Asia, KOREA SELATAN, Liputan, story, The Journey, Traveling

5 Hal Yang Kusesali Ketika Business Trip Ke Korea Selatan

Mochi Jeju yang ada kacang merahnya, enak banget

Di antara perjalanan liputan luar negeri sebelumnya, Global Beauty Trip bareng Amorepacific ke Seoul dan Jeju bulan lalu terbilang paling menyenangkan. Tapi ada beberapa point yang jadi bahan pelajaran saya untuk trip berikutnya, nggak mau nyesel, saya tulis aja supaya next trip jauh lebih perfect 😘

(1) Lupa Bawa Bantal Tidur
Senarnya bukan cuma bantal tidur yang ketinggalan, tapi juga kamera kesayangan untuk mengabadikan moment. Tapi itu nggak seberapa sama gimana rasanya ketinggalan bantal tidur. Penerbangan pesawat yang hampir 7 jam dan dini hari pula betul-betul butuh dimaksimalkan untuk bisa istirahat di pesawat supaya besoknya wajah bisa fresh.

Lah, kemarin mungkin kehitung bisa tidur hanya 2 jam sebelum subuh. Alhasil muka sembleb banget πŸ˜‚. Meski pesawat saya nyaman banget kursi dan kami diberi selimut dan bantal, posisi tengkuk yang perlu bantalan buat nggak nyaman dan nyenyak ke alam mimpi. Makanya guys, kalau traveling jauh wajib banget bantal tidur dibawa.

Lihatlah koper merah saya yang diujung itu, kecil banget kan? Makanya saya bawa tas lipet tambahan untuk oleh-oleh.< strong>

(2) Bawa Koper Kecil

Maksud hati membeli koper baru dengan kapasitas besar sekalian untuk nyiapin buat pergi umroh. Tapi kepikiran mesti berhemat untuk rencana saya ke Himalaya πŸ˜‚. So, saya nekad membawa koper kecil yang sudah ada, toh ini hanya 4 hari saja, koper yang isinya pun 2 sepatu tambahan ternyata muat di koper kecil itu.

Waktu berangkat, di bandara saya cuma diheranin, ah serius itu kopernya? Alesannya saya memang tidak ingin kalap belanja soalnya ini business trip bukan liburan. Uang saku saya selama disana pun tidak banyak dihambur-hamburkan, justru 80% nya saya tabung untuk kepergian ke Nepal Himalaya 😜.

Tapi poin-nya bukan itu, saya keukeh memang belanja tapi beli yang butuh dan penting seperlunya saja. Tapi ternyata cukup merepotkan membawa 1 koper kecil berikut sebuah tas besar khusus belanjaan yang saya bawa sendiri karena di simpan dalam kabin pesawat.

Koper kecil, tapi karena rapih packing-nya ya muat 😜

(3) Nggak Banyak Belanja Produk WinterΒ 

Sempat belanja sweater hangat di Myeongdong, berbahan thermal yang pas dicobain hangat banget. Nyesel jadinya cuma beli 2, karena hanya 10.000 Won saja atau kalau dirupiahkan Rp. 110.000 untuk 2 sweater, murah banget kan . Ternyata cocok banget walau tebal tidak gerah dan bisa dipadu padan dengan baju luaran bertali yang bisa modis. Jadi kepikiran, kenapa nggak sekalian beli baju hangat buat persiapan ke Everest ya?

(4) Hanya Beli 2 Kaos Kaki Lucu di Korea

Nggak sengaja waktu kami melewati lorong bawah tanah penyebrangan jalan, ada kios lucu yang menjual kaos kaki. Mungkin nggak bisa ditemukan di Indonesia, kaos kaki disana ada motif lucu kucing yang jahitannya menonjol.

Teman ada yang komentar, gatau kenapa orang suka banget beli kaos kaki, itu lucu tapi gak ada juga yang ngeliat kan? Kalau di rumah kaos kaki itu benda wajib saya buat tidur. Apalagi kalau tidur di ruang ber-AC. Jadi dilihat atau tak dilihat pun kalau tidur ya dilihat diri sendiri, cukup senang untuk dilihat oleh mata sendiri motif kucing yang lucu.

Menyesalnya kenapa hanya beli 2 saja, harga nya pun cuma 1000 Won, alias Rp. 10 ribuan satuannya. Semoga saja saya bisa balik lagi ke Korea ya? Jadi niatnya mau beli lebih banyak atau mungkin mau dijual lagi πŸ˜‚.


(5) Nggak Beli Mochi Jeju

Selama di Korea, semua hal diurus penyelenggara. Termasuk camilan di bus, soalnya kita lama juga sekitar 1-2 jam perjalanan dari satu lokasi ke lokasi berikutnya. Nah di Jeju kami dikasih camilan mochi Jeju dengan kacang merah, disajikan dingin seperti habis dari freezer, kenyal fresh kacang merahnya suka banget. Sayang di bandara Jeju saya cari ternyata nggak ada yang menjualnya. Di Bandara Seoul sebenarnya ada, tapi beda dari mochi Jeju ini.

Advertisements
KOREA SELATAN, Liputan, story, The Journey, Traveling

Lima Hal Unik di Museum Kosmetik Korea Selatan

Foto di dekat lokasi Museum, bersama PR Global Team Amorepacific dan 6 rekan media lainnya dari Indonesia

Kalau kamu orang yang senang mengunjungi museum, mungkin datang ke museum yang satu ini akan terlihat berbeda. Hehe, iya saya aja heran.. kok kepikiran ya buat museum kosmetik? Apalagi jika itu museum kosmetik pertama di Korea yang dibuat oleh Amorepacific sebagai pihak swasta.

Keunikan ini saya rasakan waktu global media trip ke Korea Selatan bareng teman-teman jurnalis (semuanya dari Indonesia) pertengahan Oktober 2017 lalu. Global media trip merupakan rangkaian acara bertajuk “2017 Amorepacific Asian Beauty Tour for Indonesia”.

Produsen kosmetik terbesar di Korea, Amorepacific membawa 7 media yang diajak untuk melihat bagaimana sejarah perkembangan kosmetik di Korea, negara yang kini sangat terkenal dengan produk kosmetiknya lewat kunjungan museum, kunjungan ke distrik toko kosmetik terkenal di Korea, serta ikut mencoba berbagai perawatan dan pengalaman membeli kosmetik di Myeongdong.

Bagian depan dari pintu masuk Amorepacific Archive, lokasinya dekat dari Secret Garden

Museum yang terbuka untuk umum ini biasa dikunjungi para mahasiswa dan pelajar Korea sebagai sarana edukasi, namun pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengambil foto dan merekam video dokumentasi yang diputar sebagai promosi Amorepacific di dalam museum. Pengecualian media, tapi kami juga tidak boleh memotret bagian produksi kosmetiknya.

Ketika masuk, ada lambang bunga camelia yang memperlihatkan ide dari amorepacific dengan filosofi camelia berkembang di musim dingin. Karena itu dindingnya pun didominasi berwarna putih, ada juga simbol biji camelia. Kemudian pengunjung diajak masuk ke dalam sebuah ruangan yang memutar video menarik menayangkan bagaimana sejarah awal mula Amorepacific bermula, dari dapur ibu sang pendirinya.

Serta ada produk pertama cream melody dan cream ABC untuk rambut. Pertama kali juga Suh Sung-hwan, founder Amorepacific melakukan perjalanan keluar negeri untuk mengembangkan kosmetik hingga membangun pabrik di tahun 1962. Ternyata sang pendiri, dulunya juga sempat menerapkan jenis penjualan door to door.

Dompet atau marchandise yang sempat jadi hadiah kalau beli kosmetik ikut diarsipkan juga

So, kalau ke Korea, memang jangan hanya belanja ke kawasan terkenal untuk membeli berbagai macam kosmetik dan skin care di Myeongdong saja. Selipi juga agenda berlibur mengunjungi Amorepacific Archive atau lebih tepatnya bisa disebut sebagai museum kosmetik.

Karena berbagai hal unik tentang sejarah hingga produk dan perkembangannya ada disini, diantaranya :

Nah ada satu sudut juga yang membahas tentang pendiri Amorepacific, sejarah bagaimana dia dulu ke luar negeri pertama kali untuk belajar dan mengembangkan kosmetik, keren menurutku

(1) Arsip produk kosmetik sejak adanya produk kosmetik pertama

Disini bisa dilihat kemasan-kemasan produk berbagai merek yang pernah dikeluarkan oleh Amorepacific sebagai produsen kosmetik sejak tahun 1930-an. Tiap kemasan dipajang dalam lemari kaca dan disusun serta ada informasi tahun dikeluarkan.

“Ada sekitar seratusan-an merek yang dipajang disini, brand kita sendiri ada sekitar 250, dan masih ada 35 merek yang akan diproduksi,” sebut Yu Jin Huang, Pemandu di Museum Amorepacific.

Ada arsip kosmetik dari zaman dulu dengan kemasannya dan rapih di dalam kaca

(2) Poster Wanita Korea dari Masa ke Masa

Di salah satu ruangnya, bahkan bisa ditemukan berbagai poster wanita korea yang sempat dijadikan model produk. Dari sini pengunjung pun bisa membedakan bagaimana perubahan kecantikan wanita korea dari masa ke masa.

(3) Ruang Khusus untuk Baju Seragam Pekerja Pembuat Kosmetik

Seragam pekerja di Amorepacific ternyata berganti-ganti dari masa ke masa. Kamu pun bisa melihatnya sebagai sesuatu yang unik bagaimana fashion di era tertentu ikut mempengaruhi seragam yang dibuat perusahaan kosmetik Korea di masanya.

Berbagai merek kosmetik dalam kaca, keren sih buat foto-foto disini, tapi lagi kerja ga kepikiran

(4) Mesin Pembuat Bubuk Kosmetik Pertama

Di Amore Archive juga dipajang dua mesin pertama yang dibeli dari Jerman untuk membuat kosmetik. Mesin pembuat bubuk kosmetik ini dibeli tahun 1959.

(5) Merchandise dari Masa ke Masa

Merchandise seperti dompet kosmetik untuk hadiah saat membeli produk juga sering dikeluarkan perusahaan dan itu berbeda-beda dari masa ke masa. Disini Kamu dapat melihatnya.

Baju seragam pekerja pembuat kosmetik, jadi ketahuan kan fashion saat era itu gimana

Nah, tertarik untuk datang ke musim ini bukan? Dibuka umum, untuk berkunjung sebelumnya kamu harus membuat appointment. Terletak di daerah Osan, jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari kota Seoul. Tidak ada tiket tarif masuk alias gratis untuk bisa melihat-lihat keunikan museum. Mungkin bisa lihat di web perusahaan contact person-nya.