Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, LIFE, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Philosophy of Mt. Gede

 

SONY DSC
Ini bukan panorama Gunung Gede sih, tapi di Kali Mati Gunung Semeru. Suka aja gradasi langitnya.  Semua gunung itu bikin belajar! Mulai dari Rinjani, Semeru aku selalu ketemu filosofi yang berbeda dari perjalanannya 🙂

Ada banyak hal yang membuatku berubah. Lewat gunung dan kisah-kisah perjalanannya. Dimana seolah Tuhan ikut berbicara lewat apa yang ku alami disana. Tuhan, ikut andil dalam kisah. Aku sangat percaya. Bahkan semakin percaya setelah mengalami semuanya.

“Percayalah. Setiap perjalanan adalah perjalanan hati. Sebagaimana hati hampir selalu menyertai iringan langkah kaki,” kutipan dari seorang teman. Heheh baru kenal, seorang pendaki perempuan yang juga suka mendaki seperti saya.

Walau awalnya, bila perjalanan itu bukan hanya karena hati yang ingin tapi sebuah ajakan. Lambat laut hati pun tetap akan menyertai disana. Sebab mana mungkin kepergian itu bisa terjadi tanpa panggilan hati dan keinginan yang timbul karena bisikan-Nya.

Ketika tuts keyboard hadir dalam wujud huruf ini bukan sebagai memori yang akan diingat saja. Ada satu makna bahwa saat kita meninggalkan satu dimensi waktu kejadian lampau dan bergerak ke pembaharuan waktu, disitu selalu ada pengertian baru. Bahwa Tuhan lebih memahami kita dari siapapun juga di dunia ini.

Kala itu di Gede. Aku membaca, hingga sampai pada memahaminya lewat perjalanan itu. Kemudian aku belajar.. Karena kuasa-Nya aku bisa sampai, sejejak.. dua jejak ketika lelah aku berhenti. Disana aku melihat dan merasakan sejuk dari waktu beristirahat.

Tapi berhenti sejenak tentu takan lama, kaki tetap harus melangkah dan kembali merasakan perjuangannya. Meski rasanya memang ingin sekali terus menikmati kenyamanan ini. Duduk di bawah pohon rindang. Etalase alam.

DSCN8352
Di Gunung Gede itu banyak banget mebel alias furnitur alam yang enak buat duduk, hehehe betah duduk tiduran istirahat mangkanya 🙂

Perjalanan itu harus ada titik temunya, sebuah tempat tujuan. Karena tak pernah lewat jalan itu sebelumnya, tentu kita tidak tahu seberapa jauh lagi, berapa lama lagi. Hanya ada petunjuk jika telah sampai di pos ke 4 tempat berkemah sudah dekat. Petunjuk lain, bertanya teman pendaki yang ingin balik turun lewat jalur kami naik. Ya, itu tapi hanya jadi perkiraan saja, tak sepenuhnya tepat.

Bukan itu intinya, bukan hanya karena tujuan ingin sampai. Tapi sebuah proses.. ketika dalam perjalanan itu kita menikmatinya, bukan terburu-buru ingin sampai. Sesekali berhenti untuk memandangi warna hijau daun tak pernah salah. Sesekali mengistirahatkan kaki yang lelah menjejak pun itu kenikmatan. Bukan ingin berhenti, tapi rehat sejenak dan membaca perjalanan itu. Biarpun tetap ada batas sampai kapan memulai lagi.

Perjalanan seringan atau seberat apapun itu yang kubutuhkan adalah terus melakukan perjalanan itu sendiri. Bukan berbalik badan untuk menyerah. Juga tak terlalu lama tergiur dengan kenyamanan atau terlalu lama beristirahat.  Agar ku bisa sampai pada satu titik telah berada di tujuan. Semua rasa lelah kaki mu pun terbayarkan. Ya,… aku menang Tuhan. Menang dari pertempuran ego diriku sendiri.

(FYI sededar kiasan saja)

 

Advertisements
Backpacker, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, The Journey

Preparing, Derawan Project 2016!

foto 2
Instagram saya bakal diwarnai oleh biru langitnya Derawan! Amiiin, InsyaAllah.

Alhamdulilah,… keisengan berbuah rejeki. Akhir Maret 2016 silam, namanya juga anak Instagrames banget. Dikit-dikit buka Instagram, tahu info acara apa dari Instagram.

Nah saya jadinya ikutan semacam kontes pemilihan peserta ajang namanya Meet & Trip yang tahun ini diadakan oleh @derawanfisheries, @fisheries.eco dan @indonesia_paradise.

Tanpa menunggu lama, dua jam setelah kirim email ke panitia saya dihubungi sebagai salah satu yang berkesempatan ke Derawan, yeayyy! Ini rasanya murni keberuntungan banget, karena syarat-syaratnya cukup bisa saya jangkau.

Hanya dengan me-repost flyer acara Meet & Trip, harus punya blog karena nanti perjalanan mesti ditulis, dan mention 3 teman di Instagram buat ikutan, nggak lupa follow ketiga akun @derawanfisheries, @fisheries.eco dan @indonesia_paradise yang merupakan sponsor acara. Hehehe

Saking kesenengannya, langsung googling dan berspekulasi. Di dekat Derawan atau di Kota Berau ada gunung yang bisa di daki nggak ya? atau ada tempat bagus lainnya yang bisa sekalian disambangi. Kan lumayan tiket Jakarta-Berau-Jakarta PP yang saya beli hampir Rp. 2 juta.

foto (1)
Di dekat Derawan ada berbagai pulau untuk tujuan snorkling dan diving. Nah salah satunya di Maratua…. kamu bisa pose begini…  foto by Instagram.

Biar efektif perginya bahkan kepingin mampir dulu ke Balikpapan sekalian nunggu transit pesawat menuju Berau. Sayangnya di Balikpapan, sebuah tempat seperti hutan yang kelihatannya menarik letaknya cukup jauh. Biaya sewa mobil kalau sendiri juga bisa berat banget.

Kepingin yang dekat dari kota, tapi kok kurang menarik ya setelah di cari tahu foto-fotonya. Taman Mangrove Margo Mulyo, yang di Jakarta Pantai Indah Kapuk aja belum pernah… hehehe, lalu ada Kampung Air Margasari, eh tapi kok rasanya biasa saja di foto-foto yang saya temukan.

Sampai akhirnya berfikir, ya kalau nanti bisa ke Borneo lagi, sekalian aja agak lama. Trip kali ini memang daerah Berau Kalimantan Timur saja, nekad pun akhirnya memilih Labuan Cermin sebagai destinasi tambahan.

foto (6)

FYI buat ke Labuan Cermin itu ternyata jauhhnya… 8 jam lho dari bandara Berau dan ongkos sewa mobil disana nggak nyantai banget bisa hampir Rp. 1 juta PP hehehe.

Satu frekuensi sama saya, beberapa rekan yang kepilih traveling bareng Meet & Trip juga punya tujuan sama, ke Labuan Cermin.

Yesss! ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Sudah ada 6 orang fix ke Labuan Cermin, tapi ternyata panitia Meet & Trip nawarin extand ke Labuan cermin, so….. kami nggak jadi sewa mobil sendiri hehehe semuanya free 🙂

Fasilitas apa saja yang bakal di dapat selama trip ke Derawan 4 hari 3 malam itu???

  1. Liburan gratis 4 hari 3 malam
  2. Mobil transfer Bandara PP
  3. Speedboat selama tour
  4. Mengikuti discovery diving
  5. Makan selama trip
  6. Menginap selama 3 malam di watervilla
  7. Explore Pulau (Kakaban, Maratua, Sangalaki) + Whaleshark point

Lumayan kan guys. Kalau bisa ya,… sampai Danau Labuan cermin,  siangnya bisa menikmati pantai-pantai di sepanjang Biduk-biduk atau menuju Teluk Sulaiman. Hehehehe marukkk 😀

 

Asia, Backpacker, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, The Journey

Pendakian Musim Hujan – Gunung Ceremai Part 1

Kalau di ibu kota kita biasa disesaki oleh asap kendaraan dan kemacetan. Jauh berbanding terbalik, ketika mengunjungi gunung saya demikian disesaki rimbunan pohon dan oksigen dari hutan yang hijau nan rindang.

Haloooo, gunung akhirnya aku menjelajahi mu kembali 🙂 dan…. Gunung Ceremai menjadi pendakian pertama saya di tahun 2016. Sebenarnya ini random saja, ke Ceremai bukan karena itu gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl). Tapi salah satu gunung yang selalu dibuka meski musim hujan meski di masa pemulihan.

Inisiasi mendaki Ceremai juga nggak sengaja. Di Instagram lewat akun @id_pendaki, @indomountain dan semacam kedua akun ini yang jumlahnya banyak banget suka ada posting-an dengan gambar dan hastag #naikbareng. Nah dari sinilah kita bisa nyari temen barengan naik gunung, nggak perlu ikut open trip kan jadinya, hehehe bisa kurang laku deh open trip 😀

foto 2
Suasana hutan Ceremai, edit stempel Line…hehehe biar fokus sama pemandangan, bukan sama tas carrier atau muka 🙂

Saat lihat komentar dibawah posting saya cari yang kemungkinan waktunya weekend. Kebanyakan yang bisa weekend ya Ceremai atau Guntur. Instagram memudahkan banget ya cari temen pendaki, sejak itu inbox pun lumayan banjir. Dapet kenalan baru juga, follower nambah banyak dan akhirnya tukeran contact yah walau beberapa ada yang batal barengan naik. Tapi kita tetep temenan di Instagram saling mem-posting gambar yang keren-keren saat ke gunung 🙂

Mendaki saat musim hujan itu sangat tidak disarankan, hehehe tapi nekat aja saking sudah kangennya dengan atmosfer gunung. Pergilah kami 24-25 Maret 2016 lalu. Dengan dua orang teman jadi kami bertiga saja, cewe semua dan tanpa potter. Tadinya ada satu teman cowo yang kenal dari Instagram mau bareng kita, tapi saya putusin ganti jalur pendakian Apuy karena ada acara menanam pohon dengan Komunitas Trashbag di jalur Patulungan.

Sejauh ini, Ceremai adalah gunung paling sulit menurutku sih. Malah lebih sulit daripada gunung Rinjani yang lebih tinggi, terlebih berangkat masih musim hujan. Tak ada yang percuma meski itu hujan, walau jalanan licin, walau harus ribet pakai jas hujan, walau sepatu penuh menempel tanah becek. Makin berat saja sepatu. Apalagi tenda, peralatan masak, kompor, bawa sendiri dengan tas carrier 30 L itu. Bedalah dengan pendakian sebelumnya, dimana cuma bawa perlengkapan pribadi yang enteng.

foto (8)
Tempat kemah di Pos V, tinggal 3 jam lagi menuju puncak Ceremai

Seperti apa trekking di Gunung Ceremai? 

  1. Beruntung disini nggak ada hujan badai besar dengan petir seperti yang diceritakan kalau lagi baca review perjalanan ke Gunung Kerinci. Hanya saja licin dan harus hati-hati. Nggak semua trek licin, tergantung semalamnya hujan atau tidak. Karena rimbun hutan saat hujan besar tak langsung terkena, tapi jadi rintik-rintik.
  2. Paling sulit itu pendakian dari Pos 2 ke Pos 3 rasanya jauhnya lebih dari 3 jam. Kok nggak sampai-sampai. Makin berat karena bawa air 2 liter dan perlengkapan masak 😦
  3. Lebih banyak ketemu jalur yang cukup sempit, jarang ketemu trek yang lebar untuk bisa berhenti istirahat. Tapi banyak trek bonus bisa buat istirahat lama berkemah. Buat minuman hangat dulu.
  4. Hampir 95 persen jalur pendakian adalah hutan. Jadi adem rasanya sepanjang perjalanan tanpa paparan sinar matahari berlebihan.
  5. Ada banyak tawon atau lebah yang nguing-nguing selama hampir disetiap perjalanan. Namanya juga hutan. karena itu di gangguin terus, sampai tawon ini juga hobi banget masuk tenda. Tapi walau lembab nggak ada yang namanya pacet atau lintah penghisap darah.
  6. Kami nge-camp di Pos 5, tapi kalau sudah nggak kuat sampai Pos 5 lebih baik kemah saja di tempat yang tanahnya datar bisa kemah.
  7. Selebihnya dari Pos 5 ke Pos 6 (Goa Walet) tempat kemah sebelum summit itu sekitar 3 jam perjalanan. Cukup berat katanya seperti trek dari Pos 2 ke Pos 3.
  8. Summit cukup menempuh waktu 30 menit dari Goa Walet (Pos terakhir)
foto 3
Salah satu jalur yang harus kami lewati, pasti becek kalau hujan. Sempitnya,… beda dengan jalur yang ada di Semeru dan Rinjani. FYI nggak ada savana di Ceremai

How To Get There?

  1. Kami naik Travel Nikko Jl. Raya Bogor 0218741052 atau Travel Nikko Jakarta Barat yang 24 jam 02129038276 yang bisa menjemput dan mengantar langsung ke depan rumah. Serius lagi males capek, naik turun bus jadi naik travel aja. Harganya memang lumayan sih Rp. 150 ribu tapi diantar hampir dekat basecamp pendakian. Bilang Aja mau ke Majalengka, ke Desa Apuy sampai dekat jalur pendakian. 
  2. Sampai di dekat Desa Apuy, kami naik angkot sewa Rp 140 ribu sampai basecamp untuk bertiga orang. Kami diantar sampai balai desa, yang disana ada mobil omprengan untuk mengantar pendaki.
  3. Dengan mobil omprengan bertarif Rp.15.ribu kami diantar hingga basecamp pendakian Apuy. Besoknya mintalah dijemput kembali supaya bisa tawar-menawar lebih murah. Kamu bisa hubungi Kang Tata 085321027504
  4. Sampailah di Pos 1, daftar Simaksi Rp. 50.000 kamu akan mendapatkan souvenir kupluk bertuliskan Ceremai atau pilihannya slayer berwarna hijau. Total biaya kalau ke Ceremai sebenarnya murah, hanya sekitar Rp 300-350 ribu, asal jangan naik travel, tapi naik bus dari Kp. Rambutan atau terminal bus terdekat yang hanya Rp. 50-60 ribu.
foto 4
Suasana jalur yang harus dilewati menuju basecamp di Jalur Apuy. Serius ini hanya bisa di lalui mobil omprengan bak terbuka. Biasanya mereka yang bawa mobil menitipkannya di Balai Desa, karena jalurnya sempit dan dekat jurang.

Saya memang tak summit puncak Ceremai. Hanya sampai Pos 5 karena malamnya hujan, tentu trek makin licin. Haduuuu, nggak muncak aja kaki ini sakit banget selama 2 hari. Kemudian saya jadi berfikir untuk punya strategi agar bisa sampai puncak. Jadi kemungkinan memang tak bawa barang banyak. Fokus summit, harus pakai sepatu nyaman dan bawa bekal makanan lebih banyak untuk 3 hari.

Kalau aja bawa bekal makanan cukup 3 hari, pasti nunggu supaya jalur tak licin dan bisa summit. Walau lama, tapi sampai puncak 🙂

Liputan, story, The Journey, Traveling

Kali Kedua, Journey to Pontianak

DSCN7889.JPG
Mendekati senja, dari lantai 3 hotel Aston Pontianak… Kubah masjidnya cukup besar sampai kelihatan dari jauh

“Dyah tanggal 12 Februari kamu liputan sama orang sales ya,” tulis editor gw via Whatsap

“Jangan lupa stok berita dulu, sebelum berangkat,” pesannya lagi

Kali ini perginya sama orang marketing kantor. Karena perginya sama orang marketing kantor, gw juga prepare segala macam hal supaya ringkas dan tidak meribetkan. Seperti nggak bawa koper.

Sales atau divisi marketing, lagi punya acara sama salah satu bank klien-nya. Jadilah mereka bawa reporter buat nulis artikel acara gathering Imlek nasabah prioritasnya. Kali ini dari Jakarta gw berangkat bareng mbak Ira dan mbak Leidy. Alhamdulilah ternyata dua-duanya pembawaannya fleksibel dan profesional, jadi aman banget selama gw di Pontianak nggak seperti kekhawatiran gw sebelumnya kalau pergi diluar sama orang humas eksternal. Humas yang biasanya selalu perhatian, baik hati sejadi-jadinya sama wartawan.

foto (7)
Entah gaya apa ini, di Rumah Radangk yang ada ornamen khas Dayak. Piknik colongan sebelum ke bandara 😀

Perjalanan kali ini ke Pontianak tetap menarik, dibanding dulu kepergian pertama yang acaranya cuma tiga jam, pp pesawat dan nunggu hujan badai 4 jam dan itu cuma di dalem hotel doang ngeliput konsolidasi partai politik. Zaman-zamannya Hatta Rajasa masih jadi Ketua Umum PAN dan dia masih jadi Menteri Koordinator Perekonomian. Tahun 2011, udah lama bangets. Ngoookk 😀

Kali kedua ke Pontianak juga nggak begitu banyak jalan-jalan di kotanya. Acara kantor gw sekaligus tempat menginap di hotel Aston, seharian nggak kemana-mana. Ikutan meeting sebentar, terus tidur-tiduran nonton tv di kamar sebelum acara malamnya. Jadi tugas gw cuma dua, nulis artikel sama jadi fotografer dadakan buat di publish juga di Majalah HighEnd yang masih satu group sama kantor.

ZZzzzzzz dimanfaatin banget gw, whatever walau ini seharusnya kerjaan copywriter bukan reporter, tapi banyak juga kok temen-temen di media lain juga sama begitu bahkan sering banget, gw masih beruntung sangat jarang dan baru sekali ini pergi sama orang marketing.

So, ngapain aja dua hari semalam di Kota Pontianak??

DSCN7881
Ini dia Bubur Pedas, harus coba banget kalo ke Pontianak

Sarapan Pagi, Bubur Pedas yang khas resep warisan Melayu di Pontianak

Landing jam 08.00 pagi, penerbangan hanya satu jam dari Jakarta. Dijemput driver kami jalan menuju Pondok Orange. Kita sarapan Bubur Pedas yang di rekomendasiin sama mas driver. Nah, sekalian banget ini buat bahan artikel gw juga, lumayan dapet stok berita kuliner. Hehehehe 🙂

Ternyata Bubur Pedas disini enak, nyam…nyam… ah murah lagi cuma Rp. 12.000 doang hahahaha. Nggak seperti namanya, Bubur Pedas sama sekali nggak pedas, perlu ditambahin banget sambal kalau mau pedas. Usut punya usut, ternyata yang punya warung makan ini orang asli Jawa lho…pas ngobrol dengan pemiliknya Sugiono, saya nanya-nanya. Wihhh, bubur ini isinya campuran sayuran, dahulu kabarnya merupakan hidangan yang kerap disajikan di kerajaan dan merupakan cerminan budaya yang kental di kerajaan Melayu Deli.

Habis nyobain sedapnya Bubur Pedas buru-buru ke hotel buat chek in, tapi belum jam 12.00 sih… akhirnya sampai sana ngecek kesiapan ballroom buat acara malamnya. Baru kali ini banget dilibatin sama acara kantor, rempong ternyata. Biasanya tinggal dateng acara, liputan, bisa ijin langsung pergi kemana. Kali ini harus stand by, .. sampai diijinin buat ke kamar istirahat.

Malam Acara, Fotografer Dadakan Buat Event dan Hall of Fame

Tim dari Jakarta hanya ada 6 orang, termasuk gw yang bakal nulis artikel dan jadi fotografer dadakan. Beruntung mereka hire gw yang suka motret, coba reporter lain, belum tentu ngerti ambil angle foto. (Pam nggak boleh begitu Pam). Yasudah, cuma berlangsung dari jam 18.00 – 22.00 kan? nikmatin aja. Btw, tamunya pakai baju merah-merah, ala Chinese New Year.

Kelar acara, pamit ke kamar buat istirahat. Hufttt… ngomong-ngomong ya, biasanya kalau liputan bisa bebas ikutan makan buffet sama tamu atau pejabat lain. Kali ini karena acara kantor sendiri dan gw harus sibuk motret-motret, jadi nungguin acara selesai baru makan, hahaha diet.

Paginya, Disko! Jogging di seputaran hotel

Tidur gw malam itu nyenyak, mungkin karena lumayan capek. Udah niat banget dari Jakarta bawa sepatu lari gw, buat jogging pagi. Harus banget itu, kalo ke luar kota atau luar negeri. Touch down peta di aplikasi Nike Running. Jam 6.30 habis subuh, langsung jogging.

Ternyata kesibukan toko-toko sudah mulai menggeliat, pedagang, warga sekitar sudah beberes. Cuma 2 KM tapi itu maksimal banget, buang keringat, biar seger pagi-pagi.

foto (4)

Mampir Sebentar Ke Rumah Radangk

Habis sarapan, kita minta dianterin jalan-jalan seputar Kota Pontianak. Driver terus ngasih tau beberapa tempat, ada rumah peninggalan kerajaan sampai yang harus ngelewatin tol buat sampai sana. Tapi ada sebuah kejadian nggak terduga, pas nganterin salah satu tim ke Bandara, niatnya gw sama mbak Leidy yang jam 13 pesawatnya take off cuma mau chek in aja, supaya nanti kalo balik dari jalan-jalan kita tinggal bawa diri masuk pesawat. Ternyata eh ternyata, ada dua bangku kosong di pesawat jam 11.30, akhirnya kita dipindah ke jadwal pesawat itu.

Beruntungnya ya, sebelumnya udah sempet ke Rumah Radangk dan beli oleh-oleh. Fuiiiihhh, nggak jadi ke Tugu Khatulistiwa. Lebih memilih cepet sampai Jakarta aja, entah kangen rumah juga, besoknya pun ada janji ngolam di Senayan sama temen. By the way Rumah Radangk ini punya banyak pintu yang dihiasi ornamen khas Dayak gitu, jadi foto-foto lucu disini, sambil naik ke lantai dua ada pemandangan hamparan langit, ya lumayan piknik colongan.

DSCN8009
Suasana di pasar oleh-oleh jalan Patimura, Pontianak. Mbak Leidy suka narsis minta fotoin haha 😀

 

Beli Oleh-Oleh Khas Pontianak

Beruntung sempet beli oleh-oleh dulu sebelum ke bandara. Hufffttt, sayang banget jauh-jauh kesini nggak bawa apa-apa. Seperti kebiasaan gw harus beli kain motif khas, buat padanan kebaya. Ahhh, dapet kain lucu sutera dobbi seharga Rp. 80.000 saja. Motifnya lucu dan unik nggak ada di Jakarta.

Terus sekalian beli minuman lidah buaya, yang khas Pontianak, kan disini penghasil lidah buaya terbesar. Enak loh, minuman ini murah pula Rp. 10.000 saja dengan isi 4 gelas. Oleh-oleh khas lain saya nggak tertarik, lagi pula nggak ngambil uang di ATM banyak-banyak. Hehehe (gajian masih lama).

DSCN8010
Suasana tokonya seperti ini, di bagian toko samping juga da oleh-oleh makanan di Jalan Patimura, Pontianak.
Indonesia, JAVA - Indonesia, MALANG - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Pendakian Semeru – Dangdutan Pagi, Pakde Angkat dan Semangka Dingin

 

 

IMG_7518
Pemandangan di depan Danau Ranu Kumbolo (dari samping). Berkabut, masih pagi sekitar pukul 07.00 waktu Malang.

Betapa jarangnya pemandangan saat-saat piknik ke gunung. Membawa tas carrier yang menggunung tinggi melewati pundak. Seperti apa orang yang tetap merasa gembira dengan lelahnya membawa beban sambil mendaki? Lalu kesenangan apa yang kerap datang dan membuat diri selalu rindu untuk kembali?

Kereta Ekonomi jurusan Jakarta – Malang baru saja tiba di stasiun sekitar pukul 01.00 dini hari. Hampir hening, tak banyak orang hingga kami rombongan trip ke Gunung Semeru (Gw, Esti, Vivi, Bonar) nggak begitu sempat memperhatikan sekeliling. Kami keluar stasiun, jalan mengekor sampai berhenti di satu sudut trotoar dan menunggu jemputan Angkot.

Menaruh barang bawaan, peralatan semacam trekking pole, bahan makanan dan bla-bla-bla. Ketawa-tawa sama kelakuan diri sendiri bawa tas carrier segede itu. Di dalam angkot, kami mulai ngobrol. Sambil melawan kantuk.

Nggak kebayang kalo kita perginya jadi ber-8 orang seperti di rencana awal ya, sempit banget angkot-nya ini pasti,” ujar Esti sambil ketawa-tawa.

IMG_7559
Istirahat sebentar, Bonar sama Vivi teman seperjalanan ke Gunung Semeru.

lalu celotehan Esti tadi disambut tertawaan oleh kawan yang lain. Jelas sekali seperti apa jadinya kalau kami berdelapan. Berempat saja dengan tas carrier setengah ukuran badan, rata-rata 50 Liter sudah bikin penuh. Bisa jadi tas carrier kami diikat di atas angkot sih, baru muat penumpangnya duduk di dalam kalau perginya berdelapan.

Hahaha, kebayang kalau ada Irol, Mbak Nana, dan Kaput yang akhirnya nggak jadi ikut, setelah satu penundaan. Berkat insiden pendaki hilang tepat sehari sebelum jadwal kereta berangkat. Gagal berangkat di bulan Agustus, tapi setengah rombongan kekeuh berangkat dan re-schedule pendakian di pertengahan September (2015).

Pagi buta, cukup dingin untuk orang Jakarta seperti kami yang lumayan kaget dengan perkiraan cuaca sejuk di Malang. Sekitar 25 menit kemudian sampai juga sewaan angkot di depan guesthouse, rumah tinggal warga sebagai tempat istirahat sebelum mulai mendaki.

Kepalang tanggung, hampir jam 02.00, tapi lumayan kalau sekejap pun dipakai tidur supaya badan lebih fit sebelum pendakian. Rencananya jam 09.00 setelah sarapan, kami dijemput mobil jeep menuju desa Ranupani. Tempat start mendaki, tapi seperti Tuhan tak kehilangan skenario menarik.

Malang itu cuaca dinginnya bikin beku, padahal ini sudah di dalam rumah lho… Esti sama gw berusaha tidur tapi nggak bisa-bisa karena dinginnya nusuk. Ganti posisi tidur menghadap ke samping, sambil ada adegan menggigil seperti orang kena meriang. Terus gw udah buka sleeping bag sama pake selimut tetep aja DINGIN. Hampir setengah jam rasanya bisa tidur lalu kebangun lagi, menggigil.

SONY DSC
Luaaaaaaasss banget Semeru 

Lah yang lain kemana? ternyata mereka ada di ruang tamu depan, tidur di bangku yang suhunya lebih hangat. Kita berdua ikutan pindah tidur disaat-saat adzan subuh sudah lewat (jam 4). Vivi, Bonar nyenyak banget tidurnya sampai tiba-tiba ada suara dangdutan keras banget. Jam 5 pagi, ada apa ini? mencari tahu, semuanya penasaran dan berhamburan keluar.

Jam 05.00-an lho ini tapi langitnya sudah agak terang, ohya ini kan Indonesia bagian tengah. Dan memang di samping ada tenda kawinan. Asoyyyyy…. gagal melanjutkan tidur sebelum pendakian gara-gara dangdutan pagi. Kita ber-lima ketawa-tawa aja terusnya sibuk packing dan ngantri mandi. Daripada kan,… nggak bisa tidur juga gara-gara suara keras dangdutan pagi 😀

Si bapak supir sepertinya memang nggak ingin kami sarapan di tempat yang biasa-biasa saja. Makanya setelah kemas barang bawaan dan jeep datang niat sarapan di warung dekat guesthouse malah keterusan hampir berkilo-kilo jauhnya.

IMG_7516.JPG
Ranu Kombolo, kepingin kesini lagi. Entah kapan tapi mau sampai ke puncak Mahameru.

“Pak ini kita nggak apa-apa sarapan yang deket aja soalnya jam 10 harus sampai Ranupani,” kata salah seorang dari kami, pake penekanan ngomongnya.

Tapi tetep aja lho, si bapak supir ngajak kami sarapannya jauh. Disebuah warung sederhana yang jualan pecel kami berhenti. Huffttt akhirnya, setelah naik turun, lewat sawah, ya … lumayan sih jadi banyak pemandanganya pagi-pagi. Sekalian menghemat waktu akhirnya pesan makanan buat lunch nanti, nasi pecel juga dengan telur dan sambal. Dibungkus.

Acara piknik ke gunung itu selalu ada aja adegan yang tak terduga sebelumnya. Sebetulnya bukan kalo ke gunung aja, traveling kemana pun juga. Bikin ketawa, padahal sebenernya diantara kami berlima yang pergi semuanya itu pembawaannya kalem-kalem. Kali ini kejadian saat tidur kita diganggu dangdutan pagi, terus sepanjang perjalanan bikin kita akrab sama potter dan akhirnya jadi kita panggil “Pakde” hahaha Pakde angkat ini, sampai nama aslinya juga lupa.

IMG_7572.JPG
Lihatlah segede apa tas yang kami bawa 😀

Pakde supperrrr, soalnya sering banget sampai duluan, terus dia naruh barang bawaannya dan balik buat bawain tas gw atau Esti ganti-gantian. Hahahaha. Saking baiknya juga, selesai dari pendakian pas makan malem sama sarapan sebelum pulang ke Jakarta kita masih dimasakin. Padahal udah bukan tanggung jawab dia masakin.

Kita diajak main ke rumahnya, terus nyobain menu gulai kambing (pas banget kan, kami ke Semeru saat libur tanggal merah Idul Adha). Makan di rumah penduduk dan bisa akrab layaknya saudara sendiri yang seperti ini bikin acara traveling lebih berkesan. Beda banget pastinya kalau nginap di hotel. (Nggak cocok juga Pam, naik gunung kok nginep di hotel). Hahahaha 😀

Dan ternyata ya di Semeru itu ada tukang jualan juga, bahkan buah semangka disana dinginnya bukan dari kulkas tapi mengejutkan segar dinginnya karena cuaca pegunungan. Ini jadi tak terlupakan, saat istirahat dari Oro-Oro Ombo terus dibawah pohon kita makan semangka dingin. Berhenti di Jambangan, juga ada mas-mas yang jualan Semangka dan gorengan. Jajan lagi…. untungnya bawa uang recehan di kantong Rp. 5000 dapet dua semangka. Segeeeerrr!!!

Hampir tiap pos pemberhentian pas jalan pulang pun selalu ada yang jual semangka. Tetep dengan rasa dingin pegunungan, jadi kalau haus beli semangka. Kalo laper beli tahu goreng, berkah banget buat penduduk sekitar. Tapi jualan di gunung, datang dan kembalinya jauhnya dari rumah penduduk di sekitar desa Ranupani. Ini mirip dengan pedagang di Gunung Papandayan yang susah payah jualan harus lewatin jalan seperti halnya para pendaki.

IMG_7437
Esti menikmati banget sesi merhatiin embun lebih dekat. Berasa semesta ini cuma milik kami, Semeru di bulan September pas banget lagi sepi.

 

Backpacker, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, Traveling

Hello “Dewi Anjani”

IMG_3750
Riang banget,  tertawa yang renyah setelah summit… love a lot this picture

The journey is start from Sembalun Village, a trip taken about 6 hours to the first camp. Passing through savannah, forests, and hills… all the beautiful sights. Green trees, golden yellow color of the grass.. thats under the blazing sun decorated white clouds. Hmmm, i still can feel the atmosphere ❤

Don’t know why, . .  just feel happy when i’m look again the memories at Rinjani mountain. Is always wants to show off all the atmosphere, how do I look at the journey. The place, people, and all… beautiful memory for me.

This is one of story in my life,.. yeahhh <3. The third mountain thai i climb, after Papandayan and Lembu, 3726 highness MDPL. The most beautiful mountain in Indonesia.

Imagine how many times I took every picture :D…. after that, I’m always longing to return. Someday maybe…. This mountain that I missed ❤

One memorable occasion, when pursuing every inch of the rocks and soil. And one day, will i come again? Anjani Goddess…. hey you, let me to know, do you miss me too??

Closed in 2015, I was praying to get back. Rinjani…. the beauty of “Dewi Anjani”

Fell in love with you Rinjani, . . ❤

IMG_3584About Rinjani mountain : (From wikipedia)

Mount Rinjani or Gunung Rinjani is an active volcano in Indonesia on the island of Lombok. Administratively the mountain is in the Regency of North Lombok, West Nusa Tenggara (Indonesian: Nusa Tenggara Barat, NTB). It rises to 3,726 metres (12,224 ft), making it the second highest volcano in Indonesia.

On the top of the volcano is a 6-by-8.5-kilometre (3.7 by 5.3 mi) caldera, which is filled partially by the crater lake known as Segara Anak or Anak Laut (Child of the Sea) due to blue color of water lake as Laut (Sea). This lake is approximately 2,000 metres (6,600 ft) above sea level and estimated to be about 200 metres (660 ft) deep; the caldera also contains hot springs. Sasak tribe and Hindu people assume the lake and the mount are sacred and some religious activities are occasionally done in the two areas. On 31 October 2015, Mount Rinjani started erupting again

On the basis of plate tectonics theory, Rinjani is one of the series of volcanoes built in the Lesser Sunda Islands due to the subduction of Indo-Australian oceanic crust beneath the Lesser Sunda Islands, and it is interpreted that the source of melted magma is about 165–200 kilometres (103–124 mi) depth.

IMG_4058

The geology and tectonic setting of Lombok (and nearby Sumbawa) are described as being in the central portion of the Sunda Arc. The oldest exposed rocks are Miocene, suggesting that subduction and volcanism began considerably later than in Java and Sumatra to the west, where there are abundant volcanic and intrusive rocks of Late Mesozoic age. The islands are located on the eastern edge of the Sunda shelf, in a zone where crustal thickness is apparently rapidly diminishing, from west to east.

The seismic velocity structure of the crust in this region is transitional between typical oceanic and continental profiles and the Mohorovičić discontinuity (Moho) appears to lie at about 20 kilometres (12 mi) depth.[13] These factors tend to suggest that there has been limited opportunity for crustal contamination of magmas erupted on the islands of Lombok and Sumbawa. In addition, these islands lie to the west of those parts of the eastern-most Sunda and west Banda arcs where collision with the Australian plate is apparently progressing.

 

 

 

culinary, Kuliner, Liputan, SULAWESI - Indonesia

Kesegaran Si Asam, Jeruk Nipis – Kuliner di Poso dan Tentena

DSCN7327
Masakan yang simpel saja, cukup digoreng atau dibakar, kemudian diatasnya ditambahi bumbu irisan cabai dan tomat yang segar. 

Indonesia kaya akan wisata kulinernya, hal itu dapat dilihat dari cita rasa masakan yang punya beragam warna rasa. Termasuk di Sulawesi Tengah, Poso dan Tentena dua kota yang juga memiliki ciri khas masakan dengan rasa asam segar.

Ada beberapa menu yang dapat menjadi pilihan ketika kamu bertandang ke Poso maupun Tentena. Namun sajian ikan merupakan menu yang hampir tak pernah terlewat ada diberbagai warung makan sekitar kota dan desa ketika saya berkunjung kesana. Selain itu, para penikmat kuliner hampir akan selalu menemukan potongan jeruk nipis di meja makan, inilah yang menjadikan hampir seluruh cita rasa masakan di Poso dan Tentena memiliki rasa segar.

Ikan menjadi menu menarik di meja makan. Satu diantaranya Ikan Woku yang dimasak bersama kuah kuning, cabai merah besar, serta potongan sere. Rasanya begitu segar karena ada perasan jeruk nipis di dalamnya dan jangan khawatir tentang rasa amis ikan, hampir seluruh ikan di Poso yang berdekatan dengan pantai dan laut ini selalu didapati dalam kondisi segar.

Disamping olahan Ikan Woku dengan Bumbu Kuning ini beberapa menu ikan disajikan dengan cara digoreng maupun dibakar, kemudian di atasnya diberikan sambal atau irisan cabai beserta bumbu bawang merah dan bawang putih serta lagi-lagi perasan jeruk nipis. Hehehe 🙂

DSCN7331
Ikan Bumbu Kuning, semua ikan di Poso maupun Tentena selalu segar, lihat aja matanya dan karena segar ini maka tak amis.

Pilihan lain ada menu Kaledo yang merupakan hidangan sejenis sup atau makanan berkuah terdiri dari tulang sapi  dengan dimasak bening dengan bumbu cabe rawit yang telah dihaluskan. Bumbu-bumbu campurannya meliputi garam dan asam mentah yang terlebih dahulu direbus dan dilumatkan. Rasa asam dan pedas menjadi ciri khas dari makanan ini.

Bahan utama yang digunakan untuk membuat kaledo adalah tulang kaki sapi serta iga yang masih memiliki daging. Meskipun tulang dan iga keras, namun daging yang menempel sangat empuk dan juicy. Karena itu disebut dengan sup kaledo. Warna kuah kaledo pun agak kecokelatan bening.

foto (3)
Kaledo yang rasanya segar dan pedas itu.. seruput sum-sum tulangnya juga nyesss (apa kabar kalori)

Selain dagingnya yang untuk dimakan, kamu juga bisa menikmati sumsum yang ada di tulang sapi, menyeruputnya harus dengan sedotan plastik. Sumsum tinggal dihirup kuat-kuat sehingga langsung ke mulut tanpa belepotan memegangi tulangnya. Berhubung takut menjadi eneg, sum-sum nya nggak saya habiskan. Lemak semua saudara-saudara…. zzZzZZ

Sulawesi Tengah dan sekitarnya, juga memiliki semacam Papeda, yaitu makanan dari sagu yang ada di wilayah Timur Indonesia. Namun di Tentena ini dikenal dengan nama Dunui atau Dui. Sebagai tradisi kuliner turun temurun, Dinui dari kata “Dui” dalam bahasa setempat yang berarti Sumpit. Masakan khas dunui biasanya di sajikan di dalam panci besar.

“Di suku saya, suku Mori, Dui ini bentuknya sudah kotak dan cara memakannya dipotong-potong menyilang dengan sumpit itu. Diatasnya disiram kuah sayur dan ikan serta diberikan lagi daun kemangi dan jeruk nipis,” ungkap Lian Gogali, Pendiri dari Sekolah Perempuan Moshintuwu, saat menjamu di rumahnya.

DSCN7325
Sayur bening yang terdiri dari daun gedi, kacang panjang, dan jagung

 

Di banyak daerah makanan sejenis ini memang memiliki nama yang berbeda beda, di papua orang mengenalnya sebagai Papeda, di Luwuk Sulawesi Selatan, orang mengenalnya dengan nama Kapurung.

Menurut Lian, membuat Dui perlu adonan sagu dan air panas yang pas sehingga pembuatnya memang harus yang sudah ahli dan terbiasa. Dui sendiri terbuat dari tepung sagu, biasanya Dui diolah dari tepung sagu segar maupun sagu kering, namun pilihan terbaik adalah sagu segar, mengingat teksturnya yang masih lembut. Dui pun akan lebih mantap disantap disiang hari, apalagi dicampur dengan ikan kuah kuning dan sayur daun singkong.

Saat akan memasuki jalur lalu lintas Trans Sulawesi di sebuah rumah makan, juga dapat ditemukan menu sayur Daun Gedi. Menu ini terpengaruh dengan masakan dari Manado dan biasanya menjadi sayuran untuk dimasukkan kedalam bubur Manado dan juga sering ditemukan di Papua. Tak hanya di Indonesia, pada kepulauan pasifik, tanaman ini dimasak bersama dengan santan. Umumnya di Asia juga memasaknya dengan cara menumis dalam wajan bersamaan dengan beberapa suing bawang putih.

DSCN7412
sayur ini rasanya agak aneh dilidah saya, ada sedikit santan, kecombrang, dan daun khas, rebung…. hehehe cukup tahu aja

Tentu sayur Daun Gedi ini harus dicoba karena akan jarang ditemui di Jakarta. Selain menurut penduduk setempat Daun Gedi ternyata memiliki banyak khasiat terutama baik bagi ibu hamil. Diantaranya Daun Gedi kaya akan Protein, Vitamin A, tinggi Vitamin C, untuk ibu hamil daun gedi juga baik bagi janin, menambah produksi ASI, mengontrol kesuburan, menjadi obat sembelit dan anemia ibu hamil karena banyak zat besi di dalamnya, serta menurunkan tekanan darah.

Menu sayur lainnya yang juga dapat dicoba adalah Sayur Ganemo. Sayur santan ini sebenarnya berasal dari Maluku, berupa sayur bersantan dengan beberapa bumbu dan berisi daun melinjo dan taoge pendek. Namun yang ada di Poso, sayur Ganemo ini dicampur juga bersama labu dan rebung dengan bumbu seperti lengkuas. daun salam, santan. Di daerah Sulawesi Utara sayuran ini juga bisa ditemukan. Rasa Sayur Ganemo sendiri cenderung gurih karena santan dan ada cita rasa asam segar.

(dyah ayu pamela)