang kehilangan barang bawaan bahkan persediaan makanan yang dicuri. Kalau tim kami sih lucu, persediaan gula justru dicuri sama monyet liar di Plawangan Sembalun saat siang bolong yang ternyata jumlahnya ada sekawanan.

“Sampai sekarang kita belum tahu siapa pelakunya, tapi saya saranin untuk tidak meninggalkan barang berharganya. Saya prihatin kenapa hal seperti ini bisa kejadian di gunung,” kata seorang pendaki yang ngajak ngobrol duluan.

Medan yang ditemui setelah Pelawangan Sembalun adalah pasir, bebatuan, tanah, dan memang lengkap dengan kanan kiri jurang. Kondisi gelap pendakian dini hari membuat semua itu nggak terlihat, tapi saya merasakannya, kaki kami terperosok, harus melangkah lagi. Tapi medan terjal ini katanya terbilang lebih mudah dibanding menaklukan gunung Semeru yang dua langkah mundur satu.

Di perjalanan kami sesekali berhenti untuk istirahat dan minum. Debu pasir agak masuk ke sistem pernafasan, kembali saya merasakannya. Sejak pertama di Rinjani sih, tapi memang disini saya yang paling amatir dalam pendakian.

Gimana rasanya summit Rinjani??? sejujurnya pertama kali sampai atas sana saya cuma bengong. Semua tampak tidak nyata, hanya nggak percaya bisa sampai sejauh ini, nggak kepikiran dan surprise. Mau nangis nggak bisa (serius udah lama nggak bisa nangis) mau meluk temen-temen saya yang barengan dari Jakarta berjuang, tapi muhrim saya cuma Kak Put. Hehehe yaudah habis itu sibuk foto-foto….. gantian sama pendaki lain yang juga antri foto.

Setelah sunrise Rinjani yang amaze, saya baru “ngeh” lagi, kalau jalan menurun itu juga perlu perjuangan. Bahkan lebih harus berhati-hati. Disini karena langitnya sudah terang dan matahari rasanya dekat di atas saya jadi,,,,, hangat di jam 6-7 an lalu jadi panas. Tak menyangka juga, kalau jalur yang saya lalui dini hari tadi di kegelapan sebenarnya amat sangat panjang dan sulit. Ckckckckckckck masih surprise turun pun sedikit ngedumel kok nggak nyampe-nyampe.

“Mengingat lagi detik-detik di saat summit Rinjani, dalam kondisi gelap dini hari untuk meraih matahari terbit yang pertama. Hanya dengan penerangan headlamp saja, hanyalah satu tujuan saat itu,…untuk bisa sampai di atas puncak sana. Tak peduli bagaimana kondisi jalanan saat itu, dengan batu-batu, kerikil, terjal, berpasir atau di kiri kanannya ada jurang yang bisa membuatku terperosok atau terjatuh. Yang kutahu saat itu aku tetap harus melangkah dan mencapai tujuan itu (puncak Rinjani).

Dan di kenyataan, sama seperti menjalani kehidupan, yang ketika kamu merasa dalam kondisi gelap.. bimbang, ragu, atau takut. Sebenarnya ada satu cahaya terang seperti headlamp tadi yaitu hati. Jadi ikuti kata hati melangkah dalam hal apapun, ikuti insting dan kecenderungan hati nurani karena biasanya disitulah ada Allah yang memberi penerangan dan petunjuk untuk melangkah ke tujuan,”

*seperti quotation favorit saya juga : “Remember, wherever your heart is, you’ll find your treasure,” Paulo Coelho – The Alchemist

Kerikil, batu-batu kasar, debu, pasir, jalan bertanah, bekas-bekas material vulkanik letusan dulu dan tentunya kanan kiri jurang, semuanya ada…. lalu turis pendaki bule yang lebih dahulu sampai, yang padahal beberapa cuma pakai legging tipis saat pendakian, asik memainkan ritme kaki, turun dengan cara merosot-merosot. Ini tuh layaknya taman bermain buat mereka.

Medan menurun sulit, sekaligus menjadi uji kemampuan sepatu gunung yang ternyata paten banget, walau tetap kaki bagian depan ikut sakit karena terlalu menekan dan bagian kaki yang melentung semakin menjadi-jadi. Disini moment yang paling lucu justru waktu minta bantuan para pendaki buat motretin saya, ganti berbagai pose sampai minta tolong tiga pendaki 😀 . Saya udah asik tinggal turun tapi malah ngerepotin yang lagi berjuang sampai puncak, ngegemesin.. tapi anak gunung kan terkenal dengan sikap penolongnya ya … 🙂

Medan terjal bebatuan halus yang harus dilalui pendaki menjelang summit
Medan terjal bebatuan, kerikil dan pasir halus yang harus dilalui pendaki menjelang summit. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Dibawah,… setelah terpisah jauh ketemu juga dengan dua temen lain, berjuang sama-sama untuk turun sampai Plawangan Sembalun. Merosot dan merosot adalah acara paling gampang dan Debi yang jago dalam hal ini sudah duluan sampai.

Ngantuk….Zzzzz.zzzzzz tak terelakan, cuma cuacanya panas nauzubillah apalagi di dalam tenda, tetep aja itu nggak terlalu memengaruhi (saya), sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak, saya sempat tidur sekitar 30 menit. Ganti tidur semalam yang cuma sekitar 2 jam. I’m a zombie at the moment,… gara-gara goreng bakwan, yang lama matengnya (api gas dan hawa panasnya redup sama angin di gunung) 😦 Bayangin dengan kondisi tidur yang demikian kami harus kembali trekking yang walau menurun tapi ini nggak bisa diremehin lho.

Start trekking ke Danau Segara Anak sekitar pukul 2 siang. Sekedar pemberitahuan ya di hari ke-3 ini saya belum juga BAB. Di Plawangan Sembalun padahal bisa keramas dan BAB karena dekat dengan sumber air. Dan teman kita yang berkarakter sanguinis a.k.a Debi dengan cueknya info “Aku udah keramas dan BAB loh,” ….. terus pas udah sampai di Segara Anak dan mandi di air terjun, Debi juga dengan cueknya info “Tadi tuh BAB paling dan paling……. buatku,” sambil pasang muka nggak bersalah ngomongnya. 😁

Kak Put mungkin yang paling beda ya, hari ke-4 sesampai di Plawangan Senaru nggak juga BAB, kata dokternya sih ritme BAB-nya yang nggak setiap hari itu normal dengan pola makan versi dia. (iyain aja deh)

Hari ke-2 Minggu (10/5/15) pendakian Rinjani, agak ramai. Tapi seramai-ramainya Rinjani ya masih puluhan aja jumlahnya.
Seramai-ramainya pendakian di Rinjani ya masih puluhan aja jumlahnya…. photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 4 :<
idur yang lumayan cukup terbayar, sampai di Segara Anak sekitar jam 8 malam, ternyata kami kembali berjodoh dengan tetangga kemping yang di Plawangan Sembalun, tenda kita deketan lagi. Masak air, makan secukupnya, beres-beres tenda dan persiapan tidur jam 10 malam terbangun subuh dan jam 6 walau masih di dalam tenda kami agak santai. Dan seperti biasa yang tidurnya bunyi terus (ngorok) dan paling susah bangun adalah Cadas (cah dangdut Semarang) a.k.a Debi. 😀

Di gunung saya belajar kalau tipikal pendaki itu mau direpotin dan care sama pendaki lain, jadi kalau minta apa-apa insa Allah dibantu, setiap kali ketemu di jalan padahal nggak kenal ya sapa aja. Nah kamu kalau lewat tenda dan kehausan, coba nanya-nanya aja mereka pasti nawarin air teh manis hangat. Kak Put….. tau banget, sembari nanya dapet info terus ditawarin teh… iya ternyata berbaur dengan pendaki lain itu harus. Cuma bagi orang yang independent itu gimana ya…. (tetep harus)

IMG_6090
Ini pendaki dari mancanegara (yang lagi natap puncak). Mereka aja sudah sesepuh gitu masih mau naik Rinjani, saya juga mau punya semangat yang sama sampai tua nanti. Tapi bawa porter lah ya, kan doanya udah tajir nti 😀 Photo by : Dyah Ayu Pamela

<

i dekat Danau Segara Anak, ada sumber air yang untuk ke tempat itu jalan sekitar 1 KM. Lewat semak-semak, rumput tinggi, genangan air, dan tolong lihat-lihat ke bawah kalau jalan karena suka ada ranjau darat. Nggak jauh dari sini kami ketemu yang namanya air terjun, akhirnya bisa mandi dan keramas… yeayyyyy airnya juga hangat, terus tempatnya sepi.

Hari ke-4 adalah perjalanan turun melewati jalur Senaru. Ini memang perjalanan menurun, tapi trekking yang kami hadapi tetap nanjak… bahkan kaki ketemu kepala, bukan dengkul ketemu kaki lagi dan ini hampir tiada henti. Perjalanan hampir lebih 10 jam lebih setelah keliling pemandangan danau, lihat orang mancing (di Segara Anak kamu bisa mancing terus goreng ikan-nya). Ada pemandangan turis yang lagi duduk dibangku sambil menikmati brunch yang dibuatin sama sang potter. Mungkin itu brunch paling sedap karena sambil menikmati pemandangan indah Danau Segara Anak dengan landscape gunung Barujari (anak gunung Rinjani, hasil letusan vulkanik sebelumnya). Sambil sering awan dan kabut menghalangi.

IMG_6278
Di dekat air terjun, sumber air panas tempat saya mandi…. enak mandi disini sepi 🙂 Photo by : Dyah Ayu Pamela

<

erjalanan yang paling mendebarkan justru bukan detik-detik summit tapi ketika turun di malam gelap. Lepas dari Plawangan Senaru, hampir jam 5 sore,… bergegas kami ke Pos 3, oke jalannya betul-betul menurun sekarang. Disini lagi-lagi ketemu bule yang lagi nyari sunset, bolak balik layaknya rumah sendiri nggak ada beban untuk naik turun gunung, lari-larian (jelas aja mereka cuma gemblok tas enteng) semua peralatan dibawa porter.

Lagi-lagi jalan harus terhenti, karena view sunset yang tentu saja nggak ingin terlewat (foto-foto lagi). Singkat cerita menuju pos 3 banyak jalanan berpasir dan krikil yang justru buat perjalanan saya melambat. Sementara yang lain justru trek ini dianggap lebih mudah. Hari mulai gelap kan, seperti dugaan kami hanya punya pilihan kembali melanjutkan perjalanan jika ada tim rombongan lain yang ikut turun. Atau kami istirahat bermalam dan baru pagi besok melanjutkan perjalanan.

Kebetulan ada dua rombongan lain yang juga berniat turun, (dan….berjodoh lagi sama tetangga kemping Semarang) jadi kami lanjutkan sisah-sisa lelah hari iitu. Ahhhh…. ini bukan cuma lelah tapi juga kantuk, tapi keputusannya kami ikut dalam rombongan melewati perjalanan malam lebih dari 4 jam menuju pintu gerbang Senaru. Rombongan berjumlah sekitar ber-15, dimana hanya ada saya dan Kak Put yang perempuan. Satu pelajaran lagi yang di dapat ketika di gunung. Disamping melihat diri sendiri, kali  ini kita sedang ber-tim lawan segala hal individualis dan meski sesakit apapun kaki rasanya saat itu, masih bisa jalan kan???

Apakah kamu akan memperlambat tim? sekali lagi, tak hanya soal mencapai summit, mengalahkan diri sendiri ternyata berlaku juga dalam perjalanan turun. Dan aneh rasanya, tak ada lagi beban, seperti ada perasaan lega ketika semua itu terlewati. Perih-perih yang terlupakan, yang ada hanya seutas senyum dan sapa hangat di pagi hari, sepanjang melewati gerbang Senaru dan bertemu dengan mereka yang baru akan mendaki lewat jalur ini. ThanksGod. 🙂

Di perjalanan mencari sumber air. Hati-hati kalau jalan, karena banyak ranjau darat.
Di perjalanan mencari sumber air. Hati-hati kalau jalan, karena banyak ranjau darat. (Kali ini modelnya Kak Put dan Debi) Photo by : Dyah Ayu Pamela

NOTE :<
aat akan menuliskan cerita ini, saya sempat wawancara dengan traveler untuk sebuah artikel “Traveling With Style”. Ngobrol panjang lebar, si mbak Khairiyyah Sari yang jadi nara sumber saya ini ternyata punya kesamaan pemikiran tentang “Traveling With My Soul” hingga akhirnya saya jadikan judul. Hehe 😀

“Kalau saya traveling tuh bukan buat pamer atau gaya-gaya tapi lebih ke traveling untuk jiwa saya, dengan jiwa saya,” kata mbak Sari yang sekarang berprofesi sebagai Style Consultan ini.

Traveling with my soul ini saya diartikan bahwa kita belajar dari perjalanan itu, misalnya membaur dengan sesama pejalan, dengan orang lokal, belajar toleransi dengan teman yang barengan sama kita dan banyak hal lain yang bisa dipelajari hingga kamu lebih mengenal diri sendiri dan menemukan jati diri yang asli. Ketemu ilham baru, inspirasi baru serta memaknai kehidupan lebih dalam lagi.

Terlebih di Rinjani kemarin, secara naik gunung itu bukan hal yang semua orang bisa dan mau lakukan. Pengalaman yang tidak semua orang bisa punyai. Dengan medan yang berat (i think Rinjani it’s difficult battlefield). Menurut saya ini perjalanan yang harus dengan jiwa dan keinginan. Niat yang baik, entah karena panggilan jiwa petualang kamu. Dan itu bukan karena ikut-ikutan tren naik gunung.

Ohya buat menambah referensi kamu bisa lihat-lihat cerita traveling mbak Sari di situs http://www.thestyletravelista.com tapi kalau mbak Sari gaya traveling-nya bukan backpacker atau semi backpacker seperti saya.

Danau Segara Anak dan pemandangan Gunung Barujari
Danau Segara Anak dan pemandangan Gunung Barujari photo by : Dyah Ayu Pamela

<

B : Disini saya sertain foto-foto indahnya aja ya, trekking yang kepala ketemu kaki disimpan aja supaya nggak bikin parno buat ke Rinjani. Mungkin yang saya tulis juga tidak begitu detail tapi kamu bisa buka link ini FYI Rinjani dari Wikipedia

Backpacker, Indonesia, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, story, SUMBAWA - Indonesia, The Journey, Traveling

Menyebrang Selat Alas, Mencapai Kenawa – Sumbawa

IMG_6395
Bukit Kenawa, coba perhatikan rumputnya… photo by : Dyah Ayu Pamela

Setelah pendakian Rinjani yang memakan waktu 4 hari, saya bersama tiga teman nge-trip kali ini ikut menyambangi Sumbawa. Menyebrang Selat Alas, perjalanan dimulai dari Pelabuhan Kahyangan, di Lombok dengan kapal Fery.

Tarifnya Rp. 30 ribu, menurut petugas pelabuhan kapal ini ada setiap 45 menit-an sekali. Saya agak ragu tentang durasi jadwalnya, namun hampir cukup sering kapal ini pulang dan kembali, bila tertinggal masih ada kapal Fery lainnya yang akan menunggu.

Dua jam di dalam kapal jadi waktu yang singkat, soalnya sambil nonton film sih (di kapal fery ada fasilitas DVD plus Tv dan karaoke lhooo). Pas lagi tayang film lucu “Cinta Brontosaurus” dari novelnya si kocak Raditya Dikka, alhasil saya senyum dan ngakak-ngakak sepanjang perjalanan. 😀 😀 what’s a life? tercabik-cabik juga nontonnya, termasuk sama pesan di film ini, dulu saya sih sudah pernah nonton. (Lho kok jadi ngomongin film ya?)

Ya kan, nggak terasa…. akhirnya sampai di Pelabuhan Pato Tano, Sumbawa. Saya jadi lupa untuk merhatiin pemandangan sepanjang laut, banyak pulau-pulau kecil dari kejauhan, ekosistem yang mirip dengan yang saya lihat di video youtube kalau di Flores dan Pulau Komodo. Tapi ini Sumba ya… 🙂 🙂 🙂

Sepi,… itu kata pertama yang muncul di otak saya. Mungkin karena terbiasa dengan Jakarta yang crowded. Seneng banget bisa sepi kayak gini, serasa cuma ada berapa ratus orang saja yang hidup disini. Beda sama Jakarta yang berkumpul 15 juta penduduk (kalau hari kerja), sumpek-sumpek-an di kereta, atau geser-geseran di angkot. Ya beda lah ini liburan, getaway!!!

SONY DSC
Cuma kami yang kemping di Kenawa, pulau tanpa penghuni yang di atasnya tumbuh subur rumput dan kalau diperhatikan tumbuhnya rumput ini rapih. (Debi, jadi model kali ini)

Kembali takjub. Saya juga terkesima sama pinggir pelabuhan yang masih cukup bening air-nya…. wihhhhh bahagia banget para ikan dan biota laut yang hidup disini pasti. Karang-karangnya pun masih terlihat jelas dengan telanjang mata. Nggak salah tempat lah saya pilih Sumbawa buat pelarian setelah ke Rinjani. *Ehem*

Dari Pelabuhan Pato Tano kamu harus menyewa kapal nelayan untuk menyebrang. Range harga sewa sekitar Rp. 250-300 ribu, cobalah tawar-menawar harga. Pulangnya jangan lupa janjian untuk minta dijemput balik ke Pato Tano, minta nomor Hp jangan sampai nggak bisa pulang karena keasikan nginep di Kenawa. 😀

Terumbu karang di sekitar Kenawa dan disana dekat awan ada pemandangan Gunung Rinjani (bagusnya) foto by : Harry Iswahyudi
Terumbu karang di sekitar Kenawa dan disana dekat awan ada pemandangan Gunung Rinjani (bagusnya)

Karena pulau tanpa penghuni, pilihan kami untuk tidur ya di tenda…. nenda lagi, kan hemat, tapi baru ngeh kalau Kenawa yang jarang pohon ini ternyata membuat hawa di dalam tenda menjadi panas. Panasnya mirip kalau kamu lagi di dalam bis kota yang sesak sama penumpang. Anggap saja lagi sauna, sehat kan ngeluarin keringat.

Dan orang-orang sudah kapok nanya soal panas atau dingin ke saya, soalnya pas malam terakhir di Rinjani yang cuacanya menurut yang lain dingin, bagi saya nggak dan saya tidur tanpa pakai jaket dan kaos kaki.

Sibuk mencari angle sunrise :) photo by : Harry Iswahyudi
Sibuk mencari angle sunrise … another sunrise when we travel, beauty as always 🙂 

Ngapain aja di Kenawa?

Sore menjelang sunset kami tiba di Kenawa, di pinggir dermaga sudah ada kapal yang merapat dan itu kapal mereka yang melakukan trip menuju Labuan Bajo dan Pulau Komodo kemudian singgah sebentar di Kenawa. Karena hampir malam buru-burulah mencari tempat untuk kemping, cari kayu bakar untuk api unggun karena kabarnya disini suka ada ular, sekedar untuk awarness saja. Tapi api unggun bukan biar mereka kabur sih, kami juga bawa garam, terus wanti-wanti supaya tenda nggak kemasukan serangga dan ular tadi, tenda selalu ditutup.

Pagi saat matahari terbit adalah saat-saat bagus penggambilan gambar (seperti biasanya), naik ke atas bukit kalau tak terhalang dengan awan dari kejauhan juga terlihat Gunung Rinjani (dari bawah bukit juga kelihatan, dari pantai juga kelihatan). Nggak nyangka kalau kami beberapa hari sebelumnya ada di atas sana dan sekarang kami main ke laut, menyebrangi selat Alas, ada di Sumbawa dan kemping di Kenawa.

Dari atas bukit di Kenawa
Dari atas bukit di Kenawa, belum pada mandi (yaiyalah sejak kapan kita liburan dari gunung ke pantai mandi??) 😀

Sebelum panas matahari makin tinggi buru-buru kami membereskan tenda dan barang-barang, sebab setelah jam 09.00 adalah snorkling time!!!! By the way kaki saya masih babak belur, perih-perih karena melentung disana sini agak lambat kan jadinya naik turun bukit, ini ditambah pula kena karang pas snorkling. Lengkapppp, terima kasih kaki kamu sudah membawaku sejauh ini, terima kasih pengorbananmu, rasa perih ini nggak ada apa-apanya kok dengan keindahan yang aku lihat. (menghibur diri)

Saya heran kenapa di Pulau Kenawa banyak sampah, padahal nggak ada penghuni, ini nih salahnya sebagai traveler, suka buang sampah sembarangan. Kan sayang, tempat indah kalau terkotori dengan plastik dan bungkus makanan. Kamu jangan ya, kalau punya sampah bawa pulang lagi dan buang di pelabuhan.

Terus gimana tentang keindahan bawah laut di seputar Kenawa? ikannya variatif, warna-warni, karangnya juga banyak yang warnanya pink, tapi saya cuma sebentar snorkling berhubung nggak pinter berenang dan kaki lagi perih-perih. Nikmatin aja masa liburan ini dengan santai-santai di bawah pohon, nikmatin hari dimana saya bebas listing berita atau harus mikirin nulis apa besok. 😀