Backpacker, Indonesia, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, SUMBAWA - Indonesia, The Journey, Traveling

Mampir Sebentar ke Istana Dalam Loka, Sumbawa

IMG_6500
Penampakan Istana Dalam Loka, bangunan ini sudah direkonstruksi menjadi lebih baik. Di dalam kita bisa melihat foto-foto raja Sumbawa dulu dan aslinya Istana Dalam Loka dahulu kala.

Istana Dalam Loka sebenarnya tidak ada dalam deretan destinasi yang niat buat dikunjungi saat ke Sumbawa Besar. Tapi ini jadi bonus aja, perjalanan hari terakhir di Sumbawa Besar, sehabis nyebrang dari Pulau Moyo.

Niatnya hanya keliling kota Sumbawa Besar buat beli oleh-oleh macam madu dan kopi. Bang Ian, penduduk asli sana yang secara kebetulan jadi guide dadakan kami (baru kenal 2 hari) bilang bisa mampir sebentar ke Istana Dalam Loka. Ah,… beruntungnya ketemu Bang Ian terus diantar kesana-kesini. Eh kamu bisa contact dia juga kalau mau ke Sumbawa, nanti kukasih info contact-nya pm aja ya.

Dibangun tahun 1885, Istana Dalam Loka dulu merupakan tempat tinggalnya Raja di era kesultanan. Berbentuk rumah panggung dengan luas bangunan 904 M2, Istana Dalam Loka terlihat sangat megah. Istana yang dibangun dengan bahan kayu ini memiliki filosofi “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”, yang berarti semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus bersemangatkan pada syariat Islam.

IMG_6496.JPG
Istana Dalam Loka tampak samping, panas banget lho di Sumbawa itu. Mataharinya ada 5 saudara-saudara, tapi alhamdulilah ya langit cerah awan-nya pun bagus  🙂

Kabarnya Pulau Sumbawa yang terletak di Propinsi NTB, telah didiami manusia sejak zaman glasiasi (1 Juta tahun yang lalu), dan mengawali masa sejarahnya mulai abad 14 Masehi ketika terjadi hubungan politik dengan kerajaan Majapahit yang saat itu berada di bawah kepemimpinan raja Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya yang terkenal, Gajah Mada (1350-1389).

Pada saat itu di Sumbawa di kenal adanya kerajaan Dewa Awan Kruing, yang memiliki vassal (kadipaten) yaitu kerjaan Jereweh, Taliwang, dan Seran. Raja terakhir dari kerajaan Dewa Awan Kuning yang bersifat Hinduistis adalah Dewa Majaruwa, yang kemudian memluk agama Islam. Perubahan agama ini berkaitan dengan adanya hubungan dengan kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni kerajaan Demak (1478-1597).

Kemudian pada tahun 1623 kerjaan Dewa Awan Kuning ini takluk kepada kerajaan Goa dari Sulawesi Selatan. Hubungan dengan kerajaan Goa kemudian diperkuat dengan perkawinan silang. Pernikahan silang antar kerajaan ini dapat dikatakan sebagai perkawinan politik antar kerajaan Goa dengan kerajaan Sumbawa.

Ini keterangan yang saya ambil di situs sultansumbawa.com, berhubung di dalam bangunannya banyak juga dijelaskan informasi yang hampir sama. Jadi kalau kamu kesini, pastinya mirip kalau lagi ke museum yang ada foto-foto raja dan silsilah keluarganya. Nambah pengetahuan, tentang kesultanan yang ternyata sempat ada di Sumbawa.

IMG_6498.JPG
Anak-anak Sumbawa, diluar pintu masuk bangunan Istana Dalam Loka. Masuk ke dalam harus membuka alas kaki, karena lantainya parkit alias kayu bukan ubin keramik.

Adapun Raja Sumbawa yang berkaitan langsung dengan pembangunan Istana Dalam Loka adalah Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III (1883-1931), yang merupakan Sultan ke-16 dari dinasti Dewa Dalam Bawa. Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III ini mendapat peneguhan sebagai penguasa Sumbawa berdasarkan akte Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tanggal 18 Oktober 1885 dan mulai saat itulah penjajahan kerajaan Belanda berlangsung secara efektif di wilayah kerajaan Sumbawa.

Lokasi Istana Dalam Loka padas saat ini terletak di dalam Kota Sumbawa Besar, menunjukkan bahwa kota ini memang sejak dahulu kala merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan perekonomian di wilayah tersebut. Kerajaan Sumbawa telah beberapaa kali berganti istana, antara lain pernah dikenal “Istana Gunung Setia,” “Istana Bala Balong dan Istana Bala Sawo”.

IMG_6497
Bangunannya sudah banyak yang diperbaiki, termasuk pondasi.

Bala Rea (Graha Besar) yang terletak di dalam komplek istana “Dalam loka” berbentuk rumah panggung kembar, disangga 99 tiang jati yang melambangkan 99 sifat Allah (Asma’ul Husna). Istana ini selain untuk menempatkan raja pada posisi yang agung, juga sebagai pengganti Istana Bala Sawo yang hangus terbakar letusan bubuk mesiu logistik kerjaan. Bangunan Bala Rea ini menghadap ke selatan lurus kedepan alun-alun, ke arah bukit Sampar yang merupakan situs makam para leluhur. Disebelah barat alun-alun terdapat Masjid kerajaan, Masjid Nurul Huda yang masih berdiri hingga sekarang, dan di sebelah timur komplek isatana megalir sungai Brang Bara ( sungai di sekitar kandang kuda istana).

Bahan baku pembangunan istana Dalam Loka ini sebagian besar didatangkan dari pelosok-pelosok desa di sekitar istana. Khusus untuk kayu jati ukuran besar didatangkan dari hutan Jati Timung, sedangkan atapnya yang terbuat dari seng didatangkan dari Singapura.

Advertisements
Backpacker, Indonesia, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Awkward Moment for Me at Rinjani Mountain

Bayangin orang lagi mendaki dimintai tolong fotoin berkali-kali. (Ngeselin ya...) Maaf fotonya pas belum berhijab, tapi masih sopan kan (rambut keliatan dikit).
Bayangin orang lagi kepayahan mendaki dimintai tolong fotoin berkali-kali. (Ngeselin ya…) Maaf fotonya pas belum berhijab, tapi masih sopan kan (rambut keliatan dikit).

Cerita tentang perjalananku di Rinjani mungkin nggak akan ada habisnya kalau diomongin. Dan kepinginnya sih suatu saat nanti bisa ku buat jadi novel juga. Novel soal perjalanan ke gunung, apa saja yang terjadi dan ceritanya based on true story…. ahhhh ngimpi kali ya (ga apa-apa mimpi dulu lah).

Dari sekian banyak moment yang ku inget ketika perjalanan dengan sepenuh jiwa disana. Ini nih yang lucu dan awkward, janggal maupun aneh buat direkam lewat tulisan tersendiri. Hihihihi 🙂

IMG_6190
Rasanya dekat banget sama Matahari…. tiga ribu sekian meter di atas permukaan laut.

Moment after summit : 

Mungkin ini kebiasaan. Di tempat liputan, di kerumunan, dimana-mana kadang suka tiba-tiba mau sendiri terus menikmati moment tanpa di ganggu oleh orang yang ku kenal. Suka ngabur sendirian terus SKSD (Sok Kenal Sok Deket) sama orang yang nggak dikenal. Semacam lagi nyamar terus investigasi (mulai lebay). Nah itu juga kejadian di Rinjani.

Mencoba berbaur sama orang tak dikenal, bapak-bapak dari Surabaya sama beberapa orang dari gerombolan lain. Nanya-nanya kenapa mereka suka gunung, kenapa ke Rinjani, pacar atau istrinya kok nggak diajak?? pertanyaan biasa aja sih. Mereka memang pecinta gunung, pecinta alam rupanya, agenda setahun sekali minimal ngegunung. Walau istrinya juga anaknya nggak ada yang suka gunung, tetep ke gunung.

Please Take a Picture :

Minta tolong orang lain buat motoin, ya kalau itu lokasi traveling-nya kota besar besar dengan background tata kota masih biasa aja. Tapi ini agak keterlaluan sih, orang-orang yang lagi kepayahan mendaki malah direpotin buat ngambilin gambar background gunung anak Rinjani sama danau Segara Anak. Beruntung dari tiga orang pendaki nggak satupun lho yang nolak bantuin. Hahahahaha

Oke, satu pendaki capture-nya salah angle, lalu coba pendaki lain, sampai dapet gambar yang komposisinya betul. Tidak terlalu perfect, namanya juga bukan fotografer handal. Sampai sekarang kalau inget moment ini suka ngikik sendiri. 😀 😀

IMG_6224
Pas udah mau turun baru sadar, ternyata dini hari yang gelap gulita itu medan yang ku daki seperti ini. Susaaahhh

Cooking Class, Yeaaaahhh…..Goreng Bakwan yang Penuh Perjuangan :

Luar biasa banget waktu pertama touch down di Pelawangan Sembalun, 6-7 jam sebelum perjalanan lagi buat summit, tempat kemah kami yang kedua. Sore-sore sekitar jam 16.00 waktu Indonesia tengah, udah kecapekan dan harus bangun tenda. Para potter sibuk masak… ngintip sedikit ternyata lagi goreng bakwan dan tempe jaket… sampai ngidam banget rasanya sama bakwan.

By the way… malemnya ku “dikerjain” juga buat goreng bakwan sama tetangga kemping. Karena tetangga kemping kami baik banget sudah share menu makan malam. Aishhhhhh niatnya, bawa minyak goreng, tepung terigu, sayuran, terus belum lagi ada sosis dll…

Dan nggak mudah lho buat ngegoreng bakwan di gunung. Soalnya angin malam kenceng, jadi itu kompor apinya kan kemana-mana nggak fokus. Akhirnya sesi goreng bakwan saat itu memang memakan waktu banget. PR lah…. zzzzz, padahal kan harus tidur lebih cepet, akhirnya jam 10 malem baru selesai dan jam 00.30 bangun lagi buat berangkat summit.

Shower Time, Sumber Air Panas Alami di Dekat Segara Anak :

Ke gunung, jangan harap bisa mandi tiap hari. Dulu pertama kali ke Papandayan udah bawa peralatan mandi ternyata nggak begitu terpakai. Ngantrinya itu lho,…. bisa keramasin rambut aja udah syukur.

Nah pas di Rinjani, hari ke-3 baru bisa mandi … tapi senengnya mandinya di alam terbuka, air terjun yang merupakan sumber air panas. Fufufufu nggak pernah kebayang punya pengalaman mandi di alam bebas dan sepi seperti waktu di Rinjani dekat air terjun di Segara Anak. Gimana cara mandinya? pakai kain aja gitu sekalian berendem sekaligus sama lumut-lumut air terjun. Takut nggak ada yang ngintip? berhubung sepi nggak khawatir.

Kalau di gunung lama-lama akan terbiasa juga keadaan yang mungkin buat sebagian orang sedikit kurang nyaman ini. Nggak mandi, pipis ataupun pup dibalik pohon, rerumputan tinggi, atau kalau nggak ada pohon yaudah gali tanah dan nunggu pas hari sudah gelap. Kalau sudah begin jadi inget kucing di rumah. Bhahahahaha *enjoy it*

Sunset terakhir di saat menuruni Rinjani via Plawangan Senaru
Sunset terakhir di saat menuruni Rinjani via Plawangan Senaru. Ahhh nice!
Asia, Backpacker, SUMBAWA - Indonesia

Sehari Semalam, Pulau Moyo – Sumbawa

Sunset terakhir di Pulau Moyo, itu yang kecil disana adalah perahu nelayan yang membawa kami ke perairan sekitar Moyo.
Sunset terakhir di Pulau Moyo, Sabtu (16/5/15). Perahu kecil disana adalah perahu nelayan yang membawa kami ke perairan sekitar Moyo. Bang Jun, yang jadi nahkodanya menjauh dari daratan supaya kapal nggak karam. I’m sorry… this picture, maybe not the best capture sunset from me… zzzzzz

Bonus dari perjalanan saya bersama 3 rekan mendaki Gunung Rinjani selain bisa mampir ke Pulau Kenawa adalah menyambangi Pulau Moyo. Sehari semalam lamanya, terkesan waktu yang singkat di penghujung liburan yang full satu minggu. Dear God, thank u so much…. secara keseluruhan ini quality trip banget buat saya di tahun ini 🙂

Teringat dulu, waktu kunjungan saya ke Lombok yang ke-2 di tahun 2011, penduduk lokal sana kasih rekomendasi, bocoran soal Pulau Moyo. Tahun itu adalah saat dimana lagi heboh-hebohnya kabar Duchess of Cambridge a.k.a Kate Middleton sama Pangeran Wiliams bulan madu di pulau itu. Pulau Moyo yang juga pulau bulan madunya Pangeran Charles dan Alm. Putri Diana (mama papanya).

Disana ikut terkenal air terjun Lady Di, tempat Putri Diana pernah private shower time. Setahu saya Pangeran Charles sama Puteri Diana itu menikah di tahun 1983-an, tentunya beda kondisi Air Terjun Mata Jitu saat itu dengan yang saya kunjungi sekarang di tahun 2015. Mungkin nggak ada jalan bersemen tempat motor kami lewat, mungkin masih sangat sepi dari rumah penduduk dan belum ada ojek motor tentunya. Hahhaaha 😀

Disebuah lorong, kami menemukan ada kandang sapi... mooooo photo by : Harry Iswahyudi
Disebuah lorong, kami menemukan ada kandang sapi… mooooo

Sebenarnya cerita ajaibnya ke Moyo, yang tak direncana, diluar dari skenario itinerary itu, rejeki kami untuk ketemu teman-teman baru.

Yup! jadi setelah exsplore Pulau Kenawa dan kembali ke Pelabuhan Pato Tano di Sumbawa dan lagi kepusingan untuk cari sewa mobil untuk ke Sumbawa Besar, kami justru ketemu kenalan orang lokal.

Lagi nunggu mobil sewaan, terus ternyata nggak cocok harga dan nggak ber-AC, sampai akhirnya nunggu bus buat ke Sumbawa Besar. Sambil makan ice cream, ngemil chitato di depan Indomaret … disapa duluan sama Bang Rio yang juga lagi mampir beli sesuatu, terus kami dikasih nomor temannya Bang Ian dan Esthy di Sumbawa.

“Hubungin aja nih nomor ini,” katanya…. wahhh… asik lega abis itu, karena sesampainya di terminal bus kami dijemput mbak Esty pakai motor terus diarahin untuk sewa motor aja ke Hostel tempat menginap.

Sebelumnya dengan durasi sekitar 2 jam perjalanan, kami baru ngeh kalau untuk ke Sumbawa Besar memang idealnya memakai bus sedang bertarif Rp. 30 ribu ini. Yang kalo kamu perhatiin di atas bus pasti penuh barang bawaan penumpangnya, pemandangan yang jarang banget ada di kota, hahaha saya lagi di pedalaman, rasanya gimana ya …unik lihat perilaku yang nggak biasa ini.

2110062
Di sekitaran perairan Pulau Moyo, kami mampir ke Takasigili. Sebuah gundukan karang-karang yang kadang surut dan pasang di waktu tertentu. Capture foto : by Nahkoda Kapal Nelayan kami, enak nih nahkodanya kalo disuruh juga inisiatif 🙂

Pantes juga kalau untuk rental mobil agak jarang, bus menuju Sumbawa Besar ada banyak dan sering. Backpacker-an di Sumbawa jangan takut, karena ada banyak bus murah atau ojek kalo nggak bisa rental mobil.

Untuk mencapai Pulau Moyo, dari Sumbawa Besar kita harus ke Ai Bari yang merupakan pelabuhan kecil. Atas rekomendasi Bang Ian kami akhirnya sewa kapal nelayan kecil yang memang sih akan lebih lama sampainya sekitar 3-4 jam untuk ke perairan Moyo (tergantung cuaca dan ombak). Kita di atas kapal sampai bosan.

Tiga puluh menit pertama berlalu,…… satu jam pertama masih terlihat bersemangat,….. lalu dua jam berikutnya kepanasan… hahaha. Dari pakai body lotion, ngabisin buah sama camilan, terus daripada kejemur matahari Sumbawa yang ada sembilan akhirnya pakai tutupan kain Bali. Disini hidung dan wajah sudah mulai gosong… zZzZzzzZZZzzz.

Sampai juga di Takasigili, disekitarannya kami snorkling…memang jauh tempatnya dengan perahu kecil yang melawan ombak lautan jelas butuh 3 jam itu sangat wajar. Dalam laut Sumbawa memang unik, bagi saya pribadi karangnya terbilang masih terjaga.

Di salah satu sudut pantai Pulau Moyo, photo by : Harry Iswahyudi
Di salah satu sudut pantai Pulau Moyo

Masih banyak karang yang baru tumbuh, ikan-ikan yang variatif…. cuma berhubung ombak dan arus laut yang besar (padahal masih jam 12-an siang), saya ngeri. Perasaan sih udah berenang jauh, tapi nggak sampai-sampai sama kejadiannya seperti di Kepulauan Seribu, enaknya temen-temen yang jago berenang, tanpa pelampung.

Di Takasigili, gundukan karang kasar yang sudah mati itu bisa surut bisa pasang, tergantung, nah ini uniknya… Lalu sehabis dari Takasigili sekalian makan siang, sekalian memang akan bermalam di Pulau Moyo kami cari penginapan.

Tinggal di rumah penduduk, feels like home terutama ibu yang punya rumah ramah banget seperti ibu sendiri. Dia nggak cuek, kamar kami aja dikasih kelambu biar nggak ada nyamuk, terus digembok.

IMG_6410.JPG
Moyo, aliran air dari Mata Jitu…. asli warnanya nggak di edit fotoshop.

Cuma sayang banget ya, di desa sekitar Pulau Moyo rumah-rumah baru yang dibangun, termasuk homestay tempat kami menginap cenderung modern, bukan rumah panggung asli Sumbawa yang kalau mau masuk ada tangga kayunya. Hmmm suasana homey tapi belum mendukung environment yang lokal sekali.

Makan siang disekitaran guesthouse juga mirip kalau lagi makan di rumah sendiri, makanan rumahan mirip banget sama masakan nyokap di rumah, ayam cabe rica-rica.

Tambahannya, pesen juga es campur di siang hari bolong yang panas…. abis naik gunung maklum, di gunung nggak ada tukang es. 😀 Jadi makanan asli sini apa ya??? *nggak kepikiran lagi, yang penting kenyang*

Info dari ibu pemilik guest house, kami sewa motor buat ke Mata Jitu atau Air Terjun Lady Di. Kelihatannya nggak masuk akal, sekali sewa per motor dengan abang ojeknya Rp. 100 ribu.

Tapi…. ternyata ini memang avordable dibanding jalan kaki dan melihat medan pencapaian dengan berkendara motor disana saya saranin memang menyewa ojek. Apalagi saya sama temen-temen kan habis capek naik turun gunung, terus kita mengejar waktu. Gapapa ya backpacker hedon dikit 😀

Meski memang beberapa pengunjung lain ada yang trekking, saya sih suka jalan, cuma berhubung mengejar waktu kan. Luar biasanya itu ojek motor kami menembus air luapan, nyebrang sungai, kirain cuma mencapai Mata Jitu aja yang jalanannya banyak rusak meski beberapa ratus meter dengan cor dan semen, nggak kebayang melewati jalan-jalan itu kalau harus nyetir sendiri.

SONY DSC
Walau cuma sebentaran nyebur disini. . . Bonusnya tempat ini sepi, pas kami datang pengunjung lain pulang, terus kami pulang pengunjung lain datang.

Air terjun Mata Jitu ternyata memang bening dan berwarna hijau kebiruan, airnya juga segar, beruntung bisa sebentar menyeburkan diri disana. Oke jadi rasa penasaran saya sudah kejawab, ke Pulau Moyo dan mampir ke air terjun Lady Di. Pulau Moyo yang relatif sepi, seketemunya pengunjung lain juga penduduk dari Sumbawa Besar.

Menghemat waktu kami ke lokasi air terjun lainnya, dan saya lupa namanya apa, tapi ini air terjun rame banget karena ada ayunan buat mainan. Terus menjelang peradaban matahari jatuh, kembali ke laut kami cari sunset…. nggak ke Takasagili sesuai rencana semula, tapi mampir ke sebuah pantai sekitaran Pulau Moyo yang punya butiran pasir unik campuran warna hitam seperti biji wijen dan pasir putih.

 https://www.instagram.com/p/41jHV7EC1q/

Malam itu waktu kami nginap di Moyo juga unik, soalnya pas banget lagi ada undangan kendurian nikahan penduduk setempat.

Anehnya lagi kendurian di Sumbawa bukan pengantinnya yang nungguin tamu, tapi ini tamu nungguin mereka. Terus semua pedagang kumpul di sebuah lapangan tempat pengantin menghelat pesta, pedagangnya…mereka jualan.

Jadi makan malam kami saat itu adalah bakso dengan kuah saos yang kalo diteliti sama BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) itu pasti nggak lulus tes warna alias ada kandungan rodamin. Baksonya juga aneh nih, pakai telor 😀 tapi so so lah daripada laper.

How to get there ?????

1. Dari Lombok kamu bisa menyebrang ke Sumbawa melalui Pelabuhan Kahyangan menuju Pelabuhan Pato Tano dengan kapal fery yang sekitar 1 jam sekali jalan, harga tiket sekitar Rp. 30.000

2. Setelah sampai di Pelabuhan Pato Tano ada bus sedang yang bisa membawa kamu menuju Sumbawa Besar, perjalanan sekitar 2 jam. Ongkos bus Rp. 30.000 per orang

3. Dari Sumbawa Besar kamu harus ke Ai Bari tempat menyebrang ke pulau Moyo dan Satonda. Jaraknya cukup jauh dari Sumbawa Besar sekitar 1 jam, kamu bisa menyewa mobil (tapi agak susah ya, harus kenal orang lokal). Alternatif lain adalah menyewa sepeda motor.

IMG_6455
Sebuat site di pulau Moyo yang bagus banget untuk foto. Di sebelah pagar-pagar tanaman ini hewan ternak sapi lagi sibuk mooooo….

Bolehlah contact teman kenalan disana Bang Ian 085238575444 yang bisa bantu info tentang Sumbawa. Ohya dia juga aktif di komunitas Adventurous Sumbawa yang lagi bergerak mengenalkan keindahan pariwisata Sumbawa, pasti senang bisa bantu.

4. Menyebrang ke Pulau Moyo dari Ai Bari memerlukan transportasi perahu nelayan. Dengan jarak tempuh sekitar 3 jam biaya sewa kapal sederhana yang hanya muat 5 awak penumpang (termasuk nahkoda) itu memerlukan biaya sekitar Rp.700.000 (pulang pergi).

5. Sesampainya di Pulau Moyo, tentu saja perlu menginap. Pilihannya adalah guest house, rata-rata bertarif Rp. 200.000 per kamar untuk 2 orang. Menginap di rumah penduduk rasanyanya lebih seperti di rumah sendiri apalagi kalau ibu yang punya rumah baik banget.

Kalau mau ke Moyo kamu bisa contact Pak Mahendra 085339932815 (ini rekomendasi teman di Sumbawa) untuk sewa guest house-nya. Tapi ketika sampai Moyo nggak ada lagi kamar, masyarakat disana menawarkan untuk bisa menginap di rumah warga lainnya yang disewakan.

6. Untuk ke Air Terjun Lady Di atau yang sebenarnya disebut Air Terjun Mata Jitu, kita bisa melakukan sesi trekking selama 1 jam lebih. Tapi berhubung menghemat waktu saya sama ketiga teman lain harus menyewa sepeda motor. Sewa motor Rp. 100.000 per orang. (Saya saranin untuk sewa motor aja, karena jauhhh bangets)

 

IMG_6433
Di lokasi air terjun berikutnya, ternyata ramai bangettttt terus nggak begitu bening … jadi kamu cuma nontonin anak-anak yang lagi menikmati masa kecil main ayunan terus nyebur.
Backpacker, Indonesia, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, story, SUMBAWA - Indonesia, The Journey, Traveling

Menyebrang Selat Alas, Mencapai Kenawa – Sumbawa

IMG_6395
Bukit Kenawa, coba perhatikan rumputnya… photo by : Dyah Ayu Pamela

Setelah pendakian Rinjani yang memakan waktu 4 hari, saya bersama tiga teman nge-trip kali ini ikut menyambangi Sumbawa. Menyebrang Selat Alas, perjalanan dimulai dari Pelabuhan Kahyangan, di Lombok dengan kapal Fery.

Tarifnya Rp. 30 ribu, menurut petugas pelabuhan kapal ini ada setiap 45 menit-an sekali. Saya agak ragu tentang durasi jadwalnya, namun hampir cukup sering kapal ini pulang dan kembali, bila tertinggal masih ada kapal Fery lainnya yang akan menunggu.

Dua jam di dalam kapal jadi waktu yang singkat, soalnya sambil nonton film sih (di kapal fery ada fasilitas DVD plus Tv dan karaoke lhooo). Pas lagi tayang film lucu “Cinta Brontosaurus” dari novelnya si kocak Raditya Dikka, alhasil saya senyum dan ngakak-ngakak sepanjang perjalanan. 😀 😀 what’s a life? tercabik-cabik juga nontonnya, termasuk sama pesan di film ini, dulu saya sih sudah pernah nonton. (Lho kok jadi ngomongin film ya?)

Ya kan, nggak terasa…. akhirnya sampai di Pelabuhan Pato Tano, Sumbawa. Saya jadi lupa untuk merhatiin pemandangan sepanjang laut, banyak pulau-pulau kecil dari kejauhan, ekosistem yang mirip dengan yang saya lihat di video youtube kalau di Flores dan Pulau Komodo. Tapi ini Sumba ya… 🙂 🙂 🙂

Sepi,… itu kata pertama yang muncul di otak saya. Mungkin karena terbiasa dengan Jakarta yang crowded. Seneng banget bisa sepi kayak gini, serasa cuma ada berapa ratus orang saja yang hidup disini. Beda sama Jakarta yang berkumpul 15 juta penduduk (kalau hari kerja), sumpek-sumpek-an di kereta, atau geser-geseran di angkot. Ya beda lah ini liburan, getaway!!!

SONY DSC
Cuma kami yang kemping di Kenawa, pulau tanpa penghuni yang di atasnya tumbuh subur rumput dan kalau diperhatikan tumbuhnya rumput ini rapih. (Debi, jadi model kali ini)

Kembali takjub. Saya juga terkesima sama pinggir pelabuhan yang masih cukup bening air-nya…. wihhhhh bahagia banget para ikan dan biota laut yang hidup disini pasti. Karang-karangnya pun masih terlihat jelas dengan telanjang mata. Nggak salah tempat lah saya pilih Sumbawa buat pelarian setelah ke Rinjani. *Ehem*

Dari Pelabuhan Pato Tano kamu harus menyewa kapal nelayan untuk menyebrang. Range harga sewa sekitar Rp. 250-300 ribu, cobalah tawar-menawar harga. Pulangnya jangan lupa janjian untuk minta dijemput balik ke Pato Tano, minta nomor Hp jangan sampai nggak bisa pulang karena keasikan nginep di Kenawa. 😀

Terumbu karang di sekitar Kenawa dan disana dekat awan ada pemandangan Gunung Rinjani (bagusnya) foto by : Harry Iswahyudi
Terumbu karang di sekitar Kenawa dan disana dekat awan ada pemandangan Gunung Rinjani (bagusnya)

Karena pulau tanpa penghuni, pilihan kami untuk tidur ya di tenda…. nenda lagi, kan hemat, tapi baru ngeh kalau Kenawa yang jarang pohon ini ternyata membuat hawa di dalam tenda menjadi panas. Panasnya mirip kalau kamu lagi di dalam bis kota yang sesak sama penumpang. Anggap saja lagi sauna, sehat kan ngeluarin keringat.

Dan orang-orang sudah kapok nanya soal panas atau dingin ke saya, soalnya pas malam terakhir di Rinjani yang cuacanya menurut yang lain dingin, bagi saya nggak dan saya tidur tanpa pakai jaket dan kaos kaki.

Sibuk mencari angle sunrise :) photo by : Harry Iswahyudi
Sibuk mencari angle sunrise … another sunrise when we travel, beauty as always 🙂 

Ngapain aja di Kenawa?

Sore menjelang sunset kami tiba di Kenawa, di pinggir dermaga sudah ada kapal yang merapat dan itu kapal mereka yang melakukan trip menuju Labuan Bajo dan Pulau Komodo kemudian singgah sebentar di Kenawa. Karena hampir malam buru-burulah mencari tempat untuk kemping, cari kayu bakar untuk api unggun karena kabarnya disini suka ada ular, sekedar untuk awarness saja. Tapi api unggun bukan biar mereka kabur sih, kami juga bawa garam, terus wanti-wanti supaya tenda nggak kemasukan serangga dan ular tadi, tenda selalu ditutup.

Pagi saat matahari terbit adalah saat-saat bagus penggambilan gambar (seperti biasanya), naik ke atas bukit kalau tak terhalang dengan awan dari kejauhan juga terlihat Gunung Rinjani (dari bawah bukit juga kelihatan, dari pantai juga kelihatan). Nggak nyangka kalau kami beberapa hari sebelumnya ada di atas sana dan sekarang kami main ke laut, menyebrangi selat Alas, ada di Sumbawa dan kemping di Kenawa.

Dari atas bukit di Kenawa
Dari atas bukit di Kenawa, belum pada mandi (yaiyalah sejak kapan kita liburan dari gunung ke pantai mandi??) 😀

Sebelum panas matahari makin tinggi buru-buru kami membereskan tenda dan barang-barang, sebab setelah jam 09.00 adalah snorkling time!!!! By the way kaki saya masih babak belur, perih-perih karena melentung disana sini agak lambat kan jadinya naik turun bukit, ini ditambah pula kena karang pas snorkling. Lengkapppp, terima kasih kaki kamu sudah membawaku sejauh ini, terima kasih pengorbananmu, rasa perih ini nggak ada apa-apanya kok dengan keindahan yang aku lihat. (menghibur diri)

Saya heran kenapa di Pulau Kenawa banyak sampah, padahal nggak ada penghuni, ini nih salahnya sebagai traveler, suka buang sampah sembarangan. Kan sayang, tempat indah kalau terkotori dengan plastik dan bungkus makanan. Kamu jangan ya, kalau punya sampah bawa pulang lagi dan buang di pelabuhan.

Terus gimana tentang keindahan bawah laut di seputar Kenawa? ikannya variatif, warna-warni, karangnya juga banyak yang warnanya pink, tapi saya cuma sebentar snorkling berhubung nggak pinter berenang dan kaki lagi perih-perih. Nikmatin aja masa liburan ini dengan santai-santai di bawah pohon, nikmatin hari dimana saya bebas listing berita atau harus mikirin nulis apa besok. 😀