culinary, Kuliner, Liputan, Malaysia - Asia Tenggara, story, Traveling

Lima Rekomendasi Kuliner Malam di Petaling Street

Setelah enam tahun saat pertama kali ke Malaysia tahun 2013 silam akhirnya aku berkesempatan lagi buat menyambangi Kuala Lumpur (KL)! Sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan Negeri Jiran, jika bukan karena ada business trip alias perjalanan dinas a.k.a liputan 2 hari untuk peluncuran ponsel gaming Black Shark di KL.

Curi-curi waktu setelah liputan beres akhirnya kulineran aja deh malam-malam ke Petaling Street. Aneh juga sih, sebenarnya aku tuh nyari lokasi lain untuk dijelajahi melalui maps karena dulu sudah pernah ke Petaling Street. Mulanya ke Pasar Seni, tapi ternyata lokasi dekat sekali berjalan kaki ke Petaling Street yang juga merupakan kawasan China Town dan masih ramai padahal jam di tangan hampir menujukan pukul 21.00 waktu KL.

Ternyata beda lho atmosfer pagi menuju siang dan malam di Petaling Street. Setelah merasakan suasana yang beda aku malah menyarankan kalian yang pemula banget backpackeran keliling Asia Tenggara buat kulineran malam aja di Petaling Street dan cobain 5 rekomendasi kuliner berikut!

(1) Makan di Restoran Kim Lian Kee

Ini restorannya guys, di luar aja makannya sambil menikmati suasana malam

Teman-teman serombongan liputan dari Jakarta makan di sini, lokasinya gampang banget dicari dari depan plang Petaling Street lurus aja terus lalu belok kanan berdekatan dengan penjual Chesnut Berangan. Menunya ada aneka jenis mi, nasi goreng, jenis-jenis makanan Chinese kebanyakan. Halal apa nggak? Nggak yakin hehe karena buatku kalau restoran Chinese aku nggak berani coba dan pastikan kehalalannya. Rekomendasi aja buat kalian yang non muslim bisa kok makan di sini.

(2) Ngemil Chestnut Berangan

Ini ibu penjualnya dan beginilah bentuk kacangnya

Dari namanya aku penasaran, ini kacang berangan? Nggak banyak mikir langsung beli walau harganya 7,5 MYR kalau dirupiahkan dengan kurs Rp 3600 per 1 Ringgit jadi Rp 30.000 dan itu nggak dibohongin kok karena ada tulisan harganya dipapan. Penjualnya adalah ibu-ibu Melayu campuran Chinese karena matanya sipit. Aku nggak banyak tanya karena keburu penasaran coba, eh ternyata enak.

Jadi kacang berangan ini besar juga ukurannya, kulitnya pun keras makanya diroasted alias dipanggang gitu. Makannya enak selagi panas anget-anget. Agak susah membuka kulitnya dan lumayan capek ngegigitin tapi seru dan rasanya enak, walau lama ngabisinnya sambil keliling cari kulineran lagi habis juga dimakan berdua. Hehe

(3) Beli Air Mata Kucing

Air mata kucing, minum manis pas malem-malem. Ohya kamu bisa pilih dengan es atau tanpa es

Minuman yang serasa nostalgia, karena waktu ke sini 6 tahun yang lalu saat matahari terik dan cuaca panas-panasnya minuman inilah yang benar-benar terasa menyegarkan di tenggorokan. Harganya sekitaran 2,5 MYR atau setara Rp 15.000 saja. Rasanya manis seperti liang teh gitu dengan ada cincangan buah seperti kelengkeng di dalamnya. Mau siang atau malam menurutku tidak masalah minum ini tetap segar. Harus cobain banget selagi jalan-jalan ke Petaling Street dan cari oleh-oleh.

(4) Kim Soya Bean

Kim Soya Bean pasti bikin kenyang

Masih cari minuman? Di Petaling Street ada juga nih es susu kedelai alias Kim Soya Bean yang sudah terkenal itu. Cocok buat yang ingin malem-malem lapar tapi males makan dan ingin tambahan nutrisi dari protein nabati hehe. Menurutku harus banget coba, tapi kalau masih kenyang bisa keliling dulu deh muter-muter biar laper dan haus lagi terus beli Kim Soya Bean.

(5) Beli Sate-Satean

Dipilih-dipilih satenya, ini temen liputanku Galuh yang bisa makan sate babi

Masih laper tapi ya nggak laper banget, bisa nih beli sate-satean di Petaling Street. Nah, selain ada berbagai jenis sosis, kepiting, ayam, temenku di sini juga ambil sate babi merah FYI aja karena dia protestan jadi halal makan itu. Hehe kalo aku nggak boleh, cukup dengerin komentarnya aja gimana rasanya. Katanya ini babi nya manis. Nelen air liur deh kakak hehe.

Saat dateng kamu bakalan dikasih piring buat menaruh sate yang dipilih. Terus penjualnya akan grill satenya tapi ada yang digoreng juga sih dicampur bumbu dan tepung terlebih dahulu. Kelihatannya enak, cuma karena ada babinya aku ga beli. Kan kena minyaknya pula walau nggak makan.

Jadi itulah guys, 5 rekomendasi buat kulineran malam di Petaling Street saat kamu ke Kuala Lumpur. Masih banyak restoran sebenarnya, namun karena waktu terbatas kan.. bisa lho mampir lain kali (kalo ada yang bayarin tiket pesawat sama hotelnya) kwkwkw.

Advertisements
BANGKA BELITUNG - Indonesia, Indonesia, Liputan, Traveling

Berkenalan dengan Tarcius, Primata Purba Pulau Belitung di Bukit Peramun

Setelah delapan tahun, akhirnya kembali menginjakan kaki ke Tanah Belitong. Sungguh penasaran satu windu lamanya, ada perubahan apa di pulau penghasil timah ini?

Penerbangan pagi, setelah subuh pesawatku berangkat dari Jakarta. Perjalanan berkesan atas undangan peliputan dari Kementerian Pariwisata untuk mengikuti rapat koordinasi lintas sektor menuju Belitung menjadi Geopark Dunia oleh UNESCO ini termasuk kunjungan lapangan mendatangi berbagai objek wisata baru di Pulau Belitung.

Nah, aku bakal buat beberapa seri tulisan untuk objek wisata terbaru di Pulau Belitung. Pertama banget yang menurutku paling menarik adalah saat bertemu tarcius, si mahluk purba yang diklaim menjadi primata yang selamat melewati zaman es. Hmmm penasaran kan?

Matanya bulat lebar, dengan hidung yang lucu serta menarik untuk dilihat. Imut-imut, mungkin kalau dipegang hanya segenggaman tangan kita. sekilas kepalanya mirip burung hantu, tapi bukan. Anehnya lagi, kaki dan tangannya ada mirip kekelawar. Si tarcius juga bisa memutar kepalanya hingga 180 derajat, jadi makin gemes rasanya melihat hewan purba ini.

lihat matanya yang bulat, ini cahayanya over ya, karena mode malam

Buat kamu yang belum kenal sama tarcius, yuk kita kenalan dulu. Tarcius Bancanus Saltator atau dalam bahasa lokal Belitung disebut dengan “Pelilean” jenis tarcius yang baru ditemukan dan masuk dalam daftar appendix dunia melengkapi beberapa jenis tarcius yang sudah teridentifikasi sebelumnya. Variasi spesies ini juga ditemukan di Sumatera, Borneo, Sulawesi, serta ada di Pulau Bohor, Samar, Mindanau, dan Lyte (di Filifina).

Tarcius di Belitung ini menurut cerita berbeda dengan jenis tarcius di daerah lain. Gigi-giginya tajam karena hewan purba ini katanya sempat terjebak saat zaman es. Kalo dipikir-pikir kok bisa? iya bisa dong, bila membaca lebih jauh sejarah pulau belitung yang bisa punya batu-batu sebesar raksasa itu juga ada versi cerita kalau batu-batu itu merupakan batu meteor yang jatuh jutaan atau mungkin ratusan tahun yang lalu.

Sebaran tarcius dari zaman purba berkaitan erat dengan masa es akhir Pleistosene di Sundaland kita-kira 22 ribu tahun yang lalu. Pulau Jawa terhubung dengan daratan Kalimantan, Sumatera, dan Asia Tenggara oleh es. Tarcius kemudian berpindah ke tempat lain melalui es beku tersebut. Ketika es mencair hewan ini terjebak di wilayah daratan yang tersisa. Makanya tau-tau ada di Belitung.

Lanjut ke tarcius lagi. Si tarcius yang ada di Belitung juga dibedakan berdasarkan morfologi dengan tipe rambut padat tidak masif, punggung berwarna abu-abu dan tidak adanya duet vokal di pagi hari (Shehell, 2008; Groves and Shekelle, 2010; Fodgen, 1974; Yustian, 2007).

Batu-batu besar nan unik di Kepulauan Belitung jadi latar foto yang menakjubkan kalau berwisata ke Belitung

Makanya aku nggak kaget juga saat berkunjung ke beberapa situs geopark yang sedang dikembangkan pemerintah untuk dijadikan objek wisata Belitung ada beberapa tempat seperti rawa kenozoikum Tebat Rasau yang kondisi ekosistemnya setelah diteliti juga menarik, serta ada spesies ikan purba yang hidup disekitarnya.

Nah si tarcius ini bisa kamu lihat dengan mengunjungi Bukit Peramun, salah satu objek wisata baru yang ada di Belitung. Menurut penduduk sekitar, nama peramun didapat dari kata peramuan yang memang tempat ini merupakan hutan tempat warga mencari tanaman-tanaman obat atau disebut ramuan.

Buat kamu yang ingin ke Belitung bisa mulai mencoba atraksi ini yang sudah mulai ditawarkan agen pariwisata lokal dengan harga Rp 100.000 per orang. Waktu kunjungan untuk tarcius watching ini malam hari pukul 18.30-21.00, tapi sejak siang kita bisa mengunjungi Bukit Peramun dulu yang ada lokasi melihat pemandangan hutan dari atas bukit.

Ada aturan untuk tidak berisik, jumlah orang yang melihat juga dibatasi sekitar 5 orang saja. Karena makhluk malam ini juga perlu dipancing untuk keluar dan kita akan selalu ditemani pemandu. Disarankan tidak memakai lighting saat memotret dan nggak bisa terlalu lama juga kalau kita mau foto-foto. Menurutkku akan kasian si tarcius, matanya pun hampir berair karena melotot terus nggak berkedip.

Ohya beda lagi ya kalau kamu juga ingin mengunjungi Bukit Peramun, bayar lagi Rp 160.000 per orang dengan waktu kunjungan pukul 09.00 – 17.00. Biaya ini sudah termasuk asuransi, 1 botol minuman, makan siang, pemandu. Nggak rugi lho wisata ke Bukit Peramun yang jadi lokasi geosite ini. Kamu bakal dapet pengalaman menjelajah wisata geologi tingkat dunia berupa batu granit TOT dan keanekaragaman hayati, dengan khasiatnya untuk pengobatan.

lihat deh muka lucunya, ekspresi awkward mirip kita kalo lagi tiba-tiba disuruh pidato di depan kelas waktu jaman sekolah. Hahaha

Sekalian ya di artikel ini aku kasih tips kalau mau jalan-jalan ke Belitung:

(1) Menggunakan travel agent. Kamu akan lebih menikmati waktu liburan dan punya koleksi foto yang bagus untuk postingan social media. Penting banget kan zaman sekarang, hehe 🙂

(2) Selain itu sebaiknya pergi dengan rombongan, sekitar minimal 6 orang ya supaya harganya tidak terlalu over budget di kantong kamu. Jadi memang ajaklah keluarga kamu atau bisa juga temen se-gank yang deket banget buat liburan kesini.

(3) Say No to Solo Traveling. Jangan sendiri aja perginya, solo traveling kurang asik sih kalo tujuannya ke Belitung, kamu pun kalau traveling ke Belitung mesti sewa kapal dan mengunjungi banyak pulau. Walaupun bisa sewa motor atau bisa berbaur dengan orang lokal tapi, percaya deh kata aku. Jangan pergi soloing.

Singapura - Asia Tenggara, Traveling

REVIEW – Rekomendasi 7 Restoran di Marina Bay Sands, Singapura

Pemandangan Malam di Singapura

Ikon kota Singapura, salah satunya yang harus traveler sambangi adalah Marina Bay Sands. Sebuah mall sekaligus hotel, juga ada kasino, dekat lokasi museum dan punya fasilitas lengkap dengan kesan luxurious. Aku mau kasih bocoran nih, rekomendasi setelah makan dan nyobain makanan disana jadi mau aku review di blog.

Ada beberapa restoran di Marina Bay Sands Hotel dan aku juga tulis yang harganya affordable di bagian Mall Marina Bay Sands, jadi walau kalian traveler misalnya tidak ingin menginap tetap boleh lho makan di salah satu restoran ini dan bisa dapetin view bagus dari lantai atasnya. Juga kalau hanya muter-muter disekitar mall bisa makan disini dengan lebih terjangkau. Hmm, apa aja restorannya dan gimana rasa makanannya yuk langsung disimak!

(1) Sarapan di Club 55, Lantai 55 Marina Bay Sands

Ada restoran Club 55 yang bisa jadi pilihan sarapan kamu di lantai 55 kalau lagi menginap di Marina Bay Sands. Buffet makanan disini terbilang lengkap, ada menu Asia sampai Barat, apalagi menu Jepang dan Cina seperti sushi, sup miso, dim sum, siomay, juga yogurt, aneka keju.

Pemandangan dari Club 55 sambil nyobain miso soup

Standart hotel bintang 5 lengkap dan rasanya jangan ditanya lagi. Sambil sarapan kamu bisa memandangi kota Singapura dari atas. Indah, saat hari cerah. Tapi seringnya Singapura agak kelabu langitnya. Aku saran kamu pilih Club 55 untuk tempat sarapan saat menginap di Marina Bay Sands.

(2) Brunch di Lavo Restaurant, Lantai 57 Marina Bay Sands Hotel

Biasanya traveler yang tidak menginap di Marina Bay Sands, memilih untuk makan di Lavo Restaurant supaya tidak bayar biaya masuk ke lantai Sky Park Marina Bay Sands. Jadi kamu bisa mendapatkan akses dengan makan di restoran itu. Jadi cukup bayar makanan kamu di Lavo Restaurant dan kamu bisa melihat pemandangan kota Singapura dari atas terus dapet background foto landscape ciamik!

Menu chicken and waffle juga enak, ada saus berkaramel yang manis, jadi agak ajaib tapi seru dipadu ayam goreng yang gurih

Fyi Lavo Restaurant merupakan restoran Italia. Kalau datang kesini bisa pada saat brunch, ada beberapa rekomendasi menu brunch yang aku sudah cobain seperti avocado toast dan 12 layers cake. Seporsi cukup besar jadi bisa buat berdua kalau kamu perempuan untuk avocado toast, tapi kalu 12 layers cake bisa buat ber-4 mungkin soalnya tinggi banget kuenya. Ohya makanan disini rata-rata harganya mirip di Jakarta kok kisaran $15 Singapura per porsi tapi porsi bule jadi banyak banget buat kita yang orang Asia bisa berdua. Jadi masih lumayan kok dikantong porsi besar harga segitu.

(3) Makan Siang di Rise Restaurant, Lantai 1 Marina Bay Sands

Kalau Makan Siang, enaknya buffet ya? Nah kalau kamu cari buffet yang super lengkap menunya dari Asia sampai Barat datang ke Rise Restaurant yang ada di dekat lobby Marina Bay Sands Hotel jadi pilihan bagus!

Seafood mentah pun ada! Lengkap dan enak semua

Aku dua kali makan disini dan rasanya tidak mengecewakan. Mulai dari menu Laksa, Kepiting yang menu khas Singapura dimasak dengan bumbu pedas, lalu ada berbagai menu Jepang dari Sashimi sampai Sushi dan Wakame. Nggak rugi sama sekali mencoba semua buffet disini. Termasuk menu makanan India dari Roti Naan, Kari, Ayam Tandoori, enak semua!

Kalau tidak mau terasa mahal jadinya saran aku reservasi saja hotelnya di Marina Bay Sands, kan jadi bisa sekalian dapat pilihan sarapan di Rise, bisa nge-Gym, bisa ke Infinity Pool di lantai 57, bisa ke Sky Park, bisa dapat diskon belanja di banyak gerai Mall Marina Bay Sands, jadi terhitung dapat banyak fasilitas sekali bayar. Coba cek berapa harga hotelnya yang mulai kisaran Rp 5 juta-an.

(4) Spago By Wolfgang Puck di Lantai 57 Marina Bay Sands Hotel

Disini buat sarapan, karena sebelumnya pernah nyobain ke Club 55. Meski konsepnya buffet makanannya tidak sebanyak di Rise Restaurant maupun Club 55. Tapi kalau makan disini kamu bakal dapet pemandangan ke luar sisi kolam renang. Suasananya juga kasual banget, cuma ya mungkin kesini lebih singkat makannya.

Egg Benedict yang porsinya kecil aja dan rasanya biasa, soalnya pernah nyobain yang lebih enak pas di Bali dan Jakarta

Cuma sedikit jenis salad aja, jenis dim sum juga hanya 3 macam, buffet untuk yogurt dan semacam granola tetap ada, makanan agak berat seperti mi, nasi goreng, kentang, sayur brokoli juga ada. Tapi menurutku rasanya kurang enak haha. Entah deh, yang aku rekomendasiin cuma yogurt sama granola aja disini. Aku coba Bee Hoon Soto juga rasanya nggak karuan. Bihunnya teksturnya agak lebih tebal dan kasar aku kurang suka, tapi kuahnya walau terlihat kecokelatan bening aja ada pedasnya, tauge besar mentah, ada bawang goreng dan irisan ayam. So so aja..

(5) Bread Street Chicken, Mall Marina Bay Sands

Ini lho ada restorannya Chef Gordon Ramsay yang terkenal itu, kamu sudah kesini belum? Akhirnya kemarin aku nyobain juga ke tempat ini dan yang terbaru kamu harus cobain menu The Impossible Wellington dibuat dari saus tomat, cabai, bawang merah, dan sayuran rocket pesto. Kamu pasti agak nggak percaya kalau itu sayur tapi rasanya daging hehehe. Jangan lupa makannya jangan berdua aja. Bakal nggak abis, bertiga cukup, atau berempat pesan satu menu The Impossible Flatbread yang juga tanpa daging tapi terasa daging.

Menu terbaru dari tanaman tapi terasa daging, Impossible Wellington

Tempat yang merupakan cabang keempat dari restoran kenamaan Gordon Ramsay, Bread Street Kitchen & Bar, mengikuti jejak kesuksesan restoran tersebut sebelumnya juga ada di London, Dubai, dan Hong Kong. BSK Singapura menyajikan menu Eropa Inggris klasik dengan pengaruh cita rasa lokal.

Restorannya dari depan, kapasitas 150 bangku

Signature dishes di Bread Street yang sudah terkenal itu Beef Wellington, tapi pas kebetulan lagi ada menu rasa daging tapi dari tanaman yang menjadi pengganti beef tapi terasa dagingnya kamu harus cobain. Kapasitas restoran ada 150 kursi, katanya sih rame terus, semoga kamu dapet slot buat makan disini. Ohya rata-rata harga makanan sekitar $ 20 Singapura.

(6) Black Tap, Mall Marina Bay Sands

Seriussss burger sama milkshake disini enak banget!

Penasaran sama burger dan milkshake ikonik dari Amerika? Nggak perlu jauh-jauh ke Negeri Paman Sam, kamu bisa jumpai gerainya di Mall Marina Bay Sands. Aku pikir masih rasionable juga makan disini dengan harga kisaran $12-$20 Singapura. Kamu bisa dapetin burger porsi besar, FYI bisa buat berdua termasuk milkshake yang juga ukuran jumbo bisa untuk berdua. Bukan pelit ya, tapi porsinya memang porsi makan orang Amerika!

(7) Toast Box, Mall Marina Bay Sands

Nah, kemarin Maret 2019 aku baru lihat juga gerainya ada di Mall Marina Bay Sands, padahal September 2018 belum ada. Yeay Toast Box yang terkenal sama kopi khas Nanyang dan Roti Panggang bisa kamu temui disini. Cocoknya buat sarapan ya kalau pesan roti panggang, btw mana kenyang?

Fyi Toast Box sih sebenernya sudah ada gerainya di Indonesia, di Kokas dan Gancit hehe, tapi pas ke Singapura kemarin aku juga nyobain yang ada di Marina Bay Sands Mall

Tapi kalau mau makan lebih kenyang bisa pesan Laksa, Mee Siam, dan makanan khas Singapura lainnya disini. Rata-rata harga makanannya mulai $7 Singapura. Jadi dibanding restoran lain yang sebelumnya aku sebut, Toast Box memang yang paling affordable harganya. Tapi aku khawatir sih kalau kamu jalan-jalan lama disini bakal cepat lapar lagi. Aku cobain kopi susu disini dan suka enak banget, mungkin ini yang dinamakan cita rasa dari Nanyang.

Singapura - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Spectra a Light & Water Show – Pertunjukan Menakjubkan di Teluk Marina Singapura

Ada apa nih kok rame banget? Oh ternyata lagi ngeliatin pesta kembang api. Eh.. tunggu dulu, bukan! Bukan kembang api tapi laser yang menari-nari.. hahaha teringat tahun lalu waktu lagi liputan di Marina Bay Sands, tanpa direncanakan saat mau balik ke kamar hotel melihat kerumunan ramai di depan teluk, dekat Louis Vuitton.

Takjub, norak iya. Seketika buka kamera hp dan merekam dari jauh dan juga jepret berkali-kali pakai mirrorless. Aku nggak menikmati pemandangan ini sedari awal, makanya waktu ke Singapura lagi awal Maret 2019 ini sengaja mantengin dari jam8.30 malam buat dapet spot di depan.

Hahaha! Alhasil jepretan kamera dan rekaman video aku lebih bangus dong. Aku sharing di blog supaya kalian traveler yang belum kesini bisa memasukan agenda melihat “Spectra a Light and Water Show” dalam itinerary. Soalnya dulu waktu 2013 dateng pertama kali ke Singapura belum ada atraksi ini lho.

Lokasinya di 2 Bayfront Ave, Marina Bay Sands (MBS), Singapura. Gampang banget dicarinya, terus bisa sekalian habis muter-muter Mall MBS dipenghujung malam nonton pertunjukan ini. Cuma 15 menit aja sih, tapi seru dan keren. Turis-turis aja nungguin padahal di negara mereka pasti ada yang lebih keren.

Buat yang backpacker-an tetap bisa nonton dan jangan khawatir karena tanpa tiket alias gratis aja. Pulang nonton Spectra a Light & Water Show kamu bisa pulang dengan MRT, kan deket banget stasiun MRT Bayfront di Marina Bay Sands.

Kalau memang berencana untuk melihat Spectra a Light & Water Show mesti tiba sekitar pukul 08.00 malam, soalnya jadwalnya kadang beda-beda. Ada yang mulai jam 08.00 atau jam 09.00 setiap hari, jadi akan lebih aman kamu sudah tiba sekitar jam 08.00. Kalau pas lagi hujan perlu payung, prepare payung dan lihat ramalan cuaca biar datang jauh-jauh kesini tidak kecewa.

Menurutku akan lebih baik membuat itinerary sehari untuk menjelajahi lokasi wisata sekitar Marina Bay Sands seperti Garden By The Bay, keliling mall Marina Bay Sands buat kulineran di restoran yang ada disini, sampai malam nonton Spectra a Light & Water Show. Jadi kamu nggak perlu capek mondar-mandir banyak lokasi.

BALI - Indonesia, Indonesia, story, The Journey, Traveling

Cerita Mitologi di Monkey Forest, Ubud Bali

Monyet pun katanya “no smoking”

Dahulu kala, ada sebuah legenda dari Ramayana. Menceritakan konstruksi besar jembatan panjang bernama Situbanda yang dibuat oleh pasukan monyet di bawah pengawasan langsung Sri Rama yang menurut cerita itu merupakan inkarnasi dari Dewa. Sejak saat itu, monyet bukanlah hewan biasa dan jadi elemen penting berkesenian di Bali.

Tak salah kalau ada sebuah tempat, namanya Monkey Forest yang begitu dijaga dan jadi habitat monyet sekaligus tempat wisata yang bisa kamu kunjungi saat ke Ubud, Bali. Tanpa itinerary, karena hotel ku Plataran Ubud ternyata dekat banget lokasinya dengan Monkey Forest makanya tanpa pikir panjang aku niatkan habis spa buat jalan ke hutan monyet ini.

Menghirup segarnya udara hutan di The Sacred Monkey Forest Sanctuary mengingatkan aku akan saat-saat yang menyenangkan waktu trekking ke gunung. Rasanya paru-paru penuh dengan oksigen yang segar dari hutan ini. Rasanya paru-paru berterima kasih, karena rasanya enak menenangkan hati. Entahlah mungkin berlebihan tapi itu yang aku rasakan.

Berdua aja, lagi makan umbi-umbian

Sejauh mata memandang adalah pepohonan dan lumut hijau yang tampak segar memanjakan indra penglihatan. Si monyet, makhluk lucu yang lompat kesana kemari dan kadang iseng jail mendekat ke wisatawan juga jadi hiburan tersendiri. Kita secara langsung bisa melihat tingkah polah si monyet di habitatnya. Lagi cari kutu, minum, berenang di kolam, dan makan.

Rasanya aku lagi ada di dunia monyet! Makanya nggak salah tempat ini dinamakan Monkey Forest. Jenis monyet yang hidup di dalam kawasan Monkey Forest Ubud dikenal sebagai monyet Bali ekor panjang yang dalam istilah ilmiahnya Macaca fascicularis, tahu nama ini dari fact sheet yang diambil waktu beli tiket masuk.

Ada sekitar 900 ekor monyet yang menghuni kawasan ini, terbagi dalam 6 kelompok ada di Pura Dalem, Michelin, Timur, Tengah, Kuburan dan Selatan. Jangan khawatir kesasar, ada papan petunjuk kok buat balik lagi ke pintu utama. Jalanannya naik turun, makanya aku bilang seperti lagi trekking di hutan. Cuma, bukan di pijakan tanah soalnya sudah disemen semua jalannya.

Pengunung lebih banyak turis asing

Kalau berjalan mengikuti jalur turun ada sungai tempat habitat monyet mandi

Karena jumlahnya cukup banyak, konflik antar monyet tidak dapat dihindari, ehm.. bukan manusia aja yang berkonflik, monyet juga. Seperti misalnya nih, mandi ke sungai di musim kemarau, kelompok tertentu mesti melewati wilayah kekuasaan kelompok lain. Ternyata ada politik juga di dunia monyet.

Monyet di hutan ini terbilang monyet yang aktif di siang hari. Monyet betina mengandung selama 6 bulan dan umumnya melahirkan 1 ekor bayi. Bayi kera biasa bersama induknya kurang lebih 10 bulan dan sesudahnya akan disapih untuk hidup mandiri.

Monyet termasuk binatang omnivora alias makan buah-buahan, di Wenara Suci Wenara Wana sebutan lain Monkey Forest Ubud makanan utamanya adalah ketela rambat, diberikan minimal 3 kali sehari dan setiap hari dikombinasikan dengan pisang, daun, papaya, jagung, mentimun, kelapa, dan buah-buahan lokal lain.

ada monyet yang lagi nyari kutu

Monkey Forest buatku bukan tempat yang biasa-biasa saja. Aku malah lihat kebanyakan turis asing yang jadi pengunjung disini. Buat kamu yang belum kesini, harus banget menjadikan Monkey Forest Ubud salah satu tujuan wisata kalau ke Ubud. Bukan cuma jadi daya tarik wisata di Ubud aja, tapi jadi lokasi penting untuk riset dan penelitian. Khususnya terkait perilaku dan interaksi sosial kera dengan lingkungan sekitarnya.

Hmmmm, satu aja hal yang kurang aku suka bau agak kurang sedap dari kotoran monyet. Wajar sih namanya kan hutan monyet rumah mereka, seperti kalau lagi ke kebun binatang pasti ada bau itu.

Catatan untuk wisatawan:

Monyet tidak akan mendatangi kalau tidak memberi makan atau memegang sesuatu ditangan seperti kacamata

tidak melakukan kontak fisik dengan kera atau memberi makanan tambahan di luar kawasan.

Ada bagian yang tidak boleh dimasuki wisatawan, kecuali oleh mereka yang akan sembahyang dan harus dengan menggunakan pakaian adat Bali yang lengkap.

img_0665
Hutan hijau, pemandangan yang sejuk selama trekking di Monkey Forest

The Sacred Monkey Forest Sanctuary

Telp : +62 361 971304, +62 361 972774

Alamat: Jalan Monkey Forest, Padangtegal, Ubud, 80671, BALI

Harga Tiket Masuk:

Wisatawan lokal dan asing Rp 50.000/orang

Kera yang minum langsung dari keran yang menetes

Indonesia, JAVA - Indonesia, story, Traveling

Walking Tour China Town, Glodok Jakarta

Mulanya iseng-iseng aja, lagi scrolling Instagram stories temen jurnalis food & travel dan menemukan posting-an dia yang menarik. Walking tour di Jakarta! Waw, Jakarta nih. Lalu tanpa mikir lagi langsung follow akun jalan-jalan yang di tag si temen, buka website dan lihat schedule tour-nya.

Ada banyak pilihan walking tour. China Town, Pasar Senen, Kota Tua, dan masih beberapa lagi. Karena deket sama Imlek dan aku lagi butuh banget bahan berita kuliner, jadilah pilih untuk ikutan tour yang China Town. Terus aku ngajak Sarah, temen sekantor tempatku freelance sekalian buat perpisahan karena kita selama 8 bulan ber-partner belum pernah trip bareng.

Anyway! Kawasan pecinaan di seluruh dunia selalu menarik, ya nggak sih? Waktu ke kota Palembang, Semarang, bahkan kalo juga saat ke Singapura dan Malaysia kawasan pecinaan itu punya semacam magnet dari simbol bangunannya sama kulinernya. Rasanya kepingin aja tahu seperti apa etnis yang jumlahnya paling banyak di dunia ini menjalani keseharian. Salah satunya dari sisi kehidupan Cina Muslim yang sepertinya jarang ditemui, yang kerasa amazing aja waktu di Chinatown Singapura aku juga bisa menemukan masjid dan sempat sholat magrib disana.

Mampir sebentar buat nyobain teh gratisan di Pantjoran Tea House

Jadi aku bela-belain Sabtu pagi jam 09.00 teng sudah ada di Hotel Novotel Glodok, sebagai meeting point memulai tour. Pagi itu anginnya kenceng banget, tapi Alhamdulilah tetap cerah Jakarta. Dari sini dimulailah walking tour, baru tahu ternyata di belakang Hotel Novotel ini ada rumah bergaya pecinaan yang nyempil di antara coffee shop Kopi Oey.

Lalu masuklah aku ke bangunan Chandranaya itu bareng rombongan tour yang ternyata lumayan banyak dibagi dalam 3 group masing-masing sepuluh orang dengan satu guide. Kita dibawa masuk ke rumah saudagar Cina Khouw Kim An yang kala itu pada masanya tahun 1867 adalah kapiten atau semacam jabatan lurah. Rumah ini sempat nggak keurus, tapi direnovasi dan dirawal lagi tahun 2012, sehingga bisa jadi tempat pameran dan cagar budaya.

Mulai cerita deh guide-nya, tentang arsitektur Cina zaman dulu yang punya status sosial tinggi rumahnya tuh beda dari rumah lain ada banyak ornamennya macam ayam, ikan, udang di genteng. Dulunya tempat yang sekarang jadi Candranaya ini ada di bawah Xinming Association, perkumpulan etnis Tionghoa yang kegiatannya ada badminton, kelas bahasa mandarin, dll. Cuma karena peristiwa 1998 bangunan sempat rusak dan dibakar. Sedih jadinya, keinget waktu itu aku masih SD dan rusuh banget Jakarta saat itu.

Dari Chandranaya, kita lalu diajak jalan ke arah Glodok. Di depan Pasar Glodok yang deket kali kita berhenti dan diceritain kisah pembantaian etnis Cina oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1740-an.Sekitar 5000 – 10.000 orang dibantai pada kejadian yang berlangsung 3 hari itu, mayatnya dibuang di sungai rawa Jakarta. Makanya juga ada daerah dikenal dengan nama Gunung Sahari, itu plesetan dari gunung dalam sehari (mayat etnis Cina yang dibantai) waktu itu katanya darah dan mayat dimana-mana.

“Populasi etnis Cina banyak banget, makanya dibantai, bahkan ada yang dimigrasi ke Srilanka,” kata Guide kami.

Yang lagi ibadah, di Klenteng Dharma Bhakti

Lanjut cerita tadi, kita diajak jalan lagi dan berhenti di sebuah kedai teh di Jalan Pantjoran. Jadi ini kedai teh udah lama banget katanya, sejak zaman Belanda dulu ada dan sekarang tetap jadi kedai teh dan restoran chinese food gitu.

Pantjoran tea house, namanya diambil dari kali dari kata pancuran. Kenapa kita dibawa kesini? Ada sejarahnya nih, kedai teh ini memang unik. Jadi si pemiliknya kapitan dan sang istri selalu menyediakan teh gratis dari pagi hingga sore di depan kedainya. Zaman dulu kan orang sudah mencari minuman, ide si pemilik untuk berbagi teh sampai sekarang juga masih diterusin.

Nggak jauh dari Pantjoran Tea House kita belok ke arah Jalan Petak Sembilan. Dulu katanya disini memang hanya ada rumah besar sembilan petak, makanya dinamakan Petak Sembilan, tapi ya kalau sekarang sih sudah bukan sembilan lagi. Hehehe.. dari situ kita masuk ke pasar dan tujuan perhentian selanjutnya adalah Klenteng Dharma Bakti, salah satu klenteng tertua di Jakarta yang sudah ada sejak 1650. Berkali-kali klenteng juga rusak karena kebakaran, tapi direnovasi lagi. Nah, setiap klenteng biasanya ada dewa sebagai tuan rumahnya, kalau di Dharma Bakti ini Dewi Kwan In, yang nonton Song Go Kong pasti tahu dong.

Serombongan foto di klenteng

Nggak cuma ada satu klenteng di kawasan pecinaan Glodok, makanya kita juga diajak ke Klenteng Cheng Goan Cheng Kun sebelum lewatin Gang kalimati dan Gang Gloria buat kulineran. Disini nih kamu bisa ngocok ramalan yang pakai nomor berhuruf Cina. Cuma bakal bisa dibaca sama Bapak yang nunggu di depan klenteng. Eh, Sarah nyoba dia buat ngocok ramalan. Antara percaya nggak percaya ada cerita aneh disini yang kalau dipikir agak mistis.

Si Sarah agak ragu, mau ngocok atau nggak. Terus katanya sih dia mikir.

Sarah : “ini serius bisa keluar kocokan segitu banyak terus keluar satu? Celoteh si Sarah. Lalu keluar semua dong itu batang kayu yang ada nomornya.

Kakak Guide nya bilang: “harus yakin, sabar dan mau berproses. Emang gitu berproses nggak enak,” komentarnya. Gara-gara kocokan Sarah jatuh semua.Hahahaha.

Dengerin instruksinya si kakak guide terus si Sarah jadi ngocok dengan lebih yakin dari sebelumnya dan keluar deh itu satu kayu dengan nomor bahasa Mandarin. Hehehe.

Ngelewatin pasar, kanan kiri pemandangannya ada babi gelantungan

Singkat cerita jadinya mistis deh, katanya dari awal dia udah liat itu nomor tapi pakai huruf abjad pas belum nanya sama si bapak Cina. Terus pas mau moto si kayu biar diterjemahin nomor berapa masa ga bisa difoto pakai kamera hp selain punyanya si Sarah. Pas kita selesai makan di Kari Lam dan nanya apa arti tulisannya si bapak juga nyebut nomor yang sama dengan yang dilihat Sarah sebelumnya. Jadi, katanya sih nggak boleh dikasih tau temen nomor berapa dan apa isi ramalannya. Lagi pula itu ramalan juga ditulis dalam bahasa kiasan.

Ya begitulah akhir dari walking tour China Town di Glodok. Sebelumnya kita juga ke Gereja Katolik dengan bentuk bangunan Cina juga. Diakhir tour aku agak penasaran sama isi ramalannya Sarah sih, soalnya dia baru resign kerja di awal tahun ini. Kalo aku sengaja nggak mau ikutan ramal-ramal gitu karena khawatir malah terpengaruh sama isi ramalannya. Ya kalau baik, gimana kalau sebaliknya? Dah, percaya aja sama apa yang direncana Allah nantinya.

BALI - Indonesia, Indonesia, Liputan, MOUNTAIN, Traveling

Staycation Plataran Ubud – BALI

” Ladies and Gentlemen, we shortly will be landing at Ngurah Rai Airport, Bali. The local time now is 18.10, time in Bali is 1 hours ahead of Jakarta….. ,” suara pengumuman dari awak kabin

Sekitar beberapa menit sebelum mendarat, di bawah sana tatanan kota yang tak begitu rapih mulai terlihat. Juga air laut pasang yang seperti sedang menari-nari dan hal paling buat aku kaget adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ternyata kelihatan lumayan besar dari atas pesawat. Padahal dulu 2013, waktu pertama kali aku ke Bali patung itu belum sepenuhnya jadi. Aku juga hanya baru dapat berfoto dengan bagian kepalanya saja.

Akhirnya bisa menjejakan kaki lagi di Bali, setelah April 2017 silam solo traveling  hanya di seputaran Kuta dan akhir tahun 2018 ini aku bisa sebentaran “kabur” dari rutinitas dan penatnya ibu kota. Tempatnya di Ubud yeaayy! Ini seperti lagi dikasih Allah me time sejenak setelah berbagai hal terjadi. Warna warni dan jatuh bangun mental kehidupan cinta di tahun 2018.



Sesajian kalau orang Bali habis sembahyang,.. Bali banget ya..duh! Kaki sampai belang karena kebanyakan panasan

Rasanya tuh, Allah baik banget aku dikasih libur lagi walau statusnya sebagai reporter yang lagi “numpang” liburan colongan dengan staycation di Plataran Ubud, Bali. Semoga saja tercapai mimpi aku buat bisa balik lagi ke Ubud, tapi sama pasangan dan bisa explore tempat ini lebih intens.


Apa sih staycation itu? Kalau kamu belum tahu, staycation atau holistay adalah periode di mana seorang individu atau keluarga tinggal di rumah melakukan kegiatan rekreasi dalam jarak tak jauh dari rumah dan tidak memerlukan akomodasi atau waktu yang semalam. Jadi, kamu tinggal dan beraktivitas disekitar tempat menginap nggak jauh-jauh jaraknya ya sekitar 1-2 km dari hotel atau rumah.

Aku dijemput pihak Plataran Ubud jam6 sore di Kuta, soalnya ada lunch sama teman-teman liputan Sampoerna Foundation dan aku niat muterin Mall Beach Walk buat nyari oleh-oleh. Lumayan macet Kuta sore itu, aku saranin buat langsung ke Ubud aja dari Bandara Ngurah Rai. Daripada kan, waktu habis terbuang.. seharusnya aku bisa ikutan cooking class tapi jadi skip huhu 😐.

Jadi ngapain aja nih kegiatan aku selama staycation?

(1) Spa

Aku sudah niat dari Jakarta kalau sesampainya di Bali mau Spa. Masa bodoh bayarnya berapa, kebetulan untuk Spa kan bukan termasuk pelayanan kamar. I spend my money for Spa.. mahal buat gaji jurnalis rasanya tapi worth it aja kalau Spa di hotel biasanya tidak mengecewakan. Biasanya juga harganya paling murah Rp 500.000 per 60-90 menit. Mungkin Spa di Plataran Ubud ini masih kalah enak sama Spa-nya The Westin Jakarta yang pernah ku cobain juga. Tapi ya ini pas dapet diskon 30%, jadi aku cuma perlu bayar Rp 360.000 buat Spa berdurasi 1 jam yang sudah termasuk tax 22%, iya jangan kaget ya kalau tax untuk hiburan rekreasi memang sebesar itu.



Ternyata dari ruangan Spa kelihatan sawah -sawah, aku request supaya backsound musik yang mirip lagu kalo lagi yoga disetel lebih keras biar makin rileks

Rencana mau Spa juga seperti konsep law of attraction, jadi waktu pagi lagi sarapan ada mbak-mbak dari Spa nya Plataran Ubud and Spa yang memberikan gratis trial Spa selama 10 menit. Terus ditawari paket Spa dan diiming-imingi diskon. Ya sudahlah siapa yang bisa menolak diskon hehe. Jadilah aku Spa, tadinya mau malam sebelum tidur tapi melihat cuaca gerimis hujan aku ganti rencana Spa setelah sarapan jam 10 pagi.

(2) Mencoba Balinese Costume

Aku tertarik banget buat mencoba salah satu kegiatan yang free saat staycation di Plataran Ubud dengan foto-foto dengan kostum tradisional Bali. Tapi ya karena aku lagi nggak ada temen, akhirnya ku ajak receptionist hotel buat jadi temen foto soalnya kan garing kalo foto-foto sendiri.

Persawahan hijau khas di Ubud yang bakal aku kangenin

Seketika mood aku berubah, karena bisa ketawa-ketawa waktu kita seru-seruan foto. Niat juga sampai ke belakang persawahan Plataran Ubud buat ngambil foto berlatar belakang pemandangan hijau. Duh! Kalau begini caranya aku mestinya bawa pasangan buat sekalian liburan bareng.

(3) Tea Time

Hampir setiap hari ada free buat tea time di restoran Teras yang ada di Plataran Ubud. Makanan dan minuman untuk tea time kamu juga bisa dibawa ke kamar, tinggal pilih aja terus mintalah buat diantar. Tiba-tiba aku jadi manja banget minta dianterin ke kamar semua snack cemilan sandwich, buah, sama teh.

img_0659

Nggak apa-apa sesekali, soalnya ada pemandangan yang bagus banget dari beranda kamar aku. Bawahnya ada kolam renang dan sawah, pohon kelapa hijau juga menghampar. Makan malam pun juga di kamar, sambil nonton TV.

(4) Jalan-Jalan ke Monkey Forest

Aku penasaran belum pernah ke Monkey Forest. Ternyata lokasinya tidak jauh lho dari Plataran Ubud, hanya sekitar 2-3 KM berjalan. Ah! Kalau masih segitu bisa dong jalan, aku lalu dikasih peta sama mbak-mbak receptionist Plataran Ubud, gampang banget jadinya ke lokasi.

Masuk Monkey Forest kita perlu tiket masuk yang bisa dibeli seharga Rp 50.000, untuk orang asing sama harganya. By the way, aku saranin untuk memakai sepatu yang nyaman buat ke tempat ini. Soalnya kita itu seperti lagi trekking yang cukup jauh. Naik turun, mungkin yang jarang olahraga bakal ngos-ngosan. Beruntungnya orang macam aku suka banget olahraga dan trekking macam ke Monkey Forest, Ubud ini.

Monyet-monyet akur, kita dilarang memberi makan karena mereka sudah makan dari buah-buahan yang ada di hutan tumbuh alami

Seneng deh bisa berada dekat dengan para monyet ini. Soalnya mereka benar-benar berkeliaran di dekat kita dan perlunya kita waspada menjaga jarak aja serta membaca peraturan yang tertera supaya menghindari terjadi hal tidak diinginkan. Tenang aja tapinya kok, ada pawang monyetnya di dalam meskipun mereka berkeliaran. Tempat ini terasa udaranya segar soalnya hutan dengan pohon rerimbun, hal yang agaknya kurang ku suka adalah bau kurang sedap dari kotoran. Ya wajar kan ini hutan monyet, dimana pun mereka mau pup sah sah saja.

(5) Nge-GYM

Seminggu lamanya karena sibuk kerja, jogging pun terlewatkan. Beruntungnya aku masih bisa mengganti waktu berharga untuk ku olahraga dengan nge-Gym waktu staycation di Plataran Ubud. Pokoknya diniatin banget deh, sehabis Magrib dari kecapekan jalan-jalan trekking santai ke Monkey Forest, berlanjut sorenya Balinese Costume dan Tea Time ku sempatkan juga membakar kalori.

Dalam hati aku bilang, pulang ke Jakarta nanti nggak boleh beratku naik kebanyakan. Makan tiada henti dengan aktivitas banyak dan karena dapet cemilan tetap saja aku harus berolah raga. Beruntungnya di Gym hanya aku sendirian, lagi nggak ada yang pakai alat. Soalnya waktu kemarin malamnya sampai sempat melihat ada bule yang lagi jogging di tredmill. Lumayanlah malam itu bakar kalori sekitar 250 kal, malamnya pun ku hanya makan caesar salad dan jus wortel. Kwkwkw, sayang dong kalau olahraga malah percuma karena malamnya makan nasi.

(6) Kalau Mau Sepedaan Bisa

Sepedaan keliling Ubud, seru pastinya.. tapi fasilitas ini bukan bagian dari free pelayanan saat menginap. Kalau mau sepedaan yang harus dengan guide di Ubud kamu harus membayar sekitar Rp 200.000, nanti akan diantar keliling persawahan dan desa sekitar. Kalau mendengar penjelasan receptionist hotel sih worth it ya. Cuma sayangnya aku tidak keburu waktu buat sepedaan, soalnya aktivitas ini dimulai sejak pagi jam 08.00-10.00.

Sepedaannya harus diantar guide

Saranku kalau memang ingin staycation disini, cari tahu dulu jadwal untuk sesi free activity-nya. Ada cooking class, yoga (yang tidak sempat aku coba karena terlalu capek), sekaligus Balinese costume maupun membuat gebongan. Semua ada jadwal per harinya. Saranku juga sebaiknya menginap minimal 3 hari 2 malam supaya semua aktivitasnya tercover.

(7) Ke Pasar Ubud Bisa dengan Shuttel

Sebenarnya kalau jalan nggak jauh lokasinya, tapi ada shuttel atau mobil yang akan mengantar ke beberapa lokasi. Salah satunya kalau mau ke Pasar Ubud disarankan pagi-pagi sekitar jam 10. Shuttel ini ada pada pukul 10.00, 13.00, dan 15.00. Cuma menurutku kalian jangan terpaku sama shuttel buat berpergian kemana-mana. Karena jalan kaki pun dekat kok.