Backpacker, Himalaya, Nepal, story

Rekomendasi Penginapan di Nepal Selama Pendakian ke Himalaya

Mendaki gunung kan biasanya bawa tenda ya, beda cerita kalau kamu ke Nepal, pegunungan Himalaya. Disini kamu bakal nginep di semacam tea house atau guest house milik penduduk lokal.

Kenapa? Soalnya pemerintah Nepal menganut sistem yang memberdayakan orang lokal untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat menginap yang sekaligus menjadi tempat wisatawan berinteraksi, mengenal budaya, dan dengan begitu menjadi sumber ekonomi bagi penduduk yang tinggal di sepanjang jalur pendakian Himalaya.

Tidak ada hotel kelas internasional disini. Tapi bukan berarti tidak nyaman. Justru aku menemukan kenyamanan lain dari keramahan warga lokal. Asiknya, rumah penduduk yang juga sekaligus menjadi restoran, memberi kesan yang beda saat aku di Nepal. Saat aku nonton tv bareng mereka aku merasa heran, kok siaran tv mereka film India Bollywood gitu. Ternyata orang Nepal juga bisa sedikit bahasa India lho.

Ada banyak perbincangan sama orang lokal, kita sebagai wisatawan juga jadi bisa langsung tanya-tanya seputar kehidupan disini dan aku jadi tahu kalau anak-anak Nepal ternyata belajar Bahasa Inggris juga sejak SD. Rata-rata porter maupun penduduknya sudah fasih dengan Bahasa Inggris, ya karena disini daerah wisata dengan turis dari seluruh penjuru dunia yang penasaran dengan jalur pendakian Himalaya.

Oke. Intro-nya cukup panjang ya, langsung saja aku rangkum tea house atau guest house yang jadi tempat menginap aku sepanjang jalur pendakian Everest. Tapi point 1 dan 2 aku tulis dulu rekomendasi hostel di Kathmandu sebelum terbang ke Lukla. FYI kebanyakan turis asal aja pilih guesthouse sekenanya, soalnya tidak tentu juga berhenti di desa mana.

(1) Hotel Himalaya Yoga – Kathmandu (nilai 7,5)

Tahu hotel ini karena lihat review yang bagus di booking.com maupun agoda. Harga per bed itu sekitar U$D 5 dengan kamar tipe asrama atau doormitory. Enaknya kalau menginap disini itu bisa sekalian yoga gratis setiap pagi. Hotel ini juga menerima antar jemput bandara dengan tambahan biaya sekitar 1000 Ruppe Nepal atau setara U$D 10, yang kalau kamu di bandara nyari sendiri taxi bisa nawar sekitar 700 Ruppe Nepal atau setara U$D 7. Lokasi strategis di Thamel, dengan kamar mandi bersih, hot shower juga. Pemiliknya ramah dan staf juga membantu, bahkan kamu bisa nitip barang selama mendaki dan ketika balik ke Kathmandu bisa diambil lagi.

(2) 327 Thamel Hotel (nilai 8)

Kalau suka lingkungan yang hijau dengan taman, tempat bersih dengan toilet dan shower termasuk air hangat, sekaligus budget murah, bolehlah aku rekomendasikan 327 Thamel. Lokasinya juga dekat kemana-mana, kalau mau jalan-jalan ke Thamel. Disini juga ada restoran, jadi kalau malas kemana-mana bisa turun aja dari kamar. Tempat penyimpanan dengan kunci dan fentilasi cukup terang bikin kamu seperti di rumah. Aku merasa seperti lagi di garden house gitu. Tipe kamar doormitory dengan harga sekitar U$D 5 per bed.

(3) Himalayan Lodge (nilai 8)

Lokasinya di Desa Namche, atau dikenak dengan nama Namche Bazar. Disini tepat di ketinggian sekitar 3000 kaki, tempat pendaki beristirahat untuk aklimatisasi membiasakan tubuh di ketinggian dengannoksigen tipis, sebelum menuju jalur Everest.

Tahu tempat ini karena buka Tripadvisor dan review-nya bagus. Kaget juga, kok murah banget nginep disini cuma Rp. 45.000 per malam. Sampai niat untuk booking lewat online supaya bisa dapet tempat.

Ternyata saat sampai sana kamarnya masih banyak tersedia soalnya memang bukan musim pendakian. Lalu harga kamarnya cuma 200 Ruppe Nepal setara U$D 2, murah banget yesss? Walau harga makanan ya beda lagi, kalau mau mandi hot shower bayar U$D 3 lagi, charger baterai bayar U$D 2 lagi, hahaha dan wifi juga bayar lagi. Akhirnya ya dihitung-hitung U$D 10 juga budget-nya.

Yang aku suka disini itu pemiliknya ramah banget. Seperti ibu sendiri, dia yang beberes kamar dan masak buat tamu, dibantu sama seorang anak perempuan dan entah ada suaminya juga atau nggak disitu. Tapi tiap kali minta tolong dan memesan dia ramah banget, ngebantu banget apalagi saat saya butuh komputer buat booking tiket pulang pun dia mau ngedengerin permintaan tolong padahal lagi repot masak pas disamperin di dapur.

(4) Budha Family Lodge

Di gorak Shep, ketinggian sekitar 5000 mdpl, tempat sebelum pendaki menuju Everest Base Camp (EBC) kamu mesti aklimatisasi dulu disini. Aku pun karena sempat mengalami yang namanya AMS atau penyakit ketinggian yang pening pusing luar biasa itu sampai harus nginep 2 hari disini. Harga kamar disini masih U$D 2 dengan makanan yang melambung harganya sekitar U$D 5-7 karena kan makin tinggi. Bahkan apel aja satu buah saja U$D 2,5 alias satunya Rp 30.000 πŸ˜‚

Lodge ini menurutku masih baru makanya bersih. Terlihat dari teriplek rumah yang kelihatan baru. Jadi kamar mandinya bersih, soalnya pemiliknya ibu perempuan dan suaminya suka bersih-bersih. Jam 8-9 pagi mereka sudah sibuk masak air dan menyapu.

Dibanding lodge yang rumah sebelahnya, aku rekomendasi menginap disini karena lodge sebelah, lantainya aja licin sampai buat aku mau kepeleset saking nggak bersih ngepel-nya. Berhubung pemilik dan penjaganya laki-laki mungkin, aku perhatiin begitu. Tiap kali menginap di lodge yang diurus sama orang lokal yang tidak ada perempuannya, kurang terurus terutama kamar mandinya yang kurang bersih.

(5) Rivendell Lodge

Ini lodge saat bermalam di Debuche. Kenapa rekomended? Soalnya pemandangan dari lodge ini tuh bagus banget. Dari restorannya kamu bisa melihat pemandangan hamparan gunung es. Intinya itu aja, halaman luarnya juga luas langsung menghadap pemandangan yang amazed, kalo kamar standart kebersihannya sama dengan lodge umumnya yang termasuk selimut bedcover.

Cuma memang kamar mandi disini nggak begitu banyak air. Saking dinginnya juga sudah jadi es di suhu minus 5-10. Ketinggian lebih dari 4000 mdpl jangan ditanya ya πŸ˜‚. Harga semalam masih 200 Ruppe Nepal atau setara U$D 2 dengan makanan dan charger maupun hot shower yang masih harus bayar lagi. Mulai di ketinggian ini kita akan kesulitan listrik. Mereka masih menyimpan listrik dari tenaga matahari juga.

Advertisements
LIFE, story, The Journey

Bila Allah Mau, Semua Terjadi dengan Mudahnya

Apa yang memang ditakdirkan jadi milik kamu maka itu akan jadi milik mu.. Dengan mudahnya, bahkan tanpa berusaha akan Allah datangkan buat mu..

Sebaliknya jika memang rejeki itu bukan milik kamu, seberapa keras pun berusaha, tak akan jadi milik mu juga.

Begitu juga untuk hal yang belum waktunya, tidak akan bisa dipercepat walau kamu menginginkannya. Seberapa kerasanya usaha mu.. mempercepatnya

Dan sesuatu yang memang sudah waktunya tak bisa ditunda. Tak bisa diperlambat terjadi buat mu.. walau kamu menolaknya..

FYI berkali-kali saya merasakan hal demikian. Yang baru-baru ini soal pekerjaan. Rasanya ajaib aja, saya nggak pernah nyari pekerjaan ini tapi itu dateng sendiri, Allah yang ngedatengin. Lewat perantara teman.

β€œMel, minta nomor telpon ya. Ada kerjaan nih, nulisin blog, tapi soal kuliner,” tulis xxx by DM Instagram

Inget banget waktu itu saya lagi dalam masa puasa main IG. Seminggu lamanya delete aplikasi IG. Temen saya DM pas akhir puasa IG. Oh berarti masih rejeki ya, pesan DM nya juga baru beberapa menit yang lalu. Nggak telat.

Sekitar 1 minggu terus saya dihubungi dan interview. Nggak ada ekspektasi apa-apa dari yang saya lakuin. Pokoknya saat kesempatan datang jalanin aja. Nggak persiapan yang berat untuk interview, bahkan baju yang saya pakai untuk wawancara ya cuma pakaian biasa aja. Usahanya cuma dateng nggak telat. Walau akhirnya telat 15 menit karena nunggu kereta.

Dateng ke kantor saya diminta nulis berkas CV, padahal saya sudah bawa CV yang sudah di print rapih dengan embel-embel tambahan seperti menang fellowship peliputan, menang lomba nulis ini itu yang saya juga sering lupa detailnya. Juga nulis info tambahan seperti pernah beberapa kali ditugaskan liputan ke luar negeri πŸ˜‚, hehehe siapa tahu berpengaruh sebagai prestasi.

Setelah sesi wawancara sama HRD, saya langsung diminta ketemu user alias orang yang bakal pakai jasa saya sebagai penulis lepas. Katanya mbak HRD, β€œbiar kamu nggak bolak balik, jadi sekalian aja”. Mungkin karena rekomendasi ya jadi nggak pakai lama. Saya diantarlah ke kantor satunya, sekitar 600 meter jauhnya dari gedung utama.

Kok deg-deg an ya? Agak gimana. Langsung ketemu user lho. Nggak lama sampai, nunggu di luar, saya diajak masuk ke sebuah ruangan mirip dapur gitu. Sebelumnya saya ngelewatin satu ruang kerja besar yang open space dengan dinding ada figura tulisan-tulisan motivasi, dan di sudut juga ada mesin fotokopi. Di ruangan wawancara, saya lihat ada kulkas dan meja kursi, banyak makanan gitu lagi di packing, tempat ini pokoknya mirip pantry modern tapi nggak ada kompor.

Terus mulai ditanya-tanya deh. Pewawancaranya ada 3 orang. Kelihatannya dari awal kantor ini kasual sekali dan orang yang bekerja disini suka bercanda. Itu kesan awal saya, jadi ketegangan melumat. Saya jadi santai, setelah sebelumnya tegang lalu duduk sambil merhatiin sekeliling.

Pewawancara 1, kelihatannya orangnya friendly, suaranya lucu kayak lagi ngajakin becanda, nggak bikin saya takut. Lupa apa yang ditanya. Sebagian besar hanya nanya bisa dateng setiap hari apa dan gimana nanti mekanisme kerjanya. Lalu pewawancara 2, juga santai orangnya, tapi tegas juga nanya ini itu. Nanya pandangan saya apa yang harus diubah dari blog nya.. bla bla bla.. gimana nulis content yang menarik bla bla bla.. gimana cara saya nulis blog.. bla bla bla.. pewawancara 3, datang nggak begitu banyak nanya. Yang saya ingat, dia nanyain berapa budget saya. Hehehe

Saya jadi inget. Ini mirip waktu saya wawancara di kantor dulu. Saya dapet banget chemistry sama pewawancaranya. Nyaman aja dan ada canda tawa, nggak serius-serius gitu. Intinya semua mudah, nggak terasa susah. Optimis. Feeling saya kayaknya InsyaAllah bisa join sama mereka. Dilihat dari lingkungan kerjanya (orang-orangnya) saya cocok.

Then.. sudah sebulan nih, saya kerja bareng dan kebukti feeling saya bener. Saya cocok sama tempat ini walau diawal menulis ternyata butuh penyesuaian. Saya yang sehari-hari nulis berita harus pindah mode seketika ke cara santai orang nge-blog. Kadang bahasa masih kecampur antara bahasa baku berita dan blog. πŸ˜‚

Tidak pernah terbayang dipikiran bahwa tahun ini saya bisa punya income lain di samping kerja sebagai jurnalis dan suka iseng ikut lomba-lomba nulis. Sebelumnya pernah sih di hire jadi blogger juga, tapi serius tahun ini nggak nyangka banget tanpa mencari Allah ngasih jalan. Dengan kontrak setengah tahun Alhamdulilah InsyaAllah cita-cita saya mungkin bisa lebih cepat terwujud karena memang dimudahin Allah lewat jalan yang tidak disangka ini. Subhanallah πŸ™πŸ»