story

Dibalik Media VS Blogger

Baru-baru ini gw baca berita soal editor mode di Inggris yang komentar betapa menyebalkannya blogger. Kalau boleh jujur hampir semuanya bener juga celotehan si editor mode dari Vogue ini. Entah sebelumnya dalam bentuk berita apa pernah ada juga pihak media yang merasa terganggu dengan kehadiran blogger-blogger ini?

Aduh postingan kali ini cukup emosional ya, seperti ngajak berantem? Seberapa sebelnya editor mode sama blogger fashion? cek link ini Editor Mode Sebut Blogger Fashion Mengganggu dan Menyebalkan

Mendadak blogger merasa seperti artis (utamanya blogger fashion, gatau kalau blogger lain). Sampai sekarang ketika lagi undangan makan di sebuah tempat terus ada si blogger fashion itu, salah satu narsum gw yang pemilik brand jam tangan asal Prancis langsung nyeletuk, “Tuh ada si … (aduh nggak usah sebut nama),”. Siapa yang nggak kenal, selain blogger juga selebram dengan follower puluhan ribu, jadi influencer, juga dibayar dan di PINJEMIN baju sama desainer-desainer buat pakai bajunya.

Semenjak marak fashion week juga, aduhh mereka betebaran pamer baju (kesannya yang komen gini tuh sirik ya). Blogger yang memang tenar dan punya kenalan artis ada di deretan kursi depan. Oke gw nggak semendalam banget juga sih merhatiin mereka. Baca tulisannya pun nggak (ngapain, mending baca ulasan editor mode Vogue atau Telegraph, lebih terpercaya!).

Satu fashion blogger yang sering ketemu itu Diana Rikasari, blogger fashion pertama Indonesia. Secara pribadi nggak begitu kenal sama Diana, jadi rasanya kurang pas juga ya kalau komentar soal dia. Satu hal sih yang bisa gw komen, dia itu PEDE abis, mau bajunya menurut gw kadang lebih sering bikin sakit mata. Tapi tetep kita nggak bisa menyamaratakan selera tiap individu, bakal menghakimi jadinya.

blogger-for-blog
pic from : inspihero.com

Terakhir Diana sudah punya 2 buku dan itu semua best seller. Helloooo!!!! Suatu kali gw tanya temen gw yang kerja bareng Diana di Kompas Gramedia buat proyek buku itu.

“Kenapa sih bukunya itu bisa best seller?” (cuma dalem hati gw merasa siapa pun bisa buat buku macam itu, inspirasi dari quote-quote pengalaman pribadi). Ya memang si Diana punya daya memengaruhi anak muda sih. Ya menurut gw itu udah takdir, semacam memang rezekinya Diana punya buku best seller diluar kemampuan dia nulisnya bagus atau nggak. Satu hal daya pikat orang melihat sosok nya yang punya karakter itu yang bikin bukunya laku. Hahahaha sekedar pendapat aja.

Terus temen gw jawab …. “Karena orang Indonesia itu butuh dimotivasi,” yesss… ternyata ini perpaduan cara memotivasi lewat gambar dan kata-kata yang dibuat oleh orang yang memang punya magnet sebagai influencer. Yah, tapi ketika gw dateng di peluncuran bukunya, yang dateng anak seumuran SMP dan SMA atau masih kuliah. Tapi di Instagram, penyanyi Andien pernah memposting sesuatu dengan quote dari buku Diana ini.

Ah udah, cukup soal Diana. Yuk balik lagi kenapa kadang blogger itu menyebalkan?

Pertama berasa artis, seperti haus popularitas … dengan bahasa tubuhnya semua mata tertuju dengan busana si blogger, gw tahu banget itu rancangan desainer siapa. Tas brand apa, karena kerjaan gw juga mantau fashion week dari Paris, Inggris, New York, sampai Milan…yang jelas yang mereka pakai bukan brand murahan. Cuma masalahnya antara dipenjemin dan setengahnya mungkin beli sendiri ya. Belinya bisa ngabisin gaji wartawan kamu setahun.

Tapi sekedar sharing,  gw nggak ada di pihak manapun. Temen-temen gw banyak blogger juga kok. Keseharian gw pekerja media dan suka nulis juga sebagai blogger. Jelas keduanya beda, dan gw semakin nggak ngerti kenapa kemarin waktu ke Bangka liputan opening Hotel terus penyelenggaranya juga mencampur antara media dan blogger.

Huffttt, jadi kemarin gw liputan luar kota bareng Anak Jajan sama Eat & Treats, dua food blogger yang cukup terkenal lah. Gw pun follow mereka di Instagram. Cuma entah kenapa positive feelings sudah, tapi kami memang nggak bisa menyatu ya, semacam ada kubu walau kami nggak musuhan juga.

Pada akhirnya tetep, gw milih satu meja sama temen-temen media dan diseberang meja lain blogger yang cuma 4 orang juga. Anak-anak blogger baik semua, kita tegur-teguran, tapi ya gitu seperti ada pembatas. Hai gw media dan hai gw blogger.

journalist
pic :rmadisonj.blogspot.com

Tapi sempat juga suatu kali review restoran seafood di daerah BSD Tanggerang, kami dijadiin satu dan gw ketemu kakak food blogger yang pernah satu acara. Dia bareng sama temen bloggernya Kompasiana. Nggak pernah ada sesi memusuhi semua baik-baik aja, tapi kenapa kadang blogger suka kurang rasa sopannya kalau dikasih goodie bag dan protes ke penyelenggara dibeda-bedain isinya. Oh pleeasse tolong, kan malu gw aja sering nggak dipake vocher diskon dan makan gitu, malah dikasih anak kantor dan temen.

Di lain waktu, gw pernah memposisikan diri sebagai blogger. Ya tidak masalah kalau kepilih kan buat nulis review destinasi wisata. Hitung-hitung piknik gratis, tapi masih memegang sifat sebagai media apapun hal yang gw review itu jujur, nggak dibuat-buat walau dapet gratis.

Adanya blogger karena social media yang meluas dan punya efek besar membuat banyak pihak menggunakan mereka untuk budget yang lebih rendah dibanding mengundang media. FYI, temen gw yang mau buka restoran kasih bocoran gitu demi menekan budget katanya.

Dan banyak temen juga tahu kalau zaman sekarang dengan media maupun blogger pun khalayak juga harus skeptis. Pernah temen bilang, “ya mending gw liat review makanan di Zomato dong, kan jujur isinya,”. Dibanding baca ulasan blogger yang kadang di-setting, media juga beberapa ada yang nggak seimbang memberitakannya. Artinya sebenarnya zaman sekarang masyarakat sendiri makin kritis, melihat sebuah ulasan itu fakta atau yang dilebih-lebihkan hanya untuk keuntungan.

truth-or-lie

Terus, suatu kali gw diundang meliput menu baru sebuah restoran (nggak usah disebut namanya ya) di Plaza Indonesia gerai pertamanya. Menu baru yang kolaborasi dengan BLOGGER. Whatttt? temen-temen media langsung komentar pada males, bukan satu dua orang aja. Katanya ngapain banget menu kolaborasi dengan blogger? dan serius nggak representatif makanannya.

Komen terakhir gw, hasil pengamatan aja. Melihat situsnya Anak Jajan yang ngebahas kuliner dalam bahasa Inggris terus punya follower puluh ribuan orang itu hasil dari mengkhususkan diri sebagai food blogger. Mereka rapih dan speciality banget nggak random temanya.

Lihat aja postingan-nya di IG, nggak habis-habis, berarti kan dia laku buat di-endorse review resto. Tarifnya paling nggak di atas Rp. 1 juta per artikel. Makanya gw pikir kalau memang niat mau jadi blogger sebagai mata pencaharian ya dikhususin aja. Kalau cuma iseng nulis blog sharing seperti gw ya,.. memang bukan buat cari duit atau bisnis.

Daripada jadi blogger berbayar tapi kurang jujur tetap mending cari job lain yang lebih bagus buat masa depan, tanpa hati nurani ini menolak. Ya kalau kamu blogger jujur bagus aja, terserah juga sih kan yang jalanin hidup kamu. Kalau gw udah kesel dan lebih nggak menghiraukan juga sih sama para bodrek (wartawan palsu) yang lebih banyak ngejatuhin harga diri jurnalis dengan nodong uang atau sekedar cuma numpang makan dan tindakan tidak terpuji lainnya.

Karena hati nurani gw berbicara, kalau nulis harus jujur, jangan karena dibayar terus bagus-bagusin yang sebenarnya biasa aja. Ini kebiasaan gw di media harus seimbang nulisnya, apalagi nulis merek dibatasi, kan bukan iklan. Wartawan punya kaidah menulis, menempatkan sesorang nara sumber yang kompeten, yang jelas kata-kata dan struktur paragraf nulisnya juga tidak seperti bahasa blog gw ini.

Advertisements
BANGKA BELITUNG - Indonesia, Indonesia, Liputan, story, The Journey, Traveling

Dua Hari Jalan-Jalan di Pulau Bangka

Masih banyak yang menganggap kalau Bangka dan Belitung itu satu pulau… Padahal itu dua pulau berbeda. Menurutku kemungkinan karena sering disebut bersamaaan Bangka Belitung, bukan Bangka dan Belitung?

Saya pun baru ngeh kalau itu dua pulau saat pertama kali kesana di tahun 2011 silam. Ujuk-ujuk bisa nyebrang di dua pulau ini karena dapet kesempatan liputan sekaligus media trip tahunan dari Kementerian Kesehatan. Sebelum pergi kan lihat peta dulu, yup.. itu dua pulau.

Belum lama ini saya full ngerasain wisata Pulau Bangka lebih lama, kalau dulu hanya sehari.. kemarin dua hari jadi lebih banyak site wisata yang dikunjungi. Meski kelihatan kecil di peta, Pulau Bangka lumayan luas. Kebetulan wisata berikut masih di dekat ibukota nya, Pangkal Pinang. Sebenarnya ada tempat lain di Bangka Barat, namanya Muntok tempat yang juga bersejarah waktu Bung Karno, Presiden Pertama RI diasingkan pada zaman penjajahan Belanda.

Buat rekomendasi dan semenarik apa wisata di Bangka? yuk baca lebih lanjut.

timah-yang-dijadikan-cindera-mata
timah yang diolah jadi cinderamata. FYI saat ini timah dari Indonesia export yang terbesar di dunia, kalau habis gimana ya? Timah ini jadi bahan untuk solder (alat elektronik)

Kunjungan Ke Museum Timah

Tempat yang harus banget kamu kunjungi kalau ke Bangka pastinya Museum Timah. Sudah tahu kan kalau Provinsi Bangka Belitung itu dulu begitu dieksploitasi tambang timahnya. Nah sampai sekarang ternyata masih, buktinya masih ada PT. Timah.

Tapi karena sumber daya timah makin sedikit jumlahnya, cara menambang timah juga tidak seperti dulu, sekarang pengambilan timah juga menggunakan fasilitas kapal di laut.

“Awal abad ke-18, timah masih mudah didapat dipermukaan tanah tanpa harus menggali. Kemudian mulai menggali dan pertambangan di dalam laut,” ungkap Marita, pemandu di Museum Timah Pangkal Pinang.

Bangunan Museum Timah merupakan peninggalan Belanda, yang adalah rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW). Berlokasi di Jalan Ahmad Yani no 179 Pangkalpinang.

Di belakang lokasi museum kamu juga bisa menemukan workshop tempat membuat souvenir dari timah. Ruang sebelahnya juga menjual berbagai souvenir yang berbentuk kapal dan benda pajangan lain. Paling murah itu gantungan kunci seharga Rp. 35 ribu. Hmmm, souvenir dari timah ternyata lumayan mahal ya, ada campuran tembaga 2 persen, antimon 1 persen, sisahnya 97 persen timah jadi katanya takan karatan.

Ohya, Museum Timah di Pulau Bangka tak hanya ada di Pangkal Pinang, tapi juga di Muntok Bangka Barat yang daerah nya dekat Bukit Menumbing itu lho… Museum terbilang kecil jadi memang kesini cukup 30 menit pun kamu sudah tahu sejarah dan seluk beluk soal timah di Pulau Bangka. Buat pengetahuan, sebentar yuk sempatkan mampir, kalau mau kesini cek lagi jam buka.

Informasi waktu buka Museum Timah :
Hari: Senin – Kamis, Sabtu-Minggu
Jam; 09.00 – 16.00 (Istirahat: 12.00 – 13.00)
Tiket: Gratis
Phone: +62 717 4258000 Ext. 15631
pura-tri-agung
Waktu lagi ke Pura Tri Agung (18 Septermber 2016), kebetulan Menteri Pemberdayaan Perempuan lagi kunjungan juga, hehe jadi nggak masuk ke dalam, cuma bisa di luar.
Mampir ke Pura Tri Agung 
Banyaknya masyarakat Etnis China di Bangka membuat kuil betebaran dimana-mana, seperti masjid kalau di Lombok karena penganut Islam di Lombok banyak. Penganut agama Budha, Kongfutze dan Laotze di kawasan Sungailiat, Bangka pun punya satu pura yang terkenal yaitu Pura Tri Agung.
Letaknya yang sekitar 1 jam dari Pangkal Pinang, tentu saja membuat kamu harus sewa mobil buat kesini. Apa yang menarik dari tempat ini? Sama aja herannya kalau kamu muslim dan melihat non-muslim yang tertarik melihat masjid megah dibangun. Jadi keingat perjalanan ke Malaysia, gimana teman dari Singapura terkagum-kagum sama ukiran huruf arab di langit masjid.
Nah sama kan, dengan kita yang non Chinese melihat pura juga takjub. Jadi bolehlah berkunjung kesini sebentar, soalnya di dekat sana juga ada pantai bagus, tinggal jalan sedikit sampai. Bahkan atap pura kelihatan dari pantainya.
pantai-tikus
Di Pantai Tikus ada banyak batu-batu juga tapi tak sebanyak seperti di Belitung
Berjemur di Pantai Tikus
Bagi kamu yang rindu pantai, di Bangka ada banyak Pantai yang bisa kamu sambangi. Nah nggak perlu jauh-jauh, sehabis dari Pura Tri Agung mampir lah ke Pantai Tikus. Lumayan indah sih buat saya, ada batu-batu besar yang mirip seperti di Belitung yang bisa buat neduh, buat background foto.
Saya suka banget, enak suasananya, kebetulan masih nanggung jam 10 pagi disana, panasnya lagi terik tapi sejuk sama angin yang berhembus. Santai-santai mengamati anak-anak lokal lagi mancing ikan. Ngiri banget sama mereka, dulu waktu kecil mana pernah saya bisa begitu, main di sungai aja kena omel. Naik gunung baru setelah lepas kuliah.
Ngadem di Bangka Botanical Garden
Seorang teman media yang duduk sebelahan sama saya nyeletuk pas di pesawat perjalanan pulang. Nunjuk slide Belitung yang lagi muncul di layar TV pesawat. “Belitung tuh bagus ya? Bangka mah ada apaan tadi. Nggak ada apaaan,” selorohnya cuek.
Iya memang bagi orang yang sudah pergi ketempat yang lebih keren suka gitu, saya juga kadang suka gitu, kembali lagi tergantung mindset. Tak ada tempat yang buruk, sebenarnya kadang yang spesial itu karena kita pergi bareng siapa.
Uhukkkk bener banget. Yaiyalah Bangka biasa aja, buat yang sudah pernah ke London, Papua, memang terhitung numpang lewat deh… sehari di Bangka terus mau nyebrang ke Belitung. Tapi pantai-pantainya sayang kalau dilewatin menurutku ya.
Saran saya, beli tiket pesawat paling pagi (jam 5) menuju Pangkal Pinang lalu sehari jelajah wisata di Pulau Bangka, harus banget ke Pantai Tikus… menginap semalam di Bangka, lalu paginya kamu menyebrang ke Pulau Belitung. Pulang ke Jakarta bisa lewat Bandara yang ada di Belitung. So kamu bisa dapat dua destinasi sekaligus.
bangka-botanical-garden
Mirip Nami Island, ada banyak pohon  seperti ini di Bangka Botanical Garden. Sebenernya Instagramable banget cuma lagi males difoto kalo lagi liputan gini sibuk buat menyesapi ide tulisan dan wawancara narsum.
Nah, kalau ke Bangka Botanical Garden (BBG) cobain susu murni di peternakannya, terus bisa juga mancing kalau waktunya banyak. Biasa banget ya? Ah nggak boleh begitu, di bawah pohon rindang ini tetep bisa foto-foto kok. Instagramable, tergantung pengambilan angle dan pose modelnya. Mirip di Nami Island, Korea Selatan.
Melihat Sunset di Danau Kaoli
Ah,,… yang satu ini agenda yang kelewat. Sebenernya niat buat ke Danau Kaoli bareng sama temen traveling saya yang ketemu waktu di Dieng. Tapinya,… ah… berhubung agenda padat sekali nggak bisa nemenin kalau waktu kosongnya pagi.
Menurut teman lokal orang Bangka, lebih bagus ke Danau Kaoli kalau menjelang sunset alias matahari terbenam. Itu rekomendasi waktu yang tepat. Terus jalan menuju Danau Kaoli yang merupakan bekas tempat pertambangan timah ini juga kurang mulus. Jadi kesian kalau naik motor.
Naik mobil pun jangan mobil sedan yang pendek, nanti kena blok tanah. Itu informasi yang saya dapat dari ngobrol sama orang lokal termasuk satpam penjaga hotel tempat menginap. Huhuhu, bye bye Danau Kaoli.
bejemur-di-pantai-tikus
Seneng dibuai sepoi angin di Pantai Tikus. Bisanya motoin kaki, atau motoin orang kalau lagi sibuk liputan gini zzzzz

 

Backpacker, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Berlabuh di Pulau Kaniungan

Masih berlanjut, cerita traveling ke Derawan, Kalimantan Timur!.. Setelah keliling pulau sekitar dari Maratua, Kakaban, Salangaki, Gusungan, dan Spongebob Island (klik link ini buat baca cerita sebelumnya) Yuk Singgah Ke Spongebob Island … Cerita Pulau Derawan , Main Bareng Ubur-Ubur Cantik di Danau Kakaban , Menyusup Ke Goa Haji Mangku , Fall in Love with Maratua Island , Serunya Bermain Bersama Tukik di Salangaki , Milky Way di Ujung Dermaga Derawan Fisheries , Tehe-Tehe, Khas dan Unik di Pulau Derawan , Santap Lobster Jumbo di Pulau Derawan , Morning Glory at Derawan Fisheries hari ke-3 saya berlabuh di Pulau Kaniungan.

Jaraknya cukup jauh sekitar 3-4 jam dengan speedboat dari Pulau Derawan. Lumayan kan? sampai bisa tidur di dalam kapal, tapi sekejap tiba-tiba dibangunin temen karena histeris lihat lumba-lumba lewat.

Agak sore memang sampai di Pulau Kaniungan, agenda meng-eksplore pulau dibuat lebih santai. Berangkat siang dan sampai di pulau ketika udara sejuk mulai terasa dan menikmati matahari terbenam adalah bonusnya.

nelayan-di-sekitar-pulau-kaniungan-sedang-menyiapkan-umpan-dari-ikan-sengi-sengi
Bapak nelayan di Pulau Kaniungan yang lagi buat umpan pancing, ini ikan sengi-sengi yang amis banget lagi dilalerin saking amisnya dan menarik perhatian ikan pancingan.

Waktu sampai pulau, memang nggak langsung jatuh cinta. Menurut saya biasa aja, pasirnya tak terlalu halus warnanya putih namun dari jauh terlihat agak kecokelatan. Saya sudah prepare tenda buat kemah, malah nggak kepake sama sekali. Agak gimana gitu, dibilang untuk bawa tenda ternyata kami nginap di sebuah homestay yang belum jadi betul.

Oke, memang rasanya akan terlalu lelah jika harus pasang tenda. Lagipula nyamuknya, nggak nahan, belum lagi di pantai itu kan cenderung panas udaranya, beda dengan pegunungan, so memang kurang pas. Beruntungnya tenda yang dibawa dari Jakarta itu beratnya cuma 2 kg. Ah,….

Santai-santai tak dikejar waktu, intinya sore itu menikmati sunset. Di pulau yang mungkin nggak begitu terkenal, tempat berlabuh aja. Hanya ada 2-3 warung dengan satu restoran di Pulau Kaniungan ini, kalau mau pesan menu makanan harus bilang jauh-jauh hari. Meski pasokan ikan mudah, namun keterbatasan listrik tidak adanya lemari es membuat pemilik warung tak bisa selalu menyediakan ikan.

suasana-pulau-kaniungan
suasana pantainya seperti ini di kala sore,…

Muter keliling, Pulau Kaniungan Besar ini ternyata punya RT juga lho… teman seperjalanan, Agnes sama Bang Dee sempet ngobrol. Sementara saya sama Marsha dan Rosa asik makan mie instant di sebuah warung.  Fyi pulau ini hanya ada sedikit penghuninya, sekitar belasan kepala keluarga.

Tempat berlabuh yang cukup menenangkan, soalnya sepi. Tak ada orang menginap, cuma Bang Apoy pemilik Derawan Fisheries yang orang lokal Derawan menjamu kami, nginep di homestay yang belum jadi (tapi kamar mandinya bersih) dan ditraktir makanan enak di restoran pulau itu. Ketemu nasi, ketemu daging dan ikan soalnya kan sudah pesan jauh-jauh hari.

Sinyal disana? ilang ada, kalau XL benar-benar nggak ada… Cukup bersyukur karena jauh-jauh ke pulau niatnya ingin jauh dari hiruk pikik pekerjaan dan suasana macet Kota Jakarta.

bintang-laut
Ketemu bintang laut di pantainya, bintang laut ini nggak keras sama sekali, pas ditaruh di tangan dia gerak-gerak, jadinya geli gitu padahal mau difoto di tanganku.

Feel free, saat bangun paginya sebelum berangkat ke Danau Labuan Cermin saya sama Tante Evi yang serombongan trip Derawan snorkling dekat bibir pantai. Dan … tebak, ikannya banyak banget. Di pinggir gerombolan ikan teri berenang-renang asik, bebasss… sementara saya agak lebih jauh mencari tempat dengan terumbu karang dan ketemu banyak ikan cantik.

Lagi,… lagi morning glory! Segar karena habis nyemplung berenang snorkling, sementara matahari belum panas… masih hangat, nggak takut kulit jadi hitam. Jam 9 pagi kami lalu mulai siap-siap buat berangkat ke Labuan Cermin di Biduk-Biduk, 30 menit saja perjalanan laut dengan speedboad.

BANGKA BELITUNG - Indonesia, culinary, Indonesia, Kuliner, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Sehari Jelajahi Kuliner Khas Bangka

Ibu kota Pangkal Pinang diguyur hujan siang itu, sesaat setelah pesawat mendarat di Bandara Depati Amir. Namun, hujan deras hanya sebentaran lewat karena cuaca kembali panas. Menjelang waktu makan siang sajian menu seafood pun terasa begitu pas dengan panas terik kota yang sempat jadi tempat pengasingan Bung Karno ini.

Cukup dekat dari pusat kota, ada sebuah restoran seafood yang cukup terkenal bagi pendatang dari luar pulau maupun warga lokal. Di restoran seafood Mr. Adox yang berlokasi di Jl. Raya Simpang 4 Kantor Gubernur, bisa ditemui berbagai menu kepiting, olahan laut serta masakan khas Bangka lainnya.

lempah-kuning
Lempah Kuning yang segar dan cocok untuk makan siang di tengah terik matahari

Meski terkenal dengan menu kepitingnya, sajian yang pertama sekali harus dicoba adalah lempah kuning. Ini adalah masakan lempah yang isinya terdiri dari ikan kakap merah atau tenggiri dan ikan katarap dengan kuah yang berbumbu kunyit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, terasi, lengkuas dan belacan.

Lempah ini memiliki kuah berwarna kuning dan biasanya dimasukkan potongan-potongan nanas sehingga disebut juga lempah nanas. Orang Belitung menyebutnya gangan ketarap. Kebetulan untuk lempah yang saya coba memakai ikan katarap. Sebetulnya bisa juga menggunakan ikan kakap yang dapat pula digantikan dengan daging sapi ataupun udang, sehingga lempah memang tak harus selalu berisi ikan.

“Lempah kuning itu makanan keseharian orang Bangka, seperti menu wajib,” ungkap teman saya Rizeki Hardiansyah, seorang warga lokal Bangka.

kepiting-tapal-ketan
Kepitingnya, nyesss…. manis karena segar dari lautan di sekitar Pulau Bangka.

Memang rasanya sangat segar, meski ada campuran bumbu terasi tapi tak terlalu kentara wangi terasi. Justru yang dominan rasa segar berkat tambahan nanas dan ikan segar membuat kuahnya tak amis.

Berlanjut dengan menu kepiting, ternyata bumbunya pun memiliki banyak varian. Biasa dengan kepiting lada hitam? Cobalah mencicipi kepiting tapal ketan, kepiting rebus, kepiting goreng mentega. Melimpahnya kepiting di Pulau Bangka menjadikan olahannya pun lebih variatif, namun tetap hampir sama bercita rasa manis berkat kesegaran kepiting.

Sotong juga banyak ditemui di Pulau Bangka, sehingga untuk lauknya ada sotong crispy yang dibalut dengan tepung garing dan dicocol bersama saus asam manis. Jika masih terasa kurang pedas menyantap lauk atau pesanan ikan bakar dan kepiting, pengunjung bisa meminta tambahan bumbu khas setempat yaitu jeruk kunci, kecap hitam dan potongan cabai merah.

es-kacang-merah
Es Kacang Merah, manis dengan susu kental manis putih dan santan, terus serutan esnya lembut padahal pakai mesin biasa

Usai makan siang dengan segala menu seafood, saya juga mampir ke sebuah kedai es kacang merah, Es Ayong yang masih terletak di pusat kota. Kedai es yang sudah ada sejak tahun 70-an ini dibuat dengan serutan es lembut, dibawahnya ada kacang merah besar dan dipadu sedikit santan serta lelehan susu kental manis.

Es kacang merah tak hanya ada di kedai Es Ayong, saat berkunjung ke warung Otak Otak Amui di Jl. Melintas no 23, Pangkal Pinang juga ditemukan menu es kacang merah. Tentu saja otak-otak cocok dipadankan dengan menyeruput es kacang merah, meski dalam kondisi cuaca hujan. Jika ingin lebih manis gurih bisa juga menambahkan alpukat di dalamnya.

Menjelang sore, jika belum puas mampirlah memesan bakmi Bangka. Terkenal dimana-mana bakmi Bangka ini pun bisa ditemukan di restoran yang ada di Menimbung Heritage Hotel, sebuah tempat yang kini menjadi salah satu ikon Kota Bangka. Di hotel ini, juga bisa ditemukan berbagai menu khas Bangka lain seperti lempah kuning dan jus nanas yang dijadikan minuman coktail.

membuat-martabak-tipis-begini-caranya
cara buat martabak tipis kering, garing gurih, enak banget

Bangka juga memiliki kuliner populer martabak. Nah, malam hari akan sangat cocok bila menjelajahi rasa asli martabaknya. Meskipun di Jakarta pun martabak begitu mudah ditemukan dengan berbagai rasa dan varian, martabak Bangka terbilang belum bisa dikalahkan.Dari segi rasa maupun ketebalan yang pas.

Salah satu kedai martabak manis dan telor halal yang harus dicoba, yaitu Martabak Acau 89 di Jl. Soekarno Hatta no 9. Ada lebih dari 40 varian rasa, mulai dari martabak manis dan kering dengan keju, kismis, jagung, wijen, cokelat, pisang sampai martabak telor bebek polos tanpa daging dengan ayam maupun kornet.

Sudah terbiasa dengan martabak keju, nuttela, atau martabak cokelat tobleron, saya pun penasaran dengan kelezatan martabak manis rasa pandan keju jagung.

dscn7165
bakar otak-otaknya begini ternyata…

Dimakan saat masih hangat, aroma pandan berpadu keju dan jagung manisnya membuat lidah rasanya meleleh. Tak cukup satu, bahkan bisa membuat ketagihan. Begitu juga dengan rasa martabak telur bebek daging ayam, hampir setiap gigitannya mengundang ketagihan.

Ah,…. kenyang mencoba semuanya. Ini serius belum semuanya, kalau mau tahu kuliner khas lain masih banyak, tapi waktu sehari nggak akan cukup. Berhubung turis wisatawan kalau mau ke Pulau ini sekalian nyebrang ke Belitung buat meng-explore wisata pantai yang lebih keren disana. Kuliner Pulau Bangka dan suasana malamnya harus tetap dicobain atmosfernya.

Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Keindahan Surga di Danau Dua Rasa, Labuan Cermin – Berau

perahu-karam-di-dekat-dermaga
Perahu karam, sebelum ke kawasan Danau Labuan Cermin. Mungkin perahu ini sengaja ditaruh buat etalase alam

Ada pepatah lama “Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui” ini pepatah yang saya terus aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk buat traveling.

Waktu perjalanan di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, sebelum pergi saya browsing internet dulu cari wisata apa di sekitarnya yang bisa sekali jalan pulang disinggahi. Ketemu lah tempat bernama Labuan Cermin, yang lokasinya masih di Kabupaten Berau. Oke cerita lengkapnya pernah saya tulis disini, klik aja tulisan sebelumnya preparing derawan project

Ngomong-ngomong satu Kabupaten pun masih terbilang jauh lho sebenarnya (buka peta coba), bisa berjam-jam apakah lewat perjalanan darat maupun laut. Karena dapet fasilitas gratis dari penyelenggara event meet and trip Derawan, jadi lewat jalur laut alias naik speedboad, akhirnya malah cepet banget buat ke Labuan Cermin itu, hanya sekitar 3 jam dari Pulau Derawan.

labuan-cermin-dengan-perahu
setiap yang ke Labuan Cermin, posenya pasti foto di atas perahu ini.. mainstream ya in frame @rosacgusfa

Perjalanan di mulai agak siang, pukul 10 pagi, berhubung tempatnya sudah agak dekat. Soalnya semalam saya berlabuh dulu di Pulau Kaniungan dari Pulau Derawan, nikmati pantai dan suasana pulau dan snorkling sebentar pagi sebelum berangkat.

Ini rute yang saya lalui : Pertama dari Pulau Derawan, perjalanan laut sekitar 2-3 ke Pulau Kaniungan, sampai Kaniungan sudah agak sore dan memang cuma niat bermalam sambil menikmati sunset di pulau itu. Bermalam di salah satu rumah tinggal yang mirip cottage sederhana, lalu paginya berangkat menuju Labuan Cermin (cukup perjalanan 1 jam an).

Kalau kamu browsing lagi soal biaya ke Labuan Cermin via laut, pasti akan kaget. Soalnya lumayan mahal, bisa 2 juta-an sekapal ber-5 orang, lalu tempat transit-nya kalau mau bermalam di Kaniungan juga belum ada penginapan. Mungkin kamu harus bawa tenda, tapi hati-hati ya nyamuknya banyak, bawa lotion nyamuk.

Karena lumayan nguras dompet (kalau buat budget traveler) banyak yang akhirnya via darat ke Labuan Cermin. Lewat jalan darat Berau bisa juga dari Bandara minta dijemput. Ongkosnya lumayan bisa Rp. 600-800 ribu kalau tidak salah satu mobil buat ber 7 orang. Tapi harus sabar sampai tempat seindah surga ini butuh waktu 8 jam, melewati jalanan Berau yang berliku-liku, ya mirip lika liku kehidupan mungkin.

Sudah sampai di Pelabuhannya pun kamu butuh naik kapal lagi, sebentar, tarifnya Rp. 100 ribu per kapal, kapasitas 10 orang (jadi per orang Rp. 10 ribu). Musti nunggu penumpang lain sampai jumlahnya genap 10 baru jalan atau bisa request kalau datang berkelompok, bayarnya tetap sama.

lumayan perjalanan sampai Labuan Cermin, sepanjang lautan bisa bosen, kalau bukan karena ada banyak teman ngobrol. Tapi ketika sampai kamu akan terpukau sama tempat ini, so.. nothing to lose… nggak ada yang sia-sia dari perjalanan dan kesabaran kamu.

dscn9092
Dari atas tempat duduk-duduk, warna danaunya seperti ini. Serius nggak diedit 🙂

Bukan cuma keindahannya saja yang buat kamu nggak nyesel buat kesini. Danau ini juga unik, karena saat pasang airnya asin, saat air surut airnya tawar…cuma kok saya merasa lebih ke tawar ya. Airnya juga sangat jernih, terlebih ketika sinar matahari masuk dan kita seperti berada di atas cermin. Lihat aja fotonya deh, tanpa diedit tanpa rekayasa betul-betul indah.

Airnya dingin, mungkin karena ada batu di bagian sisi danau. Karena lebih ke tawar, nggak lengket sama sekali, makanya betah banget berenang lama. Nyebur, naik, nyebur, naik… berasa mandi di alam terbuka. Saking jernihnya dengan telanjang mata kamu bisa lihat pemandangan di dalamnya, jarang ikan, jelas lah kan nggak ada terumbu karang dan agak biru warnanya, pengaruh langit juga tentunya.

Di sela-sela main air, nyemplung, motret, dan muter-muter pakai kapal kecil yang ada disana saya ngobrol sama Pak Ahmad, warga lokal yang ikut mengelola dan salah satu nahkoda kapalnya.

labuan-cermin-untuk-blog
travel warning : ke sini jangan liburan weekend atau libur panjang, nggak mungkin sesepi ini soalnya.

Menurut Pak Ahmad, sebenarnya Labuan Cermin itu bisa seterkenal sekarang berkat WWF yang selama 3 tahun sempat menaungi tempat ini untuk dilestarikan. Dibelakang Labuan cermin, kalau berjalan trekking sebentar 50 meter juga bisa ditemukan danau lain, namanya Labuan Kelambu. Tapi tempatnya masih kotor, tak sebersih Labuan Cermin. “Dulunya Labuan Cermin juga seperti Labuan Kelambu, tapi dibersihkan dan dirawat,” ujarnya.

Kalau mau ke Labuan Cermin kamu bisa kontak aja Pak Ahmad di 082353470047, mungkin informasinya bisa lebih lengkap jalur darat dan laut ke sana. Cuma kalau mau ke Labuan Cermin via laut sewa speedboat tour operator Derawan Fisheries bisa ke 081351319338.

By the way, kata Pak Ahmad di Labuan Kelambu ada banyak ikan blackbass, bisa buat mancing, masih butek banget danaunya. Banyak lumut, bahkan pohon rubuh yang belum disingkirin. Mungkin dua tahunan lagi baru bisa sebersih Labuan Cermin.

menuju-labuan-cermin-via-laut-lebih-singkat-hanya-1-2-jam-dari-pulau-kaniungan
road to Labuan Cermin, Berau, East Kalimantan
Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Main Bareng Ubur-Ubur Cantik di Danau Kakaban

foto (3)
Fyi susahhh banget lhooo ambil gambar ini, in frame IG @rosacgusfa pic by @derawanfisheries @indonesiaparadise @meetandtrip

Guys, jangan pakai body lotion ya berenang disini. Soalnya nanti ubur-uburnya bisa mati kena kandungan zat yang ada di body lotion kamu,” pesan salah seorang teman nge-trip saya waktu kami serombongan hampir-hampir nyemplung Danau Kakaban.

Jlebb…. rasanya ngerasa bersalah bukan? yang sudah terlanjur melindungi kulitnya dengan UV Protection body lotion biar nggak kepanasan matahari. Tapi justru melukai si biota laut cantik di Danau Kakaban.

Oh,. oke masih belum terlambat bagi kamu yang baru berencana untuk mengunjungi Danau Kakaban 🙂 karena itu saya tuliskan di blog ini supaya berlibur kamu tetap memperhatikan lingkungan dan tetap melindungi biota laut yang ada.

Selain jangan pakai body lotion, sebaiknya kamu juga belajar berenang dan free dive dulu aja sebulan. Hehehe, soalnya kalau mau puas banget foto-foto dan bermain sama si ubur-ubur, paling tidak harus menyelam. Kalau dekat-dekat permukaan air saja kurang banyak ubur-uburnya.

Ingat satu hal lagi, jangan berenang pakai fin atau kaki katak, kasihan si ubur-ubur. Akan melukai mereka kalau terkena sapuan kaki kita. Apapun itu, jangan mengorbankan si hewan cantik buat selfie. Lembutlah ketika dekat-dekat mereka, memegang pun jangan diterkam supaya tak lari.

ubur-ubur di Kakaban Lake
tipikal ubur-ubur yang ada di Kakaban Lake, tapi beberapa ada juga yang tipis bening banget. pic by @derawanfisheries @indonesiaparadise @meetandtrip

Di beberapa tempat terkenal Indonesia kita pasti pernah mendengar cerita. Tentang air laut yang terperangkap kemudian menjadi sebuaah kawasan danau. Nah salah satunya ada di Pulau Kakaban yang tak hanya soal airnya dengan campuran tawar sekaligus asin. Tapi biota laut mengagumkan berupa ubur-ubur tanpa sengat ini.

Perubahan dan evolusi yang cukup lama oleh air hujan dan air tanah, air danau ini menjadikan airnya lebih tawar dibandingkan laut yang ada di sekitarnya. Perubahan ini berdampak juga pada adaptasi fauna laut yang ada di dalam danau itu.

Ubur-ubur misalnya, karena terbatasnya makanan, akhirnya beradaptasi dengan melakukan simbiose mutualistis dengan algae. Algae adalah penghasil makanan dan harus memasak makanan dengan bantuan sinar matahari.

Selama ribuan tahun danau di tengah laut ini tentu saja menciptakan suatu ekosistem tersendiri yang sangat unik. Danau unik ini memiliki empat jenis ubur-ubur, salah satunya adalah ubur-ubur jenis Cassiopea.

foto 3 (3)
Kalau berenangnya dekat permukaan, ubur-ubur hanya sedikit, tapi masuk ke dalam air dekat dengan habitat tanaman di dalam, rumah mereka kamu akan melihat se-RW perkampungan ubur-ubur 🙂

Memiliki tipikal yang unik juga karena tambahan air dari dalam tanah dan air hujan sejak 2 juta tahun lalu, menurut sumber wikipedia. Danau Kakaban pun bisa dikatakan sebagai danau prasejarah dari zaman peralihan Holosin.

Memiliki luas sekitar 5 km², danau juga memiliki dinding karang terjal setinggi 50 meter. Inilah sebabnya, air laut yang terperangkap tidak lagi bisa keluar, kemudian menjadi danau.

Cerita simbiosis dari ubur-ubur Pulau Kakaban, cukup unik. Mereka menempatkan algae pada bagian kakinya, karena ganggang berkepentingan untuk mendapatkan matahari sebagai sarana melakukan fotosistesa, sang ubur-ubur akhirnya berjalan terbalik, dengan kaki ke atas dan kepala ke bawah.

Cara berjalan yang unik inilah yang menarik para ilmuwan dan penyelam untuk mengetahui evolusi terhadap fauna laut yang akhirnya berperilaku aneh demi mempertahankan hidup mereka. Catatan para penyelam juga memberikan gambaran, hewan-hewan yang ada di danau ini mempunyai cahaya lebih berwarna warni ketika hari semakin gelap. Diduga, pada danau ini banyak akan dijumpai jenis-jenis baru.

foto 4 (1)
Airnya hijau-hijau lumut dan cenderung tak bening, banyak jenis ubur-ubur yang bening sangking beningnya juga nggak kelihatan lho di foto.

Sudah pasti, kamu yang suka laut harus banget berenang dan main sama ubur-ubur disini. Soalnya di dunia, tempat seperti ini hanya dijumpai di Danau Ubur-ubur Palau, Kepulauan Micronesia di kawasan Tenggara Laut Pasifik dan satu lagi kalau tidak salah di Kepulauan Togean, Sulawesi. Tolong dibetulin ya, kalau salah 🙂

Banyak sekali jenis-jenis hewan yang belum diidentifikasi di kawasan Danau Kakaban ini. Menurut wikipedia Dr. Thomas Tomascik, seorang ahli kelautan berkebangsaan Kanada, mengatakanPulau Kakaban merupakan surga kekayaan biologi yang ada di Indonesia.

Misteri bagaimana hewan dan tumbuhan yang terisolasi dalam danau ini merupakan salah satu objek yang sangat diminati oleh ilmuwan untuk diungkap. Karena itu laut ini memang pantas menjadi objekkonsevasi alam yang harusnya dilindungi dan dilestarikan.

Hayo, gimana nggak keren kalau hewan-hewan laut yang sekarang ada tetap bisa survive padahal kesadahan air di dalamnya sudah berubah total.