Kuliner, Malaysia - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Kuliner Ajiiiib KL – Bukit Bintang – Petaling Street

Traveling it feels incomplete if You do not try regional specialties. Instead of culinary is also include as part of the tourism eksplosure?

tmp_IMG_20130405_170553-1018140710 Big Portion Chiken Tandoori, Not Spicy But Lemonade

Region famous tourist crowds in Malaysia is Bukit Bintang. No wonder that a row of restaurants here, my friends told me culinary at Jalan Alor also must try, because there was a lot of street food, who knows a cheap and tasty. But my hotel is located around Bukit Bintang, so dinner for three nights, i’m choice around here.

Ganti mode. Capek juga ya mikir kosakatanya biar Bahasa Inggris, hehehe. Baru aja cek in hotel, tapi habis itu perut rasanya udah kruyuk-kruyuk minta diisi. Maklumlah kan memang jam makan siang, jalan sekitar 500 meter, sederetan jalan di Bukit Bintang menawarkan berbagai macam restoran. Yang menarik, ada sebuah restoran India bertuliskan Nasi Kandar dan Ayam Tandoori, tanpa pikir panjang langsung pilih makan di sini.

Apa sih sebenarnya kedua menu ini? agak bawel dan skeptis, maklum wartawan 😜.. habis makan saya nanya kenapa ayam Tandoori bisa merah, dari mana warna merah tadi. Mungkin resep rahasia, si bapak Indian berkulit gelap dan tinggi kurus nggak mau kasih tahu. Dia cuma bilang itu dari bumbu khas di India.

tmp_IMG-20130405-00432956293978 I recommend you to visit this restaurant. Restoran Nasi Ayam Hainan yang Favorit Saya Banget di Bukit Bintang

Siapa yang tidak tergoda penampilan Ayam Tandoori warnanya merah, kirain rasanya pedas padahal justru seperti ada campuran resapan lemon, jadi asem gitu. Ayam Tandoori ini juga dilengkapi saus yang nggak pedas, campuran yogurt, rasanya sama asamnya.

Saya kurang paham sih, kenapa kalau ke restoran India pasti dikasih porsi yang besar banget. Mungkin orang India kalau makan bener-bener mirip kuli 😂. Makanya lebih baik beli seporsi untuk berdua biar nggak mubazir.

Setelah ayam tandoori, saya juga memesan Nasi Kandar, sebagai teman makan si ayam. Rasanya mirip dengan nasi kebuli yang suka dibuat mama dirumah. Paduan berbagai rempah-rempah dan rasa kambing.

FYI.. guys, sebelum berangkat ke Jiran saya sudah ancang-ancang mau nyobain Nasi Lemak, salah satu makanan khas nya dan ternyata agak mirip Nasi Uduk kalau di Indonesia. Bedanya, nasi ini nggak direndam dan dimasak dengan santan, tapi hanya daun salam, lalu ada orek-orek kacang, telur mata sapi, dan sambal. Blaaaaah cuma ini ternyata, *penonton kecewa* Oke nggak apa-apa, itu harganya cuma 2 Ringgit dan biasa aja rasanya. No tasty.

image Air Mata Kucing di Petaling Street

Dimana pun kamu berada, kalau nggak mau kecewa, pilihlah tempat yang kelihatannya ramai dikunjungi. Bisa jadi restoran itu memang punya taste yang sesuai. Seperti kalau di Bukit Bintang, malam harinya kita makan di Nasi Ayam Hainan Chee Meng, nggak kecewa deh sama menu disini. Nasi Ayam beserta Lauk Ayamnya ajiiiibbb, gurih tapi nggak seperti pakai MSG. Ayamnya juga juicy.

By the way saking sukanya, malam besoknya saya sama travelmate kesini lagi dan nyoba menu berbeda, Mie Goreng Hokian-nya yang ternyata juga enak. Kalau biasanya makanan dengan taste nggak mengecewakan, pasti mahal. Di restoran ini tuh rasionable banget. Seporsi Nasi Ayam Hainan sekitar Rp 30 ribu atau RM 7 . Menu lain juga rata-rata seharga RM 7-10. Cuma kalau dibandingkan, dengan restoran diluar jalur Bukit Bintang seperti Jalan Alor, harga ini terbilang lebih mahal. Kan disini site nya turis. So, yang pergi ala backpacker lebih baik ke Petaling Street aja atau Jalan Alor.

Bila cuma ingin aman cari makanan pasti enak ya pilihannya restoran India aja, yang di berbagai sudut kota juga ada. Kalau di Indonesia mirip Restoran Padang yang tersebar dan jadi favoritnya orang-orang, termasuk kalau kamu ke Papua sekalipun, restoran nasi padang ada disana. Di dekat Stasiun Komuter, KL Central ada Suriah Teh Tarik yang makan berdua cuma menghabiskan RM 7 padahal porsinya banyak dan sudah termasuk minumnya. Juga Restoran Nasi Kandar dekat Gedung Mydin, meski ada teman yang berkomentar di warteg lebih murah 10 ribu juga dapet (itu kan tapinya cuma sepiring).

tmp_Bandar Kuala Lumpur-20130406-00487-1573114232 Buah Di Petaling Street

Hampir tiap hari makan berlemak atau berkuah santan di restoran India, kasian perut rasanya. Buah adalah menu wajib, carilah ke pasar seputar Petaling Street. Disini tersedia banyak macam buah, tergantung kamu sukanya apa. Oh ya, kalau kesini jangan lupa beli Air Mata Kucing sebagai pelepas dahaga. Unik ya namanya, katanya Air Mata Kucing juga berkhasiat untuk panas dalam. Rasanya mirip-mirip kalau kita minum liang teh.

Sepenggal perjalanan, pertama kali backpacker 2013

(Dyah Ayu Pamela)

Advertisements
Malaysia - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Ini yang katanya “Truly Asia”

Malaysia punya slogan buat pariwisatanya berjudul “Truly Asia”, mari cari tahu dimana karakter yang buat mereka berani mengklaim kalau disana benar-benar Asia?. Daerah seperti Kuala Lumpur (KL), kawasan Bukit Bintang, dan Petaling Street adalah beberapa tempat yang cukup ramai sekaligus disebut dalam buku sakti para traveler, Lonely Planet sebagai must visit place, dari tempat ini kita bisa cari tahu apa pesan dari “Truly Asia” tadi, seperti apa sih?

IMG-20130404-00372
Dibawah Stasiun Pemberhentian Komuter, Imbi. Tak Jauh dari Kawasan Bukit Bintang

Negara yang satu ini, Malaysia, tetangga dekat, yang masih serumpun tapi sempat sering salah paham. Bila diulik lagi konflik wilayah yang merembet sengketa, saling klaim pulau atau kepemilikian kebudayaan antara Indonesia dengan negeri jiran sudah terjadi sejak era Presiden Soekarno di tahun 1960-an. Ada kata “Ganyang Malaysia” di buku-buku sejarah waktu SD hingga SMA. Gimana nggak membekas, dari kecil kita sudah dicekokin sejarah konflik dengan tetangga.

Saya agak apriori karena beberapa yang saya temui kurang ramah. Ditanya surau atau musholla, atau masjid nggak tahu. Bukannya disini muslimnya cukup banyak (kalau ini rasanya agak sensitif, mungkin saja yang saya tanya ternyata non muslim) lalu saat akhirnya ketemu musholla itu cuma ruang sempit di sebuah pusat perbelanjaan yang ala kadarnya. Saat itu juga rasanya langsung bersyukur sama musholla yang lebih baik di Jakarta dan kepingin cepet pulang ke rumah.

IMG-20130405-00423
Suasana Kota di Dekat Berjaya Square

Balik lagi tentang “Truly Asia”, Malaysia demikian menyebut dirinya sebagai yang betul-betul Asia mungkin karena disini kamu bisa melihat wajah-wajah yang “Asia Banget” perwakilan dari etnis India, Cina, Melayu, dan mungkin juga Arab (India yang mirip Arab). Negara dan penduduknya yang lebih kecil berjumlah sekitar 20 juta-an (bandingin dengan Indonesia yang 250 juta) dan 6 juta-an di seputar KL membuat wajah-wajah campuran etnis Asia tadi berbaur. Kesannya jadi lagi ada di Asia, bahkan nggak cuma itu, makanannya juga. Berbagai restoran India, Cina, Arab, Melayu berjejer di kawasan tempat wara-wiri nya turis seperti Bukit Bintang bederetan juga dengan penginapan.

Atmosfer yang paling terasa kental kesan Asia juga bisa dijumpai jika kamu berjalan di  seputar Petaling Street. Waktu itu saya berjalan di kawasan etnis India dan mendengar lagu India lagi disetel kenceng banget, kali lainnya di kawasan toko-toko beretnis Cina lagu mandarin melengking naudzubila. Terus yang nggak kalah lagu-lagu Melayu macam ST12, D’Masive, atau Peterpan juga membahana di toko-toko souvenir (Oh jadi gini selera mereka, langsung gubrakkk).

Percampuran budaya dari Cina, India, Melayu juga ditunjukan dari bangunan kuil-kuil yang ada. Tak jarang bisa dijumpai Kuil India dan Cina berseberangan, terletak di banyak sudut. Tapi kesan Asia menurut saya cuma sebatas wajah dan makanan mereka. Selebihnya seperti keramahtamahan orang Asia, toleransi yang dipunya di negara kita, dan kebersatuan? rasanya jadi bersyukur cuma kita Indonesia yang beragam-ragam suku bangsa tapi tidak sendiri-sendiri dan memiliki rasa persatuan.

Di negeri jiran

(Dyah Ayu Pamela)

JAVA - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Candi-Candi Di Bawah Kaki Langit Dieng

Kabut pagi masih memendar rasa dingin, beserta lantunan khidmat adzan yang baru saja usai. Dengan menanggalkan rasa malas, aku lalu berusaha bangkit dari tidur singkat tadi.

“Udah subuh dek, mama sama papa udah di masjid tuh dari tadi,” ujarku sambil menepuk-nepuk bahunya supaya bangun.

IMG_1393
Kumpulan Candi ini Seolah ada di Bawah Kaki Langit Dieng

Panji diam saja, tanpa banyak bicara dia keluar dari mobil dan mengikutiku ke arah masjid. Tak jauh dari tempat kami parkir. Lalu seketika aku menggigil, tersentuh air yang terasa sedingin es. Mungkin ini rasa dingin paling ekstrim yang aku alami sebagai orang yang tinggal di negara tropis.

Kami baru saja sampai di Dieng pukul 02.00 dini hari, saat semua tempat penginapan sudah tutup. Melewati jalanan berkelok-kelok, turunan tanjakan, desa, sawah kebun, dan deretan pohon pinus di kegelapan, tak ada pilihan lain kecuali melanjutkan perjalanan. Padahal warga sekitar sudah memperingatkan untuk bermalam.

“Jalanannya rusak, khawatir kalau nanti tiba-tiba ban bocor. Apalagi jalanan kalau mulai sore sudah berkabut,” imbuh penjual nasi ayam di pinggir jalan.

Sempat ada rasa khawatir dengan kata-kata bapak penjual nasi ayam tadi, tapi berhubung sudah tanggung, perjalanan dilanjutkan. Tikungannya memang tajam, tapi masih ada rambu yang memberitahu kalau jalanan curam. Sementara rasanya melewati jalanan gelap hanya dengan penerangan lampu mobil, agak menakutkan.

image

Dataran tinggi Dieng letaknya 30 km dari kota Wonosobo, tepatnya di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Sebenarnya tujuan kami adalah liburan ke Jogja, tapi via Pekalongan dan Wonosobo sengaja mampir dulu ke Dieng. Katanya sih deket, padahal jauh banget apalagi kalau nyasar-nyasar dulu.

Keindahan Dieng sudah lama dibicarakan orang-orang, tapi aku sendiri nggak ngeh kalau Dieng itu punya peninggalan candi-candi kuno. mulai agak antusiasme nih, waktu liat ada plang bertuliskan Kawasan Candi Arjuna. Letaknya seperti ada di bawah hamparan langit, disini seperti sedang berada tepat di bawah kaki langit Dieng yang merupakan dataran tinggi gunung berapi.

Di tempat ini kamu bisa melihat candi bercorak Hindu dengan arsitektur yang indah dan unik. Selain itu daerah wisata ini juga memiliki Dieng Platea. Menurut orang-orang cara termudah untuk sampai ke dataran tinggi Dieng ialah dengan mengendarai mobil. Lokasinya ada di Jawa Tengah, berjarak sekitar 3 jam perjalanan dari Yogya atau hanya 25 km dari Wonosobo. Nah kan, makanya sebelum ke Jogja mampir dulu kesini. Sebenarnya siapapun dapat menyambangi wilayah yang indah ini bahkan dengan transportasi umum, untuk informasi lengkapnya bisa di googling ya…. 🙂

FGSGG (1 of 1)
Salah Satu Candi

Menurut teman yang pernah ke Dieng, jika menggunakan transportasi umum maka perjalanan dapat menggunakan bus dari Yogya ke Magelang dan ke Wonosobo. Dari Wonosobo, ada minibus menuju Desa Dieng. Kawasan Dieng sendiri dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Desa Dieng (Kalau ini kayaknya harus mikir ribuan kali). Namun cara termudah untuk sampai ke dataran tinggi Dieng ialah dengan mengendarai mobil.

Rasanya ajiiibbbbbb, udaranya sejuk sekitar 15° Celcius sepanjang hari, jadi jangan lupa untuk membawa baju hangat atau sweater. Cuma kalau pagi dan matahari udah muncul, rasa dingin itu agak berkurang, jadi sweater nggak perlu tebel-tebel banget, kecuali kalau udah malam. Banyak yang menyarankan untuk meninggalkan kawasan Dieng sebelum malam hari karena Dieng mulai ditutupi kabut yang tebal sejak sore hari.

Mungkin, hari itu turis yang pertama kali banget sampai kawasan Candi Arjuna adalah kami berempat. Si bapak-bapak penjual makanan aja baru buka tokonya, disini dijual apa saja, semacam syal biar nggak kedinginan, tutupan kepala, juga menjual minuman hangat, cemilan sarapan seperti kentang goreng yang dipotongnya nggak sama dengan kentang goreng di KFC tapi gede-gede, jadi bikin kamu cepet kenyang.

Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa tengah. Kawasan Candi Dieng ini menempati dataran pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut, memanjang arah utara-selatan sekitar 1900 m dengan lebar sepanjang 800 m. Luas banget kan?

Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9 ini diduga merupakan candi tertua di Jawa. Sampai saat ini belum ditemukan informasi tertulis tentang sejarah Candi Dieng, namun para ahli memperkirakan bahwa kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya. Di kawasan Dieng ini ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 808 M, yang merupakan prasasti tertua bertuliskan huruf Jawa kuno, dan masih ada hingga saat ini. Sebuah Arca Syiwa yang ditemukan di kawasan ini sekarang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.

Candi Dieng pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1814. Ketika itu seorang tentara Inggris yang sedang berwisata ke daerah Dieng melihat sekumpulan candi yang terendam dalam genangan air telaga. Pada tahun 1856, Van Kinsbergen memimpin upaya pengeringan telaga tempat kumpulan candi tersebut berada. Upaya pembersihan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1864, dilanjutkan dengan pencatatan dan pengambilan gambar oleh Van Kinsbergen.

Luas keseluruhan kompleks Candi Dieng mencapai sekitar 1.8 x 0.8 km2. Candi-candi di kawasan Candi Dieng terbagi dalam 3 kelompok dan 1 candi yang berdiri sendiri yang dinamakan berdasarkan nama tokoh dalam cerita wayang yang diadopsi dari Kitab Mahabarata. Ketiga kelompok candi tersebut adalah Kelompok Arjuna, Kelompok Gatutkaca, Kelompok Dwarawati dan satu candi yang berdiri sendiri adalah Candi Bima.

Sayangnya ya, selain kawasan Candi Arjuna dan kawah diatas Dieng Platea kami nggak pergi ke tempat lain seperti yang terkenal dibicarakan danau tiga warna. Perjalanan langsung berlanjut ke Purworejo, Magelang, dan Kota Jogja.

Merayakan Usia di Ketinggian

(Dyah Ayu Pamela)

JAVA - Indonesia, KEPULAUAN SERIBU - Indonesia, story, Traveling

Kepulauan Seribu, Destinasi yang Masih Harus Berbenah

Screenshot_2013-09-09-20-53-14

Di depan saya semua tampak tak bertepi, hanya ada hamparan air, cermin langit yang menjadi biru warnanya. Pemandangan lain adalah kapas kapas putih awan yang kali itu tidak berbentuk apa apa. Rambut kami bisa saja ikut terbawa, karena hembusan angin. Tapi masing-masing telah menempaskan dirinya dari semilir udara dan terik matahari. Mungkin karena capek, banyak juga yang tertidur dan melewatkan suguhan alam tadi.

Kemudian rasanya saya sangat kecil, dan bumi yang sudah lebih dari seperempat abad tempat berpijak ini menjadi demikian luas. Rasanya tak sia-sia karena memiliki waktu sebagai kesempatan yang diberikan oleh-Nya untuk menjelajah dan lebih memaknai kehidupan.

Tepatnya kami sedang berada di dek perahu paling depan. Tapi ini bukan sembarang perahu, hanya perahu kayu reguler sederhana yang seorangnya hanya dikenakan tarif Rp.30 ribu sekali jalan dengan waktu tempuh 3 jam perjalanan. Ketika itu perjalanan pulang kembali menuju Pelabuhan Muara Angke. Suatu tempat yang jika kamu sandingkan mungkin mirip sekali dengan pasar ikan di Kramatjati. Becek, amis dan bau anyir ikan.

Tidak seperti biasanya, saya berpergian ala backpacker. Bukan menginap di hotel, bukan naik kapal bagus, bukan juga makan di restoran mahal seperti kalau saya liputan yang disponsori lembaga atau pengundang. Atau tidak seperti waktu saya vacation ke Phuket dan KL yang masih menikmati kamar mandi private berdua di sebuah hotel kelas tiga. Jauh beda, tapi semua itu tidak mengurangi semangat saya menikmati moment yang bernama jalan-jalan.

image

Justru entah bagaimana anehnya menurut saya backpacker itu seru, seperti kekagetan saya waktu harus naik kapal reguler kayu. Nggak kebayang banget becek-becekan di Muara Angke, lompat dari perahu satu ke perahu lain, dan lelongsorang di dalam kabin, tegeletak begitu saja, dan tidur di lantainya. Dan entah kenapa tidur saya justru lebih nyenyak daripada malam kepergian hari itu. Saat bangun, tahu-tahu sudah sampai di Pulau Pramuka, tempat menginap sebelum menuju pulau lainnya. Tiga jam lamanya akan sangat terasa kalau nggak tidur.

IMG_20130820_183049
Di Pelabuhan Muara Angke

Di Pelabuhan Lama Muara Angke, kapal yang tersedia adalah jenis kapal kayu. Kapal ini tersedia setiap hari dengan waktu keberangkatan pukul 07.00 WIB. Inilah kapal yang saya tumpangi bersama 13 teman-teman backpacker lainnya. Mereka benar-benar baru saya kenal hari itu. Sudah lama saya kepingin banget ke Kepulauan Seribu, tapi mungkin memang baru saat inilah kesampaian waktunya. Tepat di hari kemerdekaan, 17 Agustus 2013, dekat sekali dengan weekend dan masih ada bau-bau libur lebaran. Makanya nggak heran ramai banget pelabuhan Muara Angke pagi itu.

Adzan subuh baru saja berkumandang. Pukul 05.00 pagi saya berangkat bareng dengan 5 backpacker termasuk Ika, temen SMP saya, yang akhirnya ketemu lagi setelah sekian lama mengembara dan memiliki kehidupan dimana-mana. Backpacker lainnya adalah Prita, yang kata Ika bisa kenal waktu backpacker  ke Karimun Jawa, ada Wendra atau yang dipangil sama teman-teman dengan sebutan Papap (kalau ini sebenarnya panggilan sejoli dari Ika). Lalu ada sepasang sejoli lainnya, Hatni dan Made. Cap cus, kendaraan kami melaju kencang melewati jalan tol menuju Pelabuhan Muara Angke yang ternyata jauh dari rumah Ika. Tapi sebenarnya terasa jauh karena macet di dekat perempatan menuju Muara Angke. Selama perjalanan radio tape dan MP3 adalah senjata ampuh pengusir bosan, terkadang seorang dari kami menimpali sebuah lagu dan membahasnya. Oh ya, di Dermaga Muara Angke saya juga bertemu Maya, Amoz, Raisa, dan Yacov.

Jika tidak ingin tertinggal perahu reguler, datanglah sebelum pukul 07.00 WIB. Sebab, ada banyak orang yang ingin menumpang kapal kayu. Kapal aja sudah penuh saat saya dan teman-teman tiba jam 06.00 pagi. Ika yang memiliki usaha travel agent Wisata Pesona dan memberi kami diskon untuk kepergian hari itu mengkoordinir dan mengarahkan kami untuk langsung naik. Nggak heran kenapa begitu penuh, karena penumpang kapal ini bercampur antara penduduk asli pulau dengan wisatawan. Biasanya, mereka sudah datang sejak pukul 06.00 WIB. Karema itu, lalu ada pasangan sejoli lainnya yang ketinggalan kapal. Jadi kami ketemu Fadil dan Riri di Pulau Pramuka.

IMG_20130817_234226
Di Pulau Karya, warna Pantainya turquoise biru kehijauan, cantiknya

Sebenarnya untuk menuju Kepulauan Seribu ada banyak jenis kapal yang bisa ditumpangi. Mulai dari kapal kayu hingga kapal jenis kerapu. Khusus yang ingin lebih segera sampai, ada kapal cepat sejenis Yacth. Lokasi keberangkatan pun cukup banyak, mulai dari Muara Angke, Muara Kamal dan juga Pelabuhan Marina Ancol. Di Muara Angke, ada dua pelabuhan yang bisa digunakan, diantaranya pelabuhan lama dan pelabuhan baru atau Kali Adem.

Seperti Elfa Putri, teman saya sesama reporter yang pernah pergi ke Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Macan. Beruntung dia pergi dengan jenis kapal Yacth yang sangat nyaman. Untuk naik Yacth pelabuhan yang dituju adalah Marina Ancol. Fasilitas di dalam Yacth selain ruangan ber-AC, sofa nyaman dengan kulit ada pula DVD dan Televisi supaya tidak bosan dan cukup dengan 1,5 jam perjalanan kapal Yacth ini akan mencapai pulau. “Saat melewati dermaga kondisinya kotor dan bau sampah, tapi setelah itu pemandangnya indah banget, di belakang pulaunya aja indah,” seloroh Elfa yang bilang kalau Pulau Macan itu  seperti pulau penjaga.

Untuk naik Yacth yang nyaman, sudah pasti sangat mahal. Kalau bukan karena dibayarin saya juga akan mikir 5 kali. Saya bingung, kenapa ya di Indonesia pariwisata jadi mahal banget. Ya, selain karena infrastrukturnya minim, what the heel kemana aja pemerintah berinfestasi untuk infrastruktur?. Dulu Presiden kedua kita yang hampir 35 tahun berkuasa, sangat mengedepankan infrastruktur sampai banyak melakukan pinjaman sama IMF. Sekarang mungkin APBN banyak dipakai untuk subsidi BBM ya?

Kalau membandingkan dengan keliling Kepulauan Seribu dengan Phuket, Thailand. Sebagai pelancong asing misalnya saya pasti akan lebih memilih untuk menghabiskan uang saya di Phuket. Di Phuket untuk keliling 3 pulau seharian dengan canoeing bisa didapatkan hanya dengan 800 Bath atau sekitar Rp. 300 ribu-an. Kita akan dijemput dan diantar ke hotel dengan minivan lalu perahu yang saya naiki adalah sejenis speed boat, dengan pemandu, dan makan siang di sebuah restoran dekat pulau. Memang belum termasuk harga membeli tiket pesawat, lalu juga biaya hotel.  Bandingkan dengan saya yang pergi ala backpacker ke Kepulauan Seribu dengan merogoh kantong sekitar Rp. 250 ribu untuk 2 hari 1 malam, meski sudah termasuk bermalam di hostel, makan 2 kali sehari dan barbekyu malam harinya. Entahlah sebenarnya kurang sepadan dan sulit dibandingkan keduanya.

Hal yang saya khawatirkan sebenarnya transportasi dari dan menuju Kepulauan Seribu untuk jenis kapal reguler. Kelihatan sekali kondektur kapal suka memaksakan penumpang tetap naik, meski kapal sudah penuh. Jelas ini berbeda sekali dengan metromini di kendaraan darat, ini laut yang saya tidak bisa membayangkan bila sampai terjadi kecelakaan laut dan membahayakan keselamatan penumpang. Apa jadinya bila sampai terjadi, kembali cacatlah pariwisata kita.

Padahal pariwisata itu memiliki multiple effect. Bila suatu daerah dapat memanfaatkan potensi ini, masyarakatnya sudah dapat dipastikan memiliki sumber pendapatan ekonomi. Bukan hanya objek wisatanya, makanan, budaya, serta aspek lain yang akan jadi daya tarik suatu destinasi. Kata-kata ini masih menggelayut dan terus saya ingat. Kata-kata yang terlontar waktu wawancara, ikut liputan ke daerah, dan melihat sendiri buktinya. Kata-kata Pak Sapta Nirwandar dulu waktu saya liputan bidang pariwisata itu masih jadi Dirjen Pemasaran di Kementerian Pariwisata, dan kini sudah jadi Wakil Menteri di lembaga yang sama.

Tapi bagaimana jika yang sekarang terjadi adalah berbagai tempat di Indonesia yang indah ini sangat minim infrastruktur. Semua keindahan ini harus digapai dengan harga yang lebih mahal. Karena mahal akhirnya orang-orang kita lebih suka jalan-jalan ke luar negeri daripada menjelajah negeri sendiri. Dulu pernah ada kampanye “Masyarakat Sadar Wisata” lalu pemerintah juga menggelontorkan dana untuk PNPM Mandiri bagi pengembangan Desa Wisata. Tapi kenapa terkesan lamban ya, sesampainya di Pulau Pramuka yang telah memiliki Puskesmas itu saya melihat ada sebuah plang PNPM Mandiri dan itu tertanda tahun 2012. Kalau tidak salah, Desa Sade di Lombok, NTB justru sudah sejak 2010 menerima PNPM. Padahal Kepulauan Seribu kan lebih dekat dari pusat ibu kota.

Kepulauan Seribu itu menurut saya masih terbilang bagus banget. Secara dekat dari Jakarta, kalau nggak punya ongkos ke Bali. Kalau kangen sama pantai dan laut berwarna turquoise pergi aja ke sini. Pulau yang saya kunjungi, Pulau Karya dan Pulau Semak Daun salah satunya. Pasirnya putih, ikan-ikan kecil di pinggir pantai, lalu seperjalanan pulang ke Pulau Pramuka saya ketemu Penyu yang lagi melompat, huuuaa senangnya. Tapi, tetap satu dua hal yang disayangkan. Sampah, bahkan sampah sepatu dan tas rongsok saya menemukannya di kedua pulau ini. Kemudian sedikit ilfil sama bau anyir dan amis ikan di pelabuhan.

Pertama kali backpacker

(Dyah Ayu Pamela)