Backpacker, Himalaya, Nepal, story

Rekomendasi Penginapan di Nepal Selama Pendakian ke Himalaya

Mendaki gunung kan biasanya bawa tenda ya, beda cerita kalau kamu ke Nepal, pegunungan Himalaya. Disini kamu bakal nginep di semacam tea house atau guest house milik penduduk lokal.

Kenapa? Soalnya pemerintah Nepal menganut sistem yang memberdayakan orang lokal untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat menginap yang sekaligus menjadi tempat wisatawan berinteraksi, mengenal budaya, dan dengan begitu menjadi sumber ekonomi bagi penduduk yang tinggal di sepanjang jalur pendakian Himalaya.

Tidak ada hotel kelas internasional disini. Tapi bukan berarti tidak nyaman. Justru aku menemukan kenyamanan lain dari keramahan warga lokal. Asiknya, rumah penduduk yang juga sekaligus menjadi restoran, memberi kesan yang beda saat aku di Nepal. Saat aku nonton tv bareng mereka aku merasa heran, kok siaran tv mereka film India Bollywood gitu. Ternyata orang Nepal juga bisa sedikit bahasa India lho.

Ada banyak perbincangan sama orang lokal, kita sebagai wisatawan juga jadi bisa langsung tanya-tanya seputar kehidupan disini dan aku jadi tahu kalau anak-anak Nepal ternyata belajar Bahasa Inggris juga sejak SD. Rata-rata porter maupun penduduknya sudah fasih dengan Bahasa Inggris, ya karena disini daerah wisata dengan turis dari seluruh penjuru dunia yang penasaran dengan jalur pendakian Himalaya.

Oke. Intro-nya cukup panjang ya, langsung saja aku rangkum tea house atau guest house yang jadi tempat menginap aku sepanjang jalur pendakian Everest. Tapi point 1 dan 2 aku tulis dulu rekomendasi hostel di Kathmandu sebelum terbang ke Lukla. FYI kebanyakan turis asal aja pilih guesthouse sekenanya, soalnya tidak tentu juga berhenti di desa mana.

(1) Hotel Himalaya Yoga – Kathmandu (nilai 7,5)

Tahu hotel ini karena lihat review yang bagus di booking.com maupun agoda. Harga per bed itu sekitar U$D 5 dengan kamar tipe asrama atau doormitory. Enaknya kalau menginap disini itu bisa sekalian yoga gratis setiap pagi. Hotel ini juga menerima antar jemput bandara dengan tambahan biaya sekitar 1000 Ruppe Nepal atau setara U$D 10, yang kalau kamu di bandara nyari sendiri taxi bisa nawar sekitar 700 Ruppe Nepal atau setara U$D 7. Lokasi strategis di Thamel, dengan kamar mandi bersih, hot shower juga. Pemiliknya ramah dan staf juga membantu, bahkan kamu bisa nitip barang selama mendaki dan ketika balik ke Kathmandu bisa diambil lagi.

(2) 327 Thamel Hotel (nilai 8)

Kalau suka lingkungan yang hijau dengan taman, tempat bersih dengan toilet dan shower termasuk air hangat, sekaligus budget murah, bolehlah aku rekomendasikan 327 Thamel. Lokasinya juga dekat kemana-mana, kalau mau jalan-jalan ke Thamel. Disini juga ada restoran, jadi kalau malas kemana-mana bisa turun aja dari kamar. Tempat penyimpanan dengan kunci dan fentilasi cukup terang bikin kamu seperti di rumah. Aku merasa seperti lagi di garden house gitu. Tipe kamar doormitory dengan harga sekitar U$D 5 per bed.

(3) Himalayan Lodge (nilai 8)

Lokasinya di Desa Namche, atau dikenak dengan nama Namche Bazar. Disini tepat di ketinggian sekitar 3000 kaki, tempat pendaki beristirahat untuk aklimatisasi membiasakan tubuh di ketinggian dengannoksigen tipis, sebelum menuju jalur Everest.

Tahu tempat ini karena buka Tripadvisor dan review-nya bagus. Kaget juga, kok murah banget nginep disini cuma Rp. 45.000 per malam. Sampai niat untuk booking lewat online supaya bisa dapet tempat.

Ternyata saat sampai sana kamarnya masih banyak tersedia soalnya memang bukan musim pendakian. Lalu harga kamarnya cuma 200 Ruppe Nepal setara U$D 2, murah banget yesss? Walau harga makanan ya beda lagi, kalau mau mandi hot shower bayar U$D 3 lagi, charger baterai bayar U$D 2 lagi, hahaha dan wifi juga bayar lagi. Akhirnya ya dihitung-hitung U$D 10 juga budget-nya.

Yang aku suka disini itu pemiliknya ramah banget. Seperti ibu sendiri, dia yang beberes kamar dan masak buat tamu, dibantu sama seorang anak perempuan dan entah ada suaminya juga atau nggak disitu. Tapi tiap kali minta tolong dan memesan dia ramah banget, ngebantu banget apalagi saat saya butuh komputer buat booking tiket pulang pun dia mau ngedengerin permintaan tolong padahal lagi repot masak pas disamperin di dapur.

(4) Budha Family Lodge

Di gorak Shep, ketinggian sekitar 5000 mdpl, tempat sebelum pendaki menuju Everest Base Camp (EBC) kamu mesti aklimatisasi dulu disini. Aku pun karena sempat mengalami yang namanya AMS atau penyakit ketinggian yang pening pusing luar biasa itu sampai harus nginep 2 hari disini. Harga kamar disini masih U$D 2 dengan makanan yang melambung harganya sekitar U$D 5-7 karena kan makin tinggi. Bahkan apel aja satu buah saja U$D 2,5 alias satunya Rp 30.000 ๐Ÿ˜‚

Lodge ini menurutku masih baru makanya bersih. Terlihat dari teriplek rumah yang kelihatan baru. Jadi kamar mandinya bersih, soalnya pemiliknya ibu perempuan dan suaminya suka bersih-bersih. Jam 8-9 pagi mereka sudah sibuk masak air dan menyapu.

Dibanding lodge yang rumah sebelahnya, aku rekomendasi menginap disini karena lodge sebelah, lantainya aja licin sampai buat aku mau kepeleset saking nggak bersih ngepel-nya. Berhubung pemilik dan penjaganya laki-laki mungkin, aku perhatiin begitu. Tiap kali menginap di lodge yang diurus sama orang lokal yang tidak ada perempuannya, kurang terurus terutama kamar mandinya yang kurang bersih.

(5) Rivendell Lodge

Ini lodge saat bermalam di Debuche. Kenapa rekomended? Soalnya pemandangan dari lodge ini tuh bagus banget. Dari restorannya kamu bisa melihat pemandangan hamparan gunung es. Intinya itu aja, halaman luarnya juga luas langsung menghadap pemandangan yang amazed, kalo kamar standart kebersihannya sama dengan lodge umumnya yang termasuk selimut bedcover.

Cuma memang kamar mandi disini nggak begitu banyak air. Saking dinginnya juga sudah jadi es di suhu minus 5-10. Ketinggian lebih dari 4000 mdpl jangan ditanya ya ๐Ÿ˜‚. Harga semalam masih 200 Ruppe Nepal atau setara U$D 2 dengan makanan dan charger maupun hot shower yang masih harus bayar lagi. Mulai di ketinggian ini kita akan kesulitan listrik. Mereka masih menyimpan listrik dari tenaga matahari juga.

Advertisements
Himalaya, Nepal, story, Traveling

Kenapa Himalaya? Sebuah Alasan Khusus Memilih Destinasi Liburan

Ada sebuah obrolan absurd. Di penghujung perjalanan saya ke Himalaya kemarin. Putus asa (agak lebay padahal gak segitu banget perasaannya), jadwal pulang ketunda karena pesawat kami nggak bisa terbang dengan alasan “cuaca buruk”, menyebabkan saya nginep 2 malam lagi di Lukla.

Habis mandi dan keramas tentunya, melepas penat setelah sedari pagi (pukul 06.30) di bandara, dalam ketidakpastian menunggu flight sekitar 5 jam dan ternyata dikabari gagal terbang (lagi) untuk kedua kalinya, . Kami angkat bagasi. Nenteng lagi 6-13 kg backpack yang supergede itu ๐Ÿ˜‚.

Pasrah, jelas. Saya juga jadi berfikir. Tuhan, kok waktu berangkat mudah, pulangnya agak terhambat, semacam Tuhan lagi bilang “jangan pulang dulu” atau saya dikasih teguran. Menilik dalam lagi, ohya solat saya bolong-bolong., magrib terlewat, biasanya nggak pernah menjamak, lalu jadi menjamak. Selagi ada air seharusnya berwudhu dengan air, tapi karena merasa tak tahan dingin saya ganti tayamum. Apakah saya begitu menggampangkan?

“Haduh, lagi banyak-banyak berdoa nih, biar bisa pulang,” kata Kobo Chan waktu buka pintu.

“Doa? Solat aja enggak..,” kata saya cuek, bodo kalo dianya marah (abis jarang lihat dia solat๐Ÿ˜‚)

“Eh jangan salah, gw solat, tapi sehari 3 kali, dijamak,” balesnya..

Habis itu saya diam dan mikir saya juga gitu, selama 2 pekan ada beberapa solat yang ketinggalan. Apalagi pas saya kena AMS, seketika ketiduran mau pingsan. Lalu Zuhur dan Ashar bablasss.

Banyak yang dipikirin waktu agendanya harus pulang malah stuck di Lukla. Ngapain coba? Akhirnya baca buku ke ruang tengah dekat perapian, terus kalo nggak makan ya di kamar tidur. Di Lukla saya dapet sinyal lumayan kenceng, disaat itulah what’sApp dari kantor, email kerjaan mulai masuk bertubi-tubi. Termasuk omelan-omelan karena cuti saya melebihi yang diijinin.

“Chan, SP 1 tuh prosedurnya gimana sih? Tanya saya sambil selimutan.

“Ya kayak diomongin aja, cuma dipanggil terus dikasih peringatan. Kenapa lo?, Tanya Kobo Chan diujung sana.

“Engga… (Nggak terus ngadu ngomong kalo abis dikasih SP 1),” bales saya..

Lalu entah kenapa saya malah nanya hal lain. Ya dasar orangnya random kan, nggak pernah ngerencanain kalo ngobrol nanyain apa, sama halnya kalo wawancara narsum mengalir aja, tanpa buat daftar pertanyaan.

“Eh gw nanya dong. Menurut lo apa benang merah dari perjalanan ke EBC, ke Himalaya?” Tanya saya (masih dari balik selimut, karena kedinginan, suhunya di Lukla masih sekitar 1 derajat celcius).

“Oh ternyata fisik nggak sekuat dulu ya. Ini lho, sudah kesini.. tabungan nggak habis begitu aja tapi dipakai buat perjalanan kesini,” jawab Kobo Chan

“Sesimpel itu doang nih,? Tanya saya sedikit mendelik.

Yaampun saya inget ini lagi ngobrol ceritanya, tapi nggak saling liat muka. Selimutan di kamar. Sepanjang jalan mau ke kaki Everest dingin brrbbrrr

“Ya tadinya kan mau ke India, budget nyampe kesana, terus ganti mau ke Cina. Eh searching baca tulisan orang jadi tertarik ke Nepal, yaudah.. tadinya city tour aja, eh malah mau sampai ke basecamp Annapurna. Tapi malah jadi ke Everest biar nggak nanggung,” Sambung Kobo Chan lagi.. (yang alesan ini sudah pernah diceritain ke saya sebelumnya).

“Nah lo kenapa Himalaya,” balik nanya dia

“Karena gw suka gunung,” singkat jawab haha.. lagian sudah pernah saya jelasin juga ke dia, masa diulang. (Panjang… bukan sekedar karena suka gunung atau mau naklukin dan ngejadiin ini the best of the best pendakian).

Namun akhirnya saya ngomong gini… meluapkan isi pikiran soal perjalanan ke Himalaya.

“Gw kan lagi baca buku ya, bukunya Jalaludin Rumi. Jadi salah satu nya ada kata-kata di buku. Saya lanjut bilang kurang lebih seperti yang di buku..

Di dunia ini ada satu hal yang tak boleh dilupakan. Jika kau lupa banyak hal, tapi masih ingat satu hal tersebut, maka tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Namun jika kau mengerjakan banyak hal, tapi lupa satu hal tersebut, berarti engkau dianggap tidak mengerjakan apapun. Demikian sejatinya manusia datang ke dunia ini untuk mengerjakan tugas tertentu.. dari buku Fihi Ma Fihi – Jalaludin Rumi.

“lah nggak ada yang nyuruh ke Himalaya kok, nggak kesini juga nggak apa-apa,” kata saya.. ๐Ÿ˜‚ serius banget ya

Cuma intinya saat itu jadi inget, saya orang yang penasaran sama Kaki Everest seperti apa lalu nekad pergi.. akhirnya mendapati jawaban dari Allah seperti ini.. saya malah beberapa kali ninggalin solat dan semacam lagi ditegur tapi lewat cara lain. Entah itu tegurannya termasuk pesawat yang delay karena gangguan cuaca.

Tahu dan sadar itu tapinya sampai sekarang rasanya tidak menyesal sudah nekad pernah pergi. Bahkan ngorbanin uang tabungan cukup banyak. Rasanya puas. Paling gak penasaran sudah terjawab.

Mungkin saya terlalu serius. Perjalanan, yang proses bagi setiap orang itu berbeda-beda, ada hujan, badai, terkena terik matahari, sampai ibaratnya yang terkecil pun dihempasan angin. Traveling itu personal. Tapi alasannya paling tidak mencakup karena kamu suka destinasi itu. Bukan sesimpel alesannya Kobo Chan ke Himalaya, saya agaknya terlalu mendalam.

Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

โ€œSakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,โ€ kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. โ€œSayang duitnya, mending buat makan,โ€ kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

โ€œMudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi iniโ€.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. โ€œAlmost there (sudah dekat),โ€… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (6) – Pertanyaan Seputar Persiapan Pendakian ke Everest Base Camp

Pengalaman harus mempersiapkan banyak hal sebelum pendakian Himalaya ke EBC, dengan segala rincian yang harus dipenuhi. Posting-an blog kali ini saya buat rangkumannya agar pembaca bisa langsung menemukan jawaban. Simak ya… ๐Ÿ™๐Ÿป

URUS VISA NEPAL DIMANA?

Visa Nepal dapat diurus saat tiba di Kathmanduโ€™s Tribhuvan Airport atau disebut mengurus Visa on Arrival (VOA). Dokumen yang dibutuhkan hanya foto 2×3 atau 3×4 dan menulis formulir pengajuan Visa yang sudah disediakan di bandara lalu membayar Visa sesuai masa kunjungan. Untuk Visa selama 15 hari 25 U$D, 30 hari 40 U$D, dan 90 hari. Anak usia di bawah 10 tahun tidak dikenakan biaya Visa.

Kawasan Asia Selatan kecuali India membutuhkan Visa. Pembaharuan ketentuan ini juga bisa berbeda sesuai update peraturan di Nepal. Silahkan di cek saja. Visa Nepal menurut situs Lonely Planet juga bisa didapat ketika memasuki perbatasan Nepal di Nepalganj, Birganj atau Raxaul Bazaar, Sunauli, Kakarbhitta, Mahendranagar, Dhangadhi dan Rasuwagadhi.

img_5705
dokumennya seperti ini untuk Visa On Arrival

Sebaiknya perhatikan betul soal masa kunjungan. Saya sarankan untuk ambil Visa 40 hari bila akan ke Everest Base Camp. Mengingat kadang ada masalah cuaca buruk pesawat tidak bisa fix terbang setiap harinya. Soalnya saat pulang saya ditagih kelebihan waktu tinggal yang 15 hari jadi 17 hari. Denda justru akan membuat boros pengeluaran, jika saja saya ambil Visa yang 30 hari, maka hanya membayar 40 U$D. Sementara kemarin karena denda saya dikenakan tambahan 34 U$D lagi. So pengeluaran Visa saja jadi 25 U$D + 34 U$D jadi 59 U$D.

BAGAIMANA MENGURUS IZIN PENDAKIAN?

Seperti di Indonesia, kalau ingin mendaki gunung di Nepal juga memerlukan surat izin mendaki yang bisa didapat dengan membayar sejumlah uang. Kalau ingin ke Everest Base Camp kamu perlu 2 surat ijin mendaki. Tadinya TIMS yang diurus di kantor Nepal Tourism Board di Khatmandu, lalu Surat ijin mendaki ke kawasan Taman Nasional Sagarmatha di Lukla. Bisa klik disini Info soal izin mendaki Everest

Namun saat Februari 2018 saya kesana ada peraturan dari Pemerintah Nepal yang berubah. Ternyata tidak perlu lagi mengurus Trekkers Information Management Systems Card ( TIMS) di Kathmandu, pendaki bisa mengurusnya ketika sampai di Lukla. Yeayy.. Alhamdulilah. Soalnya Sabtu tadinya kantor TIMS itu libur, nah pas kemarin partner trekking saya tiba Sabtu, jadi ini keberuntungan tidak perlu urus dan repot dengan TIMS.

img_5704
Tiket trekking permit

So, langsung urus sekalian lewat saat tiba di Lukla. Letaknya tidak begitu jauh. Biayanya kalau dirupiahkan totalnya sekitar Rp 550 ribu. Dengan rincian entrance fee . NRP 2.000 atau Rp 200 ribu dan trekking di Sagarmatha Zone yang di urus di dekat desa Monjo NPR 3390 atau sekitar Rp 340 ribu.

PENGINAPAN SELAMA MENDAKI DIMANA?

Sistem yang diambil di Nepal para turis atau pendaki tidak seperti gunung di Indonesia dimana pendaki harus membawa tenda sendiri untuk bermalam. Inilah enaknya menurut saya, jadi kita nggak berat-berat bawa tenda dan justru ikut bisa membaur dengan orang lokal Nepal.

Pemerintah Nepal menerapkan sistem penginapan di lodge atau hotel rumahan seperti homestay yang dikelola penduduk lokal. Jadi kamu sebenarnya ikut memberdayakan orang lokal Nepal dengan menyewa rumah mereka sebagai tempat tinggal, sekaligus restoran. Dan harga lodge disana rata-rata sama sekitar 2 U$D-3 U$D per kamar dengan 2 tempat tidur belum termasuk jika memesan makanan dan membeli minuman.

img_5560-1
ini lodge penginapan saya di Debuche

Harga kamar paling mahal sekitar NPR 400 atau 4 U$D di Lobuche yang memang sudah hampir ketinggian 5000 mdpl. Tapi di Gorak Shep yang akan dekat ke Everest Base Camp saya tetap dapat harga kamar murah, hanya NPR 200 saja atau 2 U$D padahal ketinggian 5100-an mdpl. Tergantung juga, terserah yang punya penginapan kadang. Sementara harga makanan di tempat paling tinggi memang akan semakin mahal. Misalnya sandwich bisa jadi 6 U$D, paling murah honey toast hanya 3 U$D. Kalau minumnya di ketinggian 3000 mdpl an masih sekitar NPR 100 atau 1 U$D, tapi di ketinggian 5000mdpl harganya jadi NPR 350 atau 3,5 U$D.

BERAPA BIAYA HIDUP PER HARI SELAMA PENDAKIAN?

Hampir terjawab diulasan sebelumnya, tentang rincian biaya menginap dan makan. Jadi saya jawab rata-rata kita akan mengeluarkan 10 – 15 U$D itu yang paling hemat, maksimal bisa 20 U$D per hari tergantung makan, minum dan kebutuhan, jika memutuskan mandi dan menggunakan hot shower makan ada tambahan 3-4 U$D untuk itu.

BAGAIMANA SOAL ASURANSI SELAMA PENDAKIAN?

Saya tidak memakai asuransi untuk pendakian yang telah saya lakukan. Ini setelah bertanya dengan pendaki dari Spanyol, dia saja yang bule nggak pakai asuransi. Namun ada teman yang pergi dengan asuransi karena dia pergi dengan open trip. Menurutnya dengan asuransi maka ada covered bila terjadi sesuatu. Misalnya terkena Acute mountain sickness (AMS), perlu helikopter buat pulang dll.

img_5535
cek point, tentara yang jaga juteks

Namun harus ada analisa dari guide yang mendampingi bila betul-betul harus mendatangkan helikopter. Katanya nggak sedikit orang yang gagal ke Everest jadi asuransi ini penting. Namun saya agak sayang mengeluarkan sejumlah uang untuk tambahan biaya asuransi ini. Karena lumayan menguras sekitar 1-2 jutaan. Sewa porter dan guide saja sayang uang apalagi untuk asuransi. Akhirnya saja hanya rajin olahraga, jaga kesehatan, asupan gizi yang cukup dan memeriksakan kesehatan sebelum perjalanan ke Himalaya. Termasuk cek tulang, cek kolesterol, tes darah, dll.

Hanya satu antisipasi saya karena dideteksi hampir masuk dejala ostepenia. Mendekati osteoporosis. Akhirnya saya rutin minum suplemen vitamin D dan kalsium. Persiapannya itu saja dan memastikan peralatan dan jaket saya akan melindungi selama cuaca dingin di Himalaya.

APA ADA ATM DISANA?

Ada bank di Lukla, yang akan tutup sekitar pukul 14.00 siang (kalau hari Jum’at). Kamu bisa tarik via mesin swip dengan kartu debit. Untuk itu kami akan dikenakan biaya 5 % dari jumlah uang yang diambil. Disini juga bisa menukarkan Dollar yang akan dikenakan biaya. Lumayan juga daripada harus tukar uang atau ambil lebih baik pegang uang tunai yang berupa Dollar dari Jakarta dan ditukarkan di Thamel atau bandara Khatmandu saat sampai di Nepal. Kita tidak bisa membawa Rupiah karena tidak laku ditukarkan di Nepal.

foto 1
ini bank di Lukla, deket banget bandara, bisa ambil uang tapi kena casss 5 persen, tukar Dollar juga bisa

Selain bank, ATM bisa kamu temukan di Namche Bazar. Ada beberapa ATM yang menarik uang juga dikenakan biaya. Kalau saya sempat narik ATM di Thamel, itu ada charge NPR 500 atau 5 U$D sekali tarik. Makanya lebih baik ambil sekalian saja.

BAGAIMANA MENGATASI AMS?

Acute mountain sickness (AMS) memang harus diwaspadai saat pendakian berat seperti ini. Saya pernah mengalami soalnya dan itu cukup tidak nyaman. Saya mengalami mual dan ingin muntah, lalu ada perasaan pusing seperti keleyengan karena terik matahari. Puncaknya adalah sakit kepala yang sangat amat nyeri. Belum pernah merasakan sakit kepala seperti ini.

Saya menghindari minum obat-obatan. Paling ya Paramex aja atau Panadol. Katanya obat pencegahan AMS itu minum Diamox yang bisa dibeli di Thamel maupun Namche. Tapi mengingat harganya lumayan juga jadi mahal di Namche, saya nggak jadi beli. Hahaha, pelit cuma 500 Ruppe atau 5 USD tapi mikir lebih baik buat biaya makan.. 3-4 U$D bisa dapat 1 toast atau apel.

Karena nggak bawa bendera, saya tempelin foto aja seperti turis lain

Ternyata juga untuk meredakan gejala AMS hanya perlu tidur saja. Dan minum air teh manis hangat. Sudah setelahnya tidak apa-apa lagi. Biasanya gejala AMS juga disertai tidak nafsu makan. Saya mengalaminya, dan akhirnya karena perjalanan cukup berat, saya yang tidak makan nasi atau karbohidrat lebih banyak minum air hangat ditambahkan dengan madu royal jelly yang di bawa dari Indonesia.

Terbukti ini bisa menjadi energi. Walaupun saya juga terkena flu dan pilek yang tak bisa dihindari. Mungkin karena minum madu, flu pilek saya cepet sembuh. Seminggu setelah pendakian hampir pulih benar. Walau setiap hari harus jadi anak ingus. Tapi cepet sembuh dan lega.

Tips lain katanya bule, kalau kena AMS mungkin karena terlalu cepat melampaui ketinggian, karena seharusnya bertahap mendakinya. Kena AMS ya keliling-keliling desa saja, atau turun lagi ke desa yang lebih rendah ketinggiannya.

Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (5) – Monjo to Debuche, Batal Trekking Bareng Bule Spanyol Baper

Katanya, traveling itu bisa buat kita makin mengenal diri, makin tahu apa yang dimau, berani bersosialisasi, membuka cakrawala baru, bikin kita lebih membumi, dan punya pola pikir lebih luas. Alhamdulilah terima kasih dengan segala kisah traveling yang sejak 2013 lampau hingga sekarang menjejak ditahap ini.

Sudah sampai mana daya jelajahku ya masih disini-sini aja, karena memang sempat berfikir di dalam negeri, jalan-jalan di Indonesia aja sudah bagus banget kenapa harus jalan keluar? Menurutku bukan berarti kalau traveling ke luar negeri terus gak cinta Indonesia juga, ini soal pilihan aja kok, apa yang dipingin!

Dan kali ini aku pilih Nepal memang khusus karena ada pegunungan Himalaya disana. Jauh-jauh hari karena empat bulan lalu sempet belum fix jadi pergi ke Nepal, ternyata partner trekking ku cari travelmate lain di dunia maya, sebut saja partner naik gunung ku kali ini di sini namanya Kobo Chan (karena menurut ku potongan rambutnya mengingatkan sama tokoh kartun Jepang Kobo Chan ๐Ÿ˜‚โœŒ๐Ÿป).

img_5321
tempat pemeriksaan, bayar trekking permit untuk Sagarmatha Zone

Lalu saat akunya udah fix jadi pergi ke Nepal, Kobo Chan mengadu .. kalau saat aku masih galau pergi atau gak dia cari partner dan ada satu orang Spanyol yang tanggal perginya sama dengan kami. Mereka sudah saling berbalas email dan kelihatannya si bule Spanyol ini memang serius sekali mau bareng!

โ€œPartner gw nggak jadi bareng nih. Gw nggak mau trekking sendiri, bareng ya, ketemu di Giri desa setelah Lukla,โ€ kira-kira begitu terjemahan kata-katanya di email..

Dua bulan, sebulan, hingga selang seminguan sebelum kepergian ke Nepal Si Bule Spanyol masih kontakan sama Kobo Chan dan karena itu kami juga jadi bisa menggali informasi lebih banyak soal trekking ke Everest Base Camp (EBC). Dengan pertanyaan apakah kami akan ambil asuransi untuk trekking ke EBC? Bagaimana dengan jadwal pesawat ke Lukla, beli online atau langsung? Atau bagaimana cara mengatasi bila kami kena Acute mountain sickness (AMS) alias penyakit ketinggian?… berkat Antonio, si bule Spanyol, kami tidak bingung lagi dan ini semakin memantapkan persiapan untuk trekking ke EBC.

img_5519
Pemandangan dari Namche menuju Tengboche

Dua hari pertama saat sudah ada di Kathmandu, belum ada kontak langsung ke Antonio, walau aku ingat dia memberikan nomor WhatsApp. Rasanya seperti kurang niat dari kami nya ya? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿป Lalu saat baru akan terbang ke Lukla besoknya baru deh aku nanya Kobo Chan.

โ€œEh si Antonio apa kabarnya ya, dia nginep di hotel mana sih di Thamel?,โ€ tanya ku via texting

โ€œKayaknya si Antonio bakalan on the spot deh nginep dimana,โ€ balasnya..

Karena masih ingin santai-santai me time di Thamel dengan kulineran dan belanja aku pun sengaja untuk memang tidak menghubungi Antonio. Biarlah sama-sama me time. Barulah di bandara beberapa jam sebelum penerbangan ke Lukla aku coba WhatsApp Antonio dan ternyata cepat dia balas.

img_5514
Salju di Namche

โ€œHi Antonio, iโ€™m Dyah, Chandra friend… from Indonesia.. we will arrived at Lukla maybe at 8.30 am,

Now we waiting for flight 7.45 am,

Just wait there ๐Ÿ™‚,โ€ tulis ku di pesan WhatsApp.

โ€œHi, how are u?

….

itโ€™s cool… ,โ€

bla bla bla aku lupa dia nulis apa saja, tapi antusias banget lah dia..

Kemudian Antonio juga menginformasikan lokasi dia nunggu, dia bilang di Alpine Lodge, desa Giri.. 30 menit hingga 1 jam dari Lukla,โ€

Dia juga kasih foto selfie, lagi pakai kaca mata gitu dan slayer merah dengan jaket warna cokelat.

Oke,โ€ jawab ku…

img_5317
baru sampai Desa Monjo jam 4 sore, bagus ya dari jauh pemandangannya

THEN…. Entah sebab apa… entah angin apa, entah bagaimana bisa. Kami berdua nggak ada yang inget sama Antonio setelah ngerasain naik pesawat cihuy ke bandara extreme, turun pesawat yang diinget mau pipis dulu, packing ulang tas, terus trekking ngelewatin lodge, rumah penduduk, dan bayar trekking permit nggak jauh dari Lukla.

ANEH menurut ku. Nggak satupun dari kami ingat Antonio. Mungkin karena takjub banget sama atmosfer desa? Atau gimana nggak ngerti deh. Bener-bener baru ngeh janjian sama Antonio saat liat plang petunjuk jalan pemberitahuan kalau desa Phakding jaraknya 1 jam lagi, Namche 6 jam lagi. Baru inget, saya nyeletuk.

โ€œLah Antonio, kan janjian sama Antonio, kelewat dong?… zZzzZzzz

Ngerasa agak bersalah, aku coba nge-WhatsApp, tapi koneksi internet nggak ada. Data tidak berfungsi. Padahal paket roaming aku masih ada 1 hari lagi. Masih ngerasa nggak enak. Karena Antonio pastinya nunggu. Pesan ku sudah pasti tidak terkirim. Kami jalan lagi sampai akhirnya makan siang dan sampai Monjo sekitar pukul 4 sore.

img_5532
di Everest Base Camp trek, akan menemukan banyak jembatan seperti ini

Disela makan aku masih berguman bingung, kok bisa lupa Antonio. Sampai besoknya ya sudahlah memang lupa tidak disengajai. Bahkan masih merasa bersalah sebenarnya ketika sampai di Namche. Ngomong deh ke Kobo Chan…

โ€œSi Antonio waktu itu dikasih tahu gak sih, kalau rencana kita mau nginep di Himalayan Lodge,? Tanya ku..

โ€œHmm, enggak kayaknya,โ€… balesnya nggak yakin. Lupa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿป

Ya sudah… cuek lah habis itu… walau kadang kepikiran. Pas makan, mikir gimana kalau Antonio nungguin, kan dia mesti nyampe sini juga, kemaleman apa gimana… PADAHAL kenal deket juga nggak tapi saya mikirin. Dia kan sudah dewasa bisa memutuskan keadaan terbaik seperti apa baiknya. Btw Si Antonio berumur 33 tahun, dia memperkenalkan jati diri dan pengalamannya sepedahan keliling beberapa negara gitu melalui email.

img_5516
anak-anak Nepal, di Desa Namche

Terus Antonio juga cerita (Kobo Chan yang nyeritain ulang obrolannya di email) sebelum ke EBC dia juga dari India, ke Taj Mahal dan dia ngabisin waktu 2 bulan liburan ke beberapa negara selain India dan Nepal. Kebayang kan betapa jauh perjalanan dan perbekalan dia buat itu. Bahkan dia cerita buat hemat uang pakai purify water, … air mahal banget (1 U$D – 3,5 U$D di desa dekat EBC) di Nepal listrik juga mahal soalnya. Belajar dari dia kami ikutan mau hemat gitu.

Oke Antonio, maafin ya, kami bener nggak sengaja.. lucunya! Gak sadar kami ngobrol sama seorang bule di perapian sebelum tidur saat di Namche, dia juga dari Spanyol, bilang abis dari India, terus sekarang ini 2 bulan liburan gitu. Kenapa 2 bulan? Karena dia kerja setiap hari, gak libur, gak seperti kami yang Sabtu dan Minggu dapet libur tiap pekan.

Sebelum tidur Kobo Chan nanya gitu,

โ€œEh mungkin nggak sih, si bule Spanyol yang ngobrol sama kita tadi itu si Antonio,โ€ katanya agak sambil mikir keheranan..

โ€œHmm, kayaknya gak mungkin, mukanya beda, yang di foto pakai kaca mata sih, tapi dia dari Spanyol juga ya, mungkin aja,โ€ balas ku…

img_5327
Perjalanan dari Desa Monjo ke Namche

Then ngantuk, si Antonio untungnya nggak masuk ke alam mimpi aku.. tau-tau pagi, Namche berubah jadi bersalju… mungkin terlalu exited jadi lupa soal Antonio lagi.. sampai makan malamnya.. ketemu sama si Spanyol lagi di perapian dan makan sebelahan. Tapi kali ini pandangannya natap kami agak aneh curiga gitu. Aku sih santai aja orang nggak kenal nggak deket juga.

Desa Namche kami lewati, trekking lanjut ke Tengboche dengan ada sedikit hujan salju di perjalanan. Cukup jauh kali ini trekking hampir 6-7 jam. Sampailah kami di Debuche, desa setelah Tengboche. Menginap di sebuah lodge yang namanya unik, Rivendell, salah satu asrama di film HP.

Ternyata satu lodge sama si bule Spanyol. Kaget juga, bener-bener ruang dia disebelah kamar. Dingin lebih menusuk di Debuche, baru sampai aku lihat toilet dan menemukan airnya hampir jadi es ๐Ÿ˜‚. Beku, nggak kuat ber-wudhu, nyerah aku tayamum.

Dari dalam kamar yang punya jendela dan bisa melihat pemandangan depan gunung es dan halaman lodge aku juga ikut merhatiin Kobo Chan lagi ngobrol sama si bule Spanyol. Dalam hati mikir, ngobrolin apa ya kok kayak serius… haha..

Habis beres barang bawaan, nggak lama Kobo Chan masuk dan tiba-tiba mengadu..

โ€œDy, bener tau ternyata itu si Antonio, njirrr… baper banget dia,…โ€ sahutnya tiba-tiba

โ€œHah, masa… tau dari mana,? Tanya ku penasaran…

โ€œIya tadi dia yang bilang,

img_5630
cerah, matahari terik namun udara anginnya dingin

Gak tau tiba-tiba ada yang mangil nama,

Kaget aja ada yang tahu nama, Chan…

Terus dia ngomong gini masa,

..โ€Chan… kalau ngga mau bareng bilang aja dari awal,โ€… aduan Kobo Chan sembari niruin gimana si bule nyampeinnya..

โ€œLah,… hahaha, masa..,โ€ heran ku

โ€œBaper banget si bule..,โ€ bales Kobo Chan lagi

โ€œYaudah nti coba nti tak samperin dan bilang kalau hp ga ada sinyal, ini juga nggak disengaja,โ€ bales ku lagi

Whattt… kata ku dalem hati. Memang kelihatan sih, si Antonio seperti nahan kesel, mau marah gimana gitu, tapi nggak bisa, lah kita dan dia bukan siapa-siapa, deket juga nggak kan… hahaha baper!

img_5536
ini di Desa Tengboche, dekat dari situ ada Wihara

Akhirnya aku nggak ngomong apa-apa sama Antonio, udah sibuk kedinginan, ngangetin diri, akhirnya nyamperin juga nggak, abis udah males… haha cuekin aja lah, kata aku ke Kobo Chan … โ€œNamanya orang dewasa harusnya nggak bersikap gitu,… hahaha

โ€œLagian ada hikmahnya juga gak bareng dia, kan bule jalannya cepet,โ€ bales Kobo Chan lagi ๐Ÿ˜‚โœŒ๐Ÿป…. bener juga kata ku dalam hati.

Serasa jodoh sama si Antonio, saat mau trekking dari Dingboche ke Tabuche kita juga ketemu. Then, pas perjalanan pulang dan ke Namche lagi dia nginep di lodge yang sama lagi, dengan waktu pertama kami ketemu. Cuma aku sibuk ngurusin re-schedule tiket pulang. Dalem hati baper baper nih bule ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿป.