Backpacker, Traveling

Country That I Wanted to Visit

foto (8)
The description land og Egypt. There a desert and camels.

Sunday morning, ohhhhh I like Sunday morning …. and on the last day of February it’s a rainy day.  I want fantasizing first. Delusional can travel the world and go into these countries, hihihihi 🙂 *Laughing*

India
Steeped in culture, I think India is a unique country with religious diversity in it like Indonesia. Dominant with a population of Hindus, many things that make India as an attractive country for me personally.

Indian people or their descendants can be found everywhere as Chinese people. Even in Indonesia, the owner of film production houses are also of Indian descent. Do you know the the Ram Punjabi ?? hehehe

But I am interested to enter the valley of the Gangga river, Taj Mahal as a famous and iconic in the world, then I want to know the original Indian food like what ?, also about Yoga, things spiritual smelled of India.

Japan
Japan as well as the rich Indian culture. Maybe it’s because I was mostly watching Japanese dramas huh? but the country is indeed a fascinating country, especially if we go to Japan, I’d love to climb Mount Fuji. One purpose only,  Mount Fuji beside Tokyo city.

 

china-yunnan-province-mapEgypt
Egypt is famous for its civilization, in history books, even the history of the prophet, of the Pharaohs, the Pyramids, the desert, traveling by camel there, the Nile, and what the atmosphere of this country that is portrayed in the movies. Also want to try different culinary.

China
China was spacious, but I want to visit  Yunnan, the highlands or mountain area with a lot of hills. reportedly there is also a set of Muslim population. Besides Yunan, I want going to Beijing which is part of the town of magnitude, to be really into the famous Great Wall of China.

yunnan
Louping, Yunnan Province, China

Saudi Arabia
Why Saudi Arabia? because I wanted to have a spiritual experience. Umrah or Hajj apart from one command when we’ve been able to.

Advertisements
LIFE, story, The Journey

Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau Nampaknya

IMG_7372
Rumput, di bukit-bukit berubah warna tapi tetap indah dari jauh di Gunung Semeru. photo taken by me

Ada pepatah lama, “Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau nampaknya”. Siapapun yang mengarang kata peribahasa ini keren lah. Di zaman aktualisasi social media maupun pergaulan jagad raya, masih terus berlaku adanya rumput tetangga yang nampak lebih hijau.

Iya, kepikiran aja nulis tentang pepatah ini karena belakangan lagi sering mendengarkan beberapa teman yang banyak ngeluh soal pekerjaannya. Ini jadi bikin ku mikir kalau betapa beruntungnya menjadi aku yang bisa melakukan sesuatu yang disuka, pekerjaan yang jadi hobi juga. Walaupun sebenarnya nggak banyak orang yang tahu juga gimana perjuangan buat survive sampai fase ini. Pekerjaan yang pada akhirnya walau disukai tetap bakal ditinggalin nanti pada masanya. Who knows?

Sebutlah seorang public relation di sebuah hotel berbintang empat di Jakarta atau account manager di perusahaan swasta. Perfect! siapa yang nggak mau punya posisi itu di antara para pencari kerja yang kesusahan di luar sana? bahkan setelah keterima jadi reporter dulu dan menjalani hari-hari bising rutinitas keredaksian dan sempat ada satu titik penat ku masih ngebayangin bisa jadi PR. Mau pindah jalur ke posisi pekerjaan yang lebih dihargai dari sisi finansial. Hehehe, ternyata semua kurang berguna juga, kalau melakukan sesuatu yang tidak kita sukai.

foto 1 (4)

Well, ternyata dua profesi kece ini pun tetap punya keluhan. Menurut ku apapun profesi, dengan latar belakang pendidikan sesuai atau tidak dengan jenis pekerjaan itu balik lagi bagaimana menyikapinya.

Suka mikir nggak? keluhan kamu itu tidak sebanding dengan apa yang dialami orang lain. Terjadi disekitar kita misalnya kasir swalayan. Kepikiran nggak kalau kamu jadi dia yang hampir seharian berdiri saat harus kerja? boring for me. Di tanggal merah pun mereka tetep kerja bahkan sampai malam..

Suatu kali saat ngantri di rumah sakit juga jadi mikir. Betapa membosankannya jadi resepsionis dan melayani orang daftar. Apalagi kasir yang harus hitung teliti uang dan kebanyakan di dalam ruangan aja kerjanya. Btw beda sama kamu yang bisa kerja lebih cerdas atau mungkin aku yang bisa kerja lapangan ketemu orang banyak, punya waktu luang kesana kesini bebas kamu yang atur yang penting berita kirim beres, foto-foto beres. Tanggal merah pun masih bisa mensiasati liputan atau buat stok berita sebelumnya supaya bisa libur. Kalau mikir begini kerasa Allah super super baik bangetssss.

Sejak saat itu mengerti lah, apapun yang ada sekarang syukuri. Melihat enaknya hidup orang belum tentu itu sesuatu yang nyata, cuma dia nggak ngeluh aja jadi kelihatan adem ayem. Gw pun jarang ngeluh dan banyak yang nggak tahu aja gimana keseharian menerobos jalan Jakarta, pulang malem, kehujanan, nyetir sendiri, atau belum lagi pas nggak dapet libur weekend karena harus ke luar kota.

Dulu sebelum ditempatin di desk yang cukup bisa dikendalikan rutinitasnya, aku pun nggak punya pilihan. Disuruh kesana kesini sama editor, bahkan sampe Bogor pernah ngejar-ngejar nara sumber. Kalau nggak sabar mana mungkin, pasti nggak betah mau keluar, tapi berhubung ini menantang, sudah jadi pilihan, dan suka melakukannya. Selagi masih muda pikir ku lagi, pengalaman yang banyak buat diceritain ke anak cucu nanti.

Nggak tahu juga kan gimana dulu di awal gw harus piket malem, kalau-kalau ada kejadian berita besar di Jakarta. Belum lagi jam tidur yang acak-acakan, nungguin DPR rapat sampai malam. Itu nggak setiap hari, tapi bayangin paling nggak cukup sering dulu dadakan di BBM atau ditelpon editor suruh pindah lokasi geser sana-sini. Berita harus langsung jadi.

Ah,… dulu ngebayangin kepingin jadi PR aja yang duduk cantik, bikin press rilis terus ngundang-ngundang wartawan. Hhahahah ternyata menjadi PR tak gampang juga, banyak harus ngadepin wartawan iseng.

Bukan soal pekerjaan aja, di kehidupan apapun. Seperti yang Diana Rikasari bilang “Put Love in everything we do. Only love makes everything feel better,”. Jangan banyak ngeluh, kerjain apapun dengan cinta. Hahaha jogging penuh cinta karena cinta sama body gw, nulis karena seneng cerita dan berbagi kalau dianggap lain sama yang baca yasudahlah, terus traveling juga semua karena cinta dan menghargai ciptaan Allah. Mumpung masih muda banyak kerjakan hal berguna, hal menyenangkan, btw sekarang rasanya lagi kebanyakan energi buat main. kepingin pinter berenang, naik gunung lebih jauh lagi, traveling ke Yunnan. Hhehehehe kalau nyokap baca pasti dimarahin.

foto 2 (3)

 

Liputan, story, The Journey, Traveling

Kali Kedua, Journey to Pontianak

DSCN7889.JPG
Mendekati senja, dari lantai 3 hotel Aston Pontianak… Kubah masjidnya cukup besar sampai kelihatan dari jauh

“Dyah tanggal 12 Februari kamu liputan sama orang sales ya,” tulis editor gw via Whatsap

“Jangan lupa stok berita dulu, sebelum berangkat,” pesannya lagi

Kali ini perginya sama orang marketing kantor. Karena perginya sama orang marketing kantor, gw juga prepare segala macam hal supaya ringkas dan tidak meribetkan. Seperti nggak bawa koper.

Sales atau divisi marketing, lagi punya acara sama salah satu bank klien-nya. Jadilah mereka bawa reporter buat nulis artikel acara gathering Imlek nasabah prioritasnya. Kali ini dari Jakarta gw berangkat bareng mbak Ira dan mbak Leidy. Alhamdulilah ternyata dua-duanya pembawaannya fleksibel dan profesional, jadi aman banget selama gw di Pontianak nggak seperti kekhawatiran gw sebelumnya kalau pergi diluar sama orang humas eksternal. Humas yang biasanya selalu perhatian, baik hati sejadi-jadinya sama wartawan.

foto (7)
Entah gaya apa ini, di Rumah Radangk yang ada ornamen khas Dayak. Piknik colongan sebelum ke bandara 😀

Perjalanan kali ini ke Pontianak tetap menarik, dibanding dulu kepergian pertama yang acaranya cuma tiga jam, pp pesawat dan nunggu hujan badai 4 jam dan itu cuma di dalem hotel doang ngeliput konsolidasi partai politik. Zaman-zamannya Hatta Rajasa masih jadi Ketua Umum PAN dan dia masih jadi Menteri Koordinator Perekonomian. Tahun 2011, udah lama bangets. Ngoookk 😀

Kali kedua ke Pontianak juga nggak begitu banyak jalan-jalan di kotanya. Acara kantor gw sekaligus tempat menginap di hotel Aston, seharian nggak kemana-mana. Ikutan meeting sebentar, terus tidur-tiduran nonton tv di kamar sebelum acara malamnya. Jadi tugas gw cuma dua, nulis artikel sama jadi fotografer dadakan buat di publish juga di Majalah HighEnd yang masih satu group sama kantor.

ZZzzzzzz dimanfaatin banget gw, whatever walau ini seharusnya kerjaan copywriter bukan reporter, tapi banyak juga kok temen-temen di media lain juga sama begitu bahkan sering banget, gw masih beruntung sangat jarang dan baru sekali ini pergi sama orang marketing.

So, ngapain aja dua hari semalam di Kota Pontianak??

DSCN7881
Ini dia Bubur Pedas, harus coba banget kalo ke Pontianak

Sarapan Pagi, Bubur Pedas yang khas resep warisan Melayu di Pontianak

Landing jam 08.00 pagi, penerbangan hanya satu jam dari Jakarta. Dijemput driver kami jalan menuju Pondok Orange. Kita sarapan Bubur Pedas yang di rekomendasiin sama mas driver. Nah, sekalian banget ini buat bahan artikel gw juga, lumayan dapet stok berita kuliner. Hehehehe 🙂

Ternyata Bubur Pedas disini enak, nyam…nyam… ah murah lagi cuma Rp. 12.000 doang hahahaha. Nggak seperti namanya, Bubur Pedas sama sekali nggak pedas, perlu ditambahin banget sambal kalau mau pedas. Usut punya usut, ternyata yang punya warung makan ini orang asli Jawa lho…pas ngobrol dengan pemiliknya Sugiono, saya nanya-nanya. Wihhh, bubur ini isinya campuran sayuran, dahulu kabarnya merupakan hidangan yang kerap disajikan di kerajaan dan merupakan cerminan budaya yang kental di kerajaan Melayu Deli.

Habis nyobain sedapnya Bubur Pedas buru-buru ke hotel buat chek in, tapi belum jam 12.00 sih… akhirnya sampai sana ngecek kesiapan ballroom buat acara malamnya. Baru kali ini banget dilibatin sama acara kantor, rempong ternyata. Biasanya tinggal dateng acara, liputan, bisa ijin langsung pergi kemana. Kali ini harus stand by, .. sampai diijinin buat ke kamar istirahat.

Malam Acara, Fotografer Dadakan Buat Event dan Hall of Fame

Tim dari Jakarta hanya ada 6 orang, termasuk gw yang bakal nulis artikel dan jadi fotografer dadakan. Beruntung mereka hire gw yang suka motret, coba reporter lain, belum tentu ngerti ambil angle foto. (Pam nggak boleh begitu Pam). Yasudah, cuma berlangsung dari jam 18.00 – 22.00 kan? nikmatin aja. Btw, tamunya pakai baju merah-merah, ala Chinese New Year.

Kelar acara, pamit ke kamar buat istirahat. Hufttt… ngomong-ngomong ya, biasanya kalau liputan bisa bebas ikutan makan buffet sama tamu atau pejabat lain. Kali ini karena acara kantor sendiri dan gw harus sibuk motret-motret, jadi nungguin acara selesai baru makan, hahaha diet.

Paginya, Disko! Jogging di seputaran hotel

Tidur gw malam itu nyenyak, mungkin karena lumayan capek. Udah niat banget dari Jakarta bawa sepatu lari gw, buat jogging pagi. Harus banget itu, kalo ke luar kota atau luar negeri. Touch down peta di aplikasi Nike Running. Jam 6.30 habis subuh, langsung jogging.

Ternyata kesibukan toko-toko sudah mulai menggeliat, pedagang, warga sekitar sudah beberes. Cuma 2 KM tapi itu maksimal banget, buang keringat, biar seger pagi-pagi.

foto (4)

Mampir Sebentar Ke Rumah Radangk

Habis sarapan, kita minta dianterin jalan-jalan seputar Kota Pontianak. Driver terus ngasih tau beberapa tempat, ada rumah peninggalan kerajaan sampai yang harus ngelewatin tol buat sampai sana. Tapi ada sebuah kejadian nggak terduga, pas nganterin salah satu tim ke Bandara, niatnya gw sama mbak Leidy yang jam 13 pesawatnya take off cuma mau chek in aja, supaya nanti kalo balik dari jalan-jalan kita tinggal bawa diri masuk pesawat. Ternyata eh ternyata, ada dua bangku kosong di pesawat jam 11.30, akhirnya kita dipindah ke jadwal pesawat itu.

Beruntungnya ya, sebelumnya udah sempet ke Rumah Radangk dan beli oleh-oleh. Fuiiiihhh, nggak jadi ke Tugu Khatulistiwa. Lebih memilih cepet sampai Jakarta aja, entah kangen rumah juga, besoknya pun ada janji ngolam di Senayan sama temen. By the way Rumah Radangk ini punya banyak pintu yang dihiasi ornamen khas Dayak gitu, jadi foto-foto lucu disini, sambil naik ke lantai dua ada pemandangan hamparan langit, ya lumayan piknik colongan.

DSCN8009
Suasana di pasar oleh-oleh jalan Patimura, Pontianak. Mbak Leidy suka narsis minta fotoin haha 😀

 

Beli Oleh-Oleh Khas Pontianak

Beruntung sempet beli oleh-oleh dulu sebelum ke bandara. Hufffttt, sayang banget jauh-jauh kesini nggak bawa apa-apa. Seperti kebiasaan gw harus beli kain motif khas, buat padanan kebaya. Ahhh, dapet kain lucu sutera dobbi seharga Rp. 80.000 saja. Motifnya lucu dan unik nggak ada di Jakarta.

Terus sekalian beli minuman lidah buaya, yang khas Pontianak, kan disini penghasil lidah buaya terbesar. Enak loh, minuman ini murah pula Rp. 10.000 saja dengan isi 4 gelas. Oleh-oleh khas lain saya nggak tertarik, lagi pula nggak ngambil uang di ATM banyak-banyak. Hehehe (gajian masih lama).

DSCN8010
Suasana tokonya seperti ini, di bagian toko samping juga da oleh-oleh makanan di Jalan Patimura, Pontianak.
LIFE, story

Hobi Curhat?

curhat lagiKetika curhat menjadi hobi, menurut kamu gimana? Curhat kok hobi sih? Secara singkat, hobi dalam kamus diartikan sebagai kegiatan yang disukai. Nah, kalau keseringan dan suka curhat jadi hobi toh?

Untuk orang berkarakter introvert atau tertutup agaknya aneh ya, kok bisa curhat juga? Padahal kepribadian tertutup, tapi lihat dulu tertutup yang bagaimana. Kalau seandainya seseorang sudah merasa nyaman itu hal yang biasa saja kok, curhat, cerita ini itu, namanya juga perempuan pasti suka curhat.

Nggak bisa nyimpen apa yang mengganjal di hati, tapi lihat-lihat dulu apakah temanmu terganggu dengan cerita kamu? Apakah dia lagi bisa dengerin. Hehehe, suatu kali saya pernah curhat ke temen cowo’ lewat BBM. Speakspeak dulu dong kan… Pakai nama samaran aja ya orangnya.

“Jul, lagi dimana, sibuk nggak?

“Lagi di bandara, baru aja sampe,” ketiknya lumayan singkat

“Oh, yaudah deh nanti aja,” ketik saya lagi. Tapi temen saya ini jadi penasaran

“Kenapa Pam?,” tanyanya masih dalam text

“Gapapa, mau cerita aja,” jawab singkat lagi

“Yaudah nanti kalau udah dapet taxi, aku kabarin ya, bbm lagi,”

“Oceeee,” tulis saya

Lihat sikon atau moment pas curhat. Lanjut kan BBM lagi sama Jul, cerita bla…bla…bla, dia kasih saran singkat tapi inti banget. Lega udah cerita, terus dapet solusi juga. Tapi habis itu di akhir bbm dia bilang :

“Aku tadi muntah-muntah dulu lho di taxi, makanya balesnya lama,” ketik Jul

“Yaampun, masuk angin kali ya, yaudah istirahat Jul,” tulis saya

“Mungkin kecapekan, istirahat, btw makasih ya,” teks di bbm ke Jul.

Aduhhh jadi nggak enak banget, dia muntah-muntah apa karena saya curhatin juga? hahahaha. Mungkin saking kaget dengan apa yang udah diceritain.

Nggak cuma ke Jul, saya juga masih suka cerita-cerita ke nara sumber yang seumuran ayah saya itu. Hahahaha mungkin waktu luangnya banyak, jadi bisa bales chatingan. Hmmm, tapi agak membatasi sih, walau dia saya anggap paman atau setara orang tua.

Curhat itu melegakan. Walau nggak sepenuhnya solusi, tapi kita bisa jadi pribadi yang lebih bebas dan belajar untuk mendengarkan, belajar jujur, ataupun menghargai pendapat orang lain. Menurut saya lebih baik seperti ini, banyak sharing daripada dibelakang terlalu banyak yang disimpan, nggak bagus juga secara psikologis. Hehehe tapi sekarepmu lah ya 🙂

 

 

Backpacker, The Journey, Traveling

What a Possibility, Travel to India?

Hello,.. isi blog saya kali ini agak dibuat berbeda, dalam format paparan wawancara dengan seorang traveler asal Malaysia yang sempat ke India. Sebagai bahan bacaan untuk perjalanan ke destinasi berikutnya.

Tentang traveling, mimpi saya belum habis. Masih ingin kesana-kemari terutama destinasi di dalam negeri. Soalnya Indonesia indah banget, sayang kalau dianggurin aja. Tapi kali ini saya lagi mau mimpi untuk bisa menjelajah ke negeri antah barantah. Tempatnya harus unik dan sangat kental budaya, selain itu saya kepingin kalau kesana bisa tinggal dengan penduduk lokal. Maksudnya sih supaya bisa diantar kemana-mana, Hhahahaha 😀

Punya sih temen India, tapi lama nggak contact… hhahaha contact-nya ada di Facebook yang sementara deactive dulu sampai waktu yang tak ditentukan. Lagi pula orangnya lagi sekolah di US entah balik lagi tinggal dan bekerja di Singapura atau lagi stay di India???

Ke Korea Selatan aja batal lho tahun 2016, padahal tiket pesawat PP sudah dibeli. Terus kenapa India? Jepang gimana? Berhubung dua tempat tadi kemungkinan bakal dikunjungi sebagai bagian dari rangkaian liputan. Saya pending dulu, kemungkinannya lebih menantang ke tempat semacam India atau Nepal yang masih bagian wilayah Asia.

foto 3 (1)
Pinjem foto Instagram @indah.indiana

Berhubung mimpi dulu untuk bisa traveling ke India dan sempat menjadikan India sebagai bahan artikel saya, wawancara sama kenalan traveler asal Malaysia yang pernah ke India ini saya sertain aja di blog. Kan lumayan buat info bisa tahu langsung dari seseorang yang sudah pernah kesana 😀

So, what a possibility travel to India? bagaimana sebagai budget traveler atau mungkin yang backpacker style mau pergi kesana? Bisa dicontek lho gimana cara survive-nya. Check this out, pakai bahasa Inggris ya…

What Your Travelling Style, When You Going to India?

As an avid traveler, I prefer to go on solo travel in backpacker style with a tight or low budget and my kind of destination is usually to go off the beaten path, in the middle of nowhere and disconnected. I have a severe case of wanderlust and the only cure is to keep travelling. I always want to go somewhere – island, temple, exotic, nature or strange places and don’t have any issue in taking the longer route (by train or bus) as long as I have music, camera and books (a novel and a problem solving book such as Word Search).

I am not used to tell people where I am going (except family), I just go by throwing things into my backpack and escape. I bet most travelers can relate to the sensation of being somewhere new, it’s the adrenaline rush. While many people prefer to explore Europe, I have a dream to get myself lost in exploring Nepal, Tibet Bhutan & India, one fine day.

foto 1 (3)
Padang tandus,… IG : indah.indiana

Tell Your Experience?

India is definitely a different country that I’ve been travelling to and the farthest country that I’ve ever been so far but not the first country that I went on solo travel. The misconceptions about India are the main reason for me to go. The media (especially social media such as Facebook, blogs & forum) doesn’t make it sounds like a safe and a dream place to go for a solo female traveler.

It’s truly shame what kind of image a media can create about a country. Violated women’s rights and sexual harassment such as rape, molest and murder have been associated closely with India but bear in mind that danger is everywhere and India is no worse than anywhere else. I can even get raped in Malaysia and by refusing to go or having a negative perception on India doesn’t guarantee that I might not get raped anywhere else. The fact is that, any place can be dangerous if you are at a wrong place at a wrong time.

‘Perception’ – It is absolutely rubbish and ignorance stereotyping to label one country (in this case, India) as ‘not suitable for traveler’. The world is huge enough for us to explore, to learn, to discover and to grow. I choose to believe that not all bad things are committed by bad people and I try to understand that some very good people do some very bad things, too. Just because people stereotyping India as a ‘dangerous and scary’ place, doesn’t mean that everything and everyone in India is dangerous too.

There is no surer way to find out whether it is dangerous or safe than to travel there. I’ve got my mum’s blessing (it was not as easy task to assure her on my decision to go, ALONE), ready with my Visa, packed my backpack and off I went on one of the most exciting adventure I ever had.

foto 2 (2)
Masih dari capture @indah.indiana suasan di India

India is not for everyone. Most of people around me even questioned back – Why India, but I don’t have any answer for them even until now. India is a very interesting and beautiful country but it can be extremely chaotic (the traffic, the people and the non-stop honks) and confusing. One should travel to India with their eyes open to appreciate the culture and you’ll experience a love-hate relationship there.

I get myself mentally prepared that India isn’t going to be a fairyland but once you open your mind to understand the culture, you’ll be less agitated when things go awry and even though I’m traveling alone, I am literally bring my loyal travel companion, Lonely Planet India.

Never a burden to carry you! India is hot, extremely hot and a bit dusty in May. People say do not eat or drink while in India unless it’s packaged but that’s not really living for me. I want to feel what the local people feel. Eat what they eat. Drink what they drink. Thanks God, I didn’t have any stomach upset while in India (or maybe because it just get used to any kind of food). They are helpful but be prepared with the staring part especially women. Don’t forget to smile but if possible, avoid eye contacts. A group of boys will always stare while you’re passing by and sometimes they will laugh and take your pictures.

People will simply cut your line in a long queue, take your seat in the train or get mad when you don’t understand what they’re talking about (in Hindi). However, every time I felt I was taken advantage of and pissed off, there will be always something to be thankful of such as strangers that will help without I even deserve it. This, I am talking about the love-hate relationship with India.

foto 1 (2)
Women in India at the bus capture @indah.indiana

I have had beautiful encounters with strangers such as an old Indian lady who will always wake me up when the train stopped so that I didn’t miss my Kollam station, strangers in the train who offered FOOD, taxi driver who asked around to find my homestay because both of us didn’t have phone (it was 0100 hours, the shops were closed and the road was totally empty), strangers on the streets who lend us phone, my incredible hosts in Kollam and Alleppey and many more (I miss India while I was writing this!).

When and How do you go to India?

I’ve been to India for the first time in May 2015, to the Southern part of India for four days & four nights. My route was Kuala Lumpur to Trichy (flight), Trichy to Kollam (12-hours train ride), Kollam to Alleppey (8-hours ferry) and Alleppey to Cochin (one and half hour’s bus ride & boat ride to Fort Cochin).

Do You Have a Trick and Tips to Traveling in India?

Be cautious but not fearful. Keep your fear in check. Dress modestly. Bring positive attitude. SMILE because negative look won’t make anyone feels better. Having confidence is very important for a solo female traveler. Drink a lot of water because you’ll dehydrate.

foto (2)
capture by @indah.indiana

What About Preparation Travel to India?

It was not in my calendar. It was an impulse decision. It was unplanned. It eventually proves that all the best things in life are always better than planned ones. It was double travelgsm (LOL do we have this word?) :p

Traveling in India is absolutely safe but of course, like anywhere else in the world, you have to do your research and preparation. The more aware you are of things, the better it is. I bought tickets in March without thinking twice, prepared Visa in the middle of April and flew to India in early May (after a week of travelling to Bangkok and Cambodia, it’s a back to back).

Along the way, I did a lot of blog reading related to solo female traveler in India, safety tips, things to prepare, the scams, train timetable and few other things. I would say by studying Lonely Planet and reading other traveler’s experience really helps a lot. I would like to thank #thetravellingtwins for sharing his experiences while travelling to South India. All the readings make me comfortable with my decision to go. I did my checklist in my travelogue book which I will bring everywhere I go.

I took extra precautions while travelling to India by bringing some safety tools such as pepper spray, pad lock, door wedge and whistle (I wear it as a necklace) but none of them being used. India is cheap too. I didn’t stay at hotel and opt for homestay so that I can mingle around.

foto (3)
Jaipur, Pink City (Rajasthan) from Instagram @indah.indiana

Tell More Something About Motivation Going to India?

Some people fall in love with people they never met. I fall in love with a place I’ve never been. There’s just something about India. Despite the negative perceptions and bad news, I fall in love before I even set my foot there.

India is the only country that continues to fascinate me and I guess I’ve been bitten by India bug. I would consider myself as a very stubborn person, the more you say NO, the tendency for me to do it will get even higher. It’s the curiosity I guess that keep motivating me to visit India. I want to see the real situation in India because I believe that what has been portraying in media could be misleading. And I’m glad that there are three of my friends that will be going to India too after this. Glad to inspire.

Do You Have Recommended Places?

Incredible India, it’s like nowhere else. Rock Fort Temple in Trichy is beautiful, Kollam is such a small town for chill out & the ferry ride to Allappey (the Venice of India) is very relaxing. My favorite pick will be Fort Cochin. I love the architecture of the church in Fort Cochin and the sunset view at Chinese-fishing net.

It has been wonderful four days – exciting, self-discovery, life changing and challenging. If you come to India with positive judgements, I bet you’ll definitely have a wonderful experience but if you’re being judgmental and skeptical, you will never love India like I do. India is so worth the experience and I would say that the train ride experience was the most expensive experience for me.

If you’re looking for a real fun adventure, do take the second class ride. It was interesting to mix around with local people. I’ve been taking few train rides but nothing could beat this one. It was scary at first (the thought of getting rape in the train) but it has become the most exciting train ever.

It was good to make new friends in the train. It was fun to see how they were fighting with each other for a seat. It was crazy. It was fun. It was loud. It was heartbreaking to see kids and old people slept on the floor. It was all, worth it.

Sometimes, it is not about the destination but it’s about the journey. The people. The food. The experiences. The self-discovery. The survival. The appreciation of life.