Indonesia, JAMBI - Indonesia, MOUNTAIN, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Di Ketinggian 3805 mdpl, Gunung Kerinci

foto 2 (16)
Hampir berfikir gakan bisa sampai atap langit ini, but i did it 🙂

Pukul 02.30 pagi, alarm ku berbunyi. Rasa tidur yang nyenyak tadi sekejap terhenti. Baru sebentar rasanya memejamkan mata, sehabis masak air dan makan malam setelah sampai di shelter III tempat berkemah di Gunung Kerinci.

Ini waktunya summit. Sudah harus jalan lagi, padahal baru tadi lho… Fuihhh! memang telat, betul-betul terlambat diluar dari ekspektasi. Seharusnya sampai di tempat berkemah shelter III itu paling tidak jam 19.00 malam (kenyataan jam 22.00). Trekking shelter 3 yang seharusnya bisa dilalui sekitar 1 jam saja menjadi 3 jam.

Saya masih bersyukur, karena bisa bermalam di shelter III. Bagaimana dengan teman yang lain? Esti yang semula bareng sama saya juga tak kelihatan batang hidungnya. Tak ada kabar, ditengah jalan yang makin melambat itu saya bertemu mbak Eno dan akhirnya berdua menyelesaikan misi malam itu dengan keajaiban. Bertemu 3 remaja lokal, mereka yang menuntun kami hingga bisa sampai shelter III (Hellooooo kemana guide kami???). Keajaiban, bak tangan Tuhan yang menolong di tengah kesulitan melewati jalur sulit shelter III.

Dingin bila tak bergerak, lebih baik jika menyiapkan air hangat untuk teman setenda dan cari lapangan rumput untuk pipis sambil menunggu teman yang lain bersiap-siap. Karena ini pendakian bersama, ada potter dan beberapa guide rombongan yang menuntun. Entah … siapa saja yang ada disana, karena memang baru trekking seharian itu saya belum mengenal teman dari grup selain tenda 5 yang perempuan semua. (FYI hanya ada 7 wanita di antara 40 sekian kaum adam di pendakian ini).

Entahlah, rasanya campur aduk deg-deg an gak karuan. Supaya tak tertinggal rombongan harus mengikuti irama jalan yang cepat. Jarang sekali berhenti, beda saat itu trekking sendiri dengan teman sekelompok. Sudah pasti akan ketinggalan kalau sering berhenti, jadi saya tahan semua sakit dan lelah itu. Ternyata teman saya Esti malah harus merawat kawan lain yang sakit.

Tugu Yudha
Tugu Yudha yang sering diceritakan itu, jam 05.30 sempat jamaah solat subuh di dekat sini

Beda banget, trek yang ada di Kerinci. Jalan menuju gunungnya melebar, tak ada satu jalur pasti. Kamu bisa ambil dari sebelah kanan atau kiri, hanya ada pembatas tanda besi kuning (itu pun nggak terlalu kelihatan kalau gelap). Beda dengan trek Rinjani yang terlihat jejak-jejaknya. Perhatikan teman di depan, itu saja supaya tak terperosok ke jurang di Kerinci.

Pukul 05.30 saya sudah melewati Tugu Yudha. Di dekat sana ada teman serombongan yang ngajak buat jamaah solat Subuh, cuma bertiga aja. Rasanya haru banget dan merinding,… solat subuh hampir-hampir di ketinggian 3.805 mdpl. Sampai nggak tahan untuk gak menitihkan air mata, nangis. Cengeng banget rasanya.. di ketinggian itu saya merasa dekeeeeet banget sama Allah dan bersyukur atas semua. Itu kenapa mendaki akan banyak meluluhkan ego dan rasa sombong.

Terlebih kalau ingat gimana proses buat sampai sejauh itu.  Tengah malam jam 7 masih di shelter III dan kalau tidak dipertemukan sama remaja lokal saya nggak mungkin bisa sampai atas. Nasi bungkus yang ketinggalan di potter, air minum 2 liter yang juga nggak kebawa, ah,…. agak kacau tapi Allah tetap memberi 3 remaja lokal orang asli Jambi itu sebagai penolong yang narik tangan saya di jalur yang tak mudah untuk merangkak pun. Saya harus menepi dipinggir berpegangan dengan akar batang pohon.

foto (10)
Malem-malem banget, gelap tapi masih harus lewatin jalur shelter 3 ini

I think i’m crazybut crazy in a good way . Ya sebutlah demikian! Perjalanan darat 4 hari dengan bus, menyebrang ke Pulau Sumatera lalu naik ke utara di jalur lalu lintas yang katanya berbahaya. Let say … ini suatu kenekatan. Ikut dengan rombongan hampir 50 orang jumlahnya saja sudah bisa disebut kegilaan.

Kegilaan bukan sampai disana saja, belum dengan cerita driver bus kami yang nyasar-nyasar nggak tahu jalan. Ngaret luar biasa sampai di basecamp Paimanan hingga banyak dari peserta yang tidak sampai puncak, hanya sampai shelter II bayangan karena sakit, kelelahan, atau justru nungguin dan merawat temannya yang kepayahan.

Kenapa tidak dengan pesawat via Padang? kabarnya melewati jalur lintas Sumatera akan ada semacam perompak atau begal.. Sumatera bukan daerah seramah Lombok atau Jawa. Saya sama Esti, teman yang mengajak untuk trip ini mempertimbangkan hal itu, hingga akhirnya ikut rombongan pendakian bersama Consina. Maksudnya supaya lebih aman dan kemungkinan kecil untuk terjadi sesuatu di perjalanan dan di pendakian bisa diminimalisir.

Tapi teman… dibalik semua kekacauan dan kegilaan itu ada cerita lucu dan pengalaman yang ngangenin. Belum pernah lho sepanjang sejarah mendaki habis itu saya dapet tukang pijet dan serasa di spa sama orang lokal Jambi.

Memenuhi ketegangan dengan pengalaman ketemu hantu lagi, di perjalanan menuju Pos 3, ngerasain gimana nemenin teman yang ditandu karena nggak kuat jalan, sampai ada pemandangan kubis yang seolah menyala neon pada kegelapan malam di kebun pertaniannya dekat pintu masuk pendakian. Dan,… pada akhirnya kamu bisa tahu setulus apa sebenarnya teman kamu hanya dengan perjalanan di gunung. Tahu secemas apa temenmu pas kamu belum juga balik ke basecamp.

Di Ketinggian 3.805 mdpl Gunung Kerinci, bukan apa-apa ketika bisa sampai di atas sana. Keindahannya masih kalah dengan sunrise pelangi di Rinjani atau bukit-bukit di Prau dan Semeru. Kerinci begitu gagah dari jauh, di depan mata kami dia memang dekat tapi butuh 2 hari semalam untuk naik dan turun. Dengan drama yang tak mungkin semuanya diungkapkan di blog saya ini..  🙂

Advertisements
Backpacker, Indonesia, JAMBI - Indonesia, MOUNTAIN, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Lima Hal Bahaya Mendaki Gunung Kerinci?

Bagi para pendaki, penikmat ketinggian ada beberapa gunung yang wajib dijelajahi. Kalau di Indonesia sebut saja 7 summit yang merupakan gunung tertinggi di wilayah Jawa, Sumatera, Sulawesi. Misalnya Mahameru, gunung tertinggi di Jawa atau Ceremai yang merupakan atap tertinggi di Jawa Barat.

Belum pendaki sejati kalau tak menjajal trekking kesana. Gunung terkenal di kalangan pendaki dan disebut the most beautiful mountain in Indonesia, Gunung Rinjani termasuk di dalamnya lho sebagai gunung api tertinggi ke-2.

Nah, kamu yang ngakunya anak gunung harus banget jelajahi Gunung Kerinci di Jambi. Karena memang selain merupakan atap Sumatera, Gunung Kerinci juga punya predikat the highest volcano mountain in Indonesia. Gunung api tertinggi! Soalnya puncak Cartens di Papua kan bukan gunung api.

Bagi saya bahaya banget buat ke Gunung Kerinci. Bahaya, sangat… sangat bahaya pokoknya hehehehe karena itu harus banget kesana, LHOOOO??? Iya berikut coba saya uraikan menurut pengalaman sendiri. Chech this out!

  1. Trekking Shelter 3 yang Bakal Menatang Nyali 

Kamu sudah pernah ke Gunung Rinjani yang punya semua jenis tipe tanah dan ekosistem? tetap saja harus mencoba trekking ke Kerinci. Soalnya gunung yang hanya punya satu jalur pendakian ini lumayan banget bakal menguras adrenalin kamu.

Dijamin, tak menyesal nyoba  trek di shelter 2 menuju shelter 3 yang ajibbbb. Bisa bikin kamu merasa kalau cobaan hidup selama ini nggak ada apa-apanya setelah lewat naik dan turun shelter 2 dan shelter 3.

Cek di video singkat ini ya … hehehehe atau bisa cek Instagram saya di @dyah_pamela disana lebih jelas video-nya.

2. Habitat Harimau Sumatera yang Berbahaya

Kedengarannya ngeri! tapi memang bener lho ada harimau di hutan Gunung Kerinci. Tepatnya menurut Pak Turmin, salah satu porter yang bawain tas rombongan ada di pos 2 menuju pos 3 dekat hutan lumut. Karena itu tidak diperbolehkan nenda di sekitar sini.

Saya juga kaget waktu melihat porter membawa parang. Hehe, itu buat jaga-jaga kalau ketemu penguasa hutan Sumatera. Cuma waktu tahu kalau di Gunung Kerinci ada Harimau dan itu sebelum pergi kesana cuek-cuek aja.

Baru ngeh sama pembicaraan teman sesama pendaki setelah sampai Jakarta. Kalau yang nakutin itu bukan ketemu hantu di gunung, tapi ngeri ketemu harimau. Gimana coba menghadapinya??? Ada perbincangan juga dengan teman yang saya ceritain soal harimau yang ada di Kerinci, apakah memang harimau disana betulan atau jadi-jadian alias peliharaan orang yang memuja setan. Hiiiii….. Serem.

Tak salah makanya kalau ada patung harimau di area sebelum masuk kompleks pendakian, soalnya harimau itu satwa yang ikonik di Kerinci. Cukup ketemu patungnya aja ya, yang beneran jangan.

foto (11)
Ketemu sama patungnya aja, yang beneran nggak usah hehe (in frame Gatti dan Citra teman satu kelompok mendaki Kerinci)

3. Pemandangan Danau Gunung Tujuh dari Atas Puncak

Ini super menawan! pemandangan Danau Gunung Tujuh dari atas Gunung Kerinci. Bahaya banget kan? Buat pemandangan ini tergantung lagi sama cuaca. Waktu saya ke sana sebetulnya cerah, hanya debu vulkanik itu yang menutupi pemandangan.

Sebenarnya Danau Gunung Tujuh juga sudah terlihat dari shelter 3 tempat kami menenda sebelum akhirnya berjalan 4 jam buat summit ke puncak. Tapi karena sampai di sana malam, nggak kelihatan.

Cuma bisa lihat indahnya bintang-bintang di langit saat itu dan sudah malam, lelah dan ngantuk membuat saya mengurungkan niat untuk tetap menikmatinya. Sinaran bintang-bintang lebih banyak saya nikmati keindahannya dari balik pepohonan menuju shelter 3, selama masih berusaha sampai di kamp.

foto (10)
Terlihat sebelum sampai summit, tinggal 30 menit lagi di puncak.

4. Uji Adrenalin, Asap Gunung Api Di Saat-Saat Hampir Summit

Hampir mirip dengan Mahameru yang mengeluarkan asap tebal di waktu tertentu sekitar pukul 10.00 pagi. Gunung Kerinci yang merupakan gunung api aktif itu pun mengeluarkan abu vulkanik setiap pukul 07.00 pagi.

Nah, lebih awal sekali waktu saya kesana malah jam 06.30 sudah ada asap dan bau belerang. Buat khawatir dan berfikir untuk jalan lebih cepat supaya tetap bisa sampai atas tepat waktu. Tapi setelah sampai nyatanya walau ada abu itu tetap saja teman-teman yang lain juga baru turun jam 09.00 an.

Masih terhitung beruntung juga, soalnya angin membawa abu vulkanik ke samping kanan. Sehingga tak cukup berbahaya untuk mereka yang berada di atas. Ini akan berbeda ceritanya kalau angin membawa ke depan atau tengah. Sudah pasti abu vulkanik yang berbahaya itu harus dihindari dan penjaga disana akan melarang untuk naik sampai puncak.

Uji adrenalin ini terhitung lumayan, dibanding waktu mendaki Rinjani yang tak kalah sulit trek-nya. Perbedaannya jalur pendakian Kerinci itu gampang sekali membuat tersasar karena lebar, atau masuk jurang ke samping.Sementara Rinjani sudah ada trek atau jejak yang cuma satu jalur naik ke puncak tinggal diikuti saja.

foto (34).JPG
Asab abu vulkanik yang diterbangkan angin ke samping kanan, masih jam 6-an lho padahal

5. Tipikal Gunung dengan Hutan Tropis ini Menguji Keberuntungan

Cuaca Kerinci yang sering hujan karena ekosistem hutan hujan tropis ini juga jadi tantangan. Selain itu menurut syaa ikut menguji keberuntungan, soalnya ke gunung itu juga keberuntungan bisa ketemu cuaca bagus atau bisa lancar sampai summit.

Tak dapat dihindari, ada hujan gerimis. Bahkan bisa jadi hujan deras. Makanya disarankan juga membawa jas hujan. Itu benda yang harus wajib dibawa. Supaya tenda aman saat cuaca hujan saya pun paling ngingetin untuk bawa flysheet. Minimal nggak kan banjir dan bisa tidur nyenyak.

Sering hujan, buat jalur yang akan kamu lalui di Kerinci ikut sulit. Bisa licin dan tanahnya gempur. Harus hati-hati banget. Jadi untuk pendakian ke Gunung Kerinci memang sebaiknya memakai sepatu gunung, jangan sendal gunung apalagi jenis yang lain.

DSCN9559
Sepanjang jalan yang ada hutan teduh, menyejukan hati dan adem tentunya.