Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Cerita kemping Ranca Upas – Ciwidei Bandung

Lama juga nggak kemping, lama nggak main ke gunung- gunung di Indonesia. Rasa kangen itu, buat pecinta alam seperti saya kadang nggak bisa dibendung. Tapi setelah melewati perjalanan panjang 2 minggu trekking ke Pegunungan Himalaya awal tahun 2018 kemarin, “penyakit” kangen naik gunung ini sudah setengahnya terobati. 

Tapi namanya panggilan jiwa, buat nanjak mungkin kadang-kadang kepingin juga.. Paling tidak ikut kemping ceria yang tidak perlu trekking berhari-hari sudah cukup bisa mengatasi kerinduan menjelajah. Anak yang nggak bisa diem ini pun jadi sulit melewatkan ajakan buat kemping. Sebutlah begitu, walau tujuannya nggak sekedar kemping sih 😂, mau mencari jiwa, banyak ngobrol dan lebih mengenal. Tapi mood Cancer saat pergi lagi melow, banyak diem gitu, nggak ngerti deh kadang-kadang.

Gimana cara kesana?

Jadi kami berangkat pagi banget, jam 05.00 dari Cibubur naik travel buat ke Bandung. Kepagian banget ya? Karena memang menghindari macet, tahu sendiri kalau weekend macet Jakarta pindah ke Bandung. Tapi ternyata lancar banget guys, jam 07.00 pagi kita sampai di Pasteur. Dingin banget, Kota Bandung sekitar 20 derajat 😱. Tempat travel kita turun kebetulan ada warung tukang bubur, jadi sekalian aja sarapan disitu. Sambil nunggu temen yang mau nganterin motor sewaan buat ke Ranca Upas. FYI dari Pasteur kita masih harus berkendara dengan motor sekitar 2-3 jam. 

Ranca Upas memang letaknya ke arah Selatan Bandung, searah kalau kita ke Kawah Putih. Udara pagi Kota Bandung yang tadinya dingin, setelah pukul 10.00 berubah jadi panas. Hahaha, padahal kita naik motor dan bermacet-macetan. Bayangin aja gimana kondisi bawa carriel gede ditaruh di depan, terus nyalip-nyalip mobil di pinggir. Berbekal GPS dari GMaps aja, yang tentu saja sudah diubah mode-nya tanpa melintasi jalan tol. Sempet berhenti pas jam makan siang sih, kita laper dan makan di rumah makan Padang hahha. Untung enak makanannya.

Singkat cerita, sampai juga di Ranca Upas. Asli panas terik, tapi udaranya lumayan dingin mirip di puncak. Sampai disana bingung, karena ini tempat ramai sekali. Kempingnya nggak kebayang aja, maunya sih yang bener-bener seperti di gunung yang deket pohon atau di bawah pohon atau di dalam hutan. Kita survei tempat tuh akhirnya, mau dimana kempingnya? Di deket danau kelihatannya adem tapi banyak banget manusia, sementara yang ajak sepi itu di sebuah lapangan luas tanpa pepohonan yang terbayang kalau pagi pasti bakal kepanasan dan mesti buru-buru beresin tenda. Hufft.

Entah gimana. Diem lah dulu di warung. Lumayan lama banget sampai nggak tahu mau ngapain lagi kan habis solat zuhur. Tau-tau ngobrol sama mas-mas disitu, cerita-cerita, eh ternyata anak kampus ISBI lagi ngadain semacam ospek buat anak seni. Tadinya agak bete sih, kita lama banget di warung 😂. Udah kenyang, udah makan, udah solat, mati gaya banget berdua, udah ngetawain lawakan di IG, beruntung rasanya ketemu sama si anak teater ISBI (Institut Seni) ini karena kita dibolehin kemping deketan mereka, yang masuk ke dalam hutan gitu.. “lumayan tenda sama tas kita ada yang jagain kan,”.. “bener juga” dalem hati. 

Dan bener, beruntung banget kita kenal sama si anak-anak kuliah teater ISBI ini. Kempingnya jadi adem, di depan kita juga jadi ada hiburan anak-anak lagi cekakakan gak jelas ngetawain hidup. Pokoknya random, kadang jadi ngaca aja. Dulu pas kuliah saya gini juga gak sih?? Ah nggak, dulu sih fokus belajar biar cepet skripsi dan lulus aja. 

Kemping yang nggak terencana rapih ini not bad lah jadinya. Di sisi lain yang salah tentang kemping ini kita gak bawa gas buat masak, padahal udah bawa kompor dan nesting, juga perbekalan makanan. Mau beli gas juga nggak dapet keliling swalayan dan akhirnya kita mah malah tetep makan nasi goreng sama ke rumah makan Padang 😂✌🏻. Nggak masak sama sekali. Agak mubazir deh berat-berat bawa itu semua. Rasanya kurang prepare.. next time mesti prepare lagi yang rapih dan entah gimana aku sukanya diajak nonton atau makan berdua aja kalau begini, walau ngobrol ceritanya berasa sebentar cuma 2-3 jam tapi kok ada kesan malah quality time dan justru jadi menanti-nanti hari buat ketemu lagi🙂. 

Advertisements
Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Weekend Getaway – Petik Strawberry di Ciwidey Bandung

Long weekend bisa disebut begitu karena ada tanggalan merah di hari Jum’at pekan lalu. Tapi ini perginya Sabtu Minggu, jadinya sebutlah tetap weekend getaway. Niatnya mau kemping ceria ke Rancaupas, Bandung.

Tapi cerita ini bukan tentang kempingnya. Tanpa buat itinerary, saat mau balik ke Pasteur secara spontan mampirlah kami ke kebun strawberry. Tadinya mau makan duren, FYI ada duren juga di sepanjang jalur ke arah Ciwidey itu. Kebayangnya gimana metik strawberry? eh ternyata lucu seru juga. Bisa langsung metik strawberry dan makan buahnya. Masih fresh dan bisa milih sendiri yang sudah merah matang dan rasanya manis atau agak kecut asam karena belum begitu matang.

Petik strawberry dimana? Sepanjang jalan menuju Rancaupas Ciwidey itu ada banyak, jadi tinggal pilih aja mau berhenti dimana. Nah kamu juga jangan khawatir strawberry ini bukan buah musiman, sepanjang tahun ada dan dia panen 2 bulan sekali. Menurut bapak petaninya tanaman strawberry disirami air 2 hari sekali.

Begitu parkir motor, langsung disamperin bapak-bapak yang penunggu kebunnya. Tanya dong berapa harga untuk petik strawberry. Lumayan, Rp 80.000 per kilogram, tidak dihitung per orang tapi per kilogram yang dipetik ya. Kita lalu tawar-menawar dan karena merasa mahal, bukan apa soalnya di jalanan ditulisnya harga strawberry Rp 5.000 (yang kecil). Akhirnya si bapak rekomendasi untuk pergi ke kebun sebelah, boleh dapet Rp 60.000 per kilogramnya.

Cusss.. karena sudah ditawarin yang lebih murah kita mau. Ternyata jarak kebunnya tidak begitu jauh. Begitu sampai dikasih keranjang dan gunting untuk metik strawberry-nya. Sekeranjang itu katanya akan pas timbangan 1 kilogram. Terus kita juga dikasih topi petani gitu yang di cat warna warni gambar strawberry. Jadi serasa lagi bertani strawberry.

Panas banget mataharinya terik, jadi si topi ini memang mesti dipakai. Terus keliling-keliling deh, milih strawberry yang kira-kira matang dan mau dipetik. Langsung makan juga bisa haha, kalo aku kebanyakan petik langsung makan.

Backpacker, Himalaya, Nepal, story

Rekomendasi Penginapan di Nepal Selama Pendakian ke Himalaya

Mendaki gunung kan biasanya bawa tenda ya, beda cerita kalau kamu ke Nepal, pegunungan Himalaya. Disini kamu bakal nginep di semacam tea house atau guest house milik penduduk lokal.

Kenapa? Soalnya pemerintah Nepal menganut sistem yang memberdayakan orang lokal untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat menginap yang sekaligus menjadi tempat wisatawan berinteraksi, mengenal budaya, dan dengan begitu menjadi sumber ekonomi bagi penduduk yang tinggal di sepanjang jalur pendakian Himalaya.

Tidak ada hotel kelas internasional disini. Tapi bukan berarti tidak nyaman. Justru aku menemukan kenyamanan lain dari keramahan warga lokal. Asiknya, rumah penduduk yang juga sekaligus menjadi restoran, memberi kesan yang beda saat aku di Nepal. Saat aku nonton tv bareng mereka aku merasa heran, kok siaran tv mereka film India Bollywood gitu. Ternyata orang Nepal juga bisa sedikit bahasa India lho.

Ada banyak perbincangan sama orang lokal, kita sebagai wisatawan juga jadi bisa langsung tanya-tanya seputar kehidupan disini dan aku jadi tahu kalau anak-anak Nepal ternyata belajar Bahasa Inggris juga sejak SD. Rata-rata porter maupun penduduknya sudah fasih dengan Bahasa Inggris, ya karena disini daerah wisata dengan turis dari seluruh penjuru dunia yang penasaran dengan jalur pendakian Himalaya.

Oke. Intro-nya cukup panjang ya, langsung saja aku rangkum tea house atau guest house yang jadi tempat menginap aku sepanjang jalur pendakian Everest. Tapi point 1 dan 2 aku tulis dulu rekomendasi hostel di Kathmandu sebelum terbang ke Lukla. FYI kebanyakan turis asal aja pilih guesthouse sekenanya, soalnya tidak tentu juga berhenti di desa mana.

(1) Hotel Himalaya Yoga – Kathmandu (nilai 7,5)

Tahu hotel ini karena lihat review yang bagus di booking.com maupun agoda. Harga per bed itu sekitar U$D 5 dengan kamar tipe asrama atau doormitory. Enaknya kalau menginap disini itu bisa sekalian yoga gratis setiap pagi. Hotel ini juga menerima antar jemput bandara dengan tambahan biaya sekitar 1000 Ruppe Nepal atau setara U$D 10, yang kalau kamu di bandara nyari sendiri taxi bisa nawar sekitar 700 Ruppe Nepal atau setara U$D 7. Lokasi strategis di Thamel, dengan kamar mandi bersih, hot shower juga. Pemiliknya ramah dan staf juga membantu, bahkan kamu bisa nitip barang selama mendaki dan ketika balik ke Kathmandu bisa diambil lagi.

(2) 327 Thamel Hotel (nilai 8)

Kalau suka lingkungan yang hijau dengan taman, tempat bersih dengan toilet dan shower termasuk air hangat, sekaligus budget murah, bolehlah aku rekomendasikan 327 Thamel. Lokasinya juga dekat kemana-mana, kalau mau jalan-jalan ke Thamel. Disini juga ada restoran, jadi kalau malas kemana-mana bisa turun aja dari kamar. Tempat penyimpanan dengan kunci dan fentilasi cukup terang bikin kamu seperti di rumah. Aku merasa seperti lagi di garden house gitu. Tipe kamar doormitory dengan harga sekitar U$D 5 per bed.

(3) Himalayan Lodge (nilai 8)

Lokasinya di Desa Namche, atau dikenak dengan nama Namche Bazar. Disini tepat di ketinggian sekitar 3000 kaki, tempat pendaki beristirahat untuk aklimatisasi membiasakan tubuh di ketinggian dengannoksigen tipis, sebelum menuju jalur Everest.

Tahu tempat ini karena buka Tripadvisor dan review-nya bagus. Kaget juga, kok murah banget nginep disini cuma Rp. 45.000 per malam. Sampai niat untuk booking lewat online supaya bisa dapet tempat.

Ternyata saat sampai sana kamarnya masih banyak tersedia soalnya memang bukan musim pendakian. Lalu harga kamarnya cuma 200 Ruppe Nepal setara U$D 2, murah banget yesss? Walau harga makanan ya beda lagi, kalau mau mandi hot shower bayar U$D 3 lagi, charger baterai bayar U$D 2 lagi, hahaha dan wifi juga bayar lagi. Akhirnya ya dihitung-hitung U$D 10 juga budget-nya.

Yang aku suka disini itu pemiliknya ramah banget. Seperti ibu sendiri, dia yang beberes kamar dan masak buat tamu, dibantu sama seorang anak perempuan dan entah ada suaminya juga atau nggak disitu. Tapi tiap kali minta tolong dan memesan dia ramah banget, ngebantu banget apalagi saat saya butuh komputer buat booking tiket pulang pun dia mau ngedengerin permintaan tolong padahal lagi repot masak pas disamperin di dapur.

(4) Budha Family Lodge

Di gorak Shep, ketinggian sekitar 5000 mdpl, tempat sebelum pendaki menuju Everest Base Camp (EBC) kamu mesti aklimatisasi dulu disini. Aku pun karena sempat mengalami yang namanya AMS atau penyakit ketinggian yang pening pusing luar biasa itu sampai harus nginep 2 hari disini. Harga kamar disini masih U$D 2 dengan makanan yang melambung harganya sekitar U$D 5-7 karena kan makin tinggi. Bahkan apel aja satu buah saja U$D 2,5 alias satunya Rp 30.000 😂

Lodge ini menurutku masih baru makanya bersih. Terlihat dari teriplek rumah yang kelihatan baru. Jadi kamar mandinya bersih, soalnya pemiliknya ibu perempuan dan suaminya suka bersih-bersih. Jam 8-9 pagi mereka sudah sibuk masak air dan menyapu.

Dibanding lodge yang rumah sebelahnya, aku rekomendasi menginap disini karena lodge sebelah, lantainya aja licin sampai buat aku mau kepeleset saking nggak bersih ngepel-nya. Berhubung pemilik dan penjaganya laki-laki mungkin, aku perhatiin begitu. Tiap kali menginap di lodge yang diurus sama orang lokal yang tidak ada perempuannya, kurang terurus terutama kamar mandinya yang kurang bersih.

(5) Rivendell Lodge

Ini lodge saat bermalam di Debuche. Kenapa rekomended? Soalnya pemandangan dari lodge ini tuh bagus banget. Dari restorannya kamu bisa melihat pemandangan hamparan gunung es. Intinya itu aja, halaman luarnya juga luas langsung menghadap pemandangan yang amazed, kalo kamar standart kebersihannya sama dengan lodge umumnya yang termasuk selimut bedcover.

Cuma memang kamar mandi disini nggak begitu banyak air. Saking dinginnya juga sudah jadi es di suhu minus 5-10. Ketinggian lebih dari 4000 mdpl jangan ditanya ya 😂. Harga semalam masih 200 Ruppe Nepal atau setara U$D 2 dengan makanan dan charger maupun hot shower yang masih harus bayar lagi. Mulai di ketinggian ini kita akan kesulitan listrik. Mereka masih menyimpan listrik dari tenaga matahari juga.

Backpacker, culinary, Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (3) Kulineran dan Belanja Oleh-oleh di Kota Thamel

“Ini kok itinerary-nya dua hari di Thamel, ngapain lama-lama. Jalan-jalan di kota habis trekking aja, nanti keburu capek,” saran seorang teman lama yang sebulan lebih dulu pergi trekking ke Himalaya.

Saya tiba malam sekali, pukul 22.30 waktu Khatmandu. Sengaja mengambil pesawat sore dari Jakarta maksud hati tidak ingin berteman kemacetan. Bisa siang dari rumah di saat orang-orang sudah berangkat kerja. Namun, perkiraan itu salah. Rasanya macet Ibu Kota sudah tak kenal waktu lagi.

Ditambah, siangnya sebelum ke bandara saya ke Kawasan Sarinah dulu untuk menukar mata uang Dollar. Celakanya, tak segera sadar, jam di tangan sudah menunjukan pukul 13.00, PANIK iya, lalu langsung membatalkan rencana untuk ke Gambir naik bus Damri, karena perkiraan saya bila menggunakan moda transportasi itu harus menunggu penumpang agak penuh.

Oke judulnya kulineran dan oleh-oleh ya, selingannya banyak banget hehe…

Saya baru keliling Kota Thamel pukul 10.00 pagi. Entah kenapa, hening sekali suasana Kota di jam 07.00 pagi, karena alasan itu juga saya santai-santai saja di dalam hotel. Cuma beres-beres perlengkapan dan mandi, lumayan capek juga baru tiba semalam. Penerbangan lebih dari 6 jam dengan 1 jam transit di KLIA Malaysia dirasa sedikit melelahkan.

So, ada aroma dupa. Thamel penuh jajaran kios-kios rapih beberapa blok yang hampir kesemuanya menjual barang-barang serupa. Kesan saya, negara ini begitu etnik, unik, semua tentang hand crafting berupa rajutan buatan tangan, dan Thamel begitu populer untuk turis.

Hanya agak sedikit terganggu saja ketika membuka kamera lalu ada orang lokal yang menawari menjadi guide atau jasa porter pendakian ke Himalaya.

Ada banyak agen tour disini.. tapi saya tahu dari membaca kalau mendaki Himalaya tanpa guide atau porter itu sangat mungkin, jadi saya yang budget traveler ini meminimalisir biaya tersebut untuk dialihkan ke cost lain seperti oleh-oleh. Toh membawa beban 5-7 kg pun terasa masih sanggup.

Rekomendasi apa saja untuk kuliner di Thamel?

Kalau menginap di sebuah guest house atau hotel, tentunya mereka punya restoran.. sebenarnya tak perlu jauh-jauh pergi, pesan saja di restoran tempat menginap.

(1) Mulailah dengan memesan secangkir Masala Tea

Harganya sekitar 60 Rupee Nepal hingga 100 Ruppe Nepal. Waktu saya kesana kurs-nya 1 U$D adalah 101,5 itu berarti harganya sekitar 1 USD atau kalau dirupiahkan Rp 10.000 – Rp 13.500 untuk harga di Thamel, karena kalau di pedesaan semakin tinggi gunung semakin mahal harga makanan dan minuman.

(2) Makan Siang/Malam Dhal Bhat

Dhal bhat itu wajib banget harus dicoba ketika datang ke Nepal. Namun memang porsinya gede, bisa buat makan 2 orang satu porsinya. Harganya sekitar 300 Rupee atau 3 U$D per porsi dengan nasi biryani yang butirannya panjang-panjang, kari tergantung pesannya chicken curry atau beef curry, lalu ada acar dan kerupuk khas sana juga sayuran yang dimasak dengan curry.

(3) Camilan Khas Mengenyangkan, Momo

Momo semacam dumpling atau dimsum kalau di masakan Cina. Isinya bisa vegetarian berupa sayuran atau juga ayam. Bumbunya kalau di Thamel menggunakan campuran tomat, coriander atau daun ketumbar, dan lada putih. Rasa bumbunya agak asam. Harganya cukup terjangkau 150 Rupee saja atau sekitar 1,5 U$D.

(4) Minuman Lassi

Saya penasaran dengan kata lassi itu apa jadi mencobanya. Ternyata minuman lassi adalah yogurt. Jadi kalau disebut banana lassi itu berarti buah pisang yang di-blender bersama yogurt kebayang kan rasanya seperti apa, ya mirip-mirip milkshake jadinya.

(5) Makanan ala Western

Ada banyak kios yang menjual makanan Western seperti kentang goreng dengan ayam goreng renyah. Lalu sausnya yang agak beda sih, menggunakan yogurt kental yang ditambah potongan bawang merah besar. Terbayang enaknya? Kalau lapar apapun pasti enak.

Rekomendasi Oleh-oleh yang Bisa Dibeli di Thamel :

(1) Masala Tea

Masala tea dikemas sebagai oleh-oleh yang menarik karena sekalian dapet tas kecil. Satuan bungkus masala tea ukuran 100 gram itu harganya sekitar 150 Rupee hingga 200 Rupee atau 1,5-2 U$D, tergantung banyaknya membeli dan pintarnya kamu menawar.

(2) Hand Crafting

Ada banyak hand crafting. Misalnya rajutan kaus kaki, rajutan slayer untuk leher dan penutup kepala juga bandana. Menurutku buatan Nepal cukup rapih, harganya pun masih terjangkau sekitar 100-300 Rupee Nepal atau 1-3 U$D.

(3) Kartu Pos Gambar Pegunungan Himalaya

Ini lumayan murah untuk oleh-oleh, harganya 20 Rupee Nepal saja per satuan, bisa beli banyak atau nge-posting di kantor pos-nya. Tapi lihat lagi, hari apa kamu ada disini, hari libur, tanggal merah atau hari biasa.

(4) Tempelan Kulkas

Kalau benda yang satu ini rasanya umum sekali untuk dibeli sebagai oleh-oleh ya. Ada banyak pilihan, rata-rata harganya hampir 200 Rupee atau 2 U$D, cari tempelan kulkas bertuliskan Bandara Tenzing Hillary atau pegunungan Himalaya yang kamu suka, Everest atau Makalu, Annapurna?

(5) Pasmina dari Wol Yak

Ini termasuk hal unik sebagai oleh-oleh katena di Nepal hewan Yak itu sangat dimanfaatkan sebagai transportasi, juga diternakan untuk diambil dagingnya dan ternyata juga diambil bulunya untuk dibuat pasmina. Harganya bila diskon sekitar 300 Rupee atau 3 U$D.

(6) Bendera Doa

Bendera doa jadi ikon yang sangat kental dengan Nepal. Bahkan ini ditemukan di jembatan, tempat pendakian juga dipasang di jalan-jalan di Kota Thamel. Ada banyak kios yang menjualnya harganya juga murah sekitar 100 Rupee saja atau 1 U$D. Namun saya tak membelinya, karena tidak ingin itu justru menambah barang di kamar saya.

Backpacker, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Dreams Destination (1) : Himalaya – Annapurna

Sumber foto : mountain kingdom

Hai para traveler…. Apa destinasi impian mu berikutnya? Dua tiga tahun yang lalu saya sempat berkeinginan ke India tapi belum klop dengan travelmate nya dan ada “sign” bahwa jangan kesana dulu.

Tak berhenti punya impian dan keinginan menjelajah. Salah satu keinginanku yang kepingin banget bisa diwujudkan yaitu ke Himalaya!

Yup! Deretan pegunungan tertinggi di dunia itu, begitu punya magnet. Oke! Daripada impian ini hanya jadi sekedar impian, saya tuliskan saja. Tulisan ini akan mengingatkan gimana saya meluangkan waktu cari data dan riset pendakian ke Himalaya.

Sumber foto : tigabumi.com

Kenapa Annapurna? Soalnya tempat ini salah satu pegunungan yang terkenal di Himalaya. Saya nggak berniat sampai puncak salah satunya kok. Cukup di Basecamp Annapurna saja, mengingat waktunya bisa satu bulan, eh ternyata dua minggu busa, kalau ingin mencapai Basecamp Everest.

Perjalanan ke Nepal (ABC), Annapurna Basecamp ini memerlukan waktu sekitar 2 Minggu, itu pun minim sekali. Sebaiknya ditambahkan sekitar 16 hari, berjaga-jaga pendakian tak mulus. Karena dari pengalaman, target dan pencapaian suka mundur, banyak istirahat atau kebanyakan motret.

Pertama saya tuliskan dulu keperluan utama selama 17 hari di Nepal (secara umum).

(1) Tiket Pesawat : sekitar Rp. 5 juta

(2) Visa VOA : 40 USD Rp. 532 ribu

(3) Biaya Menginap

(4) Biaya makan

(5) trekking permit : Rp. 529 ribu (TIMS NPT 2,032 ACAP NPR 2,200)

(6) Potter : sekitar ??? Rp. 1 juta (belum Googling)

(7) simcard + pulsa sekitar Rp. 300 ribu

(8) Travel insurance : sekitar Rp. 300 ribuan

(9) Beli sepatu trekking (pikirkan nanti)

(10) Tas Carrier

(11) beli jaket musim dingin

Barang lain bisa pinjam/sewa di Pokrana, kota sebelum naik bus ke Basecamp pendakian awal.

Itinerary secara general :

Day 1 : Jakarta – Kathmandu

Day 2 : Tiket Permit, explore Kathmandu sebentar, cari tiket bus ke Pokhara

Day 3 : Menuju Pokhara, 8 jam dengan bus

Day 4 : Menuju pos pendakian pertama Phedu/Nayapul (trekking 7 day)

Day 5 – Day 11/12 : Trekking

Day 13 : Kembali ke Kathmandu

Day 15 : Kembali ke Jakarta

Itinerary Lengkap ( inspirasi dari blog @Garjoew yang disesuaikan kondisi pendakian saya)

DAY 1 :

CGK – Jakarta to Kuala Lumpur :

Kuala Lumpur to Kathmandu :

Bayar taxi sekitar 500 – 700 NPR atau Rp. 85 ribu (kalau 700 NPR)

Ke Manang Plaza (bentuk seperti ruko), mencari kantor TAAN (Trekking Agencies Assotiation of Nepal) untuk membuat kartu TIMS (Trekking Information Management System).

Adapun resgistrasi ACAP (Annapurna Conservation Area Project) harus dilakukan di Tourism board Pokhara.

Lalu cari tiket untuk bus ke Pokhrana. Kemungkinan kalau sudah malam, ke penginapan. Istirahat dan persiapan besok ke Pokhrana

DAY 2 :

Ke perhentian tourist bus, naik taxi sekitar 800 NPR atau Rp. 97 ribu, perjalanan ke Pokhrana selama 8 jam, bus ini tanpa AC dan suspensi keras.

Lalu setelah tiba ke Tourism Board untuk mendapatkan izin mendaki ACAP, Tempatnya agak tersembunyi. Bisa jalan kaki dari bus station Pokhara.

Lalu mencari penginapan di Pokhrana, persiapan pendakian besoknya. ATAU bisa sekalian ke lokasi trekking permulaan di Nayapul, titik pertama trekking.

TIMS, ACAP, PERLENGKAPAN OKE.

DAY 3:  Nayapul – Birethanti – Hille – Tikhedhunga – Ulleri

Mulai Trekking, desa pertama yang akan dilewati adalah Birethanti. Pos untuk registrasi ada di desa ini. Terletak di dekat Prayer Bridge, sebuah pos kecil dengan 2 orang penjaga. Prayer Bridge sendiri cukup mencolok, dengan lembaran kain doa warna-warni seperti bendera-bendera kecil tergantung hampir di seluruh batang truss jembatan baja ini. Setelah ini tujuan adalah Hille kemudian Tikhedhunga dan target hari ini, Ulleri.

Menuju Hille, jalur trekking berupa jalan tanah di tepi jurang dengan sungai mengalir di bawahnya. Jalan naik-turun dan berkelok dengan sinar matahari menyengat di atas kepala.

Siang jam 13.00 harus berhenti dan makan siang, semoga sudah sampai di Hille.

TANTANGAN Trekking :  paling berat untuk hari pertama, jalur menanjak tanpa ampun menuju Tikhedhunga hingga Ulleri. Dan jalur ini memaksa break tiap 15 menit sekali. Walau sudah tertata berupa tangga batu yang memudahkan, tapi tetap saja 3 jam tanpa bonus datar ataupun turunan benar-benar menguras tenaga. Cenderung Panas Alam terbuka

BERMALAM : Mengingat sudah mulai gelap dan memang ngos-ngosan, sebuah guest house bisa ditemukan tepat setelah memasuki gerbang desa Ulleri.

DAY 4 : Ulleri – Nangethanti – Ghorepani

harus mencapai Ghorepani dan menjemput sunrise di Poon Hill keesokan paginya. Setelah sarapan, 07.00, trekking berlanjut, target sebelum gelap harus sudah sampai Ghorepani. Masuk ke hutan, Pukul 10.00 kemungkinan kabut mulai turun, udara sejuk ini memudahkan perjalanan. Siang sekitar pukul 11.00 sampai di desa Nangethanti. Perut keroncongan, akan pas banget dengan kehadiran tempat makan Hungry Eyes di awal desa.

Lanjut siang di pukul 12.30 setelah solat start ke tujuan akhir hari ini, Ghorepani. Hiburan selama trekking di hutan ini. Adalah Laligurans (Rhododendron arboreum), tanaman yang bunganya dinobatkan sebagai bunga nasional Nepal.

Menjelang sore, sampai di Ghorepani bawah, kalau ingin lebih dekat ke Poon Hill jadi harus ke Ghorepani atas. Menuju ke Snow View Lodge, penginapan di salah satu sudut jalan. Harganya sekitar 200 NPR per night per orang.

DAY 5 : Ghorepani – Tadapani – Chuile

Bangun Pagi. Jam 4 pagi, cuaca dingin sangat bisa mengganggu tidur, karena itu peralatan hangat badan, seperti sleepingbag yang tahan cuaca dibawah nol sangat penting. Saat pagi diisi dengan menaiki bukit menuju viewpoint di Poon Hill. Ada pemandangan mengarah langsung ke deretan puncak-puncak Annapurna yang menjulang.

Tujuan trekking selanjutnya Chomrong. Kembali dalam perjalanan perlu memerhatikan kondisi cuaca, jika tidak bisa sampai bisa berhenti di Chuile. Di Chuile bisa bermalam di lodge yang sedikit ‘unik’, Hillside Lodege kalau tidak salah namanya (bangunan tua).

DAY 6 : Chuile – Chomrong – Shinuwa – Bamboo

07.00 bisa mulai menuju Chomrong, ternyata Chuile ke Chomrong lumayan jauh dan menanjak, kira-kira siang baru akan sampai sekalian makan siang. Perjalanan bisa saja terganggu karena cuaca hujan. Penginapan Bamboo Lodge sebagai tempat bermalam tidak memiliki perapian.

DAY 7 :  Bamboo – Doban – Himalaya Hotel – MBC

Target bisa sampai Machapukhare Base Camp (MBC), siang bisa sampai di Himalaya Hotel (jika sudah sampai sini berarti setengah target selesai). Ujian sebenarnya adalah trek menuju MBC, karena salju dan kemungkinan longsor.

Himalaya Hotel and Restaurant bukan sebuah desa seperti sebelum-sebelumnya dan memang tidak ada lagi desa di ketinggian ini. Makan siang di lembah gunung degan puncak tertutup salju abadi, keren sekali. Kami sudah benar-benar dekat dengan kaki gunung Machaphukare. Puncaknya yang mempunyai ketinggian 6993 mdpl berbentuk runcing dan terbelah 2, menyebabkan ia dinamai machapukare  yang juga berarti fish tail – ekor ikan.

Machaphukare kabarnya tidak boleh lagi di daki karena ditetapkan sebagai ‘tempat suci’ oleh penduduk sekitar. Saya hanya berniat menyambangi basecamp nya saja yang berada di ketinggian 3700 mdpl.

Melewati tepian jurang bekas longsor salju dan membelah lembah dengan sungai gletser yang mengalir deras. Kabut tebal yang bisa tiba-tiba datang membuat harus menerka-nerka arah jalan setapak. Trek cukup berat. Akan ada pemandangan menakjubkan lembah Machaphukare. 16.30 sore kemungkinan sampai di MBC.

Besok masih ada ABC dan setelahnya harus langsung bergegas turun gunung.

DAY 8 :

Annapurna Base Camp (ABC). Jalur benar-benar tertutup salju tebal. Hamparan salju dikelilingi puncak-puncak Annapurna dan Machaphukare. Berjalan di ketinggian lebih dari 3700 mdpl dan diatas hamparan salju sungguh tidak mudah. Meski dengan jaket tebal rangkap 2, kupluk berlapis dan sarung tangan, nyatanya dingin masih juga menusuk, 2 jam perjalanan menuju ABC 4,130 mdpl!

Tepat tengah hari segera turun dari ABC menuju Bamboo. Pukul 16.30 selamat sampai di Bamboo.

DAY 9 : Bamboo – Chomrong – New Bridge – Landruk

dari Bamboo dengan tujuan Landruk, sembari berharap besok pagi ada angkutan (Jeep) dari sana ke Pokhara. Target sampai sebelum gelap. Sepanjang Bamboo, Chomrong, New Bridge hingga Landruk dipenuhi dengan tangga batu curam! Counterpain dan koyok jangan lupa dibawa. Kira-kira sampai di Landruk pukul 17.15 saat hampir menjelang malam.

Catatankhusus :

Jeep untuk turun menuju Phokara. Mobil angkutan ini mirip off road jeep 4WD-double gardan. Karenanya dia santai saja melibas jalanan tanah dan berbatu di pinggiran jurang. . Perjalanan di jeep kondisinya akan seperti bergoncang hingga lebih dari 3 jam sampai akhirnya ketemu jalan ber-aspal.

Ada hostel murah di ujung gang di kawasan Lake Side. Hanya 600 NPR per malam untuk 2-3 orang. Ini murah sekali, dengan fasilitas 1 king bed dan 1 standard bed, beserta air panas di kamar mandinya cukup menghibur badan yang lelah…Mountain Dream Hostel rekomendasi nya.

Links bantuan :

Lakpa Sherpa di http://www.adventure14peaks.com

atau  https://www.facebook.com/thendu.sherpa

Backpacker, story, The Journey, Traveling

Galau Traveling Kemana? Ini Jawabannya

Katanya hati manusia itu paling cepat berubah. Kemarin mau itu, sekarang beda lagi. Besok-besok punya keinginan lain. Wajar-wajar saja kok, asal jangan hati perasaan yang gampang berubah bila sekarang suka pacar tapi tahu-tahu besok nikah sama yang lain ya.. 

Kalau ini soal galau traveling. Pernah kah mengalaminya?

Belakangan dan dua tahun yang lalu Saya mulai mengalami galau traveling ini. Awalnya mau explore Nusa Tenggara Timur (NTT) di tahun 2015, tapi kok malah ke Gunung Rinjani dan Sumbawa? Di 2016 juga, sempat mau explore Flores kok ya malah ke Jambi, Gunung Kerinci dan Dieng?? Ini banyak pengaruhnya, karena sikon (situasi kondisi) pas Kerinci aman buat didaki dan kapan lagi kan?? Selagi muda yang susah-susah dulu, selagi kuat naik gunung. 

Tahun 2017 ini saya menahan diri untuk tidak traveling dengan biaya sendiri. Tapi kok rasanya kenapa susah ya??? Seperti butuh penyegaran sekali waktu ditengah kesibukan kerja dan selagi muda, belum berkeluarga kenapa enggak. Itu lagi jawabannya… So galau menentukan akan pilih destinasi, kemana, sama siapa ini masih berlangsung, apalagi kalau lihat postingan teman di Instagram.

Ahhh… tapi ternyata saya dapat kuncinya. Ini jawaban supaya tidak galau dan menyesal memilih destinasi dan supaya traveling menjadi berarti buat improve diri dan kehidupan. Berhubung uang saya masih ada nomor seri (tidak begitu banyak), waktu cuti juga tidak begitu banyak, harus pilih-pilih.

2015 Rinjani, 2016 Kerinci

(1) Tahu Apa yang Diinginkan

Ini paling penting menurutku, bagaimana pun traveling itu bukan ikut-ikutan teman. Mungkin di awal belum berani, jadi ikut saja teman ajak kemana. Tapi pada akhirnya akan ketemu apa yang kita mau. 

Suka gunung atau pantai, suka city tour atau explore budaya. Untuk tahu itu harus mencoba semuanya dulu,.. perlahan semuanya proses menemukan diri. Semakin sering traveling, semakin tahu apa yang lebih disukai. 

(2) Tahu Ada Dimana Tingkatan Traveling Kamu?

“Every expert was begginer,” – Helen Hayes …. Pepatah ini betul banget 😀

Apa baru mulai? Apa sudah sering? Atau sudah rutin sekali jadi agenda tahunan?. Kalau masih setahun keranjingan traveling, mulai saja dari yang terdekat dulu. Kepulauan Seribu, explore Bandung, ke Kota Tua Jakarta juga oke… yang penting kan maknanya, bukan tempat terjauh dulu. 

Waktu naik gunung saya juga coba yang paling mudah dulu. Pertama banget ke Papandayan di Garut, lanjut gunung yang gradien-nya curam, lalu ke Rinjani. Setelah itu nyoba juga ke Ceremai pendakian saat hujan Gunung Ceremai atau mendaki Gunung Gede oke, apalagi ke Kerinci yang astaga itu trekking-nya susah.. 😱 step by step aja.

Sebenarnya terserah juga, tidak perlu kaku, tapi start dari sini kamu juga bakal menyadari keinginan buat improve pengalaman traveling. Setelah banyak jelajah yang dekat-dekat dulu. . Dan makin tahu kamu sebenarnya tipe pejalan yang seperti apa? Semi backpacker, backpacker, atau koper?

(3) Berupaya Naik Tingkat Daya Jelajahnya

Kalau dulu baru coba-coba pergi semi backpacker sama teman ke Bali. Lalu keliling Asia Tenggara, salah satunya Vietnam sama kelompok kecil teman. Nah selanjutnya boleh explore hal lain, misalnya nyoba negara-negara Asia Timur atau dari Pulau Jawa-Bali mulai explore Indonesia Timur. Dari situ kan jadi naik tingkat pengalaman. Jadi traveling kamu tak hanya disitu-situ aja. 

Dream destination, Himalaya

(4) Lihat Timing

Bagi saya timing atau waktu itu jadi pertimbangan. Ini bisa menjadi ukuran prioritas hidup. Banyak yang bilang kalau naik gunung itu saat masih muda, karena masih bugar, fisik kuat, stamina dan sangat memungkinkan untuk itu. Makanya saya bela-belain selagi masih muda dan belum berkeluarga. Kalau diving sih, teman yang sudah om-om usia 50 tahun juga masih bisa nyelam, masih kuat. (Kalau saya ngos banget berenang)

Begitu pun explore negara yang sulit seperti India, katanya teman baiknya dibawah umur 35 lah ke India kalau backpacker-an. Soalnya disana fasilitas transportasi tidak memungkinkan kalau sudah renta dan fisik tak sebaik usia 25-an. Sementara bagian negara yang mudah transportasinya seperti Jepang, Korea, Eropa di bagian ketika sudah mapan banget. Hehehe begitu sih prioritas saya :mrgreen:

Then…. Aplikasi di pengalaman traveling saya :

Karena mungkin sudah melihat tempat WAH seperti Raja Ampat, Maluku, Aceh, misalnya… Contoh saja ya. Ketika ke tempat biasa seperti Pahawang jadi merasa… Oh.. ya..So so lah. Bukan tidak mensyukuri, semua tempat sebenarnya bagus tergantung pengambilan angle, sudut pandangan. Jadi enaknya kalau sudah ke Jepang, lanjut negara Timur Tengah lah. (Hehehe ke Jepang aja belum pernah… Kebanyakan explore Indonesia).

Karena tahun 2015 saya sudah sampai di Gunung Rinjani, jadi 2016 lalu saya keukeuh buat naik tingkat pendakian di MDPL yang lebih tinggi, Gunung Kerinci. Gunung Api Tertinggi di Indonesia jadi cita-cita banget, soalnya kalau mau ke Cartenz Piramid di Papua agaknya harus berpikir panjang biayanya.

Next plan, sebenarnya saya kepingin banget bisa sampai Himalaya juga. Walau tadinya tidak begitu terpikirkan, bahkan sepertinya lebih cenderung explore Gunung Fuji di Jepang. Tapi lewat informasi teman ternyata Annapurna Basecamp bisa dijelajahi 5-10 hari. Penerbangan Kuala Lumpur – Khatmandu (Nepal) pun sudah ada rute nya setahun dua tahun belakangan. So, sangat memungkinkan buat kesana jika Allah mengizinkan. Amiinnn

Tapi kembali lagi, saya berkeinginan untuk bisa umroh dulu akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018. Dua-duanya akan jadi perjalanan spiritual. Entah duluan yang mana tercapai.

Finally :

So, karena tiga indikator di atas ini saya sudah tidak galau. Tadinya akhir tahun 2016 lalu saya niat ke India, bagian dari Negara di luar Asia Tenggara buat naik tingkat ke level traveling a la junkie dengan eksotisnya India. Sayang, buat wanita solo traveling kurang aman. Bye bye India sampai akhir tahun kemarin saya seleksi travelmate via email dan ngobrol di WhatsApp tidak ketemu yang setidaknya “normal” atau punya kesamaan hobi. Bukan sekedar jalan-jalan kan ke India itu, tapi Journey.

Bagian seleksi ini lucu juga sebenarnya, karena dari sekitar 10 email yang respon ternyata satu diantaranya TKW di Hongkong, lalu ada ibu rumah tangga. Rasanya 2017 yang planningnya ke India memang tidak diizinkan Allah. Saya tidak yakin betul pergi kesana dengan tanda-tanda yang tidak baik sebelumnya. 

Entahlah, dibalik rencana-rencana sebenarnya saya pun berfikir, menyerahkan semuanya ke Yang Maha Kuasa. Karena pengalaman mengatakan “santai saja, kalau rejeki tidak kemana,”. Tidak tahu akan kedepannya rencana-rencana-Nya ternyata jauh lebih baik dari yang kita duga.

Backpacker, MALUKU - Indonesia, The Journey, Traveling

Referensi 3 Penginapan Bagus di Banda Naira

dscn7573
rencana mau nge-dive juga di Banda Naira, bisa ambil paket menginap sekaligus diving di Nutmeg Tree

Banda Naira, katanya lagi jadi destinasi wisata yang naik daun sekarang. Mungkin karena duet bernama sama (karena duo ini dibentuk di Banda Naira) yang belakangan baru bubar? Hahaha tidak juga, mungkin karena tayangan acara jalan-jalan di televisi? Saya pun tahu Banda Naira dari acara jalan-jalan di Tv itu.

Dan… nggak punya cita-cita kesana sebenarnya, tapi ternyata ada penugasan liputan di Banda Naira. Lalu banyak teman yang akhirnya menanyakan atau lebih tepatnya request tulisan bocoran penginapan, transportasi hingga gimana cara kesana. Nah, baru kesampaian sekarang saya menuliskannya. Disini saya buat ringkasan referensi tempat menginap dulu, baru itinerary dan info transportasi disana di tulisan berikutnya.

FYI postingan ini bukan postingan berbayar, isinya sesuai realita saja, hanya sekedar sharing buat yang ingin tahu info penginapan yang kira-kira sesuai budget kamu. Selamat menyimak 🙂

Yact di depan hotel Maulana

Ada 3 penginapan yang saya tahu dan pernah masuk ke dalamnya. Entah sekedar dinner, pinjam alat snorkling, ketiganya sudah saya cobain (masuk ke dalam) dan tanya-tanya teman serombongan yang sempat menginap disana. Lumayan buat referensi, walau selama 6 hari saya full menginap di hotel Maulana.

(1) Hotel Maulana

Hotel Maulana, ini hotel pertama yang ada di Banda, pemiliknya almarhum Des Alwi (anak angkat Bung Hatta waktu diasingkan di Banda). Dia juga salah satu orang penting, pernah menjadi menteri juga. Lokasi hotel dekat dengan pelabuhan, mungkin hanya 50-200 meter jalan.

hotel-maulana
suasana Hotel Maulana, sumber foto : TripAdvisor

Panorama laut dan Gunung Api di depan hotel ini jadi nilai plus menginap di hotel ini. Gunung Api yang masih aktif itu masih berdiri tegak dan kokoh. Tak heran, para tamu hotel betah duduk berlama-lama di pinggir pantai. Ada banyak kamar karena bertingkat dua dan belum lama dibangun sisi samping yang kamarnya lebih luas. Harga menginap disini mulai dari harga Rp. 300.000-an satu kamarnya.

Sarapan pagi disini berganti-ganti tiap harinya. Sempat disuguhi pisang goreng ambon, kue cara, nasi goreng, mie goreng, tapi yang paling nggak banget ya mie rebus. Iya Indo*** rebus. Sampai teman seperjalanan geleng-geleng dan akhirnya memilih untuk ngemilin pisang goreng aja. Minusnya itu aja sih hotel ini, kalau bedroom, kamar mandi, air panas, AC berfungsi baik walau termasuk hotel tua tapi diregenerasi terus fasilitas utamanya.

Saya pikir ke daerah terpencil seperti Banda Naira akan kesulitan ber-internet ria (soalnya selama 5 jam di atas kapal betul-betul sunyi tanpa sinyal). Tapi ternyata saya salah, disini wifi-nya kenceng banget, bahkan operator seluler saya yang XL tidak bisa diaktifkan sama sekali di pulau ini, jadi terbantu sama wifi buat kirim berita, maupun update social media.

Info contact menurut brosur : telp (62) 910-21022 atau 21023 fax : (62) 910-21024

(2) The Nutmeg Tree Hotel

Tepat berada di samping Hotel Maulana, ada The Nutmeg Tree Hotel. Kamar disini memang cuma sedikit (jumlah pasti kurang tahu), tapi bisa buat yang grup backpacking sharing cost. Menurut saya juga lebih gimana gitu tempat ini, terkesan homey. Serasa di rumah dan serius makan malam disini enak, dibanding di restoran sekitar atau pun di Hotel Cilu Bintang yang relatif lebih modern.

dscn7570
suasana di pinggir dekat laut Nutmeg Tree Hotel, kalau malam ada lampu-lampu menyala dan suka banget makan malam disini

Rahasianya karena sang koki yang dari Bali, belum sempat kenalan tapi pas event dinner kami dibuatin ikan bakar bumbu belimbing. Itu seger enak juga termasuk makanan lain yang saya lupa apa. Semacam nasi goreng atau mie goreng dan masakan lain. FYI disini selain bisa menginap juga tersedia paket dinner buat beberapa orang gitu, harganya per pax. Jangan khawatir dengan sambungan internet, karena juga tersedia wifi.

Suasana malamnya di luar teras juga menyenangkan, ada pohon dengan lampu-lampu. Di sisi depan dekat dengan laut ada kamar juga, bisa request tapi harganya lain dengan view yang bagus juga menghadap laut dan Gunung Api.

Dan… yang paling penting menurut saya disini bisa sewa alat snorkling, walau jumlahnya tidak begitu banyak. Termasuk kalau mau beli paket yang sekalian 5 hari 4 malam di Banda Naira, menginap termasuk paket diving juga ada. Sekitar Rp. 5 juta minus tiket pesawat untuk 5 hari dengan jadwal diving, sewa alat plus serifikat kalau niat ingin cari sertifikat diving.

Coba deh kontak aja, yang suka diving dan niat menjelajah kedalaman laut Maluku mending ikut paket itu. Harganya jauh lebih murah jadinya, menurut wartawan NatGeo yang serombongan sama saya lho ini. Soalnya dia nginep disitu.

info contact : 0823-9919-7798 dan +6282399197798

dscn7571
Suasana homey, seperti di rumah ada banyak buku bacaan tempat bersantai di Nutmeg Tree

(3) Hotel Cilu Bintang

Kalau kedua hotel tadi ternyata penuh, bolehlah sebagai pilihan menginap saja di Hotel Cilu Bintang. Tapi lokasinya agak ke dalam, sekitar 1 KM dari pelabuhan tempat kapal dari Ambon mendarat. Lucu sih, saking nggak mau jalan rombongan yang kedapatan nginep disana jadi dijemput pakai semacam motor gerobak, salah satunya ada kakak Nadine Candrawinata yang naik karena hotelnya disana.

Cilu Bintang, letaknya percis di depan Benteng Belgica, sementara bagian samping sebenarnya agak serem karena dulu bekas tempat pembantaian orang kaya yang dihukum penjajah saat datang ke Banda karena menolak dikuasai VOC.

dscn7305
ini lho, gerobak motor Cilu Bintang… hehehe Nadine aja mau naik ini daripada jalan 1 KM kan

Cilu Bintang termasuk hotel paling modern mungkin ya, fasilitas di dalamnya, termasuk dinner yang prasmanan untuk para tamu hotel. Termasuk ada fasilitas wifi yang kenceng disini, sepertinya itu sudah jadi standart hotel yang ada di Banda Naira… wah salut padahal lumayan pulau pelosok.

Info tentang hotel bisa di cek di web Cilu Bintang ada pilihan akomodasi buat turis di dalamnya jika ingin keliling Banda Naira. Tapi buat pelancong yang budgeting saya pikir kurang pas buat menginap disini. Lebih cocok buat bule bule kompeni yang uangnya tak berseri hehehe 🙂