JAVA - Indonesia, Liputan, MALANG - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Trekking Santai Ke Coban Tengah, Malang – Jawa Timur

Naik jeep keliling Kota Malang, menyaksikan matahari terbit di Gunung Bromo. Saya juga sempat mencoba lagi bagaimana sensasi off road dan trekking ke Coban Tengah bareng teman-teman media Desember 2017 silam.

Perjalanan yang baru sempat saya tulis ini sebenarnya kurang data, kurang foto dan wawancara. Jadi jangan berharap ulasan saya lengkap dan jangan tanya juga gimana cara kesana ya.. hehehe. Sebagai undangan mediatrip dari Kalbe Farma, saya hanya mencoba untuk lebih menikmati perjalanan dan tidak kebanyakan memotret.

Soalnya selama ini menjadi media ketika dinas luar kota selalu terlalu sibuk wawancara sana sini, dan ngikutin konferensi pers. Berhubung ini media trip yang tidak ada embel-embel buat berita alias hanya murni diajak jalan-jalan dan makan saja ya saya nurut dong 😂.

img_4018
pintu masuk ke Coban Tengah, dari sini dimulailah trekking santainya

Kaget juga, diajak ke Coban Tengah, siang hampir sore sehingga pulangnya pas gelap sampai adzan magrib bergema. Di hutan saat itu minim sekali lampu, kondisi jalan cukup berlumpur karena memang khusus untuk off road.

Coban Tengah terletak di atas wisata Coban Rondo yang sudah lebih dulu terkenal. Sementara jalan menuju Coban Tengah sejalan dengan Coban Rondo, keduanya dikelola Perhutani. Kiri kanan jalan akan ditemui pohon pinus tinggi. Saat melewati hutan tanpa jalan beraspal alias licin tanah basah dengan jeep sekitar 1-3 Km Kamu akan sampai di gerbang bertuliskan Coban, kurang lebih sekitar 500 meter ada pertigaan, rambunya akan jelas memberi tahu arah ke Coban Tengah.

img_4016
off road, lagi di dalam jeep

Tentunya kesini harus dengan tour guide atau menyewa tour operator yang sekaligus sewa jeep dari awal Kamu sampai di Bandara atau Stasiun Kereta di Kota Malang. Biasanya satu paket harganya, dengan jumlah rombongan tertentu.

Yang saya lihat selama perjalanan, ada villa yang bisa disewa, cukup banyak. Tapi agaknya cukup terpencil lokasinya, meski saat di jeep saya bisa lihat ada beberapa tukang jualan bakso keliling dengan motor. Tapi soal makanan saya sama rombongan tidak khawatir, soalnya pihak Kalbe Farma sudah request sama tour operator juga soal restoran tempat kami makan dan camilan selama di perjalanan.

Setelah sampai pintu gerbang Coban Tengah, langsung disitulah dimulainya trekking santai. Ohya sebisa mungkin pakai sepatu trekking atau sandal gunung, karena jalanan licin dan naik turun. Saya bilang ini cukup ringan karena tidak terlalu jauh, trekking kurang dari satu jam saja. Tapi justru menurut saya disitu letak kesederhanaan tempat wisata Coban Tengah ini.

img_4015
off road yang menegangkan

Yang tidak biasa trekking pasti bisa melewatinya. Ada pemandangan indah alam yang apa adanya tidak diubah atau direkayasa. Ada aliran air sungai, gemericiknya dan hawa dingin masih cukup bisa ditoleransi, masih sekitar 20-an derajat di sore hari. Tidak banyak foto dan disini tak saya unggah, soalnya biar kamu penasaran dan coba sendiri. Bagus dilihat mata tapi di foto terlihat biasa. Namun menurut saya tidak rugi ke Coban Tengah, hitung-hitung saya waktu itu latihan trekking sebelum ke Himalaya. Jadi seneng-seneng aja.

Advertisements
MALANG - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Family Trip – Pasir Berbisik, Berpetualang dengan Jeep di Kawasan Gunung Bromo

Pasir Berbisik, nama sebuat tempat di Bromo yang jadi populer berkat film berjudul sama di tahun 2001.

Namanya Daya (diperankan Dian Sastrowardoyo), seorang gadis desa lugu. Daya terlihat asik bermain-main dengan pasir, seolah dia bisa merasakan hembusan pasir bisa berkata-kata, berbisik sesuatu padanya. Pasir berbisik yang menyiratkan kerinduan akan kedatangan sosok sang ayah.

Film yang kemunculannya ada disaat perfilman Indonesia merangkak ingin bangkit. Saya ingat tahun segitu masih pakai baju seragam putih biru dan waktu itu membaca review-nya di Majalah Gadis. Sang ibu, diperankan aktris dekade lama, Christine Hakim, tak diragukan lagi, berakting sangat bagus. Oke ini sedikit saja tentang asal muasal nama Pasir Berbisik, karya film yang membuat sebuah site di Bromo menjadi begitu terkenal.

Hamparan gunung dan bukit-bukit layaknya miniatur seni yang indah. Tak terungkap lagi dengan kata-kata bagaimana indahnya. Saya senang traveling ke gunung, sudah beberapa gunung juga dijelajahi, tapi yang satu ini, Bromo cuma tinggal duduk manis di dalam jeep diantar ke beberapa site menariknya. Bukit Teletubis, Pasir Berbisik, dan kawah Bromo.

Pantas kalau Bromo tidak pernah sepi. Hampir semua orang lokal yang saya tanya jawabannya begitu. Apalagi weekend, rame terusss.. so jangan pernah berharap bisa bengong ngigo pas ke Bromo, hahaha. Kalau mau kontemplasi mending ke Semeru aja, gunung di sebelahnya yang masih satu kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Gunung Bromo itu ada di list gunung impian saya yang sebenarnya nggak nyangka bisa kewujud tahun 2017 ini. Tadinya selepas ke Gunung Kerinci dan Gunung Prau mikirnya bakalan udahan aja. Eh, nyokap ngusulin buat ke Malang sekalian ke Bromo pas moment lebaran.

Percakapannya menurut nyokap begini.

“Mas, kita mungkin nggak sih ke Bromo,” kata nyokap ke bokap.

“Apa yang nggak mungkin,” bokap bales

(Nyokap bilang si papa emang gitu, kalo ditantangin dia malah ketantang buat ngewujudin). Katanya lagi sekalian buat hadiah ulang tahun anak perempuan satu-satunya ini. Terus sekalian membaur kita family trip seru-seruan ke gunung bareng adek ipar yang baru kali ini diajakin piknik ke gunung, hahaha soalnya dia anak pantai.

So, perjalanan via darat tentunya menggunakan mobil. Kebayang gimana supirnya? Tenang aja, buat perjalanan jauh ini memang kita sedia 1 driver biar bisa gantian sama si adek. Lumayan jauh ya, dari Purworejo ke Pasuruan Jawa Timur. Kira-kira habis satu hari perjalanan dengan banyak berhenti saat waktu sholat dan sekalian makan.

Begitu sampai Kota Pasuruan itu berarti sudah dekat ke Bromo. Hmm, diperjalanan kita kepikiran buat nelpon agensi buat sewa jeep, eh tapi banyak yang menawarkan dengan harga nggak rasional. Hahaha Rp. 1,9 juta buat ber-5 orang bilang ya sih private tour bromo.

Perasaan teman pernah bilang sewa jeep paling Rp. 500 ribu-an kok. Waktu tahun 2015 ke Semeru pun naik jeep ber-6 an sekitar itu harganya. Informasi harga di internet pun sekitar Rp. 550-700 ribu-an.

Sedikit sharing, memang ketika traveling kita baiknya survey dulu. Meski dadakan survey-nya pun itu penting, kritis sedikit sebagai traveler, pokoknya banyak nanya ke warga lokal aja.

So, akhirnya karena merasa harga Rp. 1,5 juta – Rp. 1,9 juta itu kemahalan, kita langsung nolak. Meski nolak si bapak yang nomornya kita dapet dari Instagram tetep aja Whatsapp nawar lagi, ah gila, orang udah nggak mau kemahalan. Langsung aja bro, mending bilang gak jadi ke Bromo. Biar calo itu nyerah nawarin.

Pffftttt, beruntungnya dengan keukehnya kita dan si papa bilang “sudah ntar disana juga bakalan banyak yang nawarin jeep ke kita,”. Kita manut aja, dan pas sampe langsung parkir mobil memang banyak yang nanya, mau kemana, bahkan pas di jalan berkelok-kelok belum sampai basecamp parkiran, ada motor yang niat ngejar kita cuma buat nawarin sewa jeep. Si papa tetep bilang, “sudah.. nanti aja disana,”.

Keliling Bromo dengan jeep membuat siapa pun, tua muda, suka atau biasa saja dengan pegunungan bisa pergi. Bahkan bawa anak kecil juga nggak masalah, memungkinkan sekali, ya asal jangan bawa Balita aja. Minimal umur 7 tahun lah. Yang bakal buat iri ya banyak orang tua yang ngajak anaknya berkuda buat ke puncak Bromo. (Nggak sampai kawah sih).

Yang tidak ingin sewa kuda saat sudah sampai di tanjakan Bromo harus jalan sekitar 3 KM buat ke puncaknya. Tapi nggak sampai puncak juga nggak masalah, dari jeep saja pun pemandangan yang indah itu nggak sulit terlihat. Kita bakal berhenti di beberapa titik. Di bukit teletubis dan pasir berbisik. Ini judulnya pasir berbisik lho, tapi melebar kemana-mana bersama berikut tips liburan ke Bromo.

Beberapa tips buat ke Bromo :

(1) sewa jeep rata-rata itu cuma Rp. 560.000 kok, jadi jangan sampai ketipu ya. Kalau musimnya lagi peak season atau rame banget ya masih wajar bayar Rp. 700 ribu.

(2) menurut warga lokal mereka hanya menghabiskan sekitar 15 liter bensin saja buat keliling Bromo mengantar tamu.

(3) untuk mobil pribadi sudah lama tidak diperbolehkan keiling pasir berbisik dan sampai ke bawah daerah trek yang banyak pasir itu, bahaya juga menurut saya. Dan… itu butuh skill menyetir macam mau off road dan kendaraan beroda besar untuk medan terjal.

(4) jangan takut kamu kehabisan jeep. Karena ya jeep di Bromo itu hampir 1000 jumlahnya. Mereka juga punya komunitas katanya.

(5) di Bromo itu mayoritas agama Hindu. Jadi masjid jarang ada. Adanya musholla seadanya. So, kalau mau subuh dulu sebelum sunrise masih ada di dekat lokasi.

(6) kalau peak season, musim liburan penuh bukan main. Buat liat sunrise pun, buat dapet foto mesti nyelip-nyelip. Dan jasa tukang ojek laku, buat kalian yang males nanjak sampai ke tempat dekat liat sunrise.

(7) jangan ditanya lagi harga makanan melonjak kalau di gunung. Wajar sih ya, gorengan aja satuannya Rp. 2.000 perak. Siapin banyak receh uang di kantong, apalagi buat pipis toilet bayar Rp. 5.000

(8) walau kemana-mana diantar jeep, saya rekomendasi kamu pakai sepatu keds atau sepatu trekking nyaman. Jangan sendal, soalnya cuaca panas menggila.

(9) ada tiga jalur pendakian ke Bromo. Salah satunya via Pasuruan. Tapi kebanyakan orang via Malang, mungkin karena naik kereta.

Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MALANG - Indonesia, MOUNTAIN, The Journey, Traveling

Debu-Debu Beterbangan di Semeru

foto (5)
debu saking banyaknya kalau masih musim kemarau. Fyi pulang dari Semeru kotoran hidung item-item, fermentasi debu.

Kami menyebutnya “Debu-Debu Intan” ini mirip sama satu kalimat yang sering diucapin sama salah satu tokoh kartun Jepang. Entah di film kartun apa lupa. Hihihi

Sayang sekali, kepergian pertama ke Semeru nggak langsung bisa muncak ke Mahameru. Karena takdir, harus kedapatan haid selang ga berapa lama sebelum malam akan jalan muncak ke Semeru.

Penting??? Keselamatan sebenarnya paling penting. Tapi bagi pendaki bisa sampai puncak ibarat sebuah pencapaian, harus ada kata mission accomplished. Seperti tujuan, perumpamaan tugas dari ibu guru di sekolah.

“Jangan lupa Nak kerjakan PR kalian,” pesan Bu Guru kalau jam bel sekolah berbunyi.

“Iya Bu…,” serempak seisi ruangan berseru lantang karena seneng udah masuk jam pulang. (Ibaratnya saya seneng kalau dikasih tugas buat muncak. Bonusnya itu ketinggian! Pemandangan yang dekat ke awan-awan).

SONY DSC
Kemping di Ranu Kumbolo….. sarapan pagi sebelum ke Kali Mati

Setelah perjalanan yang tetap “fun”, walau kami ber-5 akhirnya tidak ada yang muncak saat itu. Saya, Esti, Bonar, sama Vivi sempat berikrar buat balik lagi ke Semeru. Khusus naklukin Mahameru yang maha dahsyat itu. Entah akankah itu tercapai tahun ini?????

Kembali ke topik semula, debu debu Semeru itu ada karena musim hujan memang belum waktunya menampakan diri pada penghujung September. Mungkin Oktober atau November, hanya saja kalau musim hujan pendakian pasti akan lebih sulit jadinya.

Saya mulai tahu perputaran warna rumput yang ada di pegunungan. Kalau kamu ke Semeru di bulan Mei, Juni, Juli, hingga Agustus masih ada pemandangan layaknya tanaman lavender berwarna ungu di padang oro oro ombo.

_DSC6753.JPG

Memasuki September, Semeru bakal tetap cantik dengan pemandangan keemasan rumputnya. So, kapan pun kamu ke Semeru saja rasa akan tetap cantik.

FYI, Semeru itu trekking-nya cukup banyak jalan datar atau bonus dibanding gunung Rinjani, Papandayan, Gede, apalagi Ceremai. Ini tak dihitung trekking yang mau muncak ke Mahameru ya… yang semuanya pasir itu kamu butuh 7 jam jalan ke atas.

Indonesia, JAVA - Indonesia, MALANG - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Kejadian-kejadian Aneh Di Gunung

IMG_7562
Bekas-bekas kebakaran di Semeru, Oro-Oro Ombo setelah Tanjakan Cinta. Guys, para pecinta alam, ke gunung jangan merusak ya!

Malam minggu kemarin. Obrolan saya sama temen barengan naik gunung ditutup dengan kesimpulan bahwa, sepertinya kemungkinan dia nggak jadi ikutan karena nggak berani ngegunung kalau lagi M alias “datang bulan”.

Saya setuju. Memang sebaiknya jangan ke gunung kalau lagi M. Selain gunung selalu dikatakan sebagai tempat suci. Ada banyak kejadian-kejadian aneh yang absurd banget kalau diceritain.

Semoga tidak bosan sama cerita saya soal gunung. Tenang aja dunia saya juga sebentar lagi beralih dari gunung ke city traveling, terus pantai lagi, bukit, eh gunung juga kalo kangen. Hehe, tapi sepertinya tetap akan jadi pecinta alam sampai kapan pun, suka pantai dan tetap cinta udara atmosfer gunung. *nyengir 5cm*

Soal lagi M dan jangan ke gunung itu sempat saya alami waktu ke Semeru September 2015 lalu. Sejak dari pos pendaftaran lho ini sudah diwanti-wanti sama petugas disana yang galak-galak.

“Bagi yang perempuan kalau lagi halangan jangan muncak. Karena untuk sebagian orang gunung itu tempat yang dianggap suci,” pesan petugas.

IMG_7600
Suasana di Kali Mati, sepi yang nenda disini pada September 2015 lalu. Namanya Kali Mati, karena kali disini sudah tak mengairi air lagi.

Kata-kata ini memang bukan isapan jempol. Pernah temen ada yang nekat muncak disaat sedang M itu, lalu ada teman serombongan yang “digelendoti” makhluk halus hingga makin berat rasanya mendaki. Usut punya usut ternyata teman yang lagi halangan itu sempat ke Kali Mati, cuci dan sekedar mandi-mandi ayam sebentar disana.

Mungkin katanya darahnya sempat mengotori sekitar tempat disana. Terus ada makhluk yang mengikuti, tapi yang kena malah temen barengannya. Nah, kesian kan guys. Nggak bisa muncak, malah ada temen yang diganggu. Makanya mending jangan naik gunung dikondisi seperti itu.

Di Semeru kemarin saya pun anehnya tiba-tiba halangan di hari akan menuju Kali Mati. Setelah Tanjakan Cinta sudah mulai kerasa tuh, makan semangka di bawah pohon dari trekking lewat Oro Oro Ombo kok rasanya ini “dapet”. Sampai di Jambangan, cek cek ternyata iya.. Huhuhu sedih banget nggak bisa ikutan muncak malamnya.

Merelakan teman-teman yang lain bisa muncak. Tapi tok tok tok, jam 01.00-an pagi salah satu teman balik ke tenda dan cerita kejadian aneh. Jadi ada yang manggil namanya sampe 3 kali dan itu dipikir adalah guide kami.

IMG_7261
Atmosfernya melow banget pas saya berjalan menuju Ranukumbolo

Panggilan pertama dia cuekin, karena pikirnya halusinasi, lanjutkan perjalanan lagi kan akhirnya. Panggilan kedua mulai aware, duh duh kok lagi ya? Panggilan ketiga, sudah nggak enak ini tanda-tandanya. Karena perasaan nggak nyaman, akhirnya dia minta balik aja. Di tenda, ceritalah.

Satu tim ke Semeru akhirnya nggak ada yang sampai puncak. Dua teman yang ditinggal sebelumnya, ikutan menyerah, nggak lama sejam kemudian sampai di tenda. Besok paginya saya jadi mikir, ini apa karena saya ya? Masa iya? kan saya hanya sampai Kali Mati dan nggak ikut mereka.

Jadi agak merasa bersalah, tapi saya juga nggak merencanakan “datang bulan” dan sebetulnya tumben banget kok datangnya lebih cepat. Ini sangat aneh sebenarnya semacam nggak ditakdirin buat muncak saat itu atau disuruh kembali lagi kesana??? Entahlah.

IMG_7381
Jangan melakukan hal-hal aneh ketika di gunung, berkata-kata kotor, merusak alam. Keep calm, nikmati alam aja guys.

Sampai sekarang masih absurd aja sama kejadian itu. Jelas bulan itu tumben kecepetan banget jadwal bulanan saya. Terus jadi mikir soal kepergian kami ke Semeru ini yang sejak awal seperti banyak ujiannya.

Kejadian aneh, pas mau ke gunung itu adalah tanggal 13-17 Agustus 2015 ketika di hari H keberangkatan justru ada insiden yang membuat tim nggak bisa berangkat. Ada pendaki hilang. Bukan cuma hilang, beberapa ada yang meninggal. Tepat sehari sebelum jadwal keberangkatan kereta. Ini bikin pendakian ke Semeru ditutup sampai pendaki hilang itu ditemukan. Temen-temen yang mau berangkat ketar ketir, ada yang jadi parno, jadi galau buat berangkat. Keputusan akhirnya kita nggak berangkat.

Absurd masih lho. Yang lebih mengherankan lagi, di jam 12 siang-an pas banget dengan jadwal kereta kita berangkat lalu ada berita bahwa Semeru kembali dibuka. Aseemm banget kan guys?? Jam10-an pagi tim yang mau berangkat kumpul di Stasiun Gambir lalu kita cancel tiket dan ketemuan tanpa bawa carrier yang sudah di packing jauh-jauh hari.

Sejak saat itu, santai banget jadinya kalo mau ngegunung. Kalau ditakdirin berangkat pasti berangkat. Bahkan kalaupun itu mendadak ide buat trekking ke gunung atau kemana pun. Ngambil himahnya aja. Berhubung saya memang pantang menyerah dan lebih sering kekeuh sama sesuatu. Setelah ini lebih menyerahkan apa yang terjadi sama Tuhan lewat semesta tanda-tanda kebesaran-Nya. Santai saja. Rileksss Pam!

IMG_7201.JPG
Jangan serius-serius amat bacanya, hahahaha. Rilekssss nikmati pemandangan bagus 🙂

Kalau ditanya soal hal mistis di gunung sebenernya ada banyak. Tapi bukan saya sendiri yang ngalamin. Karena dari dulu memang nggak bisa lihat hal-hal gaib macam itu. Di Gunung Lembu misalnya, sempat ada teman yang melihat makhluk halus rame kumpul di kuburan dekat jalan menuju trekking selama muncak. Cuma dia yang lihat, itu masalahnya. Cuma dia yang merinding.

Di trek jalur Senaru, Gunung Rinjani yang merupakan hutan juga kejadian. Pas banget kami tiga rombongan pendaki nekat turun, padahal sudah malam. Bapak potter bilang jangan perjalanan malam, tetep namanya ngejar target besok pagi harus sampai pintu Senaru kan.

Kita akhirnya nekat turun dan melakukan perjalanan malam karena ada tiga tim yang bareng sekalian. Kalau cuma tim saya yang ber-4 itu juga nggak bakal berani. Pasti nenda di pos 3 jalur Senaru.

IMG_7522.JPG
Saking dijaganya, sekarang ada batas berkemah di Danau Ranukumbolo. Kami tak boleh lewat lebi dari pembatas garis ini, demi menjaga air danau tetap bersih. Eittts… jangan jadi korban film 5cm juga, boro-boro buat nyemplung. Haram hukumnya, kita semua kan minum dari air di danau ini 😀

Tapi betul juga kata bapak potter yang kita tanyain sepanjang jalan. Jangan turun saat malam, selain gelap dan bahaya juga ada hal mistis atau ketemu makhluk dari alam lain itu. Kan karena saya nggak bisa lihat juga, memang jam hampir pukul 00.00 kita masih lanjutin perjalanan. Ketua rombongan yang paling depan (sepertinya memang sudah sering naik gunung) pakai aba-aba stop dengan tanggan.

Dia bilang jangan berisik. Tolong yang ada bunyi kerencengan jangan bunyi. Terus kita berhenti sebentar hampir 5 menit. Ada suara burung hantu atau perkutut gitu. Besok paginya saya diceritain kan sama temen yang serombongan kalau semalam itu ada kuntilanak terbang di atas kita. Pas  ada suara burung hantu atau perkutut itu. Hiiiiiiiiii, nggak kebayang. Saya beruntung nggak bisa lihat.

Cerita lain dari teman, ada yang akhirnya kapok naik gunung karena ngeliat “makhluk”. Pas ke Merbabu katanya, dia lihat temennya itu tas carrier-nya didudukin sama nenek-nenek yang lagi ketawa-tawa. Terus kakinya lagi dipegangin juga sama “makhluk” dunia lain yang tangan kukunya panjang-panjang dan serem. Hiiiiiiiiiii nggak kebayang. Naudzubilahmindzalik jangan sampe liat.

IMG_7361.JPG
Semoga alam tetap lestari, buat hiburan kalau kita penat dari kesibukan aktivitas kota.

Nah, rencananya kalau lancar dan memang ditakdirin ya. Weekend depan saya mau ke Gunung Ceremai. Random aja, kebetulan dapet jadwal dan cocok jadwalnya ketemu temen-temennya yang mau ke Ceremai. Boleh googling, katanya banyak kejadian aneh juga disana. Cerita diikutin pocong, diikutin kunti, bahkan lagi makan dan berdoa juga ada yang melihat wanita berbaju putih memperlihatkan wajahnya.

Entahlah ya, saya nggak mau mikir macem-macem. Yang jelas kalau ke gunung niatnya yang baik, jangan berkata-kata kotor, merusak, atau melakukan tindakan nggak baik. Usahakan perginya terang benderang. Jangan pas gelap masih trekking nanjak atau turun. Walau ini kondisi bisa jadi tak terprediksi kadang.

Indonesia, JAVA - Indonesia, MALANG - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Pendakian Semeru – Dangdutan Pagi, Pakde Angkat dan Semangka Dingin

 

 

IMG_7518
Pemandangan di depan Danau Ranu Kumbolo (dari samping). Berkabut, masih pagi sekitar pukul 07.00 waktu Malang.

Betapa jarangnya pemandangan saat-saat piknik ke gunung. Membawa tas carrier yang menggunung tinggi melewati pundak. Seperti apa orang yang tetap merasa gembira dengan lelahnya membawa beban sambil mendaki? Lalu kesenangan apa yang kerap datang dan membuat diri selalu rindu untuk kembali?

Kereta Ekonomi jurusan Jakarta – Malang baru saja tiba di stasiun sekitar pukul 01.00 dini hari. Hampir hening, tak banyak orang hingga kami rombongan trip ke Gunung Semeru (Gw, Esti, Vivi, Bonar) nggak begitu sempat memperhatikan sekeliling. Kami keluar stasiun, jalan mengekor sampai berhenti di satu sudut trotoar dan menunggu jemputan Angkot.

Menaruh barang bawaan, peralatan semacam trekking pole, bahan makanan dan bla-bla-bla. Ketawa-tawa sama kelakuan diri sendiri bawa tas carrier segede itu. Di dalam angkot, kami mulai ngobrol. Sambil melawan kantuk.

Nggak kebayang kalo kita perginya jadi ber-8 orang seperti di rencana awal ya, sempit banget angkot-nya ini pasti,” ujar Esti sambil ketawa-tawa.

IMG_7559
Istirahat sebentar, Bonar sama Vivi teman seperjalanan ke Gunung Semeru.

lalu celotehan Esti tadi disambut tertawaan oleh kawan yang lain. Jelas sekali seperti apa jadinya kalau kami berdelapan. Berempat saja dengan tas carrier setengah ukuran badan, rata-rata 50 Liter sudah bikin penuh. Bisa jadi tas carrier kami diikat di atas angkot sih, baru muat penumpangnya duduk di dalam kalau perginya berdelapan.

Hahaha, kebayang kalau ada Irol, Mbak Nana, dan Kaput yang akhirnya nggak jadi ikut, setelah satu penundaan. Berkat insiden pendaki hilang tepat sehari sebelum jadwal kereta berangkat. Gagal berangkat di bulan Agustus, tapi setengah rombongan kekeuh berangkat dan re-schedule pendakian di pertengahan September (2015).

Pagi buta, cukup dingin untuk orang Jakarta seperti kami yang lumayan kaget dengan perkiraan cuaca sejuk di Malang. Sekitar 25 menit kemudian sampai juga sewaan angkot di depan guesthouse, rumah tinggal warga sebagai tempat istirahat sebelum mulai mendaki.

Kepalang tanggung, hampir jam 02.00, tapi lumayan kalau sekejap pun dipakai tidur supaya badan lebih fit sebelum pendakian. Rencananya jam 09.00 setelah sarapan, kami dijemput mobil jeep menuju desa Ranupani. Tempat start mendaki, tapi seperti Tuhan tak kehilangan skenario menarik.

Malang itu cuaca dinginnya bikin beku, padahal ini sudah di dalam rumah lho… Esti sama gw berusaha tidur tapi nggak bisa-bisa karena dinginnya nusuk. Ganti posisi tidur menghadap ke samping, sambil ada adegan menggigil seperti orang kena meriang. Terus gw udah buka sleeping bag sama pake selimut tetep aja DINGIN. Hampir setengah jam rasanya bisa tidur lalu kebangun lagi, menggigil.

SONY DSC
Luaaaaaaasss banget Semeru 

Lah yang lain kemana? ternyata mereka ada di ruang tamu depan, tidur di bangku yang suhunya lebih hangat. Kita berdua ikutan pindah tidur disaat-saat adzan subuh sudah lewat (jam 4). Vivi, Bonar nyenyak banget tidurnya sampai tiba-tiba ada suara dangdutan keras banget. Jam 5 pagi, ada apa ini? mencari tahu, semuanya penasaran dan berhamburan keluar.

Jam 05.00-an lho ini tapi langitnya sudah agak terang, ohya ini kan Indonesia bagian tengah. Dan memang di samping ada tenda kawinan. Asoyyyyy…. gagal melanjutkan tidur sebelum pendakian gara-gara dangdutan pagi. Kita ber-lima ketawa-tawa aja terusnya sibuk packing dan ngantri mandi. Daripada kan,… nggak bisa tidur juga gara-gara suara keras dangdutan pagi 😀

Si bapak supir sepertinya memang nggak ingin kami sarapan di tempat yang biasa-biasa saja. Makanya setelah kemas barang bawaan dan jeep datang niat sarapan di warung dekat guesthouse malah keterusan hampir berkilo-kilo jauhnya.

IMG_7516.JPG
Ranu Kombolo, kepingin kesini lagi. Entah kapan tapi mau sampai ke puncak Mahameru.

“Pak ini kita nggak apa-apa sarapan yang deket aja soalnya jam 10 harus sampai Ranupani,” kata salah seorang dari kami, pake penekanan ngomongnya.

Tapi tetep aja lho, si bapak supir ngajak kami sarapannya jauh. Disebuah warung sederhana yang jualan pecel kami berhenti. Huffttt akhirnya, setelah naik turun, lewat sawah, ya … lumayan sih jadi banyak pemandanganya pagi-pagi. Sekalian menghemat waktu akhirnya pesan makanan buat lunch nanti, nasi pecel juga dengan telur dan sambal. Dibungkus.

Acara piknik ke gunung itu selalu ada aja adegan yang tak terduga sebelumnya. Sebetulnya bukan kalo ke gunung aja, traveling kemana pun juga. Bikin ketawa, padahal sebenernya diantara kami berlima yang pergi semuanya itu pembawaannya kalem-kalem. Kali ini kejadian saat tidur kita diganggu dangdutan pagi, terus sepanjang perjalanan bikin kita akrab sama potter dan akhirnya jadi kita panggil “Pakde” hahaha Pakde angkat ini, sampai nama aslinya juga lupa.

IMG_7572.JPG
Lihatlah segede apa tas yang kami bawa 😀

Pakde supperrrr, soalnya sering banget sampai duluan, terus dia naruh barang bawaannya dan balik buat bawain tas gw atau Esti ganti-gantian. Hahahaha. Saking baiknya juga, selesai dari pendakian pas makan malem sama sarapan sebelum pulang ke Jakarta kita masih dimasakin. Padahal udah bukan tanggung jawab dia masakin.

Kita diajak main ke rumahnya, terus nyobain menu gulai kambing (pas banget kan, kami ke Semeru saat libur tanggal merah Idul Adha). Makan di rumah penduduk dan bisa akrab layaknya saudara sendiri yang seperti ini bikin acara traveling lebih berkesan. Beda banget pastinya kalau nginap di hotel. (Nggak cocok juga Pam, naik gunung kok nginep di hotel). Hahahaha 😀

Dan ternyata ya di Semeru itu ada tukang jualan juga, bahkan buah semangka disana dinginnya bukan dari kulkas tapi mengejutkan segar dinginnya karena cuaca pegunungan. Ini jadi tak terlupakan, saat istirahat dari Oro-Oro Ombo terus dibawah pohon kita makan semangka dingin. Berhenti di Jambangan, juga ada mas-mas yang jualan Semangka dan gorengan. Jajan lagi…. untungnya bawa uang recehan di kantong Rp. 5000 dapet dua semangka. Segeeeerrr!!!

Hampir tiap pos pemberhentian pas jalan pulang pun selalu ada yang jual semangka. Tetep dengan rasa dingin pegunungan, jadi kalau haus beli semangka. Kalo laper beli tahu goreng, berkah banget buat penduduk sekitar. Tapi jualan di gunung, datang dan kembalinya jauhnya dari rumah penduduk di sekitar desa Ranupani. Ini mirip dengan pedagang di Gunung Papandayan yang susah payah jualan harus lewatin jalan seperti halnya para pendaki.

IMG_7437
Esti menikmati banget sesi merhatiin embun lebih dekat. Berasa semesta ini cuma milik kami, Semeru di bulan September pas banget lagi sepi.